Mahasiswa Prodi Kesos Raih Juara Pencak Silat Internasional

 Senin, 17 Agustus 2020 15:23 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Torehan prestasi membanggakan di tengah pandemi Covid-19, diraih oleh Nurisatun Nisa, mahasiswi Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) semester 5  FISIP UMM. Bukan prestasi biasa, namun mahasiswi yang akrab dipanggil Nuris ini berhasil meraih peringkat kedua kategori Seni Tunggal IPSI tingkat dewasa dalam ajang Indonesia Open International Virtual Pencak Silat Tournament Jurus Tunggal dan Beregu. Turnamen virtual internasional ini digelar pada 15-17 Agustus 2020 secara virtual oleh International Pencak Silat Federation (IPSF) KEMENPORA RI. Turnamen ini merupakan langkah pertama pencak silat menuju olimpiade. Aksi Nurisatun Nisa dalam Indonesia Open International Virtual Pencak Silat Tournament Jurus Tunggal dan Beregu       Turnamen ini diikuti oleh 445 atlet dari berbagai Negara. Indonesia mengirimkan 39 kontingen dari sembilan provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan, Lampung, Sumatra Utara Banten, Yogyakarta) . Sedangkan atlet lainnya berasal dari sepuluh negara yakni Australia, Belanda, Filipina, India, Jepang, Kazakhstan, Suriname, Thailand, Yordania, dan Yaman. Prestasi di bidang pencak silat ini sebenarnya bukan hal baru bagi Nuris. Di tahun 2020 ini, sebelum mengikuti event internasional ini, Nuris telah mencetak tiga prestasi. Yang pertama adalah Juara 2 kategori fight kelas A tingkat dewasa dalam Batu National Championship yang diadakan di GOR Gajah Mada Batu. Di tingkat Jatim, di tahun ini juga, ia memperoleh dua gelar, juara 1 kategori seni beregu tingkat dewasa dan juara 2 kategori fight kelas A tingkat dewasa yang diadakan di Polinema Malang. Nuris ketika mengikuti salah satu turnamen nasional di Batu      Mahasiswi satu ini memang istimewa, sejak awal menjadi mahasiswi Kesos, tak sedikit prestasi yang ia ukir. Ia diterima menjadi mahasiswi Kesos melalui jalur beasiswa Bidikmisi. Gadis asli Sampang, Madura ini kini tinggal di LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Dau. Umi Mafrukhah, Ketua LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Dau mengatakan bahwa ia bangga pada Nuris. “Orang tuanya masih ada namun termasuk dalam kategori dhuafa oleh karena itu Nuris tinggal di panti. Namun Nuris tidak pernah minder dan justru semangat berprestasi. Dia anak yang rendah hati,”tutur Umi.      Pelatih pencak silat Nuris, Tayyudin, juga mengungkapkan rasa syukurnya atas prestasi anak latihnya tersebut. Ia berharap Nuris terus berlatih agar bisa meraih prestasi lebih baik selanjutnya. Kebanggaan dan ucapan selamat juga disampaikan oleh Dr. Oman Sukmana, M.Si., Kaprodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM. “Kami atas nama Prodi Kesos UMM, sangat bangga dan  menyampaikan selamat atas prestasi Nuris, sejak masuk Kesos UMM tidak sedikit prestasi non akademik telah diraih Nuris, dia juga tidak lupa dengan tugas-tugas kuliah sehingga indeks prestasinya sangat memuaskan. Ini modal bagi Nuris untuk bisa mengembangkan bakat minatnya secara positif dan kelak menjadi Pekerja Sosial,”ungkap Oman.     Melalui capaian ini Nuris berharap ia bisa menginspirasi teman-teman di panti untuk terus berprestasi. “Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Saya meyakini slogan itu. Selama kita mau berusaha, insya Allah pasti bisa,”tutur Nuris. (zae/wnd)

Masa Depan Profesi Komunikasi di Era Konvergensi Media

 Kamis, 06 Agustus 2020 13:25 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pandemi tidak hanya menyajikan kepedihan, namun juga menawarkan harapan. Salah satunya adalah harapan untuk masa depan profesi komunikasi. Dalam rangka ulang tahun Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM ke 34,  expert sharing session edisi spesial yang digelar prodi Ilmu Komunikasi mengupas tuntas tentang Masa Depan Profesi Komunikasi di Era Konvergensi Media. Talkshow daring ini bisa disimak recordnya melalui akun youtube Lab Ilmu Komunikasi. Hasil tangkapan layar expert sharing session edisi special ultah Prodi Ikom FISIP UMM      Syaiful Halim, founder M-Docs, didapuk menjadi pemateri dalam sharing session kali ini. Dimoderatori oleh Nasrullah, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi, expert sharing session edisi special ini berdurasi sekitar 60 menit. Menurut Syaiful Halim, ada tiga tantangan yang kini dihadapi oleh dunia komunikasi. Yang pertama adalah konvergensi media,  yang kedua adalah ‘virus’ komodifikasi media dimana televisi harus bisa membuat konten yang laku karena harus bersaing dengan platform media lain. Dan yang ketiga adalah tantangan saat pandemi. “ Di masa kini, SDM televisi tidak perlu banyak-banyak namun harus multi skill. Saat ini tuntutan untuk professional komunikasi semakin tinggi. Kebutuhan akan profesi komunikasi tidak hanya sekedar bisa pegang kamera, membuat berita atau mengedit video, namun lebih luas,” ungkap Halim. Syaiful Halim, Founder M-DOCS, pemateri dalam expert sharing session edisi spesial      Keilmuan komunikasi tak hanya dibutuhkan di dunia media massa saja atau company, namun juga dibutuhkan dalam praktek pemerintahan. Problem komunikasi seperti buzzer yang merajalela, profesi komunikasi harusnya turun untuk menguatkan konten yang lebih baik dan positif. “Kita membutuhkan lebih banyak pakar komunikasi agar komunikasi publik antara pemerintahan dan masyarakat bisa lebih baik, sehingga belajar dari problem komunikasi pandemi, seorang professional komunikasi dituntut harus mempelajari banyak hal. Di komunikasi ada sebuah provokasi positif, bahwa seorang professional komunikasi harus menggunakan ilmunya wartawan, yaitu harus menjadi pembelajar yang cepat. Mengetahui banyak hal meskipun tidak banyak, ini juga penting karena kebutuhan akan profesi komunikasi masa kini harus harus menguasai banyak hal,”ungkap Syaiful Halim. Baca juga: Persiapkan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning      Halim menambahkan, komunikasi merupakan ilmu yang paling tua, yang dibutuhkan sekarang, belajar dari konvergensi media dan pandemi, ilmu komunikasi harus punya terobosan dan menjadi pembelajar ulung. Tidak bisa hanya menjadi pekerja biasa namun perlu menguasai multiskill. Para pengkaji komunikasi juga harus tetap optimis pada masa depan keilmuan komunikasi karena komunikasi menjadi linkage pada semua sector. Untuk meraih profesi komunikasi atau komunikolog yang berkualitas, lulusan komunikasi harus well trained dan well educated, well managed dan well equip, setelah itu baru bisa well paid. ”Beda komunikasi dan vokasi itu ada pada bagaimana perlakuan terhadap kinerja. Vokasi dibayar sesuai keringat, professional dibayar sesuai dengan keahliannya. Mahaiswa komunikasi harus mengedepankan 4 C yaitu creative thinking, creativity,  collaboration, communication skill,”ungkap Halim menutup sesi diskusi. (wnd)

Persiapkan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning

 Rabu, 05 Agustus 2020 13:00 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Menyambut era new normal atau adaptasi kebiasaan baru, terlebih jelang tahun ajaran baru, FISIP UMM melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya adalah melakukan koordinasi dan simulasi untuk penerapan blended learning system ala UMM yang dinamakan Polysynchronous Learning UMM. Hari ini (5/8) perwakilan lima prodi di FISIP yang masuk dalam tim helpdesk Polysynchronous Learning melakukan koordinasi dan simulasi Polysynchronous Learning ini di outdoor space FISIP UMM. Suasana koordinasi dan simulasi Polysynchronous Learning yang dihadiri Wadek 1 dan tim helpdesk masing-masing prodi, pagi ini (5/8) di outdoor space FISIP UMM (foto: ist)      Pandemi Covid-19 ini memang mendorong UMM untuk mempersiapkan kegiatan belajar mengajar pada masa dan pasca Covid-19. Model pembelajaran bauran (blended learning) yang dinamakan Polysynchroonus Learning ini adalah model pembelajaran yang menggabungkan konsep Student Centered Learning (SCL) dan Personalized Learning dengan pola interaksi polysynchronous learning sehingga diharapkan lebih efektif dalam penerapan pembelajaran bauran. Sebenarnya model pembelajaran ini bukan hal baru di UMM, jauh sebelum pandemi, UMM sudah mengadakan blended learning system melalui web lms.umm.ac.id. Hanya saja sistem ini dikembangkan lebih optimal agar pengoperasiannya menjadi lebih baik. FISIP pun menyambut baik upaya inovasi yang dilakukan oleh UMM ini. Wakil Dekan 1 FISIP, Dr. Dyah Estu, M.Si mengatakan hari ini FISIP mengadakan koordinasi dan simulasi setelah masing-masing perwakilan prodi mengikuti pelatihan bersama bulan lalu. “Hari ini kita koordinasi dan simulasi. Dibutuhkan satu pertemuan lagi sebelum nanti diadakan pelatihan untuk seluruh dosen. Insya Allah Senin minggu depan akan ada simulasi kedua,”ujar Dyah. Baca juga : Idul Adha Momentum Untuk Tingkatkan Kesalehan Sosial      Iradad Taqwa Sihidi, M.A, perwakilan dari prodi Ilmu Pemerintahan mengatakan bahwa sistem blended learning yang digagas kampus ini cukup baik namun perlu ada semacam video panduan penggunaan yang mudah dipahami oleh dosen maupun mahasiswa. Selain pelatihan yang dilakukan oleh tim helpdesk, adanya video panduan diharapkan akan sangat membantu proses sosialisasinya. Radityo Widiatmojo, M.Si, tim helpdesk dari Prodi Ilmu Komunikasi juga mengatakan bahwa sistem blended learning ini bukan berarti nir tantangan. “Desain kelas harus memenuhi konsep polysynchronous artinya dosen harus didorong untuk persiapan konten mengajar yang kreatif. Model pembelajaran bauran ini akan berhasil jika desain kelas menarik. Kreativitas dan interaktivitas menjadi kunci. Karena ketika kuliah online, variabel kontrol terhadap mahasiswa berkurang oleh karena itu menurut saya desain kelas lah yang menjadi jembatannya,”ungkapnya. Saat ini tim helpdesk FISIP mengoptimalkan simulasi mandiri agar pelaksanaan model pembelajaran bauran di tahun ajaran baru bisa berjalan maksimal. (wnd)

Idul Adha Momentum Untuk Tingkatkan Kesalehan Sosial

 Senin, 03 Agustus 2020 09:01 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Umat muslim baru saja merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah. Hari raya Islam yang sering disebut juga hari raya qurban ini ternyata dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial. Menjadi saleh di ruang sosial itu perlu. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si mengatakan kesalehan sosial ini merupakan sebuah hal yang harus dipupuk, terlebih dalam masa pandemi seperti saat ini. Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si, pakar managemen organisasi pelayanan sosial FISIP UMM       Fauzik mengatakan kesalehan sosial adalah implikasi ketaatan yang diwujudkan dalam bentuk memberi. Memberi ini tak hanya dimaknai memberi pada manusia namun juga memberi pada alam. Allah SWT sudah memberikan petunjuk bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk sekitarnya. “Idul Adha adalah momen untuk menguatkan ketaqwaan. Ketaqwaan adalah bentuk ketaatan hamba pada Tuhan-nya. Orang yang taat hanyalah mereka yang memiliki iman. Jadi jika orang tersebut bertaqwa berarti ia harus menjalani nilai-nilai dari ajaran yang ditaati untuk mendefinitifkan keimanannya itu. Kesalehan sosial salah satu perwujudannya,”ungkap doktor yang juga pakar managemen organisasi pelayanan sosial ini. Idul Adha ini sejatinya tak hanya sekedar waktu untuk menyembelih hewan qurban, namun ia juga merupakan momentum untuk memberi dan berbagi sebagai simbol ketaqwaan dan penerapan kesalehan sosial. Terlebih di masa pandemi seperti ini. “Hikmah dari Idul Adha adalah orang akan berlomba mendapatkan kebaikan dengan memberi, membagi dan menikmati kebaikan bersama,”imbuhnya. Baca juga : Buat Gerakan Peduli Lingkungan, Mahasiswa FISIP Kolaborasi dengan Gerakan Pemuda Ansor      Untuk menerapkan ketaatan dalam bentuk memberi, menurutnya, tidak hanya dilakukan dalam bentuk memberi benda atau barang. Menurut Fauzik, selepas momen Idul Adha ini, agar kesalehan sosial tetap kuat, masyarakat harus tetap konsisten untuk memperbanyak kesempatan untuk bersedekah. Bersedekah tidak harus selalu dengan materi, namun bisa juga dilakukan dengan melakukan perilaku yang menyenangkan bagi orang lain. “Selepas Idul Adha ini, masyarakat tetap bisa meningkatkan kesalehan sosial dengan cara memperbanyak kebermafaatan dengan sedekah, Memberi dan berbagi mungkin selama ini dipahami sebagai tindakan materi, padahal tidak kan? Bisa juga dengan non materi. Ya itu tadi, bisa dengan cara bersikap yang baik pada orang lain,”ungkapnya. Dalam perspektif ilmu sosial, menurut Fauzik, kesalehan sosial ini juga merupakan modal penting untuk membangun bangsa. Di tengah situasi prihatin kala pandemi seperti ini, perlu banyak aksi kesalehan sosial untuk menguatkan ikatan hubungan antar warga demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. (wnd)

Buat Gerakan Peduli Lingkungan, Mahasiswa FISIP Kolaborasi dengan Gerakan Pemuda Ansor

 Senin, 27 Juli 2020 11:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Mewujudkan cita-cita Muhammadiyah untuk Bangsa, sekelompok mahasiswa UMM yang mengikuti Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) menggandeng organisasi pemuda GP Ansor untuk lebih peduli pada lingkungan. Kelompok 6 PMM yang diketuai oleh mahasiswa FISIP ini mengusung tema pendampingan pengelolaan sampah dan kotoran hewan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kelompok 6 menggandeng GP Ansor Banyuanyar, kec. Kalibaru kab Banyuwangi. Program PMM ini merupakan kegiatan pengganti KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang berada dibawah naungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM dan terdiri dari berbagai macam skema yang salah satunya adalah PMM Bhaktimu Negeri yang diikuti oleh kelompok 6 ini. Kolaborasi Kelompok 6 Tim PMM UMM dengan GP Ansor Banyuanyar      M. Rifqi Nurdiansyah, ketua kelompok 6 mengatakan timnya menginginkan ada sebuah organisasi di desa Banyuanyar yang memperhatikan permasalahan sampah. Salah satu sasaran yang tepat adalah para sahabat pemuda Ansor Banyuanyar.  “Selama ini sampah selalu diabaikan oleh masyarakat desa Banyuanyar, maka perlu adanya sebuah organisasi untuk merubah pola pikir masyarakat dan mengelola sampah menjadi hal yang bermanfaat,”ujarnya. Tim PMM kelompok 6 ini beranggotakan lima mahasiswa yang berasal dari berbagai prodi di UMM.      Mahasiswa PMM ini berkeinginan untuk membuat perubahan di desa Banyuanyar menjadi desa yang bersih dari sampah. Tidak hanya bersih, akan tetapi sampah juga dikelola menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Dari hal inilah, maka perlu adanya sebuah gerakan dari organisasi untuk menjalankannya. Melalui gerakan pengelolaan sampah ini, selain bermanfaat untuk menjaga kebersihan lingkungan, hasil dari pengelolaan sampah dapat menjadi tambahan untuk kegiatan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. “Memang masyarakat Banyuanyar banyak sekali yang belum sadar akan sampah, dan selama ini sedikit sekali yang memperhatikannya,”ungkap Mukhlas, Pengurus GP Ansor Banyuanyar, seperti yang tertulis yang dikirim ke Humas FISIP.      Rencana kegiatan yang ditawarkan oleh PMM kelompok 6 ini adalah mengelola sampah organik dengan alat Komposter, mendirikan Bank Sampah, dakwah lingkungan dan berternak maggot. “Ini merupakan ide kegiatan yang menarik, insyaallah kami akan coba untuk menjalankan beberapa saran dari Mahasiswa PMM UMM ini dalam rangka ikut menyelesaikan permasalahan sampah,”ungkap pengurus yang lain. (wnd)

Humor Itu Serius

 Kamis, 23 Juli 2020 15:40 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Humor adalah sesuatu hal yang sangat serius. Ia bukan sekedar guyonan santai pepesan kosong. Dalam konteks komunikasi, humor diciptakan dari sesuatu yang panjang, berdasarkan riset dan bisa menimbulkan efek yang serius. Hal ini disampaikan oleh Sugeng Winarno, M.A, dosen FISIP UMM dalam Expert Sharing Session, event diskusi daring yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi pada Kamis (23/7). Talkshow yang bisa disimak melalui youtube streaming Laboratorium Ilmu Komunikasi ini mengangkat tema bagaimana  humor dan kritik satire yang bermunculan pada masa pandemi. Sugeng Winarno, M.A, berbicara dalam Expert Sharing Session      Dalam diskusi berdurasi 90 menit tersebut, Sugeng menuturkan bahwa humor ini ternyata memiliki fungsi yang tak sederhana. “Dalam konteks komunikasi, kehadiran humor bisa memuluskan penyampaian informasi. Pesan yang dikemas melalui humor biasanya lebih mudah diterima oleh penerima pesan, dan prosesnya harus pas, tidak too much. Itulah mengapa humor ini sebenarnya adalah sesuatu yang serius karena ia memiliki fungsi yang penting dalam interaksi,” jelas dosen Ikom yang juga menjabat sebagai Kepala Humas UMM ini.      Humor juga melekat pada identitas kultural suatu daerah. Sugeng mencontohkan seorang professor komunikasi pernah meminta mahasiswanya untuk menyajikan humor khas dari daerahnya. Dari penugasan tersebut, ternyata terkumpul 100 humor yang berbeda dari berbagai daerah.  Hal ini menunjukkan bahwa lokalitas humor bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan komunikasi dengan pendekatan kearifan lokal. “Pesan akan lebih mudah dipahami, karena komunikan atau penerima pesan daerah setempat familiar akan humor tersebut,”imbuhnya. Misalnya saja humor yang disajikan Kartolo, pelawak Jawa Timur. Pesan-pesan baik berupa kritik atau himbauan yang disajikan Kartolo akan lebih mudah diterima warga Jawa Timuran daripada provinsi lain, disebabkan oleh unsur lokalitas humor Kartolo yang “sangat Jawa Timur”.     Dalam kondisi pandemi saat ini, Sugeng mengamati banyak sekali humor dan kritik satire yang muncul. Misalnya saja istilah lockdown yang dipelesetkan menjadi lauk daun, fenomena Youtuber Ucup Klaten yang viral dengan Mbah Minto-nya, dan sosok-sosok entertainer baru lainnya menunjukkan bahwa  humor sebenarnya bisa membangun optimism dalam situasi pandemi. Terbukti, meski kondisnya menyedihkan, namun masyarakat masih bisa tertawa dan menertawakan kondisinya.     Host acara tersebut, Radityo Widiatmojo sempat menanyakan, sebenarnya darimana asal istilah humor? Sugeng menjelaskan humor muncul dari bahasa latin yaitu umor yang artinya carian. Pada dasarnya manusia memiliki empat cairan yang berbeda-beda kadarnya dalam tubuhnya. Keempat cairan itu adalah darah, lendir, empedu kuning, empedu hitam. Cairan darah mengarah ke kebahagiaan, lendir mengarah pada ketenangan, empedu kuning kemarahan, dan empedu hitam pada kedukaan.      Humor diyakini muncul sejak adanya bahasa, ia tumbuh melalui symbol-simbol dan pesan komunikasi. Humor bisa multifungsi, tak sekedar menghibur, humor juga bisa menjadi sarana untuk mengkritik. Masih ingat stand up comedy Bintang Emon yang mendapat sorotan publik? Humor sebenarnya adalah bagian dari demokrasi  sebab humor bisa menjadi perantara dari penyampai aspirasi. Seorang comedian Amerika pernah mengatakan If everything goes well there is nothing funny. “ Artinya humor sebenarnya muncul dari sesuatu yang tidak ideal, bersumber dari kegelisahan masyarakat. Bahkan dulu di era Gus Dur, Bagito Grup pernah diminta presiden Gus Dur untuk terus mengkritik pemerintah melalui humor-humor yang dibawakan. Karena kritik tersebut adalah bagian dari demokrasi, penyeimbang kebijakan pemerintah,”jelas Sugeng.      Namun ketika menyajikan lelucon, Sugeng berpesan, seorang komunikator atau penyampai pesan harus memperhatikan siapa audiensnya. Humor untuk audiens yang homogen tentu berbeda dengan humor untuk audiens yang heterogen. Misal menyajikan lelucon di depan anggota dewan versus di depan penonton pasar malam yang heteregon tentu berbeda. (wnd)

Libatkan 250 Penulis, Prodi Ilmu Komunikasi Launching Sepuluh Buku Mahasiswa

 Kamis, 16 Juli 2020 12:42 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh FISIP UMM adalah memfasilitasi pemberdayaan literasi tak hanya untuk dosen namun juga mahasiswa. Di FISIP, tak hanya dosen yang memiliki buku, mahasiswa di FISIP juga bisa menulis bukunya sendiri. Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM hari ini baru saja melaunching sepuluh buku baru karya mahasiswa. Acara launching digelar secara daring melalui tayangan Communication Talk Expert Sharing Session yang dapat disimak melalui akun youtube Laboratorium Ilmu Komunikasi. Agenda Expert Sharing Session ini tak hanya menghadirkan salah satu penulis, Chano Paramita, namun juga menghadirkan dosen yang memotivasi penerbitan kesepuluh buku ini, Nurudin, M.Si. Suasana Expert Sharing Session yang dimoderatori oleh dosen Prodi Ikom, Novin Wibowo (paling kanan)      Expert Sharing Session yang berjudul Rahasia Menulis Buku Mahasiswa ini mengulas tuntas bagaimana cara membuat buku mahasiswa. Di Prodi Ilmu Komunikasi,  mahasiswa menerbitkan buku, bukanlah sesuatu yang asing. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh mahasiswa. Ada yang buku karya pribadi, artinya ditulis oleh satu orang mahasiswa, ada juga yang berupa buku bunga rampai. Sepuluh buku mahasiswa yang baru dilaunching Prodi Ilmu Komunikasi adalah jenis buku bunga rampai. Judulnya antara lain Independensi Media Itu Omong Kosong ; Peradaban Media Sosial di Era Industri 4.0; Media dan Perkembangan Budaya; Media Kiblat Baru Politik Indonesia ; dan Relasi Kuat Antara Generasi Millenial dan Media. Kelima judul lainnya adalah Teori Komunikasi Massa dan Perubahan Masyarakat; Literasi Media dan Peradaban Masyarakat; Terpenjara Komodifikasi Media; Media Sosial, Identitas, Transformasi dan Tantangannya serta buku berjudul Kebebasan Media Mengancam Literasi Politik. Penulisan sepuluh buku ini melibatkan tak kurang dari 250 mahasiswa dari enam kelas mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu oleh Nurudin. Baca juga : Terbitkan Buku Ke-21, Upaya Promosi Kampus Ala Nurudin      Nurudin juga berbagi rahasia bagaimana agar mahasiswa berhasil membuat buku. Ia mengaku tidak membatasi opini yang ingin ditulis oleh mahasiswa. Ia membebaskan mahasiswa untuk menulis apapun, asal bisa dipertanggungjawabkan. Untuk bisa menulis buku yang baik, inventarisasi ide menjadi hal yang krusial. Terkait mengelola ide ini, Wicha Mashita, salah satu penyimak Expert Sharing Session menanyakan bagaimana caranya membendung ide yang meluap-luap. Nurudin menjawab outline menjadi hal yang penting. Selain itu ia terbiasa menyusun daftar isi di awal, meskipun pada akhirnya daftar isi itu akan berubah-ubah. Sedangkan menurut Chano, jika memiliki ide menarik tentang sesuatu ia terbiasa mencatatnya dalam buku kecil. “Saya selalu mencatat ide-ide yang melintas di buku khusus. Jadi nanti kalau misal mau nulis sesuatu saya tinggal melihat catatan tersebut dan mengembangkannya,”ungkap Chano. Chano Paramita dan Nurudin, M.Si dalam Expert Sharing Session, Kamis (16/7)      Di akhir sesi sharing session tersebut, Chano berpesan dengan mengutip kalimat Ali Bin Abi Tholib,” Ikatlah ilmu dengan menulis. Masa pandemi ini sebenarnya adalah kesempatan untuk lebih produktif, khususnya menulis. Kalau kita dalam tiga menit bisa menulis caption untuk WA Story atau status facebook, mengapa tidak kita manfaatkan untuk menulis karya yang lebih bermanfaat untuk orang lain?” pesan Chano. Nurudin menambahkan dengan pesan andalannya,”Publikasikan atau menyingkirlah!,” tutup Nurudin. (wnd)

Terbitkan Buku Ke-21, Upaya Promosi Kampus Ala Nurudin

 Senin, 13 Juli 2020 12:12 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      “Kampus saya, sandaran hidup. Salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk promosi kampus adalah dengan menulis buku,”ucap Nurudin, M.Si, dosen FISIP UMM yang saat ini tengah menyelesaikan studi doktoralnya itu. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini baru saja menerbitkan bukunya yang ke-21 ini. Buku setebal 214 halaman ini diberi judul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. Buku yang dibandrol penerbit Prenada seharga Rp 60.000 ini bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dan dapat juga dibeli secara online. Nurudin, M.Si bersama karyanya, penulis produktif yang juga staf pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM      Menurut Nurudin, buku ini berbeda karena banyak menyoroti kebijakan pemerintah. “Saya itu konsisten sejak menulis tahun 1991. Konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejak dahulu. Saya yakin pasti ada kekurangannya. Saya kadang tak peduli dianggap haters. Tetapi saya tetap konsisten. Ini bukan soal kubu-kubuan. Tidak ada hubungannya. Boleh dilihat tulisan-tulisan saya dahulu. Sebab dimanapun dan kapanpun pemerintah membutuhkan kritik,” ungkapnya. Kritik ini menurut Nurudin adalah sebuah masukan, karena tanpa menilai kritik sebagai masukan, kritik selamanya akan dianggap sebagai rongrongan. “Kritik tetaplah kritik yang punya takdirnya sendiri,”imbuhnya.      Tak hanya sebagai sumbangsih masukan untuk pemerintah, bagi Nurudin, menulis adalah caranya promosi kampus. Dosen yang sudah mengabdikan hampir separuh usianya di kampus ini mengakui bahwa UMM adalah sandaran hidup. Salah satu cara membantu mempromosikan kampus yang ia banggakan adalah dengan menulis buku. Tak hanya menulis buku, ia juga kerap ‘memprovokasi’ mahasiswa untuk semangat menuliskan karyanya. Pada Kamis (16/7) nanti, ia bahkan akan melaunching 10 buku karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi hasil “provokasi’’nya.      Judul bukunya yang unik ini, Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus, punya latar belakang tersendiri. Buku ini sebenarnya adalah hasil pengamatan Nurudin atas fenomena komunikasi politik yang selama ini terjadi. Ia menilai, seperti ada ketidaktulusan dalam berkomunikasi. Tidak tulus ini tidak hanya terjadi di masyarakat, tetapi juga pemerintah. Misal, masyarakat saling caci, kubu-kubuan. Seolah kelompok dirinyalah yang paling benar. Buntutnya saling menyalahkan. Menurutnya, itu adalah bentuk komunikasi tidak tulus. Lalu ia juga menilai, pemerintah juga tidak tulus. Misalnya membuat kebijakan tidak tegas. “Lihat kasus covid-19. Betapa karut-marutnya komunikasi pemerintah sejak awal muncul. Tak ada sinkroniasi antar lembaga. Ini kan tidak baik bagi proses kebijakan. Hasilnya? Saat negara lain sudah turun yang terkena wabah, kita masuk melaju,”kritiknya. Buku terbaru Nurudin berjudul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus      Dikenal sebagai dosen yang sangat produktif menulis, bukan berarti ia tak menemukan kebosanan dalam membuat karya. Sebab diakuinya menulis itu capek dan membutuhkan konsentrasi tinggi, juga monoton. Dia membagi tips bagaimana melawan kebosanan tersebut. Ia menyarankan untuk menulis dengan cara mencicil, tidak perlu sekaligus. Saat sibuk, ia biasakan untuk menulis satu halaman, biasanya ia menuliskannya di handphone. Penting baginya untuk tetap menulis. Pokoknya menulis, begitu prinsipnya. Sebab ia meyakini bahwa setiap tulisan punya pasar pembaca sendiri-sendiri. Ia juga meyakini bahwa dengan menulis adalah cara untuk menebar kemanfaatan. “Karena saya mampunya menulis, jadi saya berusaha konsisten untuk menulis. Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa dengan menulis saya bisa membantu mengenalkan tak hanya keilmuan komunikasi namun juga mempromosikan kampus ke khalayak luas,”tuturnya. (wnd)

Pakar Gender dan Isu Perempuan FISIP Soroti Polemik RUU PKS

 Kamis, 09 Juli 2020 23:12 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau lebih sering disebut dengan singkatan RUU PKS sedang menjadi polemik karena perjuangan panjangnya seperti jalan di tempat. Padahal RUU ini diharapkan mampu menjadi titik terang penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual yang mayoritas dialami perempuan. Pakar gender dan isu perempuan FISIP UMM pada Kamis (9/7), Luluk Dwi Kumalasari, M.Si diundang untuk mengupas tuntas terkait isu polemik RUU PKS dalam forum UMM Talks. Kegiatan yang bisa diikuti melalui berbagai platform media ini membahas persoalan  RUU yang dinilainya carut marut tersebut. Luluk Dwi Kumalasari, M.Si, pakar gender dan isu perempuan FISIP UMM dalam UMM Talks Kamis (9/7)      Menurut dosen Prodi Sosiologi ini, RUU PKS harus segera diselesaikan dan disahkan karena persoalan kekerasan seksual di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Data terbaru Komnas Perempuan mencatat bahwa saat ini sudah lebih dari 341.000 kasus kekerasan seksual di Indonesia. “Oleh karena itu, penyelesaian kasus kekerasan seks harus diperjuangkan karena tiga alasan. Pertama, kekerasan kan memang harus dihapuskan,kedua  perempuan yang mayoritas menjadi korban harus mendapat perlakuan adil, dan yang ketiga hal ini berkaitan dengan kesetaraan gender,”ungkap kandidat doktor Sosiologi Universitas Brawijaya tersebut.      Kekerasan seksual sebenarnya adalah sebuah term yang cukup luas definisinya. Luluk menilai, RUU PKS ini sudah cukup rinci menjelaskan apa definisi dari kekerasan seksual tersebut. Ia mengambil contoh di pasal 11, dijelaskan bahwa konsep kekerasan seksual, bukan sekedar permasalahan menyentuh tubuh atau melukai tubuh perempuan. “Ketika terjadi tindakan merendahkan orang lain, menyerang hasrat seks seseorang, kekerasan pada fungsi reproduksi seseorang juga termasuk kekerasan seksual. Bahkan kekerasan seksual tidak hanya terjadi di ranah yang tertutup, ruang publik yang dianggap aman karena banyak orang melihat pun bisa menjadi sarana terjadinya kekerasan seksual,”jelasnya.  Masa pandemi seperti sekarang ini juga dapat membuat kasus kekerasan makin menggendut. Ketika orang lebih banyak di rumah di masa pandemi, data menyebutkan bahwa kekerasan di ranah domestik justru meningkat. “Orang terdekat pun yang harusnya menjadi support system teraman ternyata malah menjadi orang yang berbahaya dan melakukan tindakan kekerasan seksual,”imbuhnya.       Pentingnya perhatian pada kasus kekerasan seksual ini juga dilatarbelakangi oleh efek yang bisa ditimbulkan. Korban kekerasan seksual tidak hanya mengalami permasalahan fisik dan psikis, namun juga beban sosial. Luluk menyebut, kondisi kultural di masyarakat jika terjadi tindak kekerasan seksual misal perkosaan maka pemerkosa harus bertanggungjawab dengan menikahi korban. Padahal menurutnya hal itu sangatlah tidak adil jika korban perkosaan harus menikah dengan orang yang menyakitinya, namun inilah yang terjadi pada kebiasaan masyarakat kita. Baca juga :  Pakar Gerakan Sosial FISIP Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19       Persoalan masa lalu yang bersifat traumatis bisa menjadi pencetus seseorang melakukan tindakan kekerasan gender.  Selain itu, fakta bahwa meningkatnya tingkat perceraian ternyata juga tidak lepas dari faktor ketidakpahaman pada kesetaraan gender dan ketidaksadaran tentang definisi kekerasan seksual. Oleh karena itu, selain melalui pengesahan RUU PKS ini, pendidikan kesetaraan gender menjadi hal penting sebagai bagian solusi pencegahan kekerasan seksual. Bentuk pendidikan kesetaraan gender bisa dilakukan  dengan adanya pelibatan atau partisipasi pada forum atau lembaga tertentu yang memfasilitasi pemahaman kesetaraan gender. Edukasi terkait kesetaraan gender perlu diajarkan sejak dini, bahkan bisa dilakukan sejak anak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Diharapkan, dengan pengenalan edukasi kesetaraan gender ini akan terbentuk pemahaman kesetaraan gender yang akan membekali generasi muda dalam bersikap di lingkungannya. (wnd)

Genjot Publikasi Internasional, 10 Paper Mahasiswa IP Lolos di Jurnal Terindeks Tier 2

 Rabu, 08 Juli 2020 22:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Kabar membahagiakan datang dari Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM. Sebanyak 10 karya ilmiah mahasiswa tembus di beberapa jurnal di Thailand yang terindeks Tier 2 oleh TCI (Thai-Journal Citation Index Center). Perlu diketahui TCI adalah lembaga pengindeks karya ilmiah yang menentukan kualitas publikasi yang dihasilkan oleh sebuah lembaga. Di Indonesia, TCI ini seperti SINTA, hanya saja TCI ini lebih ‘senior’.  Kesepuluh mahasiswa yang lolos di jurnal Tier 2 ini merupakan sebagian dari mahasiswa yang mengikuti Student Exchange Program di Khon Kaen University, Thailand. Hal ini merupakan wujud dari upaya internasionalisasi prodi IP yang telah diawali sejak tahun 2016 lalu. Kaprodi llmu Pemerintahan, Muhammad Kamil, M.A mengatakan ada 15 mahasiswa IP yang mengikuti program pertukaran pelajar ini. “Disana mereka tidak sekedar belajar, namun juga membuat riset dan melakukan KKN tematik internasional. Kami juga sedang menunggu kabar empat naskah lain yang sedang kami ajukan ke jurnal internasional terindeks Scopus, semoga ada kabar baik,”ungkap kaprodi termuda di FISIP UMM ini. M. Kamil, M.A, Kaprodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM      Kesepuluh mahasiswa IP yang berhasil menembus jurnal terindeks Tier 2 ini diantaranya adalah Ardika Rizkian Nurrahmat, Vanni Tara Kartika, Riko Ratna Setiawan, Rezkita Bagas Prakasih, Imam Yusuf Abdulah dan Maulana Ilham Putra Resgi yang berhasil meloloskan karya ilmiahnya di Journal of Social Science for Local Rajabhat Mahasarakham University Vol. 4 No. 1. Riyo Rachman Gushardana dan Amirah Zahidah berhasil menembus Journal of Local Governance and Innovation Vol.4 no.1 sedangkan Ibnu Zihab Amrullah dan Sandy Putra Ghozali berhasil lolos di Journal of Legal Entity Management and Local Innovation vol.6 no. 2. Semua jurnal tersebut terakreditasi dan terindeks Tier 2 oleh TCI. Ucapan selamat untuk salah satu mahasiswa yang lolos jurnal di Thailand di akun instagram @prodiipumm      Sandy Putra Ghozali, mahasiswa IP angkatan 2017 mengkaji sebuah riset yang berbasis pada studi kasus di dua negara yaitu Indonesia dan Thailand. Risetnya ia beri judul Civil Society Participation in Efforts to Uphold Democracy Under Authoritarian Regimes: A Case Study of Thailand and Indonesia. Menariknya, paper yang dipublikasikan pada 29 April tersebut dibimbing oleh kolaborasi dosen UMM dan dosen Khon Kaen University. “Jadi saya dibimbing intensif selain oleh pak Kamil dan pak Saiman (dosen IP, red) juga oleh Siwach Sripokangkul, dosen di College of Local Administration, Khon Kaen University. Tantangannya selain harus menemukan isu yang menarik juga paper saya dan teman-teman ini semuanya harus ditulis dalam Bahasa Inggris,” ujar Sandy yang mengikuti program student exchange di Thailand selama empat bulan ini. Kamil juga mengakui bahwa tidak mudah untuk tembus jurnal di Thailand apalagi terindeks TCI. “Mereka jatuh bangun menulis itu (paper, red), banyak juga yang mau menyerah. Namun saya terus motivasi mereka agar tetap melanjutkan projectnya. Sebelum mereka berangkat ke Thailand, saya dampingi mereka untuk menyusun isu riset setiap hari Kamis secara kontinyu. Lalu saya mengarahkan arah penulisannya. Selanjutnya ketika mereka di Thailand, ada kolaborasi pendampingan oleh dosen Khon Kaen University,”jelasnya. Terkait prestasi mahasiswa-mahasiswa tersebut, Kamil berjanji akan memberikan apresiasi. Beberapa artikel yang memenuhi syarat akan diekuivalensi ke karya pengganti skripsi sesuai arahan rektor yang tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Ekuivalensi Karya Kreatif dan Inovatif Mahasiswa ke Dalam Kegiatan Kurikuler. Hingga saat ini di Prodi Ilmu Pemerintah, sudah ada 29 karya ilmiah yang diekuivalensi sebagai tugas akhir karya pengganti skripsi.(wnd)