Buat Gerakan Peduli Lingkungan, Mahasiswa FISIP Kolaborasi dengan Gerakan Pemuda Ansor

 Senin, 27 Juli 2020 11:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Mewujudkan cita-cita Muhammadiyah untuk Bangsa, sekelompok mahasiswa UMM yang mengikuti Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) menggandeng organisasi pemuda GP Ansor untuk lebih peduli pada lingkungan. Kelompok 6 PMM yang diketuai oleh mahasiswa FISIP ini mengusung tema pendampingan pengelolaan sampah dan kotoran hewan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kelompok 6 menggandeng GP Ansor Banyuanyar, kec. Kalibaru kab Banyuwangi. Program PMM ini merupakan kegiatan pengganti KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang berada dibawah naungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM dan terdiri dari berbagai macam skema yang salah satunya adalah PMM Bhaktimu Negeri yang diikuti oleh kelompok 6 ini. Kolaborasi Kelompok 6 Tim PMM UMM dengan GP Ansor Banyuanyar      M. Rifqi Nurdiansyah, ketua kelompok 6 mengatakan timnya menginginkan ada sebuah organisasi di desa Banyuanyar yang memperhatikan permasalahan sampah. Salah satu sasaran yang tepat adalah para sahabat pemuda Ansor Banyuanyar.  “Selama ini sampah selalu diabaikan oleh masyarakat desa Banyuanyar, maka perlu adanya sebuah organisasi untuk merubah pola pikir masyarakat dan mengelola sampah menjadi hal yang bermanfaat,”ujarnya. Tim PMM kelompok 6 ini beranggotakan lima mahasiswa yang berasal dari berbagai prodi di UMM.      Mahasiswa PMM ini berkeinginan untuk membuat perubahan di desa Banyuanyar menjadi desa yang bersih dari sampah. Tidak hanya bersih, akan tetapi sampah juga dikelola menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Dari hal inilah, maka perlu adanya sebuah gerakan dari organisasi untuk menjalankannya. Melalui gerakan pengelolaan sampah ini, selain bermanfaat untuk menjaga kebersihan lingkungan, hasil dari pengelolaan sampah dapat menjadi tambahan untuk kegiatan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. “Memang masyarakat Banyuanyar banyak sekali yang belum sadar akan sampah, dan selama ini sedikit sekali yang memperhatikannya,”ungkap Mukhlas, Pengurus GP Ansor Banyuanyar, seperti yang tertulis yang dikirim ke Humas FISIP.      Rencana kegiatan yang ditawarkan oleh PMM kelompok 6 ini adalah mengelola sampah organik dengan alat Komposter, mendirikan Bank Sampah, dakwah lingkungan dan berternak maggot. “Ini merupakan ide kegiatan yang menarik, insyaallah kami akan coba untuk menjalankan beberapa saran dari Mahasiswa PMM UMM ini dalam rangka ikut menyelesaikan permasalahan sampah,”ungkap pengurus yang lain. (wnd)

Humor Itu Serius

 Kamis, 23 Juli 2020 15:40 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Humor adalah sesuatu hal yang sangat serius. Ia bukan sekedar guyonan santai pepesan kosong. Dalam konteks komunikasi, humor diciptakan dari sesuatu yang panjang, berdasarkan riset dan bisa menimbulkan efek yang serius. Hal ini disampaikan oleh Sugeng Winarno, M.A, dosen FISIP UMM dalam Expert Sharing Session, event diskusi daring yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi pada Kamis (23/7). Talkshow yang bisa disimak melalui youtube streaming Laboratorium Ilmu Komunikasi ini mengangkat tema bagaimana  humor dan kritik satire yang bermunculan pada masa pandemi. Sugeng Winarno, M.A, berbicara dalam Expert Sharing Session      Dalam diskusi berdurasi 90 menit tersebut, Sugeng menuturkan bahwa humor ini ternyata memiliki fungsi yang tak sederhana. “Dalam konteks komunikasi, kehadiran humor bisa memuluskan penyampaian informasi. Pesan yang dikemas melalui humor biasanya lebih mudah diterima oleh penerima pesan, dan prosesnya harus pas, tidak too much. Itulah mengapa humor ini sebenarnya adalah sesuatu yang serius karena ia memiliki fungsi yang penting dalam interaksi,” jelas dosen Ikom yang juga menjabat sebagai Kepala Humas UMM ini.      Humor juga melekat pada identitas kultural suatu daerah. Sugeng mencontohkan seorang professor komunikasi pernah meminta mahasiswanya untuk menyajikan humor khas dari daerahnya. Dari penugasan tersebut, ternyata terkumpul 100 humor yang berbeda dari berbagai daerah.  Hal ini menunjukkan bahwa lokalitas humor bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan komunikasi dengan pendekatan kearifan lokal. “Pesan akan lebih mudah dipahami, karena komunikan atau penerima pesan daerah setempat familiar akan humor tersebut,”imbuhnya. Misalnya saja humor yang disajikan Kartolo, pelawak Jawa Timur. Pesan-pesan baik berupa kritik atau himbauan yang disajikan Kartolo akan lebih mudah diterima warga Jawa Timuran daripada provinsi lain, disebabkan oleh unsur lokalitas humor Kartolo yang “sangat Jawa Timur”.     Dalam kondisi pandemi saat ini, Sugeng mengamati banyak sekali humor dan kritik satire yang muncul. Misalnya saja istilah lockdown yang dipelesetkan menjadi lauk daun, fenomena Youtuber Ucup Klaten yang viral dengan Mbah Minto-nya, dan sosok-sosok entertainer baru lainnya menunjukkan bahwa  humor sebenarnya bisa membangun optimism dalam situasi pandemi. Terbukti, meski kondisnya menyedihkan, namun masyarakat masih bisa tertawa dan menertawakan kondisinya.     Host acara tersebut, Radityo Widiatmojo sempat menanyakan, sebenarnya darimana asal istilah humor? Sugeng menjelaskan humor muncul dari bahasa latin yaitu umor yang artinya carian. Pada dasarnya manusia memiliki empat cairan yang berbeda-beda kadarnya dalam tubuhnya. Keempat cairan itu adalah darah, lendir, empedu kuning, empedu hitam. Cairan darah mengarah ke kebahagiaan, lendir mengarah pada ketenangan, empedu kuning kemarahan, dan empedu hitam pada kedukaan.      Humor diyakini muncul sejak adanya bahasa, ia tumbuh melalui symbol-simbol dan pesan komunikasi. Humor bisa multifungsi, tak sekedar menghibur, humor juga bisa menjadi sarana untuk mengkritik. Masih ingat stand up comedy Bintang Emon yang mendapat sorotan publik? Humor sebenarnya adalah bagian dari demokrasi  sebab humor bisa menjadi perantara dari penyampai aspirasi. Seorang comedian Amerika pernah mengatakan If everything goes well there is nothing funny. “ Artinya humor sebenarnya muncul dari sesuatu yang tidak ideal, bersumber dari kegelisahan masyarakat. Bahkan dulu di era Gus Dur, Bagito Grup pernah diminta presiden Gus Dur untuk terus mengkritik pemerintah melalui humor-humor yang dibawakan. Karena kritik tersebut adalah bagian dari demokrasi, penyeimbang kebijakan pemerintah,”jelas Sugeng.      Namun ketika menyajikan lelucon, Sugeng berpesan, seorang komunikator atau penyampai pesan harus memperhatikan siapa audiensnya. Humor untuk audiens yang homogen tentu berbeda dengan humor untuk audiens yang heterogen. Misal menyajikan lelucon di depan anggota dewan versus di depan penonton pasar malam yang heteregon tentu berbeda. (wnd)

Libatkan 250 Penulis, Prodi Ilmu Komunikasi Launching Sepuluh Buku Mahasiswa

 Kamis, 16 Juli 2020 12:42 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh FISIP UMM adalah memfasilitasi pemberdayaan literasi tak hanya untuk dosen namun juga mahasiswa. Di FISIP, tak hanya dosen yang memiliki buku, mahasiswa di FISIP juga bisa menulis bukunya sendiri. Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM hari ini baru saja melaunching sepuluh buku baru karya mahasiswa. Acara launching digelar secara daring melalui tayangan Communication Talk Expert Sharing Session yang dapat disimak melalui akun youtube Laboratorium Ilmu Komunikasi. Agenda Expert Sharing Session ini tak hanya menghadirkan salah satu penulis, Chano Paramita, namun juga menghadirkan dosen yang memotivasi penerbitan kesepuluh buku ini, Nurudin, M.Si. Suasana Expert Sharing Session yang dimoderatori oleh dosen Prodi Ikom, Novin Wibowo (paling kanan)      Expert Sharing Session yang berjudul Rahasia Menulis Buku Mahasiswa ini mengulas tuntas bagaimana cara membuat buku mahasiswa. Di Prodi Ilmu Komunikasi,  mahasiswa menerbitkan buku, bukanlah sesuatu yang asing. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh mahasiswa. Ada yang buku karya pribadi, artinya ditulis oleh satu orang mahasiswa, ada juga yang berupa buku bunga rampai. Sepuluh buku mahasiswa yang baru dilaunching Prodi Ilmu Komunikasi adalah jenis buku bunga rampai. Judulnya antara lain Independensi Media Itu Omong Kosong ; Peradaban Media Sosial di Era Industri 4.0; Media dan Perkembangan Budaya; Media Kiblat Baru Politik Indonesia ; dan Relasi Kuat Antara Generasi Millenial dan Media. Kelima judul lainnya adalah Teori Komunikasi Massa dan Perubahan Masyarakat; Literasi Media dan Peradaban Masyarakat; Terpenjara Komodifikasi Media; Media Sosial, Identitas, Transformasi dan Tantangannya serta buku berjudul Kebebasan Media Mengancam Literasi Politik. Penulisan sepuluh buku ini melibatkan tak kurang dari 250 mahasiswa dari enam kelas mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu oleh Nurudin. Baca juga : Terbitkan Buku Ke-21, Upaya Promosi Kampus Ala Nurudin      Nurudin juga berbagi rahasia bagaimana agar mahasiswa berhasil membuat buku. Ia mengaku tidak membatasi opini yang ingin ditulis oleh mahasiswa. Ia membebaskan mahasiswa untuk menulis apapun, asal bisa dipertanggungjawabkan. Untuk bisa menulis buku yang baik, inventarisasi ide menjadi hal yang krusial. Terkait mengelola ide ini, Wicha Mashita, salah satu penyimak Expert Sharing Session menanyakan bagaimana caranya membendung ide yang meluap-luap. Nurudin menjawab outline menjadi hal yang penting. Selain itu ia terbiasa menyusun daftar isi di awal, meskipun pada akhirnya daftar isi itu akan berubah-ubah. Sedangkan menurut Chano, jika memiliki ide menarik tentang sesuatu ia terbiasa mencatatnya dalam buku kecil. “Saya selalu mencatat ide-ide yang melintas di buku khusus. Jadi nanti kalau misal mau nulis sesuatu saya tinggal melihat catatan tersebut dan mengembangkannya,”ungkap Chano. Chano Paramita dan Nurudin, M.Si dalam Expert Sharing Session, Kamis (16/7)      Di akhir sesi sharing session tersebut, Chano berpesan dengan mengutip kalimat Ali Bin Abi Tholib,” Ikatlah ilmu dengan menulis. Masa pandemi ini sebenarnya adalah kesempatan untuk lebih produktif, khususnya menulis. Kalau kita dalam tiga menit bisa menulis caption untuk WA Story atau status facebook, mengapa tidak kita manfaatkan untuk menulis karya yang lebih bermanfaat untuk orang lain?” pesan Chano. Nurudin menambahkan dengan pesan andalannya,”Publikasikan atau menyingkirlah!,” tutup Nurudin. (wnd)

Terbitkan Buku Ke-21, Upaya Promosi Kampus Ala Nurudin

 Senin, 13 Juli 2020 12:12 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      “Kampus saya, sandaran hidup. Salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk promosi kampus adalah dengan menulis buku,”ucap Nurudin, M.Si, dosen FISIP UMM yang saat ini tengah menyelesaikan studi doktoralnya itu. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini baru saja menerbitkan bukunya yang ke-21 ini. Buku setebal 214 halaman ini diberi judul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. Buku yang dibandrol penerbit Prenada seharga Rp 60.000 ini bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dan dapat juga dibeli secara online. Nurudin, M.Si bersama karyanya, penulis produktif yang juga staf pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM      Menurut Nurudin, buku ini berbeda karena banyak menyoroti kebijakan pemerintah. “Saya itu konsisten sejak menulis tahun 1991. Konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejak dahulu. Saya yakin pasti ada kekurangannya. Saya kadang tak peduli dianggap haters. Tetapi saya tetap konsisten. Ini bukan soal kubu-kubuan. Tidak ada hubungannya. Boleh dilihat tulisan-tulisan saya dahulu. Sebab dimanapun dan kapanpun pemerintah membutuhkan kritik,” ungkapnya. Kritik ini menurut Nurudin adalah sebuah masukan, karena tanpa menilai kritik sebagai masukan, kritik selamanya akan dianggap sebagai rongrongan. “Kritik tetaplah kritik yang punya takdirnya sendiri,”imbuhnya.      Tak hanya sebagai sumbangsih masukan untuk pemerintah, bagi Nurudin, menulis adalah caranya promosi kampus. Dosen yang sudah mengabdikan hampir separuh usianya di kampus ini mengakui bahwa UMM adalah sandaran hidup. Salah satu cara membantu mempromosikan kampus yang ia banggakan adalah dengan menulis buku. Tak hanya menulis buku, ia juga kerap ‘memprovokasi’ mahasiswa untuk semangat menuliskan karyanya. Pada Kamis (16/7) nanti, ia bahkan akan melaunching 10 buku karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi hasil “provokasi’’nya.      Judul bukunya yang unik ini, Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus, punya latar belakang tersendiri. Buku ini sebenarnya adalah hasil pengamatan Nurudin atas fenomena komunikasi politik yang selama ini terjadi. Ia menilai, seperti ada ketidaktulusan dalam berkomunikasi. Tidak tulus ini tidak hanya terjadi di masyarakat, tetapi juga pemerintah. Misal, masyarakat saling caci, kubu-kubuan. Seolah kelompok dirinyalah yang paling benar. Buntutnya saling menyalahkan. Menurutnya, itu adalah bentuk komunikasi tidak tulus. Lalu ia juga menilai, pemerintah juga tidak tulus. Misalnya membuat kebijakan tidak tegas. “Lihat kasus covid-19. Betapa karut-marutnya komunikasi pemerintah sejak awal muncul. Tak ada sinkroniasi antar lembaga. Ini kan tidak baik bagi proses kebijakan. Hasilnya? Saat negara lain sudah turun yang terkena wabah, kita masuk melaju,”kritiknya. Buku terbaru Nurudin berjudul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus      Dikenal sebagai dosen yang sangat produktif menulis, bukan berarti ia tak menemukan kebosanan dalam membuat karya. Sebab diakuinya menulis itu capek dan membutuhkan konsentrasi tinggi, juga monoton. Dia membagi tips bagaimana melawan kebosanan tersebut. Ia menyarankan untuk menulis dengan cara mencicil, tidak perlu sekaligus. Saat sibuk, ia biasakan untuk menulis satu halaman, biasanya ia menuliskannya di handphone. Penting baginya untuk tetap menulis. Pokoknya menulis, begitu prinsipnya. Sebab ia meyakini bahwa setiap tulisan punya pasar pembaca sendiri-sendiri. Ia juga meyakini bahwa dengan menulis adalah cara untuk menebar kemanfaatan. “Karena saya mampunya menulis, jadi saya berusaha konsisten untuk menulis. Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa dengan menulis saya bisa membantu mengenalkan tak hanya keilmuan komunikasi namun juga mempromosikan kampus ke khalayak luas,”tuturnya. (wnd)

Pakar Gender dan Isu Perempuan FISIP Soroti Polemik RUU PKS

 Kamis, 09 Juli 2020 23:12 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau lebih sering disebut dengan singkatan RUU PKS sedang menjadi polemik karena perjuangan panjangnya seperti jalan di tempat. Padahal RUU ini diharapkan mampu menjadi titik terang penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual yang mayoritas dialami perempuan. Pakar gender dan isu perempuan FISIP UMM pada Kamis (9/7), Luluk Dwi Kumalasari, M.Si diundang untuk mengupas tuntas terkait isu polemik RUU PKS dalam forum UMM Talks. Kegiatan yang bisa diikuti melalui berbagai platform media ini membahas persoalan  RUU yang dinilainya carut marut tersebut. Luluk Dwi Kumalasari, M.Si, pakar gender dan isu perempuan FISIP UMM dalam UMM Talks Kamis (9/7)      Menurut dosen Prodi Sosiologi ini, RUU PKS harus segera diselesaikan dan disahkan karena persoalan kekerasan seksual di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Data terbaru Komnas Perempuan mencatat bahwa saat ini sudah lebih dari 341.000 kasus kekerasan seksual di Indonesia. “Oleh karena itu, penyelesaian kasus kekerasan seks harus diperjuangkan karena tiga alasan. Pertama, kekerasan kan memang harus dihapuskan,kedua  perempuan yang mayoritas menjadi korban harus mendapat perlakuan adil, dan yang ketiga hal ini berkaitan dengan kesetaraan gender,”ungkap kandidat doktor Sosiologi Universitas Brawijaya tersebut.      Kekerasan seksual sebenarnya adalah sebuah term yang cukup luas definisinya. Luluk menilai, RUU PKS ini sudah cukup rinci menjelaskan apa definisi dari kekerasan seksual tersebut. Ia mengambil contoh di pasal 11, dijelaskan bahwa konsep kekerasan seksual, bukan sekedar permasalahan menyentuh tubuh atau melukai tubuh perempuan. “Ketika terjadi tindakan merendahkan orang lain, menyerang hasrat seks seseorang, kekerasan pada fungsi reproduksi seseorang juga termasuk kekerasan seksual. Bahkan kekerasan seksual tidak hanya terjadi di ranah yang tertutup, ruang publik yang dianggap aman karena banyak orang melihat pun bisa menjadi sarana terjadinya kekerasan seksual,”jelasnya.  Masa pandemi seperti sekarang ini juga dapat membuat kasus kekerasan makin menggendut. Ketika orang lebih banyak di rumah di masa pandemi, data menyebutkan bahwa kekerasan di ranah domestik justru meningkat. “Orang terdekat pun yang harusnya menjadi support system teraman ternyata malah menjadi orang yang berbahaya dan melakukan tindakan kekerasan seksual,”imbuhnya.       Pentingnya perhatian pada kasus kekerasan seksual ini juga dilatarbelakangi oleh efek yang bisa ditimbulkan. Korban kekerasan seksual tidak hanya mengalami permasalahan fisik dan psikis, namun juga beban sosial. Luluk menyebut, kondisi kultural di masyarakat jika terjadi tindak kekerasan seksual misal perkosaan maka pemerkosa harus bertanggungjawab dengan menikahi korban. Padahal menurutnya hal itu sangatlah tidak adil jika korban perkosaan harus menikah dengan orang yang menyakitinya, namun inilah yang terjadi pada kebiasaan masyarakat kita. Baca juga :  Pakar Gerakan Sosial FISIP Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19       Persoalan masa lalu yang bersifat traumatis bisa menjadi pencetus seseorang melakukan tindakan kekerasan gender.  Selain itu, fakta bahwa meningkatnya tingkat perceraian ternyata juga tidak lepas dari faktor ketidakpahaman pada kesetaraan gender dan ketidaksadaran tentang definisi kekerasan seksual. Oleh karena itu, selain melalui pengesahan RUU PKS ini, pendidikan kesetaraan gender menjadi hal penting sebagai bagian solusi pencegahan kekerasan seksual. Bentuk pendidikan kesetaraan gender bisa dilakukan  dengan adanya pelibatan atau partisipasi pada forum atau lembaga tertentu yang memfasilitasi pemahaman kesetaraan gender. Edukasi terkait kesetaraan gender perlu diajarkan sejak dini, bahkan bisa dilakukan sejak anak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Diharapkan, dengan pengenalan edukasi kesetaraan gender ini akan terbentuk pemahaman kesetaraan gender yang akan membekali generasi muda dalam bersikap di lingkungannya. (wnd)

Genjot Publikasi Internasional, 10 Paper Mahasiswa IP Lolos di Jurnal Terindeks Tier 2

 Rabu, 08 Juli 2020 22:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Kabar membahagiakan datang dari Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM. Sebanyak 10 karya ilmiah mahasiswa tembus di beberapa jurnal di Thailand yang terindeks Tier 2 oleh TCI (Thai-Journal Citation Index Center). Perlu diketahui TCI adalah lembaga pengindeks karya ilmiah yang menentukan kualitas publikasi yang dihasilkan oleh sebuah lembaga. Di Indonesia, TCI ini seperti SINTA, hanya saja TCI ini lebih ‘senior’.  Kesepuluh mahasiswa yang lolos di jurnal Tier 2 ini merupakan sebagian dari mahasiswa yang mengikuti Student Exchange Program di Khon Kaen University, Thailand. Hal ini merupakan wujud dari upaya internasionalisasi prodi IP yang telah diawali sejak tahun 2016 lalu. Kaprodi llmu Pemerintahan, Muhammad Kamil, M.A mengatakan ada 15 mahasiswa IP yang mengikuti program pertukaran pelajar ini. “Disana mereka tidak sekedar belajar, namun juga membuat riset dan melakukan KKN tematik internasional. Kami juga sedang menunggu kabar empat naskah lain yang sedang kami ajukan ke jurnal internasional terindeks Scopus, semoga ada kabar baik,”ungkap kaprodi termuda di FISIP UMM ini. M. Kamil, M.A, Kaprodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM      Kesepuluh mahasiswa IP yang berhasil menembus jurnal terindeks Tier 2 ini diantaranya adalah Ardika Rizkian Nurrahmat, Vanni Tara Kartika, Riko Ratna Setiawan, Rezkita Bagas Prakasih, Imam Yusuf Abdulah dan Maulana Ilham Putra Resgi yang berhasil meloloskan karya ilmiahnya di Journal of Social Science for Local Rajabhat Mahasarakham University Vol. 4 No. 1. Riyo Rachman Gushardana dan Amirah Zahidah berhasil menembus Journal of Local Governance and Innovation Vol.4 no.1 sedangkan Ibnu Zihab Amrullah dan Sandy Putra Ghozali berhasil lolos di Journal of Legal Entity Management and Local Innovation vol.6 no. 2. Semua jurnal tersebut terakreditasi dan terindeks Tier 2 oleh TCI. Ucapan selamat untuk salah satu mahasiswa yang lolos jurnal di Thailand di akun instagram @prodiipumm      Sandy Putra Ghozali, mahasiswa IP angkatan 2017 mengkaji sebuah riset yang berbasis pada studi kasus di dua negara yaitu Indonesia dan Thailand. Risetnya ia beri judul Civil Society Participation in Efforts to Uphold Democracy Under Authoritarian Regimes: A Case Study of Thailand and Indonesia. Menariknya, paper yang dipublikasikan pada 29 April tersebut dibimbing oleh kolaborasi dosen UMM dan dosen Khon Kaen University. “Jadi saya dibimbing intensif selain oleh pak Kamil dan pak Saiman (dosen IP, red) juga oleh Siwach Sripokangkul, dosen di College of Local Administration, Khon Kaen University. Tantangannya selain harus menemukan isu yang menarik juga paper saya dan teman-teman ini semuanya harus ditulis dalam Bahasa Inggris,” ujar Sandy yang mengikuti program student exchange di Thailand selama empat bulan ini. Kamil juga mengakui bahwa tidak mudah untuk tembus jurnal di Thailand apalagi terindeks TCI. “Mereka jatuh bangun menulis itu (paper, red), banyak juga yang mau menyerah. Namun saya terus motivasi mereka agar tetap melanjutkan projectnya. Sebelum mereka berangkat ke Thailand, saya dampingi mereka untuk menyusun isu riset setiap hari Kamis secara kontinyu. Lalu saya mengarahkan arah penulisannya. Selanjutnya ketika mereka di Thailand, ada kolaborasi pendampingan oleh dosen Khon Kaen University,”jelasnya. Terkait prestasi mahasiswa-mahasiswa tersebut, Kamil berjanji akan memberikan apresiasi. Beberapa artikel yang memenuhi syarat akan diekuivalensi ke karya pengganti skripsi sesuai arahan rektor yang tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Ekuivalensi Karya Kreatif dan Inovatif Mahasiswa ke Dalam Kegiatan Kurikuler. Hingga saat ini di Prodi Ilmu Pemerintah, sudah ada 29 karya ilmiah yang diekuivalensi sebagai tugas akhir karya pengganti skripsi.(wnd)

FISIP Loloskan Tiga Tim Finalis di Lomba PKM GT dan Poster 2020

 Selasa, 07 Juli 2020 11:11 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      FISIP berhasil meloloskan tiga tim andalannya dari 39 Tim FISIP yang mengkuti lomba PKM Gagasan Tertulis dan Poster yang digelar LLDikti baru-baru ini. Event bergengsi yang menjadi bagian dari rangkaian lomba tahunan Program Kreativitas Mahasiwa (PKM). Meski belum berhasil menjadi juara, namun tim perwakilan dari prodi Sosiologi, prodi Hubungan Internasional, dan prodi Ilmu Komunikasi berhasil menjadi finalis. Dari 25 kampus yang lolos sebagai finalis di lomba PKM GT dan Poster, UMM merupakan kampus dengan jumlah finalis terbanyak, yakni sebanyak 21 tim finalis. Bahkan salah satu tim delegasi UMM berhasil meraih salah satu juara dalam lomba tersebut.      Lomba PKM GT dan Poster tahun ini bertema belajar dari covid-19. Para peserta ditantang untuk membuat gagasan orisinil, inovatif dan solutif agar mampu memberikan solusi bagi pendidikan tinggi khususnya dalam proses pembelajaran di masa pandemi. Luaran dari lomba ini berupa artikel ilmiah yang memuat konsep perubahan atau pengembangan yang divisualkan melalui poster. Dua tim FISIP yang lolos menjadi finalis tersebut menawarkan solusi yang cukup kreatif. Tim dari Prodi Ilmu Komunikasi yang terdiri dari Lintang Mayang, Azzahra Cahyani Putri dan Dio Bayu Saputra, membuat gagasan terkait starter pack belajar mandiri di masa pandemi. Mereka membuat gagasan agar dosen perguruan tinggi membuat e-book modul bahan ajar yang dikombinasikan dengan tiga sistem pembelajaran jarak jauh. Selain itu tim Lintang Mayang dkk menawarkan solusi pembentukan posko belajar dan pengadaan kartu bebas sewa untuk mengatasi ketidakmerataan akses internet di Indonesia. Salah satu poster yang lolos sebagai finalis di PKM GT dan Poster LLDIKTI 2020      Sementara itu tim PKM GT dari prodi Sosiologi yang terdiri dari Zikri Prismadani, M .Syarif Firmansyah dan Farhan Fuadi  mengajukan judul Penggunaan Platform Pembelajaran Daring dalam Negeri untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Perguruan Tinggi. Sedangkan tim PKM GT dari Prodi Hubungan Internasional tak kalah kreatif, mereka mengusung judul Alternatif E-learning berbasis Hybrid Course sebagai Inovasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi Covid-19. Tim HI yang digawangi oleh Ramadhan Dwi Januarfitra dan Aurora Aziz More ini menawarkan solusi hybrid course adalah kombinasi antara face to face classroom instruction dengan online learning.      Wakil Dekan III FISIP UMM, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan dirinya sangat bangga FISIP masih memiliki antusiasme yang tinggi pada lomba PKM, tak terkecuali PKM GT dan Poster ini. Untuk tim yang lolos sebagai finalis, Zen mengaku fakultas akan memberikan apresiasi berupa sertifikat dan bantuan biaya pendidikan kepada para finalis. Sedangkan yang belum lolos juga tetap mendapat apresiasi berupa sertifikat. “Semangat para mahasiswa ini harus diapresiasi. Saya senang meski tidak lolos juara, namun menjadi finalis itu juga tidak mudah. Banyaknya partisipasi yang mengikuti PKM GT ini menjadi satu indikasi meski di tengah pandemi, namun semangat belajar mahasiswa tidak surut,”ujarnya. (wnd)

Pakar Gerakan Sosial FISIP Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19

 Selasa, 07 Juli 2020 09:47 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Isu kontribusi pada pencegahan covid-19 masih menjadi fokus perhatian FISIP UMM dalam Webinar Sosiologi  dalam  Seminar Nasional yang digelar oleh FISIP Unsri pada hari ini, Selasa 7 Juli 2020 melalui aplikasi zoom. Pakar gerakan sosial FISIP UMM, Dr. Oman Sukmana, M.Si, didapuk menjadi salah satu pembicara utama dalam webinar tersebut. Kaprodi Kesejahteraan Sosial tersebut membawakan topik Gerakan Sosial Masyarakat Pedesaan dalam Melawan Covid-19. Diikuti oleh sekitar 110 peserta dari seluruh Indonesia, Oman memaparkan bagaimana gerakan sosial berkontribusi dalam melawan covid-19. Dr. Oman Sukmana, M.Si, pakar gerakan sosial FISIP UMM menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional yang diadakan Unsri (7/7/2020)      Ada banyak jenis gerakan sosial. Tidak selamanya gerakan sosial itu berperspektif negatif, misalnya identik dengan perlawanan atau pemberontakan tentang suatu hal. Gerakan sosial berbasis kesadaran, peduli pada orang lain, adalah ciri khas new social movement. Sedangkan gerakan sosial yang cenderung dalam konteks melawan atau memberontak, adalah tipe gerakan sosial yang lama alias old social movement. Di sisi lain perilaku kolektif yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tidak selalu merupakan sebuah gerakan sosial, faktor pembedanya adalah masalah durasi. Jika aksi tersebut bertahan lama itu adalah sebuah gerakan sosial, jika sementara bisa jadi itu hanya perilaku kolektif.      Sebagai bagian dari masyarakat, masyarakat pedesaan ternyata juga memiliki peran penting dalam melawan penyebaran covid-19. Jamak kita ketahui,  melalui pemberitaan media sosial, banyak desa yang kemudian membatasi akses masuk desa dan mengkarantina pendatang. Bahkan tingkat kewaspadaan terhadap orang lain menjadi meningkat selama masa pandemi ini. Dalam konteks melawan Covid-19, apakah masyarakat pedesaan tersebut melakukan gerakan sosial atau hanya sekedar perilaku kolektif?      Menurut Oman, gerakan sosial masyarakat pedesaan sudah melebih perilaku kolektif karena diorganisir, ada pertimbangan masyarakat untuk melakukan sesuatu dan bertahan lama. Ini sesuai dengan ciri khas gerakan sosial. “Masyarakat pedesaan melakukan aksi bersama dalam melawan covid-19 sebenarnya bisa dipahami dalam berbagai perspektif teoritik, mobilisisasi sumber daya dan new social movement theory berbasis teori identitas. Jika kita ingin aksi kolektif masyarakat menjadi sebuah gerakan sosial yang berhasil, ada sejumlah faktor determinan yang harus dikuatkan,”ungkap Oman Sukmana.      Ia menyebut harus ada tindakan pengorganisasian gerakan sosial, harus adaleader atau aktor, juga harus ada mobilisasi sumber daya misalnya finansial juga aspek pengetahuan dan hal-hal yang mendukung gerakan. “Selain itu juga harus ada partisipasi dari partisipan gerakan . Selain faktor determinan tersebut juga perlu memperhatikan aspek identitas kolektif, solidaritas dan komitmen dari masyarakat pedesaan. Selama ini kan ada indikasi masyarakat yang merasa sehat itu tidak terlalu peduli dan cenderung merasa dirinya baik-baik saja. Ini menunjukkan solidaritas di kalangan masyarakat yang kurang maksimal, khususnya masyarakat yang merasa sehat untuk membangun solidaritas pada masyarakat lain,”imbuhnya. Namun Oman mengkritik, meski tindakan aksi masyarakat pedesaan ini sudah menjadi sebuah gerakan sosial, namun kesadaran kolektif masyarakat masih kurang sehingga perlu dimaksimalkan. (wnd)

FISIP Terjunkan 15 Personel Dosen Untuk Sambut Peserta UTBK di UMM

Senin, 06 Juli 2020 08:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik        Hospitality atau keramah-tamahan menjadi pedoman civitas akademika FISIP UMM dalam berelasi. Tak terkecuali ketika dalam beberapa hari ini, semenjak Minggu (5/7), Tim Penerimaan Mahasiswa Baru FISIP UMM menyambut para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang. FISIP yang menerjunkan 15 personel dosen yang tergabung dalam Tim PMB Fakultas sigap melayani para peserta yang hendak melaksanakan ujian. Achmad Apriyanto, salah satu anggota tim PMB FISIP, sigap layani peserta UTBK SBMPTN di UMM         Koordinator Tim PMB FISIP, M.Syaprin Zahidi, M.A mengatakan meski hari pertama pelaksanaan UTBK SBMPTN di UMM diadakan hari Minggu, namun loyalitas dan profesionalitas tim PMB FISIP patut diacungi jempol. “Teman-teman sangat sigap memberikan pelayanan seperti menunjukkan arah lokasi ujian, membagikan booklet dan merchandise dari universitas untuk peserta dan inisiatif menanyai peserta saat mereka kebingungan mencari lokasi gedungnya. Meski hari Minggu teman-teman tetap standby dengan formasi lengkap hingga sore hari,”ungkap dosen asal Lombok NTB ini. Sebagian tim PMB FISIP berfoto sebelum beri layanan informasi pada peserta UTBK SBMPTN di UMM Minggu (5/7)        Hospitality atau keramahan memang menjadi ciri khas yang melekat pada tim. Tak canggung untuk bergabung dengan tim PMB dari fakultas lain, perwakilan prodi-prodi di FISIP ini juga kreatif membuat media promo yang mencirikan fakultas dan prodi masing-masing. Prodi Ilmu Komunikasi misalnya, tim perwakilan prodi Ikom membawa beberapa property selfie yang bisa digunakan untuk foto di spot yang instagramable. Prodi Kesejahteraan Sosial mencetak booklet eksklusif yang dibagikan kepada para peserta yang melintas. Prodi-prodi lain juga melengkapi amunisi penyambutan dengan flyer yang atraktif. Beberapa tim PMB FISIP bahkan datang paling pagi. Seperti pada hari ini, salah satu tim FISIP, M. Haryo Prasodjo sudah bersiap sejak pukul 7 pagi. “Ya saya bertanggung jawab di posko fakultas, hari ini teman-teman dibagi dalam dua shift, siang dan sore, agar bisa melakukan aktivitas tridharma lainnya,”ungkap Haryo. Bisa Selfie Instagramable, Tim PMB FISIP dari Prodi Ikom membawa properti selfie           Selama enam hari hingga Jumat nanti, UMM memang kedatangan 1800 peserta dari berbagai daerah yang mengikuti UTBK SBMPTN. Sebagai tuan rumah yang baik, UMM berupaya untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para peserta, terlebih pada kondisi pandemi seperti ini. Salah satunya adalah dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19 yang sangat ketat. Kampus menyediakan 351 titik hand sanitizer dan 55 titik wastafel lengkap dengan sabun cairnya. Tidak hanya itu, di pintu masuk check point para peserta juga dicek suhunya menggunakan thermo gun. Sepatu dan tas peserta juga ditempatkan pada lokasi penyimpanan khusus agar aman dan tidak menjadi sarana transmisi penyebaran virus. (wnd)

Terbitkan Buku Hasil Turun Lapang, Cara Asyik Belajar Ala Prodi Sosiologi

Rabu, 01 Juli 2020 11:17 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik             Kata siapa belajar sosiologi itu hanya berkutat pada diktat-diktat teoritis? Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang baru saja menerbitkan satu buku berjudul Belajar Sosiologi di Desa. Buku yang merupakan kumpulan tulisan mahasiswa angkatan 2019 ini adalah salah satu upaya prodi untuk menepis anggapan bahwa belajar sosiologi itu membosankan dan menjemukan. Buku dipilih sebagai media kampanye karena jangkauannya yang luas, bisa menyasar semua kalangan: anak usia sekolah, mahasiswa maupun professional.           Belajar tentang konsep, teori dan gagasan-gagasan abstrak para filsuf sosial dunia adalah keseharian dari mahasiswa sosiologi, setidaknya itulah yang selama ini melekat pada sosiologi. Hal tersebut membuat sebagian orang mem-branding bahwa belajar sosiologi itu membosankan, menjemukan dan berjarak dengan realitas kehidupan sehari hari karena semua dilakukan di kelas. Padahal belajar sosiologi di FISIP UMM, bisa dilakukan dengan cara yang lebih asyik. Salah satunya adalah mempelajari masyarakat dan belajar di masyarakat secara langsung, melalui program andalan Prodi Sosiologi FISIP UMM. “ Karena laboratorium sosiologi adalah masyarakat itu sendiri.  Jadi belajar sosiologi di FISIP UMM itu kita bisa belajar langsung di masyarakat, salah satunya dengan program live in,” ungkap Rachmad K Dwi Susilo, Ph.D, Kaprodi Sosiologi FISIP UMM. Kaprodi Sosiologi, Rachmad KDS, Ph.D, bersama buku hasil turun lapang (foto by: aan)               Sudah menjadi tradisi untuk menyambut mahasiswa baru Prodi Sosiologi UMM dengan mengajak mereka live in di desa. terhitung sejak 2012, sudah 8 kali Prodi Sosiologi melakukan kegiatan live in yang diberi nama Sociology Camp. “Sociology Camp (Soscamp) merupakan agenda tahunan yang melibatkan seluruh mahasiswa baru untuk tinggal selama beberapa hari di suatu desa, berbaur dengan masyarakat setempat sekaligus melakukan small research. Itulah salah satu metode pembelajaran yang Prodi Sosiologi UMM lakukan, pembelajaran berbasis live in, pembelajaran yang menyenangkan,” lanjutnya. Baca juga: NgupiNation, Cara Baru Belajar Lebih Seru Ala IP UMM            Melalui buku berjudul Belajar Sosiologi di Desa: Pengalaman live in di Sentra Bunga Mawar di Jawa Timur, Rachmad mengatakan prodi ingin berbagi pengalaman belajar mengajar sosiologi. Proses belajar mengajar yang secara langsung melibatkan dosen, mahasiswa dan masyarakat  sebagai satu kesatuan dari Sosiologi.  Wah asyik sekali ya? (aan/wnd)