FISIP Luluskan 196 Calon Wisudawan Pada Yudisium Periode III

Rabu, 09 September 2020 12:44 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Hari ini (9/9) FISIP menggelar yudisium periode III untuk tahun kelulusan 2020. Sebanyak 196 calon wisudawan mengikuti yudisium yang digelar secara online melalui aplikasi zoom dan live YouTube. Sejak pandemi, FISIP memang menggelar yudisium secara daring. Yudisium kali ini adalah yudisium kedua di FISIP yang diadakan melalui platform online. Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si mengatakan ia bangga, meski di tengah pandemi namun calon wisudawan FISIP masih tetap semangat untuk menyelesaikan studinya. “Adanya pandemi memang telah membuat banyak perubahan. Selamat kalian mampu menyelesaikan tahap terakhir dari studi S1 ini. Tantangan wisudawan di masa pandemi ini lebih besar karena banyak pekerjaan yang bergeser karena pandemi. Oleh karena itu inovasi-inovasi dan pemikiran yang berani perlu dimiliki oleh alumni FISIP UMM. Saya yakin profesi-profesi di lingkup keilmuan sosial politik tidak akan tergerus oleh zaman,”ungkap Rinikso. Hasil tangkapan layar pelaksanaan Yudisium Periode III/2020 Dalam yudisium kali ini, tiga calon wisudawan mendapatkan gelar lulusan terbaik 1,2,3 tingkat fakultas. Terbaik ketiga diraih oleh Prodi Ilmu Komunikasi atas nama Ericha Fernanda dengan IPK 3,81. Terbaik kedua tingkat FISIP diraih oleh Ayudya Anggita Putri dari prodi Hubungan Internasional dengan IPK 3,81. Terbaik kedua dan ketiga memiliki IPK sama, namun yang membedakan adalah jumlah skor SKPInya. Ericha Fernanda memiliki skor SKPI 576 sedangkan Ayudya memiliki skor SKPI 725. Terbaik pertama tingkat fakultas diperoleh oleh Gain Albaherdana dari Prodi Hubungan Internasional. Gain Albaherdana, putra dari Sartono dan Muryati ini, berhasil meraih IPK 3,84. Dekanat dan kaprodi berfoto bersama usai pelaksanaan Yudisium Baca juga: Pak Malik di Mata Dosen Senior FISIP Pandemi memang membuat sejumlah perubahan, tak terkecuali pada bentuk platform pelaksanaan yudisium. Namun di sisi lain, pelaksanaan yudisium yang diadakan secara online ini juga memberi dampak pada menurunnya jumlah biaya yudisium yang harus dikeluarkan oleh calon wisudawan. Sehingga biaya yudisium yang dikeluarkan oleh calon wisudawan lebih murah. Mereka mendapatkan pengurangan biaya yudisium karena ada beberapa item pembiayaan yang ditiadakan. “Pada yudisium era pandemi ini biaya makan, hiburan dan sewa sarana prasarana pertemuan ditiadakan sehingga lebih murah. Biaya yang dibayarkan sekarang mencakup sumbangan alumni, biaya kepanitiaan wisuda, serta special gift yang nantinya akan didapatkan oleh semua calon wisudawan. Untuk supporting alat teknologi daring, kita didukung oleh Laboratorium Ilmu Komunikasi,”ungkap Wakil Dekan II, Dr.Tutik Sulistyowati, M.Si. Special gift calon wisudawan bisa diambil bersamaan dengan jadwal pengambilan ijazah, SKPI dan legalisir. “Setelah wisudawan mengambil ijazah, SKPI dan legalisir di BAA, wisudawan bisa mengambil special gift di prodi masing-masing,”imbuhnya. (wnd)
Pak Malik di Mata Dosen Senior FISIP

Selasa, 08 September 2020 09:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jika gajah mati meninggalkan gading, maka kepergian guru bangsa ini meninggalkan sejuta kenangan bagi orang-orang yang pernah berelasi intensif dengannya. Kabar duka pada 7 September 2020 itu mengejutkan civitas akademika UMM, tak terkecuali dua dosen senior FISIP UMM. Kabar Prof H.A. Malik Fadjar, M.Sc tutup usia, membuka kenangan tersendiri pada sosok revolusioner ini. Bisa jadi tak banyak yang tahu bahwa profesor kelahiran Magelang Jawa Tengah ini pernah menjadi dekan FISIP UMM. Ya, Prof. H.A. Malik Fadjar,M.Sc pernah menjabat sebagai Dekan FISIP UMM periode 1982-1983. Terbilang singkat, namun gebrakan yang ia lakukan masih terkenang oleh para pendahulu FISIP UMM. Dra. Suadah, M.Si dan Dr. Habib, M.A, membagikan kesannya tentang bagaimana Prof Malik berhasil membangun UMM sehingga menjadi kampus kejayaan di masa kini. Ungkapan duka cita FISIP UMM atas kepergian sang guru bangsa, Prof.H.A.Malik Fadjar, M.Sc (sumber: IG fisip_umm) Dr. Habib adalah salah satu orang yang turut andil ‘melobi’ Prof Malik untuk mau menjadi dosen di FISIP UMM. Waktu itu sekitar tahun 1981 seusai menyelesaikan studi di Amerika, prof Malik yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris dekan di IAIN Sunan Ampel Malang, belum memiliki banyak aktivitas sebelum kembali bertugas di IAIN Sunan Ampel. “Saya dan pak Imam Suprayogo melobi beliau untuk bisa mengajar di FISIP. Alhamdulillah beliau bersedia dan akhirnya menjadi dekan di FISIP tahun 1982-1983 sebelum menjadi rektor itu. Bagi saya mas Malik tidak hanya sebagai atasan atau pimpinan, namun juga kakak, sahabat dan guru bagi saya. Oh iya, beliau selalu memanggil saya dengan panggilan Dek Habib, dan saya memanggilnya Mas Malik, karena selisih usia kami hanya lima tahun,”kenang Habib, dosen Prodi Kesejahteraan Sosial. Selama menjadi dekan, banyak gebrakan yang dilakukan oleh Prof Malik. Habib menuturkan Prof Malik adalah tipe pribadi yang tegas dan revolusioner. Melalui tangan dinginnya, Prof Malik mengajarkan bagaimana cara promosi mendapatkan mahasiswa, menata SDM dosen termasuk membangun fasilitas fisik di UMM. “Tidak semua pemimpin memiliki keberanian mengambil keputusan seberani mas Malik. Keputusannya membeli tanah di kampus 2 dan kampus 3 dengan menjaminkan sertifikat tanah dan bangunan miliknya dan sejumlah dosen adalah salah satu gebrakan yang akhirnya bisa mewujudkan fisik kampus UMM sebesar sekarang,”imbuh Habib. Prof Malik adalah salah satu orang yang berada dibalik pembangunan kampus 3 UMM. Saat itu, salah satu mahasiswa Habib yang bernama Syaroni, adalah kepala desa di Tegalgondo, berniat menjual tanah rawa-rawa yang kini menjadi lokasi kampus 3. Tanah itu dijual dengan harga murah waktu itu. Harganya murah karena memang kontur tanahnya adalah rawa-rawa. Prof Malik berani membeli tanah di Tegalgondo ini dengan menjaminkan sertifikat tanah dan bangunan miliknya dan sejumlah dosen demi bisa membeli tanah bakal kampus 3 UMM ini. Padahal waktu itu jangankan punya banyak uang, sepeda motor saja Prof Malik tidak punya. Setiap hari Habib lah yang mengantar jemput Prof Malik dari rumahnya ke kampus UMM di jalan Bandung karena saat itu hanya Habib yang sudah punya sepeda motor. Namun kesederhanaan Prof Malik ini berbanding terbalik dengan jiwa revolusioner yang ia miliki. “Keputusan mas Malik untuk membeli tanah rawa bakal kampus 3 ini sempat dibully, tanah rawa kok dibeli. Namun keputusan berani mas Malik ini bisa kita nikmati sekarang. Kampus 3 UMM adalah buah dari keberanian seorang pemimpin besar seperti mas Malik,”kisah Habib Dra. Suadah, M.Si dan Dr. Habib, M.A, dosen Kesejahteraan Sosial FISIP UMM Tak jauh berbeda dengan kesan yang dirasakan Habib, Suadah pun memiliki kenangan tersendiri tentang sosok tegas dan cerdas itu. Di mata dosen Kesejahteraan Sosial ini, Prof Malik adalah sosok berjiwa muda yang penuh ide-ide brilian. Ketika menjadi dekan, Suadah ingat betul bagaimana Prof Malik ‘mendidik’ dosen-dosen muda di FISIP dengan ketegasan. “Pak Malik itu kalau sudah bilang, sekarang bikin proposal, tiga hari jadi ya, Suadah ayo besok bikin diskusi, Suadah ambil SK nya ya, wis…tidak ada yang berani membantah. Pak Malik itu kalau orang Jawa nyebutkan cak cek, cerdas dan tangkas gitu. Ia senang bekerja dengan yang berjiwa muda karena yang muda dan berjiwa muda itu cepat kalau mau diajak lari. Figur itu yang saya rasa dibutuhkan sehingga UMM bisa sebesar ini sekarang,”tutur Suadah mengenang. Di masa kepemimpinan Prof Malik pula lah, Suadah pertama kali punya pengalaman riset internasional yang bekerjasama dengan Bangladesh. Di tangan Prof Malik pula lah, UMM lambat laun mengalami kemajuan signifikan hingga sebesar sekarang. “UMM itu aduh tidak seperti sekarang. Waktu itu universitas hanya punya satu sepeda motor sebagai inventaris kampus, yang akan diakui oleh setiap fakultas kalau ada visitasi akreditasi kalau seperti sekarang ya istilahnya. Ya saking ndak punyanya UMM waktu itu. Pertama kali UMM bisa membeli mobil Isuzu sebagai inventaris kampus itu bangganya luar biasa ya kita ini,” kisah Suadah sambil tertawa. Ia juga mengenang sisi kesederhanaan yang Prof Malik contohkan. Saat Prof Malik menjadi rektor, proses sertijab dengan mantan rektor sebelumnya dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan. Tanpa kemewahan. Ini menjadi teladan yang diingat oleh Suadah. Ada satu pesan Prof Malik yang juga melekat kuat dalam ingatan Suadah dan Habib. Pesan itu selalu diulang-ulang saat rapat atau pertemuan dimanapun. “Di UMM ini pengabdian, jadikan ibadah, yang ikhlas. Kalau tidak ikhlas metuo ae soko kene,”ungkap Prof Malik seperti ditirukan oleh Habib. Selamat jalan Prof Malik, sang Guru Bangsa, insya Allah husnul khotimah. Perjalananmu di muka bumi telah usai. Namun seperti yang pernah diucapkannya, kita boleh saja kehilangan raga namun jangan sampai kita kehilangan harapan dan cita-cita. Kalau kita kehilangan cita-cita berarti kita telah kehilangan segalanya. Semoga amal ibadah dan perjuangan sang guru bangsa diterima di sisi Allah. Keteladanannya akan tetap menjadi catatan yang tak pernah mati di hati seluruh civitas akademika di negeri ini. (wnd)
Tim Commers Juarai Lomba Inovasi Digital Mahasiswa 2020

Senin, 07 September 2020 14:47 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prestasi membanggakan kembali diraih gabungan mahasiswa FISIP dan FAI yang tergabung dalam tim Commers. Kelompok yang beranggotakan Dion Agustian, Turky Hanif dan Two Bagus Surya dari Prodi Ikom dan M Alif Ihza dari FAI ini berhasil memboyong perunggu pada Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI. Commers berhasil memenangkan kategori Kreasi Video Digital SDGs dengan mengusung film pendek yang berjudul Hari Esok. Commers lolos di posisi ketiga babak final yang diikuti oleh 20 finalis dari seluruh Indonesia. Babak final diadakan secara daring pada 4-5 September 2020 lalu. Tim Commers saat presentasi LIDM babak final Hari Esok ini menceritakan tentang Pak Roy, seorang dosen yang juga seorang single parent karena istrinya meninggal. Di masa pandemi ini, ia tak hanya harus mengajar mahasiswa tapi ia juga bertanggungjawab untuk mendampingi sekolah online putri semata wayangnya. Tidak mudah bagi seorang Pak Roy untuk mangajar di masa pandemi seperti ini. Ketika mengajar, ia selalu tidak diacuhkan oleh mahasiswa-mahasiswinya. Ada yang bermain game saat kuliah online, dandan, dan tidur-tiduran. Pak Roy mulai berpikir bahwa kelas online yang ia ampu sangat membosankan. Oleh karena itulah ia kemudian membuat desain kelas offline di lokasi outdoor. Secara tidak sengaja ada seorang mahasiswa yang melihat rencana Pak Roy membuat kelas outdoor. Ia memfoto rencana Pak Roy dan membagikannya melalui WA Group. Melihat usaha keras Pak Roy untuk membuat mahasiswanya senang belajar, mereka jadi sadar bahwa kerja keras Pak Roy bukan semata-mata untuk menghidupi keluarganya namun juga untuk mencerdaskan anak didiknya. Dion Agustian Putra, salah satu anggota Commers mengatakan bahwa ide cerita film Hari Esok itu terinspirasi dari beberapa hal. “Ide cerita ini berasal dari pengalaman teman-teman saat kuliah online, pemberitaan terkait kuliah online, tanggung jawab seorang dosen dan juga empati mahasiswa. Film ini bertujuan untuk membangkitkan empati mahasiswa agar menghormati dan menghargai kerja keras para guru dan dosen yang berusaha untuk tetap mendidik anak didiknya meski dibatasi oleh kondisi, tak hanya kondisi pandemi namun juga tanggung jawab pribadi sebagai ayah, sebagai kepala keluarga, terlebih ia sebagai single parent,”ungkap Dion. Ia berharap melalui film ini mahasiswa di seluruh negeri sadar, meski dibatasi oleh pandemi, mahasiswa tetap semangat belajar bagaimana pun kondisinya karena semua pihak sudah melakukan upaya terbaik untuk tetap bertahan dalam situasi pandemi. M Fuad Nasvian, M. Ikom, dosen pembimbing tim Commers ini mengatakan sejak awal ia optimis dengan kemampuan mahasiswanya yang tergabung dalam Commers ini. “Ide cerita murni dari mereka, saya hanya mempertajam idenya saja, dan mengoreksi yang perlu didetailkan. I just ask them to try the competition, tell them that they can graduate without skripsi if they nail that. Mereka termotivasi untuk melakukan yang terbaik, secara kualitas anak-anak ini memang sudah tangguh,”ungkap dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini. Congratulations Commers! (wnd)
Sosialisasikan Pesmaba Format Baru, FISIP Gelar Silaturahmi Wali Maba

Kamis, 03 September 2020 15:52 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pesmaba UMM akan diadakan pada 28-30 September 2020 nanti. Kondisi pandemi seperti saat ini membuat pihak kampus harus berinovasi untuk bagaimana tetap bisa melakukan pengenalan kampus pada mahasiswa baru sekaligus tetap mencegah penularan virus covid-19. Untuk mensosialisasikan kebijakan kampus terkait pesmaba ini, hari ini FISIP UMM mengadakan silaturahmi wali maba secara daring melalui kanal zoom. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan orang tua wali maba FISIP UMM dari seluruh Indonesia. Kegiatan silaturahmi wali maba yang diadakan hari ini (3/9), sosialisasikan pesmaba 2020 (foto: humas fisip) Zen Amirudin, M.Med.Kom, wakil dekan 3 FISIP UMM mengatakan silaturahmi wali maba FISIP UMM kali ini berbeda dengan silaturahmi wali maba yang digelar pada 4 Juli lalu. “Pada kegiatan kali ini kami mensosialisasikan kebijakan kampus terkait pengenalan studi mahasiswa baru untuk angkatan 2020. Pesmaba tahun ini akan diadakan dalam dua format yaitu luring dan daring,”ungkap Zen. Berbeda dengan pelaksanaan Pesmaba tahun-tahun sebelumnya, Pesmaba 2020 ini nantinya akan dikemas dalam bentuk offline dan online (luring dan daring). Mekanismenya orang tua wali maba bisa mengisi pilihan melalui google form yang sudah dibagi oleh universitas, apakah mengikuti pesmaba dalam format luring atau daring. Jika mengikuti format luring, maka semua maba harus melalui prosedur rapid test terlebih dahulu. Meskipun luring, kampus akan tetap memperhatikan standar protokol kesehatan dan maba wajib mengisi Surat Ijin Masuk Kampus (SIMK). Tata cara pengisian SIMK bisa dilihat di highlight story di Instagram @fisip_umm. “Jika orang tua tidak mengizinkan putranya mengikuti pesmaba luring maka akan dijadwalkan ulang mengikuti pesmaba daring. Untuk format daringnya masih kami diskusikan dengan panitia,”tutur Haryo Prasodjo, ketua Pesmaba FISIP 2020. Bagi mahasiswa baru yang menghendaki Pesmaba luring, pihak kampus sudah menyediakan sejumlah fasilitas untuk tempat tinggal. Mahasiswa bisa tinggal di Rusunawa UMM yang memiliki kapasitas 700 orang (350 kamar, satu kamar berisi dua orang mahasiswa). Di Rusunawa ini maba bisa tinggal gratis dan mendapatkan fasilitas makan. Jika menghendaki tinggal di Rayz Hotel milik UMM, khusus maba 2020 juga akan mendapat fasilitas diskon 50%. “Jika menginginkan cari kos-kosan di sekitar UMM nanti ada teman- teman BEM yang bisa membantu memberikan informasi,”imbuh Haryo. Haryo berharap orang tua wali maba tidak perlu bingung untuk menentukan mengikuti pesmaba luring atau daring karena semuanya sama-sama memperoleh sertifikat. Salah satu kelebihan luring adalah mahasiswa dapat mengenal lingkungan kampus secara langsung. Anik Zulaikah, orang tua maba Wahyu Ananta Putra dari Prodi Kesos mengatakan pihaknya percaya pelaksanaan Pesmaba secara luring ini akan cukup aman karena Pesmaba terbagi dalam beberapa gelombang. “Menurut saya, karena kapasitas Rusunawa cukup lebih baik ditampung di Rusunawa saja, mengingat pelaksanaan Pesmaba hanya tiga hari saja. Insya Allah diniatkan baik akan berjalan baik dan akan banyak ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak kita,”ujar ortu maba asal Gresik tersebut. (wnd)
Maraton Lima Prodi, FISIP Latih Dosen Metode Polysynchronous Learning

Sabtu, 29 Agustus 2020 11:24 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dalam rangka adaptasi kebiasaan baru, FISIP UMM dalam seminggu ini mengadakan pelatihan polysynchronous learning untuk lima prodi di FISIP. Jika beberapa waktu yang lalu sudah dilaksanakan resimulasi untuk instruktur, minggu ini giliran para dosen yang dilatih metode blended learning ini. Diawali oleh prodi Hubungan Internasional pada hari Senin lalu, hari ini Sabtu (29/8) giliran Prodi Ilmu Komunikasi yang mengikuti pelatihan. Radityo Widiatmojo, M.Si, dosen Ikom yang menjadi tim instruktur menjadi trainer dalam pelatihan hari ini. Radityo didampingi lima instruktur lainnya. Pelatihan polysynchronous ini digelar selama lima hari. Setelah prodi HI di hari Senin, prodi Sosiologi di hari Rabu, kemudian dilanjutkan prodi IP di hari Jumat, dan Senin minggu depan adalah giliran prodi Kesejahteraan Sosial. Suasana pelatihan Polysynchronous Learning Prodi Ikom di Outdoor Space FISIP UMM (foto; PIC humas) Pelatihan polysyncronous ini sebenarnya bukan hal baru bagi prodi Ikom. Tahun lalu, sebelum pandemi melanda, Prodi Ikom sudah pernah meminta ke universitas untuk pelatihan e-learning yang menggunakan web lms.umm.ac.id. Polysynchronous Learning ini menggunakan www.elmu.umm.ac.id yang merupakan pengembangan dari web lms.umm.ac.id. “Sebenarnya tahun lalu kita sudah pernah ikut pelatihan e-learning LMS (learning management system), jadi Alhamdulillah tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan dengan polysyncronous learning,”ujar M. Fuad Nasvian, M.Ikom, salah satu peserta pelatihan dari Prodi Ikom. Metode blended learning yang bisa diakses menggunakan www.elmu.umm.ac.id ini memang memudahkan para dosen untuk melaksanakan proses belajar mengajar melalui daring. Radityo Widiatmojo, M.Si (jaket abu-abu) saat memberikan pelatihan (foto: PIC humas) Baca Juga : Persiapan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning Radit mengatakan ada banyak fitur dalam elmu.umm.ac.id yang akan memudahkan para dosen dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). “Melalui e-learning ini dosen bisa melakukan conference, share materi kuliah, share video, diskusi, memberi tugas, dan memberi kuis dalam satu platform. Proses grading atau pemberian nilai juga lebih mudah, tidak perlu manual entry lagi, nanti bisa di export otomatis dalam bentuk excel sehingga memudahkan pelaporan nilai,”ungkap Radit. Dalam pelatihan hari ini Radityo juga memberikan contoh-contoh model desain kelas yang bisa diadopsi untuk setiap pertemuan. Intinya, melalui sistem polysynchronous ini diharapkan bisa memudahkan dosen dan mahasiswa melakukan KBM. Polysynchronous Learning ini adalah model pembelajaran yang menggabungkan konsep Student Centered Learning (SCL) dan Personalized Learning dengan pola interaksi polysynchronous learning sehingga diharapkan lebih efektif dalam penerapan pembelajaran bauran. (wnd)
Rencana Kebijakan Pulsa ASN, Begini Kata Akademisi UMM

Author : Humas | Jum’at, 28 Agustus 2020 10:10 WIB RENCANA pemerintah untuk memberikan subsidi pulsa pada Aparatur Sipil Negara (ASN) menuai beragam komentar dari masyarakat. Subsidi pulsa ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena di tahun 2020 ini selama pandemi ASN sudah mendapatkan subsidi pulsa sebesar 150 ribu per bulan. Namun rencananya subsidi itu akan dinaikkan menjadi 200 ribu perbulan untuk anggaran 2021. Kebijakan ini dicetuskan oleh Dirjen Anggaran Kemenkeu untuk seluruh ASN kementerian dan lembaga dan menimbulkan polemik di masyarakat. Menanggapi usulan kenaikan subsidi tersebut, pakar Tata Kelola Keuangan Pemerintahan dan pakar Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menyampaikan pandangan mereka. Menurut M. Kamil, M.A, pakar tata kelola keuangan pemerintahan dari Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM mengatakan rencana menaikkan subsidi ini adalah tantangan bagi pemerintah. Dalam tata kelola keuangan, ada istilah realokasi APBN dan refocussing anggaran. Baca juga: FPP UMM Mulai Pasarkan Beras Organik Varietas Unggul “Sebenarnya dalam keuangan negara itu kan ada yang dinamakan pos belanja anggaran. Rencana subsidi ini pos anggarannya dialihkan dari anggaran belanja barang yang tidak terpakai, misal biaya rapat dinas, perjalanan dinas, dan belanja lainnya. Jadi pemerintah harus melakukan realokasi dan refocussing yang sebenarnya tidak masalah,” ungkap M. Kamil. Namun yang menjadi tantangan negara saat ini adalah bagaimana negara bijak untuk menata keuangan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Pemerintah adalah ujung tombak pelayanan masyarakat. Untuk itu, jika memang harus mengupgrade besaran subsidi, pemerintah harus bisa mengklasifikasi dan mengevaluasi apakah semua ASN di kementrian atau lembaga itu perlu mendapatkan subsidi. “Perlu ada pemetaan mana ASN yang harus dapat dan mana yang tidak perlu. Menurut saya ASN yang dapat adalah ASN yang benar-benar membutuhkan subsidi untuk kuota internet. Hal ini diperlukan untuk menghindari kecemburuan sosial . Apalagi saat ini kan masalah school from home masih menjadi problem, khususnya di wilayah 3T. Pemerintah harusnya bisa lebih membijaki mana prioritas yang harus diutamakan,” imbuh Kamil. Baca juga: Mahasiswa UMM Punya Cara Unik Peringati Kemerdekaan RI Di sisi lain, pakar komunikasi politik dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan bahwa rencana pemerintah untuk menaikkan subsidi bagi ASN bisa menjadi preseden yang tidak bagus dan rawan menimbulkan kecemburuan sosial. “Dalam perspektif komunikasi politik, komunikator dalam hal ini pemerintah perlu mengedepankan empati sosial. Bagaimanapun masyarakat menengah ke bawah sekarang benar-benar merasakan dampak dari pandemi covid-19.Sehingga kita termasuk pemerintah harus bisa bersinergi memerangi pandemi ini, bukan malah justru membuat kebijakan yang rawan blunder,” ujar Zen. Kebijakan ini jika disetujui oleh menteri, menurut M. Kamil, ada konsekuensi yang harus dilakukan. Konsekuensinya adalah seluruh ASN harus memacu kinerja dan produktivitas kinerja dalam mendukung prinsip flexible working space yang diterapkan pemerintah selama pandemi. (win/can)
Mahasiswa Prodi Kesos Raih Juara Pencak Silat Internasional

Senin, 17 Agustus 2020 15:23 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Torehan prestasi membanggakan di tengah pandemi Covid-19, diraih oleh Nurisatun Nisa, mahasiswi Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) semester 5 FISIP UMM. Bukan prestasi biasa, namun mahasiswi yang akrab dipanggil Nuris ini berhasil meraih peringkat kedua kategori Seni Tunggal IPSI tingkat dewasa dalam ajang Indonesia Open International Virtual Pencak Silat Tournament Jurus Tunggal dan Beregu. Turnamen virtual internasional ini digelar pada 15-17 Agustus 2020 secara virtual oleh International Pencak Silat Federation (IPSF) KEMENPORA RI. Turnamen ini merupakan langkah pertama pencak silat menuju olimpiade. Aksi Nurisatun Nisa dalam Indonesia Open International Virtual Pencak Silat Tournament Jurus Tunggal dan Beregu Turnamen ini diikuti oleh 445 atlet dari berbagai Negara. Indonesia mengirimkan 39 kontingen dari sembilan provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan, Lampung, Sumatra Utara Banten, Yogyakarta) . Sedangkan atlet lainnya berasal dari sepuluh negara yakni Australia, Belanda, Filipina, India, Jepang, Kazakhstan, Suriname, Thailand, Yordania, dan Yaman. Prestasi di bidang pencak silat ini sebenarnya bukan hal baru bagi Nuris. Di tahun 2020 ini, sebelum mengikuti event internasional ini, Nuris telah mencetak tiga prestasi. Yang pertama adalah Juara 2 kategori fight kelas A tingkat dewasa dalam Batu National Championship yang diadakan di GOR Gajah Mada Batu. Di tingkat Jatim, di tahun ini juga, ia memperoleh dua gelar, juara 1 kategori seni beregu tingkat dewasa dan juara 2 kategori fight kelas A tingkat dewasa yang diadakan di Polinema Malang. Nuris ketika mengikuti salah satu turnamen nasional di Batu Mahasiswi satu ini memang istimewa, sejak awal menjadi mahasiswi Kesos, tak sedikit prestasi yang ia ukir. Ia diterima menjadi mahasiswi Kesos melalui jalur beasiswa Bidikmisi. Gadis asli Sampang, Madura ini kini tinggal di LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Dau. Umi Mafrukhah, Ketua LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Dau mengatakan bahwa ia bangga pada Nuris. “Orang tuanya masih ada namun termasuk dalam kategori dhuafa oleh karena itu Nuris tinggal di panti. Namun Nuris tidak pernah minder dan justru semangat berprestasi. Dia anak yang rendah hati,”tutur Umi. Pelatih pencak silat Nuris, Tayyudin, juga mengungkapkan rasa syukurnya atas prestasi anak latihnya tersebut. Ia berharap Nuris terus berlatih agar bisa meraih prestasi lebih baik selanjutnya. Kebanggaan dan ucapan selamat juga disampaikan oleh Dr. Oman Sukmana, M.Si., Kaprodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM. “Kami atas nama Prodi Kesos UMM, sangat bangga dan menyampaikan selamat atas prestasi Nuris, sejak masuk Kesos UMM tidak sedikit prestasi non akademik telah diraih Nuris, dia juga tidak lupa dengan tugas-tugas kuliah sehingga indeks prestasinya sangat memuaskan. Ini modal bagi Nuris untuk bisa mengembangkan bakat minatnya secara positif dan kelak menjadi Pekerja Sosial,”ungkap Oman. Melalui capaian ini Nuris berharap ia bisa menginspirasi teman-teman di panti untuk terus berprestasi. “Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Saya meyakini slogan itu. Selama kita mau berusaha, insya Allah pasti bisa,”tutur Nuris. (zae/wnd)
Masa Depan Profesi Komunikasi di Era Konvergensi Media

Kamis, 06 Agustus 2020 13:25 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi tidak hanya menyajikan kepedihan, namun juga menawarkan harapan. Salah satunya adalah harapan untuk masa depan profesi komunikasi. Dalam rangka ulang tahun Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM ke 34, expert sharing session edisi spesial yang digelar prodi Ilmu Komunikasi mengupas tuntas tentang Masa Depan Profesi Komunikasi di Era Konvergensi Media. Talkshow daring ini bisa disimak recordnya melalui akun youtube Lab Ilmu Komunikasi. Hasil tangkapan layar expert sharing session edisi special ultah Prodi Ikom FISIP UMM Syaiful Halim, founder M-Docs, didapuk menjadi pemateri dalam sharing session kali ini. Dimoderatori oleh Nasrullah, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi, expert sharing session edisi special ini berdurasi sekitar 60 menit. Menurut Syaiful Halim, ada tiga tantangan yang kini dihadapi oleh dunia komunikasi. Yang pertama adalah konvergensi media, yang kedua adalah ‘virus’ komodifikasi media dimana televisi harus bisa membuat konten yang laku karena harus bersaing dengan platform media lain. Dan yang ketiga adalah tantangan saat pandemi. “ Di masa kini, SDM televisi tidak perlu banyak-banyak namun harus multi skill. Saat ini tuntutan untuk professional komunikasi semakin tinggi. Kebutuhan akan profesi komunikasi tidak hanya sekedar bisa pegang kamera, membuat berita atau mengedit video, namun lebih luas,” ungkap Halim. Syaiful Halim, Founder M-DOCS, pemateri dalam expert sharing session edisi spesial Keilmuan komunikasi tak hanya dibutuhkan di dunia media massa saja atau company, namun juga dibutuhkan dalam praktek pemerintahan. Problem komunikasi seperti buzzer yang merajalela, profesi komunikasi harusnya turun untuk menguatkan konten yang lebih baik dan positif. “Kita membutuhkan lebih banyak pakar komunikasi agar komunikasi publik antara pemerintahan dan masyarakat bisa lebih baik, sehingga belajar dari problem komunikasi pandemi, seorang professional komunikasi dituntut harus mempelajari banyak hal. Di komunikasi ada sebuah provokasi positif, bahwa seorang professional komunikasi harus menggunakan ilmunya wartawan, yaitu harus menjadi pembelajar yang cepat. Mengetahui banyak hal meskipun tidak banyak, ini juga penting karena kebutuhan akan profesi komunikasi masa kini harus harus menguasai banyak hal,”ungkap Syaiful Halim. Baca juga: Persiapkan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning Halim menambahkan, komunikasi merupakan ilmu yang paling tua, yang dibutuhkan sekarang, belajar dari konvergensi media dan pandemi, ilmu komunikasi harus punya terobosan dan menjadi pembelajar ulung. Tidak bisa hanya menjadi pekerja biasa namun perlu menguasai multiskill. Para pengkaji komunikasi juga harus tetap optimis pada masa depan keilmuan komunikasi karena komunikasi menjadi linkage pada semua sector. Untuk meraih profesi komunikasi atau komunikolog yang berkualitas, lulusan komunikasi harus well trained dan well educated, well managed dan well equip, setelah itu baru bisa well paid. ”Beda komunikasi dan vokasi itu ada pada bagaimana perlakuan terhadap kinerja. Vokasi dibayar sesuai keringat, professional dibayar sesuai dengan keahliannya. Mahaiswa komunikasi harus mengedepankan 4 C yaitu creative thinking, creativity, collaboration, communication skill,”ungkap Halim menutup sesi diskusi. (wnd)
Persiapkan Kuliah Tahun Ajaran Baru, FISIP Optimalkan Simulasi Polysynchronous Learning

Rabu, 05 Agustus 2020 13:00 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Menyambut era new normal atau adaptasi kebiasaan baru, terlebih jelang tahun ajaran baru, FISIP UMM melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya adalah melakukan koordinasi dan simulasi untuk penerapan blended learning system ala UMM yang dinamakan Polysynchronous Learning UMM. Hari ini (5/8) perwakilan lima prodi di FISIP yang masuk dalam tim helpdesk Polysynchronous Learning melakukan koordinasi dan simulasi Polysynchronous Learning ini di outdoor space FISIP UMM. Suasana koordinasi dan simulasi Polysynchronous Learning yang dihadiri Wadek 1 dan tim helpdesk masing-masing prodi, pagi ini (5/8) di outdoor space FISIP UMM (foto: ist) Pandemi Covid-19 ini memang mendorong UMM untuk mempersiapkan kegiatan belajar mengajar pada masa dan pasca Covid-19. Model pembelajaran bauran (blended learning) yang dinamakan Polysynchroonus Learning ini adalah model pembelajaran yang menggabungkan konsep Student Centered Learning (SCL) dan Personalized Learning dengan pola interaksi polysynchronous learning sehingga diharapkan lebih efektif dalam penerapan pembelajaran bauran. Sebenarnya model pembelajaran ini bukan hal baru di UMM, jauh sebelum pandemi, UMM sudah mengadakan blended learning system melalui web lms.umm.ac.id. Hanya saja sistem ini dikembangkan lebih optimal agar pengoperasiannya menjadi lebih baik. FISIP pun menyambut baik upaya inovasi yang dilakukan oleh UMM ini. Wakil Dekan 1 FISIP, Dr. Dyah Estu, M.Si mengatakan hari ini FISIP mengadakan koordinasi dan simulasi setelah masing-masing perwakilan prodi mengikuti pelatihan bersama bulan lalu. “Hari ini kita koordinasi dan simulasi. Dibutuhkan satu pertemuan lagi sebelum nanti diadakan pelatihan untuk seluruh dosen. Insya Allah Senin minggu depan akan ada simulasi kedua,”ujar Dyah. Baca juga : Idul Adha Momentum Untuk Tingkatkan Kesalehan Sosial Iradad Taqwa Sihidi, M.A, perwakilan dari prodi Ilmu Pemerintahan mengatakan bahwa sistem blended learning yang digagas kampus ini cukup baik namun perlu ada semacam video panduan penggunaan yang mudah dipahami oleh dosen maupun mahasiswa. Selain pelatihan yang dilakukan oleh tim helpdesk, adanya video panduan diharapkan akan sangat membantu proses sosialisasinya. Radityo Widiatmojo, M.Si, tim helpdesk dari Prodi Ilmu Komunikasi juga mengatakan bahwa sistem blended learning ini bukan berarti nir tantangan. “Desain kelas harus memenuhi konsep polysynchronous artinya dosen harus didorong untuk persiapan konten mengajar yang kreatif. Model pembelajaran bauran ini akan berhasil jika desain kelas menarik. Kreativitas dan interaktivitas menjadi kunci. Karena ketika kuliah online, variabel kontrol terhadap mahasiswa berkurang oleh karena itu menurut saya desain kelas lah yang menjadi jembatannya,”ungkapnya. Saat ini tim helpdesk FISIP mengoptimalkan simulasi mandiri agar pelaksanaan model pembelajaran bauran di tahun ajaran baru bisa berjalan maksimal. (wnd)
Idul Adha Momentum Untuk Tingkatkan Kesalehan Sosial

Senin, 03 Agustus 2020 09:01 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Umat muslim baru saja merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah. Hari raya Islam yang sering disebut juga hari raya qurban ini ternyata dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial. Menjadi saleh di ruang sosial itu perlu. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si mengatakan kesalehan sosial ini merupakan sebuah hal yang harus dipupuk, terlebih dalam masa pandemi seperti saat ini. Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si, pakar managemen organisasi pelayanan sosial FISIP UMM Fauzik mengatakan kesalehan sosial adalah implikasi ketaatan yang diwujudkan dalam bentuk memberi. Memberi ini tak hanya dimaknai memberi pada manusia namun juga memberi pada alam. Allah SWT sudah memberikan petunjuk bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk sekitarnya. “Idul Adha adalah momen untuk menguatkan ketaqwaan. Ketaqwaan adalah bentuk ketaatan hamba pada Tuhan-nya. Orang yang taat hanyalah mereka yang memiliki iman. Jadi jika orang tersebut bertaqwa berarti ia harus menjalani nilai-nilai dari ajaran yang ditaati untuk mendefinitifkan keimanannya itu. Kesalehan sosial salah satu perwujudannya,”ungkap doktor yang juga pakar managemen organisasi pelayanan sosial ini. Idul Adha ini sejatinya tak hanya sekedar waktu untuk menyembelih hewan qurban, namun ia juga merupakan momentum untuk memberi dan berbagi sebagai simbol ketaqwaan dan penerapan kesalehan sosial. Terlebih di masa pandemi seperti ini. “Hikmah dari Idul Adha adalah orang akan berlomba mendapatkan kebaikan dengan memberi, membagi dan menikmati kebaikan bersama,”imbuhnya. Baca juga : Buat Gerakan Peduli Lingkungan, Mahasiswa FISIP Kolaborasi dengan Gerakan Pemuda Ansor Untuk menerapkan ketaatan dalam bentuk memberi, menurutnya, tidak hanya dilakukan dalam bentuk memberi benda atau barang. Menurut Fauzik, selepas momen Idul Adha ini, agar kesalehan sosial tetap kuat, masyarakat harus tetap konsisten untuk memperbanyak kesempatan untuk bersedekah. Bersedekah tidak harus selalu dengan materi, namun bisa juga dilakukan dengan melakukan perilaku yang menyenangkan bagi orang lain. “Selepas Idul Adha ini, masyarakat tetap bisa meningkatkan kesalehan sosial dengan cara memperbanyak kebermafaatan dengan sedekah, Memberi dan berbagi mungkin selama ini dipahami sebagai tindakan materi, padahal tidak kan? Bisa juga dengan non materi. Ya itu tadi, bisa dengan cara bersikap yang baik pada orang lain,”ungkapnya. Dalam perspektif ilmu sosial, menurut Fauzik, kesalehan sosial ini juga merupakan modal penting untuk membangun bangsa. Di tengah situasi prihatin kala pandemi seperti ini, perlu banyak aksi kesalehan sosial untuk menguatkan ikatan hubungan antar warga demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. (wnd)