FISIP UMM Bekali Mahasiswa dengan Penguatan Karir

Senin, 30 Mei 2022 22:26 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Tantangan karir di jaman sekarang makin tinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia yang semakin bertambah, maka FISIP UMM menyambut baik program yang diusung oleh Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Kemahasiswaan UMM yang bekerjasama dengan PLN Peduli. Dua prodi di FISIP yakni Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) dan Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) mengadakan pelatihan penguatan karir mahasiswa pada tanggal 24 Mei 2022 untuk Prodi Ikom dan pada 28 Mei 2022 untuk Prodi Kesos. Karir di bidang komunikasi yang semakin menantang disikapi oleh prodi Ikom dengan mengadakan pelatihan karir tentang digital creative communication. Tema ini dipilih karena di masa kini, hampir tidak ada aspek yang terhindar dari sentuhan komunikasi digital kreatif. Kegiatan yang diadakan di Aula BAU ini mengangkat tema “Creative Communication Works in Digital Wave”. Tiga kelas dibuka dalam workshop kali ini, yakni Social Media Optimization, Digital Journalism for Social Media dan Videography for Social Media. Para pemateri bersama Wakil Rektor 3, Wakil Dekan 2 FISIP dan Kaprodi Ikom usai pembukaan kegiatan workshop (foto: ist) Kegiatan pelatihan menghadirkan pemateri yakni CEO PT Internusa Sosialoka Indonesia Miftah Farid Oktofani. Ia memberikan general lecture tentang etika dasar dan aturan main komunikasi digital kreatif. Pada kelas Social Media Optimization ada dua instruktur dari Sosialoka Indonesia, Rizka Alya Putri dan Muhammad Bahrul Ulum, yang juga merupakan alumni Komunikasi UMM. Sedangkan dua kelas lainnya diampu mantan ketua AJI Malang dan wartawan Tempo, Eko Widianto, dan dosen Komunikasi UMM, Nasrullah, untuk Kelas Digital Journalism for Social Media. Sementara instruktur kelas Videography for Social Media adalah Kepala Divisi Cipta Visual Biro Komunikasi dan Informasi UMM, Rino Anugrawan dan dosen Komunikasi UMM, Novin Farid Styo Wibowo. Tidak hanya kelas teori, workshop juga dilanjutkan dengan simulasi dan praktek. Laboratorium Komunikasi UMM sebagai backbone workshop ini merancang skema praktikum dengan instruktur pendamping masing-masing kelompok. “Tiga kelas yang dibuka merupakan trailer menjelang dibukanya kelas Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) milik Komunikasi UMM. Dalam waktu dekat kelas-kelas sekolah CoE ini akan ditawarkan kepada mahasiswa dan publik luas,”ujar Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ilmu Komunikasi yang juga menjadi pemateri di kelas digital journalism. Sedangkan pada 28 Mei 2022, Prodi Kesos juga mengadakan pelatihan karir mahasiswa untuk para mahasiswa Kesos. Makin kompleksnya permasalahan sosial di masyarakat menyebabkan kehadiran para social worker atau pekerja sosial menjadi kebutuhan mutlak. Oleh karena itu lah bertempat di Aula FISIP GKB 1 lantai 6, Kesos juga mengadakan pelatihan penguatan dan pengembangan karir sebagai pekerja social pendamping anak dan keluarga. Berfoto bersama usai pelatihan karir mahasiswa yang diadakan oleh Prodi Kesos (foto: ist) Menurut Kaprodi Kesos, Dr. Oman Sukmana, M.Si pelatihan ini penting karena dalam dunia kesejahteraan sosial terdapat tiga setting praktik pekerjaan social, yakni seting praktik mikro, meso, dan makro. Target dari intervensi mikro pekerjaan social adalah upaya mengatasi problem social pada level individu dan keluarga. Problem social pada level mikro (individu dan keluarga) cukup kompleks, antara lain seperti anak dan perempuan korban kekerasan, stunting, anak berhadapan dengan hukum, disharmoni keluarga, perceraian, dan sebagainya. “Seiring dengan dinamika peningkatan kualitas dan kuantitas problem social pada level indvidu dan keluarga, maka kebutuhan akan sumberdaya professional sangat urgent. Salah satu bidang keahlian (karir) profesi pekerja social adalah pekerja sosial pendamping anak dan keluarga,”tutur Oman. Untuk itulah Kesos kemudian dalam pelatihan tersebut Prodi Kesos mengusung tema Pekerja Sosial Pendamping Anak dan Keluarga. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri dari Save The Children Indonesia, sebuah organisasi non pemerintah yang fokus melayani dan mempromosikan hak-hak anak, menyediakan bantuan dan membantu mendukung anak-anak di negara-negara berkembang. Hadir dalam pelatihan tersebut Tata Sudrajat, Andri Yoga Utami, Yanti Kusumawardhani dan Rendiansyah Putra Dinata. Ada tiga materi penting yang diberikan untuk membekali para calon pekerja sosial ini. Tata Sudrajat, Deputy Chief of Program Impact and Creation at Save the Children Indonesia, menyampaikan materi tentang Dunia Kerja Human Service Organization (HSO) bidang kesejahteraan dan perlindungan Anak: Peluang dan Tantangan. “Profesi pekerja sosial adalah profesi universal, ada di di hampir semua setting HSO. Peksos juga ada di semua posisi, bisa sebagai social workers, supervisor, managerial, technical adviser, specialist. Untuk itu alumni Kesos harus menguatkan conceptual framework yakni berpikir makro dan jangka panjang serta menempatkan project-project di dalamnya. Dan harus mampu bertindak sebagai subjek atas projek/program, yang dijalankan. Bukan berada di bawah tempurung project. Lalu juga harus professional, dan focus pada setting atau keahlian. Dengan demikian karir dan reputasi akan mudah diperoleh,”papar Tata Sudrajat. (wnd)
Guru Besar FISIP UMM Optimis Bahasa Melayu Indonesia bisa Menjadi Bahasa Internasional

Minggu, 22 Mei 2022 22:55 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bahasa adalah identitas suatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan bangsa lain. Setiap bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda dengan ciri khas dan asal-usul masing-masing. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Sejarah Bahasa Indonesia sangat erat kaitannya dengan Bahasa Melayu. Dari dulu bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di Indonesia. Bahasa Melayu memiliki sistem yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dipelajari. Suku-suku di Indonesia pun mengakui dan menerima Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia. Oleh karena itu Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, optimis bahasa Melayu yang merupakan akar dari bahasa nasional Indonesia mampu menjadi bahasa resmi ASEAN sekaligus bahasa internasional. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (tiga dari kiri) sedang menyampaikan gagasannya pada Forum Dunia Melayu Dunia Islam (foto: ist) Gagasan tersebut ia sampaikan saat hadir sebagai salah satu panelis dalam Forum Dunia Melayu Dunia Islam yang diadakan di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Mei 2022 kemarin. Forum ini merupakan bagian dari Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu yang diinisiasi oleh Perdana Menteri Malaysia dan menghadirkan lebih dari 70 tokoh intelektual dari berbagai negara yang terbagi dalam 15 sesi. Prof. Muslimin Machmud, M.Si menjadi salah satu pembicara yang menyampaikan ide dan gagasan pada topik Memuliakan Bahasa Melayu di Kawasan ASEAN. Duduk bersama dalam forum tersebut, sejumlah tokoh intelektual dari berbagai negara yakni dari Singapura, Thailand, dan Kamboja dan Malaysia. Menurut Muslimin, sejarah bahasa Indonesia sendiri tidak lepas dari bahasa Melayu. Sebab sejak dulu, bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa perantara atau pergaulan. Sehingga dasar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dalam berkomunikasi, bahasa Melayu digunakan dimana-mana dan semakin berkembang di Nusantara. Bahasa Melayu Indonesia ini kemudian dipengaruhi oleh corak budaya setiap daerah. Sehingga bahasa ini tumbuh dengan pengaruh bahasa lain seperti bahasa Sansekerta, Persia, Arab dan bahasa Eropa. Dengan demikian, dalam perkembangannya, bahasa ini memiliki dialek yang berbeda-beda antar daerah. Ia menilai penggunaan bahasa Melayu yang kian mengglobal, tak terkecuali bahasa Melayu versi Indonesia yang menjadi bahasa nasional, adalah peluang bagi bahasa Melayu untuk menjadi bahasa internasional. Ada syarat yang sudah terpenuhi untuk menjadi bahasa antar bangsa. “Ketika bahasa itu digunakan oleh banyak orang, maka jika kita menggunakan terminologi umum maka syarat ini sudah terpenuhi. Jadi ini peluang sekaligus landasan kuat mengapa seharusnya Bahasa Melayu ini bisa digunakan sebagai bahasa internasional, setidaknya di level Asia Tenggara. Bahkan jika ini digunakan sebagai bahasa resmi internasional juga sangat mungkin. Ada 50 negara di dunia yang secara spesifik sudah mempelajari Bahasa Melayu,”tutur guru besar yang juga Dekan FISIP UMM ini. Bahkan untuk mendukung internasionalisasi Bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu, Indonesia sudah melakukan berbagai strategi untuk memasyarakatkan bahasa melayu atau Bahasa Indonesia. Salah satunya dengan mengirim guru-guru untuk mengajar Bahasa di sejumlah negara. “Kampus kami, UMM, bahkan menyediakan 200 beasiswa untuk mahasiswa Thailand, Filipina Selatan dan negara-negata untuk datang ke UMM belajar Bahasa Indonesia, dengan syarat mahasiswa asing tersebut harus menulis dan mengikuti perkuliahan dengan menggunakan Bahasa Indonesia,”imbuhnya. Sebagai sebuah suku, Melayu di Indonesia jumlahnya memang tidak banyak. Pengguna bahasa Melayu murni jika dilihat berdasar suku hanya sebanyak 17 juta orang namun ini bukan menjadi halangan. Sebab dalam banyak terminologi umum, bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia memiliki kesamaan karena memiliki akar yang sama. Hanya dalam beberapa terminologi khusus saja yang sedikit berbeda. Tak hanya pada penggunaan bahasa Melayu di Indonesia, masing-masing negara di Asia Tenggara juga memiliki perbedaan dalam pemahaman istilah dalam rumpun bahasa Melayu yang digunakan. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (berbatik merah) saat menghadiri pembukaan simposium bersama Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob, LL.B (foto: ist) Oleh karena itu, dalam forum tersebut, Muslimin menyajikan sejumlah solusi kepada semua pihak jika berkeinginan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional. Ia menyebutkan harus ada tim taskforce perwakilan masing-masing negara untuk menyamakan persepsi bahwa perbedaan istilah atau terminologi dalam bahasa Melayu masing-masing negara bukanlah sebuah permasalahan. “Sehingga jika ada forum antarbangsa, biarkan saja masing-masing kepala negara menggunakan bahasa Melayu sesuai dengan dialek, intonasi atau kebiasaan yang dilakukan. Ini akan memudahkan penyamaan persepsi. Selain itu generasi muda dianjurkan untuk tidak membuat polemik di sosmed terkait perbedaan terminologi dalam bahasa Melayu, apalagi memasukkan ego politik dalam polemik tersebut. Bahasa Melayu bisa menjadi bahasa antarbangsa jika kita semua bisa menerima dan memaklumi perbedaan yang ada,”ungkapnya. (wnd)