Tim Debat FISIP Juarai Rektor Cup 2026

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kembali memperoleh medali dalam ajang Rektor Cup 2026 yang dilaksanakan di GKB 1 pada 22 hingga 23 Mei 2026. Kali ini pada kategori debat yang di selenggarakan oleh Koperasi Mahasiswa UMM. Chintiya Imelda Safitri Prodi Ilmu Komunikasi angkatan 25, Aulya Sagita Pratiwi Prodi Ilmu Pemerintahan angkatan 25, Della Abiyah Meilanie Purinalmas Prodi Pemerintahan angkatan 25. Berhasil menyumbangkan medali perunggu untuk FISIP. Perlombaan yang diselenggarakan oleh Koperasi Mahasiswa ini mengangkat tema besar yaitu “Koperasi Merah Putih”, serta mosi yang diperdebatkan berkaitan dengan kebijakan dan tingkat signifikansi dari Koperasi Merah Putih itu sendiri. Hanya dengan persiapan tanpa tatap muka, Imelda salah satu dari 3 anggota tim mengaku persiapan hanya dilakukan secara online satu kali tanpa bertemu satu sama lain. Untuk persiapan materi mosi debat, dilakukan secara mandiri oleh masing masing anggota. “Terkait persiapan sebelum lomba, kita sebenarnya meet up itu meeting hanya sekali. Itu hanya untuk pembagian pembicara 1, 2, dan 3. Untuk persiapan mosi, kami melakukan mandiri,” jelas imelda. Adapun pesan dari Imelda untuk teman teman yang ingin mengembangkan bakatnya untuk tetap mengasah kemampuannya. Meski bakat penting untuk masa depan, Imelda berpesan juga untuk pintar pintar membagi waktu dengan baik. “Untuk teman teman yang lain, harus pintar pintar manajemen waktu antara nugas, waktu kuliah, dan latihan. Mengambil peluang apa bila ada lomba lomba, tetapi jangan lupa kalau prioritas kita itu untuk kuliah,” ucap Imelda.
Kuliah Tamu Sosiologi UMM: Ajak Mahasiswa Kritis Sikapi Isu Energi

Sebagai bentuk komitmen dalam merespons isu nasional, Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk isu energi, di Aula GKB IV. Diskusi ilmiah ini dihadirkan untuk membedah dimensi sosial di balik kebijakan energi, sekaligus memperluas cakrawala berpikir mahasiswa dalam melihat energi tidak hanya sebagai komoditas, melainkan faktor penggerak perubahan sosial. Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Yogi Setya Permana, M.A, Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai narasumber. Serta Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Moderator. Pada kuliah tamu ini narasumber memberikan banyak perspektif sosial baru dan memantik nalar kritis mahasiswa untuk melihat kondisi alam yang mulai dirusak akibat aktifitas perusahaan. Beliau memberikan study kasus di Bojonegoro, yang dimana perusahaan Exxon membangun bendungan air sungai dengan dalih kontroling banjir, namun pada nyatanya mereka melakukan hal tersebut untuk kepentingan operasional perusahaan dalam pengeboran minyak disana. Hasil dari bendungan tersebut membuat sawah para petani yang ada disekitar sana tidak produktif dan dampak dari bendungan tersebut mengubah karakter alami sungai disana. Narasumber menjelaskan dampak dari pada bendungan tersebut, “Air pada karakteristik nya merupakan sumber energi utama dan yang terbesar, banyak peradaban terdahulu membangun peradabanya disekitar aliran sungai, namun pada masa ini air menjadi alat yang dipolitisasi dan dikapilatisasi oleh beberapa kelompok.” Dan di akhir diskusi beliau memberikan ending speech kepada mahasiswa “mahasiwa harus mempunya pemikiran yang kritis untuk mampu melihat banyak realitas sosial terkhusus pada keberlanjutan lingkungan dan juga mahasiswa harus mampu memiliki social sense dalam menanggapi isu isu energi”
VOKAL X LENSA BEM FISIP UMM

Bidang Sosial Politik (Sospol) berkolaborasi dengan Bidang Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menginisiasi sebuah forum diskusi yang interaktif. Acara ini dirancang khusus sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa FISIP untuk menumbuhkan kembali daya pikir kritis mahasiswa terhadap kondisi sosial di lingkup perguruan tinggi, khususnya pada ranah fakultas. Mengusung tema “Demokrasi Kampus dan Kebebasan Berpendapat Mahasiswa”, forum ini menjadi ruang terbuka yang mempertemukan berbagai elemen mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, panitia pelaksana mengundang langsung para Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dari lima program studi yang ada di bawah naungan FISIP UMM. Kehadiran para pimpinan himpunan ini bertujuan untuk memetakan secara komprehensif dinamika serta tantangan yang dihadapi mahasiswa di tiap prodi. Forum ini berjalan dengan dinamis dan transparan. Sepanjang sesi diskusi, para peserta membedah bagaimana implementasi demokrasi kampus berjalan saat ini. Berbagai tantangan riil yang kerap dihadapi mahasiswa dalam dunia perkuliahan sehari-hari menjadi sorotan utama. Mulai dari birokrasi kampus, fasilitas penunjang akademik, hingga restriksi-restriksi kecil yang berpotensi membatasi ruang gerak serta kebebasan berpendapat mahasiswa di dalam institusi. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah bagaimana mahasiswa seringkali merasa ragu atau takut dalam menyuarakan aspirasinya. Melalui forum ini, keresahan-keresahan yang selama ini hanya mengendap di ruang-ruang kelas berhasil diangkat ke permukaan untuk dicarikan formulasi solusinya bersama. Organisasi Mahasiswa sebagai Sambung Tangan Aspirasi Tidak hanya sekadar menjadi wadah berkeluh kesah, forum diskusi ini juga merefleksikan kembali peran dan fungsi organisasi mahasiswa, baik BEM maupun HMJ. Forum ini menegaskan bahwa organisasi intra kampus harus mampu menjadi “sambung tangan” yang efektif bagi permasalahan yang dirasakan mahasiswa di tingkat program studi. “Organisasi bukan sekadar lambang atau tempat berkumpul, melainkan jembatan hidup yang harus kuat menyalurkan suara mahasiswa dari akar rumput langsung ke jajaran birokrasi fakultas,” ujar salah satu perwakilan bidang dalam rilisnya. Dengan adanya sinergi antara lima himpunan program studi dan BEM FISIP UMM, diharapkan tercipta pola advokasi yang lebih terstruktur dan responsif. Setiap keluhan mahasiswa mengenai perkuliahan, transparansi kebijakan, hingga hak kebebasan berpendapat akan dikawal secara kolektif agar mendapatkan respons yang adil dari pihak dekanat maupun universitas. Komitmen Merawat Iklim Demokratis Melalui forum diskusi yang diinisiasi oleh Bidang Sospol dan PSDM ini, BEM FISIP UMM berharap pemantik awal ini dapat menghidupkan kembali iklim akademis yang sehat dan kritis. Mahasiswa FISIP UMM diharapkan tidak lagi bersikap apatis terhadap kebijakan internal kampus, melainkan mampu menjadi agen pengontrol yang konstruktif demi kemajuan bersama. Acara ditutup dengan komitmen bersama dari seluruh Ketua HMJ dan fungsionaris BEM FISIP UMM untuk terus mengawal isu-isu kemahasiswaan serta menjaga agar ruang-ruang kebebasan berpendapat di FISIP UMM tetap terbuka lebar, aman, dan inklusif bagi seluruh mahasiswa.
EX-TION 2026_ Mengulas Tantangan dan Kesiapsiagaan Pertahanan Indonesia Terhadap Krisis Timur Tengah

Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar diskusi publik bertajuk EX-TION 2026. Mengangkat tema “The Spill-Over of Iran’s War and Reflections on Indonesia’s Defense,” forum diskusi ini mengupas tuntas imbas pergolakan geopolitik Timur Tengah. Tengah terhadap stabilitas ekonomi dan arsitektur pertahanan nasional. Agenda yang berlangsung di Auditorium GKB V, Kampus III UMM pada Sabtu, 30 Mei 2026 ini, mengawinkan sudut pandang taktis militer dengan analisis tajam akademisi. Berdasarkan rilis pers resmi yang diterima pada Selasa, 2 Juni 2026, simposium ini menghadirkan dua pakar sebagai inter some utama: Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., bersama Dosen Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana Prasetya, M.Hub.Int., Ph.D. Dalam sesi pemaparannya, Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus membedah anatomi kerawanan geografis Indonesia, terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang sensitif seperti perairan Natuna dan Selat Malaka. Ia melacak rekam jejak evolusi strategi pertahanan domestik sejak era 1953 hingga tantangan kontemporer saat ini. Menurut Kolonel Wahyu, lanskap ancaman global telah bergeser dari sekadar adu kekuatan fisik menjadi perang asimetris (asymmetric warfare) dan perang modern (modern warfare). Indonesia kini dituntut waspada terhadap ancaman laten yang menyerang ruang siber (cyber warfare), psikologis (cognitive warfare), hingga teknologi mutakhir (quantum warfare). “Tantangan terbesar kita saat ini adalah ketergantungan pada pasokan energi eksternal yang melewati jalur-jalur rawan konflik. Jika jalur logistik ini terganggu, mobilitas armada tempur dan pertahanan kita dipertaruhkan,” tegas Danrem 083 tersebut. Dari perspektif makro, Dion Maulana Prasetya, Ph.D. menilai konfrontasi yang melibatkan Iran tidak dapat dipandang secara parsial. Konflik tersebut berkelindan erat dengan rivalitas geopolitik tiga poros utama dunia: Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Dion mencontohkan, ketegangan di Selat Hormuz secara otomatis menyumbat distribusi energi global. Dampak dominonya langsung merembet ke Indonesia dalam bentuk lonjakan harga minyak mentah, yang memperparah defisit neraca perdagangan akibat status RI sebagai importir neto minyak. Lebih jauh, akademisi UMM ini mengkritisi adanya gap (jurang pemisah) antara cita-cita besar Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan realitas kekuatan militer di lapangan. Mandeknya ketercapaian target Minimum Essential Force (MEF) yang masih tertahan di angka 65% dinilai melemahkan daya tawar (bargaining power) diplomasi Indonesia di panggung internasional. Oleh sebab itu,Bapak Dion Maulana Prasetya menawarkan peta jalan baru bagi kebijakan luar negeri Indonesia: Rekonseptualisasi Doktrin “Bebas-Aktif”: Mengubah postur netralitas yang cenderung pasif menjadi sikap yang lebih protektif. Adopsi Strategi Baru: Menerapkan asas Strategic Autonomy, Active Hedging, serta Selective Engagement. Fokus Wilayah Perbatasan: Penguatan pengawasan total untuk menjaga kedaulatan di wilayah panas, khususnya Laut Natuna Utara. Diskusi interaktif yang bergulir hingga menjelang siang ini membuahkan satu konklusi krusial: Indonesia tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton di tengah pergeseran tektonik geopolitik global. Ketahanan nasional yang tangguh hanya bisa dicapai melalui integrasi antara manuver diplomasi yang berani dan penguatan postur militer yang mandiri serta kebal dari ancaman embargo pihak asing. Dipadati oleh antusiasme peserta, acara ditutup dengan sesi dialektika tanya jawab serta pernyataan pamungkas dari kedua pembicara yang kembali mengingatkan pentingnya urgensi kewaspadaan strategis nasional di era polarisasi global ini.