PESMABA FISIP 2020, Dorong Maba Lulus Tepat Waktu

Selasa, 29 September 2020 14:39 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lulus tepat waktu adalah impian bagi setiap mahasiswa, tak terkecuali untuk mahasiswa FISIP UMM. Untuk itu dalam gelaran PESMABA FISIP Day 1 yang digelar kemarin hingga hari ini (29/9), dekanat FISIP menyampaikan bahwa mahasiswa FISIP sangat mungkin untuk bisa lulus tepat waktu empat tahun, bahkan lebih cepat yaitu 3,5 tahun. Perkuliahan di FISIP menggunakan sistem kredit semester dimana setiap mahasiswa harus menempuh minimal 144 SKS untuk bisa lulus sebagai sarjana. Di setiap semester mahasiswa bisa memilih 18 SKS, 21 SKS, dan 24 SKS. Pilihan paket SKS ditentukan melalui jumlah perolehan indeks prestasi (IP) setiap semester. “Makin tinggi IP, semakin banyak jumlah SKS yang boleh diambil. Terkecuali semester 1 dan 2 masih menggunakan sistem paket, artinya mata kuliah yang akan diambil sudah ditentukan, tidak berdasarkan indeks prestasi,”jelas Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Dr.Dyah Estu Kurniawati, M.Si. Untuk lulus 144 SKS, hal itu bisa ditempuh selama 7-14 semester. Di FISIP, potensi untuk lulus lebih cepat terbuka lebar. Sebab, untuk lulus, mahasiswa tidak harus mengerjakan skripsi namun bisa membuat tugas akhir karya yang memiliki banyak pilihan. “Pilihan TA Karya bisa disesuaikan dengan minat bakat mahasiswa dan berbeda jenisnya di masing-masing prodi,”imbuh Dyah. Suasana penutupan PESMABA FISIP 2020, mahasiswa FISIP diharapkan bisa lulus tepat waktu (foto:humas) Selama pandemi ini, FISIP UMM akan menggunakan sistem perkuliahan dengan metode polysinchronous learning menggunakan aplikasi elmu.umm.ac.id. Meskipun full daring, namun mahasiswa akan tetap mengalami beragam metode pembelajaran. Melalui elmu.umm.ac.id mahasiswa akan belajar dengan metode conference melalui google meet dan zoom, mengerjakan penugasan yang disubmit melalui sistem, kuis online, movie time, dan diskusi. Hari ini peserta PESMABA baik yang daring maupun luring mendapatkan materi bagaimana menggunakan aplikasi blended learning UMM melalui elmu.umm.ac.id. Radityo Widiatmojo, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi FISIP, memberikan materi bagaimana mengoperasikan elmu.umm.ac.id. “Setiap mahasiswa bisa mengaktifkan elmu.umm.ac.id menggunakan NIM dan PIC masing-masing. Mahasiswa bisa melihat sajian materi apa yang akan mereka pelajari selama satu semester di web tersebut,”tutur Radityo. Penjelasan metode blended learning oleh Radityo Widiatmojo, M.Si PESMABA FISIP 2020 ditutup siang ini. Agenda hari ini selain mendapatkan penjelasan terkait sistem blended learning, juga ada pengenalan HMJ dan organisasi internal di lingkungan FISIP, dan sharing session dengan alumni dan mahasiswa berprestasi di FISIP. Sejumlah alumni dihadirkan secara daring. Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si berharap energi baru maba FISIP 2020 ini nantinya bisa menjadi pemimpin masa depan yang berkualitas. “Saya harap energi baru maba FISIP 2020 ini meskipun belajarnya dibatasi oleh pandemi tetapi semoga tidak menghalangi kreativitas dan semangat belajar mahasiswa,”tutur dekan FISIP. (wnd)
PESMABA FISIP Digelar dengan Protokol Kesehatan Ketat

Senin, 28 September 2020 13:38 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pelaksanaan pembukaan PESMABA FISIP UMM hari ini berjalan lancar. Pada hari ini FISIP menggelar pembukaan PESMABA FISIP yang diadakan secara blended, alias terdiri dari dua format, daring dan luring. Maba FISIP dibebaskan untuk memilih sendiri jenis PESMABA yang diadakan, boleh memilih luring alias datang langsung ke kampus atau melalui format daring. Berdasarkan ketentuan protokol kesehatan, panitia memang membatasi jumlah peserta luring. Dari hasil penjaringan melalui formulir kesediaan, sekitar 300an mahasiswa baru FISIP mengikuti PESMABA secara luring yang digelar di Hall Dome UMM. Sedangkan sekitar 700 an maba mengikuti PESMABA platform daring yang diikuti melalui aplikasi zoom. Suasana PESMABA FISIP secara luring di Hall Dome UMM (28/9) (foto: aan) Pelaksanaan PESMABA luring berjalan di bawah pengawasan protokol kesehatan yang ketat. Sejak pukul 06.00 maba yang mengikuti luring berkumpul di 16 titik yang telah disepakati. Masing-masing titik ada liaision officer (LO) yang akan mendampingi setiap kelompok. Pengkondisian ini adalah kegiatan untuk memastikan peserta agar berkumpul di masing-masing titik sesuai kesepakatan dengan para LO. Pengkondisian peserta ini dimaksudkan agar seluruh peserta bisa masuk ke Dome UMM secara tertib, tepat waktu, dan sesuai protokol kesehatan. Seluruh peserta luring dibagi dalam 16 titik/kelompok yang berbeda, dimana masing-masing titik memiliki satu LO yang telah ditentukan dan setiap tiga kelompok didampingi oleh satu dosen pendamping. Wakil Dekan 2 FISIP UMM, Dr.Tutik Sulistyowati, M.Si memuji kedisiplinan maba yang mengikuti PESMABA luring hari ini. “Alhamdulillah saya senang lihat maba tadi tertib sekali, masuknya tertib keluarnya juga tertib. Salut untuk panitia,”ungkap Tutik. Wakil Dekan 3 bidang kemahasiswaan, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan bahwa pelaksanaan PESMABA FISIP tahun ini sesuai amanah universitas, dijalakan di bawah protokol kesehatan yang ketat. Pengaturan tempat duduk berjarak 1,5 meter, setiap peserta memakai masker, faceshield dan handsanitizer, dan ada pengecekan suhu tubuh di gerbang pintu masuk. Tidak hanya itu, setiap peserta yang memilih mengikuti luring juga harus mengurus surat kesehatan dan rapid test sebelum masuk ke kampus. “Harapan kami PESMABA FISIP tahun ini bisa berjalan dengan aman dan semuanya sehat. Maba bisa happy mengikuti PESMABA baik yang memilih format daring maupun luring,”ujar Zen. Rapi dan tertib, pelaksanaan pembukaa PESMABA FISIP hari ini (28/9) Sedangkan untuk peserta PESMABA FISIP 2020 yang mengikuti format daring sudah dapat mulai mengakses aplikasi zoom sesuai alamat link yang sudah disediakan panitia. Sekitar 700 peserta memilih mengikuti PESMABA format daring. Meski mengikuti format daring, namun mereka tetap semangat dan antusias menyimak acara hingga tuntas. Hari ini pada pembukaan PESMABA FISIP 2020, selain berisi agenda pengenalan struktural dekanat dan prodi, peserta juga mendapatkan penjelasan tentang kegiatan akademik di FISIP dan fasilitas sarana prasarana di FISIP, termasuk tentang skema keuangan dan beasiswa untuk mahasiswa FISIP. (wnd)
Pra Lokakarya Kurikulum, FISIP Sambut Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Sabtu, 26 September 2020 11:30 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Gagasan Kemdikbud RI membuat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) disambut baik oleh Universitas Muhammadiyah Malang, tak terkecuali FISIP UMM. Kebijakan kampus merdeka memiliki semangat mengubah pola pikir dari pendekatan kurikulum berbasis konten yang kaku menjadi kurikulum berbasis capaian pembelajaran yang adaptif dan fleksibel. Hal ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi manusia dewasa dan mandiri. Pra lokakarya kurikulum yang digelar hari ini (26/9) di R. 611 mengundang para pejabat struktural dari lima prodi di FISIP. Para kaprodi diminta untuk memaparkan hasil evaluasi kurikulum masing-masing prodi, pemetaan dan hasil penjaringan kerjasama prodi untuk program MBKM sekaligus memaparkan rancangan kurikulum MBKM prodi. Hasil dari pra lokakarya ini akan disampaikan pada lokakarya tingkat universitas yang rencananya akan digelar Sabtu minggu depan. Pra lokakarya kurikulum di ruang 611 FISIP UMM (foto:humas) Pra lokakarya ini juga menghadirkan Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si, asesor BAN-PT dan Shannaz Mutiara Deniar selaku PIC Internasionalisasi FISIP. Tri Sulis memaparkan tentang apa saja yang perlu disiapkan oleh prodi maupun fakultas terkait program MBKM. Sedangkan Shannaz menjelaskan tentang panduan kerjasama universitas dan fakultas. Menurut Tri, salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam program MBKM ini adalah mempersiapkan rancangan pembelajaran di luar prodi. Sebab melalui MBKM ini memungkinkan mahasiswa untuk belajar sebanyak 40 SKS di luar perguruan tinggi atau 20 SKS di luar prodi tetapi dalam satu perguruan tinggi. Untuk menyambut rancangan ini, perguruan tinggi, fakutas dan prodi harus bersinergi untuk mempersiapkan diri. “Yang harus disiapkan oleh prodi adalah menyusun atau menyesuaikan kurikulum dengan model implementasi kampus merdeka dan harus memfasilitasi penawaran MK pada mahasiswa. Sedangkan fakultas perlu untuk menyiapkan dokumen kerja sama dengan mitra yang relevan,”jelas Tri Sulis. Lebih detail, ia menjelaskan ada beberapa hal yang harus disiapkan prodi. Diantaranya adalah menyiapkan kurikulum, rekognisi, rancangan ekuivalensi, rancangan pembelajaran, prosedur administrasi, sistem informasi dan pembiayaan serta kesiapan untuk asesmen dan evaluasi. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si, assesor BAN-PT, memberikan gambaran terkait kesiapan sambut MBKM (foto: humas) Ada beberapa skema yang ditawarkan melalui program MBKM. Skema pertama adalah skema 3+1, artinya tiga tahun belajar di prodi, dan satu tahun di luar program studi. Satu tahun di luar prodi mahasiswa bisa melakukan penelitian, pengabdian, perintisan bisnis, kuliah di luar negeri atau magang. Skema kedua adalah skema dua semester di luar program studi. Skema ini dilakukan dengan cara berkuliah di perguruan tinggi lain, magang LSM, magang lembaga pemerintahan, magang di perusahaan rintisan/multinasional. Skema ketiga, adalah skema magang enam bulan. Terkait kesiapan prodi menyambut program MBKM ini, Kaprodi Ilmu Komunikasi, M.Himawan Sutanto, M.Si mengatakan prodinya siap menghadapi tantangan MBKM. “Secara kurikulum prodi Ikom sudah melakukan beberapa hal yang sesuai MBKM, misal program magang, proyek pengembangan desa wisata, dan tugas akhir karya yang membuka peluang untuk MBKM. Saat ini prodi Ikom juga tengah menyiapkan pertukaran mahasiswa kerjasama dengan asosiasi (ASPIKOM, red),”ungkap Himawan. Kaprodi Ilmu Pemerintahan, M.Kamil, M.A juga menyatakan kesiapan prodinya, terlebih bagi prodi IP konsep MBKM ini bukan sesuatu yang baru. Sebelum kebijakan kementrian ini disampaikan, prodi IP sudah mengadakan program pembelajaran di luar perguruan tinggi melalui sistem kredit transfer selama satu tahun di perguruan tinggi luar negeri, juga magang riset di sejumlah instansi pemerintahan, partai politik, LSM dan pihak swasta. “Insya Allah prodi Ilmu Pemerintahan sudah siap dan tinggal memperkuat aktivitas agar (program ini, red) makin bermanfaat bagi mahasiswa dan institusi,”tutur Kamil.(wnd)
Update Keilmuan, Komunikasi FISIP Gelar Refreshing Metodologi

Sabtu, 19 September 2020 14:09 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Perkembangan dunia komunikasi sangat pesat, terlebih pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Hampir semua lini kini membutuhkan sentuhan ilmu komunikasi sebagai bagian dari solusi. Untuk itu, dalam rangka penyegaran keilmuan, hari ini (19/9) Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM mengadakan Refreshing Metodologi dan Peninjauan Keilmuan yang bertemakan Disrupsi Komunikasi dan Konsekuensi Model Riset Komunikasi. Kegiatan ini diadakan di aula FEB Gedung Kuliah Bersama (GKB) II lantai 1. Refreshing Metodologi hadirkan Dr. M. Sulhan, S.IP, M.Si digelar dengan standar protokol kesehatan (photo by: Nash) Acara refreshing metodologi kali ini mengundang Dr.M.Sulhan, S.IP, M.Si, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) yang juga ketua departemen Ilmu Komunikasi UGM ini berbicara tentang disrupsi ontology, khususnya dalam metode riset komunikasi. Sulhan mengatakan para sarjana komunikasi kini tak melulu meneliti perjumpaan manusia antar manusia atau media massa konvensional, namun keilmuan komunikasi sekarang harus memandang secara serius computer dan media berbasis computer dalam memfasilitasi komunikasi. “Apalagi saat ini ketika kita berbicara tentang akreditasi sembilan kriteria, dimana harus ada pencapaian-pencapaian yang tertuang dalam angka-angka yang kuantitatif, perlu ada upaya kuat untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih banyak. Tentunya tak sekedar kuantitas namun juga tidak boleh mengabaikan kualitas,”ujar M.Sulhan. Penyerahan cinderemata dari Kaprodi Ilmu Komunikasi kepada pembicara (photo by: Nash) Untuk itu, dalam rangka menjaga kualitas lembaga dan lulusan, dosen harus mampu membangun payung riset keilmuan dan membentuk tim kerja yang melibatkan mahasiswa. “Jadi misal dosen komunikasi mau riset tentang sebuah payung keilmuan, ia bisa menggandeng empat mahasiswa yang memiliki riset dengan akar payung yang sama. Dari situ saja akan muncul lima riset dengan payung serupa, sehingga luaran capaiannya lebih banyak. Satu riset dosen tersebut, dan empat riset mahasiswa yang berkualitas karena disupervisi oleh dosen yang memiliki basis akar riset serupa,”imbuhnya. Dosen yang juga asesor BAN PT bidang Ilmu Komunikasi ini juga menegaskan bahwa potensi keilmuan komunikasi ini diprediksikan akan semakin dibutuhkan dan berkembang. Ia mencontohkan data dari media yang menyebutkan bahwa terjadi kenaikan yang signifikan hampir pada seluruh kelompok usia terkait konsumsi sosial media. Kenaikan tertinggi mencapai lebih dari 50 % terjadi pada kelompok usia 16-24 tahun dan kelompok usia 25-34 tahun. Bahkan untuk mereka yang masuk dalam kategori generasi baby boomers (rentang usia 55-64) juga mengalami peningkatan waktu konsumsi sosial media sebesar 32% dari masa sebelum covid. Dari data tersebut dapat dipahami bahwa ilmu komunikasi sangat dibutuhkan dalam menganalisis atau meneliti fenomena-fenomena, tak terkecuali di sosial media. Meningkatnya konsumsi sosial media tidak bisa dipungkiri tentu akan memberi efek samping pada perubahan sosial. Kolaborasi big data dalam riset komunikasi diharapkan juga akan menghasilkan temuan-temuan yang bermanfaat untuk masyarakat. Hasil dari refreshing metodologi hari ini akan menjadi salah satu masukan dalam brainstorming peninjauan kurikulum. Kaprodi Ilmu Komunikasi, M.Himawan Sutanto, M.Si mengatakan prodi Ilmu Komunikasi akan mengadakan lokakarya kurikulum pada Senin-Selasa minggu depan. (wnd)
FISIP Luluskan 196 Calon Wisudawan Pada Yudisium Periode III

Rabu, 09 September 2020 12:44 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Hari ini (9/9) FISIP menggelar yudisium periode III untuk tahun kelulusan 2020. Sebanyak 196 calon wisudawan mengikuti yudisium yang digelar secara online melalui aplikasi zoom dan live YouTube. Sejak pandemi, FISIP memang menggelar yudisium secara daring. Yudisium kali ini adalah yudisium kedua di FISIP yang diadakan melalui platform online. Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si mengatakan ia bangga, meski di tengah pandemi namun calon wisudawan FISIP masih tetap semangat untuk menyelesaikan studinya. “Adanya pandemi memang telah membuat banyak perubahan. Selamat kalian mampu menyelesaikan tahap terakhir dari studi S1 ini. Tantangan wisudawan di masa pandemi ini lebih besar karena banyak pekerjaan yang bergeser karena pandemi. Oleh karena itu inovasi-inovasi dan pemikiran yang berani perlu dimiliki oleh alumni FISIP UMM. Saya yakin profesi-profesi di lingkup keilmuan sosial politik tidak akan tergerus oleh zaman,”ungkap Rinikso. Hasil tangkapan layar pelaksanaan Yudisium Periode III/2020 Dalam yudisium kali ini, tiga calon wisudawan mendapatkan gelar lulusan terbaik 1,2,3 tingkat fakultas. Terbaik ketiga diraih oleh Prodi Ilmu Komunikasi atas nama Ericha Fernanda dengan IPK 3,81. Terbaik kedua tingkat FISIP diraih oleh Ayudya Anggita Putri dari prodi Hubungan Internasional dengan IPK 3,81. Terbaik kedua dan ketiga memiliki IPK sama, namun yang membedakan adalah jumlah skor SKPInya. Ericha Fernanda memiliki skor SKPI 576 sedangkan Ayudya memiliki skor SKPI 725. Terbaik pertama tingkat fakultas diperoleh oleh Gain Albaherdana dari Prodi Hubungan Internasional. Gain Albaherdana, putra dari Sartono dan Muryati ini, berhasil meraih IPK 3,84. Dekanat dan kaprodi berfoto bersama usai pelaksanaan Yudisium Baca juga: Pak Malik di Mata Dosen Senior FISIP Pandemi memang membuat sejumlah perubahan, tak terkecuali pada bentuk platform pelaksanaan yudisium. Namun di sisi lain, pelaksanaan yudisium yang diadakan secara online ini juga memberi dampak pada menurunnya jumlah biaya yudisium yang harus dikeluarkan oleh calon wisudawan. Sehingga biaya yudisium yang dikeluarkan oleh calon wisudawan lebih murah. Mereka mendapatkan pengurangan biaya yudisium karena ada beberapa item pembiayaan yang ditiadakan. “Pada yudisium era pandemi ini biaya makan, hiburan dan sewa sarana prasarana pertemuan ditiadakan sehingga lebih murah. Biaya yang dibayarkan sekarang mencakup sumbangan alumni, biaya kepanitiaan wisuda, serta special gift yang nantinya akan didapatkan oleh semua calon wisudawan. Untuk supporting alat teknologi daring, kita didukung oleh Laboratorium Ilmu Komunikasi,”ungkap Wakil Dekan II, Dr.Tutik Sulistyowati, M.Si. Special gift calon wisudawan bisa diambil bersamaan dengan jadwal pengambilan ijazah, SKPI dan legalisir. “Setelah wisudawan mengambil ijazah, SKPI dan legalisir di BAA, wisudawan bisa mengambil special gift di prodi masing-masing,”imbuhnya. (wnd)
Pak Malik di Mata Dosen Senior FISIP

Selasa, 08 September 2020 09:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jika gajah mati meninggalkan gading, maka kepergian guru bangsa ini meninggalkan sejuta kenangan bagi orang-orang yang pernah berelasi intensif dengannya. Kabar duka pada 7 September 2020 itu mengejutkan civitas akademika UMM, tak terkecuali dua dosen senior FISIP UMM. Kabar Prof H.A. Malik Fadjar, M.Sc tutup usia, membuka kenangan tersendiri pada sosok revolusioner ini. Bisa jadi tak banyak yang tahu bahwa profesor kelahiran Magelang Jawa Tengah ini pernah menjadi dekan FISIP UMM. Ya, Prof. H.A. Malik Fadjar,M.Sc pernah menjabat sebagai Dekan FISIP UMM periode 1982-1983. Terbilang singkat, namun gebrakan yang ia lakukan masih terkenang oleh para pendahulu FISIP UMM. Dra. Suadah, M.Si dan Dr. Habib, M.A, membagikan kesannya tentang bagaimana Prof Malik berhasil membangun UMM sehingga menjadi kampus kejayaan di masa kini. Ungkapan duka cita FISIP UMM atas kepergian sang guru bangsa, Prof.H.A.Malik Fadjar, M.Sc (sumber: IG fisip_umm) Dr. Habib adalah salah satu orang yang turut andil ‘melobi’ Prof Malik untuk mau menjadi dosen di FISIP UMM. Waktu itu sekitar tahun 1981 seusai menyelesaikan studi di Amerika, prof Malik yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris dekan di IAIN Sunan Ampel Malang, belum memiliki banyak aktivitas sebelum kembali bertugas di IAIN Sunan Ampel. “Saya dan pak Imam Suprayogo melobi beliau untuk bisa mengajar di FISIP. Alhamdulillah beliau bersedia dan akhirnya menjadi dekan di FISIP tahun 1982-1983 sebelum menjadi rektor itu. Bagi saya mas Malik tidak hanya sebagai atasan atau pimpinan, namun juga kakak, sahabat dan guru bagi saya. Oh iya, beliau selalu memanggil saya dengan panggilan Dek Habib, dan saya memanggilnya Mas Malik, karena selisih usia kami hanya lima tahun,”kenang Habib, dosen Prodi Kesejahteraan Sosial. Selama menjadi dekan, banyak gebrakan yang dilakukan oleh Prof Malik. Habib menuturkan Prof Malik adalah tipe pribadi yang tegas dan revolusioner. Melalui tangan dinginnya, Prof Malik mengajarkan bagaimana cara promosi mendapatkan mahasiswa, menata SDM dosen termasuk membangun fasilitas fisik di UMM. “Tidak semua pemimpin memiliki keberanian mengambil keputusan seberani mas Malik. Keputusannya membeli tanah di kampus 2 dan kampus 3 dengan menjaminkan sertifikat tanah dan bangunan miliknya dan sejumlah dosen adalah salah satu gebrakan yang akhirnya bisa mewujudkan fisik kampus UMM sebesar sekarang,”imbuh Habib. Prof Malik adalah salah satu orang yang berada dibalik pembangunan kampus 3 UMM. Saat itu, salah satu mahasiswa Habib yang bernama Syaroni, adalah kepala desa di Tegalgondo, berniat menjual tanah rawa-rawa yang kini menjadi lokasi kampus 3. Tanah itu dijual dengan harga murah waktu itu. Harganya murah karena memang kontur tanahnya adalah rawa-rawa. Prof Malik berani membeli tanah di Tegalgondo ini dengan menjaminkan sertifikat tanah dan bangunan miliknya dan sejumlah dosen demi bisa membeli tanah bakal kampus 3 UMM ini. Padahal waktu itu jangankan punya banyak uang, sepeda motor saja Prof Malik tidak punya. Setiap hari Habib lah yang mengantar jemput Prof Malik dari rumahnya ke kampus UMM di jalan Bandung karena saat itu hanya Habib yang sudah punya sepeda motor. Namun kesederhanaan Prof Malik ini berbanding terbalik dengan jiwa revolusioner yang ia miliki. “Keputusan mas Malik untuk membeli tanah rawa bakal kampus 3 ini sempat dibully, tanah rawa kok dibeli. Namun keputusan berani mas Malik ini bisa kita nikmati sekarang. Kampus 3 UMM adalah buah dari keberanian seorang pemimpin besar seperti mas Malik,”kisah Habib Dra. Suadah, M.Si dan Dr. Habib, M.A, dosen Kesejahteraan Sosial FISIP UMM Tak jauh berbeda dengan kesan yang dirasakan Habib, Suadah pun memiliki kenangan tersendiri tentang sosok tegas dan cerdas itu. Di mata dosen Kesejahteraan Sosial ini, Prof Malik adalah sosok berjiwa muda yang penuh ide-ide brilian. Ketika menjadi dekan, Suadah ingat betul bagaimana Prof Malik ‘mendidik’ dosen-dosen muda di FISIP dengan ketegasan. “Pak Malik itu kalau sudah bilang, sekarang bikin proposal, tiga hari jadi ya, Suadah ayo besok bikin diskusi, Suadah ambil SK nya ya, wis…tidak ada yang berani membantah. Pak Malik itu kalau orang Jawa nyebutkan cak cek, cerdas dan tangkas gitu. Ia senang bekerja dengan yang berjiwa muda karena yang muda dan berjiwa muda itu cepat kalau mau diajak lari. Figur itu yang saya rasa dibutuhkan sehingga UMM bisa sebesar ini sekarang,”tutur Suadah mengenang. Di masa kepemimpinan Prof Malik pula lah, Suadah pertama kali punya pengalaman riset internasional yang bekerjasama dengan Bangladesh. Di tangan Prof Malik pula lah, UMM lambat laun mengalami kemajuan signifikan hingga sebesar sekarang. “UMM itu aduh tidak seperti sekarang. Waktu itu universitas hanya punya satu sepeda motor sebagai inventaris kampus, yang akan diakui oleh setiap fakultas kalau ada visitasi akreditasi kalau seperti sekarang ya istilahnya. Ya saking ndak punyanya UMM waktu itu. Pertama kali UMM bisa membeli mobil Isuzu sebagai inventaris kampus itu bangganya luar biasa ya kita ini,” kisah Suadah sambil tertawa. Ia juga mengenang sisi kesederhanaan yang Prof Malik contohkan. Saat Prof Malik menjadi rektor, proses sertijab dengan mantan rektor sebelumnya dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan. Tanpa kemewahan. Ini menjadi teladan yang diingat oleh Suadah. Ada satu pesan Prof Malik yang juga melekat kuat dalam ingatan Suadah dan Habib. Pesan itu selalu diulang-ulang saat rapat atau pertemuan dimanapun. “Di UMM ini pengabdian, jadikan ibadah, yang ikhlas. Kalau tidak ikhlas metuo ae soko kene,”ungkap Prof Malik seperti ditirukan oleh Habib. Selamat jalan Prof Malik, sang Guru Bangsa, insya Allah husnul khotimah. Perjalananmu di muka bumi telah usai. Namun seperti yang pernah diucapkannya, kita boleh saja kehilangan raga namun jangan sampai kita kehilangan harapan dan cita-cita. Kalau kita kehilangan cita-cita berarti kita telah kehilangan segalanya. Semoga amal ibadah dan perjuangan sang guru bangsa diterima di sisi Allah. Keteladanannya akan tetap menjadi catatan yang tak pernah mati di hati seluruh civitas akademika di negeri ini. (wnd)
Tim Commers Juarai Lomba Inovasi Digital Mahasiswa 2020

Senin, 07 September 2020 14:47 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prestasi membanggakan kembali diraih gabungan mahasiswa FISIP dan FAI yang tergabung dalam tim Commers. Kelompok yang beranggotakan Dion Agustian, Turky Hanif dan Two Bagus Surya dari Prodi Ikom dan M Alif Ihza dari FAI ini berhasil memboyong perunggu pada Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI. Commers berhasil memenangkan kategori Kreasi Video Digital SDGs dengan mengusung film pendek yang berjudul Hari Esok. Commers lolos di posisi ketiga babak final yang diikuti oleh 20 finalis dari seluruh Indonesia. Babak final diadakan secara daring pada 4-5 September 2020 lalu. Tim Commers saat presentasi LIDM babak final Hari Esok ini menceritakan tentang Pak Roy, seorang dosen yang juga seorang single parent karena istrinya meninggal. Di masa pandemi ini, ia tak hanya harus mengajar mahasiswa tapi ia juga bertanggungjawab untuk mendampingi sekolah online putri semata wayangnya. Tidak mudah bagi seorang Pak Roy untuk mangajar di masa pandemi seperti ini. Ketika mengajar, ia selalu tidak diacuhkan oleh mahasiswa-mahasiswinya. Ada yang bermain game saat kuliah online, dandan, dan tidur-tiduran. Pak Roy mulai berpikir bahwa kelas online yang ia ampu sangat membosankan. Oleh karena itulah ia kemudian membuat desain kelas offline di lokasi outdoor. Secara tidak sengaja ada seorang mahasiswa yang melihat rencana Pak Roy membuat kelas outdoor. Ia memfoto rencana Pak Roy dan membagikannya melalui WA Group. Melihat usaha keras Pak Roy untuk membuat mahasiswanya senang belajar, mereka jadi sadar bahwa kerja keras Pak Roy bukan semata-mata untuk menghidupi keluarganya namun juga untuk mencerdaskan anak didiknya. Dion Agustian Putra, salah satu anggota Commers mengatakan bahwa ide cerita film Hari Esok itu terinspirasi dari beberapa hal. “Ide cerita ini berasal dari pengalaman teman-teman saat kuliah online, pemberitaan terkait kuliah online, tanggung jawab seorang dosen dan juga empati mahasiswa. Film ini bertujuan untuk membangkitkan empati mahasiswa agar menghormati dan menghargai kerja keras para guru dan dosen yang berusaha untuk tetap mendidik anak didiknya meski dibatasi oleh kondisi, tak hanya kondisi pandemi namun juga tanggung jawab pribadi sebagai ayah, sebagai kepala keluarga, terlebih ia sebagai single parent,”ungkap Dion. Ia berharap melalui film ini mahasiswa di seluruh negeri sadar, meski dibatasi oleh pandemi, mahasiswa tetap semangat belajar bagaimana pun kondisinya karena semua pihak sudah melakukan upaya terbaik untuk tetap bertahan dalam situasi pandemi. M Fuad Nasvian, M. Ikom, dosen pembimbing tim Commers ini mengatakan sejak awal ia optimis dengan kemampuan mahasiswanya yang tergabung dalam Commers ini. “Ide cerita murni dari mereka, saya hanya mempertajam idenya saja, dan mengoreksi yang perlu didetailkan. I just ask them to try the competition, tell them that they can graduate without skripsi if they nail that. Mereka termotivasi untuk melakukan yang terbaik, secara kualitas anak-anak ini memang sudah tangguh,”ungkap dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini. Congratulations Commers! (wnd)
Sosialisasikan Pesmaba Format Baru, FISIP Gelar Silaturahmi Wali Maba

Kamis, 03 September 2020 15:52 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pesmaba UMM akan diadakan pada 28-30 September 2020 nanti. Kondisi pandemi seperti saat ini membuat pihak kampus harus berinovasi untuk bagaimana tetap bisa melakukan pengenalan kampus pada mahasiswa baru sekaligus tetap mencegah penularan virus covid-19. Untuk mensosialisasikan kebijakan kampus terkait pesmaba ini, hari ini FISIP UMM mengadakan silaturahmi wali maba secara daring melalui kanal zoom. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan orang tua wali maba FISIP UMM dari seluruh Indonesia. Kegiatan silaturahmi wali maba yang diadakan hari ini (3/9), sosialisasikan pesmaba 2020 (foto: humas fisip) Zen Amirudin, M.Med.Kom, wakil dekan 3 FISIP UMM mengatakan silaturahmi wali maba FISIP UMM kali ini berbeda dengan silaturahmi wali maba yang digelar pada 4 Juli lalu. “Pada kegiatan kali ini kami mensosialisasikan kebijakan kampus terkait pengenalan studi mahasiswa baru untuk angkatan 2020. Pesmaba tahun ini akan diadakan dalam dua format yaitu luring dan daring,”ungkap Zen. Berbeda dengan pelaksanaan Pesmaba tahun-tahun sebelumnya, Pesmaba 2020 ini nantinya akan dikemas dalam bentuk offline dan online (luring dan daring). Mekanismenya orang tua wali maba bisa mengisi pilihan melalui google form yang sudah dibagi oleh universitas, apakah mengikuti pesmaba dalam format luring atau daring. Jika mengikuti format luring, maka semua maba harus melalui prosedur rapid test terlebih dahulu. Meskipun luring, kampus akan tetap memperhatikan standar protokol kesehatan dan maba wajib mengisi Surat Ijin Masuk Kampus (SIMK). Tata cara pengisian SIMK bisa dilihat di highlight story di Instagram @fisip_umm. “Jika orang tua tidak mengizinkan putranya mengikuti pesmaba luring maka akan dijadwalkan ulang mengikuti pesmaba daring. Untuk format daringnya masih kami diskusikan dengan panitia,”tutur Haryo Prasodjo, ketua Pesmaba FISIP 2020. Bagi mahasiswa baru yang menghendaki Pesmaba luring, pihak kampus sudah menyediakan sejumlah fasilitas untuk tempat tinggal. Mahasiswa bisa tinggal di Rusunawa UMM yang memiliki kapasitas 700 orang (350 kamar, satu kamar berisi dua orang mahasiswa). Di Rusunawa ini maba bisa tinggal gratis dan mendapatkan fasilitas makan. Jika menghendaki tinggal di Rayz Hotel milik UMM, khusus maba 2020 juga akan mendapat fasilitas diskon 50%. “Jika menginginkan cari kos-kosan di sekitar UMM nanti ada teman- teman BEM yang bisa membantu memberikan informasi,”imbuh Haryo. Haryo berharap orang tua wali maba tidak perlu bingung untuk menentukan mengikuti pesmaba luring atau daring karena semuanya sama-sama memperoleh sertifikat. Salah satu kelebihan luring adalah mahasiswa dapat mengenal lingkungan kampus secara langsung. Anik Zulaikah, orang tua maba Wahyu Ananta Putra dari Prodi Kesos mengatakan pihaknya percaya pelaksanaan Pesmaba secara luring ini akan cukup aman karena Pesmaba terbagi dalam beberapa gelombang. “Menurut saya, karena kapasitas Rusunawa cukup lebih baik ditampung di Rusunawa saja, mengingat pelaksanaan Pesmaba hanya tiga hari saja. Insya Allah diniatkan baik akan berjalan baik dan akan banyak ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak kita,”ujar ortu maba asal Gresik tersebut. (wnd)
Maraton Lima Prodi, FISIP Latih Dosen Metode Polysynchronous Learning

Sabtu, 29 Agustus 2020 11:24 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dalam rangka adaptasi kebiasaan baru, FISIP UMM dalam seminggu ini mengadakan pelatihan polysynchronous learning untuk lima prodi di FISIP. Jika beberapa waktu yang lalu sudah dilaksanakan resimulasi untuk instruktur, minggu ini giliran para dosen yang dilatih metode blended learning ini. Diawali oleh prodi Hubungan Internasional pada hari Senin lalu, hari ini Sabtu (29/8) giliran Prodi Ilmu Komunikasi yang mengikuti pelatihan. Radityo Widiatmojo, M.Si, dosen Ikom yang menjadi tim instruktur menjadi trainer dalam pelatihan hari ini. Radityo didampingi lima instruktur lainnya. Pelatihan polysynchronous ini digelar selama lima hari. Setelah prodi HI di hari Senin, prodi Sosiologi di hari Rabu, kemudian dilanjutkan prodi IP di hari Jumat, dan Senin minggu depan adalah giliran prodi Kesejahteraan Sosial. Suasana pelatihan Polysynchronous Learning Prodi Ikom di Outdoor Space FISIP UMM (foto; PIC humas) Pelatihan polysyncronous ini sebenarnya bukan hal baru bagi prodi Ikom. Tahun lalu, sebelum pandemi melanda, Prodi Ikom sudah pernah meminta ke universitas untuk pelatihan e-learning yang menggunakan web lms.umm.ac.id. Polysynchronous Learning ini menggunakan www.elmu.umm.ac.id yang merupakan pengembangan dari web lms.umm.ac.id. “Sebenarnya tahun lalu kita sudah pernah ikut pelatihan e-learning LMS (learning management system), jadi Alhamdulillah tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan dengan polysyncronous learning,”ujar M. Fuad Nasvian, M.Ikom, salah satu peserta pelatihan dari Prodi Ikom. Metode blended learning yang bisa diakses menggunakan www.elmu.umm.ac.id ini memang memudahkan para dosen untuk melaksanakan proses belajar mengajar melalui daring. Radityo Widiatmojo, M.Si (jaket abu-abu) saat memberikan pelatihan (foto: PIC humas) Baca Juga : Persiapan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning Radit mengatakan ada banyak fitur dalam elmu.umm.ac.id yang akan memudahkan para dosen dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). “Melalui e-learning ini dosen bisa melakukan conference, share materi kuliah, share video, diskusi, memberi tugas, dan memberi kuis dalam satu platform. Proses grading atau pemberian nilai juga lebih mudah, tidak perlu manual entry lagi, nanti bisa di export otomatis dalam bentuk excel sehingga memudahkan pelaporan nilai,”ungkap Radit. Dalam pelatihan hari ini Radityo juga memberikan contoh-contoh model desain kelas yang bisa diadopsi untuk setiap pertemuan. Intinya, melalui sistem polysynchronous ini diharapkan bisa memudahkan dosen dan mahasiswa melakukan KBM. Polysynchronous Learning ini adalah model pembelajaran yang menggabungkan konsep Student Centered Learning (SCL) dan Personalized Learning dengan pola interaksi polysynchronous learning sehingga diharapkan lebih efektif dalam penerapan pembelajaran bauran. (wnd)
Rencana Kebijakan Pulsa ASN, Begini Kata Akademisi UMM

Author : Humas | Jum’at, 28 Agustus 2020 10:10 WIB RENCANA pemerintah untuk memberikan subsidi pulsa pada Aparatur Sipil Negara (ASN) menuai beragam komentar dari masyarakat. Subsidi pulsa ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena di tahun 2020 ini selama pandemi ASN sudah mendapatkan subsidi pulsa sebesar 150 ribu per bulan. Namun rencananya subsidi itu akan dinaikkan menjadi 200 ribu perbulan untuk anggaran 2021. Kebijakan ini dicetuskan oleh Dirjen Anggaran Kemenkeu untuk seluruh ASN kementerian dan lembaga dan menimbulkan polemik di masyarakat. Menanggapi usulan kenaikan subsidi tersebut, pakar Tata Kelola Keuangan Pemerintahan dan pakar Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menyampaikan pandangan mereka. Menurut M. Kamil, M.A, pakar tata kelola keuangan pemerintahan dari Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM mengatakan rencana menaikkan subsidi ini adalah tantangan bagi pemerintah. Dalam tata kelola keuangan, ada istilah realokasi APBN dan refocussing anggaran. Baca juga: FPP UMM Mulai Pasarkan Beras Organik Varietas Unggul “Sebenarnya dalam keuangan negara itu kan ada yang dinamakan pos belanja anggaran. Rencana subsidi ini pos anggarannya dialihkan dari anggaran belanja barang yang tidak terpakai, misal biaya rapat dinas, perjalanan dinas, dan belanja lainnya. Jadi pemerintah harus melakukan realokasi dan refocussing yang sebenarnya tidak masalah,” ungkap M. Kamil. Namun yang menjadi tantangan negara saat ini adalah bagaimana negara bijak untuk menata keuangan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Pemerintah adalah ujung tombak pelayanan masyarakat. Untuk itu, jika memang harus mengupgrade besaran subsidi, pemerintah harus bisa mengklasifikasi dan mengevaluasi apakah semua ASN di kementrian atau lembaga itu perlu mendapatkan subsidi. “Perlu ada pemetaan mana ASN yang harus dapat dan mana yang tidak perlu. Menurut saya ASN yang dapat adalah ASN yang benar-benar membutuhkan subsidi untuk kuota internet. Hal ini diperlukan untuk menghindari kecemburuan sosial . Apalagi saat ini kan masalah school from home masih menjadi problem, khususnya di wilayah 3T. Pemerintah harusnya bisa lebih membijaki mana prioritas yang harus diutamakan,” imbuh Kamil. Baca juga: Mahasiswa UMM Punya Cara Unik Peringati Kemerdekaan RI Di sisi lain, pakar komunikasi politik dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan bahwa rencana pemerintah untuk menaikkan subsidi bagi ASN bisa menjadi preseden yang tidak bagus dan rawan menimbulkan kecemburuan sosial. “Dalam perspektif komunikasi politik, komunikator dalam hal ini pemerintah perlu mengedepankan empati sosial. Bagaimanapun masyarakat menengah ke bawah sekarang benar-benar merasakan dampak dari pandemi covid-19.Sehingga kita termasuk pemerintah harus bisa bersinergi memerangi pandemi ini, bukan malah justru membuat kebijakan yang rawan blunder,” ujar Zen. Kebijakan ini jika disetujui oleh menteri, menurut M. Kamil, ada konsekuensi yang harus dilakukan. Konsekuensinya adalah seluruh ASN harus memacu kinerja dan produktivitas kinerja dalam mendukung prinsip flexible working space yang diterapkan pemerintah selama pandemi. (win/can)