Perkuat Relasi dan Tukar Gagasan, FPCI Chapter UMM Inisiasi Kunjungan Strategis “PR Voyage”

Guna memperkuat kapasitas kelembagaan di bidang komunikasi organisasi, diplomasi publik, dan manajemen hubungan eksternal, Divisi Public Relations FPCI Chapter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menginisiasi program visitasi bertajuk “PR Voyage”. Program strategis ini dirancang sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan relasi kelembagaan sekaligus ruang pertukaran praktik baik (best practices) antar chapter FPCI di Indonesia. Lebih dari sekadar kunjungan biasa, PR Voyage diharapkan mampu menjadi titik temu bagi lahirnya ide-ide progresif. Melalui kegiatan ini, FPCI Chapter UMM berupaya menciptakan ruang refleksi atas dinamika pengelolaan organisasi, sekaligus menjadi pemantik kolaborasi nyata demi memperkuat peran FPCI sebagai organisasi politik luar negeri yang independen dan non-partisan. Satukan Empat Chapter dalam Satu Ruang Diskusi Dalam pelaksanaannya, program kunjungan strategis ini melibatkan jajaran pengurus dan anggota aktif dari empat chapter FPCI sekaligus, yaitu: FPCI Chapter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selaku inisiator FPCI Chapter Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya FPCI Chapter Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya FPCI Chapter Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) Kegiatan interaktif ini berpusat di lingkungan Universitas Airlangga, Surabaya, yang bertindak sebagai tuan rumah pertemuan. Kupas Tuntas Manajemen Organisasi hingga Campus Tour Melalui PR Voyage, para peserta mendapatkan kesempatan berharga untuk berdiskusi secara langsung mengenai berbagai aspek pengelolaan organisasi. Pembahasan bergerak dinamis mulai dari strategi perencanaan, eksekusi program kerja, hingga cara menghadapi berbagai tantangan riil dalam roda organisasi. Tidak hanya duduk di meja diskusi, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan kegiatan campus tour. Agenda ini mengajak para peserta untuk mengenal lebih dekat lingkungan kampus tuan rumah serta melihat langsung bagaimana budaya organisasi yang berkembang di masing-masing universitas. Melalui langkah awal ini, diharapkan hubungan kerja sama antar chapter FPCI di Jawa Timur dapat berjalan semakin erat, solid, dan berdampak positif bagi iklim akademis maupun diplomasi publik di masa depan.
Prodi HI UMM Gelar Bedah Buku “Marxisme dan Fatum Demokrasi” Karya Alumni.

Prodi Hubungan Internasional UMM menyelenggarakan kegiatan bedah buku berjudul “Marxisme Dan Fatum Demokrasi” karya alumni mahasiswa Prodi Hubungan Internasional yang bertempat di Laboratorium Hubungan Internasional GKB 4 pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB yang dihadiri oleh mahasiswa Hubungan Internasional UMM. Kegiatan ini menghadirkan Victory Pradhitama, M.Si dosen prodi hubungan internasional sebagai pemantik, dan Ahmad Juhairi, S.Ip , M.Phil sebagai narasumber yang juga merupakan penulis dari buku “Marxisme Dan Fatum Demokrasi” serta alumni mahasiswa hubungan internasional UMM angkatan tahun 2006 yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Sumenep. Victor sebagai pemantik menyampaikan bahwa pemikiran marx adalah salah satu pemikiran terbesar yang ada di dunia, serta pemikiran marx ini mempengaruhi 1/3 nasib pemikiran manusia. Dalam pemikiran marx, membahas segala nya dalam bentuk mikro hingga makro, marx membahas segala yang ada di dunia ini mulai dari hal kecil hingga hal yang besar. “Jika kita membahas tentang pemikiran marx, pemikiran ini merupakan salah satu pemikiran yang terbesar dan paling berpengaruh di dunia apalagi dalam hal ilmu sosial. Pemikiran ini mempengaruhi 1/3 manusia di dunia. Dalam pemikiran marx membahasa dari yang paling mikro hingga yang paling makro, marx membahas segalanya seperti ekonomi, seni, agama, dan yang paling sering di bahas adalah tentang pola berpikiran struktural,” jelas dosen Hubungan Internasional ini. Victor menambahkan penutup dari pemantik yang ia sampaikan “Pemikiran marx tidak memerlukan pemantik untuk dibahas, karena sampai saat ini pemikiran marx tetap menjadi api dalam kehidupan di dunia ini,” Dalam kegiatan ini, juhairi selaku narasumber mengucapkan terimakasih pada prodi Hubungan Internasional atas diberikan nya ruang untuk acara ini. Alumni mahasiswa hubungan internasional ini menjelaskan bahwa buku “Marxisme Dan Fatum Demokrasi” ini merupakan kelanjutan dari skripsi S1 yang membahas tentang perkembangan demokrasi dari tahap awal hingga tahap global. Karya ini juga berakar dari tesis S2 yang diselesaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada kurun waktu 2012–2014. Ia menggunakan frasa “Patung Demokrasi” sebagai sebuah metafora untuk menggambarkan sistem pemerintahan saat ini. Menurut Juhairi, demokrasi yang terlihat megah layaknya sebuah patung, sesungguhnya sudah “mati” dan hanya menjadi ilusi. Ruang demokrasi, sebutnya, telah direduksi menjadi sekadar ruang pertarungan antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja.
Apta Aji Seto, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Raih Gelar First Runner Up Putra-Putri Kampus

Ajang pemilihan Putra-Putri Kampus (Papika) Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan cerita menginspirasi. Kompetisi bergengsi ini bukan sekadar unjuk penampilan fisik semata, melainkan sebuah wadah pembuktian kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) mahasiswa yang berlandaskan pada standar “5B”, yakni Brain, Beauty, Behavior, Belief, dan Brave. Kualitas nyata ini dibuktikan langsung oleh Apta Aji Seto, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2025 yang mewakili Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Mahasiswa yang akrab disapa Apta tersebut berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih posisi Juara 2 atau First Runner Up. Dalam wawancaranya, Apta dengan tegas mematahkan stigma mengenai perlombaan ini. “Banyak orang mengira ajang pageant itu cuma sekadar ajang model, kita dandan cantik atau tampan. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ini adalah ajang untuk mengasah potensi dan meningkatkan kualitas SDM yang benar-benar harus memenuhi standar 5B,” ungkapnya. Untuk mencapai tahap Grand Final, Apta beserta finalis lainnya harus melewati proses evaluasi yang cukup menantang. Rangkaian acara dimulai dengan pra-karantina selama tiga minggu, disusul oleh masa karantina intensif selama tiga hari penuh dari pagi hingga malam. Pada fase ini, panitia melatih kemampuan quick thinking finalis melalui sesi tanya-jawab dadakan. Mereka dituntut merangkai jawaban publik yang berbobot hanya dalam rentang waktu 30 hingga 45 detik. Kompetisi tahun ini berhasil meloloskan 17 pasang atau 34 mahasiswa sebagai finalis. Peserta kemudian dikerucutkan secara bertahap menjadi Top 5 dan disaring kembali menjadi Top 3. Meskipun mereka selalu tampil berpasangan seperti Apta yang bersanding dengan delegasi dari Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora sistem penilaian dari dewan juri tetap dilakukan secara murni individu. Keberhasilan Apta meraih posisinya diakui berkat persiapan yang sangat matang. Ia rutin mendalami materi seputar UMM, isu-isu terkini di wilayah Jawa Timur, serta mematangkan kemampuan public speaking. Puncak totalitasnya terlihat secara jelas pada sesi talent show, di mana ia menantang dirinya sendiri untuk menampilkan seni Wayang Dalang meski harus belajar dari nol. ”Tentu saja persiapan ini tidak lepas dari bantuan teman-teman. Mereka sangat suportif dan pengertian, membantu saya mengatur jadwal sehingga kewajiban kuliah serta kompetisi yang menguras waktu ini bisa tetap berjalan seimbang,” tutup Apta.