Ajang pemilihan Putra-Putri Kampus (Papika) Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan cerita menginspirasi. Kompetisi bergengsi ini bukan sekadar unjuk penampilan fisik semata, melainkan sebuah wadah pembuktian kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) mahasiswa yang berlandaskan pada standar “5B”, yakni Brain, Beauty, Behavior, Belief, dan Brave.

​Kualitas nyata ini dibuktikan langsung oleh Apta Aji Seto, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2025 yang mewakili Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Mahasiswa yang akrab disapa Apta tersebut berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih posisi Juara 2 atau First Runner Up.

​Dalam wawancaranya, Apta dengan tegas mematahkan stigma mengenai perlombaan ini. “Banyak orang mengira ajang pageant itu cuma sekadar ajang model, kita dandan cantik atau tampan. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ini adalah ajang untuk mengasah potensi dan meningkatkan kualitas SDM yang benar-benar harus memenuhi standar 5B,” ungkapnya.

Untuk mencapai tahap Grand Final, Apta beserta finalis lainnya harus melewati proses evaluasi yang cukup menantang. Rangkaian acara dimulai dengan pra-karantina selama tiga minggu, disusul oleh masa karantina intensif selama tiga hari penuh dari pagi hingga malam. Pada fase ini, panitia melatih kemampuan quick thinking finalis melalui sesi tanya-jawab dadakan. Mereka dituntut merangkai jawaban publik yang berbobot hanya dalam rentang waktu 30 hingga 45 detik.

​Kompetisi tahun ini berhasil meloloskan 17 pasang atau 34 mahasiswa sebagai finalis. Peserta kemudian dikerucutkan secara bertahap menjadi Top 5 dan disaring kembali menjadi Top 3. Meskipun mereka selalu tampil berpasangan seperti Apta yang bersanding dengan delegasi dari Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora sistem penilaian dari dewan juri tetap dilakukan secara murni individu.

Keberhasilan Apta meraih posisinya diakui berkat persiapan yang sangat matang. Ia rutin mendalami materi seputar UMM, isu-isu terkini di wilayah Jawa Timur, serta mematangkan kemampuan public speaking. Puncak totalitasnya terlihat secara jelas pada sesi talent show, di mana ia menantang dirinya sendiri untuk menampilkan seni Wayang Dalang meski harus belajar dari nol.

​”Tentu saja persiapan ini tidak lepas dari bantuan teman-teman. Mereka sangat suportif dan pengertian, membantu saya mengatur jadwal sehingga kewajiban kuliah serta kompetisi yang menguras waktu ini bisa tetap berjalan seimbang,” tutup Apta.