Menembus Batas Negara: Mahasiswa UMM Gali Perubahan Sosial Malaysia Lewat Guest Lecture Internasional

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecturer bertema Media and Social Change in Malaysia pada Selasa (4/6), bertempat di Aula BAU. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa Ilmu Komunikasi dan menghadirkan tiga pemateri dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Tiga dosen tamu dari UiTM membawakan materi yang beragam terkait perubahan sosial dan komunikasi di Malaysia. Ts. Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, Ilya Yasnorizar binti Ilyas, dan Rosilawati binti Sultan Mohideen. Dalam kuliah tamu ini, Ts. Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar membuka sesi dengan paparan “Echo Chamber and Society: Free to Speak or Trapped in a Bubble” yang menyoroti bagaimana algoritma media sosial menciptakan gelembung informasi yang memperkuat bias pengguna. “Media sosial memberi kesan seolah-olah semua orang punya kebebasan bicara, padahal secara tidak sadar, kita hanya berada dalam gelembung informasi yang memperkuat bias kita,” ungkapnya. Dilanjutkan oleh Ilya Yasnorizar binti Ilyas yang membahas “Cross-Cultural Differences in Nonverbal Communication: Gestures, Eye Contact, and Personal Space”. Ia menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya dalam komunikasi nonverbal. “Kadang kita salah paham bukan karena bahasa, tapi karena ekspresi tubuh yang dimaknai berbeda. Apa yang dianggap sopan di satu budaya, bisa terasa ofensif di budaya lain,” jelasnya. Sesi ditutup dengan paparan Rosilawati binti Sultan Mohideen mengenai “The Impact of Social Media on Malaysian Political Attitude”. Menurutnya, media sosial menjadi “senjata bermata dua” yang di satu sisi membuka akses politik generasi muda, namun di sisi lain rentan disusupi narasi yang memecah belah. “Sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus paham bagaimana media sosial bekerja dan tidak mudah terpancing oleh konten yang belum tentu benar,” pesannya. Selain berbagi materi akademik, para dosen UiTM juga menyampaikan kesan positif atas terselenggaranya kuliah tamu ini. Rosilawati mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat mahasiswa UMM yang aktif berdiskusi. “Kami senang dapat berdialog dengan mahasiswa UMM yang kritis dan terbuka terhadap perspektif baru. Kegiatan seperti ini memperkuat jejaring akademik antarnegara dan menjadi pengalaman berharga bagi kami,” tuturnya Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi awal kerja sama akademik antara Ilmu Komunikasi UMM dan UiTM. Isnani Dzuhrina, S.Sos, M.Adv, Sekretaris II Program Studi Ilmu Komunikasi, dalam wawancaranya, menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berhenti di kegiatan guest lecture. “Jadi begini sebenarnya, latar belakangnya kita sedang berinisiasi kerja sama dengan UiTM. Salah satu bentuk implementasinya adalah melalui kuliah tamu ini. Namun ke depan, akan ada program-program kolaboratif lainnya seperti Exchange knowledge, Join Research, dan Join Project,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa semester depan akan diadakan proyek kolaborasi antara mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan UiTM yang menghasilkan luaran berbentuk buku foto bertema permainan tradisional. “Mahasiswa dari UiTM akan datang ke sini untuk riset bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi. Mereka akan turun lapangan untuk mengambil gambar permainan tradisional Indonesia, lalu menyusun narasi visual dalam bentuk majalah berbasis foto. Ini menjadi bagian dari eksplorasi budaya dan penguatan identitas visual melalui karya kreatif,” jelasnya. Kegiatan International Guest Lecturer membawa misi penting untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman internasional. Selain memperluas wawasan tentang perubahan sosial di negara tetangga, mahasiswa juga dilatih untuk menghadapi lingkungan belajar yang multikultural. “Mereka bisa mempraktikkan kemampuan bahasa, memahami perbedaan budaya, dan terbiasa berada dalam situasi internasional. Ini penting untuk membentuk pribadi komunikatif yang adaptif,” tambahnya. Melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, UMM dan UiTM telah membuka gerbang kolaborasi akademik lintas negara yang tidak hanya memperluas cakrawala berpikir mahasiswa, tetapi juga memperkuat jalinan antar institusi dalam membentuk generasi komunikator global yang siap bersaing di era dunia tanpa batas. (mzl)
FISIP UMM Kukuhkan Komitmen Mutu melalui Serah Terima Jabatan Kepala Gugus Penjaminan Mutu Internal UPPS 2025–2027

Dalam rangka memperkuat komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menggelar serah terima jabatan Kepala Gugus Penjaminan Mutu Internal Unit Pengelola Program Studi (GPMI UPPS) Universitas Muhammadiyah Malang untuk masa khidmat 2025–2027 pada Rabu (4/6). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya menjaga kesinambungan dan penguatan sistem penjaminan mutu di tingkat fakultas. Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang 601 ini turut dihadiri oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si., Dr. M. Hayat, S.Sos., M.A., Dr. Frida Kusumastuti, M.Si., serta para Kepala dan Sekretaris Program Studi di lingkungan FISIP, dan Kepala Laboratorium. Seremoni diawali dengan pembacaan surat tugas, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari para pihak yang terlibat langsung dalam pelaksanaan penjaminan mutu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dalam sambutan pembukanya, Dekan FISIP Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si., menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pelaksana mutu dan penjamin mutu sebagai bagian dari satu sistem yang tidak dapat dipisahkan. “Apalah artinya kita melakukan berbagai hal tetapi tidak ada yang mengawasi. Fungsi pengawasan adalah memastikan bahwa seluruh komponen standar nasional dan standar perguruan tinggi bisa berlaku dengan baik. Maka, beliau-beliau inilah yang akan bertanggung jawab,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa GPMI merupakan representasi pejabat universitas yang ditempatkan di fakultas untuk memastikan mutu berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si., menyampaikan harapannya agar komunikasi antara pimpinan lama dan baru dapat terus terjalin dengan baik. “Saya berharap, jika Bu Frida merasa ada hal-hal yang perlu digaris bawahi baik yang belum terlaksana maupun yang sudah menjadi capaian dapat terus dikomunikasikan agar menjadi bahan refleksi dan penyemangat bersama ke depan,” tambahnya. Menanggapi hal tersebut, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si. yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala GPMI UPPS Universitas Muhammadiyah Malang, turut menyampaikan apresiasinya. Ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada pimpinan fakultas yang telah memberikan perhatian serius terhadap penjaminan mutu sebagai bagian integral dari seluruh kegiatan akademik. “Terima kasih juga kepada para Kaprodi dan Sekprodi yang selama ini telah bekerja keras, khususnya Prodi Ilmu Pemerintahan dan Hubungan Internasional yang tertib dalam pengisian laporan di web SPMI,” ujarnya. Ia pun meyakini bahwa di bawah kepemimpinan yang baru, koordinasi dan proses pengisian pelaporan mutu akan semakin terarah. Sebagai penutup rangkaian sambutan, Dr. M. Hayat S.Sos, M.A, yang kini resmi menjabat sebagai Kepala GPMI UPPS Universitas Muhammadiyah Malang periode 2025–2027 menyampaikan optimisme terhadap peran yang akan dijalankan. Ia berharap proses penjaminan mutu tidak hanya menjadi rutinitas administratif, melainkan juga sebagai sarana pembelajaran bersama. “Semoga proses belajar ini bisa memberi kemudahan dan keberkahan yang luar biasa. Apa yang sudah dicapai FISIP menjadi momentum yang akan terus terinternalisasi dalam langkah-langkah kita ke depan,” tuturnya. Dengan semangat kolaboratif dan komitmen yang terus diperkuat, serah terima jabatan ini tidak sekadar menjadi agenda formal , melainkan juga menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun sistem penjaminan mutu yang semakin solid. Kepemimpinan yang berkesinambungan diharapkan mampu mendorong internalisasi nilai-nilai mutu dalam setiap aktivitas akademik, serta memperkuat budaya evaluatif dan reflektif di lingkungan FISIP UMM. Momentum ini menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu adalah kerja bersama yang terus tumbuh seiring langkah dan waktu. (mzl)
FISIP UMM Gelar Pelepasan Wisudawan Periode II 2025, Tiga Mahasiswa Terbaik Ungkap Kunci Sukses dan Harapan ke Depan

Malang, 21 Mei 2025 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan pelepasan calon wisudawan-wisudawati Periode II Tahun 2025 dengan khidmat dan penuh semangat di Aula BAU UMM. Acara ini menjadi momen perpisahan sekaligus apresiasi atas capaian akademik dan non-akademik para mahasiswa menjelang prosesi wisuda universitas. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan sambutan dari Dekan FISIP yang mengapresiasi perjuangan seluruh mahasiswa selama menempuh studi. Selain penyematan selempang kepada para calon wisudawan secara simbolis, kegiatan juga diisi dengan orasi ilmiah, hingga pengumuman mahasiswa terbaik dari fakultas dan masing-masing program studi. Dalam momen istimewa tersebut, tiga mahasiswa terbaik dengan IPK tertinggi turut diperkenalkan ke hadapan sivitas akademika. Mereka adalah Tiara Wahyu Mega Wulandari dari Program Studi Sosiologi (IPK 3,95), Rifqi Muhammad Bintang dari Program Studi Ilmu Pemerintahan (IPK 3,96), dan Annisa Hayatun Nufus dari Program Studi Hubungan Internasional (IPK 3,97). Ketiganya dikenal tidak hanya berprestasi secara akademik, namun juga aktif dalam berbagai organisasi dan program pengembangan diri. Tiara mengaku terharu atas pencapaian yang diraihnya. “Senang dan terharu juga karena nggak nyangka bisa jadi mahasiswa terbaik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Sementara Rifqi menyampaikan rasa syukurnya dan dedikasi perjuangannya selama kuliah untuk keluarga. “Apa yang saya jalani tiga tahun ini saya persembahkan untuk orang tua,” ungkapnya. Annisa, yang juga aktif dalam program MBKM dan magang di beberapa instansi pemerintahan, menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalani proses belajar. “Konsisten intinya, dan jangan lupa ikuti program-program dari pemerintah,” pesannya. Ketiga mahasiswa tersebut juga terlibat aktif dalam kegiatan organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan, komunitas sosial, hingga ajang Putra-Putri Kampus dan kompetisi ilmiah. Pengalaman magang, penelitian, hingga publikasi jurnal menjadi bagian dari perjalanan mereka yang memperkaya wawasan serta kesiapan memasuki dunia kerja. Pelepasan ini menjadi bukti bahwa FISIP UMM terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam capaian akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi tantangan global. Semangat dan kisah inspiratif para mahasiswa terbaik diharapkan mampu memotivasi mahasiswa lain untuk terus berkembang dan berkontribusi di masyarakat. (FRA)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Terima Kunjungan Universiti Utara Malaysia dalam Rangka Global Outreach Program

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) kembali menerima kunjungan tamu istimewa dari Universitas Utara Malaysia (UUM), Jumat (9/5). Bertempat di Hall GKB IV lantai 4, kunjungan ini merupakan bagian dari program Global Outreach UUM, sekaligus menjadi wujud nyata dari janji yang disampaikan dua tahun lalu oleh pihak UUM kepada Dekan FISIP UMM. Dalam sambutannya, Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si., menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya pertemuan tersebut. Ia berharap kunjungan ini dapat memperkuat hubungan antara kedua institusi dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa depan. “Harapannya, pertemuan ini bisa menjalin hubungan yang lebih dekat antara FISIP UMM dan UUM. Mudah-mudahan ini bukanlah pertemuan terakhir, bahkan bisa menjadi awal dari kolaborasi-kolaborasi berikutnya untuk mengembangkan potensi yang ada, baik di Malaysia maupun Indonesia,” ujarnya. Senada dengan itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menekankan pentingnya kerja sama internasional sebagai bekal mahasiswa menghadapi kompetisi global.“Siapa yang mampu membangun jejaring yang luas, dialah yang akan memenangkan kompetisi. Kegiatan dengan paparan internasional seperti ini perlu terus diperkuat dan dikembangkan,” tegasnya. Sementara itu, Dean of School of Government, UUM Assoc. Prof. PMgr. Sr. Dr. Mohammad Sukeri Bin Khalid, menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dari pihak UMM. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa dan dosen. “Ini adalah kunjungan yang telah kami janjikan ketika bertemu Prof. dua tahun lalu. Bukan sekadar perjalanan seremonial, ini adalah pengalaman yang bermakna. Bukan soal bersenang-senang, tapi tentang memanfaatkan kesempatan untuk tumbuh dan belajar sebanyak mungkin, membangun jejaring dan relasi,” ungkapnya. Kunjungan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi kedua kampus dalam menjajaki kolaborasi akademik, penelitian, dan pertukaran budaya, sekaligus memperkuat peran institusi pendidikan dalam membentuk generasi muda yang unggul di kancah global. (mzl)
Fenomena Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus Meningkat, Kaprodi Sosiologi UMM: Masalah Budaya dan Penegakan Hukum Masih Lemah

Malang,8 Mei 2025 – Meningkatnya kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus dan masyarakat secara umum memunculkan keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., menyampaikan pandangannya bahwa persoalan ini tidak dapat dilihat hanya dari sudut pandang pendidikan semata, melainkan berkaitan erat dengan faktor sosial, budaya, serta lemahnya sistem penanganan hukum yang ada. Menurut Luluk, pelecehan seksual bisa terjadi di lingkungan manapun, termasuk dunia pendidikan, ketika seseorang memiliki peluang dan merasa tindakan tersebut tidak akan menimbulkan konsekuensi serius. “Kenapa bisa terjadi di dunia pendidikan, saya pikir karena faktor penyebabnya tidak mengacu pada pendidikan saja. Semuanya bisa terjadi kalau dia punya kesempatan untuk melakukan itu, apalagi didukung oleh sesuatu hal,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi perilaku menyimpang ini. Lingkungan pertemanan, tempat kerja, bahkan sistem nilai yang tumbuh di masyarakat bisa menjadi pemicu. Luluk menyoroti bagaimana budaya patriarki yang masih mengakar di Indonesia menciptakan ketimpangan kuasa antara laki-laki dan perempuan, sehingga seringkali melegitimasi perilaku pelecehan. Dalam konteks akademik, relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa juga dapat menjadi celah terjadinya pelecehan seksual. Ketika seorang dosen merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan tidak ada sistem yang menegakkan batasan etik dengan tegas, maka potensi penyalahgunaan kuasa semakin besar. “Dalam konsep patriarki, laki-laki sering merasa lebih superior dan bebas melakukan apapun tanpa rasa bersalah,” tambah Luluk. Ia juga menyoroti peran media dan kurangnya edukasi berbasis nilai sebagai faktor lain yang memperparah kondisi. Konsumsi konten media yang tidak sehat, seperti pornografi, dapat membentuk pola pikir dan perilaku menyimpang. Disisi lain, ia menilai bahwa hukum yang mengatur tentang pelecehan seksual di Indonesia masih belum dijalankan secara maksimal. Hukuman yang ringan dan proses hukum yang rumit kerap membuat korban enggan melapor, sementara pelaku merasa aman dari sanksi sosial maupun hukum. Dari sudut pandang sosiologi, Luluk menjelaskan bahwa pelecehan seksual yang terjadi secara berulang menunjukkan adanya pola dalam masyarakat, yang tidak terlepas dari lemahnya upaya preventif dan minimnya pendampingan korban. Selain itu, stigma terhadap korban juga masih kuat, sehingga banyak dari mereka memilih diam dan tidak mencari keadilan. Terkait langkah preventif, Prodi Sosiologi FISIP UMM telah berupaya mengintegrasikan pendidikan nilai dalam kurikulumnya. Mata kuliah seperti AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) serta materi tentang Sistem Sosial dan Budaya Indonesia menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran moral dan empati terhadap sesama. Luluk menegaskan bahwa penanganan kasus pelecehan seksual memerlukan kolaborasi antara institusi pendidikan, mahasiswa, serta masyarakat secara luas. “Kesadaran untuk saling menghormati, menjaga etika pergaulan, dan menolak segala bentuk kekerasan seksual harus terus ditanamkan sejak dini. Kita semua memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan beradab,” pungkasnya. (FRA)
FISIP UMM dan UWKS Perkuat Jejaring Akademik Lewat Kunjungan dan Kerjasama Tridarma

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menyambut kunjungan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FISIP UWKS) pada Rabu (23/4). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di Gedung Kuliah Bersama ini menjadi ruang silaturahmi akademik sekaligus forum pertukaran pengalaman dan penjajakan kerjasama kelembagaan antar dua institusi. Pertemuan ini mengusung semangat kolaborasi dalam menghadapi tantangan bersama di dunia pendidikan tinggi, mulai dari isu liberalisasi, maraknya PTN-BH, hingga persaingan dalam penerimaan mahasiswa baru. FISIP UMM berbagi pengalaman mengenai strategi penguatan kelembagaan yang selama ini dijalankan, baik melalui tata kelola akademik, peningkatan mutu SDM, maupun pengembangan program yang responsif terhadap perubahan. Diskusi berjalan dinamis dengan fokus pada berbagai aspek strategis. Di antaranya: pengalaman akreditasi nasional dan internasional, rekonstruksi kurikulum berbasis MBKM dan OBE, penguatan riset dan publikasi ilmiah dosen, hingga praktik pengabdian kepada masyarakat melalui konsep desa binaan berkelanjutan. Tak kalah penting, kedua belah pihak juga mendalami upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dan alumni, termasuk melalui program sertifikasi profesi dan penguatan soft skills sebagai bekal menghadapi dunia kerja. Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara FISIP UMM dan FISIP UWKS dalam bidang tridarma perguruan tinggi. Kesepakatan ini diharapkan menjadi awal dari berbagai inisiatif bersama yang konkret, tidak hanya dalam bentuk program kerja, tetapi juga dalam nilai dan semangat saling menguatkan. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata sebagai simbol persahabatan dan sinergi antar lembaga. Melalui kegiatan ini, FISIP UMM kembali menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi demi kemajuan bersama. (mzl)
UMM Gelar Kuliah Tamu Bahas Isu Keamanan dan Kerja Sama Eropa Kontemporer

Malang, 22 April 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (HI FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Contemporary Security and Cooperation Issues in Europe and the European Union”, Selasa (22/4), bertempat di Laboratorium Hubungan Internasional, GKB 4. Kuliah tamu ini menghadirkan Ana Gabriela Pantea, Ph.D., sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Ana Gabriela membagikan pandangan pribadinya terkait tantangan keamanan kontemporer di Eropa, termasuk posisi Uni Eropa terhadap konflik Rusia-Ukraina. Ia menyampaikan bahwa meskipun Uni Eropa cenderung bersikap netral, banyak tekanan eksternal yang mempersulit langkah-langkah langsung dalam penyelesaian konflik tersebut. Kegiatan ini terdiri dari dua sesi, yaitu pemaparan materi dan diskusi interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti sesi diskusi. Salah satu peserta, Syafina dari Prodi HI angkatan 2022, mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan membuka wawasan baru mengenai tantangan keamanan global. “Awalnya saya tidak tahu ternyata banyak juga permasalahan secure challenge yang perlu kita aware. Miss Ana menjelaskannya dengan sabar, jadi kami mulai paham,” tuturnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Bapak Hafid Adim Pradana, M.A., menjelaskan bahwa tema kuliah tamu ini relevan dengan perkembangan hubungan Indonesia dan Uni Eropa, terutama dalam konteks perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang telah berlangsung selama satu dekade. “Apa yang dipelajari mahasiswa HI sangat berkaitan erat dengan dinamika internasional, termasuk proses negosiasi antara Indonesia dan Uni Eropa. Tema ini penting untuk dipahami oleh mahasiswa karena menyangkut prospek dan tantangan kerja sama kedua pihak ke depan,” jelasnya. Kuliah tamu ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa Hubungan Internasional UMM dalam memahami isu-isu global, serta meningkatkan kepedulian terhadap posisi Indonesia dalam konstelasi internasional. (FRA)
UMM dan UKM Perkuat Kerja Sama Akademik Internasional Melalui Pertemuan Lanjutan

Universitas Muhammadiyah Malang kembali mempererat hubungan akademik dengan Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) Universiti Kebangsaan Malaysia. Kunjungan dari Universiti Kebangsaan Malaysia merupakan tindak lanjut kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang yang sudah menjalin kerjasama selama lima tahun terakhir ini dengan Universiti Kebangsaan Malaysia. Kegiatan ini berlangsung pada Jum’at (11/04). Kegiatan ini merupakan pertemuan lanjutan antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM dan Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) Universiti Kebangsaan Malaysia. Pertemuan ini merupakan Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disepakati sejak tahun 2020. Kerjasama ini mencangkup program pertukaran pelajar (Student Exchange), penelitian bersama (Join Research). dan dosen tamu (Visiting Lecturer). Dalam pertemuan kedua belah pihak ini membahas berbagai peluang baru untuk kolaborasi. pertemuan ini turut dihadiri oleh Dekan FKSSK UKM beserta jajaran, Wakil Rektor UMM, pimpinan dan dosen FISIP, serta perwakilan dari Fakultas Psikologi. Dekan FKSSK UKM, Prof. Dr. Kadaruddin Aiyub, menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama yang sudah terjalin dengan baik, terutama dengan Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMM. Salah satunya adanya mahasiswa Kesos UMM yang mengikuti program magang di lembaga-lembaga ternama di Kuala Lumpur. Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., mendorong kegiatan mahasiswa dalam bentuk short course dengan durasi satu bulan. “Short course kalau bisa tidak hanya two week tetapi one month course, dua minggu di UKM, dua minggu di sini, tetapi one month course dengan peserta tidak hanya dari Kesos tetapi dari prodi lain terlibat,” ungkapnya. Ia juga mendorong semua program studi di FISIP UMM dan Fakultas Psikologi UMM, ikut terlibat aktif dalam kerjasama ini. “Visiting Lecturer dan Join Research bisa tiap-tiap program studi mengirimkan satu dosen ke UKM dan sebaliknya mengundang dosen UKM untuk ke UMM dan menetap selama dua minggu,” ungkapnya. Ia menambahkan insentif dan skema pendanaan internal telah disiapkan. “Terkait pendanaan riset internal paling rendah 18,5 jt dan bisa tambah ketika ada kerjasama internasional bisa mencapai 21 jt, dan secara regulasi bisa fleksibel,” tambahnya. Beberapa dosen sekarang ini melakukan penyusunan proposal mulai dari dosen FPP, FISIP, FIKES, Psikologi, sedang mengerjakan tentang ketahanan pangan, kemiskinan extreme, stunting di NTT dan Psikologi tentang pengasuhan anak-anak usia dini. Drs. Oman Sukmana, M.Si, dosen Kesejahteraan Sosial yang sudah pernah menjalankan program penelitian professor menceritakan pengalamannya selama joint research di UKM. “Skema model lama untuk program visiting professor cukup dengan adanya dukung melalui pendanaan riset. dan kalau nanti peluang untuk kerjasama riset terutama bagi para profesor dihidupkan lagi melalui kebijakan wadek 4, maka akan terbuka kesempatan yang lebih luas untuk saling melengkapi dan memperkuat kolaborasi akademik antara institusi,” ungkapnya. Rangkaian kerjasama ini diharapkan tidak hanya sebagai untuk memperkuat jaringan akademik tetapi juga memberikan dampak yang baik pada kualitas lulusan, internasionalisasi institusi dan penguatan riset dosen serta mahasiswa. (zil)
Dua Mahasiswa HI UMM Juara Nasional di Ajang Alliance Students’ Venture Forum dan Melaju ke Korea

Dua mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Zair Baitil Atiq dan Aloysius Gonzaga Alnabe, berhasil mengharumkan nama kampus dengan menjuarai kompetisi nasional Alliance Students’ Venture Forum dan meraih tiket untuk melaju ke Korea dalam ajang internasional. “Kami melihat ironi besar ketika makanan berlimpah tapi masih banyak yang kelaparan. Dari situlah ide Pick Me lahir,” ujar salah satu dari mereka saat menjelaskan proyek yang sedang dirancang. Kemenangan ini diraih berkat inovasi mereka dalam menyusun solusi konkret terhadap persoalan besar yang tengah dihadapi Indonesia: limbah makanan dan ketahanan pangan. Lewat proyek berkelanjutan bertajuk Pick Me, keduanya menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi pemborosan makanan yang berasal dari industri makanan dan minuman (FnB). Data dari lima provinsi besar di Indonesia menunjukkan bahwa sektor FnB menjadi penyumbang terbesar food waste, yang berdampak pada kerugian ekonomi sekaligus memperparah krisis lingkungan. Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam ketahanan pangan, termasuk tingginya angka stunting pada anak-anak akibat kurangnya asupan gizi. Solusi Pick Me hadir dengan misi sosial dan pendekatan digital. Melalui aplikasi berbasis teknologi, platform ini menghubungkan pelaku bisnis FnB dengan konsumen. Makanan berlebih dijual kembali dengan harga yang lebih terjangkau, khususnya menyasar keluarga berpenghasilan menengah ke bawah dan pelajar. Selain itu, Pick Me juga mengedukasi publik melalui media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mengenai pentingnya pengurangan limbah makanan. Mahasiswa UMM ini merancang aplikasi yang mengedepankan pengalaman pengguna, menjalin kemitraan strategis dengan restoran, hotel, supermarket, driver online, dan lembaga keamanan pangan. Tak hanya mempermudah distribusi makanan berlebih, mereka juga menciptakan peluang kerja melalui kolaborasi dengan pengemudi lokal dan selalu memperbarui layanan berdasarkan feedback pelanggan. Keberhasilan Muhammad Zair dan Aloysius membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata terhadap isu global melalui inovasi dan aksi nyata. Mereka dijadwalkan mengikuti kegiatan internasional di Korea pada 2–5 April 2025, untuk memperkenalkan Pick Me ke panggung dunia dan menjalin kolaborasi lintas negara. (fra)
Mahasiswa Kontributif dan Produktif Menjadi Kunci Sukses di Masa Depan

Malang, (21 Januari 2024) – Menjadi mahasiswa yang unggul tidak hanya sekedar menjalani rutinitas perkuliahan, tetapi juga harus aktif dalam berbagai kegiatan. Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Najamuddin Khairur Rijal, S.IP., M.Hub.Int. menegaskan bahwa mahasiswa harus memiliki semangat dan tekad tinggi untuk berkontribusi dalam organisasi dan komunitas sesuai dengan minat serta potensinya. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki ambisi dan mimpi besar. “Tidak apa-apa disebut ‘ambis’, yang penting mahasiswa harus memiliki target dan motivasi untuk berkembang,” ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi yang berbeda, sehingga mereka perlu menggali dan mengembangkannya sesuai dengan minatnya. Misalnya, mahasiswa yang memiliki bakat di bidang tulis-menulis dapat mengasah kemampuannya melalui lomba dan komunitas kepenulisan. Begitu pula bagi mereka yang berbakat di bidang seni, olahraga, atau keagamaan, dapat bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang relevan. Produktivitas dan kontribusi dinilai sangat penting dalam menunjang pengembangan diri dan akademik mahasiswa. “Dunia kerja tidak hanya melihat IPK, tetapi juga kapasitas diri, keterampilan, dan kompetensi seseorang,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa yang hanya fokus pada akademik tanpa mengasah soft skill dan pengalaman organisasi akan kesulitan menghadapi tantangan dunia kerja. Selain itu, keterlibatan dalam berbagai aktivitas dapat membantu mahasiswa menjadi lebih tahan banting, kuat terhadap tekanan, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja tim. “Banyak sarjana pintar, tetapi ketika menghadapi tantangan di dunia kerja mereka mudah menyerah. Ini karena kurangnya keseimbangan antara akademik dan pengembangan diri melalui organisasi dan kegiatan lainnya,” jelasnya. UMM sebagai institusi pendidikan turut berperan dalam memfasilitasi mahasiswa agar dapat berkembang secara optimal. Kampus menyediakan berbagai UKM, organisasi kemahasiswaan, serta program-program akademik dan non-akademik yang mendukung produktivitas mahasiswa. “Di UMM, tidak ada prestasi yang tidak dihargai. Mahasiswa yang meraih prestasi dapat mengajukan penghargaan kepada kampus, baik berupa insentif uang tunai, konversi nilai mata kuliah, maupun apresiasi dalam bentuk publikasi di media sosial resmi fakultas dan universitas,” ujarnya. Bentuk penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk terus berkarya dan berprestasi. Mengenai keterkaitan antara produktivitas dan kesuksesan, ia menekankan bahwa kesuksesan tidak diraih secara instan. “Jika kita melihat biografi orang-orang sukses, hampir semuanya ditempa melalui organisasi, membangun jaringan, dan aktif dalam berbagai kegiatan. Kesuksesan tidak lahir dari ruang hampa,” jelasnya. Banyak tokoh sukses bahkan tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi berhasil karena memiliki keterampilan, daya juang, dan pengalaman yang diperoleh di luar ruang kelas. Untuk menjadi mahasiswa yang produktif, ia menekankan pentingnya memiliki mimpi dan ambisi yang jelas agar mahasiswa memiliki target dan motivasi yang kuat dalam menjalani perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga perlu mengenali potensi diri mereka sendiri agar dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Bergabung dengan komunitas atau organisasi yang sesuai dengan minat juga menjadi faktor penting dalam membangun support system yang dapat membantu mahasiswa tetap termotivasi dan berkembang. Manajemen waktu yang baik juga diperlukan agar mahasiswa dapat menyeimbangkan antara akademik, organisasi, serta waktu untuk diri sendiri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menjadi individu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi dan keterampilan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja. “Life balance itu penting. Akademik harus jalan, organisasi harus jalan, kehidupan spiritual juga harus tetap dijaga. Semua itu akan membentuk pribadi yang lebih matang dan siap menghadapi dunia luar,” pungkasnya. (Fra)