FISIP adalah Fakultas Tanpa Diskriminasi

Selasa, 25 Februari 2020 10:07 WIB   Administrator

Kesan berbeda terjadi dalam gelaran yudisium FISIP untuk wisuda periode I tahun 2020. Sejumlah dosen tampak menahan haru saat dekan memanggil sejumlah calon wisudawan non muslim untuk memberikan testimoni. Ya, peraih gelar terbaik III FISIP UMM, Theresia Yula, sarjana lulusan Prodi Kesos adalah seorang non muslim. Theresia mengatakan berkuliah di FISIP, meskipun ia non muslim, namun ia diperlakukan sangat baik.  “ Saya meskipun non muslim, namun sangat senang kuliah di FISIP. Tidak ada perbedaan yang saya rasakan, bahkan saya merasa cukup diistiewakan. Pernah ada adek tingkat di sekolah menengah yang tanya ke saya apakah UMM hanya untuk Islam saja. Saya katakan UMM untuk semua agama. Terimakasih FISIP,” tutur Theresia.

Theresia dan Yosua memberikan testimoni kuliah di FISIP di depan ratusan peserta yudisium (foto: wnd)

Selain Theresia, Yosua Lase, sarjana dari Prodi Ilmu Komunikasi juga diminta untuk bertestimoni. Yosua yang berasal dari Kupang ini mengatakan ia sangat terkesan kuliah di FISIP. Ia juga sepakat jika di FISIP tidak ada diskriminasi. “Saya diperlakukan sama saja dengan yang muslim. Tidak ada perbedaan perlakuan baik dari teman mahasiswa atau dosen. Ini membuat saya lebih percaya diri dan senang kuliah disini. Untuk siapapun, atau agama apapun, kuliah di UMM adalah pilihan terbaik,”tambah Yosua.

Sebenarnya bukanlah hal yang asing ketika ada banyak mahasiswa non muslim yang berkuliah di UMM. UMM adalah kampus yang ramah terhadap semua agama, tak terkecuali di FISIP. Tak hanya untuk semua agama, FISIP UMM juga menerima berbagai suku bangsa bahkan kewarganegaraan. “Di FISIP kami mengedapankan toleransi dalam pembelajaran. Semua boleh belajar disini, karena ilmu itu untuk semua.Mau yang berbeda agama, ataupun berbeda suku silakan saja. Kami terbuka kepada perbedaan. Karena perbedaan itu adalah resonansi dari sikap peduli kami pada keberagaman,” ungkap Dekan FISIP.

Semangat ini sejalan dengan tauladan yang diberikan oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Dahlan sejak awal berdakwah, bersedia memberikan ilmu tanpa melihat latar belakang penerimanya. Dahlan menggunakan serambi masjid agung untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang tidak dapat belajar di surau-surau tempat pengajian yang berjadwal tetap. Ahmad Dahlan juga membangun asrama untuk menerima murid-murid dari luar kota dan luar daerah. Juga membangun surau untuk menambah kemakmuran kampung Kauman dalam bidang pengajian dan pendidikan pada masa itu. Peran dalam pendidikan berbasis kesetaraan gender juga diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (khusus laki-laki), yang bertempat di Patang puluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah (khusus Perempuan), di Suronatan Yogyakarta. (wnd)

Shared: