Kalahkan Fapet UB 2-0 di Turnamen Nasional NCFS, FISIP UMM Amankan Kemenangan Krusial

Tim futsal FISIP UMM sukses mengamankan kemenangan krusial usai menekuk Fakultas Peternakan UB dengan skor bersih 2-0 dalam laga sengit yang berlangsung di GOR Ken Arok, Malang, sore tadi. Kemenangan dua gol tanpa balas ini tidak hanya memperkokoh posisi mereka, tetapi juga menobatkan sang penjaga gawang FISIP UMM, Putra Prandaru, sebagai Player of the Match berkat aksi-aksi penyelamatan heroiknya di bawah mistar. Sejak peluit babak pertama dibunyikan, pertandingan bertensi tinggi langsung tersaji lewat jual-beli serangan dari kedua tim mahasiswa asal Malang ini. Meski Fakultas Peternakan UB terus menggempur lini pertahanan FISIP UMM, solidnya organisasi bertahan dan kegemilangan Putra Prandaru dalam membaca arah bola membuat gawang FISIP UMM tetap kokoh hingga babak kedua berakhir. Sebaliknya, efektivitas serangan balik FISIP UMM berhasil dikonversi menjadi dua gol kemenangan yang mengunci raihan poin penuh. Pertandingan bertensi tinggi ini merupakan bagian dari National Champion Futsal Series (NCFS), salah satu turnamen futsal antar-mahasiswa paling bergengsi di tingkat nasional yang tahun ini mempertemukan tim-tim tangguh dari berbagai universitas di Indonesia untuk memperebutkan gelar juara di Kota Malang. (fws)
Patahkan Stigma Keluarga, Mahasiswi Kesejahteraan Sosial berhasil raih prestasi internasional

Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jeryfer Rinda Salshabilla, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2025 yang akrab disapa Jeje, sukses membawa pulang medali perunggu pada kategori FIGHT Dewasa Kelas D. Pencapaian tersebut diraih dalam ajang bergengsi tingkat Asia-Eropa, Paku Bumi Open Championship 2026 yang diselenggarakan di Gor Lembah UGM Yogyakarta, sekaligus semakin mengharumkan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UMM di gelanggang pencak silat internasional. Di balik kilau medali yang berhasil dibawa pulang, Jeje mengungkapkan bahwa perjalanannya menuju podium tidaklah berjalan mulus. Berkompetisi di level yang mempertemukan atlet-atlet tangguh tentu membutuhkan kesiapan fisik dan taktik tingkat tinggi. Namun, Jeje harus menghadapi realita masa persiapan yang terbilang sangat singkat. Ia mengaku hanya menjalani pemusatan latihan secara intensif selama satu bulan menjelang pertandingan. Alhasil, ia merasa bahwa proses pembentukan fisik, daya tahan, serta kelincahannya di atas matras belum mencapai titik yang paling optimal. Tantangan terberat yang harus dilewati Jeje nyatanya tidak hanya datang dari segi teknis dan fisik di tempat latihan, melainkan juga dari lingkungan terdekatnya. Keputusannya untuk menekuni olahraga tarung ini sempat terbentur tembok restu keluarga. Adanya pandangan konservatif bahwa bela diri adalah ranah maskulin sempat menjadi beban tersendiri. “Orang tuaku sebenarnya menentang aku ikut beladiri. Menurut mereka, olahraga itu hanya untuk laki-laki, sedangkan bagi perempuan dinilai terlalu rawan,” ungkap Jeje. Meski demikian, raihan posisi ketiga ini menjadi alat pembuktian yang valid untuk mematahkan stigma tersebut. Jeje berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berprestasi di cabang olahraga dengan intensitas fisik yang tinggi. Belum puas dengan medali perunggu pada kejuaraan kali ini, motivasi dan semangat tempur mahasiswi tersebut sama sekali tidak meredup. raihan ini justru dipandangnya sebagai bahan evaluasi klinis dan batu loncatan yang krusial untuk karier atletnya ke depan. Bermodalkan pengalaman berharga menghadapi gaya bertarung dari berbagai negara, Jeje kini langsung memfokuskan diri pada persiapan kejuaraan besar selanjutnya. Dengan komitmen untuk melipatgandakan porsi latihan dan memperbaiki ketahanan fisik, ia sangat percaya diri bisa berdiri di podium tertinggi pada kejuaraan yang akan datang. (raz)
Tuntaskan Skripsi Lebih Awal, Mahasiswa Hubungan Internasional UMM Ikuti Pertukaran Pelajar Erasmus di Portugal

Menjadi mahasiswa tingkat akhir tidak menyurutkan langkah Muhammad Zair Baitil Atiq untuk terus mengeksplorasi dunia pendidikan hingga ke Eropa. Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini kini tengah menjalani program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Braga, Portugal. Menariknya, sebelum bertolak ke Portugal, pria yang akrab disapa Zair ini telah merampungkan seluruh kewajiban akademiknya di UMM, mulai dari tugas mata kuliah hingga skripsi. Strategi ini membuatnya bisa sepenuhnya fokus menimba ilmu di Universitas Minho sekaligus mengamankan target kelulusan tepat waktu. Selama berkuliah di Portugal, Zair menyoroti adanya perbedaan mencolok dalam budaya akademik, terutama terkait tingkat antusiasme mahasiswa. Ia merasakan iklim pembelajaran yang jauh lebih dinamis, di mana mahasiswa sangat proaktif dalam berdiskusi dan berani mengutarakan pendapat. Meski demikian, perjalanan Zair tidak lepas dari kendala. Tantangan terbesar yang harus ia taklukkan adalah persoalan bahasa dan aksen. Walaupun kegiatan belajar mengajar menggunakan pengantar bahasa Inggris, ia mengaku sempat kesulitan menangkap materi karena adanya perbedaan dialek saat berkomunikasi. ”Walaupun dosennya ngomong full bahasa Inggris, tapi kadang aksennya kan kayak menurutku masih ada aksen Portugisnya. Ataupun bahasa Inggrisnya juga bukan bahasa Inggris yang kayak native gitu,” ujarnya. Berangkat dari pengalamannya, Zair menitipkan pesan penting bagi para mahasiswa yang bercita-cita mengikuti program student exchange. Ia menekankan bahwa langkah awal harus selalu didasari oleh niat dan tekad yang kuat, bukan sekadar menjadikan program ini sebagai kedok untuk jalan-jalan ke luar negeri tanpa mempedulikan esensi pendidikannya. ”Makanya menurutku persiapannya itu sih, harus siap secara mental. Secara mental dan juga secara skill. Itu menurutku penting supaya bisa survive gitu di lingkungan akademik di luar negeri. Jadi exchange-nya itu memang betul-betul bisa ada output-nya gitu, nggak cuman jalan-jalannya doang dapatnya. Gitu sih kalau menurutku. Harus well prepared,” ucap Zair. (raz)