Masa Studi Jadi Penentu Gelar Lulusan Terbaik Yudisium Periode I/2020

Selasa, 25 Februari 2020 09:51 WIB   Administrator

Momen yudisium adalah momen rutin yang diselenggarakan oleh seluruh fakultas di UMM untuk menandai kelulusan sarjana. Begitu pula yudisium FISIP sebagai seremoni kelulusan sarjana dari seluruh prodi FISIP secara resmi. Yudisium untuk wisuda periode I 2020 diadakan pada hari ini Selasa, 25 Februari 2020 di Aula BAU UMM. Sejumlah 120 calon wisudawan dan wisudawati dari seluruh prodi di FISIP mengikuti prosesi yudisium.

Berfoto bersama ketiga lulusan terbaik (ki-ka : Theresia, Dekan FISIP, Ahmad Bagus, Dania)

Gelar terbaik fakultas adalah gelar yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa. Jika biasanya pada sejumlah prosesi sebelumnya sejumlah prodi mengisi posisi dalam gelar bergengsi tersebut, namun kali ini perolehan gelar terbaik diborong oleh Prodi Kesos. Terbaik ketiga disandang oleh Theresia Yula Virginawati, angkatan 2016 dengan perolehan IPK 3,73. Terbaik kedua diperoleh oleh Ahmad Bagus Arjuna dengan IPK 3,85 dan terbaik pertama diraih oleh Dania Putri Arifiana dengan IPK 3,88. Ketiga terbaik tingkat prodi IKS ini sekaligus menjadi peroleh seluruh gelar terbaik fakultas karena memiliki indeks yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandidat lain. Indeks tinggi ini selain dipengaruhi oleh jumlah IPK juga dipengaruhi oleh lama masa studi. Ketiga lulusan terbaik tersebut merupakan mahasiswa angkatan 2016, yang artinya memiliki masa studi tercepat, tidak sampai empat tahun. Masa studi kali ini menjadi faktor yang cukup signifikan bagi penentuan gelar terbaik.

Dr.Rinikso Kartono, M.Si, dekan FISIP UMM dalam sambutannya mengingatkan calon wisudawan akan jasa orang tua khususnya ibu dalam perjalanan hidup calon wisudawan. “Keberhasilan anda hingga titik ini, separoh di dalamnya adalah berkat doa ibu anda. Jangan pernah khianati ibu anda, jadilah yang terbaik versi anda. Kebanggaan kami adalah apabila semua anak-anak kami ini bisa sukses, bisa bekerja sesuai passionnya dengan baik dan tentunya berbakti pada orang tua,”ungkap dekan FISIP.

Dalam yudisium kali ini, kandidat doktor ilmu sosial UMM, Sulismadi, M.Si menyampaikan sebuah orasi menarik berkaitan dengan paradigm smart city. Sulismadi mengatakan Indonesia memiliki karakteristik wilayah yang berbeda baik dari segi budaya maupun ketersediaan infrastruktur. Maka dalam perencanaan smart city harus berpedoman pada kebutuhan, kondisi, dan visi misi daerah. Oleh karena itu perencanaan smart city harus dimulai dari desa. (wnd)

 

 

Shared: