Tiga Lulusan Terbaik Raih IPK Nyaris Sempurna

 Kamis, 29 Agustus 2019 10:37 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dekan FISIP Dr.Rinikso Kartono,M.Si usai memberikan penghargaan kepada ketiga lulusan terbaik (ki-ka : Latifah, Dekan FISIP, Diah Astriani, Siti Malikatul)         Salah satu indikator menilai kualitas akademik mahasiswa adalah melalui nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Tentu menjadi kebanggan tersediri jika seorang sarjana tak hanya lulus tepat waktu namun juga memiliki nilai IPK memukau. Seperti yang terjadi di gelaran yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) hari ini. Ketiga lulusan terbaik fakultas, memiliki nilai IPK fantastik yaitu 3,95 ; 3,96 dan yang terbaik pertama 3,98.           Ketiga lulusan terbaik diperoleh oleh tiga mahasiswa dari Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Dua mahasiswa dari Prodi Hubungan Internasional yakni Latifah dengan IPK 3,95 meraih predikat terbaik ketiga dan Siti Malikatul Mushowwiroh dengan raihan IPK 3,98 menempati terbaik pertama. Sedangkan satu mahasiswa dari Prodi Sosiologi, Diah Astriani Putri, menyandang gelar terbaik fakultas kedua dengan perolehan IPK 3,96.            Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, wakil dekan II FISIP UMM menyampaikan bahwa ketiga lulusan terbaik di fakultas ini memang layak menandang gelar lulusan terbaik. “Pemberian gelar terbaik sesuai aturan di universitas memang didasarkan pada perolehan IPK dan indeks studi atau masa studi. Namun Alhamdulillah, ketiga lulusan terbaik ini bukan sekedar mahasiswa yang pintar karena cerdas akademis saja namun juga aktif di organisasi,” tutur doktor kelahiran Blitar ini. Kecerdasan akademik yang dilengkapi dengan kecerdasan emosi dan sosial bisa diperoleh melalui berbagai pengalaman, salah satunya pengalaman organisasi. Seorang jurnalis sains, Daniel Goleman, pernah menuliskan kecerdasan emosi adalah salah satu kecerdasan manusia yang menjadi faktor penting mempengaruhi prestasi seseorang.                 Pada hari ini, Kamis (29/8), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik resmi meluluskan 286 calon wisudawan. Selain mengadakan sejumlah prosesi akademik, orasi ilmiah juga disampaikan oleh salah satu dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Hutri Agustino, M.Si. Dosen yang juga insiator Sekolah Literasi di Malang Raya ini menyampaikan orasi yang berjudul Gerakan Pemberdayaan Masyarakat berbasis Komunitas di Era Globalisasi. Ia mengatakan bahwa di era sekarang, masyarakat harus jeli mengamati sejumlah perubahan sosial, apakah akan terjebak di fase gombalisasi (doing nothing) atau mampu mengasah diri menuju tahapan globalisasi yang meliputi integrasi, interkoneksi dan kemandirian. (wnd)

FISIP Gelar Pengajian dan Pelepasan Haji

 Kamis, 11 Juli 2019 11:16 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik GAYENG: Ahmad Fatoni, Lc.,M.Ag memberikan tausyiah pada pengajian rutin FISIP      Haji adalah sebuah ibadah yang harus disegerakan. Seperti yang ternukil dalam QS Al Imran ayat 97, dikatakan bahwa  mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dalam hadist riwayat Ahmad juga dipertegas oleh Rasulullah SAW yang bersabda, “Bersegeralah berhaji -yakni haji yang wajib-, sebab sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apa yang akan menimpa kepadanya” [Hadits Riwayat Ahmad dan lainnya]. Hari ini Kamis (11//7) FISIP menggelar pengajian rutin yang menghadirkan Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag, dosen Fakultas Agama Islam UMM. Pengajian rutin ini berbarengan dengan moment pelepasan haji Dr. Rinikso Kartono, M.Si, Dekan FISIP UMM. “Sudah lama anggota keluarga FISIP belum mendapat panggilan haji ke Baitullah. Alhamdulillah tahun ini ada keluarga FISIP UMM yang mendapat panggilan ke Baitullah, dan kebetulan dekan kita sendiri. Semoga tahun-tahun berikutnya semakin banyak anggota keluarga FISIP yang berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji,” ujar Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, Wakil Dekan II FISIP UMM.         Ahmad Fatoni mengatakan siapa yang haji karena Allah, ikhlas, tanpa berbuat keji dan kefasiqan, tanpa riya’, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya dan balasannya adalah surga. Haji juga akan menghapuskan kesalahan dan dosa-dosa, untuk itulah ibadah haji adalah upaya yang harus diupayakan, “Kita harus berusaha keras untuk mampu, selain mengeraskan niat juga menabung. Jangan nunggu tua, sebab kalau sudah tua akan banyak yang ikut, ya penyakitnya, ya keluhan-keluhan lainnya. Sebaiknya haji di usia muda, sebab jika sudah selesai berhaji ia bisa melakukan perubahan-perubahan sosial,”ungkapnya lugas. PENUH : Civitas akademika FISIP UMM antusias mengikuti pengajian             Ada banyak keutamaan dalam ibadah haji. Salah satunya adalah ganjaran pahala yang diperoleh ketika sholat di Masjidil Haram. Ustadz Fatoni menyitir hadist nabi yang menyebutkan bahawa sholat di Masjidil Haram 100 ribu kali dibandingkan sholat di masjid-masjid lain.  Seperti sabda Rasulullah dalam HR Ahmad dan Ibnu Majah yang menyebutkan bahwa shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya. Pahala sholat  yang diperoleh bahkan bisa melampaui batas usia  jika dibandingkan dengan pahala sholat yang dijalankan diluar kedua masjid tersebut.               Banyaknya keutamaan ibadah haji ini tentu logis jika dijadikan motivasi mengapa ibadah ini harus diperjuangkan dengan keras. “ Sebenarnya panggilan haji itu sudah diberikan secara resmi pada diri setiap manusia sejak di alam arwah, jauh sebelum dilahirkan. Tinggal kita serius apa tidak menjawab panggilan haji itu dengan proses yang diusahakan dengan keras,”tutur ustadz Fatoni. (wnd)

FISIP LULUSKAN 120 CALON WISUDAWAN

Jum’at, 15 Februari 2019 12:33 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Gelaran yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) periode I 2018/2019 sukses diadakan pada 12 Februari 2019 lalu, di Aula BAU. Kali ini FISIP berhasil meluluskan 120 lulusan yang berasal dari lima prodi, yakni prodi Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Sosiologi, Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Yudisium ini adalah gelaran yudisium periode pertama di tahun 2019 ini.          Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono, dalam sambutannya di depan para peserta yudisium mengatakan bahwa tantangan lulusan perguruan tinggi saat ini adalah menghadapi revolusi 5.0. “Tantangan alumni adalah bagaimana menghadapi revolusi industri yang kini memasuki era 5.0. Tidak hanya harus peka terhadap perkembangan teknologi, namun juga harus menguatkan relasi sosial dan spiritual,” ungkap doktor peraih IPK sempurna ini. Doktor alumni Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa saat ini para lulusan ditantang untuk menjadi manusia yang peka terhadap perkembangan zaman. Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono,M.Si bersama para lulusan terbaik fakultas           Ada yang menarik dari gelaran yudisium kali ini. Yesinia Fitria Oktavianasari, calon wisudawan dar Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial berhasil menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,32. Meski IPK nya tidak cumlaude, namun lulusan IKS ini adalah lulusan tercepat di fakultas sebab memiliki indeks yang lebih tinggi dibanding lulusan terbaik dari prodi lain. Yesinia adalah mahasiswa angkatan 2015, yang artinya ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya tak lebih dari 3 tahun 4 bulan. Yesinia berhasil menggeser posisi Julia Christiana Anggraini dari prodi HI, meski IPK Julia mencapai 3,92. Posisi ketiga lulusan terbaik diperoleh oleh Maharadis Juanda, dari prodi HI, dengan perolehan IPK 3,89. Julia dan Maharadis adalah calon wisudawan dari angkatan 2014.          Calon wisudawan sejumlah 120 orang tersebut terdiri dari 6 lulusan dari prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, 51 lulusan dari rodi Ilmu Komunikasi, 25 lulusan dari Ilmu Pemerintahan, 36 lulusan dari prodi Hubungan Internasional dan 2 orang lulusan dari prodi Sosiologi. Para calon wisudawan ini nantinya akan mengikuti wisuda yang akan diadakan 24 Februari mendatang. (wnd)

Gelar Kuliah KWU, FISIP Motivasi Mahasiswa Kuatkan Mental Wirausaha

Selasa, 29 Januari 2019 16:08 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono,M.Si memotivasi mahasiswa melalui materi Entrepreneur Overview pada Kuliah KWU (photo by:zen)      Sebagai upaya mendukung program universitas untuk menguatkan skill mahasiswa berkaitan dengan pencapaian karir dan kewirausahaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM gelar Kuliah Umum Karir dan Kewirausahaan (KWU). Sekitar 300 calon wisudawan dan mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi mengikuti kuliah umum yang digelar pada hari Selasa, 29-31 Januari 2019 di aula BAU. Kuliah umum yang bertema Creative Mindset For Innovative Young Entrepreneur ini menghadirkan sejumlah pembicara dari dosen-dosen FISIP dan mahasiswa pelaku usaha. Beberapa dosen yang memiliki pengalaman wirausaha, juga berkesempatan untuk sharing pengalaman bisnis melalui materi business plan.         Wakil Dekan III FISIP, Zen Amirudin, M.MedKom selaku penanggungjawab kuliah KWU mengatakan selain wajib mengikuti kuliah umum, para peserta juga wajib mengikuti perkuliahan klasikal, alias kuliah KWU di kelas dengan didampingi oleh dua orang dosen pendamping. “Di perkuliahan di kelas itu, peserta dikelompokkan dalam tim-tim kecil, mereka akan memperoleh sharing knowledge yang lebih detail terkait KWU. Dalam tim-tim kecil tersebut mereka juga wajib untuk menyusun proposal business plan dengan didampingi oleh dosen pendamping,”ungkap dosen yang mengajar di Prodi Ilmu Komunikasi ini.        Sejumlah materi yang diberikan pada peserta kuliah KWU meliputi dua bidang yaitu bidang karir dan bidang kewirausahaan. Materi entrepreneur, manajemen diri, manajemen karir, business plan dan yang berkaitan dengan job application adalah beberapa materi yang diterima oleh para peserta. M. Syaprin Zahidi, MA, salah satu pemateri business plan berbagi pengalaman berkaitan dengan pendirian usaha. Kebetulan ketua prodi Hubungan Internasional tersebut memiliki bisnis Sysgoodstore, online store pakaian bayi yang ia kelola bersama istrinya.     Produk akhir dari kuliah KWU ini nantinya fakultas akan menggelar entrepreneur day dan business summit yang rencananya akan digelar pada saat gelar wisuda, akhir Februari nanti. Sejumlah produk KWU dari kelompok-kelompok terbaik akan dipamerkan saat gelar wisuda. Selain menjadi penghargaan tersendiri bagi peserta terpilih, entrepreneur day dan business summit ini diharapkan juga mampu meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa untuk serius membangun wirausaha. (wnd)

Kuliah Tamu Kumunikasi: Kuasai Multi-Plaform Media itu Wajib

 Sabtu, 18 Oktober 2014 12:20 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Hadiyatullah Pakar New Media Net TV, saat memberikan motivasi kepada mahasiswa komunikasi brtajuk “New Media dan Ctizen Journalism” di basement dome UMM. (foto: humas UMM)            MANAJEMEN media dalam bentuk multi-platform menjadi pilihan paling menjanjikan di masa depan. Konektivitas televisi dengan sosial media (sosmed) dan citizen journalism (jurnalisme warga) adalah dua item paling krusial dalam manajemen tersebut. Demikian paparan Pakar New Media Net TV Hadiyatullah pada Seminar “New Media and Citizen Journalism” yang diadakan Jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di basement UMM Dome, Jumat (17/10).          Pendekatan multiplatform media itu, kata Hadiyatullah, adalah satu-satunya cara agar televisi Indonesia bisa bersaing dalam percaturan media global. “Sekarang ini semua orang menggunakan sosial media, mulai dari twitter, facebook, hingga google+ dan youtube. Jadi jika ingin menjadi media masa depan, maka televisi harus terkoneksi dengan semua itu,” ujarnya.          Hadiyatullah berharap, cara ini dapat membuat Net TV dapat bersaing dengan stasiun televisi internasional seperti CNN dan National Geographic. “Untuk itu, content dan kualitasnya benar-benar kita garap agar memenuhi standar internasional. Ini sekaligus menjadi shock therapy bagi pertelevisian Indonesia agar bergerak maju,” terangnya.        Selain menjaring sosmed, Net TV juga memperkuat citizen journalism sehingga siapapun bisa menjadi kontributor televisi tanpa harus menjadi kru terlebih dahulu. “Berita yang dianggap layak kami hargai antara 300 ribu hingga 50 juta, tergantung news value-nya. Untuk mempermudah upload berita, aplikasinya dapat diunduh di play store android.”          Menyadari pentingnya multi-platform media, Hadiyatullah meminta agar mahasiswa yang hadir menguasai segala jenis platform media sejak di bangku kuliah. “Jadi kalau nanti mau kerja di Net TV bakal ditanya, bisa twitter-an atau ga? Kalau jawabnya baru mau buat akun, ya sudah ketinggalan namanya,” tandasnya.       Selain kegiatan seminar, ratusan mahasiswa Ikom UMM juga termotivasi oleh tayangan video tentang kiprah sejumlah alumni UMM yang saat ini menjadi bagian penting di Net TV. Saat ini, menurut Dosen Ikom UMM Nasrullah, setidaknya ada delapan alumni UMM yang bekerja di stasiun televisi tersebut, bahkan jumlahnya bisa lebih banyak mengingat tidak semua alumni kiprahnya bisa dilacak. (ger/han/humas)

Kajian Ramadhan Fisip: Bagaimana Beragama dengan Cinta

 Kamis, 17 Juli 2014 10:44 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kajian Ramadhan Fisip: Diah Karmiyati (PR III), Asep Nurjaman (Dekan Fisip), Faridi (Pembicara, dekan  FAI)          Banyak diantara penganut keagamaan hanya mempraktikkan dipeluk agama bukan memeluk agama, sehingga pemahaman agamanya seringkali mengalami kontrakdiksi dalam kehidupan masyarakat. Demikian intisari dari kajian agama di Fisip UMM (17/7/2014) di ruang 611 dan dihadiri oleh seluruh dosen dan karyawan Fisip UMM.  Hadir sebagai pembicara Drs. Faridi, M.Si (Dekan FAI), dan dr. Diah Karmiyati, P.Si (Pembantu Rektor III). Faridi menjelaskan bahwa pemahaman keagamaan seseorang tidak ditentukan oleh nama atau atribut fisik lain. Memahami agama tidak harus rumit. Menyampaikan pengajian tidak harus fasih berbahasa Arab. Bahkan doa pakai bagasa Indonesia saja tidak dosa.  Muhammadiyah itu  organisasi sosial keagamaan yang pengikutnya beragama dengan logika sehat dan sosial, bukan radikal. Sambil mengutip Clifford Geertz, dekan FAI itu mengatakan, “Kita jangan salah memahami ajaran agama. Ada dua pengelompokan pemahaman keagamaan, yakni dipeluk agama (religiousness) dan memeluk agama (religius mindedness). Dipeluk agama itu memahami ajaran agama tidak menyandarkan pada logika dan akal, sementara memeluk agama menyandarkan kesadaran agama dengan menjadikan kemampuan rasio sebagai sarana penting untuk beragama secara benar”. Faridi menjelaskan lebih lanjut bahwa  seseorang yang dipeluk agama akan selalu  menengelamkan  dirinya dalam pelukan agama sehingga setiap doktrin  keberagamaan diterima  begitu saja tanpa kesangsian, kalau ada kesangsian, namun dengan suka rela ia mematikan. Memelihara jenggot itu bisa dipahami oleh penganut dipeluk agama secara harfiah. Padahal dulu dilakukan Rasulullah untuk membedakan antara orang Islam dan Yahudi. Itu dikatakan Rasulullah karena saat perang belum ada seragam. Untuk membedakan maka jenggot dianjurkan.  Ini yang kadang masih disalahartikan sebagai doktrin ajaran agama. “Sementara itu, memeluk agama itu sikap seseorang tidak tenggelam dalam rutinitas  agama, melainkan aktif memepertanyakan  ajaran agama yang diterima secara apiori.  Kepercayaan yang berlebihan akan kemampuan rasio sebagai saran paling menentukan untuk beragama secara benar. Jadi, tidak semua hadist harus diterima tetapi harus dikontekskan dengan masyarakat dimana agama berkembang , “mantan Pembantu Dekan II FAI itu menandaskan. Motivasi PR III Sementara itu, dalam sambutannya, Diah Karmiyati (Pembantu Rektor III) menekankan pentingnya prirotas dalam menjalani hidup. Sebab, kita dihadapkan pada prioritas yang ada di sekitar kita. “Hidup ini akan selalu dihadapkan pada skala prioritas.  Kita punya multi peran.  Jika salah satu peran tidak tercapai, tentu akan ada konsekuensi.  Apa yang kita inginkan sangat mungkin  tidak sesuai sebagaimana yang kita diharapkan”, tegas Dian Karmiyati yang juga mantan Dekan Fakultas Psikologi. Diah juga menegaskan jika ada skala prioritas  yang dipilih sementara ada yang tidak tercapai tentu akan mengorbankan dan tidak tercapai keseimbangan. Masing-masing skala punya konsekuensi masing-masing. Seseorang tentu harus memilih mana yang mempunyai dampak paling kecil (nrd)

India: Dalam Dekapan Monumen Cinta dan Gelegak Identitas Muslim (Catatan Perjalanan)

 Kamis, 03 Juli 2014 13:38 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bersama Atase Pendidikan Indonesia untuk India, Dr. Son Kuswadi (kedua dari kiri) di depan kampus Jamia Millia Islamia, New Delhi India (ki-ka: Gonda Yumitro, Son Kuswadi, Rinikso Kartono, Oman Sukmana, M. Hayat, Hevi Kurnia Hardini, Rahayu Hartini, Sugeng Winarno) Oleh Muhammad Hayat (Kaprodi Sosiologi Fisip UMM) Alhamdulillah, Perjalanan Ke India dalam rangka benchmarking (penguatan kelembagaan melalui kerjasama dengan Perguruan Tinggi asing: dalam hal ini India) berjalan sukses. Bahkan UMM berhasil sampai pada kesepakatan Agreement for Cooperationg (AoC) dengan Delhi University. Sementara di Jawaharlal Nehru University dan Jamia Millia Islamia peluang untuk melakukan kerjasama yang lebih dekat terbuka lebar, baik dengan Memorandum of Understanding (MoU) maupun AoC. Kami bertujuh, Drs. Oman Sukmana, M.Si (Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial), Sugeng Winarno, MA (Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi), Muhammad Hayat, MA (Ketua Program Studi Sosiologi), Gonda Yumitro, MA (Ketua Program Studi Hubungan Internasional), Hevi Kurnia Hardini, M.Gov (Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan), Drs. Rinikso Kartono, M.Si (Ketua Program Studi Magister Sosiologi) dan Prof. Dr. Rahayu (Ketua Program Studi Magister Hukum), melakukan kunjungan akademik selama satu minggu ke kampus-kampus unggulan di India. Di sela-sela padatnya kegiatan, kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa penanda wisata penting India. Dalam terik matahari dengan temperatur di atas 40 derajat Celcius ( di Agra, tempat Taj Mahal berada suhu mencapai 48 derajat Celcius), kami mencoba menyusuri keindahan, kemegahan dan keunikan India.   New Delhi               Tempat pertama adalah Kota New Delhi. Kota terbesar di India ini beruntung mendapatkan sentuhan cita rasa arsitek Inggris. Setiap sudut kota, taman-taman kota adalah pemandangan utamanya. Luasnya tidak hanya secuil, hal tersebut menandakan jika pengambil kebijakan memberi ruang demokratis bagi masyarakat. Inilah salah satu public sphere, dimana penghuninya bisa memanfaatkannya untuk merasakan oase dalam hiruk pikuk aktifitas. Burung, gagak, tupai, anjing, kera adalah pemandangan jamak dalam etalase ruang publik. Masyarakat India meyakini mereka adalah makhluk yang harus mendapatkan hak hidup yang sama dengan manusia. Sepanas dan segersang apapun suatu tempat, tetap saja hewan-hewan tersebut bisa merasa nyaman dalam lalu-lalang penduduknya. India memberi jeda pada pikiran, bahwa memahami sekitar adalah memahami hak tentang kompleksitas kehidupan dalam kesederhanaan tindakan. Kesederhanaan dan kebanggaan India terekam dalam hak hidup kendaraan tradisional. Lalu lalang Auto (Angkutan umum sejenis bajay) dan Rickshaw (Sejenis becak dimana pengemudinya ada di depan) adalah pemandangan mayoritas di Jalanan New Delhi.  Warna dan ornamennya memang terkesan lusuh, hal ini bukan menjadi masalah bagi masyarakat India, yang paling penting adalah keberfungsiann-nya. Fungsi menjadi point penting bagi masyarakat India. Kami sempat heran saat melihat banyak sekali mobil-mobil bagus yang bagian depan, samping maupun belakangnya penuh dengan bopeng-bopeng. Tetap saja mereka dengan percaya dirinya melaju kencang di jalan-jalan raya. Hampir semua mobil tidak ada yang mengkilat dan bersih, rata-rata kotor dan penuh debu. Tetap saja mereka merasa nyaman untuk memakainya. Bagi mereka, fungsi mobil adalah alat transportasi antar satu ke tempat yang lain. Point inilah yang mereka pegang. Dalam sengatan panas diatas 40 derajat Celcius, kami menikmati Auto dan Rickshaw. Kendaraan tradisional ini memberikan sensasi tersendiri. Kunjungan dalam detak kebahagiaan adalah keseluruhan atmosfer dan perasaan kami. Hal yang cukup mengganggu manakala berkunjung ke India adalah kebersihan. Kesan kusam dan cenderung kurang bersih terlihat di pojok-pojok kota. Kita akan dengan mudah mendapatkan pengemis di ruang-ruang publik. Orang-orang masih dengan seenaknya meludah di jalan.Ketika kita belanja, mereka tidak segan-segan melakukan jual beli dengan cukup memaksa. Untuk hal tersebut, kita harus dengan tegas mengatakan Nehi (bahasa India untuk kata “tidak”). Terlepas dari itu, India adalah tempat dengan sosok masyarakat yang sangat percaya diri dan bangga sekali dengan identitas lokal.   Zakir Nagar               Ada tempat menarik lain yang kurang mendapatkan perhatian kita saat berkunjung ke India, yaitu Zakir Nagar. Daerah dengan penduduk mayoritas muslim ini merupakan salah satu tempat terpadat di New Delhi. Tempat dimana pada akhirnya saya meng-amini bahwa penduduk India benar-benar dalam kisaran 1,2 milyar. Bisa dipahami jika masyarakat muslim memilih hidup dalam satu lingkungan. Karena dari sinilah mereka merasa mempunyai kemampuan memproduksi nilai berdasarkan identitas. Kenyamanan relasi berimplikasi pada atmosfer muslim yang menggelegak dalam keseharian mereka. Hal tersebut terlihat sangat jelas dari sesaknya masjid saat shalat tiba, makanan halal, dan lain sebagainya. Terkonsentrasinya penduduk muslim tersebut berimplikasi pada pemaknaan “space” hanya sebatas “primary need” bagi penduduknya. Pemandangan utamanya adalah, jalanan Zakir Nagar yang lebarnya hanya sekitar 6 meter penuh sesak oleh mata rantai ekonomi. Etalase makanan, pakaian, warung makan, satu-dua resto kecil, pedagang kaki lima dengan makanan khas India menjadi wajah kiri kanan jalan. Kami berjalan dalam degup cepat kaki-kaki panjang yang melintas dengan cepat. Pada saat yang sama, Rickshaw melintas dengan cepat. Dalam jalanan padat tetap saja bisa mengambil celah. Sore semakin gelap, tanpa terasa perut sudah mulai keroncongan. Sama Pak Alam, teman Pak Gonda kami diajak makan ke sebuah resto yang menyediakan makanan khas India yang sudah terkenal turun temurun. Beberapa sajian memenuhi meja, ayam dengan saus warna putih dengan taburan sayur yang diiris kecil-kecil. Ayam saus santan kental dengan bumbu warna oranye, sampai dua potong daging kambing dalam mangkok ukuran sedang, dengan rempah-rempah yang memenuhi keseluruhan mangkuk. Tidak lupa roti canay dalam ukuran yang sangat besar. Nasi Biryani, sebagai nasi khas India menjadi pelengkap lain yang memenuhi meja. Tidak ketinggalan, salad bawang merah besar asli India diiris tipis-tipis dipadu-padankan dengan beberapa irisan jeruk nipis. Jinten dan pala menguasai lebih dari 50% kadar bumbu dalam setiap masakan. Saya menikmatinya dalam kebingungan lidah mencecap rasa yang begitu different dengan cita rasa makanan Indonesia. Matahari senja mulai menggantung di langit Zakir Nagar. Adzan magrib mulai berkumandang, merasakan shalat di masjid berlantai 4 menjadi passion berikut kami. Dalam waktu singkat, 4 lantai penuh dengan jamaah. Hiruk pikuk jalan Zakir Nagar, menjadi ritme hidup bersanding dengan gelegak ibadah masyarakat. Setelah selesai shalat magrib, kami kembali menyusuri Jalan-jalan di Zakir Nagar. Jalan kecil begitu hidup di sore yang semakin padat. Mobilisasi manusia, kendaraan, maupun pedagang menjadi ritme rutin yang bermuara pada kemacetan parah. Bunyi klakson kendaraan menjadi magma utama dalam kebingungan kami mencari celah untuk bisa tetap bergerak, bersama ribuan kaki yang sama-sama terjebak dalam kemacetan. Masyarakat setempat sepertinya sudah terbiasa dalam kondisi seperti itu. Magrib yang mulai menghilangkan semburat jingga matahari, semakin riuh dalam detak satu persatu

Simulasi Pemilihan Pilpres: Generasi Muda, Masa Depan Bangsa

 Jum’at, 13 Juni 2014 10:49 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik   Tak semua pemuda memahami pentingnya memberi suara saat Pemilihan Presiden (Pilpres). Padahal jumlah pemilih pemula di Indonesia mencapai 53 juta orang. Jumlah ini merupakan sepertiga dari total pemilih di Indonesia. Jumlah tersebut, menurut Dosen Ilmu Politik di Universitas Indonesia, Dr Khusnul Maria, sudah bisa memenangkan satu partai politik atau salah satu Capres. Tapi itu sangat sulit terjadi karena banyak pemuda tak menggunakan hak suara mereka. “Alasannya sangat banyak, namun yang terbesar adalah mereka tidak paham apa itu untungnya mencoblos,” kata Khusnul disela kegiatan Central For Election and Political Party (CEPP) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (10/6/2014) siang. CEPP merupakan sebuah organisasi non profit  di bidang pendidikan politik. Ucapan tersebut juga dibenarkan Kasubdit Implementasi Kebijakan Politik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Sri Handoko Taruna. Ia mengatakan 89 persen pemilih pemula belum memahami aturan atau keputusan dari wakil rakyat di DPR, MPR, atau Presiden berpengaruh pada kehidupan masyarakat. “Survei ini kami lakukan di 33 Perguruan Tinggi sebelum Pileg (Pemilihan Legislatif) kemarin,” kata Sri padaSurya. Ketika itu, Kemendagri bersama CEPP menggelar sosialisasi Pemilu pada para mahasiswa di 33 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, seperti yang terjadi di Dome UMM, Selasa siang. Di sini para mahasiswa diberi pemahaman terkait politik, kebijakan politik, dan simulasi mencoblos dengan benar. “Karena ini simulasi, kami tidak menggunakan kertas suara betulan. Hanya kertas suara rekaan yang calonnya adalah lima jenis buah-buahan seperti Mangga, Nanas atau Jeruk,” kata Sri Handoko Putra. Cara penyampaian CEPP ini juga dibuat menarik dengan membuat forum diskusi beranggotakan 10 orang saja, dan sepanjang kegiatan juga dibumbui oleh berbagai pertunjukkan musik dari mahasiswa UMM. Tidak hanya itu saja, sekitar 400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang yang ikut dalam kegiatan bertajuk Rock The Vote di UMM ini juga turut menuliskan aspirasinya di kain putih sepanjang 50 meter. Aspirasi itu meliputi harapan mereka terhadap kehidupan Indonesia, atau pemimpin di masa mendatang. “Kain ini akan kami pasang di depan kampus UMM sebagai bukti keaktifan para pemuda dalam Pemilu,” imbuh Yana S Priji, Ketua Pelaksana CEPP di UMM. Yana yang bekerja sebagai Dosen Ilmu Politik UMM ini menambahkan kesadaran politik para pemuda di Indonesia semakin bertambah di tahun ini. Itu terlihat dengan meningkatnya persentase pemilih, dari yang 70 persen di tahun 2009, menjadi 75 persen di tahun 2014. Jumlah pemilih di Indonesia pada tahun ini mencapai 150 juta orang. “Berapa jumlah pemudanya belum diketahui. Kendati demikian, foto-foto mereka setelah mencoblos kan sudah banyak beredar di internet. Ini bisa jadi indikator kalau pemilih pemula semakin besar,” katanya. Indikator yang lain adalah para peserta CEPP menjawab kompak sudah, ketika mc menanyakan apakah mereka sudah tercatat memiliki hak pilih atau tidak. Kendati begitu, sebagian dari mereka mengaku abstain saat Pileg yang lalu. Ini disebabkan para mahasiswa kebanyakan luar kota Malang. Salah satunya adalah Ratih Kumalasari. Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Politik UMM, angkatan 2013 ini memastikan tidak akan absen saat Pilpres 9 Juli mendatang, apalagi saat itu ia juga tengah libur kuliah. ”Insyallah saya memilih. Apalagi kan pas bersamaan dengan libur kuliah,” kata Ratih Kumalasari, salah satu peserta. Ia mengatakan akan mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dekat rumahnya di Tulungagung. Tapi, siapa yang akan ia pilih nanti masih rahasia. “Saya masih menimbang-nimbang siapa calon yang terbaik, baik itu masa lalunya atau progam-progamnya ke depan,” katanya. Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2014/06/10/jangan-salah-menyoblos-capres

Fungsionaris BEM FISIP Siap Terbitkan Buku

 Kamis, 24 April 2014 11:39 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Foto habis rapat penerbitan buku “Carut Marut Politik Indonesia” di kantor BEM FISIP UMM (7/4) Tergugah untuk menuangkan uneg-uneg,  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip UMM berencana membikin buku kumpulan tulisan. BEM tertantang membuat buku karena ada sindiran bisanya demo dan penyaluran ketidakpuasan lain. Dengan membuat buku, paling tidak semua tuduhan itu terjawab dan juga sebagai bentuk pertanggungjawaban mahasiswa pada masyarakat akademis. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, BEM mengundang  Nurudin (PD 1 Fisip) dan  telah menghasilkan 14 buku dan serta aktif mendorong budaya menulis di kalangan mahasiswa. Bertempat di kantor BEM Student Center (SC) UMM, seluk beluk tentang penulisan buku dikupas habis. Nurudin mengingatkan bahwa menulis buku tidak hanya menjadi tanggung jawab dosen, tetapi juga mahasiswa. Buku itu akan bisa dikaca oleh semua kalangan masyarakat. “Buku juga menjadi pertanggungjawaban ilmiah mahasiswa kepada masyarakat. Artinya, buku itu minimal bisa dibaca orang lain. Demo sih penting, tetapi jejak apa yang bisa dinikmati generasi mendatang perlu ditulis”. Ryanda Barmawi ketua BEM FISIP merasa tertantang juga setelah mengadakan Studi Banding ke Universitas Yogyakarta (UMY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mengungkapkan, “Di UGM mereka punya jurnal yang setara dengan jurnal-junal dosen. Kita layak mencontoh. Tidak usah muluk-muluk yang penting ada tulisan. Buku pun tidak masalah. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (IP) itu juga menekankan bahwa BEM sekarang harus berbeda dengan yang sebelumnya. BEM diharapkan bisa ikut memacu karya-karya mahasiswa. Hanya semua harus dimulai dari anggota BEM sendiri. Acara yang dihadiri belasan fungsionaris BEM itu bersemangat untuk menindaklanjuti. Dalam pertemuan di Kafe Cesko (17/4/14), Jetis, Malang sudah dipilih tema buku yakni “Carut Marut Politik Indonesia” Tema itu diselaraskan dengan tahun politik 2014. Intinya, bagaimana mahasiswa meneropong dan memberikan sumbangan pada masyarakat dan bangsa ini ke depan. Tentu khas dari mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk diadakan pertemuan seminggu sekali sampai terkumpul naskah pada tanggal 17 Mei 2014. Taufik Hidayatulah selalu coordinator penerbitan buku BEM mengharapkan untuk terus maju apapun yang terjadi. Diharapkan kampus memberikan sumbangan pendanaan untuk penerbitan itu

BEM FISIP UMM Temukan Jual Beli Suara dan Premanisme di TPS

 Sabtu, 12 April 2014 09:10 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Tim anti politik uang dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkap berbagai kecurangan saat Pemilihan Legislatif (Pileg). Tim berjumlah 25 relawan itu menemukan jual beli suara di lokasi TPS di sejumlah titik. “Jadi disana ada orang yang memang berdiri dilokasi TPS dan menawarkan uang kepada pengunjung,” ungkap koordinator relawan Ryanda Barmawi kepada wartawan, Rabu (9/4/2014). Temuan lain adalah, adanya mobilisasi preman untuk mengumpulkan warga dan menyuruh mencoblos salah satu calon legislator. “Kami ada bukti saksi, foto, dan warga yang menjadi korban,” tandasnya. Relawan anti politik uang ini mengimbau kepada panitia pengawas pemilu (Panwaslu) Kota Malang agar segera menindak lanjuti dugaan kecurangan ini. “Kami mau share data dengan panwaslu dan teman-teman juga mau menjadi saksi atas ini,” janjinya. Ketika ditanya mengenai partai dan caleg yang melakukan pelanggaran tersebut?. Ryan masih enggan menyebutkan dengan alasan keamanan. Terpisah, Ketua Panwaslu Kota Malang Azhari Husein mengaku, belum menemukan adanya pelanggaran atau kecurangan saat proses pencoblosan. Kendati demikian, pihaknya terus menggali informasi di masyarakat. “Sampai kini belum ada temuan baik juga laporan,” ucapnya terpisah. (MA/detiknews)