Sukses Manajemen Waktu, Mahasiswi UMM Raih Prestasi di GOR Lembah UGM

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Jesica Indra Fauzi, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2025, sukses menyabet medali perunggu pada ajang Paku Bumi Open Championship 2026 yang digelar di GOR Lembah UGM, Yogyakarta. Turun di kategori Fight Dewasa Putri Kelas A, keberhasilan mahasiswi yang akrab disapa Jesica ini turut mengharumkan nama UKM Tapak Suci UMM. Di balik pencapaian membanggakan tersebut, terdapat dedikasi dan kerja keras yang luar biasa. Jesica mengungkapkan bahwa ia menjalani porsi latihan intensif sebanyak dua kali sehari sebagai persiapan kompetisi. Latihan ini ditujukan untuk mematangkan kesiapan fisik, menjaga stamina, mengasah teknik, serta memperkuat mental agar siap menghadapi deretan lawan dari berbagai daerah. Tantangan terbesar yang dirasakan oleh perempuan yang juga dipanggil Jeje ini adalah manajemen waktu. Ia dituntut untuk menyeimbangkan jadwal latihan yang padat dengan kewajiban akademiknya. Ia harus pintar-pintar memanfaatkan waktu luang di sela-sela jadwal kuliah untuk menyelesaikan tugas agar keduanya tetap berjalan beriringan tanpa hambatan. Ia mengaku mengorbankan waktu bermainnya demi mencapai target yang dia inginkan. Raihan medali perunggu pada kompetisi ini tidak membuat semangatnya semakin surut, justru meningkatkan motivasi serta menjadikan kompetisi ini sebagai batu loncatan untuk karirnya kedepan. Bermodalkan pengalaman bertarung melawan musuh dari berbagai daerah, Jesica kini mempersiapkan dengan matang untuk pertandingan yang akan datang. Dengan meningkatkan teknik bermain hingga kekuatan fisik, dia berharap dapat meraih posisi yang diharapkan. Sebagai penutup, Jesica memberikan pesan inspiratif kepada rekan-rekan mahasiswa yang ingin meraih prestasi serupa. Ia menekankan pentingnya sikap konsisten dan keseriusan dalam menekuni bidang yang diminati, dengan catatan tidak mengorbankan kewajiban utama sebagai seorang mahasiswa.

Kalahkan Fapet UB 2-0 di Turnamen Nasional NCFS, FISIP UMM Amankan Kemenangan Krusial

  Tim futsal FISIP UMM sukses mengamankan kemenangan krusial usai menekuk Fakultas Peternakan UB dengan skor bersih 2-0 dalam laga sengit yang berlangsung di GOR Ken Arok, Malang, sore tadi. Kemenangan dua gol tanpa balas ini tidak hanya memperkokoh posisi mereka, tetapi juga menobatkan sang penjaga gawang FISIP UMM, Putra Prandaru, sebagai Player of the Match berkat aksi-aksi penyelamatan heroiknya di bawah mistar. Sejak peluit babak pertama dibunyikan, pertandingan bertensi tinggi langsung tersaji lewat jual-beli serangan dari kedua tim mahasiswa asal Malang ini. Meski Fakultas Peternakan UB terus menggempur lini pertahanan FISIP UMM, solidnya organisasi bertahan dan kegemilangan Putra Prandaru dalam membaca arah bola membuat gawang FISIP UMM tetap kokoh hingga babak kedua berakhir. Sebaliknya, efektivitas serangan balik FISIP UMM berhasil dikonversi menjadi dua gol kemenangan yang mengunci raihan poin penuh. Pertandingan bertensi tinggi ini merupakan bagian dari National Champion Futsal Series (NCFS), salah satu turnamen futsal antar-mahasiswa paling bergengsi di tingkat nasional yang tahun ini mempertemukan tim-tim tangguh dari berbagai universitas di Indonesia untuk memperebutkan gelar juara di Kota Malang. (fws) 

Patahkan Stigma Keluarga, Mahasiswi Kesejahteraan Sosial berhasil raih prestasi internasional

Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jeryfer Rinda Salshabilla, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2025 yang akrab disapa Jeje, sukses membawa pulang medali perunggu pada kategori FIGHT Dewasa Kelas D. Pencapaian tersebut diraih dalam ajang bergengsi tingkat Asia-Eropa, Paku Bumi Open Championship 2026 yang diselenggarakan di Gor Lembah UGM Yogyakarta, sekaligus semakin mengharumkan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UMM di gelanggang pencak silat internasional. Di balik kilau medali yang berhasil dibawa pulang, Jeje mengungkapkan bahwa perjalanannya menuju podium tidaklah berjalan mulus. Berkompetisi di level yang mempertemukan atlet-atlet tangguh tentu membutuhkan kesiapan fisik dan taktik tingkat tinggi. Namun, Jeje harus menghadapi realita masa persiapan yang terbilang sangat singkat. Ia mengaku hanya menjalani pemusatan latihan secara intensif selama satu bulan menjelang pertandingan. Alhasil, ia merasa bahwa proses pembentukan fisik, daya tahan, serta kelincahannya di atas matras belum mencapai titik yang paling optimal. Tantangan terberat yang harus dilewati Jeje nyatanya tidak hanya datang dari segi teknis dan fisik di tempat latihan, melainkan juga dari lingkungan terdekatnya. Keputusannya untuk menekuni olahraga tarung ini sempat terbentur tembok restu keluarga. Adanya pandangan konservatif bahwa bela diri adalah ranah maskulin sempat menjadi beban tersendiri. “Orang tuaku sebenarnya menentang aku ikut beladiri. Menurut mereka, olahraga itu hanya untuk laki-laki, sedangkan bagi perempuan dinilai terlalu rawan,” ungkap Jeje. Meski demikian, raihan posisi ketiga ini menjadi alat pembuktian yang valid untuk mematahkan stigma tersebut. Jeje berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berprestasi di cabang olahraga dengan intensitas fisik yang tinggi. Belum puas dengan medali perunggu pada kejuaraan kali ini, motivasi dan semangat tempur mahasiswi tersebut sama sekali tidak meredup. raihan ini justru dipandangnya sebagai bahan evaluasi klinis dan batu loncatan yang krusial untuk karier atletnya ke depan. Bermodalkan pengalaman berharga menghadapi gaya bertarung dari berbagai negara, Jeje kini langsung memfokuskan diri pada persiapan kejuaraan besar selanjutnya. Dengan komitmen untuk melipatgandakan porsi latihan dan memperbaiki ketahanan fisik, ia sangat percaya diri bisa berdiri di podium tertinggi pada kejuaraan yang akan datang. (raz)

Tuntaskan Skripsi Lebih Awal, Mahasiswa Hubungan Internasional UMM Ikuti Pertukaran Pelajar Erasmus di Portugal

Menjadi mahasiswa tingkat akhir tidak menyurutkan langkah Muhammad Zair Baitil Atiq untuk terus mengeksplorasi dunia pendidikan hingga ke Eropa. Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini kini tengah menjalani program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Braga, Portugal. ​Menariknya, sebelum bertolak ke Portugal, pria yang akrab disapa Zair ini telah merampungkan seluruh kewajiban akademiknya di UMM, mulai dari tugas mata kuliah hingga skripsi. Strategi ini membuatnya bisa sepenuhnya fokus menimba ilmu di Universitas Minho sekaligus mengamankan target kelulusan tepat waktu. ​Selama berkuliah di Portugal, Zair menyoroti adanya perbedaan mencolok dalam budaya akademik, terutama terkait tingkat antusiasme mahasiswa. Ia merasakan iklim pembelajaran yang jauh lebih dinamis, di mana mahasiswa sangat proaktif dalam berdiskusi dan berani mengutarakan pendapat. ​Meski demikian, perjalanan Zair tidak lepas dari kendala. Tantangan terbesar yang harus ia taklukkan adalah persoalan bahasa dan aksen. Walaupun kegiatan belajar mengajar menggunakan pengantar bahasa Inggris, ia mengaku sempat kesulitan menangkap materi karena adanya perbedaan dialek saat berkomunikasi. ​”Walaupun dosennya ngomong full bahasa Inggris, tapi kadang aksennya kan kayak menurutku masih ada aksen Portugisnya. Ataupun bahasa Inggrisnya juga bukan bahasa Inggris yang kayak native gitu,” ujarnya. ​Berangkat dari pengalamannya, Zair menitipkan pesan penting bagi para mahasiswa yang bercita-cita mengikuti program student exchange. Ia menekankan bahwa langkah awal harus selalu didasari oleh niat dan tekad yang kuat, bukan sekadar menjadikan program ini sebagai kedok untuk jalan-jalan ke luar negeri tanpa mempedulikan esensi pendidikannya. ​”Makanya menurutku persiapannya itu sih, harus siap secara mental. Secara mental dan juga secara skill. Itu menurutku penting supaya bisa survive gitu di lingkungan akademik di luar negeri. Jadi exchange-nya itu memang betul-betul bisa ada output-nya gitu, nggak cuman jalan-jalannya doang dapatnya. Gitu sih kalau menurutku. Harus well prepared,” ucap Zair. (raz)

FISIP UMM Perkuat Skema Pendampingan untuk Percepatan Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen

Malang, 6 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menegaskan komitmennya dalam mempercepat proses kenaikan jabatan fungsional dosen, khususnya menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, melalui tiga skema pendampingan terstruktur yang disiapkan secara kelembagaan. Dalam pengarahan resmi kepada para dosen peserta program konsinyering, Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik  Lendriyono, M.Si., menekankan bahwa percepatan jenjang akademik bukan hanya persoalan administratif, tetapi bagian dari strategi besar fakultas untuk memperkuat kapasitas akademik, produktivitas publikasi, dan rekognisi ilmiah dosen di tingkat nasional maupun internasional. “FISIP harus hadir sebagai institusi yang memfasilitasi percepatan karier akademik dosen. Tiga skema pendampingan ini dirancang agar dosen tidak berjalan sendiri, tetapi mendapatkan dukungan konkret, terukur, dan berkelanjutan dari fakultas,” ujar Fauzik. Tiga Skema Pendampingan FISIP UMM, yakni; Rekomendasi Penguji Eksternal — FISIP menyediakan surat rekomendasi resmi bagi dosen untuk menjadi penguji eksternal di perguruan tinggi mitra. Skema ini memperluas jejaring akademik, meningkatkan rekognisi profesional, dan memperkuat portofolio tridarma yang menjadi syarat penting menuju Lektor Kepala dan Guru Besar. Mediasi Penulisan Artikel Internasional — Fakultas memfasilitasi proses kolaborasi penulisan artikel, mulai dari penyambungan dengan mitra peneliti, klinik penulisan, internal review, hingga pendampingan menuju jurnal internasional bereputasi. Skema ini ditujukan untuk memenuhi syarat publikasi internasional yang menjadi komponen utama dalam kenaikan jabatan fungsional. Fasilitasi Pembicara Webinar Nasional dan Internasional — FISIP membuka akses bagi dosen untuk tampil sebagai pembicara dalam forum akademik internasional. Keterlibatan ini memperkuat rekognisi ilmiah, meningkatkan visibility akademik, dan menjadi bagian dari rekam jejak yang relevan untuk pengajuan Lektor Kepala maupun Guru Besar.   Ketiga skema ini dirancang sebagai ekosistem pendampingan yang saling melengkapi, memastikan bahwa dosen memiliki jalur percepatan yang jelas, terukur, dan sesuai standar regulasi PAK terbaru. Skema ini juga menjadi bagian dari komitmen Forum Dekan FISIP (FORDEK FISIP) PTMA se Indonesia dalam rangka penguatan SDM dan kelembagaan. Dengan langkah strategis ini, FISIP UMM menegaskan posisinya sebagai fakultas yang tidak hanya mendorong produktivitas akademik, tetapi juga menyediakan dukungan kelembagaan yang kuat untuk memastikan keberlanjutan karier dosen menuju jenjang akademik tertinggi.

Kunjungan Dekan FISIP UMM ke ACICIS Yogyakarta: Menguatkan Kembali Kemitraan 30 Tahun untuk Profesionalitas dan Layanan Akademik yang Lebih Unggul

Yogyakarta, 15 Mei 2026 — Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM), Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., melakukan kunjungan kerja ke kantor Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS) di Yogyakarta. Kunjungan ini diterima langsung oleh Resident Director ACICIS Yogyakarta, Adrian Budiman, Ph.D., yang menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran pimpinan FISIP UMM dan komitmen untuk memperkuat kembali hubungan strategis kedua institusi. Kerja sama antara FISIP UMM dan ACICIS telah terjalin selama kurang lebih tiga dekade, menghadirkan program kolaborasi akademik, serta inisiatif penguatan pemahaman lintas budaya antara Indonesia dan Australia. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membawa kemitraan tersebut memasuki fase baru yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan akademik. Dalam dialog yang berlangsung hangat, Dr. Fauzik menegaskan pentingnya revitalisasi kerja sama ini. “Kami ingin memastikan bahwa kolaborasi FISIP UMM dan ACICIS tidak hanya berlanjut, tetapi berkembang menjadi program yang semakin profesional, relevan, dan memberikan pengalaman akademik terbaik bagi mahasiswa kedua negara,” ujarnya.   Adrian Budiman, Ph.D., menyampaikan bahwa ACICIS sangat menghargai hubungan panjang dengan FISIP UMM dan melihat banyak peluang untuk memperluas kolaborasi. Ia menekankan pentingnya memperkuat standar layanan akademik, memperbarui desain program berbasis experiential learning, untuk tujuan pelayanan akademik yang lebih terstruktur. Pertemuan ini juga membahas pentingnya peningkatan kualitas pendampingan mahasiswa internasional yang belajar di Indonesia. Dengan semangat pembaruan ini, FISIP UMM dan ACICIS berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat diplomasi pendidikan, memperluas mobilitas akademik, dan menghadirkan pengalaman belajar lintas negara yang unggul dan berkelanjutan.

Diskusi “Respublica” Angkat Isu Krisis Timur Tengah dan Kapasitas Pemerintahan

Malang, 22 April 2026 — Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HIMAHI UMM) bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM (HIMAP) sukses menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Respublica” dengan tema “Krisis Timur Tengah: Navigasi Tata Kelola dan Resiliensi Kapasitas Pemerintahan.” Kegiatan ini berlangsung di Aula GKB IV lantai 9 UMM dan terbuka untuk umum. Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si, bersama Ketua Program Studi Hubungan Internasional UMM, Hafid Adim Pradana, M.A. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaboratif mahasiswa yang mampu menghadirkan ruang diskusi kritis dan relevan terhadap isu global kontemporer. Mereka juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mengkaji dinamika internasional, khususnya yang berkaitan dengan krisis geopolitik dan tata kelola pemerintahan. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dari berbagai latar belakang. Ach. Apriyanto Romadhan (Dosen Ilmu Pemerintahan UMM) dan Victory Pradhitama (Dosen Hubungan Internasional UMM) memberikan analisis akademik terkait kompleksitas krisis di kawasan Timur Tengah, termasuk tantangan tata kelola pemerintahan di tengah konflik berkepanjangan. Sementara itu, Hilbra Naufal Demelza (Mahasiswa HI UMM dan Parhesia Collective Academia) turut memberikan perspektif kritis dari sudut pandang generasi muda dan komunitas akademik. Adapun Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P (Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur), yang semula dijadwalkan sebagai pembicara, berhalangan hadir dalam kegiatan ini. Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, para pembicara menyoroti pentingnya kapasitas pemerintahan yang adaptif dan resilien dalam merespons krisis, serta perlunya pendekatan kolaboratif antara aktor negara dan non-negara. Selain itu, isu tata kelola yang baik (good governance) juga menjadi fokus utama dalam membangun stabilitas di kawasan konflik. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan kritis dari audiens. Melalui kegiatan Respublica ini, HIMAHI dan HIMAP UMM berharap dapat terus menghadirkan forum diskusi yang mendorong pemikiran kritis, memperkaya wawasan global, serta memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam merespons isu-isu strategis dunia. (mfa)

SIARAN PERS. FISIP UMM Gelar Rapat Koordinasi Bersama Ketua OTK untuk Penguatan Mutu dan Kerjasama Internasional

Malang, 22 April 2026 — Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UMM (HIMAHI) bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM (HIMAP) sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi bertajuk “Respublica”dengan tema “Krisis Timur Tengah: Navigasi Tata Kelola dan Resiliensi Kapasitas Pemerintahan”. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula GKB IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan terbuka untuk umum. Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan praktisi. Sri Untari Bisowarno memaparkan berbagai program Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam merespons dampak lokal dari krisis Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat. Sementara itu, Ach. Apriyanto Romadhan membahas implikasi krisis terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk potensi tekanan fiskal yang dapat muncul akibat dinamika geopolitik global. Perspektif geopolitik disampaikan oleh Victory Pradhitama yang mengulas posisi strategis kawasan Timur Tengah serta dampaknya terhadap konstelasi politik internasional. Dari sudut pandang generasi muda, Hilbra Naufal Demelza mengangkat refleksi kritis terkait posisi Indonesia yang dinilai masih menghadapi dilema dalam menentukan sikap di tengah kompleksitas krisis tersebut. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP UMM, Fauzik Lendriyono, bersama Kaprodi Hubungan Internasional UMM, Hafid Adim Pradana. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi kritis dan relevan terhadap isu global yang berdampak langsung pada Indonesia. Diskusi “Respublica” diharapkan mampu memperkaya wawasan peserta serta mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran strategis dalam merespons dinamika global, khususnya terkait krisis Timur Tengah dan implikasinya terhadap tata kelola pemerintahan di Indonesia. (mfa)

International Guest Lecturer FEB dan HI UMM “Regional Cooperation Between Latin America and Southeast Asia: The Case of Colombia and Indonesia

Malang, 20 Februari 2026 – Program Studi Hubungan Internasional UMM bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan International Guest Lecturer bertajuk “Regional Cooperation Between Latin America and Southeast Asia: The Case of Colombia and Indonesia” pada Jumat, 20 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi internasional, Prof. Diana Andrea Gomez Diaz dari Universidad Nacional de Colombia sebagai pemateri utama, dengan Azza Bimantara, M.A., dosen Hubungan Internasional UMM, sebagai moderator. Dalam pemaparannya, Prof. Diana menekankan bahwa Indonesia dan Kolombia memiliki banyak kesamaan karakteristik sebagai negara berkembang dengan peran penting di kawasan masing-masing. Ia menyoroti bahwa peluang kerja sama kedua negara sangat besar, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan pertukaran masyarakat. “Indonesia dan Colombia sebenarnya memiliki banyak kesamaan dan potensi kerja sama, namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan konektivitas dan ketertarikan masyarakat kedua negara untuk saling mengenal lebih dekat. Kerja sama Indonesia–Colombia menunjukkan tren positif, dengan nilai perdagangan yang pernah mencapai puncaknya pada tahun 2021. Hal ini menjadi bukti bahwa hubungan kedua negara masih sangat terbuka untuk terus dikembangkan,” jelas Prof. Diana. Kegiatan ini juga menghadirkan tanggapan dari Priyo Iswanto, mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia yang saat ini juga merupakan dosen di Program Studi Hubungan Internasional UMM. Dalam komentarnya, ia menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas dan kerja sama strategis antara kedua negara. “Indonesia dan Kolombia memiliki posisi strategis sebagai kekuatan regional di masing-masing kawasan. Tantangan kita adalah bagaimana membangun konektivitas dan meningkatkan ketertarikan masyarakat kedua negara untuk saling mengenal dan bekerja sama lebih erat. Nilai perdagangan Indonesia–Kolombia pernah mencapai puncaknya pada tahun 2021. Ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara memiliki fondasi yang kuat dan masih sangat potensial untuk terus dikembangkan. Kehadiran visiting lecturer ini bukan hanya bentuk pertukaran akademik, tetapi juga bagian dari implementasi kerja sama antar universitas dan upaya memperkuat people-to-people contact antara Indonesia dan Kolombia,” ungkapnya. Kegiatan International Guest Lecturer ini menjadi bagian dari komitmen FEB dan Program Studi Hubungan Internasional UMM dalam memperluas jejaring internasional serta memperkaya perspektif global bagi mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama akademik antara institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Kolombia, sekaligus mendorong peningkatan hubungan bilateral melalui jalur pendidikan dan pertukaran pengetahuan. Melalui kegiatan ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif dalam memfasilitasi dialog internasional serta berkontribusi dalam penguatan kerja sama lintas kawasan, khususnya antara Asia Tenggara dan Amerika Latin.