Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecturer bertema Media and Social Change in Malaysia pada Selasa (4/6), bertempat di Aula BAU. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa Ilmu Komunikasi dan menghadirkan tiga pemateri dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Tiga dosen tamu dari UiTM membawakan materi yang beragam terkait perubahan sosial dan komunikasi di Malaysia. Ts. Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, Ilya Yasnorizar binti Ilyas, dan Rosilawati binti Sultan Mohideen.

          Dalam kuliah tamu ini, Ts. Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar membuka sesi dengan paparan “Echo Chamber and Society: Free to Speak or Trapped in a Bubble” yang menyoroti bagaimana algoritma media sosial menciptakan gelembung informasi yang memperkuat bias pengguna. “Media sosial memberi kesan seolah-olah semua orang punya kebebasan bicara, padahal secara tidak sadar, kita hanya berada dalam gelembung informasi yang memperkuat bias kita,” ungkapnya.

      Dilanjutkan oleh Ilya Yasnorizar binti Ilyas yang membahas “Cross-Cultural Differences in Nonverbal Communication: Gestures, Eye Contact, and Personal Space”. Ia menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya dalam komunikasi nonverbal. “Kadang kita salah paham bukan karena bahasa, tapi karena ekspresi tubuh yang dimaknai berbeda. Apa yang dianggap sopan di satu budaya, bisa terasa ofensif di budaya lain,” jelasnya.

       Sesi ditutup dengan paparan Rosilawati binti Sultan Mohideen mengenai “The Impact of Social Media on Malaysian Political Attitude”. Menurutnya, media sosial menjadi “senjata bermata dua” yang di satu sisi membuka akses politik generasi muda, namun di sisi lain rentan disusupi narasi yang memecah belah. “Sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus paham bagaimana media sosial bekerja dan tidak mudah terpancing oleh konten yang belum tentu benar,” pesannya.

        Selain berbagi materi akademik, para dosen UiTM juga menyampaikan kesan positif atas terselenggaranya kuliah tamu ini. Rosilawati mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat mahasiswa UMM yang aktif berdiskusi. “Kami senang dapat berdialog dengan mahasiswa UMM yang kritis dan terbuka terhadap perspektif baru. Kegiatan seperti ini memperkuat jejaring akademik antarnegara dan menjadi pengalaman berharga bagi kami,” tuturnya

       Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi awal kerja sama akademik antara Ilmu Komunikasi UMM dan UiTM. Isnani Dzuhrina, S.Sos, M.Adv, Sekretaris II Program Studi Ilmu Komunikasi, dalam wawancaranya, menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berhenti di kegiatan guest lecture. “Jadi begini sebenarnya, latar belakangnya kita sedang berinisiasi kerja sama dengan UiTM. Salah satu bentuk implementasinya adalah melalui kuliah tamu ini. Namun ke depan, akan ada program-program kolaboratif lainnya seperti Exchange knowledge, Join Research, dan Join Project,” ujarnya.

      Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa semester depan akan diadakan proyek kolaborasi antara mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan UiTM yang menghasilkan luaran berbentuk buku foto bertema permainan tradisional. “Mahasiswa dari UiTM akan datang ke sini untuk riset bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi. Mereka akan turun lapangan untuk mengambil gambar permainan tradisional Indonesia, lalu menyusun narasi visual dalam bentuk majalah berbasis foto. Ini menjadi bagian dari eksplorasi budaya dan penguatan identitas visual melalui karya kreatif,” jelasnya.

       Kegiatan International Guest Lecturer membawa misi penting untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman internasional. Selain memperluas wawasan tentang perubahan sosial di negara tetangga, mahasiswa juga dilatih untuk menghadapi lingkungan belajar yang multikultural. “Mereka bisa mempraktikkan kemampuan bahasa, memahami perbedaan budaya, dan terbiasa berada dalam situasi internasional. Ini penting untuk membentuk pribadi komunikatif yang adaptif,” tambahnya.

        Melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, UMM dan UiTM telah membuka gerbang kolaborasi akademik lintas negara yang tidak hanya memperluas cakrawala berpikir mahasiswa, tetapi juga memperkuat jalinan antar institusi dalam membentuk generasi komunikator global yang siap bersaing di era dunia tanpa batas. (mzl)