Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan

Selasa, 24 November 2020 17:24 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prestasi membanggakan juga diraih oleh dosen FISIP yang satu ini. Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor. Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. . Arfan Adhi Pradana, dosen Ikom FISIP saat berakting sebagai Pak Guru Ahmad di film pendek Bumi. Ia diganjar sebagai Best Actor di ISFF 2020 (foto: ist) Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Baca juga : Kaya Portofolio, Dosen FISIP Ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual. “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Proses syuting film Bumi oleh Tim Meraki Visual (foto: ist) Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Berhasil meraih gelar Best Director dan Most Views Movie (foto: ist) Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,”ungkapnya sambil tertawa. Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual. Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. ‘’Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,”tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. Selamat untuk Pak Ahmad alias Pak Arfan Adhi dan Tim Meraki Visual! (wnd)
Kaya Portofolio, Dosen FISIP ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter

Selasa, 24 November 2020 17:16 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rangkaian prestasi demi prestasi tak hanya ditorehkan oleh mahasiswa, namun dosen-dosen di FISIP UMM pun ternyata memiliki segudang prestasi. Salah satu prestasi membanggakan baru saja diraih oleh dosen FISIP Novin Farid Styo Wibowo, M.Si. Novin yang merupakan dosen Prodi llmu Komunikasi FISIP UMM ini berhasil memperoleh beasiswa sertifikasi film khusus praktisi film documenter dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI . Beasiswa ini bukan sembarang beasiswa, karena untuk mendapatkan beasiswa sertifikasi ini calon peserta harus memiliki sejumlah karya film documenter. Novin Farid Styo Wibowo, M.Si (berkalung kuning) saat mengikuti sertifikasi praktisi film dokumenter di The Sunan Hotel, Solo (foto: ist) Novin Farid, kepala laboratorium Ilmu Komunikasi ini merupakan salah satu orang yang beruntung mendapatkan beasiswa khusus praktisi film documenter. Beasiswa senilai lebih dari lima juta ini berhasil ia raih berkat portofolionya dalam sepak terjangnya di dunia film documenter selama ini. Salah satu syarat seleksi beasiswa sertifikasi ini memang minimal harus memiliki lima karya film documenter dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun terakhir. Baca juga : Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan Sertifikasi ini menguji kompetensi documentary yang harus menguasai A sampai Z proses produksi film documenter, mulai dari proses riset, menulis script, manajemen produksi, pengambilan gambar, sampai tataran editing hingga proses publikasinya. “Sertifikasi yang saya ikuti kemarin adalah sertifikasi jalur portofolio, bukan jalur observasi. Salah satu syarat mutlak agar bisa lolos beasiswa sertifikasi ini adalah harus punya karya film documenter, minimal lima karya ,”ujar dosen yang juga ketua program di Asosiasi Documentaries Nusantara Kota Malang ini. Total ada 64 orang dari seluruh Indonesia yang lolos beasiswa ini. Kegiatan sertifikasi ini diadakan 9-11 November 2020 lalu di The Sunan Hotel Solo. Proses kegiatan sertifikasi praktisi film dokumenter yang diikuti oleh dosen Ikom, Novin Farid Styo Wibowo (foto: ist) Proses sertifikasi diawali dengan pelatihan selama dua hari, yang berisi tentang bagaimana menyiapkan interview, merapikan dokumen, dan bagaimana mempresentasikan karya film yang pernah dibuat. Para asesornya adalah para praktisi film handal di bidang film documenter. Setelah mengikuti pelatihan, ia pun mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan kompeten. “Saat ini masih menunggu sertifikat kompetensinya saja. Sertifikasi ini prosesnya tidak mudah, karena untuk bisa mengikutinya saya harus unjuk karya portofolio agar bisa lolos seleksi,” ungkap Novin. Lima judul dari karya documenter yang pernah Novin hasilkan diantaranya adalah Presiden Singkong, Aketajawelolobata, W-Brige, Female Poverty Aveliation, dan Ekonomi Desa Jatim Bangkit. Hingga saat ini total ada 11 film fiksi, 15 film documenter, dan 24 karya iklan dan profil yang telah ia hasilkan. Luar biasa kan? Congratulation Pak Novin! (wnd)