NgupiNation, Cara Baru Belajar Ilmu Lebih Seru Ala IP UMM

Kamis, 25 Juni 2020 10:29 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik        Ngopi identik dengan aktivitas mengisi waktu luang. Namun bagi civitas akademika FISIP, ngopi pun bisa lebih ‘bergizi’ dengan sharing dan diskusi keilmuan. Salah satu prodi di FISIP, yakni Ilmu Pemerintahan punya cara ngopi yang asyik nan bergizi yang diberi nama NgupiNation. Kemarin (24/6) program ngopi sambil diskusi online yang dimotori oleh Laboratorium Ilmu Pemerintahan ini membahas topik terkait Problematika dan Penegakan Hukum di Era Kenormalan Baru. NgupiNation ini juga bisa disimak secara live di akun youtube Lab IP UMM. Tangkapan layar episode kelima NgupiNation pada 24 Juni 2020 lalu         NgupiNation edisi kelima yang digelar selama 1,5jam tersebut mengundang Ilham Yuli Isdayanto, S.H, M.H, CLA., CMB, Managing Partner Isdiyanto Law Office yang juga Dosen FH UAD Yogyakarta dan Wahyudi Kurniawan, S.H, M.H.Li,C.Me, Kepala Laboratorium Hukum UMM. Dalam diskusi online ini, dua pemateri Iham dan Wahyudi sepakat bahwa penegakan hukum di Indonesia perlu mengadopsi unsur-unsur kearifan lokal. Menurut kedua pembicara, hukum di Indonesia seharusnya kembali ke perspektif lokalitas. Dalam masa pandemi ini adalah kesempatan untuk mengadopsi nilai kearifan lokal untuk membuat masyarakat bukan takut hukum, namun patuh akan hukum. Misal berkaitan dengan penegakan aturan-aturan pencegahan penyebaran covid-19. Dalam era baru atau new normal ini, menurut Ilham Yuli pemerintah seharusnya menyadari bahwa hukum tidak hanya pada simbolisasi penegak hukum namun hukum seharusnya menjadi kepentingan masyarakat. “Dalam era sekarang, yang harus berubah pertama kali adalah negara sebagai pemilik otoritas. Masyarakat juga tidak boleh apatis,”tutur Ilham.          Presiden NgupiNation, Yana Syafriyana Hijri, M.IP, yang juga kepala laboratorium IP UMM mengatakan bahwa NgupiNation sebenarnya akronim dari Ngupas Politik Indonesia dan Kebangsaan ( Nation ). “NgupiNation ini bermula dari webinar Praktikum Lab. Karena saya senang ngopi saya plesetkan jadi ngupi,”ujar Yana. Ngopi biasanya identik sambil ngobrol atau diskusi mulai dari masalah yang remeh temeh, kerjaan, politik, ekonomi, termasuk masalah-masalah serius kebangsaan. Dari situlah ide agar ngobrol atau diskusi diteruskan melalui format daring. “Nah agar bincang-bincangnya tidak sendirian saya undang teman-teman yang pakar dan profesional di bidangnya agar lebih terukur, ada isinya tetapi tetap santai dengan menghadirkan secangkir kopi di setiap diskusi,”imbuhnya.           NgupiNation ini kata Yana tidak hanya mengangkat masalah berkaitan dengan ilmu pemerintahan saja, namun lebih meluas menyeluruh ke sejumlah aspek sosial dan politik. Bahkan beberapa episode NgopiNation juga membahas tentang bisnis, energi, pelayanan Kesehatan dan hukum. Rencananya NgupiNation ini akan tayang rutin setiap tiga kali seminggu, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat. ”Target kami tetap akan membahas berbagai persoalan sosial, politik, pemerintahan, ekonomi, budaya, kebijakan pemerintah dan berbagai masalah kebangsaan  lainnya dengan menghadirkan pembicara, pemantik, pakar, praktisi profesional di bidangnya,”ujar Yana. (wnd)

Punya Social Project Keren, Mahasiswi FISIP ini Juarai Mawapres UMM 2020

 Kamis, 11 Juni 2020 13:07 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik                  Namanya Chano Paramita. Dulu, mahasiswi FISIP Prodi Ilmu Komunikasi ini pernah lima kali gagal dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru di beberapa kampus. Bukan, bukan karena ia tak pintar. Semasa duduk di SMAN 1 Purwosari, gadis cantik kelahiran Pasuruan ini seringkali mendapat gelar juara paralel di kelasnya. Beberapa gurunya pun kaget mengapa anak pertama dari dua bersaudara ini selalu gagal tes masuk kampus. “Saya menduga saat itu mungkin terlalu ambisius, sehingga saya stress dan itu menjadi penyebab kegagalan saya. Buktinya ketika saya mengikuti seleksi penerimaan maba di FISIP UMM saya lolos karena tidak terbebani,”ungkap Chano. Chano juga mengaku, karena merasa terbebani dan terlalu ambisius ini, ia juga ‘tidak beruntung’ ketika ujian nasional, nilainya jeblok.                Namun, menjadi mahasiswa UMM berhasil membuat pola pikirnya berkembang luas. Ia merasa potensinya bisa semakin berkembang di kampus putih ini. Menurutnya, yang paling penting, dimana pun ia belajar, berhasil tidaknya seseorang dalam belajar tergantung pada kesungguhan dan kerja keras. Ia bersyukur pola didik orang tua yang tak pernah mematok prestasi berdasar angka, membuatnya lebih leluasa berkreasi. Siapa sangka jika perjuangan menjadi mahasiswa “tak biasa” di UMM diganjar dengan prestasi sebagai juara 1 Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) tingkat universitas, mengalahkan sejumlah delegasi dari fakultas lain, termasuk sahabatnya sendiri yang menduduki peringkat terbaik kedua. Chano Paramita, peraih juara 1 Mawapres UMM 2020 (foto: dok.pribadi)        Meraih gelar sebagai peringkat pertama mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Muhammadiyah Malang, tak pernah terbayangkan dalam benak Chano. Jangankan menjadi juara, dicalonkan sebagai kandidat tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tetapi, terpilih dalam seleksi Mawapres tentu bukanlah proses instan, sim salabim sekali jadi.  Penilaian dalam seleksi mawapres meliputi penilaian tiga aspek, kemampuan bahasa asing, prestasi dan kemampuan karya ilmiah. “Sebenarnya seleksi ini cukup berat bagi saya karena bersamaan dengan beberapa amanah saya sebagai kadiv diskusi dan prestasi di UKM FDI dan kesibukan praktikum di prodi. Namun teman-teman di UKM FDI meyakinkan saya,”ungkapnya. Tak hanya sering ikut lomba menulis, Chano juga didapuk menjadi juri beberapa lomba debat dan LKTI di kalangan mahasiswa        Dalam seleksi Mawapres yang diadakan secara daring pada 5 Juni 2020 lalu, Chano dimintamempresentasikan karyanya dalam bahasa asing. Salah satu nilai plus dalam presentasinya, menurut salah satu juri, Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd, terletak dalam kemampuan menyampaikan social project yang ia miliki. Selain itu prestasi yang dimiliki Chano memang paling unggul jika dibandingkan kandidat lain. Total ada 11 penghargaan tingkat nasional yang ia kantongi selama tiga tahun menjadi mahasiswi FISIP UMM. Terbaru, ia berhasil meraih penghargaan juara 1 Content Campaign dan Competition yang diadakan oleh UK Petra. Chano juga tercatat memiliki tiga social project. Salah satu social project yang ia presentasikan di hadapan penyeleksi Mawapres Universitas adalah social project “RAMU REMPAH”. Ramu Rempah adalah platform pemberdayaan untuk masyarakat agar terus menanam dan mempromosikan tanaman rempah dan tidak menjualnya ke tengkulak. “Sebab jika dijual ke tengkulak, masyarakat yang rugi. Akhirnya saya dan tim mencoba mengelola simplisia rempah ini menjadi minuman yang ready to drink dan kami bantu promosinya. Saya menerapkan ilmu integrated marketing communication yang saya pelajari di Prodi Ilmu Komunikasi. Saat ini produk Ramu Rempah masih dalam uji coba laboratorium,”jelas Chano.                Kesukaannya belajar banyak hal memang membuat Chano lebih adaptif dalam belajar. Meski kuliahnya di bidang Ilmu Komunikasi, namun ia tetap membuka diri untuk belajar bidang lain. Prinsip didikan orang tuanya memang mempengaruhi pola belajarnya. Ayahnya yang seorang petani kopi dan ibunya yang seorang guru TK memang menerapkan prinsip sedikit berbeda. “Ortu saya selalu berpesan bahwa saya disekolahkan itu bukan sekedar untuk bekerja dapat uang banyak dan hal-hal pragmatis lainnya, namun saya belajar itu agar berkah dan bermanfaat untuk banyak orang. Ini yang selalu menjadi pedoman saya,”imbuhnya. Harapan kedepannya, Chano ingin bisa menembus publikasi jurnal internasional dan menulis artikel di media massa. Ketika ditanya apakah ia akan mengkonversikan prestasi nasional dalam bidang kepenulisan sebagai TA Karya, Chano mengaku ingin membuat dua-duanya. Di prodinya, Ilmu Komunikasi, mahasiswa berprestasi nasional memang bisa mengkonversikan prestasinya ke jalur Tugas Akhir (TA) Karya sebagai syarat kelulusan setara skripsi. “Saya ingin TA Karya sekaligus membuat skripsi, biar bisa merasakan semua. Karena S1 itu menurut saya fundamental,”tuturnya. Wah, semangatnya luar biasa. Go ahead, Chano! (wnd)

Pertama dalam Sejarah, Yudisium Online FISIP UMM

Rabu, 10 Juni 2020 15:28 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik            Pertama kalinya, hari ini (10/6) di masa new normal, FISIP menyelenggarakan yudisium melalui platform online. Meski digelar dalam format daring, namun yudisium yang disetting di ruang sidang 611 dan menggunakan aplikasi zoom itu tetap berjalan khidmad. Menariknya, karena digelar secara daring, yudisium ini tidak hanya dihadiri secara virtual oleh 93 peserta yudisium namun juga dihadiri orang tua peserta yudisium. Tak hanya dapat disaksikan melalui zoom, recording pelaksanaan yudisium daring ini juga bisa disimak melalui akun YouTube FISIP UMM. Situasi yudisium daring FISIP UMM Periode II/2020 dalam tangkapan layar      “Kesuksesan seseorang adalah tetap berbakti pada orang tua meski sudah berhasil dalam kehidupan. Dalam kondisi new normal seperti ini, meski kita tak bisa bertemu langsung, namun banyak sekali hikmah yang bisa kita pelajari. Hari ini dibalik kesuksesan kalian semua, ingatlah ada peran serta orang tua yang membersamai kalian,” pesan Dekan FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si.         Aghnia Adini, perwakilan calon wisudawan, menyampaikan kesan pesannya selama menjadi mahasiswa di FISIP UMM. Ia mewakili kawan-kawannya bersyukur sudah bisa melalui proses belajar di FISIP dan bisa lulus meski dalam situasi yang berbeda. “Ada banyak kisah dan cerita yang telah kita lalui dalam proses pembelajaran di FISIP.  Kondisi-kondisi istimewa menjadi hal yang akan menjadi sejarah dan kenangan tersendiri bagi kami semua. Bimbingan online, revisi online, sidang skripsi online bahkan mungkin nanti akan wisuda online. Bahkan saat ini saya yakin ada yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena mencari sinyal. Saya yakin ada yang senyum saat saya menyampaikan ini ya!” ucap Aghnia yang juga mengaku “mengungsi” ke kantor ayahnya agar mendapat sinyal WiFi yang stabil. Namun, lanjut Aghnia, perjuangan berbeda yang dilakukan ‘Wisudawan Jalur Corona’  ini akan membentuk diri wisudawan menjadi lebih tangguh. “Education is the passport for our future. Saya meyakini saat ini kita sedang mencetak paspor itu, yakini dengan iman, usahakan dengan ilmu, sampaikan dengan amal,” imbuh Aghnia. Dibalik layar yudisium daring FISIP di R.611 GKB 1 lantai 6 (foto by haryo)           Ada yang menarik dalam yudisium kali ini. Selain ada kesan-pesan dari perwakilan mahasiswa, juga ada testimoni dari wali orang tua mahasiswa. Ibnu, wali dari calon wisudawan Rina Dwi Astika Dhuri, menyampaikan bahwa UMM adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia, akreditasi A yang dimiliki oleh seluruh prodi di FISIP menjadi bukti kualitas akademik yang dimiliki oleh FISIP UMM. Kesibukan tim lab Ikom dalam penyelenggaraan yudisium daring (foto by haryo)         Dalam yudisium kali ini, ada dua mahasiswa dari Prodi Imu Kesejahteraan Sosial (IKS) dan satu mahasiswa dari Prodi Ilmu Pemerintahan yang meraih gelar wisudawan terbaik tingkat fakultas. Terbaik pertama diraih oleh Siti Nur Khatijah Ibrahim dari Prodi IKS dengan IPK 3,92, terbaik kedua dari Prodi Ilmu Pemeritahan, Nikmatul Aulia dengan perolehan IPK 3,92. Sedangkan terbaik pertama diraih oleh Rina Dwi Astika Dhuri dari Prodi IKS dengan IPK 3,93. (wnd)

Dosen FISIP Raih Gelar Dosen Berprestasi Tingkat UMMDosen FISIP Raih Gelar Dosen Berprestasi Tingkat UMM

Rabu, 20 Mei 2020 20:09 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik         Usianya masih relatif muda, 35 tahun. Namun dosen kelahiran Bengkulu yang saat ini menempuh program doctoral di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini memiliki prestasi membanggakan. Pada 19 Mei lalu ia dinyatakan sebagai peraih gelar terbaik ketiga Dosen Berprestasi tingkat universitas, sebuah gelar yang cukup prestisius di kalangan civitas akademika UMM. Gonda Yumitro,M.A, demikian nama lengkap  dosen berprestasi yang berasal dari Prodi Hubungan Internasional ini. Gonda Yumitro, M.A, saat menerima penghargaan dosen berprestasi terbaik ketiga di aula BAU UMM (photo by humasUMM)              Perjalanan untuk mengikuti seleksi dosen berprestasi tidak bisa disiapkan dalam cara instan. Universitas memiliki mekanisme tersendiri untuk menyeleksi melalui rekam jejak akademis yang dimiliki. “Sebenarnya saya tidak pernah membayangkan akan ikut seleksi dospres (dosen beprestasi, red) karena ya saya merasa belum banyak berprestasi dan masih harus berbuat lebih banyak lagi. Lalu saya dihubungi oleh Wadek 2 untuk mewakili FISIP. Baru ketika tes dospres baru saya tahu bahwa BPSDM mengundang saya mengikuti seleksi berdasarkan data record yang mereka miliki,” ujar ayah empat putri ini merendah.             Ia mengaku tak punya target juara dalam seleksi dospres ini. “Saya sampaikan ke fakultas bahwa saya tidak bisa menjanjikan juara, namun jika diberi kesempatan untuk belajar di seleksi dospres ini, saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Alhamdulillah pihak dekanat memberi saya kesempatan. Jadi saya jujur tidak punya beban, jadi lebih mengalir gitu ya,” imbuhnya. Dosen yang juga aktif menjadi pendakwah di Kota Malang ini merupakan dosen yang cukup produktif dalam bidang riset. Lima tahun terakhir, ia memilliki 12 judul riset nasional dan internasional. Tahun lalu ia berhasil memperoleh Taiwan Fellowship dan membuat riset tentang TKI yang bertajuk ‘The Growing of Multiculturalism in Taiwan: Challenges and Future by the Rise of Muslim Indonesian Migrant Workers’.  Gonda juga tercatat memiliki empat riset yang terindeks Scopus. Total ia memiliki 17 karya jurnal yang telah terpublikasi di sejumlah jurnal nasional dan internasional. Lulusan terbaik ketiga dari Department of Political Science Jamia Milia Islamia, India ini juga memiliki lima karya buku. Gonda menyelesaikan program masternya di India, di dua universitas sekaligus, di Departemen Ilmu Politik di Jamia Milia Islamia dan Departemen Hubungan Internasional di Annamalai University, India. Gonda Yumitro (nomor tiga dari kiri, koko hijau) bersama kolega di Prodi Hubungan Internasional         Mengikuti seleksi dospres membuatnya mempelajari banyak hal. Khususnya saat ia mempresentasikan karya unggulan di depan sejumlah reviewer, ia mencatat beberapa hal penting terkait bagaimana seharusnya menjadi dosen yang berprestasi.  Dosen berprestasi itu harus memiliki visi dan misi sebagai dosen untuk melakukan yang terbaik dalam semua bidang tri dharma perguruan tinggi. Selain itu seorang dosen dalam bidang keahliannya harus memiliki target, rencana, dan capaian untuk membangun legitimasi akademik sehingga bisa dijadikan rujukan keilmuan pada bidang kajian tertentu. “Oleh karena itu, idealnya seorang dosen harus punya roadmap penelitian. Selain itu yang tidak kalah penting adalah luaran dari kinerja akademik sebagai bukti bahwa dosen tersebut punya visi, misi dan kepakaran dalam bidang tertentu. Diantara bukti pengakuan tersebut, seorang dosen juga harus punya jaringan yang luas, syukur-syukur bisa mengakses riset nasional maupun internasional,”jelasnya.            Ketika ditanya apa targetnya setelah mendapat gelar dosen berprestasi, Gonda mengaku secara pribadi ia berusaha untuk segera menyelesaikan disertasinya agar segera kembali mengabdi. Ia juga berharap bisa berkolaborasi dengan berbagai jejaring untuk membangun budaya akademik yang lebih baik. (wnd)

Berkah Pandemi, Prodi-Prodi di FISIP Gencar Gelar Webinar

Jum’at, 08 Mei 2020 12:02 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Menerobos image ‘’ruang gelap’’ di wilayah yang terkenal dengan syariat Islam-nya tentu bukan hal yang mudah. Ruang gelap adalah kesan yang muncul dari dunia bioskop atau perfilman di Aceh. Begitu yang disampaikan oleh Jamaluddin Phona, alumni Prodi Ilmu Komunikasi FISIP dalam webinar Berani Bikin Film yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi. Webinar Prodi Ikom, sharing session dengan alumni Jamaluddin Phona             Dalam masa Covid-19 semua prodi di FISIP memang aktif “memanfaatkan” masa pandemi ini untuk mengadakan webinar atau seminar online. Selama masa pandemi ini, Prodi Ikom sudah mengadakan enam webinar yang dikemas dalam brand CommTalk. “CommTalk ini terbagi dalam tiga bagian yaitu expert sharing session yang mengundang dosen dan pakar, alumni sharing session dengan para alumni Ikom dan student sharing session. Bentuknya semua dalam bentuk diskusi online atau webinar,”tutur Widiya Yutanti, M.A, sekprodi Ilmu Komunikasi UMM. Masa pandemi ini memang menjadi berkah tersendiri, karena webinar dilakukan secara daring, mengundang para pakar pun menjadi lebih mudah.           Selama masa pandemi ini, total sudah lima kali prodi Ikom menggelar webinar. Expert sharing session pertama diadakan pada Rabu 22 April 2020 lalu yang mengundang Muhammad Faisal, Kepala Sekolah Kembali ke Akar, Kandi Windoe,Directur NAVA+Group, dan Arum Martikasari, dosen Prodi Ikom. Expert sharing session itu bertema The New Normal di Indonesia sebagai Dampak Covid-19, membahas tentang apa saja yang akan menjadi fenomena baru dan dianggap normal pasca pandemi. “Pasca pandemi, brand akan kembali mengadopsi kearifan lokal, sebab dengan adanya pandemi ini semua orang kembali ke rumah, kembali ke kebiasaan-kebiasaan tradisional. Oleh karena itu brand harus menyesuaikan pada aspek kelokalan ini,”ujar Kandi Windoe, salah satu pembicara.               Tak hanya Prodi Ikom yang mengadakan alumni sharing session, prodi Hubungan Internasional juga mengadakan kegiatan sharing dengan alumni yang bertajuk Alumni Kembali.Pada 25 April lalu HI mengundang Faikha Fairuz Firdausi, alumni HI angkatan 2010, peraih beasiswa Erasmus Mundus. Pada 9 Mei besok, HI juga berdiskusi online tentang bagaimana rasanya menjadi local staff di KBRI Brussel-Belgia bersama Feri Wahyuda, alumni HI UMM 2011 yang menjadi staf KBRI Brussel, Belgia. Baca juga : Upgrade Skill Riset, FISIP Adakan Pelatihan Nvivo 12 Plus Webinar Lab Kesos FISIP, mengudang empat narasumber          Prodi Ilmu Pemerintahan juga mengemas webinar dalam format Alumni Bicara dan Serial Diskusi. Dua alumninya yang bekerja pada Biro Pemenuhan Hak Saksi dan Korban Republik Indonesia dan sebagai staf di Kementerian PPN/Bappenas RI diundang dalam dua sesi berbeda pada kegiatan Alumni Bicara. “Serial diskusi melibatkan dua pakar, satu dari pakar eksternal, satu dari dosen internal. Pada 29 April lalu kami mengundang Pak Khrisno dosen IP dan lurah Purwodadi kota Malang untuk berbicara tentang optimalisasi pemerintahan desa kelurahan dalam penanganan covid-19 di Indonesia,”ujar M. Kamil, Kaprodi IP. Peluang dan tantangan menjadi pekerja sosial supervisi di era disrupsi ini juga menjadi sebuah topik seksi yang dibahas oleh Laboratorium Kesejahteraan Sosial. Prodi KS pada 6 Mei lalu juga mengundang empat narasumber dalam webinar tersebut. (wnd)

Upgrade Skill Riset, FISIP Adakan Pelatihan NVivo 12 Plus

Rabu, 29 April 2020 17:05 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik            Sejumlah dosen FISIP UMM hari ini mengikuti pelatihan NVivo 12 Plus. Meski masih dalam suasana pandemi, namun semangat para dosen untuk mengupgrade keilmuan tak terbendung. Dengan tetap menjaga physical distancing dan menerapkan protokol pencegahan COVID-19 sesuai standar WHO, pelatihan NVivo 12 Plus hari ini sukses digelar di Selasar Point GKB 1 Lantai 6. Pelatihan di selasar ini relatif aman karena berada di space terbuka dan berjarak cukup. Taat protokol physical distancing, pelatihan NVivo 12 Plus bersama Salahudin, M.Si, M.PA (foto by: Bu Dyah Estu)          “NVivo ini memudahkan peneliti untuk mengolah data. Data yang ribuan itu bisa dikelola menjadi temuan menarik dalam waktu relatif singkat,”ungkap Salahudin, M.Si,M.PA, dosen Ilmu Pemerintahan yang menjadi trainer dalam pelatihan NVivo 12 Plus ini. Menurut dosen alumni Khon Kaen University Thailand yang kini sedang menyelesaikan program doktoral di UMY ini, NVivo 12 Plus sudah dapat mendukung pengelolaan data riset metode campuran (kualitatif dan kuantitatif). Baca juga: SIdang Skripsi Ala FISIP Di Tengah Isu Covid-19        NVivo memang sebuah aplikasi, ia merupakan alat bantu. Untuk bisa mengolah data dengan aplikasi in syaratnya tentu user harus paham dan biasa melakukan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.Sebab pemahaman kita terkait data yang sedang diolah akan menentukan apakah pengelolaan data yang dilakukan menggunakan NVivo benar atau salah. Aplikasi ini awalnya dikembangkan pertama kali oleh Tom Richards di Universitas La Trobe, Melbourne, Australia yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh istrinya, Lyn Richards sebagai aplikasi untuk penelitian ilmu sosial. Pada tahun 1995, kedua pasangan suami istri penemu NVivo tersebut membangun QSR Internasional dan merilis versi pertama NVivo pada tahun 1999.               Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si, berharap melalui pelatihan ini para dosen bisa berkolaborasi untuk melakukan penelitian khususnya yang terkait Covid-19. “Saya harap kita bisa menjadi bagian dari solusi pandemi ini, kita bisa membuat kolaborasi riset terkait covid-19 dalam sudut pandang ilmu sosial tentunya. Setelah kita belajar aplikasi ini saya harap bisa menjadi sarana yang memudahkan kita menganalisis data,” ujar Rinikso. (wnd)

FISIP Care, Dari FISIP Untuk Mahasiswa Rantau Terdampak Covid-19

Selasa, 28 April 2020 16:13 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik             Tidak semua mahasiswa dari luar kota Malang memutuskan pulang kampung. Pasca kebijakan kampus mengubah perkuliahan menjadi sistem daring saat wabah covid-19 terjadi, ternyata ada pula sebagian mahasiswa yang masih bertahan di kos atau kontrakan di Malang. Salah satu mahasiswa luar kota yang masih bertahan di Malang adalah Asrul Lukman. Mahasiswa asal Luwuk – Banggai Sulawesi Tengah ini memutuskan untuk tetap tinggal di Malang karena ia khawatir menjadi carrier jika pulang ke Sulawesi Tengah. Di Malang, dari hasil tracking yang dilakukan oleh BEM FISIP dan tim  FISIP Care fakultas, ada 81 mahasiswa yang masih bertahan di lingkungan sekitar kampus. Tim FISIP Care: Bahu-membahu bersinergi bersama FISIP Care dan UMM Peduli (foto: bayu BEM)         Tim fakultas bersama BEM FISIP pun mengadakan FISIP Care. FISIP Care ini adalah sebuah respon cepat FISIP terhadap mahasiswa-mahasiswa luar kota yang terdampak dan masih bertahan di Malang. Tim FISIP Care menggalang donasi mandiri dari dosen dan mahasiswa untuk membantu teman-teman mereka.Selain donasi mandiri, fakultas juga mengalokasikan sejumlah dana untuk kegiatan FISIP Care ini.  Dana yang terkumpul  kemudian dibelanjakan paket sembako dan dibagikan kepada mahasiswa perantauan yang masih bertahan di Malang sesuai hasil tracking dari tim. Paket sembako yang diberikan terdiri dari beras, minyak goreng, telur, teh celup, gula, mie instant dan beberapa snack kecil. Hingga saat ini ada 25 paket bantuan yang sudah didistribusikan. “Saat ini yang sudah kami distribusikan ada 25 paket untuk 25 mahasiswa, sisanya nanti yang mengcover universitas melalui program UMM Peduli. Jadi kami bersinergi, target ada 81 mahasiswa yang akan mendapat bantuan berdasarkan hasil pendataan kami,” ungkap Bayu, salah satu koordinator lapangan Program FISIP Care. Salah satu dosen FISIP, Shannaz Mutiara, ikut turun langsung menyalurkan paket bantuan (foto: dok.pribadi) Baca: Upgrade Skill Riset, FISIP Adakan Pelatihan NVivo 12 Plus                Wakil Dekan III, Zen Amiruddin, M.MedKom mengatakan program FISIP Care ini sudah dilakukan sejak dari awal pandemi (sebelum puasa, red). “Fakultas mengapresiasi positif inisiatif dari teman-teman BEM ini. Inilah saatnya antar pihak baik dosen dan mahasiswa saling bersinergi untuk peduli sehat dan peduli sesama, terutama bagi mahasiswa yang tidak bisa pulang karena daerahnyalockdown misalnya,”ungkap dosen prodi Ilmu Komunikasi itu. Menurut Zen, langkah FISIP Care ini sementara memang targetnya untuk mahasiswa rantau yang masih bertahan di Malang, berikutnya ia berharap program ini  bisa dikembangkan untuk membantu masyarakat sekitar. “Insya Allah nanti yang tahap kedua bisa lebih maksimal ya,” sambungnya.(wnd)

Sidang Skripsi Ala FISIP Di Tengah Isu Covid-19

Rabu, 08 April 2020 10:58 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Sidang skripsi identik dengan wajah tegang dan jantung yang berdebar kencang. Masuk ke ruang ujian, menatap wajah dosen penguji, keringat dingin terkadang mengalir tanpa disadari. Lalu bagaimana pelaksanaan ujian sidang skripsi ketika kampus memberlakukan Work From Home (WFH) untuk mayoritas civitas akademika?        Dalam kondisi ini, FISIP punya solusi tersendiri meski para dosen harus melaksanakan WFH. Sejumlah prodi di FISIP melakukan ujian skripsi melalui metode daring. Seperti yang dilakukan oleh prodi Hubungan Internasional. Prodi termuda di FISIP ini adalah prodi pertama di FISIP yang mengadakan ujian skripsi online pada 23 Maret 2020 lalu. Syaprin Zahidi, MA, Kaprodi Hubungan Internasional mengatakan mekanisme untuk pelaksanaan ujian skripsi daring sudah ditetapkan dalam SOP yang ditentukan prodi. “Pelaksanaan ujiannya melalui google meet. Prosesnya sih sama ya dengan ujian skripsi online, hanya saja mahasiswa harus menginvite dosen penguji dan pembimbing melalui link di google meet. Ketika sudah berkumpul, ya proses ujian sama dengan pelaksanaan ujian offline,”ungkap Syaprin. Hasil tangkapan layar pelaksanaan ujian skripsi dengan metode daring di Prodi Hubungan Internasional              Prodi lain yang juga mengadakan ujian skripsi dengan metode daring adalah Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi Ilmu Pemerintahan. Prodi Sosiologi juga berencana mengadakan ujian skripsi melalui daring pada pertengahan bulan April. Prodi Ilmu Komunikasi mengadakan sidang skripsi dengan metode online pada 31 Maret 2020. Sebelum melakukan ujian skripsi, para dosen prodi Ikom melakukan simulasi ujian skripsi online sehari sebelumnya. Simulasi ini untuk memastikan pelaksanaan skripsi online berjalan lancar sesuai pengaturan waktu yang telah ditentukan. Suasana ujian sidang skripsi online di Prodi Ilmu Pemerintahan            Lalu, bagaimana rasanya ujian skripsi dengan metode daring seperti ini? Khaidar Azar Luthfi, salah satu peserta ujian skripsi dari Prodi Ikom mengaku meski online dia tetap merasa nervous. “Meski online, tetap nervous sih. Khawatir kalau misal tiba-tiba sinyal tidak support, khawatir salah menjawab atau kendala-kendala non teknis lain. Namun Alhamdulillah kemarin lancar meski deg-deg an,”ujar Al, panggilan Khaidar yang mengikuti ujian sidang pada 31 Maret lalu. Baca : Rapat Offline, FISIP Desain Selasar Jadi Ruang Rapat yang Aman        Sedikit berbeda dengan prodi lainnya, prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) berencana menerapkan dua metode untuk sidang skripsi. Kaprodi IKS, Dr. Oman Sukmana, M.Si mengatakan prodinya akan membebaskan para dosen penguji untuk memilih metode, bisa melalui online atau offline. “Nanti tanggal 13-14 April kami akan menggunakan zoom untuk ujian skripsi online. Namun kami juga mempersilakan jika ada dosen yang ingin ujian offline, dengan catatan tetap memperhatikan protokol kesehatan sesuai standar WHO,”ungkap Oman. (wnd)

32 Tahun Mengabdi, Sarno Pensiun ‘Husnul Khotimah’

 Selasa, 07 April 2020 15:27 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik           Pria berusia 56 tahun ini kini bisa tersenyum lega. Pengabdiannya di kampus putih selama tak kurang dari 32 tahun 7 bulan berakhir indah. Ia menyebutnya sebagai pensiun ‘husnul khotimah’, pensiun dengan akhir yang baik. Karyawan yang memungkasi pengabdiannya sebagai staf administrasi di FISIP ini hari ini (7/4) resmi dilepas oleh jajaran dekanat dan civitas akademika FISIP UMM. Sarno menerima potongan tumpeng tanda pelepasan dari Dekan FISIP (foto: sulismadi)           Mengabdi selama lebih dari 32 tahun bukan angka yang sebentar. Bagi ayah dua anak asli Magetan ini, UMM adalah pilihan yang tak pernah ia sesali. Meski awal mengabdi hanya bergaji 18 ribu rupiah, tetapi Sarno mengaku apa yang ia peroleh di UMM tak sekedar bilangan rupiah semata. “UMM itu lembaga yang penuh berkah. Tak hanya gaji, tapi juga kemudahan berupa anak-anak saya yang bisa sekolah sampai sarjana. Teman-teman serta lingkungan kerja yang baik adalah barokah juga menurut saya,”ungkapnya. Baca : Rapat Offline Di Tengah Isu Covid-19, FISIP Desain Selasar Jadi Ruang Rapat yang Aman           Memulai karir pertama di tahun 1987 sebagai satpam di kampus 1 Jalan Bandung, Sarno sudah ‘malang-melintang’ di beberapa unit di kampus. Ia berkisah, dulu saat pertama mengabdi sebagai satpam, Jalan Bandung adalah area yang sangat sepi, jauh berbeda dengan kondisi sekarang.  Setelah enam tahun mengabdi sebagai satpam, Sarno beralih menjadi staf rumah tangga (perlengkapan) selama tiga tahun. Posisi terlamanya adalah menjadi Kaur Kendaraan selama 14 tahun. Mengaku jenuh menjadi Kaur Kendaraan, Sarno mengajukan pindah posisi ke staf administrasi. “Namun permintaan saya kepada pimpinan saat itu untuk menjadi staf tidak di acc, saya akhirnya diminta untuk jadi Kaur Dosen, mengurusi berkas-berkas dosen. Itu saya jalani selama sepuluh tahun,”ujarnya sambil tertawa. Keinginannya untuk menjadi staf administrasi ternyata tidak surut. Sarno mengaku punya alasan tersendiri mengapa ia minta ‘diturunkan’ menjadi staf. Baru sekitar 3,5 tahun yang lalu akhirnya ia dimutasi sebagai staf administrasi di FISIP. Sarno (baju kotak-kotak) bersama kolega TU FISIP (foto by: siti)              Ketika ditanya apa yang akan dilakukan pasca pensiun, Sarno mengaku belum memiliki rencana apa-apa. Namun ia bersedia jika misal UMM masih mengkaryakan dirinya. “Kalau tidak bekerja rasanya tidak enak. Kalau bekerja saya senang bisa berinteraksi dengan teman-teman. Istri saya juga bekerja, anak-anak saya sudah besar semua,” ujar suami dari Susilowati ini. Di balik sosoknya yang pendiam, Sarno adalah profil seorang pekerja keras. Sebab, Sarno ternyata bukan ‘karyawan biasa’. Di tengah kesibukannya mengabdi sebagai pegawai di UMM, ia juga mengelola kos-kosan 12 kamar miliknya.             Menurut Sarno, ada tips yang bisa dilakukan agar bisa purna tugas dengan baik. Kuncinya adalah lakukan pekerjaan sebaik-baiknya, jangan menunda tugas dan jangan mengeluh. “Untuk semua pimpinan dan kolega, saya mengucapkan terima kasih atas arahannya selama ini. Mohon maaf jika saya ada salah. Semoga UMM, khususnya FISIP, semakin maju dan mahasiswanya tetap banyak,”ujarnya. (wnd)

Rapat Offline, FISIP Desain Selasar Jadi Ruang Rapat yang Aman

Selasa, 07 April 2020 14:00 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik         Jika anda berkunjung ke GKB 1 lantai 6, anda mungkin akan sedikit terkejut melihat penampilan baru di selasar tengah GKB 1. Ya, FISIP baru saja mendesain ulang selasar menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dipandang. Tak hanya terlihat lebih modern, selasar tengah yang memisahkan area FISIP dan FKIP ‘disulap’ dengan sejumlah tampilan spot light dan layar LED. Selasar tengah ini nantinya bisa digunakan untuk berbagai hal. Bisa untuk belajar melalui LED screen yang disediakan, juga bisa digunakan sebagai ruang rapat outdoor. Suasana rapat di tengah isu covid-19 (foto by Kamil)            Seperti yang terlihat pada hari ini. Rapat dosen yang biasanya digelar di ruangan tertutup di 611, hari ini diadakan di selasar tengah GKB 1 lantai 6. Dengan memanfaatkan kursi dan meja tunggu yang baru dibeli beberapa waktu lalu, para dosen tampak nyaman mengikuti rapat dengan tetap memperhatikan keamanan kesehatan, physical distancing. Hari ini agenda rapat yang dihadiri dekanat dan para struktural FISIP ini membahas beberapa agenda terkait akreditasi, praktikum mahasiswa dan pembimbingan skripsi untuk angkatan 2013-2014. Jaga jarak, biar aman. Suasana rapat di selasar GKB 1 lantai 6 (foto by Tutik) Baca: Keren! Dosen FISIP Bikin Kelas Online Lewat Live Instagram             Selain dilengkapi dengan fasilitas berupa LED screen, area di FISIP juga akan diperkuat dengan kemudahan akses internet yang lebih cepat. “Kami sudah memasang jaringan internet menggunakan provider swasta dengan kecepatan 100 Mbps. Dengan adanya fasilitas tambahan ini kami berharap semua civitas bisa belajar lebih nyaman, bisa mengakses ilmu dengan lebih cepat. Harapan kami tidak hanya saat masa Covid-19 ini saja, tapi hingga nanti usai kondisi kembali normal, seluruh civitas khususnya warga FISIP bisa mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas ini,”ungkap dekan FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si. (wnd)