SIARAN PERS MENIMBANG POSISI INDONESIA DALAM BOARD OF PEACE: HI UMM GELAR ROUNDTABLE DISCUSSION

Malang, 9 Februari 2026 — Program Studi Hubungan Internasional UMM bekerja sama dengan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) menyelenggarakan kegiatan Roundtable Discussion bertajuk “Menimbang Posisi Indonesia dalam Board of Peace” di Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi, baik dari internal maupun eksternal kampus. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Gonda Yumitro, pakar Dunia Islam, dan Dion Maulana Prasetyo, pakar Politik Luar Negeri Indonesia. Keduanya merupakan dosen Hubungan Internasional UMM yang aktif meneliti isu politik global dan diplomasi Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof. Gonda menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam percaturan politik global, khususnya terkait isu perdamaian dunia Islam. Ia menyatakan, “Indonesia memiliki daya tawar unik sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, langkah diplomasi harus ditempuh secara hati-hati agar tidak memecah solidaritas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).” Sementara itu, Dion Maulana Prasetyo menyoroti pentingnya konsistensi Indonesia terhadap prinsip dasar politik luar negeri dan amanat konstitusi. Ia menegaskan, “Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace bukan hanya soal diplomasi, tetapi juga soal konsistensi terhadap amanat konstitusi dan komitmen membela kemerdekaan Palestina. Tanpa jaminan yang jelas terkait Two-State Solution dan roadmap perdamaian yang konkret, Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas moral dan strategisnya. Karena itu, posisi paling bijak adalah terlibat secara bersyarat, dengan sikap tegas yang tetap sejalan dengan kepentingan nasional dan nilai kemanusiaan.” Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta, yang menunjukkan tingginya perhatian kalangan akademik terhadap posisi Indonesia dalam dinamika perdamaian global. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif akademik sekaligus mendorong kontribusi pemikiran kritis dari kampus terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. Melalui kegiatan ini, HI UMM dan PSIB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog akademik yang konstruktif dalam membahas isu-isu strategis global, khususnya yang berkaitan dengan peran Indonesia dalam perdamaian dunia.

Yudisium Periode I 2026, Dekan FISIP UMM Pesankan Lulusan Siap Hadapi Perubahan Zaman

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Yudisium Periode I Tahun 2026 pada (14/02) di Aula BAU UMM. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta para mahasiswa FISIP UMM yang telah dinyatakan lulus pada periode tersebut. Yudisium menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan akademik yang telah mereka tempuh di lingkungan FISIP UMM. Dalam sambutannya, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si selaku Dekan FISIP UMM menyampaikan bahwa momen yudisium merupakan tonggak awal bagi para lulusan untuk menentukan tujuan hidup yang lebih jelas di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat. Ia menekankan bahwa perkembangan sosial, teknologi, dan gaya hidup terus bergerak dinamis sehingga para lulusan harus mampu mempersiapkan diri dengan baik agar tidak tertinggal oleh perubahan tersebut. Menurutnya, lulusan FISIP UMM perlu memiliki kepercayaan diri, sikap optimis, kemampuan berkomunikasi, serta keterampilan membangun relasi dengan orang lain. “Kepercayaan adalah investasi. Karena itu jadilah pribadi yang dipercaya oleh orang lain dan mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan di lingkungan sekitar,” pesannya kepada para calon sarjana FISIP UMM. Pada kesempatan tersebut, FISIP UMM juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa terbaik tingkat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Terbaik pertama Danang Betrand Camico dari Program Studi Ilmu Pemerintahan mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Ia menilai penghargaan yang diterimanya merupakan hasil dari proses panjang dan usaha yang konsisten selama menjalani perkuliahan. “Yang pasti saya bangga dengan pencapaian ini karena penghargaan ini tidak diraih dalam satu dua malam, tetapi melalui usaha dan pengorbanan yang panjang,” ujarnya. Danang menjelaskan bahwa ia selalu menempatkan kuliah sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan secara maksimal. Ia juga menekankan pentingnya kebiasaan membaca sebagai pondasi pengetahuan. “Kunci utamanya adalah menempatkan kuliah sebagai tanggung jawab dan banyak membaca. Dari membaca kita mendapatkan banyak pengetahuan yang kemudian bisa diaplikasikan dalam aktivitas perkuliahan,” jelasnya. Selama kuliah, ia juga aktif terlibat dalam kegiatan riset dengan menjadi asisten peneliti dosen dan bergabung dalam kegiatan penelitian di laboratorium. Mahasiswa terbaik Kedua, Revinda Mauliatiz Zahroh Hakiki dari Program Studi Ilmu Komunikasi, juga mengungkapkan rasa senang dan bangga atas penghargaan yang diterimanya. Ia mengaku tidak menyangka dapat terpilih sebagai peserta terbaik di tengah banyaknya mahasiswa berprestasi di program studinya. “Perasaannya tentu senang, bangga, dan juga sedikit kaget karena di Ilmu Komunikasi banyak sekali teman-teman yang berprestasi. Alhamdulillah bisa dipercaya menjadi peserta terbaik di yudisium kali ini,” ujarnya. Revinda menyebut bahwa motivasi terbesarnya selama menempuh pendidikan di FISIP UMM berasal dari dukungan orang tua serta kemauan dari diri sendiri untuk terus belajar. “Kunci utamanya adalah selalu punya kemauan untuk belajar dan tidak pernah merasa diri kita lebih tinggi dari orang lain,” tuturnya. Selain aktif dalam kegiatan akademik, ia juga terlibat dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM). Menurutnya, keseimbangan antara kegiatan akademik dan organisasi dapat dicapai melalui manajemen waktu yang baik serta kemampuan menentukan skala prioritas. Sementara itu terbaik Ketiga, Ada Senandung Nacita dari Program Studi Sosiologi mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha yang dilakukan selama masa kuliah dapat membuahkan hasil. “Rasanya tentu senang dan bangga, karena apa yang saya kerjakan selama kuliah di UMM akhirnya membuahkan hasil hari ini,” ungkapnya. Ia menyebut bahwa dukungan dosen serta lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu motivasi terbesar baginya untuk terus berkembang selama menjalani studi. Menurutnya, kesungguhan dalam belajar menjadi kunci utama dalam meraih prestasi. “Kalau orang lain berusaha satu, kita harus berusaha dua,” katanya. Selain aktif dalam kegiatan akademik, Nacita juga terlibat dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai sekretaris umum di salah satu unit kegiatan mahasiswa. Pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti program magang CoE di Jakarta yang memberinya kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru, memperluas wawasan, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak. Melalui kegiatan yudisium ini, FISIP UMM berharap para lulusan dapat terus mengembangkan potensi diri serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Para lulusan juga diharapkan mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perubahan serta membawa nilai-nilai keilmuan, integritas, dan tanggung jawab dalam setiap langkah pengabdian di masa depan.

Indonesia di Board of Peace: Waspada Risiko dan Peluang, HI FISIP UMM Angkat Suara

Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Hubungan Internasional (HI) dan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) menggelar diskusi khusus untuk membahas langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP), forum perdamaian global yang digagas Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump. Diskusi yang digelar di Laboratorium HI UMM, Selasa (10/2), menghadirkan para akademisi untuk menelisik implikasi politik, ideologi, hingga ekonomi dari keputusan pemerintah tersebut. Kepala PSIB UMM, Gonda Yumitro, PhD menekankan perlunya hati-hati. Menurutnya, belum adanya penegasan soal Palestina dan Gaza dalam piagam BoP bisa menimbulkan pertanyaan besar terkait keberpihakan Indonesia di dunia Islam. “Kalau langkah kita terlalu cepat tanpa arah jelas, ada risiko Indonesia teralienasi dari OKI dan negara-negara Islam lainnya,” kata Prof. Gonda. Selain itu, ia menyoroti beban finansial yang mungkin timbul, yakni iuran hingga 1 miliar dolar AS jika menjadi anggota tetap. Di tengah tantangan ekonomi dalam negeri, ia menyarankan strategi ‘wait and see’ sebelum mengambil komitmen finansial. Pakar politik luar negeri UMM, Dion Maulana Prasetyo, PhD menambahkan, Indonesia perlu teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Dion mengingatkan risiko normalisasi hubungan dengan Israel tanpa jaminan penghentian kekerasan yang bisa menurunkan kredibilitas Indonesia sebagai middle power dan honest broker. Diskusi ini juga menjadi ajang bagi HI dan PSIB UMM untuk merumuskan masukan akademik bagi pemerintah. Tujuannya agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan, kepentingan nasional, dan amanat konstitusi, sekaligus menjaga posisi strategis di kancah global.

Link and Match Dunia Akademik dan Media, Sosiologi UMM Gandeng Detikcom Jatim

Di tengah dinamika industri media yang terus berkembang, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) terus memperkuat posisinya sebagai prodi yang adaptif dan berorientasi masa depan. Hal ini ditandai melalui kunjungan resmi ke Kantor Detikcom Biro Jawa Timur, Kamis (29/1/2026), dalam rangka penjajakan dan penguatan kerja sama strategis antara dunia akademik dan industri media nasional. Dua dosen Prodi Sosiologi UMM, Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki, hadir membawa draf Memorandum of Agreement (MoA) yang disambut hangat oleh jajaran redaksi Detikcom Jawa Timur. Kolaborasi ini menjadi bagian dari implementasi program “Kampus Berdampak” serta komitmen Prodi Sosiologi UMM dalam menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan kebutuhan industri. Melalui kerja sama ini, praktisi media Detikcom akan terlibat langsung sebagai narasumber kuliah praktisi dan lokakarya, sekaligus membuka peluang magang dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) melalui skema Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi. Skema ini menjadi keunggulan Prodi Sosiologi UMM dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman profesional sejak bangku kuliah. Selain mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa, kerja sama ini juga memperluas jejaring institusional Prodi Sosiologi UMM serta memperkuat visibilitas prodi dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2026. Sinergi ini menegaskan komitmen Sosiologi UMM sebagai program studi unggulan yang responsif terhadap perubahan sosial dan kebutuhan dunia kerja.

Prodi HI UMM Perkuat Jejaring Internasional melalui Workshop Paradiplomasi Maritim Indonesia–Korea Selatan

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan jejaring internasional dengan menyelenggarakan Workshop Hybrid Panel bertajuk “Building a Regional Maritime Paradiplomacy Network between Indonesia and South Korea”, Rabu (28/1/2026), di Rayz Hotel serta secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini diikuti oleh akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga riset nasional dan internasional. Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Program Studi Hubungan Internasional UMM, Hafid Adim Pradana, M.A., yang menegaskan pentingnya paradiplomasi maritim sebagai strategi penguatan peran daerah dalam hubungan internasional. Ia menyampaikan bahwa workshop ini menjadi bagian dari upaya Prodi HI UMM dalam mendorong riset kolaboratif, publikasi internasional, serta pengembangan jejaring akademik global, khususnya dengan Korea Selatan. Workshop ini menghadirkan dua sesi roundtable panel yang membahas isu-isu strategis, mulai dari konektivitas logistik dan kerja sama pelabuhan, hingga pengembangan ekonomi biru dan sister city cooperation di berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Baubau, dan Papua Barat Daya. Melalui kegiatan ini, Prodi HI UMM berharap dapat memperkuat posisi sebagai pusat kajian hubungan internasional yang adaptif, global-oriented, dan responsif terhadap isu-isu maritim serta paradiplomasi regional, sekaligus membuka peluang kerja sama konkret antara akademisi, pemerintah daerah, dan mitra internasional.

FISIP UMM Gandeng Vernon Edu Perkuat Skill Kewirausahaan Mahasiswa

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menandatangani Nota Kesepahaman (MoA) dengan Vernon Edu sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten dan unggul. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (24/12) pukul 10.00 WIB di Sang Kudo Cafe. Penandatanganan kerja sama tersebut dihadiri langsung oleh Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., didampingi Wakil Dekan I Dr. Joko Susilo, M.Si., Wakil Dekan II Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., serta Wakil Dekan III Jamroji, M.Comms., bersama sivitas akademika FISIP UMM. Dari pihak mitra, hadir CEO Vernon Corps Erick Setiawan beserta tim. Kerja sama ini berfokus pada penguatan keterampilan mahasiswa melalui Program Kemitraan Kewirausahaan, yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis, pemahaman dunia usaha, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja dan industri. Program kemitraan tersebut juga dinilai sangat strategis dalam mendukung mahasiswa menyusun proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berbasis kewirausahaan. Melalui pendampingan dan pengembangan ide bisnis, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan konsep dan program inovatif yang berpeluang memperoleh beasiswa maupun pendanaan kompetitif. Melalui kolaborasi ini, FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai pihak eksternal guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan daya saing lulusan. Sementara itu, Vernon Edu diharapkan menjadi mitra strategis dalam menghadirkan program pengembangan keterampilan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Penandatanganan MoA ini menjadi langkah awal bagi kedua belah pihak untuk mengembangkan kerja sama berkelanjutan yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya mahasiswa FISIP UMM. (mzl)

Dialog Akademik Akhir Tahun PKSP FISIP UMM Bahas Reformasi Polri dalam Perspektif Sosial

Malang, 23 Desember 2025 – Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Dialog Akademik Akhir Tahun bertajuk “Reformasi Polri dalam Perspektif Kajian Sosial”. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (23/12) di Aula GKB IV Lantai 9 UMM dan diikuti oleh mahasiswa FISIP UMM dari berbagai program studi. Dialog akademik semaca, ini menjadi ruang reflektif dan kritis untuk membedah dinamika reformasi Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) sebagai institusi strategis negara yang memiliki mandat penegakan hukum, perlindungan, dan pelayanan publik. Reformasi Polri dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek struktural dan regulatif, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya organisasi, serta relasi institusi kepolisian dengan masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus Ketua Tim Percepatan Reformasi Polri), Luthfi J. Kurniawan, S.Sos (Direktur Yayasan Pendidikan Politik dan Peradaban/YP3), serta Dr. Rinikso Kartono (Dosen Kesejahteraan Sosial FISIP UMM). Prof. Jimly Asshiddiqie menyoroti persoalan struktural dalam tubuh Polri, khususnya fenomena perangkapan jabatan sipil oleh aparat kepolisian. “Terdapat sekitar 380 jabatan sipil yang dirangkap oleh aparat kepolisian. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan mengganggu profesionalisme. Perlu pengaturan ulang agar Polri tetap fokus pada tugas pokoknya,” tegasnya. Sementara itu, Dr. Rinikso Kartono mengaitkan isu reformasi Polri dengan tingkat kepercayaan publik. Ia merujuk pada data survei opini publik IPSOS & Goodstats tahun 2024 yang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri berada pada angka 41 persen. Menurutnya, data tersebut menjadi rujukan empiris penting untuk membaca persoalan mikro dan makro dalam institusi kepolisian. “Kepercayaan publik adalah fondasi utama institusi pelayanan publik. Tanpa kepercayaan, fungsi kepolisian tidak akan berjalan optimal,” ujarnya. Pandangan kritis juga disampaikan oleh Luthfi J. Kurniawan, S.Sos. Ia menyoroti kuatnya kepentingan politik dalam negosiasi jabatan publik yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip konstitusi. “Pengambilan keputusan sering kali sangat populis dan hanya mempertimbangkan elektabilitas. Oleh karena itu, pengawalan terhadap Undang-Undang Polri oleh masyarakat sipil menjadi sangat penting,” ungkapnya. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa. Sejumlah mahasiswa menyoroti belum optimalnya peran kepolisian dalam menindaklanjuti pengaduan masyarakat, ditandai dengan masih adanya kasus-kasus yang tidak tuntas di tingkat lokal. Menanggapi hal tersebut, perwakilan Kepolisian dari Polsek Lowokwaru, Kota Malang, yang hadir sebagai tamu undangan, menyampaikan bahwa perubahan birokrasi harus dimulai dari tingkat pimpinan. “Kami senantiasa patuh pada birokrasi. Di tingkat lokal, ruang gerak kami terbatas jika tidak ada perubahan dari struktur atas,” ujarnya. Selain itu, forum ini juga menekankan pentingnya integrasi regulasi antara pemerintah dan kepolisian. Regulasi yang tumpang tindih dinilai dapat menimbulkan ketidakefisienan, sehingga diperlukan kebijakan terpadu melalui peraturan pemerintah yang mampu memperjelas peran dan tanggung jawab institusional. Salah satu peserta, M. Hibban, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM, menilai diskusi ini sangat relevan dan membuka wawasan mahasiswa. “Reformasi Polri tidak cukup hanya lewat perubahan aturan atau struktur, tetapi juga harus menyentuh cara berpikir, budaya kerja, dan hubungan Polri dengan masyarakat. Pendekatan sosial membuat kita sadar bahwa kepercayaan publik dan partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan reformasi,” tuturnya. Melalui dialog akademik ini, FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi kritis dan ilmiah sebagai kontribusi akademisi dalam mengawal reformasi institusi publik, khususnya Kepolisian Republik Indonesia, demi terwujudnya tata kelola yang profesional, akuntabel, dan berkeadilan sosial. (FRA)

FISIP UMM Gelar Kuliah Tamu Internasional Bahas Budaya Damai dari Pengalaman Kosta Rika

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menggelar kuliah tamu internasional bertema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience” pada Kamis (4/12) di Aula Teknik GKB 3 Lantai 6. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional sebagai bagian dari penguatan wawasan global dan pembelajaran berbasis pengalaman internasional. Kuliah tamu ini menghadirkan H.E. Francisco José Masís Holdridge, Perwakilan Kedutaan Besar Republik Kosta Rika, sebagai narasumber utama, serta Prof. Gonda Yumitro, M.A., Ph.D., dosen Program Studi Hubungan Internasional UMM. Diskusi dipandu oleh Dwi Putri Vidiastuti, S.IP., M.Sc., dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan FISIP UMM, serta Wakil Dekan I Dr. Joko Susilo, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan II Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., dan Wakil Dekan III Jamroji, S.Sos., M.Comms., bersama sivitas akademika FISIP UMM. Dalam sambutannya, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si selaku Dekan FISIP UMM, menyampaikan bahwa kuliah tamu internasional merupakan ruang akademik yang penting dalam mempertemukan gagasan dan pengalaman global. “Suatu kehormatan bagi saya untuk membuka kuliah tamu internasional sebagai ruang akademik, tempat gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai global dipertukarkan secara terbuka dan reflektif,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. “Di era perubahan yang sangat cepat, ketidakpastian, dan meningkatnya ketegangan global, perdamaian tidak lagi cukup dimaknai sebagai ketiadaan konflik. Perdamaian harus dipahami sebagai proses membangun kehidupan bersama yang berlandaskan keadilan, kolaborasi, dan saling menghargai,” jelasnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya damai. “Perguruan tinggi, termasuk FISIP UMM, memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya perdamaian melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dan negara,” tambahnya. Dekan juga menyoroti pengalaman Kosta Rika sebagai pembelajaran penting. “Pengalaman Kosta Rika menunjukkan bahwa perdamaian bukan sekadar wacana normatif, tetapi pilihan strategis yang dibangun melalui kebijakan publik, budaya politik, pendidikan, dan komitmen jangka panjang,” tegasnya.  Menutup sambutannya, Dekan mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan forum ini secara maksimal. “Saya mengajak seluruh peserta untuk menyimak dengan saksama, berpikir kritis, dan menjadikan pertemuan ini sebagai ruang perluasan wawasan sebagai insan akademik dan warga dunia,” pungkasnya. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana Kosta Rika membangun budaya damai melalui kebijakan nasional, diplomasi, dan pendekatan nonmiliter. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa FISIP UMM terhadap isu perdamaian global dan dinamika hubungan internasional. (mzl)

Tingkatkan Mutu Akademik, FISIP UMM Terima Kunjungan Benchmarking dari UKSW Salatiga

Malang, 20 November 2025 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang menerima kunjungan benchmarking dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 603 Lantai 6 GKB 1 Kampus 3 UMM ini dihadiri oleh jajaran dekanat, tenaga pengajar dan administrasi, serta mahasiswa dari kedua universitas.  Suasana penuh antusiasme terasa sejak awal kegiatan, yang dibuka secara resmi oleh kedua dekan, yaitu Dr. Ir. Sri Suwartiningsih dari UKSW serta Prof. Fauzik Lendriyono, M.Si. selaku Dekan FISIP UMM. Benchmarking ini diselenggarakan sebagai ajang pertukaran pembelajaran dan pengalaman antara kedua fakultas dalam rangka meningkatkan kualitas, terutama pada aspek akademik dan pengelolaan kelembagaan.  Kegiatan diawali dengan penandatanganan perjanjian kerja sama kemudian berlanjut pembagian kelompok ke beberapa ruangan untuk melanjutkan diskusi sesuai prodi masing-masing. Diskusi berlangsung santai dan interaktif, melibatkan mahasiswa, tenaga pengajar, hingga staf administrasi dari kedua institusi. Dalam sesi diskusi antar mahasiswa, baik mahasiswa FISIP UMM maupun UKSW saling menceritakan pengalaman organisasi, proses pembelajaran, serta dinamika akademik di kampus masing-masing. Dimas, Gubernur Mahasiswa FISIP UMM, menuturkan bahwa diskusi tersebut menjadi ruang berharga bagi kedua belah pihak. “Wadah ini memberi kesempatan bagi kami untuk saling bertukar pikiran terkait organisasi dan akademik. Kita bisa saling belajar dan saling terbuka satu sama lain,” ujarnya.  Sementara itu, Naomi, mahasiswa Hubungan Internasional UKSW angkatan 2023, juga merasakan manfaat serupa. Ia menyampaikan, “Karena tadi kita sudah sharing, hal-hal positif yang aku dapat di sini bisa aku bawa pulang ke UKSW untuk diimplementasikan di lingkungan kampusku,” ungkapnya dengan penuh semangat. Selain diskusi antar mahasiswa, jajaran pimpinan kedua fakultas juga berbagi pembahasan terkait pengelolaan fakultas, mulai dari tata kelola umum hingga penguatan di tingkat program studi. Wakil Dekan III FISIP UMM, Jamroji, M.Comms., menjelaskan bahwa pembahasan tersebut berlangsung terbuka. “Kami sempat berdiskusi bersama jajaran dekanat terkait bagaimana pengelolaan tata kelola fakultas yang kemudian merucut pada tiap prodi. Kami saling sharing dan belajar, baik dari sisi positif maupun hal-hal negatif yang perlu diperbaiki,” jelasnya. Melalui kegiatan benchmarking ini, kedua fakultas berharap dapat terus menjalin hubungan akademik yang produktif dan berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat pengembangan akademik di masing-masing fakultas, tetapi juga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih luas, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengembangan mahasiswa. Kegiatan ini menegaskan komitmen FISIP UMM untuk terus bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang adaptif. RA