FISIP Beri Bantuan Makanan Sehat Untuk Mahasiswa Isoman

 Sabtu, 17 Juli 2021 05:16 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Sebagai bentuk kepedulian pada sejumlah mahasiswa FISIP yang menjalani isolasi mandiri akibat covid-19, FISIP UMM memberikan dukungan makanan sehat siap saji. Catering khusus isoman ini diperuntukkan bagi mahasiswa FISIP perantauan yang menjalani isoman di kost. Tim Satgas Covid-19 FISIP UMM melalui program FISIP Peduli Covid-19 menyalurkan bantuan catering isoman sebanyak dua kali sehari selama lima hari untuk mahasiswa isoman. FISIP menggandeng pihak eksternal sebagai penyedia makanan sehat tersebut. FISIP Peduli Covid-19, program kepedulian FISIP UMM untuk mahasiswa terdampak covid-19 (foto:humas)       Tim Satgas menggalang donasi dari para dosen sejak 11 Juli 2011. Donasi yang dikemas dalam program FISIP Peduli Covid-19 tersebut berhasil menghimpun dana sebanyak Rp 13.875.000 hanya dalam waktu tak lebih dari dua hari. Tim satgas yang dikomandani oleh Jamroji,M.Comms ini kemudian mendata mahasiswa isoman yang membutuhkan support makanan siap konsumsi. Dukungan berupa catering melengkapi support yang telah diberikan oleh universitas yang juga membagikan suplemen vitamin dan obat. “Kita lakukan pendataan kebutuhan mereka dan coba kita bantu semampu kita. Awalnya mau kita beri top up ovo atau gopay saja agar mahasiswa bisa pesan makan online, namun dengan pertimbangan memastikan mahasiswa isoman mendapat asupan makanan bergizi, maka tim memutuskan untuk memesankan makanan sehat melalui catering khusus isoman,”ujar Jamroji. Dalam paket catering sehat tersebut, mahasiswa isoman mendapatkan nasi, lauk, sayur, buah, telur rebus, kue basah dan susu.      Wakil Dekan III FISIP UMM yang membidangi kemahasiswaan, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan, terbentuknya tim satgas ini cukup cepat dan berkoordinasi dalam waktu yang singkat. “Minggu siang itu lewat diskusi WA grup fakultas kami langsung membentuk tim satgas ini. Dari diskusi itu kita lanjutkan dengan koordinasi zoom-meeting, langsung membuka program donasi. Antusiasme para dosen FISIP cukup tinggi, keesokan harinya dengan dana donasi yang terkumpul langsung kita wujudkan dalam bentuk catering isoman dan juga supply vitamin,”jelas Zen. Lekas sembuh: catering sehat untuk para mahasiswa yang sedang isoman (foto: ist) Inisiatif FISIP UMM mewujudkan kepedulian dengan memberikan bantuan berupa makanan sehat siap santap dan vitamin ini diapresiasi oleh Majid Rahim, salah satu mahasiswa yang bergejala ringan dan memutuskan untuk isoman di kost. “Saya sangat terbantu dengan dukungan makanan catering isoman ini. Jadi selama isoman ini saya tidak perlu lagi keluar kost atau meminta tolong teman untuk membelikan makanan. Semoga amal baik para donator mendapat balasan dari Allah, dan senantiasa diberikan kesehatan,”tutur Majid. Tidak hanya memberikan catering isoman, FISIP UMM juga mengidentifikasi mahasiswa yang sakit akibat covid-19 yang tidak bisa menjalani isoman di kostnya. “Cukup miris, ada pemilik kost yang ‘mengusir’ mahasiswa yang sedang isoman. Mengetahui hal itu, kami segera pindahkan mahasiswa tersebut di shelter isolasi yang aman milik kampus,”tutur Jamroji. Ketua Tim Satgas Covid-19 FISIP UMM, Jamroji, M.Comms saat menyerahkan bantuan vitamin pada mahasiswa isoman (foto:rhd)       Tidak hanya fakultas saja, prodi-prodi di FISIP juga turut pro aktif melakukan tracing mahasiswa yang terkena covid-19. Melalui telusur dosen wali dan dosen penanggungjawab mata kuliah, pihak prodi kemudian melaporkan ke fakultas jika ada mahasiswa yang positif. Prodi Ilmu Komunikasi bahkan secara pro aktif juga memberikan bantuan berupa vitamin, suplemen, buah, susu dan kue kering untuk mahasiswa isoman. (wnd)

Kritik Politik Islam di Indonesia: Sekedar Politik Identitas

 Rabu, 23 Juni 2021 15:56 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Perkembangan politik Islam di Indonesia mengalami fluktuasi sejak era orde baru hingga era reformasi saat ini. Politik Islam di Indonesia acapkali dijadikan alat politik semata saat pemilu. Tak hanya itu, politik Islam di Indonesia juga cenderung mengarah pada politik identitas. Doktor bidang politik FISIP UMM, Gonda Yumitro, MA, Ph.D, memaparkan hasil temuan risetnya ini dalam orasi ilmiah Yudisium FISIP Periode II/2021 pada Rabu (23/6). Doktor lulusan International Islamic University Malaysia ini memaparkan temuan terbaru dari disertasinya secara virtual di depan 136 calon wisudawan FISIP yang dikukuhkan pada hari ini. Gonda Yumitro, M.A, Ph.D, menyampaikan orasi ilmiah secara virtual pada Yudisium FISIP Periode II/2021 pada Rabu (23/6).      Menurut Gonda, Islam sebenarnya memiliki posisi yang sangat strategis karena mempunyai sejarah panjang dalam politik Indonesia, dan muslim merupakan penduduk mayoritas Indonesia. Hanya saja, Islam sering dijadikan sebagai alat politik. Ketika membutuhkan dukungan politik, para tokoh sering menggunakan identitas Islam sebagai alat untuk mencari dukungan. Namun uniknya, di era reformasi, meski budaya Islam berkembang, partai-partai Islam justru  tidak memenangkan pemilu, “Dari hasil penelitian, saya melihat bahwa partai Islam belum berhasil menawarkan solusi  alternatif dengan perspektif Islam dalam penyelesaian berbagai persoalan kebangsaan, seperti isu korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Posisinya di orde baru mengalami penurunan luar biasa. Ketika era reformasi datang, dukungan pada politik Islam mulai bermunculan,”ungkap Gonda.  Bentuk dukungan yang muncul seperti halnya mulai tumbuhnya institusi syariah, dan tumbuhnya kelompok-kelompok budaya Islam.     Di era reformasi, dukungan pada politik Islam lebih tinggi daripada tantangannya.  Gonda menyebutkan  ada beberapa aspek legal formal, aspek politik, dan sejumlah aspek lain yang mempengaruhi naik turunnya politik Islam di Indonesia. Berdasarkan hasil risetnya, pada masa orde baru, dukungan pada politik Islam lebih fokus pada bidang birokrasi dan ekonomi. “Pada era reformasi dukungan menguat pada unsur legal formal, dan legalisasi politik islam. Tantangan sebelum reformasi sangat tinggi, namun dukungan rendah. Sedangkan pada era reformasi, dukungan pada politik Islam secara umum mengalami kenaikan, sedang tantangan rendah. Dukungan paling tinggi terhadap politik Islam terjadi pada zaman Habibie, tapi dukungan pada politik Islam pelan-pelan mengalami penurunan  hingga sekarang,”ungkap dosen Prodi Hubungan Internasional tersebut.     Gonda menyebut faktor yang mempengaruhi penurunan diantaranya adalah konflik serta rendahnya pemahaman terhadap politik Islam. “Partai dianggap Islami jika ada salam atau membuka dengan basmallah, padahal secara substansialnya tidak ada. Disertasi saya menyimpulkan bahwa politik Islam di Indonesia bisa dikatakan mengalami kegagalan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut,”ujar Gonda. Ia menyebut, ketiadaan blue print dan fenomena politik identitas menjadi sebab kegagalan tersebut. Kegagalan politik Islam di Indonesia menyebabkan politik Islam mengalami pergeseran. “Ada kecenderungan upaya Islamisasi Indonesia tetapi di luar jalur politik,  melalui berbagai penguatan kemasyarakatan pada bidang sosial, pendidikan, budaya, dan penguasaan media sosial,”tambahnya. Lulusan terbaik kedua dan ketiga berfoto bersama dekanat usai menerima penghargaan secara langsung (foto:wnd)      Yudisium FISIP periode II /2021 kali ini masih dilaksanakan secara daring karena kondisi pandemi yang belum berakhir. Pada periode kali ini, prodi Sosiologi memborong tiga predikat lulusan tingkat fakultas. Terbaik pertama diperoleh oleh Rizky Mutiara Yanti, terbaik kedua Zulfa Indah Permata dan terbaik ketiga Marina Alfi Nurmala.  Dekan FISIP UMM Dr.Rinikso Kartono, M.Si  dalam sambutannya mengungkapkan kebanggaan dan ucapan terimakasih atas kepercayaan orang tua mahasiswa kepada FISIP UMM untuk mendidik putra-putri tercinta hingga usai pendidikannya. Ia juga berpesan agar seluruh civitas akademika tetap mawas diri di masa pandemi. (wnd)

Kolaborasi FISIP dan FEB Hadirkan Solusi Pasca Pandemi

 Sabtu, 19 Juni 2021 08:26 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       FISIP UMM berkolaborasi dengan FEB UMM sukses menggelar International Conference on Humanities and Social Science 2021 (ICHSoS 2021) pada 18-19 Juni 2021 di Aula GKB 4 UMM. Helatan konferensi internasional cluster kedua yang diadakan di UMM tahun ini melibatkan 80 authors dari berbagai negara. Diadakan dengan blended method, ICHSoS digelar dengan format luring terbatas dan daring melalui aplikasi zoom meeting. Konferensi ini merupakan upaya kritis para akademisi dalam menangani kondisi pasca pandemi. Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr.Syamsul Arifin, M.Si saat membuka ICHSoS 2021       Mengusung tema Social and Political Issues on Sustainable Development in Post Covid-19 Crisis, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyebut bahwa selain untuk menjadi bagian solusi pasca krisis akibat pandemi, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluas khasanah penelitian. “Melalui ICHSoS saya berharap bisa semakin memperluas khasanah riset kita,”ungkap guru besar UMM tersebut.     Pada agenda hari pertama, yakni opening and plenary session ICHSoS, ICHSoS menghadirkan para pakar ilmu sosial dari Polandia, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Diantaranya adalah Dr.Vina Salviana DS, M.Si (Indonesia), Dr. Peerasit Kamnuansilpa (Thailand), Dr. Yash Chawla (Polandia), Dr. Khadijah Alavi (Malaysia) dan Dr. Eko Handayanto,MM (Indonesia). Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr Muhajir Efendy diwakili oleh staf khusus Prof. Ravik Karsidi memberikan keynote speech pada kegiatan ini. “Ilmu sosial memiliki banyak peluang dalam penanganan pasca pandemi. Jika ilmu medis menilai covid ini sebagai virus mematikan, dalam perspektif sosiologis pandemi covid-19 ini melahirkan pengetahuan baru karena mutasi perubahan alam. Covid dikonstruksikan sebagai peluang untuk membangun kebijakan endogen yang berpihak pada inovasi sosial berbasis potensi lokal,” ujar Prof. Ravik Karsidi. Para pembicara dalam plenary session ICHSoS 2021       Dr. Vina Salviana DS, M.Si, salah satu speaker dalam plenary session membahas tentang bagaimana perempuan bisa mengambil peran dalam menangani kondisi pasca pandemi. Berdasarkan hasil riset dosen FISIP UMM ini, perempuan memiliki kemampuan berpikir dan bertindak lebih cepat dengan potensi yang mereka miliki. Perempuan dinilai bisa survive secara alami. Kelebihan perempuan dalam hal intuisi dan kepekaan, adalah hal yang cukup baik karena bisa lebih sensitif dan peka sehingga bisa beradaptasi pada perubahan. Perempuan, dengan segala kompleksitasnya, mampu segera menjalani peran-peran ganda. Menjadi pekerja sektor kedua ketika pasangan mereka terhempas oleh dampak covid, bahkan berperan menjadi guru di rumah ketika anak harus sekolah dengan metode daring.       Peerasit Kamnuansilpa dari Khon Kaen University Thailand sharing pengalaman Thailand menangani Covid-19, begitu pula dengan Dr. Khadijah Alavi yang mengulas tentang kolaborasi strategis dalam penanganan pandemi di Malaysia. Khadijah Alavi juga memaparkan bagaimana potensi dari social worker dalam masa pandemi ini. Pembicara dari Worclaw University Polandia, Dr. Yash Chawla, pandemi membuat orang menjadi lebih kreatif. Pemilik lima gelar akademik tersebut menyarankan agar orang perlu untuk melakukan berbagai upaya untuk mendukung sustainable consumption. “We have to do recycle, donate and consume what’s required,”ungkapnya.  Dr. Eko Handayanto, pembicara dari FEB UMM memaparkan tentang fenomena consumer panic buying di kala pandemi dan bagaimana cara merespon hal tersebut. Suasana panel session ICHSoS hari kedua di salah satu room zoom      Pada agenda panel session hari kedua, sebanyak 80 authors dari berbagai negara, mempresentasikan hasil riset mereka secara daring. Dibagi ke dalam 12 breakout room zoom, dari 80 peneliti, Cosmas Gatot Haryono terpilih sebagai Best Speaker dengan papernya yang berjudul Covid-19 Murals: Autocritic Messages From Society in The Public Sphere. Sedangkan Salina Nen, Fauziah Ibrahim dan Norulhuda berhasil meraih predikat Best Paper. Riset mereka berjudul Depression, Anxiety and Fear During the Covid-19 Pandemic Movement Control Order (MCO) in Malaysia mendapat ganjaran sebagai paper terbaik. (wnd/dil)

Webinar FISIP: Serangan Balik Koruptor Pada KPK

 Kamis, 10 Juni 2021 17:41 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Gonjang-ganjing isu yang menggoyang KPK beberapa waktu terakhir memantik keprihatinan civitas akademika FISIP UMM. Hari ini (10/6) FISIP UMM menggelar Diskusi Publik yang bertajuk Gonjang-Ganjing KPK: Analisis Kritis KPK dari Perspektif Politik dan Hukum. FISIP menghadirkan sejumlah pembicara di bidang hukum dan politik. Tokoh hukum Indonesia yang juga mantan wakil ketua KPK, Dr Busyiro Muqoddas, menjadi salah satu dari empat pembicara dalam webinar kali ini. Selain Dr.Busyiro Muqoddas, FISIP juga menghadirkan Prof. Azyumardi Azra, M.A, cendekiawan muslim Indonesia dan Feri Amsari, S.H,M.H.LLM, aktivis hukum Indonesia yang juga merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas. Dari FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si berkesempatan untuk menjadi pembicara sekaligus keynote speaker pada diskusi public ini. Hasil tangkapan layar Webinar FISIP yang menghadirkan sejumlah tokoh anti korupsi nasional       Dr. Rinikso Kartono, Dekan FISIP UMM ketika memberi pengantar pada diskusi public terkait KPK hari ini mengatakan tindakan labelling pada calon anggota KPK yang tidak lolos TWK adalah perilaku yang tidak adil. Terjadi labelling terhadap pemberantas korupsi sebagai orang-orang tidak Pancasilais namun para koruptor tidak diberi labelling negative. “Serangan balik dari koruptor yang terjadi juga mempengaruhi semua elemen di masyarakat, instrument kebaikan menjadi pudar, instrument yang kuat saat ini adalah uang. Kita tidak usah heran jika lebih 300 orang termasuk kepala daerah masuk dalam bursa kepemimpinan,” ujar Rinikso. Ia mengatakan ada permasalahan yang sangat substansi pada korupsi. Ada yang mengatakan iman, pendidikan, namun juga banyak orang yang terlihat religious dan berpendidikan tinggi namun juga korupsi. Menurut Rinikso, birokrasi menjadi kata kunci dalam penanggulangan korupsi di Indonesia. Sistem politik kita sadar tidak sadar adalah demokrasi capital, yaitu demokrasi yang berbasis pada uang, jika tak ada uang biasanya akan berkolaborasi dengan bossism.     Dr Busyro Muqoddas, mantan wakil ketua KPK, mengatakan ada hubungan timbal balik antara demokrasi dan korupsi. Di era presiden Jokowi, ada factor determinan oligarki politik dan oligarki taipan terhadap produk politik. Turunnya indeks persepsi demokrasi parallel dengan turunnya tiga digit indeks prestasi korupsi di era Jokowi dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menjadi indikasi pembusukan demokrasi ini selaras dengan makin tingginya korupsi. Demokrasi yang terjadi di Indonesia juga merupakan transaksi nasional. Demokrasi transaksional ini memerlukan prasyarat. Yang pertama adalah floating mass, masyarakat diambangkan, dibuat  terombang-ambing dalam ketidakjelasan terkait isu-isu korupsi, bisnis narkoba dan isu lainnya. Pembunuhan KPK dan SDM menuju Pemilu 2024 adalah prasyarat berikutnya bagi demokrasi transaksional ini. Dan hal itu terjadi saat ini. Selain itu intensitas represivitas keamanan seperti terror, hoax radicalism, isu intoleran dan gerilya buzzer adalah indikasi demokrasi transaksional berikutnya.      Feri Amsari, SH, MH.LLM, dalam upaya konteks pemberantasan korupsi serangan balik para koruptor ini adalah sebuah keniscayaan. “Setiap tahun KPK diserang oleh koruptor, hal ini menurut saya adalah indikasi sederhana yang positif karena berarti KPK masih di jalurnya. Tapi besok jika KPK yang akan datang ini menambah anggaran, ini agak mencurigakan karena kok tiba-tiba akrab dengan DPR dan pemerintah,”ungkap Feri.     Feri juga mengulas ketidakjelasan posisi KPK. “KPK itu sebenarnya jenis lembaganya apa, karena di Indonesia hanya tiga jenis Lembaga eksekutif, yudikatif dan legislative. KPK ini masuk dalam Lembaga apa? KPK di Indonesia “dipaksa” menjadi eksekutif,”imbuhnya Menurut Feri Amsari, agar KPK tidak mudah diserang balik oleh koruptor maka harus diletakkan dalam konstitusi. Jika tidak dimasukkan dalam konstitusi maka setiap tahun KPK akan diganggu dengan perubahan-perubahan melalui legislatif. Hanya di era Jokowi yang ada upaya untuk melakukan pengubahan pada undang-undang KPK. “Dalam perspektif Hukum tata Negara, ketika ada perubahan undang-undang KPK berlangsung dengan cepat maka bisa dipastikan bahwa keterlibatan presiden dalam perubahan undang-undang KPK secara serius,”tambahnya.     Feri mengatakan ada banyak langkah krusial jika presiden Jokowi ingin menguatkan KPK. Salah satunya adalah pemberian kewenangan yang memadai adalah salah satu cara untuk menguatkan KPK. KPK berhadapan dengan mafia namun KPK tidak dibekali senjata, sehingga jika ingin melindungi KPK beri kekuatan untuk melindungi diri. Ini lebih rasional. Namun penambahan kewenangan justru tidak terjadi pada undang-undang KPK namun yang terjadi adalah pengurangan kewenangan KPK. Alih status pegawai KPK menjadi ASN adalah salah satu upaya pelemahan KPK.    Kasus tokoh-tokoh yang tidak lolos TWK akan dianggap tidak pancasilais, sehingga akan menimbulkan stigma negative pada mereka. Harus ada gerakan untuk menolong orang-orang baik yang terkena labelling negative tersebut. Kita ini sedang dalam ancaman korupsi yang nyata, semua harus bergerak untuk menyelamatkan KPK.     Prof Azumardi Azra mengungkapkan bahwa gonjang-ganjing KPK ini adalah salah satu pertanda jelek yaitu negative legacy dalam sebuah pemerintahan, dalam hal ini pemerintahan Jokowi. Kasus KPK sekarang ini menyempurnakan negative legacy pemerintahan Jokowi. Seharusnya di periode kedua ini Jokowi habis-habisan untuk meninggalkan positive legacy (warisan positif). Apa yang terjadi akhir-akhir ini terkait KPK ini menjadi puncak dari negative legacy, ini sudah menjadi kemorosotan. “Saat ini kebebasan berekspresi semakin hilang, gawai nya diganggu, ada penangkapan tokoh-tokoh yang vocal. Jika presiden Jokowi ingin menguatkan demokrasi ya bebaskan ornag-orang yang mengkiritik itu. Karena negara ini harus dibangun oleh kebebasan berekspresi, bebas menyampaikan kritik, bukan saja oleh orang-orang yang selalu setuju dengan pemerintah,”ungkap Azyumardi Azra.     Menurut guru besar peraih gelar commander of The Order of British Empire kondisi saat ini adalah oligarki dinasti. Koalisi politik yang saat ini yang mengorbankan demokrasi, adalah koalisi besar yang terjadi antara yudikatif, eksekutif dan legislative. POlitik saat ini mengarah ke trading atau tukar menukar. Negative legacy berikutnya adalah semakin melemahnya civil society. Orang-orang yang aktif dalam civil society kemudian masuk ke kekuasaan menjadi bergeser integrasinya.    Menurunnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah adalah indikasi negative legacy berikutnya, ini menjadi indeks kerentanan social. Yang meningkat hanya kohesi social, kepedulian pada sesama pasca covid. Semua produk juga saat ini juga akan dikenakan pajak. “Yang bisa kita lakukan adalah menyalakan harapan, walaupun saya melihat tidak ada perubahan atau perbaikan pada KPK ini. Presiden Jokowi juga tidak merespon suara dari 75 guru besar yang mengkritisi kasus KPK ini. Saya tidak melihat KPK ini akan dipulihkan kekuatannya. Walaupun kondisinya pahit, ya biarkan saja KPK seperti itu, meski kerjanya tidak memuaskan, sambil menunggu harapan baru 2024,”ungkap Prof. Azra.(wnd)

Membanggakan, Prodi Ilmu Komunikasi Raih Rekognisi Internasional

 Sabtu, 29 Mei 2021 18:29 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pengakuan internasional diperoleh oleh Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Kerja panjang prodi yang berdiri sejak 1986 ini berbuah manis. Prodi Ilmu Komunikasi berhasil mendapatkan rekognisi dari ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) pada Selasa (25/5) lalu. Bahkan Prodi Ilmu Komunikasi UMM adalah prodi Komunikasi PTS Pertama di Indonesia yang mendapat rekognisi internasionl AUN-QA. Tim SAR prodi dan para pimpinan prodi dan fakultas berfoto usai ikuti visitasi virtual dengan para asesor (foto:ist) Proses penilaian kualifikasi internasional dimulai dengan proses penilaian berkas berupa Self Assesment Report (SAR). SAR setebal 87 halaman ini kemudian dikirim ke kantor pusat AUNQA di Thailand. AUNQA adalah  lembaga penjaminan mutu ASEAN di perguruan tinggi yang memiliki tanggung jawab mempromosikan penjaminan mutu di lembaga pendidikan tinggi, meningkatkan mutu pendidikan tinggi, dan bekerja sama dengan badan regional dan internasional untuk kepentingan komunitas ASEAN. Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Himawan Sutanto, M.Si mengatakan proses penilaiaian AUNQA ini cukup detail dan membutuhkan usaha dan kerja tim yang kuat. “Setelah penilaian berkas, kemudian dilakukan visitasi secara daring oleh dua asesor internasional. Kebetulan untuk Ikom asesor yang menilai kami dari Prof. Dr. Rosemary Seva dari De La Saile University Filipina dan Assistant Professor Supitcha Sheevapruk dari Mongkut’s University of Technology North Bangkok, Thailand,”ujar Himawan. Pada proses visitasi daring ini kedua asesor melakukan konfirmasi dan klarifikasi pada unsur pimpinan universitas, fakultas, prodi dan tim penyusun SAR. Selain itu juga ada proses visitasi virtual untuk memastikan bahwa fasilitas-fasilitas yang dilaporkan di berkas SAR adalah benar adanya. Asesor juga melakukan klarifikasi proses belajar-mengajar dengan para mahasiswa selaku stakeholder prodi. Kegiatan di laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi Pengakuan AUNQA ini menjadi sebuah titik balik bagi pengembangan prodi berikutnya. “Masukan dan rekomendasi dari para asesor akan kami jadikan sebagai langkah pengembangan prodi selanjutnya. Kedepannya kami akan membuka kelas internasional  dan mengembangkan jaringan internasional dengan mitra-mitra strategis,”ungkap Himawan. Dekan FISIP UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si menyambut gembira pengakuan internasional yang diperoleh oleh Prodi Ilmu Komunikasi. “Semoga awalan baik yang dicapai oleh Prodi Ikom ini akan menginspirasi prodi-prodi lain khususnya di FISIP umumnya di UMM untuk memiliki rekognisi internasional yang tentunya akan bermanfaat untuk pengembangan lembaga,”ujar Rinikso. (wnd)

Raih Juara Nasional, Jamet Unggul dalam Kompetisi Creative Campaign

 Senin, 10 Mei 2021 18:41 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Sebuah prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa FISIP. Kali ini, tim mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menamai diri sebagai Jamet, berhasil menjadi juara 1 dalam Ideation. Ideation adalah salah satu mata lomba dalam Epicentrum 2021, festival komunikasi yang diadakan oleh Universitas Padjajaran Bandung. Digelar pada tanggal 3-6 Mei 2021, Epicentrum merupakan sebuah ajang kompetisi bidang komunikasi terbesar di Indonesia. Tim Jamet yang digawangi oleh Ramadhan Permana Agung, Rosihan Anwar dan Dizar Cahya Afriana sukses mengalahkan dua pesaing berat yaitu Three Musketeer  dan Tim Mean Girls yang berasal dari Universitas Indonesia. Keberhasilan mereka menjadi yang terbaik dari limabelas tim perwakilan kampus seluruh Indonesia, tak lepas dari support para dosen, khususnya dosen pembimbing lomba mereka, M.Fuad Nasvian, M.Ikom. Tim Jamet dari Prodi Ikom Lolos Juarai Kompetisi Nasional (foto: Dizar)       Sukses besar tim Jamet Ikom UMM ini bukan kali ini saja. Sebelumnya mereka sudah dua kali mencatat prestasi.  Tim Jamet adalah pemenang dalam Aduin Fest 2020 yang diadakan UIN Sunan Kalijaga dan Advertising Week Festival/AWF 2020 yang digelar oleh Vokasi Periklanan Universitas Indonesia. Nama Jamet yang unik, diakui memiliki “hoki” tersendiri. Rosihan Anwar, salah satu personel tim Jamet mengaku jika mereka sampai dihafal oleh juri dan dosen UNPAD karena memakai nama Jamet. “Nama Jamet sebenarnya iseng saja sih, tapi ada kepanjangannya yaitu Jawa Metal. Metal ini singkatan dari menang total, semoga kami selalu menang di setiap lomba,”ujarnya.      Masing-masing lomba menurut Rosihan dkk, memiliki tantangan yang berbeda.  Salah satunya berkaitan dengan pematangan ide kreatifnya. Tema dari mata lomba Ideation ini mengangkat tentang nasib UMKM perempuan yang di masa Pandemi Covid-19 yang tertinggal karena belum menjamah dunia digital. Tim Jamet terdiri dari tiga mahasiswa kreatif      Tim Jamet mendapat inspirasi dari cerita founder dari UMKM Batik Briliant Desa Bocek Kabupaten Malang. Uswatun Hasanah, nama founder UMKM Batik Briliant, memiliki impian memajukan desanya lewat batik. Hal itu menjadi alasan tim Jamet mengembangkan ide-ide untuk program campaign. “ Untuk mewujudkan hal tersebut, kami mendesain tujuh program campaign. Kami membranding ulang Batik Brillian lewat program Discovery Parang Lombok. Motif Parang Lombok kan motif asli dari Desa Bocek ini, tapi belum terkenal. Salah satu strategi rebrandingnya adalah kami membuat campaign Women Empower, untuk ngajak perempuan di Indonesia agar mensupport sesama perempuan. Istilahnya  women support women gitu ya. Goals dari positioning ini adalah agar motif ini dikenal oleh perempuan,”papar Dizar Cahya. Kendala waktu untuk mendiskusikan konsep campaign mereka juga menjadi tantangan tersendiri. “Lomba ini kan pas Ramadhan ya, jadi kadang kami baru bisa kumpul diatas jam 8 malam sampai begadang. Ya kami berusaha sebaik mungkin di tengah kesibukan kuliah dan tugas praktikum lainnya,”imbuh Rosihan.      Tim Jamet berharap, ide campaign ini tidak berhenti disini saja. Mereka berharap bisa merealisasikan ketujuh ide tersebut dan mampu meningkatkan usaha UMKM Batik Briliant melalui program rebranding yang telah mereka susun. Go ahead Jamet! (wnd)

Solahudin Al-Ayubi, Mahasiswa FISIP Juarai Bogor Leaders Talk 2021

 Sabtu, 01 Mei 2021 10:40 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Muhammad Solahudin Al-Ayubi, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional angkatan 2018 FISIP UMM baru-baru ini dinobatkan sebagai juara 1 dalam Bogor Leaders Talk 2021. Dalam event yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Bogor tersebut, dia berhasil menampilkan gagasan futuristic dengan tema Sekolah Kita. Sekolah Kita adalah gagasan solutif inovatif yang memanfaatkan teknologi informasi berbasis website dengan metode hybrid atau sistem gabungan luring daring. M. Salahudin Al Ayubi saat dinobatkan sebagai juara 1 Bogor Leaders Talk 2021       Ia memperoleh ide gagasan tersebut dari data peningkatan penggunaan internet di Indonesia yang sangat signifikan. Data menyebutkan 202 juta di Indonesia, ada peningkatan sejumlah 15, 5 % dan generasi muda mendominasi user dunia internet di Indonesia.  Solahudin kemudian mengembangkan gagasan Sekolah Kita melalui metode hybrid. Metode hybrid tidak hanya memanfaatkan internet dalam proses pendidikan namun juga akan melibatkan sejumlah relawan yang nantinya bisa langsung ke daerah-daerah yang memang jaringan internetnya susah. Tujuan dari gagasan ini adalah sebagai solusi media pembelajaran pendamping pendidikan formal, ditujukan untuk anak SD sampai SMA yang membutuhkan pembelajaran pendamping. “Berdasar pengamatan saya pada proses pembelajaran selama pandemi, meski dilakukan secara online namun menurut saya proses pembelajaran masih kurang maksimal. Sehingga perlu ada solusi dengan adanya relawan pendidikan yang berasal dari berbagai latar belakang misal pendidik, mahasiswa, untuk bertemu dengan adik asuh yaitu para siswa,”ujarnya. Bersama para finalis lainnya dalam Bogor Leaders Talk 2021       Gagasan gemilang tersebut sebenarnya memang dekat dengan aktivitas keseharian  Solahudin. Dibalik kesibukannya sebagai mahasiswa, ia ternyata sudah tiga tahun aktif membidani organisasi kepemudaan bernama Language Community. Organisasi ini bergerak dalam bidang pemberdayaan bahasa asing, pendidikan dan sosial. “Language Community yang saya dirikan ini alhamdulillah sudah berjalan tiga tahun dan telah menjangkau generasi muda sedikitnya di 24 kota di Indonesia dan empat negara dan memiliki 4000 responden aktif,”tutur Solahudin. Dari situ juga ia mendapat inspirasi dan inisiatif untuk membuat gagasan di bidang pendidikan.      Bogor Leaders Talk ini sejatinya bukan lomba pertama. Solahudin adalah contoh sosok mahasiswa berprestasi yang tak hanya memenangi kompetisi namun juga meraih sejumlah beasiswa bergengsi. Di tahun 2020 lalu, ia terpilih menjadi awardee Erasmus Plus di Portugal dan di tahun yang sama setelah dari Portugal ia mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Korea dan berhasil masuk dalam lima besar kategori full funded. Tahun 2019 ia menjadi volunteer terbaik dari Entikong Expedition dan di tahun itu juga dia berhasil menjadi volunteer terpilih ke Thailanda. Masih di tahun 2019 itu, Solahudin juga terpilih sebagai duta mahasiswa berprestasi runner up ketiga, sekaligus mendapatkan penghargaan best in social youth empowerement dan mendapat beasiswa full funded dari IRO UMM sekaligus Temasek Foundation di Singapura.     Menurutnya, anak muda jaman sekarang itu harus menjadi diri sendiri, harus mampu mengenali potensi mereka sendiri, sehingga bisa terus mengupgrade diri. “Generasi muda seharusnya tidak sekedar berprestasi namun juga memiliki nilai kontribusi  yang tinggi. Prestasi yang mereka miliki tidak sekedar untuk kebanggaan diri namun untuk kebermanfaatan bersama. Ini sesuai dengan prinsip saya yaitu menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Anak muda jaman sekarang sebenarnya  memiliki potensi, kapasitas kepemimpinan, kreativitas, solusi dan inovasi untuk permasalahan yang ada sangat besar sekali. Yang penting sebagai pemuda kita harus terbuka pikirannya dan mau terus belajar, memiliki sense of learning dan terus berproses dan berprogress,”jelasnya.      Sebagai follow up kemenangannya di Bogor Leaders Talk 2021 dia berharap bisa mewujudkan gagasannya dengan mendirikan yayasan bidang kepemudaan yang ia impikan. Mahasiswa asal Bogor ini berharap melalui lomba tersebut, pemerintah khususnya Dispora bisa mensupport untuk mengembangkan gagasan tersebut agar kontribusi yang diberikan bisa lebih meluas. Dalam event Bogor Leaders Talk 2021 ini, gagasan Solahudin mampu menyisihkan 70 peserta dari berbagai kalangan. (wnd)

Suka Ikut Komunitas Game, Afham Sabet Gelar Terbaik di Wisuda FLSP

 Kamis, 01 April 2021 10:11 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Pemilik skor TAEP 439 ini bisa tersenyum lega. Afham Novardi, mahasiswa angkatan 2019 Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM baru-baru ini diganjar sebagai Best 1 FLSP Graduation yang digelar Sabtu 20 Maret lalu di Dome UMM.  Afham berhasil menyisihkan puluhan kandidat terbaik yang mengikuti seleksi  di Foreign Language for Specific Purposes (FLSP). Tak hanya itu, ia juga berhasil meraih juara 2 pada FLSP Graduation Day Writing Competition. Afham Novardi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi saat dinobatkan sebagai Best Graduate dalam FLSP Graduation      Prestasi ganda ini tak didapat Afham dengan mudah. Meski ia mengaku tak ingat kapan mulai belajar Bahasa Inggris, namun Ia merasa terbantu dengan proses pembelajaran di FLSP. Selain itu di luar aktivitas kuliah, Ia rajin mengikuti komunitas hobi dan memiliki sejumlah kawan internasional. “Saya mengikuti komunitas Gunpla (gundam). Di komunitas itu saya memiliki beberapa kawan dari luar negeri yang membuat saya mau tak mau harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selain itu saya juga membiasakan diri untuk membaca buku dan menonton film berbahasa Inggris,”ungkap Afham.     Mahasiswa kelahiran Bogor ini mengatakan belajar Bahasa Inggris melalui FLSP ini memiliki tantangan tersendiri. “Pengalaman belajar FLSP ini cukup menantang. Bagi saya pribadi dari sisi materi dan tingkat kesulitannya mungkin tidak sulit. Namun dengan pelaksanaan tiga kali kelas dalam satu minggu, manajemen waktu menjadi salah satu tantangan menarik, ” imbuh Afham.  Tantangan yang cukup besar ia rasakan ketika memasuki pandemi, dimana semua kegiatan pembelajaran bergeser ke sistem daring. Periode tersebut cukup menantang karena disamping penyesuaian metode pembelajaran, tugas yang diberikan melalui FLSP harus dikerjakan secara mandiri. Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan speaking, padahal speaking paling menyenangkan jika dipraktekkan langsung dengan teman-teman.     Afham berhasil menjadi lulusan terbaik dari seluruh kandidat se-Universitas, mengalahkan dua kandidat terbaik kedua dan ketiga yang diraih oleh mahasiswa FPP dan FKIP. Afham menuturkan bahwa awal mulanya, tim dari FLSP menyeleksi mahasiswa dari setiap prodi. Beberapa mahasiswa kemudian menjadi perwakilan dalam seleksi lanjutan tersebut. Dasar pemilihannya adalah gabungan nilai FLSP semester 1 dan semester 2.  Setelah proses seleksi itu, para kandidat harus mengikuti Forum Grup Discussion (FGD) untuk menilai kemampuan speaking peserta. Nilai FGD ini dijadikan pertimbangan bersama dengan nilai gabungan FLSP dan juga skor TAEP untuk menentukan lulusan terbaik.     Afham berpesan meski bagi sebagian mahasiswa Bahasa Inggris itu sulit. Namun Ia menyarankan agar pembelajaran FLSP tetap diikuti semaksimal mungkin. Awalnya mungkin terasa berat, akan tetapi menurut Afham, nanti akan terasa sendiri hasilnya. “Saya merasakan sendiri, banyak sekali pengetahuan dan referensi yang hanya ada secara lengkap dalam bahasa Inggris, apabila kita bisa memanfaatkan wawasan itu. Pengetahuan kita semakin luas dan mendalam. Sekarang mungkin masih berat, tapi nanti akan terasa betapa pentingnya bahasa inggris saat menghadapi tugas-tugas dan kelas-kelas mendatang. Sudah lebih dari sekali saya diselamatkan dengan materi-materi dan referensi yang hanya ada dalam bahasa inggris saat belajar di ilmu komunikasi,”tutur Afham. Selamat Afham, semoga semakin sukses (wnd)

Seru, Cara Baru Opening Student Day di UMM

 Senin, 15 Maret 2021 11:11 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Ada yang baru dalam opening student day UMM tahun ini. Meski masih dilakukan secara blended system, gabungan luring dan daring, namun antusiasme maba yang mengikuti kegiatan sangat tinggi. Selain merupakan moment yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa baru, student day tahun ini mengundang Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian, pakar ESQ, sebagai pembicara pada kuliah tamu di UMM.     Antusiasme juga tampak dari keikutsertaan mahasiswa baru FISIP UMM. Sebanyak 500 mahasiswa baru FISIP angkatan 2020 mengikuti pembukaan student day UMM melalui platform zoom pada hari Minggu, 14 Maret 2021. Tidak hanya itu sebanyak 10 orang mahasiswa FISIP lainnya juga mengikuti opening student day secara luring di hall dome UMM.     Sisanya mengikuti pembukaan student day melalui livestreaming melalui Youtube UMM Campus. Kegiatan opening student day kali ini juga menghadirkan Menko PMK, Prof. Muhadjir Effendy, M.AP dan pemateri utama Dr. Ari Ginanjar Agustian, Direktur ESQ Leadership Center. Dr. Ary Ginanjar Agustian, pakar ESQ, saat memberikan materi secara virtual untuk ribuan mahasiswa baru UMM di event Opening Student Day      Salah satu mahasiswa FISIP,  Wulan Ayu mengatakan opening student day kali ini seru karena mereka tidak sekedar mengikuti kuliah umum saja, namun juga sekaligus mendapatkan insight dari coaching yang dilakukan oleh tim ESQ Ary Ginanjar.  “Student day UMM sangat bermanfaat. Ada pengenalan lebih dalam bagaimana UMM memaksimalkan pelayanan bagi para mahasiswanya, pemberian informasi dan motivasi. Di student day ini saya juga paham bagaimana memaksimalkan peran menjadi mahasiswa yang berprestasi dalam segala bidang dengan memanfaatkan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki, ada pelatihannya, bagus juga,”ujar Wulan.      Sania Sakinata dan Romauli Dwi, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP juga memberikan testimoi serupa. Menurut mereka kegiatan opening student day kali ini menarik sekali karena meski ia harus menyimak melalui livestreaming tetap bisa interaktif melalui kuis  dan permainan yang diadakan oleh pemateri. “Seru ya, tetap bisa interaktif, materinya gampang banget ditangkep,mudah dipahami,jadinya lumayan tercerahkan tentang tujuan masa depan,”ungkap Romauli. Penampilan tim Gitasurya UMM dalam lagu Sang Surya berbahasa Mandarin       Melalui tema Student Day kali ini yang bertajuk Menyiapkan Kepribadian Tangguh dalam Menghadapi Tantangan dan Ketidakpastian Global, Ary Ginanjar dan tim dari ESQ Leadership Center memotivasi mahasiswa agar menemukan grand why dalam memulai pencapaian hidup.    “Sebagian besar masyarakat Indonesia umumnya bekerja untuk mencari kepastian, baru tantangan, eksistensi diri, cinta dan relasi, perkembangan, kontribusi baru mencari meaning dan purposes dari pekerjaan itu. Padahal sebaiknya menemukan grand why diawali dari meaning dan purposes baru kemudian yang terakhir adalah kepastian. Kalau kita ingin memenuhi harapan UMM Muhammadiyah untuk bangsa maka seharusnya berawal dari meaning and purpose,”jelas Ary Ginanjar.     Acara berdurasi empat jam ini berlangsung meriah dengan kehadiran tim coaching Ary Ginanjar melalui kuis-kuis interaktifnya. Para peserta juga terhibur dengan penampilan tim paduan suara UMM yang menampilkan lagu Sang Surya dalam bahasa Mandarin. (wnd)

FISIP Siap Implementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal

 Selasa, 23 Februari 2021 17:36 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Dalam rangka penjaminan mutu di level fakultas, hari ini (23/2) FISIP UMM mengadakan workshop pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Workshop yang diadakan mulai pagi hingga jelang sore hari ini, diadakan di Outdoor Meeting Room Rayz Hotel UMM. Diikuti oleh para pejabat struktural di lingkungan FISIP UMM, workshop SPMI kali ini mengundang Dr. Ir. Wahono, M.T, tim BPMI UMM sebagai pemateri sekaligus pendamping workshop. Suasana Workshop Pelaksanaan SPMI di Rayz Hotel (25/2) (foto: humas)       Dekan FISIP UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa penjaminan mutu menjadi salah satu hal yang sangat krusial bagi peningkatan mutu layanan di lingkup fakultas, tak terkecuali di FISIP UMM.  Melalui workshop ini FISIP berkomitmen untuk melaksanakan system penjaminan mutu internal secara optimal. “Oleh sebab itu, hari ini kami menghadirkan tim BPMI agar bisa membimbing secara teknis terkait pengisian web SPMI dan pelaporannya. Kami undang juga seluruh kaprodi, sekprodi, kepala lab, sekretaris lab, yang menjadi pelaksana mutu di lingkup prodi di bawah fakultas,”ujar Rinikso. Dr. Ir. Wahono, M.T, tim BPMI memberikan materi pendampingan pelaksanaan SPMI (foto : humas)          Guna mewujudkan budaya mutu, melalui workshop SPMI diharapkan pelaksana mutu bisa meningkatkan mutu layanan baik di tingkat UPPS/Fakultas dan prodi. “Melalui sistem penjaminan mutu ini setiap program kerja yang berbasis pada rencana induk pengembangan (RIP), rencana strategis (Renstra) dan rencana operasional (Renop) akan lebih mudah dipantau pelaksanaannya dan dievaluasi secara internal maupun eksternal demi peningkatan mutu layanan akademik maupun non-akademik,” ujar Dr. Dyah Estu Kurniawati, M.Si, Wakil Dekan 1 yang membawahi bidang akademik.      Universitas melalui Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) memang telah memiliki SIM SPMI yang telah disesuaikan dengan standar Kemenristekdikti beserta pelampauan-pelampauannya. SIM SPMI ini menjadi acuan bagi pelaksana mutu untuk menjalankan program kerjanya dan menjadi sarana bagi auditor mutu untuk mengevaluasi pelaksanaan mutu di lingkup PT/Universitas, UPPS/Fakultas, dan PS/Program Studi. SPMI menjadi poin penting dalam penilaian akreditasi yang merupakan system penjaminan mutu eksternal (SPME) (wnd).