
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar diskusi publik bertajuk EX-TION 2026. Mengangkat tema “The Spill-Over of Iran’s War and Reflections on Indonesia’s Defense,” forum diskusi ini mengupas tuntas imbas pergolakan geopolitik Timur Tengah.
Tengah terhadap stabilitas ekonomi dan arsitektur pertahanan nasional.
Agenda yang berlangsung di Auditorium GKB V, Kampus III UMM pada Sabtu, 30 Mei 2026 ini, mengawinkan sudut pandang taktis militer dengan analisis tajam akademisi. Berdasarkan rilis pers resmi yang diterima pada Selasa, 2 Juni 2026, simposium ini menghadirkan dua pakar sebagai inter some utama: Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., bersama Dosen Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana Prasetya, M.Hub.Int., Ph.D.
Dalam sesi pemaparannya, Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus membedah anatomi kerawanan geografis Indonesia, terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang sensitif seperti perairan Natuna dan Selat Malaka. Ia melacak rekam jejak evolusi strategi pertahanan domestik sejak era 1953 hingga tantangan kontemporer saat ini.
Menurut Kolonel Wahyu, lanskap ancaman global telah bergeser dari sekadar adu kekuatan fisik menjadi perang asimetris (asymmetric warfare) dan perang modern (modern warfare). Indonesia kini dituntut waspada terhadap ancaman laten yang menyerang ruang siber (cyber warfare), psikologis (cognitive warfare), hingga teknologi mutakhir (quantum warfare).
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah ketergantungan pada pasokan energi eksternal yang melewati jalur-jalur rawan konflik. Jika jalur logistik ini terganggu, mobilitas armada tempur dan pertahanan kita dipertaruhkan,” tegas Danrem 083 tersebut.
Dari perspektif makro, Dion Maulana Prasetya, Ph.D. menilai konfrontasi yang melibatkan Iran tidak dapat dipandang secara parsial. Konflik tersebut berkelindan erat dengan rivalitas geopolitik tiga poros utama dunia: Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.
Dion mencontohkan, ketegangan di Selat Hormuz secara otomatis menyumbat distribusi energi global. Dampak dominonya langsung merembet ke Indonesia dalam bentuk lonjakan harga minyak mentah, yang memperparah defisit neraca perdagangan akibat status RI sebagai importir neto minyak.
Lebih jauh, akademisi UMM ini mengkritisi adanya gap (jurang pemisah) antara cita-cita besar Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan realitas kekuatan militer di lapangan. Mandeknya ketercapaian target Minimum Essential Force (MEF) yang masih tertahan di angka 65% dinilai melemahkan daya tawar (bargaining power) diplomasi Indonesia di panggung internasional.
Oleh sebab itu,Bapak Dion Maulana Prasetya menawarkan peta jalan baru bagi kebijakan luar negeri Indonesia:
- Rekonseptualisasi Doktrin “Bebas-Aktif”: Mengubah postur netralitas yang cenderung pasif menjadi sikap yang lebih protektif.
- Adopsi Strategi Baru: Menerapkan asas Strategic Autonomy, Active Hedging, serta Selective Engagement.
- Fokus Wilayah Perbatasan: Penguatan pengawasan total untuk menjaga kedaulatan di wilayah panas, khususnya Laut Natuna Utara.
Diskusi interaktif yang bergulir hingga menjelang siang ini membuahkan satu konklusi krusial: Indonesia tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton di tengah pergeseran tektonik geopolitik global. Ketahanan nasional yang tangguh hanya bisa dicapai melalui integrasi antara manuver diplomasi yang berani dan penguatan postur militer yang mandiri serta kebal dari ancaman embargo pihak asing.
Dipadati oleh antusiasme peserta, acara ditutup dengan sesi dialektika tanya jawab serta pernyataan pamungkas dari kedua pembicara yang kembali mengingatkan pentingnya urgensi kewaspadaan strategis nasional di era polarisasi global ini.