Tiga Kali Wakili Kampus, Jeje Sukses Rebut Medali di 1st Muhammadiyah Games

Kembali harumkan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UMM, Jeryfer Rinda Salshabilla biasa di sebut Jeje mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 25 berhasil sabet juara 3 kategori Fight Dewasa kelas D dalam ajang 1st Muhammadiyah Games yang diselenggarakan di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Surakarta pada tanggal 14-19 Mei 2026. Raihan ini menjadi yang ketiga kalinya Jeje membawa nama UKM Tapak Suci dan Universitas Muhammadiyah Malang ke dalam perlombaan. Perolehan prestasi ini tentu saja ada di latar belakangi oleh ketekunan tanpa lelah, dengan latihan yang terus berlanjut sejak awal karir nya dalam dunia atlet. Mahasiswi tahun pertama ini mengaku telah berlatih secara intensif sejak awal perkuliahan. Dengan dedikasi yang tinggi, Jeje memiliki rasa optimis yang tinggi untuk bisa sukses dalam bidang pencak silat. Meski hanya mendapatkan kilau perunggu dalam ajang ini, semangat juang nya tak pernah pudar. Jeje saat ini sedang mempersiapkan fisik, teknik, hingga mentalnya untuk mengikuti seleksi kota untuk PORPROV tahun 2027. “Target yang sekarang ada di depan mata ku adalah seleksi kota untuk PORPROV tahun depan, aku yakin bakal bisa lolos kalau aku terus rajin buat latihan dan menambah skill dalam pertandingan,” jelas jeje. Di balik kerja keras Jeje selama membangun karirnya tentu saja ada sosok sosok yang terus mendukung Jeje dari belakang tanpa adanya support tulus dari keluarga serta para pelatih yang terus membimbing dengan sabar. Jeje belum tentu bisa berdiri di titik ini, selain itu dia juga menjelaskan bahwa percaya diri akan kemampuannya sendiri juga penting untuk membawa dia menuju target yang dia inginkan. “sosok yang mendukung pastinya yang pertama yaitu keyakinan dari keluarga dan pelatih yang udah sabar nungguin prosesku, dan juga yang buat aku terus maju yang terpenting itu percaya diri, yakin sama kemampuan ku sendiri. Kemudian juga ada support dari orang-orang terdekat, seperti temen-temen gitu,” jelas Jeje. Mahasiswi angkatan 25 ini juga berpesan pada teman teman mahasiswa untuk tidak melupakan kewajiban kuliah, meski berada di tengah kesibukan yang lain. Karena niat kita berada di perkuliahan adalah untuk belajar serta menambah ilmu. (Raz)
HIMAKS Gelar Diskusi “SocioTalk” Angkat Isu Sosial di Lingkungan Masyarakat

Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (HIMAKS UMM) menyelenggarakan diskusi “SocioTalk” yang bertemakan “Understanding Social Issues, Creating Better Solutions” pada jumat (22/5) di Gio Cafe yang diikuti seluruh mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 24 & 25. Kegiatan ini resmi dibuka oleh Sekretaris Prodi Kesejahteraan Sosial Bapak Eko Rizqi Purno Widodo, MSW dan sekaligus menjadi narasumber. Dalam sambutanya beliau mengapresiasi kegiatan SocioTalk yang memiliki impact besar dalam perkembangan intelektual mahasiswa untuk melihat realitas sosial yang sedang ramai di lingkungan sekitar, “Mewakili Kepala Prodi Kesejahteraan Sosial saya menyampaikan apresiasi penuh kepada HIMAKS yang telah membuat kegiatan ini dengan proper sekali dan juga kegiatan ini membuka pandangan mahasiswa terhadap realitas sosial di lingkungan sekitar.” Diskusi ini dimulai dari pemaparan materi oleh Eko Rizqi Purno Widodo, MSW tentang “Human Right, Social Problem, And Solution” beliau membahas permasalah sosial yang terjadi akibat paradigma digital, sehingga generasi sekarang mengalami paradox digital yang berdampak pada kemampuan sosial generasi sekarang. Dalam hal ini beliau turut memperlihatkan banyaknya dampak buruk dari perkembangan digital pada generasi muda, dari banyaknya kasus bunuh diri, kemampuan sosial, serta menurunya kemampuan kognitif generasi sekarang. Tidak hanya diskusi namun kegiatan Socio Talk juga memiliki sesi Focus Group Discussion (FGD), dalam sesi FGD ini peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan studi kasus tentang permasalahan sosial yang sedang ramai di lingkungan masyarakat, dan para peserta diharapkan mampu menganalisa serta memecahkan masalah dari studi kasus yang diberikan. Sesi berlangsung sangat menarik karena selama kegiatan muncul banyak perspektif menarik dan cara memecahkan masalah yang inovatif dari para peserta. Dari kegiatan diskusi ini diharapkan para peserta mampu memperkuat kepekaan sosialnya yang mendorong lahirnya pekerja sosial yang kompeten, serta mampu menjadi solutor dari lingkungan masyarakat khususnya dalam masalah masalah sosial.
Dilema Two-Level Games Indonesia di Board of Peace 2026: Pakar HI UMM Perkenalkan “Diplomasi Kapiler” sebagai Solusi

Masuknya Indonesia ke dalam Board of Peace 2026 menorehkan prestasi sekaligus melahirkan ujian berat bagi diplomasi domestik. Langkah strategis di panggung dunia tersebut memicu gelombang pro-kontra yang masif di ruang publik digital. Fenomena ini dibedah secara tuntas dalam International Conference on Collaboration and Development (IUCCD) 2026 yang digelar oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) bersama Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA) Malaysia, di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (22/5). Hadir sebagai Keynote Speaker, pakar HI UMM, Dyah Estu Kurniawati, memaparkan materi bertajuk “Rethinking Foreign Policy in the Digital Era: From Two-Level Games to Capillary Diplomacy.” Ia menyoroti bahwa Indonesia saat ini sedang terjebak dalam dilema nyata yang sangat presisi jika dibedah menggunakan teori Two-Level Games (Permainan Dua Tingkat). Anatomi Dilema Two-Level Games Indonesia Dalam penjelasannya, Dyah Estu memaparkan bahwa kompleksitas dunia siber membuat pemerintah tidak bisa lagi merumuskan kebijakan luar negeri secara sepihak di balik meja birokrasi. Bergabungnya Indonesia di Board of Peace 2026 menuntut keahlian pemerintah dalam bermain di dua level sekaligus. “Pemerintah telah menjalankan diplomasi dua tingkat, yaitu public and states actor diplomacy. Karena itu, dalam mengatur kebijakannya, pemerintah perlu menjangkau dan meyakinkan negara lain sekaligus meninjau penerimaan publik di internal negaranya sendiri,” jelas Dyah. Di satu sisi (Level Internasional), Indonesia harus menunjukkan kemampuan dan komitmen politiknya di hadapan negara-negara dunia. Namun di sisi lain (Level Domestik), pemerintah dihadapkan pada derasnya arus kritik dan tuntutan transparansi dari masyarakat yang mengalir deras di ruang publik digital. Ketika kesepakatan di ranah domestik gagal diraih, legitimasi Indonesia di tingkat global dipertaruhkan. Sebagai jalan keluar dari kebuntuan state-centered (berpusat pada negara) tersebut, Dyah Estu memperkenalkan konsep baru yang disebut Diplomasi Kapiler. Di era digital, diplomasi harus bergeser paradigma: tidak lagi kaku dan eksklusif milik negara saja, melainkan harus mengalir secara organik hingga ke level akar rumput (public level). Diplomasi Kapiler menuntut keterlibatan publik secara masif melalui digital diplomacy untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi global pemerintah dan pemahaman masyarakat di dalam negeri. Urgensi Akademis: Mengapa Konsep Ini Wajib Dikaji? Bagi kalangan akademisi dan mahasiswa Hubungan Internasional, pergeseran dari Two-Level Games konvensional menuju Diplomasi Kapiler ini bukan sekadar tambahan literatur, melainkan instrumen wajib untuk memahami realitas politik hari ini. Jika studi HI klasik terlalu berdasar pada diplomasi formal antar-negara, era digital mengharuskan akademisi untuk memperluas pisau analisisnya ke arah sosiologi digital dan gerakan publik digital. Dengan mengabaikan aspek kapiler dari diplomasi modern ditakutkan akan membuat analisis akademis menjadi tidak relevan dengan realitas kebijakan luar negeri yang kini kerap dipengaruhi oleh opini publik digital. Hal ini diamini oleh para peserta IUCCD 2026 yang hadir dari berbagai universitas, seperti UNISZA, UNAIR, dan UII. Konsep yang ditawarkan Dyah Estu dinilai membuka cakrawala baru yang sangat mendesak untuk diteliti lebih lanjut. Teori yang disampaikan dalam seminar ilmiah ini langsung memantik diskusi hangat dan respon kritis dari para peserta IUCCD. Salah satu perwakilan mahasiswa menyatakan bahwa konsep Diplomasi Kapiler ini adalah jawaban atas kegelisahan akademis mahasiswa HI selama ini. “Pernyataan Ibu Dyah mengenai Two-Level Games Indonesia di Board of Peace 2026 ini membuktikan bahwa domestik dan internasional sudah tidak ada sekatnya lagi karena internet. Konsep Diplomasi Kapiler yang beliau perkenalkan menurut kami sangat penting dan krusial untuk dikaji lebih dalam oleh mahasiswa,” ungkap salah seorang peserta konferensi. Ia menambahkan bahwa konsep ini memberikan sudut pandang baru yang sangat kaya untuk dijadikan bahan riset, skripsi, maupun jurnal ilmiah ke depan. “Kami melihat konsep ini sebagai ruang riset yang sangat luas. Mahasiswa HI tidak boleh lagi gagap melihat bagaimana netizen atau gerakan akar rumput bisa mempengaruhi kepatuhan Indonesia di lembaga internasional. Apa yang disampaikan Ibu Dyah adalah framework baru yang wajib kami bedah lebih dalam di ruang-ruang diskusi kampus,” tambahnya. Melalui momentum IUCCD 2026, FISIP UMM kembali membuktikan perannya sebagai pelopor pemikiran HI yang progresif, membekali mahasiswa dengan sosial kapital berupa daya nalar kritis untuk merespons dinamika isu global terkini.
HI UMM dan UNISZA Malaysia Gelar IUCCD 2026, Dorong Mahasiswa Kuasai Sosial Kapital di Level Global

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) berkolaborasi dengan Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia (UNISZA) menggelar International Conference on Collaboration and Development (IUCCD) pada hari Kamis, 22 Mei 2026 di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang. Forum akademik internasional ini diikuti oleh Mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional lintas universitas: Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia (UNISZA), serta Universitas Muhammadiyah Malang sebagai tuan rumah. Kegiatan ini diproyeksikan sebagai wadah implementasi studi diplomasi sekaligus ruang kritis bagi generasi muda dan akademisi dalam merespons dinamika isu sosial global terkini. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Fauzik Lendriono, menegaskan bahwa lanskap kompetisi yang dihadapi mahasiswa saat ini telah melekat pada level global tanpa batasan geografis maupun lokal-nasional. Oleh karena itu, ia berharap IUCCD dapat dioptimalkan dengan baik sebagai ajang bertukar pikiran serta memperkuat jejaring akademik (academic networking). “Mengacu pada konsep social capital dari Francis Fukuyama, mahasiswa Hubungan Internasional wajib memiliki tiga instrumen utama, yaitu kecakapan (skill) diplomasi, perluasan jejaring internasional melalui kemampuan komunikasi yang kuat, serta internalisasi norma atau attitude yang baik,” ujar Fauzik saat membuka forum tersebut. Senada dengan hal itu, Kepala Prodi HI UMM, Hafid Adim Pradana, menambahkan bahwa IUCCD hadir sebagai momen strategis bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi diplomatis, meningkatkan daya nalar kritis, sekaligus melahirkan gagasan-gagasan konstruktif demi perkembangan ilmu Hubungan Internasional ke depan. Pergeseran Paradigma dalam memahami Diplomasi: Menuju Diplomasi Kapiler Dalam sesi seminar ilmiah, hadir sebagai Keynote Speaker, Dyah Estu Kurniawati, yang memaparkan materi bertajuk “Rethinking Foreign Policy in the Digital Era: From Two-Level Games to Capillary Diplomacy.” Ia menyoroti bahwa aktivitas diplomasi kontemporer tidak lagi kaku dan terbatas pada aksi aktor negara (state actors) semata. Kompleksitas permasalahan dunia menuntut adanya pelibatan publik secara masif melalui digital diplomacy. Sebagai pisau analisis, ia menyajikan studi kritis terhadap bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace 2026 melalui kacamata paradigma two-level games. Langkah Indonesia di lembaga tersebut memicu banyak pro dan kontra di ruang publik, yang menunjukkan bahwa pemerintah perlu lebih cermat dalam merumuskan kebijakan luar negeri. “Pemerintah telah menjalankan diplomasi dua tingkat, yaitu public and states actor diplomacy. Karena itu, dalam mengatur kebijakannya, pemerintah perlu menjangkau dan meyakinkan negara lain sekaligus publiknya sendiri,” jelas Dyah. Di era digital, ia memperkenalkan konsep Diplomasi Kapiler sebuah bentuk diplomasi yang menyebar secara organik hingga ke level akar rumput (public level) dan tidak lagi berpusat pada negara (state-centered). Tantangan Literasi Digital dan Komparasi Influencer Global Perspektif kritis mengenai dinamika era digital ini diperdalam oleh Keynote Speaker kedua, Suyatno Ladiqi, dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA). Ia menyoroti bagaimana disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), telah mengubah total cara manusia memproses informasi dan membangun pengaruh di ruang digital. Suyatno memberikan otokritik tajam mengenai fenomena pembuat konten (content creator) atau influencer di Indonesia jika dibandingkan dengan luar negeri. Menurutnya, terdapat kesenjangan substansi yang cukup kentara dalam pemanfaatan ruang digital tersebut. “Ada perbedaan kultural yang kontras. Influencer di luar negeri cenderung memiliki basis pengetahuan yang lebih dalam dan berbasis data, mereka tidak hanya mengandalkan paras yang menawan. Sebaliknya, di Indonesia, tren digital masih cenderung didominasi oleh konten yang hanya mengandalkan aspek fisik atau paras semata,” ungkap Suyatno. Suyatno juga menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat merespons kemudahan teknologi seperti AI. “Dulu, kita harus melakukan usaha yang lebih keras, riset yang mendalam, untuk mendapatkan sebuah informasi berkualitas. Sekarang, dengan adanya AI, semua informasi bisa didapatkan secara instan dalam hitungan detik. Tantangannya adalah bagaimana kemudahan ini tidak membuat kita malas berpikir kritis, melainkan seharusnya memotivasi kita untuk menghasilkan gagasan yang lebih berbobot,” tambahnya. Melalui kehadiran para pakar dari kedua negara, forum IUCCD ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai ruang diskusi teoretis, melainkan menjadi inkubator bagi lahirnya para diplomat muda yang peka, kaya akan literasi, dan responsif terhadap pergeseran arah politik serta teknologi global.
Kenal Alumni : Henry Hilmawan Wibowo Alumni Program Studi Ilmu Pemerintaha Sekarang Menjadi Supervisor PT. Batara Dharma Persada

Kabar gembira datang dari alumni Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM angkatan 2020, Henry Hilmawan Wibowo., Yang kini sedang berkarir sebagai Supervisor Operasional Hauling di PT. Batara Dharma Persada Site Bayan. Henry memiliki tanggung jawab menjadi pengawas, mengatur, dan memastikan seluruh aktivitas pengangkutan material tambang berjalan dengan aman, efektif serta sesuai dengan target produksi perusahaan. Posisi yang dimiliki Henry bukan hanya posisi yang gampang namun memiliki peran krusial dalam mengkoordinasikan armada, mengontrol produktivitas unit, memantau dan menganalisis kondisi jalan hauling, dan juga memastikan kedisiplinan dan kesiapan kerja seluruh operator di lapangan. Selain daripada itu, Henry juga fokus pada capaian tonase, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan serta evaluasi kinerja harian pekerja, menjaga penetapan standar K3 dan SOP perusahaan secara konsisten. Dan sehingga posisi ini sangat krusial dalam penghubungan antara tim lapangan, tim CPR, maintenance, dan pihak manajemen perusahaan untuk menciptakan operasional pertambangan yang aman & produktif. Henry menceritakan pengalaman selama berkuliah di Ilmu Pemerintahan UMM yang membantu dia dalam membentuk karakter kepemimpinan dan komunikasi yang sangat berguna di dunia pekerjaan. Dan Henry merasakan banyak impact yang diterima dari berbagai program yang sudah dibuat oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM, “Kuliah di Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana bekerja sama, berkomunikasi, serta problem solving dalam situasi yang dinamis. Bekal ini sangat membantu saya dalam menjalankan tanggung jawab di dunia kerja”.
Tekuk Saintek UIN di GOR Ken Arok, FISIP UMM Amankan Tiket Perempat Final NCFS

Tim futsal FISIP UMM sukses mengunci tiket ke babak 8 besar turnamen nasional National Champion Futsal Series (NCFS) setelah menumbangkan Fakultas Saintek UIN di GOR Ken Arok, Malang, sore tadi. Kemenangan krusial dalam laga bertensi tinggi ini tidak hanya memperpanjang nafas mereka di kompetisi, tetapi juga memastikan langkah FISIP UMM untuk menantang tim tangguh sesama almamater, Fakultas Teknik UMM, di babak perempat final. Jalannya pertandingan sore tadi berlangsung sengit sejak menit awal, di mana kedua tim saling bergantian melancarkan serangan demi mengamankan posisi di fase gugur. Namun, kedisiplinan taktik dan efektivitas penyelesaian akhir anak-anak FISIP UMM berhasil meredam perlawanan ketat dari Fakultas Saintek UIN hingga peluit panjang dibunyikan. Hasil positif ini langsung mengalihkan fokus tim ke laga berikutnya yang diprediksi akan berjalan lebih emosional dalam tajuk derby internal kampus Putih. Turnamen NCFS sendiri merupakan salah satu ajang futsal antar-mahasiswa tingkat nasional paling bergengsi yang tahun ini berpusat di Kota Malang. Kompetisi ini mempertemukan tim-tim universitas terbaik dari berbagai daerah untuk memperebutkan gelar juara nasional, menjadikannya panggung pembuktian bakat dan mentalitas bertanding bagi para pesepakbola ruang di level akademik.
Mahasiswi HI, Berhasil Raih Prestasi Tingkat Nasional Di akhir Perkuliahan

Prestasi gemilang kembali diraih oleh Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Nina Midiyani yang kerap disapa Nina Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional angkatan 2022 berhasil membawa pulang medali silver tingkat nasional dalam ajang 1st Muhammadiyah Games yang diadakan di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Surakarta pada tanggal 14 hingga 19 Mei 2026. Turun pada kelas C Fight Dewasa, Nina berhasil harumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan hanya satu bulan persiapan, tiga bagan pertandingan berhasil dijatuhkan dengan sempurna. Mulai dari babak penyisihan awal hingga akhirnya gugur di babak final, mahasiswi tingkat akhir ini mengaku bahwa musuh terbesarnya bukanlah lawan yang akan dihadapi. Melainkan musuh terbesarnya adalah melawan rasa takut dalam dirinya sendiri. Di balik kilau medali yang berhasil dibawa pulang, terdapat perjuangan untuk meraih kemenangan ini. Dalam 1 bulan bukan hanya tanggungan latihan saja yang dihadapi, Nina berhasil menurunkan berat badan sebanyak 3 kilogram semasa satu bulan latihan untuk memenuhi kelas tanding yang dia ikuti yaitu kelas C Putri. Dalam kelas ini berat badan yang harus dipenuhi antara 55 hingga 60 kilogram. “Dalam sebulan, dan aku berusaha untuk nurunin berat badan sampai H- beberapa hari berangkat, aku berusaha kejar target berat badan ku turun 3 kilo. Cara ku turuninnya dengan jalan di lapangan jam 12 sampai jam 1 gitu, kayak sekitar satu jam jalan dengan posisi pakai sauna,” ungkapnya. Nina berencana menjadikan prestasi ini sebagai prestasi terakhir sebelum melaksanakan sidang skripsi. Dengan perjuangan membagi waktu antara latihan dan mempersiapkan skripsi. Nina merasa bangga dapat memberikan yang terbaik untuk UKM Tapak Suci serta Kampus putih yang telah membimbingnya selama perkuliahan. Raihan ini juga berkat dukungan para pelatih, teman- teman, serta orangtua yang telah membersamai Nina selama proses latihan hingga ujung perlombaan. Nina berpesan pada mahasiswa lainnya yang ingin mencetak prestasi agar tetap percaya yang diri sendiri serta harus berani mencoba, karena jika kita takut untuk mencoba maka keberhasilan tidak akan pernah datang dengan sendirinya. “Jangan pernah takut untuk mencoba gitu. Terus jangan mudah menyerah, dan ingat ketika kamu berhasil itu, akan jadi sebuah cerita yang bener-bener nggak kamu lupakan gitu. Jadi selain kamu memang dapat benefit dari kampus, tapi sebenernya yang paling dikenang tuh bukan benefit-nya, tapi cerita di balik itu. Intinya yang paling penting menurut aku, jangan pernah takut untuk mencoba,” tambahnya. (raz)
Naufal Dzaky Sukses Sabet Medali Emas Tapak Suci di Ajang 1st Muhammadiyah Games

Naufal Dzaky, kembali harumkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci serta “Kampus Putih” dalam ajang 1st Muhammadiyah Games yang diselenggarakan di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Surakarta pada tanggal 14-19 Mei 2026. Pria yang kerap disapa Naufal mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2024 berhasil membawa pulang medali emas kategori kelas bebas beregu tingkat dewasa. Prestasi yang membanggakan oleh Naufal tentu saja tidak lepas dari kerja keras serta dedikasi tingginya. Dengan latihan intensif dua kali dalam sehari, Naufal mengungkapkan bahwa latihan dilaksanakan pagi serta malam hari setiap harinya. Program latihan tersebut berfokus pada peningkatan skill, performa, dan juga yang paling penting penguatan fisik dan power demi menaklukan lawan dari berbagai daerah. Berbekalkan pengalaman yang sudah ia lewati sebelumnya, Naufal berhasil menuntaskan 2 babak pertandingan yang berhadapan dengan lawan kelas berat. Naufal mengaku kunci utamanya untuk mencapai kemenangan pada ajang ini adalah percaya diri pada kemampuannya serta rasa optimis untuk menang. “Saya sudah mengikuti empat pertandingan Nasional, jadi untuk event kemarin strategi yang saya pakai hanya percaya diri aja sama kemampuan saya,” ungkapnya. Capaian medali emas ini juga mendorong semangat membara Naufal untuk melanjutkan karir nya dalam bidang pencak silat. Naufal akan terus mengasah kemampuan bertandingnya hingga mencapai target yang diharapkan. Dalam waktu dekat ini, Mahasiswa Semester 4 ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang Rektor Cup yang akan diselenggarakan di bulan Juni mendatang. Dengan berbekal evaluasi serta latihan yang lebih, Naufal berharap dapat memberikan performa yang lebih baik untuk membanggakan nama UKM Tapak Suci. “Mungkin kita kemarin kurang maksimal di bagian ini yaudah kita maksimalin pas buat kedepannya lagi. Evaluasi tentang tanding yang kemarin, walaupun ada beberapa yang salah, yang kurang maksimal,” jelasnya. Sebagai penutup, Naufal berpesan pada atlet lain yang ingin mencetak prestasi nya untuk tidak melupakan kewajibannya dalam belajar di perkuliahan. Karena niat awal masuk universitas adalah untuk menimba ilmu. “Tetap semangat jalanin atletnya, tapi jangan sampai lupa kalau kamu tuh tujuannya pertama masuk unif ini buat kuliah. Boleh fokus sama atlet tapi kuliah kamu jangan sampai dilupakan,” jelas Naufal. (raz)
Ilmu Komunikasi UMM Gelar Kuliah Tamu yang Membahas Tentang Budaya Digital dan Krisis Identitas Pada Gen-Z

Prodi Ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang( Ikom UMM ), menyelenggarakan kuliah tamu bertemakan “Budaya Digital dan Krisis Identitas Gen-Z di Era Media Sosial” pada Rabu (20/5) di Lab Mini Teater UMM. Kegiatan ini mulai pada jam 13.00 WIB dengan diikuti oleh mahasiswa Program Studi ilmu komunikasi UMM dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UNAS sebagai bentuk sinergi antar universitas serta membuka sense tentang isu sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Nurudin, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai narasumber I. Serta Dr. Dwi Kartikawati, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nasional Jakarta dan sekaligus Narasumber II, Kegiatan kuliah tamu ini membahas tentang standarisasi kehidupan anak zaman sekarang yang selalu berketergantungan dengan media sosial sehingga dalam kehidupan sosial mereka cenderung individual serta efek samping seperti susah fokus dalam pembelajaran, mudah terdistraksi dengan gadget, serta otak yang terbiasa dengan konten konten pendek. Dalam fakta realitasnya Gen-Z rata rata menggunakan media sosial mencapai 4-7 jam perhari, hal ini juga ditegaskan oleh Dr. Nurudin, M.Si sebagai narasumber I “Penggunaan media sosial pada Gen-Z mencapai 4-7 jam perhari yang membentuk hustle culture pada anak muda, dan konsumsi konten yang cepat menjadi salah satu penyebab dari dampak buruk penggunaan media sosial. Dalam hal ini juga terbentuknya standarisasi baru pada Gen-Z, yang dimana konten kreator memperlihatkan konten yang 70% sudah di framing dan di edit dengan baik dan ketika dilihat oleh Gen-Z hal itu dijadikan standarisasi baru” Pola konsumsi media sosial yang berlebihan ini menyebabkan generasi sekarang lebih memilih jalur instan untuk mencapai kesuksesan dibanding harus memulai dari kerja keras, sehingga dari seluruh itu terciptanya krisis identitas pada generasi sekarang,yang menggeser komunikasi interpersonal menjadi komunikasi digital. Dalam hal ini orang lebih mementingkan kesan baik di media sosial untuk mencari kepuasan sementara sehingga menciptakan hyper mobile yang efeknya membentuk krisis identitas pada Gen-Z. Hal ini diperkuat oleh penyampaian narasumber II Dr. Dwi Kartikawati, M.Si. yang menyorot tentang aktivitas Gen-Z di media sosial “Generasi Sekarang sangat bergantung pada media sosial hal ini dapat dilihat dari perubahan pola komunikasi dan juga pola pikir Gen-Z yang lebih mudah percaya apa yang mereka lihat di media sosial dibanding mereka harus mencari fakta realitasnya. Gen-Z itu sebenarnya ramai namun ‘Alone together’ mereka bersama secara digital namun tersendiri secara emosional, sehingga sering ditemukan kasus gangguan mental pada generasi sekarang” Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana isu sosial terlebih pada ketergantungan media sosial yang memberikan banyak dampak buruk dalam kehidupan sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan Ilmu komunikasi UNAS terhadap isu-isu sosial.
Kolaborasi Internasional: Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dan Universitas Kebangsaan Malaysia Bedah Dampak “Paradox Digital” terhadap Kesehatan Mental.

Prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah internasional bersama Universitas Kebangsaan Malaysia dengan tema “Paradox Digital causes of Mental illness” Prodi kesejahteraan sosial menyelenggarakan kuliah internasional yang bekerja sama dengan universitas kebangsaan malaysia yang di wakilkan Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi bin Mohamad. pada perkuliahan ini beliau menegaskan kepada mahasiswa kesejahteraan sosial untuk pentingnya memahami tupoksi dari pekerja sosial yang peka terhadap isu sosial. Salah satu pemicu utama gangguan mental dalam paradoks digital adalah budaya perbandingan sosial (social comparison) yang toxic. Media sosial tidak lagi menjadi tempat berbagi momen, melainkan galeri kurasi hidup yang sempurna. menurut beliau “Krisis kesehatan mental pada generasi Z merupakan konsekuensi langsung dari paradigma digital yang menggeser esensi interaksi sosial. Hilangnya kedalaman dalam hubungan interpersonal yang digantikan oleh validasi semu di dunia maya menciptakan beban kognitif yang konstan. Akibatnya, terjadilah kelelahan mental kronis yang menjadi pintu gerbang bagi berbagai bentuk mental illness di era modern.” Melalui perkuliahan internasional ini, para mahasiswa memperoleh wawasan baru dan perspektif yang lebih luas mengenai peran krusial pekerja sosial serta berbagai isu kesehatan mental yang berkembang di tengah masyarakat. Adapun Kesan dari diwa selaku perwakilan mahasiswa kesejahteraan sosial Angkatan 25 “melalui perkuliahan ini saya dan teman teman saya mendapat banyak wawasan baru dan diskusi diskusi yang asik dan menarik selama perkuliahan walaupun banyak Bahasa dari beliau masih harus kami terjemahkan dahulu ” Program studi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar perkuliahan internasional sebagai inisiatif strategis untuk memperluas cakrawala mahasiswa terhadap isu-isu pekerjaan sosial kontemporer. Selain pengayaan akademik, program ini dirancang untuk membuka pintu bagi mahasiswa dalam merambah jejaring serta peluang karier di kancah global.