FISIP Loloskan Tiga Tim Finalis di Lomba PKM GT dan Poster 2020

Selasa, 07 Juli 2020 11:11 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP berhasil meloloskan tiga tim andalannya dari 39 Tim FISIP yang mengkuti lomba PKM Gagasan Tertulis dan Poster yang digelar LLDikti baru-baru ini. Event bergengsi yang menjadi bagian dari rangkaian lomba tahunan Program Kreativitas Mahasiwa (PKM). Meski belum berhasil menjadi juara, namun tim perwakilan dari prodi Sosiologi, prodi Hubungan Internasional, dan prodi Ilmu Komunikasi berhasil menjadi finalis. Dari 25 kampus yang lolos sebagai finalis di lomba PKM GT dan Poster, UMM merupakan kampus dengan jumlah finalis terbanyak, yakni sebanyak 21 tim finalis. Bahkan salah satu tim delegasi UMM berhasil meraih salah satu juara dalam lomba tersebut. Lomba PKM GT dan Poster tahun ini bertema belajar dari covid-19. Para peserta ditantang untuk membuat gagasan orisinil, inovatif dan solutif agar mampu memberikan solusi bagi pendidikan tinggi khususnya dalam proses pembelajaran di masa pandemi. Luaran dari lomba ini berupa artikel ilmiah yang memuat konsep perubahan atau pengembangan yang divisualkan melalui poster. Dua tim FISIP yang lolos menjadi finalis tersebut menawarkan solusi yang cukup kreatif. Tim dari Prodi Ilmu Komunikasi yang terdiri dari Lintang Mayang, Azzahra Cahyani Putri dan Dio Bayu Saputra, membuat gagasan terkait starter pack belajar mandiri di masa pandemi. Mereka membuat gagasan agar dosen perguruan tinggi membuat e-book modul bahan ajar yang dikombinasikan dengan tiga sistem pembelajaran jarak jauh. Selain itu tim Lintang Mayang dkk menawarkan solusi pembentukan posko belajar dan pengadaan kartu bebas sewa untuk mengatasi ketidakmerataan akses internet di Indonesia. Salah satu poster yang lolos sebagai finalis di PKM GT dan Poster LLDIKTI 2020 Sementara itu tim PKM GT dari prodi Sosiologi yang terdiri dari Zikri Prismadani, M .Syarif Firmansyah dan Farhan Fuadi mengajukan judul Penggunaan Platform Pembelajaran Daring dalam Negeri untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Perguruan Tinggi. Sedangkan tim PKM GT dari Prodi Hubungan Internasional tak kalah kreatif, mereka mengusung judul Alternatif E-learning berbasis Hybrid Course sebagai Inovasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi Covid-19. Tim HI yang digawangi oleh Ramadhan Dwi Januarfitra dan Aurora Aziz More ini menawarkan solusi hybrid course adalah kombinasi antara face to face classroom instruction dengan online learning. Wakil Dekan III FISIP UMM, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan dirinya sangat bangga FISIP masih memiliki antusiasme yang tinggi pada lomba PKM, tak terkecuali PKM GT dan Poster ini. Untuk tim yang lolos sebagai finalis, Zen mengaku fakultas akan memberikan apresiasi berupa sertifikat dan bantuan biaya pendidikan kepada para finalis. Sedangkan yang belum lolos juga tetap mendapat apresiasi berupa sertifikat. “Semangat para mahasiswa ini harus diapresiasi. Saya senang meski tidak lolos juara, namun menjadi finalis itu juga tidak mudah. Banyaknya partisipasi yang mengikuti PKM GT ini menjadi satu indikasi meski di tengah pandemi, namun semangat belajar mahasiswa tidak surut,”ujarnya. (wnd)
Pakar Gerakan Sosial FISIP Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19

Selasa, 07 Juli 2020 09:47 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Isu kontribusi pada pencegahan covid-19 masih menjadi fokus perhatian FISIP UMM dalam Webinar Sosiologi dalam Seminar Nasional yang digelar oleh FISIP Unsri pada hari ini, Selasa 7 Juli 2020 melalui aplikasi zoom. Pakar gerakan sosial FISIP UMM, Dr. Oman Sukmana, M.Si, didapuk menjadi salah satu pembicara utama dalam webinar tersebut. Kaprodi Kesejahteraan Sosial tersebut membawakan topik Gerakan Sosial Masyarakat Pedesaan dalam Melawan Covid-19. Diikuti oleh sekitar 110 peserta dari seluruh Indonesia, Oman memaparkan bagaimana gerakan sosial berkontribusi dalam melawan covid-19. Dr. Oman Sukmana, M.Si, pakar gerakan sosial FISIP UMM menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional yang diadakan Unsri (7/7/2020) Ada banyak jenis gerakan sosial. Tidak selamanya gerakan sosial itu berperspektif negatif, misalnya identik dengan perlawanan atau pemberontakan tentang suatu hal. Gerakan sosial berbasis kesadaran, peduli pada orang lain, adalah ciri khas new social movement. Sedangkan gerakan sosial yang cenderung dalam konteks melawan atau memberontak, adalah tipe gerakan sosial yang lama alias old social movement. Di sisi lain perilaku kolektif yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tidak selalu merupakan sebuah gerakan sosial, faktor pembedanya adalah masalah durasi. Jika aksi tersebut bertahan lama itu adalah sebuah gerakan sosial, jika sementara bisa jadi itu hanya perilaku kolektif. Sebagai bagian dari masyarakat, masyarakat pedesaan ternyata juga memiliki peran penting dalam melawan penyebaran covid-19. Jamak kita ketahui, melalui pemberitaan media sosial, banyak desa yang kemudian membatasi akses masuk desa dan mengkarantina pendatang. Bahkan tingkat kewaspadaan terhadap orang lain menjadi meningkat selama masa pandemi ini. Dalam konteks melawan Covid-19, apakah masyarakat pedesaan tersebut melakukan gerakan sosial atau hanya sekedar perilaku kolektif? Menurut Oman, gerakan sosial masyarakat pedesaan sudah melebih perilaku kolektif karena diorganisir, ada pertimbangan masyarakat untuk melakukan sesuatu dan bertahan lama. Ini sesuai dengan ciri khas gerakan sosial. “Masyarakat pedesaan melakukan aksi bersama dalam melawan covid-19 sebenarnya bisa dipahami dalam berbagai perspektif teoritik, mobilisisasi sumber daya dan new social movement theory berbasis teori identitas. Jika kita ingin aksi kolektif masyarakat menjadi sebuah gerakan sosial yang berhasil, ada sejumlah faktor determinan yang harus dikuatkan,”ungkap Oman Sukmana. Ia menyebut harus ada tindakan pengorganisasian gerakan sosial, harus adaleader atau aktor, juga harus ada mobilisasi sumber daya misalnya finansial juga aspek pengetahuan dan hal-hal yang mendukung gerakan. “Selain itu juga harus ada partisipasi dari partisipan gerakan . Selain faktor determinan tersebut juga perlu memperhatikan aspek identitas kolektif, solidaritas dan komitmen dari masyarakat pedesaan. Selama ini kan ada indikasi masyarakat yang merasa sehat itu tidak terlalu peduli dan cenderung merasa dirinya baik-baik saja. Ini menunjukkan solidaritas di kalangan masyarakat yang kurang maksimal, khususnya masyarakat yang merasa sehat untuk membangun solidaritas pada masyarakat lain,”imbuhnya. Namun Oman mengkritik, meski tindakan aksi masyarakat pedesaan ini sudah menjadi sebuah gerakan sosial, namun kesadaran kolektif masyarakat masih kurang sehingga perlu dimaksimalkan. (wnd)
FISIP Terjunkan 15 Personel Dosen Untuk Sambut Peserta UTBK di UMM

Senin, 06 Juli 2020 08:38 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Hospitality atau keramah-tamahan menjadi pedoman civitas akademika FISIP UMM dalam berelasi. Tak terkecuali ketika dalam beberapa hari ini, semenjak Minggu (5/7), Tim Penerimaan Mahasiswa Baru FISIP UMM menyambut para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang. FISIP yang menerjunkan 15 personel dosen yang tergabung dalam Tim PMB Fakultas sigap melayani para peserta yang hendak melaksanakan ujian. Achmad Apriyanto, salah satu anggota tim PMB FISIP, sigap layani peserta UTBK SBMPTN di UMM Koordinator Tim PMB FISIP, M.Syaprin Zahidi, M.A mengatakan meski hari pertama pelaksanaan UTBK SBMPTN di UMM diadakan hari Minggu, namun loyalitas dan profesionalitas tim PMB FISIP patut diacungi jempol. “Teman-teman sangat sigap memberikan pelayanan seperti menunjukkan arah lokasi ujian, membagikan booklet dan merchandise dari universitas untuk peserta dan inisiatif menanyai peserta saat mereka kebingungan mencari lokasi gedungnya. Meski hari Minggu teman-teman tetap standby dengan formasi lengkap hingga sore hari,”ungkap dosen asal Lombok NTB ini. Sebagian tim PMB FISIP berfoto sebelum beri layanan informasi pada peserta UTBK SBMPTN di UMM Minggu (5/7) Hospitality atau keramahan memang menjadi ciri khas yang melekat pada tim. Tak canggung untuk bergabung dengan tim PMB dari fakultas lain, perwakilan prodi-prodi di FISIP ini juga kreatif membuat media promo yang mencirikan fakultas dan prodi masing-masing. Prodi Ilmu Komunikasi misalnya, tim perwakilan prodi Ikom membawa beberapa property selfie yang bisa digunakan untuk foto di spot yang instagramable. Prodi Kesejahteraan Sosial mencetak booklet eksklusif yang dibagikan kepada para peserta yang melintas. Prodi-prodi lain juga melengkapi amunisi penyambutan dengan flyer yang atraktif. Beberapa tim PMB FISIP bahkan datang paling pagi. Seperti pada hari ini, salah satu tim FISIP, M. Haryo Prasodjo sudah bersiap sejak pukul 7 pagi. “Ya saya bertanggung jawab di posko fakultas, hari ini teman-teman dibagi dalam dua shift, siang dan sore, agar bisa melakukan aktivitas tridharma lainnya,”ungkap Haryo. Bisa Selfie Instagramable, Tim PMB FISIP dari Prodi Ikom membawa properti selfie Selama enam hari hingga Jumat nanti, UMM memang kedatangan 1800 peserta dari berbagai daerah yang mengikuti UTBK SBMPTN. Sebagai tuan rumah yang baik, UMM berupaya untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para peserta, terlebih pada kondisi pandemi seperti ini. Salah satunya adalah dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19 yang sangat ketat. Kampus menyediakan 351 titik hand sanitizer dan 55 titik wastafel lengkap dengan sabun cairnya. Tidak hanya itu, di pintu masuk check point para peserta juga dicek suhunya menggunakan thermo gun. Sepatu dan tas peserta juga ditempatkan pada lokasi penyimpanan khusus agar aman dan tidak menjadi sarana transmisi penyebaran virus. (wnd)
Terbitkan Buku Hasil Turun Lapang, Cara Asyik Belajar Ala Prodi Sosiologi

Rabu, 01 Juli 2020 11:17 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kata siapa belajar sosiologi itu hanya berkutat pada diktat-diktat teoritis? Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang baru saja menerbitkan satu buku berjudul Belajar Sosiologi di Desa. Buku yang merupakan kumpulan tulisan mahasiswa angkatan 2019 ini adalah salah satu upaya prodi untuk menepis anggapan bahwa belajar sosiologi itu membosankan dan menjemukan. Buku dipilih sebagai media kampanye karena jangkauannya yang luas, bisa menyasar semua kalangan: anak usia sekolah, mahasiswa maupun professional. Belajar tentang konsep, teori dan gagasan-gagasan abstrak para filsuf sosial dunia adalah keseharian dari mahasiswa sosiologi, setidaknya itulah yang selama ini melekat pada sosiologi. Hal tersebut membuat sebagian orang mem-branding bahwa belajar sosiologi itu membosankan, menjemukan dan berjarak dengan realitas kehidupan sehari hari karena semua dilakukan di kelas. Padahal belajar sosiologi di FISIP UMM, bisa dilakukan dengan cara yang lebih asyik. Salah satunya adalah mempelajari masyarakat dan belajar di masyarakat secara langsung, melalui program andalan Prodi Sosiologi FISIP UMM. “ Karena laboratorium sosiologi adalah masyarakat itu sendiri. Jadi belajar sosiologi di FISIP UMM itu kita bisa belajar langsung di masyarakat, salah satunya dengan program live in,” ungkap Rachmad K Dwi Susilo, Ph.D, Kaprodi Sosiologi FISIP UMM. Kaprodi Sosiologi, Rachmad KDS, Ph.D, bersama buku hasil turun lapang (foto by: aan) Sudah menjadi tradisi untuk menyambut mahasiswa baru Prodi Sosiologi UMM dengan mengajak mereka live in di desa. terhitung sejak 2012, sudah 8 kali Prodi Sosiologi melakukan kegiatan live in yang diberi nama Sociology Camp. “Sociology Camp (Soscamp) merupakan agenda tahunan yang melibatkan seluruh mahasiswa baru untuk tinggal selama beberapa hari di suatu desa, berbaur dengan masyarakat setempat sekaligus melakukan small research. Itulah salah satu metode pembelajaran yang Prodi Sosiologi UMM lakukan, pembelajaran berbasis live in, pembelajaran yang menyenangkan,” lanjutnya. Baca juga: NgupiNation, Cara Baru Belajar Lebih Seru Ala IP UMM Melalui buku berjudul Belajar Sosiologi di Desa: Pengalaman live in di Sentra Bunga Mawar di Jawa Timur, Rachmad mengatakan prodi ingin berbagi pengalaman belajar mengajar sosiologi. Proses belajar mengajar yang secara langsung melibatkan dosen, mahasiswa dan masyarakat sebagai satu kesatuan dari Sosiologi. Wah asyik sekali ya? (aan/wnd)
NgupiNation, Cara Baru Belajar Ilmu Lebih Seru Ala IP UMM

Kamis, 25 Juni 2020 10:29 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ngopi identik dengan aktivitas mengisi waktu luang. Namun bagi civitas akademika FISIP, ngopi pun bisa lebih ‘bergizi’ dengan sharing dan diskusi keilmuan. Salah satu prodi di FISIP, yakni Ilmu Pemerintahan punya cara ngopi yang asyik nan bergizi yang diberi nama NgupiNation. Kemarin (24/6) program ngopi sambil diskusi online yang dimotori oleh Laboratorium Ilmu Pemerintahan ini membahas topik terkait Problematika dan Penegakan Hukum di Era Kenormalan Baru. NgupiNation ini juga bisa disimak secara live di akun youtube Lab IP UMM. Tangkapan layar episode kelima NgupiNation pada 24 Juni 2020 lalu NgupiNation edisi kelima yang digelar selama 1,5jam tersebut mengundang Ilham Yuli Isdayanto, S.H, M.H, CLA., CMB, Managing Partner Isdiyanto Law Office yang juga Dosen FH UAD Yogyakarta dan Wahyudi Kurniawan, S.H, M.H.Li,C.Me, Kepala Laboratorium Hukum UMM. Dalam diskusi online ini, dua pemateri Iham dan Wahyudi sepakat bahwa penegakan hukum di Indonesia perlu mengadopsi unsur-unsur kearifan lokal. Menurut kedua pembicara, hukum di Indonesia seharusnya kembali ke perspektif lokalitas. Dalam masa pandemi ini adalah kesempatan untuk mengadopsi nilai kearifan lokal untuk membuat masyarakat bukan takut hukum, namun patuh akan hukum. Misal berkaitan dengan penegakan aturan-aturan pencegahan penyebaran covid-19. Dalam era baru atau new normal ini, menurut Ilham Yuli pemerintah seharusnya menyadari bahwa hukum tidak hanya pada simbolisasi penegak hukum namun hukum seharusnya menjadi kepentingan masyarakat. “Dalam era sekarang, yang harus berubah pertama kali adalah negara sebagai pemilik otoritas. Masyarakat juga tidak boleh apatis,”tutur Ilham. Presiden NgupiNation, Yana Syafriyana Hijri, M.IP, yang juga kepala laboratorium IP UMM mengatakan bahwa NgupiNation sebenarnya akronim dari Ngupas Politik Indonesia dan Kebangsaan ( Nation ). “NgupiNation ini bermula dari webinar Praktikum Lab. Karena saya senang ngopi saya plesetkan jadi ngupi,”ujar Yana. Ngopi biasanya identik sambil ngobrol atau diskusi mulai dari masalah yang remeh temeh, kerjaan, politik, ekonomi, termasuk masalah-masalah serius kebangsaan. Dari situlah ide agar ngobrol atau diskusi diteruskan melalui format daring. “Nah agar bincang-bincangnya tidak sendirian saya undang teman-teman yang pakar dan profesional di bidangnya agar lebih terukur, ada isinya tetapi tetap santai dengan menghadirkan secangkir kopi di setiap diskusi,”imbuhnya. NgupiNation ini kata Yana tidak hanya mengangkat masalah berkaitan dengan ilmu pemerintahan saja, namun lebih meluas menyeluruh ke sejumlah aspek sosial dan politik. Bahkan beberapa episode NgopiNation juga membahas tentang bisnis, energi, pelayanan Kesehatan dan hukum. Rencananya NgupiNation ini akan tayang rutin setiap tiga kali seminggu, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat. ”Target kami tetap akan membahas berbagai persoalan sosial, politik, pemerintahan, ekonomi, budaya, kebijakan pemerintah dan berbagai masalah kebangsaan lainnya dengan menghadirkan pembicara, pemantik, pakar, praktisi profesional di bidangnya,”ujar Yana. (wnd)
Punya Social Project Keren, Mahasiswi FISIP ini Juarai Mawapres UMM 2020

Kamis, 11 Juni 2020 13:07 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Namanya Chano Paramita. Dulu, mahasiswi FISIP Prodi Ilmu Komunikasi ini pernah lima kali gagal dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru di beberapa kampus. Bukan, bukan karena ia tak pintar. Semasa duduk di SMAN 1 Purwosari, gadis cantik kelahiran Pasuruan ini seringkali mendapat gelar juara paralel di kelasnya. Beberapa gurunya pun kaget mengapa anak pertama dari dua bersaudara ini selalu gagal tes masuk kampus. “Saya menduga saat itu mungkin terlalu ambisius, sehingga saya stress dan itu menjadi penyebab kegagalan saya. Buktinya ketika saya mengikuti seleksi penerimaan maba di FISIP UMM saya lolos karena tidak terbebani,”ungkap Chano. Chano juga mengaku, karena merasa terbebani dan terlalu ambisius ini, ia juga ‘tidak beruntung’ ketika ujian nasional, nilainya jeblok. Namun, menjadi mahasiswa UMM berhasil membuat pola pikirnya berkembang luas. Ia merasa potensinya bisa semakin berkembang di kampus putih ini. Menurutnya, yang paling penting, dimana pun ia belajar, berhasil tidaknya seseorang dalam belajar tergantung pada kesungguhan dan kerja keras. Ia bersyukur pola didik orang tua yang tak pernah mematok prestasi berdasar angka, membuatnya lebih leluasa berkreasi. Siapa sangka jika perjuangan menjadi mahasiswa “tak biasa” di UMM diganjar dengan prestasi sebagai juara 1 Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) tingkat universitas, mengalahkan sejumlah delegasi dari fakultas lain, termasuk sahabatnya sendiri yang menduduki peringkat terbaik kedua. Chano Paramita, peraih juara 1 Mawapres UMM 2020 (foto: dok.pribadi) Meraih gelar sebagai peringkat pertama mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Muhammadiyah Malang, tak pernah terbayangkan dalam benak Chano. Jangankan menjadi juara, dicalonkan sebagai kandidat tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tetapi, terpilih dalam seleksi Mawapres tentu bukanlah proses instan, sim salabim sekali jadi. Penilaian dalam seleksi mawapres meliputi penilaian tiga aspek, kemampuan bahasa asing, prestasi dan kemampuan karya ilmiah. “Sebenarnya seleksi ini cukup berat bagi saya karena bersamaan dengan beberapa amanah saya sebagai kadiv diskusi dan prestasi di UKM FDI dan kesibukan praktikum di prodi. Namun teman-teman di UKM FDI meyakinkan saya,”ungkapnya. Tak hanya sering ikut lomba menulis, Chano juga didapuk menjadi juri beberapa lomba debat dan LKTI di kalangan mahasiswa Dalam seleksi Mawapres yang diadakan secara daring pada 5 Juni 2020 lalu, Chano dimintamempresentasikan karyanya dalam bahasa asing. Salah satu nilai plus dalam presentasinya, menurut salah satu juri, Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd, terletak dalam kemampuan menyampaikan social project yang ia miliki. Selain itu prestasi yang dimiliki Chano memang paling unggul jika dibandingkan kandidat lain. Total ada 11 penghargaan tingkat nasional yang ia kantongi selama tiga tahun menjadi mahasiswi FISIP UMM. Terbaru, ia berhasil meraih penghargaan juara 1 Content Campaign dan Competition yang diadakan oleh UK Petra. Chano juga tercatat memiliki tiga social project. Salah satu social project yang ia presentasikan di hadapan penyeleksi Mawapres Universitas adalah social project “RAMU REMPAH”. Ramu Rempah adalah platform pemberdayaan untuk masyarakat agar terus menanam dan mempromosikan tanaman rempah dan tidak menjualnya ke tengkulak. “Sebab jika dijual ke tengkulak, masyarakat yang rugi. Akhirnya saya dan tim mencoba mengelola simplisia rempah ini menjadi minuman yang ready to drink dan kami bantu promosinya. Saya menerapkan ilmu integrated marketing communication yang saya pelajari di Prodi Ilmu Komunikasi. Saat ini produk Ramu Rempah masih dalam uji coba laboratorium,”jelas Chano. Kesukaannya belajar banyak hal memang membuat Chano lebih adaptif dalam belajar. Meski kuliahnya di bidang Ilmu Komunikasi, namun ia tetap membuka diri untuk belajar bidang lain. Prinsip didikan orang tuanya memang mempengaruhi pola belajarnya. Ayahnya yang seorang petani kopi dan ibunya yang seorang guru TK memang menerapkan prinsip sedikit berbeda. “Ortu saya selalu berpesan bahwa saya disekolahkan itu bukan sekedar untuk bekerja dapat uang banyak dan hal-hal pragmatis lainnya, namun saya belajar itu agar berkah dan bermanfaat untuk banyak orang. Ini yang selalu menjadi pedoman saya,”imbuhnya. Harapan kedepannya, Chano ingin bisa menembus publikasi jurnal internasional dan menulis artikel di media massa. Ketika ditanya apakah ia akan mengkonversikan prestasi nasional dalam bidang kepenulisan sebagai TA Karya, Chano mengaku ingin membuat dua-duanya. Di prodinya, Ilmu Komunikasi, mahasiswa berprestasi nasional memang bisa mengkonversikan prestasinya ke jalur Tugas Akhir (TA) Karya sebagai syarat kelulusan setara skripsi. “Saya ingin TA Karya sekaligus membuat skripsi, biar bisa merasakan semua. Karena S1 itu menurut saya fundamental,”tuturnya. Wah, semangatnya luar biasa. Go ahead, Chano! (wnd)
Pertama dalam Sejarah, Yudisium Online FISIP UMM

Rabu, 10 Juni 2020 15:28 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pertama kalinya, hari ini (10/6) di masa new normal, FISIP menyelenggarakan yudisium melalui platform online. Meski digelar dalam format daring, namun yudisium yang disetting di ruang sidang 611 dan menggunakan aplikasi zoom itu tetap berjalan khidmad. Menariknya, karena digelar secara daring, yudisium ini tidak hanya dihadiri secara virtual oleh 93 peserta yudisium namun juga dihadiri orang tua peserta yudisium. Tak hanya dapat disaksikan melalui zoom, recording pelaksanaan yudisium daring ini juga bisa disimak melalui akun YouTube FISIP UMM. Situasi yudisium daring FISIP UMM Periode II/2020 dalam tangkapan layar “Kesuksesan seseorang adalah tetap berbakti pada orang tua meski sudah berhasil dalam kehidupan. Dalam kondisi new normal seperti ini, meski kita tak bisa bertemu langsung, namun banyak sekali hikmah yang bisa kita pelajari. Hari ini dibalik kesuksesan kalian semua, ingatlah ada peran serta orang tua yang membersamai kalian,” pesan Dekan FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si. Aghnia Adini, perwakilan calon wisudawan, menyampaikan kesan pesannya selama menjadi mahasiswa di FISIP UMM. Ia mewakili kawan-kawannya bersyukur sudah bisa melalui proses belajar di FISIP dan bisa lulus meski dalam situasi yang berbeda. “Ada banyak kisah dan cerita yang telah kita lalui dalam proses pembelajaran di FISIP. Kondisi-kondisi istimewa menjadi hal yang akan menjadi sejarah dan kenangan tersendiri bagi kami semua. Bimbingan online, revisi online, sidang skripsi online bahkan mungkin nanti akan wisuda online. Bahkan saat ini saya yakin ada yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena mencari sinyal. Saya yakin ada yang senyum saat saya menyampaikan ini ya!” ucap Aghnia yang juga mengaku “mengungsi” ke kantor ayahnya agar mendapat sinyal WiFi yang stabil. Namun, lanjut Aghnia, perjuangan berbeda yang dilakukan ‘Wisudawan Jalur Corona’ ini akan membentuk diri wisudawan menjadi lebih tangguh. “Education is the passport for our future. Saya meyakini saat ini kita sedang mencetak paspor itu, yakini dengan iman, usahakan dengan ilmu, sampaikan dengan amal,” imbuh Aghnia. Dibalik layar yudisium daring FISIP di R.611 GKB 1 lantai 6 (foto by haryo) Ada yang menarik dalam yudisium kali ini. Selain ada kesan-pesan dari perwakilan mahasiswa, juga ada testimoni dari wali orang tua mahasiswa. Ibnu, wali dari calon wisudawan Rina Dwi Astika Dhuri, menyampaikan bahwa UMM adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia, akreditasi A yang dimiliki oleh seluruh prodi di FISIP menjadi bukti kualitas akademik yang dimiliki oleh FISIP UMM. Kesibukan tim lab Ikom dalam penyelenggaraan yudisium daring (foto by haryo) Dalam yudisium kali ini, ada dua mahasiswa dari Prodi Imu Kesejahteraan Sosial (IKS) dan satu mahasiswa dari Prodi Ilmu Pemerintahan yang meraih gelar wisudawan terbaik tingkat fakultas. Terbaik pertama diraih oleh Siti Nur Khatijah Ibrahim dari Prodi IKS dengan IPK 3,92, terbaik kedua dari Prodi Ilmu Pemeritahan, Nikmatul Aulia dengan perolehan IPK 3,92. Sedangkan terbaik pertama diraih oleh Rina Dwi Astika Dhuri dari Prodi IKS dengan IPK 3,93. (wnd)
Dosen FISIP Raih Gelar Dosen Berprestasi Tingkat UMMDosen FISIP Raih Gelar Dosen Berprestasi Tingkat UMM

Rabu, 20 Mei 2020 20:09 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Usianya masih relatif muda, 35 tahun. Namun dosen kelahiran Bengkulu yang saat ini menempuh program doctoral di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini memiliki prestasi membanggakan. Pada 19 Mei lalu ia dinyatakan sebagai peraih gelar terbaik ketiga Dosen Berprestasi tingkat universitas, sebuah gelar yang cukup prestisius di kalangan civitas akademika UMM. Gonda Yumitro,M.A, demikian nama lengkap dosen berprestasi yang berasal dari Prodi Hubungan Internasional ini. Gonda Yumitro, M.A, saat menerima penghargaan dosen berprestasi terbaik ketiga di aula BAU UMM (photo by humasUMM) Perjalanan untuk mengikuti seleksi dosen berprestasi tidak bisa disiapkan dalam cara instan. Universitas memiliki mekanisme tersendiri untuk menyeleksi melalui rekam jejak akademis yang dimiliki. “Sebenarnya saya tidak pernah membayangkan akan ikut seleksi dospres (dosen beprestasi, red) karena ya saya merasa belum banyak berprestasi dan masih harus berbuat lebih banyak lagi. Lalu saya dihubungi oleh Wadek 2 untuk mewakili FISIP. Baru ketika tes dospres baru saya tahu bahwa BPSDM mengundang saya mengikuti seleksi berdasarkan data record yang mereka miliki,” ujar ayah empat putri ini merendah. Ia mengaku tak punya target juara dalam seleksi dospres ini. “Saya sampaikan ke fakultas bahwa saya tidak bisa menjanjikan juara, namun jika diberi kesempatan untuk belajar di seleksi dospres ini, saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Alhamdulillah pihak dekanat memberi saya kesempatan. Jadi saya jujur tidak punya beban, jadi lebih mengalir gitu ya,” imbuhnya. Dosen yang juga aktif menjadi pendakwah di Kota Malang ini merupakan dosen yang cukup produktif dalam bidang riset. Lima tahun terakhir, ia memilliki 12 judul riset nasional dan internasional. Tahun lalu ia berhasil memperoleh Taiwan Fellowship dan membuat riset tentang TKI yang bertajuk ‘The Growing of Multiculturalism in Taiwan: Challenges and Future by the Rise of Muslim Indonesian Migrant Workers’. Gonda juga tercatat memiliki empat riset yang terindeks Scopus. Total ia memiliki 17 karya jurnal yang telah terpublikasi di sejumlah jurnal nasional dan internasional. Lulusan terbaik ketiga dari Department of Political Science Jamia Milia Islamia, India ini juga memiliki lima karya buku. Gonda menyelesaikan program masternya di India, di dua universitas sekaligus, di Departemen Ilmu Politik di Jamia Milia Islamia dan Departemen Hubungan Internasional di Annamalai University, India. Gonda Yumitro (nomor tiga dari kiri, koko hijau) bersama kolega di Prodi Hubungan Internasional Mengikuti seleksi dospres membuatnya mempelajari banyak hal. Khususnya saat ia mempresentasikan karya unggulan di depan sejumlah reviewer, ia mencatat beberapa hal penting terkait bagaimana seharusnya menjadi dosen yang berprestasi. Dosen berprestasi itu harus memiliki visi dan misi sebagai dosen untuk melakukan yang terbaik dalam semua bidang tri dharma perguruan tinggi. Selain itu seorang dosen dalam bidang keahliannya harus memiliki target, rencana, dan capaian untuk membangun legitimasi akademik sehingga bisa dijadikan rujukan keilmuan pada bidang kajian tertentu. “Oleh karena itu, idealnya seorang dosen harus punya roadmap penelitian. Selain itu yang tidak kalah penting adalah luaran dari kinerja akademik sebagai bukti bahwa dosen tersebut punya visi, misi dan kepakaran dalam bidang tertentu. Diantara bukti pengakuan tersebut, seorang dosen juga harus punya jaringan yang luas, syukur-syukur bisa mengakses riset nasional maupun internasional,”jelasnya. Ketika ditanya apa targetnya setelah mendapat gelar dosen berprestasi, Gonda mengaku secara pribadi ia berusaha untuk segera menyelesaikan disertasinya agar segera kembali mengabdi. Ia juga berharap bisa berkolaborasi dengan berbagai jejaring untuk membangun budaya akademik yang lebih baik. (wnd)
Berkah Pandemi, Prodi-Prodi di FISIP Gencar Gelar Webinar

Jum’at, 08 Mei 2020 12:02 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Menerobos image ‘’ruang gelap’’ di wilayah yang terkenal dengan syariat Islam-nya tentu bukan hal yang mudah. Ruang gelap adalah kesan yang muncul dari dunia bioskop atau perfilman di Aceh. Begitu yang disampaikan oleh Jamaluddin Phona, alumni Prodi Ilmu Komunikasi FISIP dalam webinar Berani Bikin Film yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi. Webinar Prodi Ikom, sharing session dengan alumni Jamaluddin Phona Dalam masa Covid-19 semua prodi di FISIP memang aktif “memanfaatkan” masa pandemi ini untuk mengadakan webinar atau seminar online. Selama masa pandemi ini, Prodi Ikom sudah mengadakan enam webinar yang dikemas dalam brand CommTalk. “CommTalk ini terbagi dalam tiga bagian yaitu expert sharing session yang mengundang dosen dan pakar, alumni sharing session dengan para alumni Ikom dan student sharing session. Bentuknya semua dalam bentuk diskusi online atau webinar,”tutur Widiya Yutanti, M.A, sekprodi Ilmu Komunikasi UMM. Masa pandemi ini memang menjadi berkah tersendiri, karena webinar dilakukan secara daring, mengundang para pakar pun menjadi lebih mudah. Selama masa pandemi ini, total sudah lima kali prodi Ikom menggelar webinar. Expert sharing session pertama diadakan pada Rabu 22 April 2020 lalu yang mengundang Muhammad Faisal, Kepala Sekolah Kembali ke Akar, Kandi Windoe,Directur NAVA+Group, dan Arum Martikasari, dosen Prodi Ikom. Expert sharing session itu bertema The New Normal di Indonesia sebagai Dampak Covid-19, membahas tentang apa saja yang akan menjadi fenomena baru dan dianggap normal pasca pandemi. “Pasca pandemi, brand akan kembali mengadopsi kearifan lokal, sebab dengan adanya pandemi ini semua orang kembali ke rumah, kembali ke kebiasaan-kebiasaan tradisional. Oleh karena itu brand harus menyesuaikan pada aspek kelokalan ini,”ujar Kandi Windoe, salah satu pembicara. Tak hanya Prodi Ikom yang mengadakan alumni sharing session, prodi Hubungan Internasional juga mengadakan kegiatan sharing dengan alumni yang bertajuk Alumni Kembali.Pada 25 April lalu HI mengundang Faikha Fairuz Firdausi, alumni HI angkatan 2010, peraih beasiswa Erasmus Mundus. Pada 9 Mei besok, HI juga berdiskusi online tentang bagaimana rasanya menjadi local staff di KBRI Brussel-Belgia bersama Feri Wahyuda, alumni HI UMM 2011 yang menjadi staf KBRI Brussel, Belgia. Baca juga : Upgrade Skill Riset, FISIP Adakan Pelatihan Nvivo 12 Plus Webinar Lab Kesos FISIP, mengudang empat narasumber Prodi Ilmu Pemerintahan juga mengemas webinar dalam format Alumni Bicara dan Serial Diskusi. Dua alumninya yang bekerja pada Biro Pemenuhan Hak Saksi dan Korban Republik Indonesia dan sebagai staf di Kementerian PPN/Bappenas RI diundang dalam dua sesi berbeda pada kegiatan Alumni Bicara. “Serial diskusi melibatkan dua pakar, satu dari pakar eksternal, satu dari dosen internal. Pada 29 April lalu kami mengundang Pak Khrisno dosen IP dan lurah Purwodadi kota Malang untuk berbicara tentang optimalisasi pemerintahan desa kelurahan dalam penanganan covid-19 di Indonesia,”ujar M. Kamil, Kaprodi IP. Peluang dan tantangan menjadi pekerja sosial supervisi di era disrupsi ini juga menjadi sebuah topik seksi yang dibahas oleh Laboratorium Kesejahteraan Sosial. Prodi KS pada 6 Mei lalu juga mengundang empat narasumber dalam webinar tersebut. (wnd)
Upgrade Skill Riset, FISIP Adakan Pelatihan NVivo 12 Plus

Rabu, 29 April 2020 17:05 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sejumlah dosen FISIP UMM hari ini mengikuti pelatihan NVivo 12 Plus. Meski masih dalam suasana pandemi, namun semangat para dosen untuk mengupgrade keilmuan tak terbendung. Dengan tetap menjaga physical distancing dan menerapkan protokol pencegahan COVID-19 sesuai standar WHO, pelatihan NVivo 12 Plus hari ini sukses digelar di Selasar Point GKB 1 Lantai 6. Pelatihan di selasar ini relatif aman karena berada di space terbuka dan berjarak cukup. Taat protokol physical distancing, pelatihan NVivo 12 Plus bersama Salahudin, M.Si, M.PA (foto by: Bu Dyah Estu) “NVivo ini memudahkan peneliti untuk mengolah data. Data yang ribuan itu bisa dikelola menjadi temuan menarik dalam waktu relatif singkat,”ungkap Salahudin, M.Si,M.PA, dosen Ilmu Pemerintahan yang menjadi trainer dalam pelatihan NVivo 12 Plus ini. Menurut dosen alumni Khon Kaen University Thailand yang kini sedang menyelesaikan program doktoral di UMY ini, NVivo 12 Plus sudah dapat mendukung pengelolaan data riset metode campuran (kualitatif dan kuantitatif). Baca juga: SIdang Skripsi Ala FISIP Di Tengah Isu Covid-19 NVivo memang sebuah aplikasi, ia merupakan alat bantu. Untuk bisa mengolah data dengan aplikasi in syaratnya tentu user harus paham dan biasa melakukan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.Sebab pemahaman kita terkait data yang sedang diolah akan menentukan apakah pengelolaan data yang dilakukan menggunakan NVivo benar atau salah. Aplikasi ini awalnya dikembangkan pertama kali oleh Tom Richards di Universitas La Trobe, Melbourne, Australia yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh istrinya, Lyn Richards sebagai aplikasi untuk penelitian ilmu sosial. Pada tahun 1995, kedua pasangan suami istri penemu NVivo tersebut membangun QSR Internasional dan merilis versi pertama NVivo pada tahun 1999. Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si, berharap melalui pelatihan ini para dosen bisa berkolaborasi untuk melakukan penelitian khususnya yang terkait Covid-19. “Saya harap kita bisa menjadi bagian dari solusi pandemi ini, kita bisa membuat kolaborasi riset terkait covid-19 dalam sudut pandang ilmu sosial tentunya. Setelah kita belajar aplikasi ini saya harap bisa menjadi sarana yang memudahkan kita menganalisis data,” ujar Rinikso. (wnd)