Gelar Yudisium Online, FISIP Luluskan 121 Wisudawan

 Rabu, 17 Februari 2021 10:57 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      FISIP UMM hari ini (17/2) menyelenggarakan yudisium periode 1 tahun 2021. Karena masih di tengah pandemi, pelaksanaan yudisium digelar secara online. Para peserta didampingi kedua orang tua mengikuti pelaksanaan prosesi yudisium melalui platform zoom. Sedangkan civitas akademika lainnya bisa menyimak melalui live streaming di official account YouTube FISIP UMM. Pada gelaran yudisium hari ini, sebanyak 121 calon wisudawan dan wisudawati dikukuhkan dengan gelar S.Ikom untuk Prodi Ilmu Komunikasi, S.Sos untuk Prodi Sosiologi dan Kesejahteraan Sosial, dan S.IP untuk lulusan Prodi Ilmu Pemerintahan dan Prodi Hubungan Internasional. Pelaksanaan yudisium secara online yang bisa disimak secara live melalui akun Youtube FISIP UMM Dalam sambutannya, dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si mengatakan tidak semua orang punya kesempatan mampu menyelesaikan pendidikan hingga di titik ini. Terlebih, pandemi covid-19 masih menjadi beban yang mempengaruhi banyak aspek. “Namun kita harus pandai mengambil hikmah dalam peristiwa ini. Allah telah memerintahkan untuk iqro, yaitu membaca ayat-ayat kauniyah, karena kejadian di muka bumi adalah ayat-ayat kauniyah itu. Semoga gelar sarjana yang disandang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para sarjana dan keluarga,”ungkapnya. Ia menambahkan sejatinya di balik perisitiwa pandemi ini ada yang perlu disyukuri. Covid-19 mengembalikan kedekatan keluarga. Melalui covid-19 ini sebenarnya interaksi anak dan keluarga dikembalikan lagi dalam relasi yang mendekatkan. Rinikso juga mengatakan, hikmah pandemi lainnya adalah di antara kesulitan ekonomi, telah membuat banyak orang mengasah krativitasnya dalam sisi yang positif. “Banyak sekali sumber dan cara untuk belajar. Keberhasilan dalam proses pendidikan adalah terjadi proses pembebasan diri. Saudara hari ini jadi sarjana, jangan menunggu, lakukan apapun selama itu baik dan untuk kebaikan. Anak-anakku harus bisa membaca tanda-tanda zaman. Hari ini anda dilantik menjadi sarjana, besok jangan berpangku tangan. Jangan membatasi diri hanya menunggu kesempatan, namun berkreasilah untuk mengisi dengan kebaikan-kebaikan,”jelasnya. Para peserta didampingi kedua orang tua saat prosesi yudisium Dalam yudisium kali ini, dosen muda FISIP Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW, juga menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul ‘Imigran Indonesia dalam Pusaran Pembangunan Malaysia-Indonesia’. Eko yang menyelesaikan studi dalam bidang social work di Universiti Sains Malaysia ini memaparkan Malaysia masih menjadi salah satu tujuan negara migran favorit karena beberapa alasan. Salah satunya adalah karena faktor geografis dan kesamaan bahasa Melayu. Banyaknya pekerja migran asal Indonesia ini tentu berpengaruh pada pembangunan negara Malaysia, khususnya dalam bidang ekonomi. Daya beli masyarakat  di Malaysia juga meningkat berkat para pekerja migran ini. Namun sayangnya selama ini image bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) cenderung negatif. “PMI cenderung dipersepsi sebagai pekerja yang unskill, tapi sebenarnya banyak juga yang bekerja sebagai pensyarah, atau dosen dan memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Jika ditanya apakah PMI punya peran bagi Indonesia? Jawabannya tentu saja iya. Remitensi adalah salah satu buktinya. Jumlah remitensi tercatat 10 milyar US Dollar atau lebih dari 153 Triliyun rupiah yang masuk ke negara. Melalui orasi ilmiah ini, saya berharap persepsi negatif terhadap PMI yang unskill itu bisa dikikis. Peran PMI bagi perkembangan ekonomi Indonesia sejatinya cukup besar,”ungkapnya. Sandy Putra Ghozali, peraih predikat terbaik 1 fakultas, saat menerima ucapan selamat dari Dekan FISIP (foto: rhd) Yudisium kali ini selain meluluskan 121 wisudawan juga mengukuhkan Sandy Putra Ghozali, Ardika Rizkian Nurrahmat dan Imam Yusuf Abdullah, sebagai lulusan terbaik pertama, kedua, dan ketiga tingkat fakultas. Sandy Putra, peserta yudisium dari Prodi Ilmu Pemerintahan ini berhasil memperoleh IPK 3, 88. Putra dari Djali Karim dan Yuli Astutik itu berhasil menyelesaikan prestasinya dengan indeks prestasi terbaik dan lulus lebih cepat, hanya 7 semester saja. (wnd)

FISIP Punya Gubma, Ketua Sefa dan Ketua Himaprodi Baru

 Jum’at, 05 Februari 2021 15:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Hari ini (5/2) FISIP UMM melantik jajaran fungsionaris lembaga intra di lingkungan FISIP.  Sebanyak 16 fungsionaris yang terdiri dari gubernur mahasiswa, wakil gubenur mahasiswa, ketua dan anggota senat mahasiswa fakultas dan ketua himaprodi dari kelima prodi mengikuti pelantikan yang digelar dengan protokol kesehatan ketat di ruang sidang 611. Jajaran dekanat, kaprodi dan sekprodi juga tampak hadir dan ikut menyaksikan jalannya pelantikan. Suasana pelantikan fungsionaris lembaga intra FISIP UMM di ruang 611 (photo by: radityo)        Acara yang dimulai dengan pembacaan SK pelantikan fungsionaris lembaga intra tersebut berjalan singkat dan hikmat. Di tengah pandemi, FISIP UMM berupaya  tetap menjaga diri dengan standar protokol kesehatan yang ketat selama sesi berlangsung. Meski berlangsung singkat namun hal itu tidak mengurangi semangat dan optimisme para fungsionaris baru.       Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si dalam sambutannya mengatakan menjadi seorang pemimpin adalah sebuah tantangan sekaligus keberuntungan. “Pesan saya jangan sampai terlena, jangan jadikan banyaknya aktivitas sebagai defend mechanism. Menjadi pemimpin adalah tantangan sekaligus keberuntungan, apalagi di masa pandemi seperti ini. Dunia berubah, tantangan kita yang terbesar adalah menyesuaikan diri dengan perubahan dunia yang disebabkan oleh covid ini,”ujar dekan.        Tantangan yang dihadapi mahasiswa bukan hanya bagaimana tantangan sebagai aktivis mahasiswa yang bergelut dengan aktivitas akademik dan organisasi saja namun juga harus cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan. “Semoga pelantikan hari ini menjadi bagian catatan perjalanan anda agar semakin bermanfaat bagi sesama. Selamat untuk yang telah dilantik, dan terimakasih serta penghargaan kami untuk para pengurus periode sebelumnya yang telah menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya,”ungkap Rinikso. Fungsionaris baru lembaga intra berfoto bersama dekanat dan para kaprodi sekprodi (photo by: radityo)       Dekan juga mengedepankan pentingnya kredibiltas bagi seorang aktivis mahasiswa. Kredibilitas menjadi bagian dari bukti kualitas diri. Ciri seseorang yang memiliki kredibilitas tinggi adalah seseorang yang mampu memenuhi standard good performance, credibility of moral dan credibility of intellectual.         Untuk kepengurusan periode 2021 ini, Fathum Mubin dan Wiebi Winarto dilantik sebagai Gubernur Mahasiswa (Gubma) dan Wakil Gubma FISIP UMM. Sedangkan Laily Ainur Rahmah dilantik sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas (Sefa) FISIP UMM periode 2021. Dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua Sefa, Laily akan didampingi oleh para anggota diantaranya adalah Muhammad Syahrul Gunawan, Gusti Rifky Pangeran Alamsyah, Muhammad Levia Dava Rezeki Effendi, Fahrur Rosyidi, Muhammad Amien, Rania Azzahra, Zendita Alvion dan Hilfa Zahratul Firdausyi.       Sejumlah ketua himaprodi juga dilantik dalam pelantikan kali ini. M Alfian Syabani sebagai Kahima Prodi Ilmu Komunikasi (HIMAKOM), Avanda Putri Prameswari sebagai Kahima Prodi Kesejahteraan Sosial (HIMAKS), Rizky Juda Putra Hidayat sebagai Kahima Prodi Ilmu Pemerintahan (HIMAP), Kezianara Varayshalwa sebagai Kahima Prodi Sosiolosi (HIMASOS) dan Humaa Siyan Indie sebagai Kahima Prodi Hubungan Internasional (HIMAHI). Selamat untuk para fungionaris lembaga intra yang baru. Semoga mampu menjadi agent of change yang bisa membawa FISIP semakin berkemajuan. (wnd)

Dubes untuk Kolombia Sebut Indonesia Punya Peluang Besar

 Kamis, 28 Januari 2021 16:37 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Kolombia merangkap Antigua, Barbuda serta Saint Christoper dan Nevis, Drs. Priyo Iswanto, M.H, hari ini memberikan kuliah tamu pada Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM. Kuliah tamu bertema “Tantangan dan Peluang Diplomasi Indonesia di Kawasan Amerika Latin” mengulas tuntas tentang bagaimana peluang dan tantangan Indonesia di kawasan Amerika Latin. Priyo menyebut, meski memiliki sejumlah tantangan yang menarik, Indonesia juga punya potensi besar di Kolombia. Ia juga menyebut bahwa alumni FISIP memiliki potensi untuk menjawab tantangan dan peluang tersebut. Duta Besar LBPP RI untuk Kolombia, Drs. Priyo Iswanto, M.H saat memberikan kuliah tamu di FISIP UMM Menurut duta besar, pada dasarnya setiap negara memiliki kepentingan nasional masing-masing ketika berbicara dalam konteks hubungan antar negara.  “Penekanan hubungan luar negeri adalah perekonomian, untuk mensejahterakan rakyat. Hubungan politik yang bagus, tidak ada  buahnya jika tidak berujung pada perdagangan. Jadi sebenarnya dubes itu salesman komoditi. Dan komoditi Indonesia cukup kompetitif di Kolombia,”jelasnya. Meskipun demikian, ia mengakui, ada sejumlah tantangan yang harus diatasi. Salah satu tantangan terbesar adalah faktor jarak. Jarak memiliki konsekuensi pada lama pengiriman barang, waktu dan biaya. “Orang yang ingin melakukan transaksi dagang, pasti memilih yang jaraknya lebih dekat dan biaya lebih murah. Misal antara Indonesia dan Vietnam, cenderung akan memilh Vietnam yang lebih dekat dan bisa lebih cepat,”imbuhnya. Perlu diketahui, distribusi komoditi dari Indonesia ke Kolombia, bisa memakan waktu hingga lima hari termasuk waktu transit. Hasil tangkapan layar kuliah tamu yang bisa disimak melalui channel Youtube UMM Untuk mengantisipasi permasalahan jarak yang berimplikasi pada biaya, Priyo mengungkapkan ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk menaikkan daya kompetitif. Misal dengan tarif bea masuk yang rendah atau di nolkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukaan free trade agreement sehingga dengan strategi ini tarif bisa berkurang dan harga barang lebih terjangkau. Saat ini dengan Chille sudah berhasil, dengan Kolombia dan Peru sedang dimulai.  Saat ini yang perlu didorong adalah free trade agreement dengan Meksiko. Tantangan lainnya adalah faktor bahasa. Menurut Priyo, masih sedikit masyarakat Indonesia yang menguasai Bahasa Spanyol, padahal di Kolombia bahasa yang dikuasai adalah bahasa Spanyol, masih jarang yang bisa berbahasa asing sehingga hal ini harus dijembatani. Duta besar juga sempat menyinggung tentang kontribusi perguruan tinggi terhadap potensi yang dimiliki Indonesia ini.  Perkembangan organisasi kawasan di Amerika Latin saat ini tengah menjadi perhatian  sehingga perlu kontribusi dari perguruan tinggi untuk meningkatkan people to people context. “Lulusan FISIP itu jika menguasai komunikasi dengan baik, pasti sukses. Khususnya dalam hal branding produk. Branding itu penting, harus bisa membawa nama baik Indonesia dimana pun. Saat ini image Indonesia di negara kawasan Amerika Latin sedang bagus. Secara politis negara kita damai, secara ekonomi sedang tumbuh, Indonesia diapresiasi sebagai negara di kalangan G 20 yang perkembangan ekonominya relatif baik,”ungkap duta besar yang diambil sumpah jabatannya sebagai dubes oleh Presiden Jokowi pada Maret 2017 lalu ini. Ia juga terbuka pada masukan dan kreativitas dari institusi pendidikan terkait hal apa saja yang bisa dikontribusikan untuk mengembangkan soft diplomacy dengan negara-negara kawasan di Amerika Latin. (wnd)

Produktif di Masa Pandemi, Mikli Audin Bawa Pulang Tiga Penghargaan

 Minggu, 17 Januari 2021 12:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pandemi tidak menghalangi semangat berprestasi. Setidaknya hal ini yang dibuktikan oleh salah satu mahasiswa FISIP Prodi Ilmu Komunikasi, Mikli Audin. Sejumlah prestasi membanggakan berhasil ia raih di masa pandemi ini. Menariknya, Mikli tercatat sebagai maba, alias mahasiswa baru angkatan 2020 di Prodi Ilmu Komunikasi. Meski masih duduk di semester satu, namun semangat Mikli untuk mengharumkan nama kampus tak pupus. Mikli Audin (kanan) saat pengumuman pemenang Commfest UNIDA Gontor (foto: ist)     Pemilik nama lengkap Mikli Audin ini baru-baru ini berhasil meraih juara pertama cabang lomba videografi pada gelaran Communication Festival (Commfest) Universitas Darussalam Gontor 2020, akhir Desember lalu. Dia berhasil menyisihkan ratusan peserta dalam gelaran yang bertajuk “Rise Together, Act Together” tersebut melalui video tentang sosok ibu. Video berjudul Love e Emak ini berhasil merebut hati ketiga juri. Para juri yang terlibat diantaranya Moddie Alvianto Wicaksono, M.A (Penulis Pojok), Irfan Gafir (Creative Content Creator) dan Mamuk Ismuntoro (Pendiri Komunitas Matanesia dan Visual Storyteller).  Diakui Mikli, ia cukup terkesan ketika Irfan Gafir salah satu juri mengomentari karyanya. “Dia bilang karya saya bagus, meski sebenarnya lebih cocok diputar di Hari Ibu karena temanya tentang sosok ibu. Tantangan dalam membuat karya ini adalah karena saya adalah one man army yang artinya mempersiapkan segalanya sendiri. Jadi dari membuat scriptnya, menyutradarai, menshoot, sampai mengedit  videonya saya lakukan sendiri,”kisahnya. Poster video Love e Emak, karya yang dibuat oleh Mikli Audin dan berhasil membawa pulang gelar juara (foto: ist)      Namun bimbingan dari dosennya, M.Fuad Nasvian, M.Ikom, dia akui sangat membantu dalam menyiapkan presentasi. “Ketika mendapat pengumuman finalis dan finalis dituntut untuk presentasi, saya langsung calling Pak Fuad dan Pak Fuad langsung mengajak diskusi dan memberikan arahan bagaimana cara presentasi, apa saja yang perlu disampaikan dan mungkin kesalahan-kesalahan yang sering terjadi saat presentasi. Itu sangat membantu saya,”imbuhnya.     Selain menang di Commfest Unida Gontor, sebelumnya mahasiswa asli Malang ini juga mencatatkan sejumlah prestasi membanggakan. Selama menjadi mahasiswa baru, Mikli berhasil memperoleh gelar juara 3 lomba videografi “Tetap Kreatif dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Samarinda. Sebulan setelah diterima sebagai mahasiswa baru UMM, Mikli juga berhasil menjuarai event HEPHOSPOR Competition Poltekes Kemenkes Semarang 2020. Di event tersebut dia berhasil meraih juara 1 lomba video kreatif. “Saya memang senang ikut lomba, selain dapat pengalaman, juga lumayan bisa melatih kemampuan saya dalam bidang videografi. Hadiah yang didapat sih bonus ya,”ungkapnya sambil tersenyum. Congratulation, Mikli! (wnd)

Dorong Pengesahan RUU PPRT, Sosiologi UMM Gelar Talkshow Kolaborasi dengan Institut KAPAL Perempuan

 Jum’at, 18 Desember 2020 12:14 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang bekerjasama dengan Institut Lingkaran Pendidikan Alternatif (KAPAL) Perempuan mengadakan Talkshow secara Virtual pada hari Kamis, 17 Desember 2020 mulai pukul 13:00 – 15:30 WIB. Talkshow ini terinspirasi dari realitas pekerja rumah tangga yang belum mendapatkan hak-haknya sebagai pekerja, terutama dalam hal perlindungan tenaga kerja. Talkshow kolaborasi dengan Institut KAPAL perempuan, dihadiri 171 participant      Bekerja selama ini identik dengan kegiatan yang dilakukan di luar rumah dengan tujuan mendapatkan penghasilan, umumnya lokasi bekerja atau suatu pekerjaan adalah kantor atau perusahaan. Hal tersebut membuat kegiatan-kegiatan di luar rumah membuat urusan domestik/rumah tangga kurang mendapatkan perhatian, padahal ranah domestik juga tidak kalah pentingnya untuk mendapatkan perhatian.  Kondisi demikian membuat kebutuhan sumber daya untuk menangani urusan domestik semakin tinggi, sehingga mulai banyak pihak yang meminta bantuan pihak lain untuk menangani urusan domestik mereka.        Di Indonesia, pihak yang diminta menangani urusan domestik orang lain biasa disebut dengan nama pembantu rumah tangga atau asisten rumah tangga. Karena faktor penyebutan tersebut, kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang membantu urusan domestik orang lain belum dianggap sebagai sebuah pekerjaan sehingga tidak ada indikator pasti terkait dengan upah, jam kerja dan jaminan keselamatan kerja bagi mereka. Hal ini berdampak sangat besar, sehingga pengakuan kegiatan tersebut sebagai sebuah pekerjaan perlu dilegitimasi dengan regulasi dari pemerintah karena berkaitan dengan hak, kewajiban dan perlindungan terhadap mereka layaknya jenis pekerjaan lainnya melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.      Talkshow ini diharapkan mampu membuka kesadaran terkait urgensi dari RUU PRT. Pengesahan RUU PRT ini penting karena melalui UU tersebut akan membantu menghilangkan diskriminasi yang selama ini dialami oleh pekerja. Sedangkaan manfaat dari talkshow ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada khalayak umum  terkait RUU PRT baik secara undang-undangnya dan bagaimana tahapan selanjutnya, karena sejatinya RUU ini sudah diajukan pada tahun 2004.      Agar tujuan dan manfaat talkshow bisa tercapai dengan maksimal, maka perlu difokuskan topik bahasannya, yaitu tentang peluang disahkannya RUU PPRT, pentingnya dukungan publik untuk mendesak pemerintah mengesahkan RUU PPRT, mengapa RUU PPRT penting untuk segera disahkan dan strategi-strategi yang diperlukan agar pengesahan RUU PPRT bisa segera terealisasi.        “UU PPRT ini  penting agar khalayak umum mengetahui terutama para pekerja akan lebih memahami RUU perlindungan pekerja tersebut. Bukan hanya memahami tetapi juga diharapkan bisa memberikan masukan kepada pihak terkait untuk benar-benar melaksanakannya,”ujar Theresia Sri Endras Iswarini, komisioner Komnas Perempuan, yang hari ini mengulas tentang Strategi Komnas Perempuan dalam mendesakkan Pengesahan RUU PPRT. Lita Anggraini, pembicara berikutya, menyoroti pentingnya dukungan publik untuk mendesakkan RUU PPRT. Dukungan publik ini menurutnya sangat krusial agar pihak pemangku kebijakan segera mengambil sikap terhadap pengesahan RUU PPRT ini.       Selain kedua pembicara tersebut, ada empat pembicara lain yang mengusung tema-tema menarik terkait urgensi RUU ini. Nur Khasanah menyoroti mengapa RUU PPRT penting untuk segera disahkan, anggota Baleg DPR RI Willy Aditya mengkaji bagaimana peluang disahkannya RUU PPRT dan YP Puspita tentang peran disnakertrans terkait RUU PPRT. Sedangkan pembicara dari Sosiologi FISIP, pakar sosiologi gender, Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si mengulas tentang perlindungan PRT di luar negeri. “Jaminan perlindungan pekerja rumah tangga (PRT) sudah tidak bisa ditunda lagi karena konstitusi memerintahkan negara memberikan perlindungan terhadap seluruh rakyat, termasuk PRT. Sebab yang dihadapi PRT di luar negeri sebenarnya bukan hanya masalah ketenagakerjaan, namun juga kemanusiaan. Oleh karena itu negara harus hadir dalam hal ini,”tutur doktor yang juga Wakil Dekan 2 FISIP UMM itu.(aan/wnd)

Alumni Kesos Borong Seluruh Penghargaan Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Jatim 2020

 Senin, 14 Desember 2020 12:21 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Kabar membanggakan hadir dari para alumni Prodi Kesejahteraan Sosial. Tiga alumni Prodi Kesos FISIP UMM  berhasil meraih Juara 1, 2 dan 3, sebagai Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Jatim tahun 2020. Mereka adalah Bintaryana Anugeraheni, S.Sos, M.Si. (Angkatan 2001), Nikma Fauzia, S.Sos. (Angkatan 2002), Dedy Tri Kuncoro, S.Sos (Angkatan 2003). Prestasi ini diraih alumni kesos atas komitmen mereka dalam pendampingan terhadap anak-anak dan masalah sosial lainnya. Suasana penyerahan penghargaan yang diperoleh oleh alumni Kesos (foto: ist)       Dalam gelaran puncak acara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Provinsi Jawa Timur Tahun 2020 yang diadakan di Gedung DBL Arena Surabaya, ketiga nama alumni Kesos ini mendapat predikat urut. Dari sisi angkatan juga urut, Bintaryana angkatan 2001, Nikma angkatan 2002 dan Dedy angkatan 2003.       Bintaryana Anugraheni  adalah Satuan Bhakti Pekerja Sosial Dinas Sosial Kota Kediri,  Nikma Fauziah adalah Sakti Peksos Kabupaten Ponorogo dan Dedy Tri Kuncoro adalah Sakti Peksos Kota Pasuruan. Ketiga pemenang memperoleh penghargaan dan uang pembinaan dengan total Rp 15 juta yang diserahkan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jawa timur serta Pangdam V Brawijaya.         Penghargaan Sakti Peksos Berprestasi Tahun 2020 telah melewati serangkaian tahapan seleksi yang dilaksanakan selama beberapa bulan, sejak Oktober 2020 lalu.  Seleksi meliputi penulisan karya ilmiah terkait best practices Sakti Peksos, dan uji kompetensi.  Masing-masing alumni Kesos yang berhasil menjadi juara ini telah berjasa melakukan penanganan kasus terhadap berbagai masalah sosial anak sebagai tugas utama mereka. Sebagai contoh, Bintaryana Nugraheni, berhasil menangani 110 kasus anak, Nikma telah menangani 72 kasus anak dan Dedy sebanyak 34 kasus anak. “Prestasi para alumni ini tentu menjadi hal yang membanggakan bagi kami, karena terbukti keilmuan yang mereka pelajari selama di Kesos FISIP UMM dapat diimplementasikan dengan baik. Hal ini juga patut diapresiasi, karena penanganan kasus anak di masa Pandemi Covid-19 seperti ini juga tidak mudah ya,”ungkap Kaprodi Kesos, Dr.Oman Sukmana, M.Si       Bintaryana, peraih juara pertama Sakti Peksos Berprestasi mengatakan bahwa dirinya merasa haru dan bangga atas penghargaan yang telah diperolehnya saat ini. “Saya merasa bangga sekali  dan akan terus bersemangat terutama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak. Terimakasih juga untuk almamater saya yang sudah menjadi tempat saya menimba ilmu kesejahteraan sosial ”, tuturnya.  (wnd)

Pilihan Kata Jadi Problem Pemberitaan Perempuan dan Anak

 Selasa, 08 Desember 2020 21:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Pemberitaan kasus prostitusi online yang menimpa sejumlah artis, ternyata cenderung tidak ramah perempuan. Hal ini memantik keprihatinan dua dosen FISIP UMM. Tak hanya pemberitaan kasus prostitusi online, berita-berita kasus perkosaan juga acapkali menyudutkan perempuan. Selain itu berita tentang kaum difabel juga masih belum proporsional. Pelabelan dan gambaran tentang difabel perlu dikoreksi. Oleh karena itulah, pada Minggu (6/12), dua dosen FISIP, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si dan Winda Hardyanti, S.Sos, M.Si, mengadakan pelatihan produksi karya jurnalistik yang bertajuk Jurnalisme Ramah Perempuan dan Anak Berkebutuhan Khusus bagi reporter kampus melalui platform zoom meeting. Sebanyak 15 reporter kampus dari berbagai media berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Acara tersebut dilaksanakan sebagai bentuk edukasi dalam membangun perspektif yang tepat, khususnya dalam memberitakan perempuan dan kaum difabilitas. Frida Kusumastuti (kiri) dan WInda Hardyanti saat memaparkan materi pada pelatihan untuk para reporter kampus (foto: wnd) Frida Kusumastuti, doktor yang meneliti difabilitas dari perspektif sosial ini, memaparkan cara pandang pada kaum difabel perlu diubah, “Misalnya, penggunaan istilah disabilitas. Padahal disabilitas berasal dari kata disable, yang artinya tidak mampu. Berbeda jika menggunakan istilah difable, different abilities, yang artinya berbeda kemampuan. Dengan demikian, difabel itu ya punya kemampuan, bukan tidak punya kemampuan,”jelas Frida. Sebagai jurnalis milenial, para reporter kampus diharapkan bisa memperjuangkan hak-hak kaum difabel. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni dengan mengganti istilah disabilitas menjadi difabilitas.  “Harapannya, hal itu bisa membiasakan atau membangun masyarakat yang inklusif. Masyarakat yang menghargai perbedaan. Disamping itu juga membangun rasa percaya diri kaum difabel.” ujar dosen Ilmu Komunikasi UMM itu. Di bagian yang lain Frida mengenalkan model sosial dan model medis dalam melihat wacana difabilitas. Pelatihan jurnalistik ramah perempuan dan anak untuk para reporter kampus (foto: wnd) Winda Hardyanti, pemateri kedua menuturkan, permasalahan istilah dan pemilihan diksi juga menjadi problem dalam pemberitaan terkait perempuan. Ia mengatakan pentingnya jurnalis memahami komunikasi gender. Bentuk kekerasan gender di media yang masih sering terjadi diantaranya adalah stereotype, marginalisasi, dan subordinasi. Salah satu solusi untuk menggalakkan jurnalisme berperspektif gender dengan melakukan jurnalisme advokasi. Cara untuk memulainya dengan menanamkan tiga hal. Pertama, berpegang teguh pada prinsip kesetaran gender. Kedua, berpihak pada kebenaran. Ketiga, tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik. Pilihan diksi yang dipilih juga harus tepat agar pemberitaan yang dibuat tidak malah menggiring pembaca pada stereotype yang justru merugikan perempuan. Contohnya, hindari istilah korban, dan diganti dengan penyintas. “Dalam menulis berita, pentingnya cover both side. Ketika menulis tentang sisi korban, maka harus diimbangi dengan sisi pelaku dan hindari mengekspos kehidupan pribadi korban perkosaan secara berlebihan. Fokus pada kasus dan penanganannya,” ujar dosen Ilmu Komunikasi yang juga mantan jurnalis itu. Ika, salah satu peserta menanyakan bagaimana cara untuk menyeimbangkan antara pasar media dengan value berita. Sebab, sudah jamak diketahui, bahwa pasar lebih senang berita yang click bait. Winda mengatakan kondisi tersebut memang cukup sulit karena berhadapan dengan kepentingan politik ekonomi media. Namun sebagai jurnalis, prinsip utama yang harus dipegang adalah cover both sides dalam memberitakan kasus-kasus yang berkaitan dengan gender. Kemudian, yang perlu menjadi catatan, berita yang disajikan juga harus menghindari atribusi fisik dan pembahasan di luar isi berita. “Selain itu dalam menulis berita, kita perlu mendudukkan narasumber sesuai dengan porsinya. Semisal ketika perempuan sebagai penyintas perkosaan ya ditempatkan sebagai korban tanpa harus  menyalahkan bajunya yang ketat atau karena pulang malam. Sebab dalam perspektif komunikasi gender, perkosaan terjadi karena niat pelaku, bukan semata karena stimulus pakaian perempuan,”ujarnya. (des/wnd/frd)

Tim Pengabdian FISIP Latih Anak Panti Menulis Esai

 Senin, 07 Desember 2020 00:42 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Tim Pengabdian FISIP UMM pada melakukan serah terima buku kompilasi esai kepada para penulis yang dilaksanakan pada Jumat 26 November 2020 diselenggarakan di LKSA Aisyiyah DAU. Buku ini merupakan hasil pelatihan menulis yang diadakan oleh tim pengabdian FISIP UMM yang diketuai oleh Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si.       Amir Rifa’i, M.Pd.i. – Pengasuh LKSA Aisyiyah DAU yang sekaligus dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan UMM, turut hadir dalam penyerahan buku hasil pelatihan  tersebut. Buku yang dicetak oleh Ismaya Publishing setebal 67 halaman ini terdiri dari 21 judul esai yang ditulis oleh perseorangan maupun tim. Para peserta memamerkan buku hasil kompilasi dari pelatihan menulis (foto:ist)     Karena merupakan buku kompilasi, komposisi latar belakang pendidikan para penulis pun sangat variatif. Empat orang masih duduk di tingkat SMP, 12 orang berstatus pelajar SMA, dan lima lainnya sedang menempuh jenjang perguruan tinggi. Hebatnya, sebanyak 19 orang penulis adalah perempuan dan satu diantaranya masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.      Pelatihan menulis esai kreatif untuk anak asuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Malang Raya bertujuan untuk meningkatan potensi dan kreativitas anak asuh pada bidang sastra. Tim pengusul yang terdiri dari Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Demeiati Nur Kusumaningrum, M.A. dan Dion Maulana Prasetya, M.Hub.Int. berupaya mensinergikan visi misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait gerakan literasi di Indonesia. Hal ini menjadi amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi dimana para akademisi berkontribusi kepada masyarakat melalui kapasitas keilmuan yang dimiliki.     Kegiatan menulis esai ini diawali dengan pelatihan dan pendampingan selama satu tahun lebih untuk mengasah bakat dan meningkatkan kemampuan menulis. Para peserta secara intensif diberikan kesempatan untuk mengembangkan gagasan, ide, wawasan, dan kepercayaan diri melalui karya tulis sederhana. Selain itu, “Buku kompilasi esai yang menjadi proyek bersama ini diharapkan memberikan kebanggaan, motivasi berkelanjutan, dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kompetensi di masa yang akan datang,” kata Demeiati Nur Kusumaningrum, M.A, perwakilan tim yang hadir pada penyerahan buku tersebut. Demeiati NK, M.A, perwakilan tim menyerahkan buku secara simbolis (foto:ist)        Total ada 23 penulis yang lolos hasil seleksi yaitu tiga orang dari PPAM Al Amin Kepanjen, dua orang dari LKSA Aisyiyah Riverside DAU, empat orang dari LKSA Putra Ulil Absar dan yang terbanyak dari LKSA Aisyiyah DAU sebanyak 14 orang. Genre yang dipilih oleh para penulis sangat beragam, mulai dari kehidupan remaja, kritik sosial, maupun pengetahuan umum. Didukung oleh anggota tim teknis,  tim pelaksana membagikan buku dan bingkisan kepada para penulis yang diakhiri dengan sesi foto bersama.        Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pertama kali pada Jumat 19 April 2019 bertempat di Lab. Kesejahteraan Sosial, Masjid AR. Fachrudin lt. 1 UMM ini mengundang seluruh Panti Muhammadiyah-Aisyiyah di Malang Raya. Sugeng WInarno, kolumnis yang juga dosen Prodi Ilmu Komunikasi didapuk menjadi pelatih pada pelatihan menulis tersebut. Dari poster yang disosialisasikan kepada 12 LKSA di Malang Raya, akhirnya ada lima panti asuhan yang mendaftar mengikuti pelatihan ini. Sayangnya, dari pendaftaran awal delegasi LKSA, terdapat lima orang perwakilan berhalangan hadir ketika hari pelaksanaan pelatihan.      Dari hasil praktik penulisan, keempat kelompok memilih menulis esai. Tiga kelompok yang berasal dari LKSA Al Amin, Riverside, dan Al Falah sudah mampu mengembangkan kerangka karangan menjadi bentuk artikel opini sederhana. Sedangkan tim yang berasal dari LKSA Ulil Absor, masih berproses sampai membuat kerangka karangan. Meski memiliki progress yang berbeda-beda, namun semua peserta mampu menyelesaikan tulisannya dengan baik.       Sebagai contoh naskah milik Siti Rofiqoh, Anggun Ria Maghfiroh, dan Winda Setyawati dari PPAM Al-Amin ketika pelatihan tertarik menulis tentang esai “Tangan Kiri itu Juga Baik”. Siti dkk masih belum mampu merangkai sebuah paragraf yang utuh. Sebuah paragraf setidaknya terdapat gagasan utama dan beberapa kalimat pendukung, namun pada naskah Siti dkk paragraf kedua hanya terdiri dari satu kalimat.      Paragraf ketiga pun terdiri dari poin-poin yang belum menunjukkan gagasan yang utuh. Menjadi hal yang patut diapresiasi, melalui pendampingan justru Siti Rofiqoh mampu menambah satu judul esai baru yaitu “Stop Kekerasan Anak Dalam Bingkai Islami”. Dalam naskah hasil goresannya, tampak bahwa Siti dapat membangun jalan cerita yang lebih naratif dan menyusun paragraf yang menggambarkan keterkaitan gagasan utama dan kalimat-kalimat pendukungnya.      Berdasarkan hasil pelatihan dan pendampingan, tim mengevaluasi perkembangan kemampuan menulis para peserta. Sejumlah sepuluh peserta menuliskan judul baru untuk karangannya. Topik esai pada saat pelatihan cenderung ditinggalkan. Sebanyak 50% peserta lebih memilih untuk menyusun format baru berbentuk puisi, 40% berbentuk cerpen, dan 10% berupa artikel opini.      Berdasarkan analisis konten karya, sebesar 50% mampu menyelesaikan tulisannya dan 50% sisanya masih perlu perbaikan dan penyempurnaan. Meskipun demikian, proses pelatihan yang berjalan dalam tiga kali kegiatan ini mampu menghasilkan karya yang menginspirasi dan memotivasi semangat para anak panti. (DNK/wnd).

Dosen FISIP Latih Guru Muhammadiyah Terbitkan Buku Gratis

 Minggu, 06 Desember 2020 08:48 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pandemi sebuah keniscayaan kehadirannya. Ia tidak bisa dilawan tetapi hanya bisa disiasati. Salah satu yang terkena dampak tidak ringan adalah Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah. Perubahan drastis akhirnya dipilih karena pandemi covid-19. Pembelajaran daring yang dipilih ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan dan sesuai target kurikulum.     Melihat kenyataan tersebut, 3 (tiga) dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Widiya Yutanti, Nurudin dan Muhammad Kamil, terpanggil untuk memberikan pelatihan menulis buku bagi guru sekolah Muhammadiyah di Malang Raya. Pelatihan atas kerjasama UMM dengan Majelis Pustaka dan Informasi  (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabuaten Malang ini diadakan secara daring (5/12). Hasil pelatihan menulis ini adalah membuat artikel pengalaman guru mengajar era pandemi dan akan dibukukan. Sekitar   31 guru dari 9 sekolah Muhammadiyah di Malang Raya yang tergabung dalam program ini. Suasana pelatihan daring membuat buku pengalaman selama pandemi      Untuk memotivasi peserta, didatangkan pembibara dari dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi. Fajar dikenal sebagai dosen yang  berpengalaman dalam mengawal dan memotivasi guru sekolah dalam menulis buku.        Dalam kesempatan pelatihan daring itu, Fajar menekankan bahwa menulis menjadi pilihan penting bagi guru era pandemi ini. Tiadanya waktu dihabiskan di kelas membuat mereka tertantang untuk kreatif. “Kita tidak usah serius-serius menulis. Menulis pengalaman saja saat pembelajaran daring. Semua guru tentu punya pengalaman. Pengalaman itu tentu berguna bagi orang lain, “tegas dosen teladan UMY dan penyuka sepak bola tersebut. Widiya Yutanti, ketua tim pengabdian saat memberikan pemaparan       Fajar juga memberikan kiat menulis sampai diterbitkan dengan memberikan modul bagaimana menulis yang bisa menjadi sebuah buku. Menulis sebuah tradisi yang harus diberikan teladan oleh para  guru. Menurutnya, karena setiap hari guru bergelut di bidang ilmu dan tulisan. Ia akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.      “Sekolah sebagai amal usaha Muhammadiyah layak memberikan contoh kongkrit. Kita tak lagi hanya mengandalkan omongan. Tetapi saatnya menulis. Ini tradisi yang harus dilestarikan, “pungkasnya.        Dalam kesempatan itu diberikan pula penjelasan teknis dari tim pengabdian masyarakat UMM. Pengabdian dengan tema “Pelatihan dan Penulisan Buku Bagi Guru Sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya” mengambil langkah kongkrit  dengan melatih guru-guru menulis karena menyadari betapa pentingnya dunia literasi. Semua guru dilatih dengan gratis, mendapat sertifikat dan mendapat buku gratis serta semua naskah layak terbit.      “Sudah banyak kegiatan pengabdian yang cenderung memberikan bantuan dana, tetapi memberikan pelatihan ketrampilan yang berguna bagi masyarakat dengan menulis jarang dilakukan.  Untuk itu kami terpanggil melakukannya. Hasil buku tidak saja membanggakan para guru tetapi juga sekolah Muhammadiyah tempat para guru mengajar. Ini akan menjadi branding penting pula bagi sekolah,“ujar Widiya Yutanti, koordinator pengabdian dan Sekretaris ProdI Ilmu Komunikasi UMM ini dengan bangga.

FISIP UMM Luluskan 123 Calon Wisudawan di Periode IV

 Rabu, 02 Desember 2020 12:10 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      FISIP UMM hari ini menggelar yudisium periode IV yang digelar secara daring melalui akun zoom. Selain melalui zoom, kegiatan yudisium hari ini juga bisa disimak tayangan live streamingnya melalui official account Youtube FISIP UMM. Di periode terakhir tahun 2020 ini, FISIP meluluskan 123 calon wisudawan. Rinciannya terdiri dari 18 calon wisudawan dari Prodi Kesos, dari Prodi Ikom sebanyak 41 calon wisudawan, 20 calon wisudawan prodi Ilmu Pemerintahan, 28 calon wisudawan dari Prodi Sosiologi dan sebanyak 16 calon wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional. Dekanat dan jajarannya menghadiri pelaksanaa yudisium periode IV yang digelar secara online (foto: PIC humas)      Meskipun digelar secara daring, namun semua peserta yudisium tetap antusias mengikuti jalannya pelaksanaan yudisium hingga akhir. Tidak sendirian, sejumlah peserta juga tampak didampingi oleh orang tuanya saat mengikuti prosesi yudisium kali ini. Raut bangga dan lega tergambar jelas dari wajah para orang tua. Salah satunya adalah Bagus Nugroho, peserta yudisium yang berkesempatan didampingi langsung oleh kedua orang tuanya. “Saya senang dan lega sudah menyelesaikan proses studi di FISIP UMM. Alhamdulillah, orang tua juga bangga dan bersyukur sekali,”ungkap calon wisudawan dari Prodi Ilmu Pemerintahan ini. Ekspresi bahagia: para orangtua terlihat mendampingi prosesi yudisium putra-putrinya (foto: PIC humas)      Dekan FISIP UMM, Dr Rinikso Kartono, M.Si dalam sambutannya juga mengatakan agar semua calon wisudawan tetap semangat dan berbakti pada orang tua. “Saya doakan semoga seluruh calon wisudawan dapat meniti karir yang berkah. Pesan saya jangan sampai masa sulit ini menghalangi optimisme di masa depan. Lakukan apa yang bisa dilakukan setelah lulus, kita semua harus berkreasi tidak boleh diam. Tetap hormati kedua orang tua karena berkat doa-doa mereka, kalian bisa meraih gelar yang anda cita-citakan hari ini,”ungkap dekan FISIP. “Terimakasih atas kepercayaan bapak ibu karena sudah menitipkan putra-putri bapak ibu kepada kami, FISIP UMM. Hari ini saya kembalikan putra-putri bapak ibu dengan harapan semoga ilmu yang sudah diterima bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Meskipun demikian, sampai kapan pun, bapak ibu dan alumni tetap menjadi keluarga besar FISIP UMM,”imbuhnya.      Dalam gelaran yudisium kali ini, lulusan terbaik tingkat fakultas diraih oleh dua mahasiswa prodi Kesejahteraan Sosial dan  satu mahasiswa prodi Hubungan Internasional. Terbaik pertama diraih oleh  Tri Utami Patminingtyas dengan perolehan IPK 3,90. Terbaik kedua disandang oleh Eva Ermylina dengan IPK 3,89 dan terbaik ketiga diraih oleh Revitha Ayu Andini dengan IPK 3,86. Tri Utami dan Revitha adalah calon wisudawan dari Prodi Kesejahteraan Sosial, sedangkan Eva Ermylina dari Prodi Hubungan Internasional. Selamat untuk para lulusan terbaik fakultas (ki-ka: terbaik ketiga Revitha, terbaik kedua Eva, Dekan FISIP, dan terbaik pertama Tri Utami) (foto :PIC Humas) Eva Ermylina, lulusan terbaik kedua, dalam kesan pesan calon wisudawan mengatakan bahwa ia bangga bisa menyelesaikan pendidikannya di FISIP UMM. Ia merasa tidak sia-sia jauh-jauh terbang dari pedalaman Kalimantan Timur, karena berkuliah di FISIP UMM telah memberinya banyak kesempatan. “Salah satunya adalah kesempatan untuk mewakili kegiatan interculutural friendship di Malaysia 2018 dan internship program di konsulat Jedah Saudi Arabia. Tentu semua ini berkat dukungan dari FISIP UMM. Terimakasih banyak FISIP. Untuk teman-temanku, meskipun kali ini kondisi wabah masih memprihatinkan, tapi setidaknya hari ini kita telah memenangkan pertarungan dalam studi kali ini. Selamat untuk kita semua,”ucapnya.(wnd)