Hasil Survey FISIP pada Pra Pilkada Kabupaten Malang, Paslon Nomor Satu Unggul di Semua Faktor

 Selasa, 01 Desember 2020 14:31 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Dalam demokrasi,  Pemiihan Kepala Daerah atau Pilkada merupakan salah satu bentuk demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi serta diprediksi baik dalam proses maupun hasilnya. Proses mengukur, mengkalkuasi serta memprediksi proses tersebut bisa dilakukan melalui metode survey. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dan kontribusi akademisi pada demokrasi yang transparan di Kabupaten Malang, FISIP UMM mengadakan survey opini publik pra pilkada. Survey ini melibatkan 600 responden yang berasal dari sejumlah sebaran kriteria. Survey dilakukan selama lima hari yaitu pada 15-20 November 2020. Ruli Inayah Romadhoan, M.SI, ketua Lembaga Survey FISIP UMM (foto: ist)      Ruli Inayah Romadhoan, M.Si, ketua tim FISIP dalam Survey Opini Publik Pra Pilkada ini mengatakan ada sejumlah temuan menarik yang didapatkan dari hasil pra survey ini. Penilaian publik terhadap kinerja Bupati Malang menunjukkan trend positif, yakni sebesar 77,5% responden memberikan respon positif. Hal ini tentu menjadi keunggulan dan kekuatan politik bagi paslon incumbent Sanusi- Didik. “Temuan survey ini memperlihatkan bahwa kinerja bupati dalam membangun kerukunan umat beragama, peningkatan layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas layanan publik diakui keberhasilannya dan diapresiasi oleh publik. Namun di sisi lain, ada PR sekaligus catatan evaluasi untuk pemkab Malang dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat, menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, juga dalam hal penyediaan bantuan modal dan kredit usaha rakyat,”ungkap Ruli.      Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pasangan calon dalam Pilkada. Faktor tersebut diantaranya adalah tingkat popularitas, kapabiltas, akseptabilitas dan elektabilitas. Survey menyebutkan dari keempat faktor tersebut, pasangan calon no 1 Sanusi-Didik Gatot memiliki keunggulan yang cukup signifikan dibandingkan dua pasangan calon lainnya. Data riset menyebut tingkat popularitas paling tinggi diraih oleh pasangan calon nomer 1 (84,5%), bersaing tipis di bawahnya paslon nomor 2 (72,2%) dan paslon independen di posisi terakhir dengan perolehan data sebanyak  40%. Tingkat penerimaan publik juga didominasi oleh paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 2. Calon Bupati Malang Drs. H Sanusi dan Dra.Hj Lathifah Shohib (foto:timesindonesia.com)      Sedangkan dilihat dari tingkat elektabilitas calon bupati pilihan publik berdasarkan pertanyaan terbuka (top of mind) dan pertanyaan simulasi, ada dua nama yang muncul dengan urutan teratas, yakni Drs. H Sanusi, MM sebanyak 46,33% dan Dra. Hj. Latifah Shohib sebanyak 29,17%. Untuk wakil bupati, elektabilitas tertinggi diperoleh oleh Didik Gatot dengan perolehan angka sebesar 42,5%. Dalam butir pertanyaan pilihan terkait pasangan bupati dan wakil bupati pilihan publik juga menunjukkan bahwa paslon Sanusi-Didik Gatot menempati posisi tertinggi dengan prosentase 52,43%, disusul oleh paslon Latifah-Didik Budi sebesar 33,67%. Paslon independen masih menempati posisi di bawah 10%.      Namun ada satu hal yang menarik dalam temuan penelitian ini. Meskipun aspirasi publik menunjukkan kecenderungan pada paslon nomor satu,  isu kepemimpinan berbasis gender ternyata menjadi satu poin yang perlu menjadi catatan penting bagi para pasangan calon. Sebanyak 53,17 % responden ternyata setuju jika Kabupaten Malang dipimpin oleh perempuan. “Oleh sebab itu saya rasa penting untuk diperhatikan terkait isu-isu perempuan dan pelibatan perempuan dalam kampanye maupun program kerja. Mengingat isu kemimpinan berbasis gender masih menjadi poin penting yang diperhatikan oleh masyarakat Kabupaten Malang,”ungkap Zen Amirudin, M.Med.Kom, pakar komunikasi politik FISIP UMM.      Hasil survey yang menunjukkan tingkat partisipasi politik masyarakat di Malang terbilang tinggi juga menjadi angin segar bagi perkembangan dunia politik lokal di Kabupaten Malang. Sebanyak 92 % dari total responden memastikan akan memberikan suaranya pada hari pemilihan. Sebanyak 80,9% responden juga telah mengetahui akan ada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa tingkat politic literacy di masyarakat Kabupaten Malang cukup baik. (wnd)  

Tim FISIP Juarai Lomba Digital Campain Tingkat Nasional

 Rabu, 25 November 2020 07:37 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pandemi tak menghalangi mahasiswa untuk kreatif berprestasi.Satu lagi prestasi diraih oleh mahasiswa FISIP UMM. Tim mahasiswa dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM yang menamai diri sebagai Jamet Group ini berhasil menjuarai Creative Advertising Competition untuk cabang lomba Digital Campaign dalam rangka Advertising Week Festival 2020. Lomba Digital Campaiagn tersebut digelar oleh Prodi Periklanan Kreatif Vokasi Universitas Indonesia pada 1-14 November 2020 lalu. Menariknya lomba periklanan ini digelar secara daring. Para peserta cukup mengirimkan hasil karyanya sesuai brief yang sudah ditentukan. Cuplikan video iklan yang dibuat oleh Jamet Group, tim mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih juara 2 dalam lomba digital campign di UI      Tim Jamet Group yang digawangi oleh Dizar, Ramadhan, Almira dan Rosihan Anwar ini berhasil membawa pulang juara kedua dalam kompetisi tersebut. Menyelesaikan brief dalam waktu dua minggu saja, tim berhasil membuat pitch deck dan postingan instagram yang mereka kemas ke dalam bentuk video iklan, video tiktok, creative design, dan sejumlah desain fun fact. “Sebenarnya ada dua brief yang ditawarkan, yang pertama adalah brief untuk meningkatkan awareness usee tv dan yang kedua meningkatkan brand loyalty indihome. Akhirnya kami memilih mengeksekusi brief usee tv,”ujar Ramadhan. Hasil eksekusi brief lomba digital campaign yang dibuat oleh tim mahasiswa Ikom      Ada sejumlah pengalaman menarik ketika mengikuti lomba ini. Ramadhan mengisahkan timnya tidak memiliki basic skill audio visual. Sehingga ketika proses syuting berlangsung mereka harus meminta bantuan teman sejurusan yang menekuni konsentrasi audio visual untuk membantu proses syutingnya. “Pada syuting itu, sesuai desain ide yang kami buat, saya harus rela disemprot air sambil ngangkat jemuran dan menari-nari ala India untuk menimbulkan kesan yang lucu. Kami tidak punya basic skill audio visual sama sekali, kecuali dulu pernah belajar sedikit di mata kuliah dasar-dasar audio visual dan dasar syuting. Kami pun minta tolong teman yang mengambil konsentrasi audio visual untuk membantu teknis syuting video iklannya,”jelas Ramadhan. Pengumuman pemenang lomba secara daring      Selain itu menurut Ramadhan, tantangan mengikuti lomba ini diakuinya cukup besar. Sebab kompetitornya adalah dari sejumlah kampus yang memiliki prodi periklanan secara spesifik. Namun berkat bimbingan dari dosen Ilmu Komunikasi, M.Fuad Nasvian, M.Ikom yang mendampingi tim mereka, Ramadhan dkk melenggang cukup percaya diri.  “Memperoleh juara dua ini benar-benar di luar prediksi kami, kompetitornya keren-keren. Jadi menang lomba ini sangat terasa pengalaman dan dapat insight ilmunya. Kami tidak terlalu fokus sama juara dan hadiahnya, dapat pengalaman dan ilmunya itu sangat berharga,”imbuhnya. Atas keberhasilan meraih juara kedua, Ramadhan dkk memperoleh hadiah uang tunai senilai 1, 5 juta rupiah. Selamat! (wnd)

Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan

 Selasa, 24 November 2020 17:24 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Prestasi membanggakan juga diraih oleh dosen FISIP yang satu ini. Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax  Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor.  Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. . Arfan Adhi Pradana, dosen Ikom FISIP saat berakting sebagai Pak Guru Ahmad di film pendek Bumi. Ia diganjar sebagai Best Actor di ISFF 2020 (foto: ist)     Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Baca juga : Kaya Portofolio, Dosen FISIP Ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter      Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual.  “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Proses syuting film Bumi oleh Tim Meraki Visual (foto: ist)      Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom  AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Berhasil meraih gelar Best Director dan Most Views Movie (foto: ist)      Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa  pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,”ungkapnya sambil tertawa.  Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual.      Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. ‘’Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,”tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. Selamat untuk Pak Ahmad alias Pak Arfan Adhi dan Tim Meraki Visual! (wnd)

Kaya Portofolio, Dosen FISIP ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter

 Selasa, 24 November 2020 17:16 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Rangkaian prestasi demi prestasi tak hanya ditorehkan oleh mahasiswa, namun dosen-dosen di FISIP UMM pun ternyata memiliki segudang prestasi. Salah satu prestasi membanggakan baru saja diraih oleh dosen FISIP Novin Farid Styo Wibowo, M.Si. Novin yang merupakan dosen Prodi llmu Komunikasi FISIP UMM ini berhasil memperoleh beasiswa sertifikasi film khusus praktisi film documenter dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI . Beasiswa ini bukan sembarang beasiswa, karena untuk mendapatkan beasiswa sertifikasi ini calon peserta harus memiliki sejumlah karya film documenter. Novin Farid Styo Wibowo, M.Si (berkalung kuning) saat mengikuti sertifikasi praktisi film dokumenter di The Sunan Hotel, Solo (foto: ist)      Novin Farid, kepala laboratorium Ilmu Komunikasi ini merupakan salah satu orang yang beruntung mendapatkan beasiswa khusus praktisi film documenter. Beasiswa senilai lebih dari lima juta ini berhasil ia raih berkat portofolionya dalam sepak terjangnya di dunia film documenter selama ini.  Salah satu syarat seleksi beasiswa sertifikasi ini memang minimal harus memiliki lima karya film documenter dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun terakhir. Baca juga : Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan      Sertifikasi ini menguji kompetensi documentary yang harus menguasai A sampai Z proses produksi film documenter, mulai dari proses riset, menulis script, manajemen produksi, pengambilan gambar, sampai tataran editing hingga proses publikasinya. “Sertifikasi yang saya ikuti kemarin adalah sertifikasi jalur portofolio, bukan jalur observasi. Salah satu syarat mutlak agar bisa lolos beasiswa sertifikasi ini adalah harus punya karya film documenter, minimal lima karya ,”ujar dosen yang juga ketua program di Asosiasi Documentaries Nusantara Kota Malang ini. Total ada 64 orang dari seluruh Indonesia yang lolos beasiswa ini. Kegiatan sertifikasi ini diadakan 9-11 November 2020 lalu di The Sunan Hotel Solo. Proses kegiatan sertifikasi praktisi film dokumenter yang diikuti oleh dosen Ikom, Novin Farid Styo Wibowo (foto: ist)      Proses sertifikasi diawali dengan pelatihan selama dua hari, yang berisi tentang bagaimana menyiapkan interview, merapikan dokumen, dan bagaimana mempresentasikan karya film yang pernah dibuat. Para asesornya adalah para praktisi film handal di bidang film documenter.  Setelah mengikuti pelatihan, ia pun mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan kompeten. “Saat ini masih menunggu sertifikat kompetensinya saja. Sertifikasi ini prosesnya tidak mudah, karena untuk bisa mengikutinya saya harus unjuk karya portofolio agar bisa lolos seleksi,” ungkap Novin. Lima judul dari karya documenter yang pernah Novin hasilkan diantaranya adalah Presiden Singkong, Aketajawelolobata, W-Brige, Female Poverty Aveliation, dan Ekonomi Desa Jatim Bangkit. Hingga saat ini total ada 11 film fiksi, 15 film documenter, dan 24 karya iklan dan profil yang telah ia hasilkan. Luar biasa kan? Congratulation Pak Novin! (wnd)

Kunjungi FISIP UMM, UIN Raden Fatah Palembang Jajaki Kerjasama

 Senin, 23 November 2020 17:23 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Hari ini (23/11) rombongan dari UIN Raden Fatah Palembang melakukan benchmarking ke FISIP UMM. Jauh-jauh dari Sumatera Selatan, rombongan dosen dan pimpinan dari FISIP UIN Raden Fatah Palembang disambut oleh dekanat FISIP UMM beserta jajaran pimpinan prodi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan. Bertempat di outdoor meeting space lantai 6 GKB 1, pertemuan antara dua kampus beda pulau ini berlangsung hangat. Wakil Dekan III FISIP UIN Raden Fatah, Dr. Kun Budiarto, M.Si, memimpin tim benchmarking yang berjumlah sepuluh dosen tersebut. Suasana lawatan FISIP UIN Raden Fatah Palembang di FISIP UMM, berlangsung di outdoor meeting space GKB 1 lantai 6 (photo by: dyahestu)      Berdasarkan penuturan Dr.Kun Budiarto, FISIP UIN Raden Fatah adalah fakultas yang baru berdiri tiga tahun lalu. Sebagai fakultas yang masih baru dan baru memiliki dua prodi yaitu Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik, membuat pihaknya perlu menjajaki kerjasama dengan kampus yang dianggap sudah berhasil mengelola prodi-prodinya, salah satunya adalah FISIP UMM. “Kami kesini ingin belajar khususnya tentang sistem laboratorium sebagai inti keilmuan di FISIP dalam rangka mewujudkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. FISIP UMM adalah salah satu kampus yang kami nilai memiliki prodi berkualitas yang kebetulan kami pun punya prodi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik. Oleh karena itu hari ini kami ingin belajar model pengelolaan laboratorium demi kemajuan pembelajaran mahasiswa,”ujar Kun. Selama ini jejaring yang dibangun biasanya dengan kampus wilayah barat yaitu Bandung, kali ini setelah rapat dekanat tim UIN Raden Fatah memutuskan untuk membuka jejaring dengan Jawa Timur khususnya Malang dan UMM.      Selain mempelajari sistem pengelolaan laboratorium di Prodi Ikom dan IP, tim benchmarking UIN Raden Fatah ini juga menyampaikan keinginan untuk melaksanakan staff exchange. Harapannya dosen bisa sharing pengalaman mengajar dan melakukan kolaborasi publikasi. “Kami siap lakukan MoU dan MoA dengan FISIP UMM, insya Allah rektor kami nanti juga akan mengunjungi UMM. Kita bisa lakukan kerjasama penelitian juga,”imbuhnya. Menyimak pemaparan sistem pengelolaan Lab Ikom yang disampaikan oleh Kaprodi Ikom, M Himawan Sutanto, M.Si (photo by: rahadi)      Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si menyambut baik kunjungan tersebut karena pada hakikatnya antar universitas harus saling bersilaturahmi untuk menguatkan jaringan dan hal ini juga penting untuk menguatkan akreditasi. Selain itu penjajakan kerjasama ini juga merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan dukungan FISIP UMM pada semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka. “Jika semua bisa berkolaborasi itu akan semakin bagus. Teman-teman dari tim FISIP UIN Raden Fatah nanti bisa langsung mengunjungi dua laboratorium IP dan Ikom yang merupakan lab yang terintegrasi dengan lab prodi-prodi lain di bawah naungan FISIP,”jelas Rinikso. Sharing session di lab Ilmu Pemerintahan bersama Kaprodi IP dan Kepala Lab IP (photo by: kamil)      Acara kunjungan ini pun akhirnya ditutup dengan melakukan tour de lab ke Lab IP dan Lab Ikom. Di kedua lab tersebut, rombongan belajar langsung bagaimana sistem pengelolaan laboratorium yang mendukung kegiatan akademik dan non akademik mahasiswa. (wnd)

Belajar Menjadi Intelektual Ala Cak Tarno

     Jumat siang (20/11), outdoor meeting space FISIP di GKB 1 lantai 6 tampak semarak. Sejumlah dosen muda menghadiri diskusi inspirasi yang digelar oleh fakultas. Cak Tarno, pendiri Cak Tarno Institute, seorang pedagang buku di dekat Stasiun UI diundang untuk memberi motivasi pada para dosen muda. Ia bukan sekedar pedagang buku biasa. Meskipun hanya lulusan SMP, Cak Tarno adalah sosok yang membuka diri pada ilmu pengetahuan, khususnya kajian berbasis sosial humaniora.   Suasana Diskusi Inspirasi di GKB 1 lantai 6 FISIP UMM (foto;humas)      Lahir dari keluarga buruh tani di Jatirejo, Mojokerto, Jawa Timur, tidak pernah membuat Cak Tarno minder. Meskipun hanya lulus SMP, ia tidak pernah merasa terbatas untuk mengenal luasnya dunia ilmu pengetahuan. Melalui buku yang ia jual dan baca, ia fasih menjelaskan teori-teori kritis dari Mazhab Frankfurt; konsep public sphere Jurgen Habermas, fenomenologi dari Comte, Filsafat Proses dari Alfred North Whitehead, sejarah umat manusia dari Arnold Toynbee, hingga teori tindakan komunikatif dari Habermas. “Tidak semua buku saya baca sampai habis. Sebagaian saya kenali dari indeks dan pengantar, karena saya memang menjual buku-buku itu,”ungkap Cak Tarno. Salah satu trik yang ia lakukan agar mengetahui apa isi buku yang ia jual adalah dengan mengoleksi rubrik resensi salah satu media ternama di Indonesia. “Saya sampai punya koleksi Pustakaloka nya Tempo sebanyak tiga kardus,”imbuhnya.      Motivasi Cak Tarno untuk menggeluti ilmu berawal dari pergumulannya dengan buku-buku yang ia jual dan ia baca, salah satunya adalah buku-buku filsuf Italia, Antonio Gramsci. “Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua menjalankan fungsinya sebagai intelektual,”ujarnya menyitir pernyataan Gramsci. Bagaimana intelektualitas seseorang bisa membuat gerakan atau menggerakkan lingkungan di sekitarnya, itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Gramsci.      Cak Tarno juga mendirikan Cak Tarno Institute(CTI). Institut ini tentu bukanlah institut dalam arti sebenarnya. CTI berawal dari meja di kios Cak Tarno yang selalu dipenuhi orang-orang yang ingin berdiskusi. Kios buku Cak Tarno menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa untuk berdiskusi, bahkan menjadi arena uji coba presentasi mahasiswa sebelum mempresentasikan tugasnya. Cak Tarno ada dalam lingkaran diskusi itu. Ia larut di dalamnya. Komunikasi yang terbuka itu pula yang membuat kios Cak Tarno menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi. Itulah awal lahirnya kelompok diskusi yang oleh beberapa orang disebut sebagai Cak Tarno Institute (CTI).      Nama Cak Tarno dan Cak Tarno Institute makin berkibar pasca ia diprofilkan di Kompas. Ada satu hal yang menarik ia alami pasca ia diprofilkan, pernyataannya tentang konsep ruang kosong memantik perdebatan. Banyak orang menanyakan makna kalimat memaknai masa depan adalah ruang kosong terserah nanti mau diisi apa, yang ia ungkapkan saat diwawancara Kompas. Ucapan Cak Tarno itu bahkan memantik perdebatan di antara para guru besar filsafat Universitas Indonesia. “Saya disuruh untuk menghadap ke fakultas filsafat untuk menemui para guru besar itu untuk menanyakan apa maksud masa depan adalah ruang kosong. Menurut saya masa depan itu adalah sebuah ruang kosong, ruang kosong adalah ruang waktu,”jelasnya. Sedangkan ruang lampau adalah masa yang sudah diisi oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ruang lampau itu adalah kala dia menjadi petani, kuli batu, dan pedagang buku eceran. Baginya masa depan adalah ruang kosong berisi ruang waktu yang harus diisi dengan kebermanfaatan. Ruang kosong itu semakin diisi maka semakin kosong, karena semakin banyak membaca sejatinya kita akan merasa diri kita ternyata tidak tahu apa-apa. Filosofi menarik ini yang kemudian ia jelaskan di hadapan para guru besar filsafat yang “menyidangnya” kala itu.      Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono, M.Si, mengatakan kehadiran Cak Tarno dalam diskusi inspirasi ini bukan bermaksud untuk menggurui para dosen muda. “Melalui diskusi inspirasi ini, saya ingin memotivasi apakah dosen sudah memiliki kecintaan dalam membaca buku dan menguatkan literasi,”ujar dekan FISIP. Sebagai insan akademik, dosen sejatinya memiliki tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan literasi. (wnd)

Bulan Borong Prestasi, Dari Kejuaraan Paralayang Sampai PIMNAS

 Kamis, 12 November 2020 13:49 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      November Rain sepertinya menjadi bulan hujan prestasi bagi Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM. Sejumlah prestasi akademik dan non akademik berhasil ditorehkan oleh mahasiswa Ilmu Pemerintahan di bulan ini. Awal November lalu satu tim mahasiswa IP berhasil lolos sebagai finalis PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional) XXXIII tahun 2020. Tim yang terdiri dari Ul Inanti, Feninda Eka Tasya, Ismi Imania Eka Ikhsani, berhasil mempertahankan karya ilmiah di depan reviewer. Ketiga mahasiswa angkatan 2018 tersebut mengangkat isu pertanian di era Revolusi Industri 4.0. Ul sapaan salah satu anggota tim mengatakan proses pembuatan karya ilmiah ini cukup lama. “Sekitar tiga bulan prosesnya, kami dibimbing oleh dosen kami yaitu pak Achmad  Aprianto Romadhan. Keberhasilan ini sangat kami syukuri bersama karena membawa nama universitas untuk mengikuti ajang nasional bergensi seperti PIMNAS,”ungkap Ul nanti.      Selain tim yang lolos PIMNAS, sekelompok mahasiswa IP yang terdiri dari Mariano Werenfridus, Wiebi Winarto, dan Ilham Muhammad Shandy mengikuti kegiatan Lomba Dialog Interaktif Demokrasi dan Politik Identitas yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Malang pada 9 November lalu. Hasilnya, mereka berhasil menjadi juara pertama setelah mengalahkan keempat tim yang masuk babak lima besar. Keempat tim yang berhasil mereka kalahkan adalah tiga tim dari Universitas Negeri Malang dan satu tim dari Universitas Wisnu Wardhana     Tim yang diketuai oleh Mario, saapan akrab Mariano, mengangkat judul “Antisipasi Gerakan Politik Identitas di Indonesia”. Dalam karyanya mereka memberikan gagasan untuk melibatkan masyarakat dalam praktik politik tanpa melihat Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA). “Apalagi jika kita lihat kehidupan demokrasi di Indonesia, pola-pola politik identitas selalu menarik dan dibuat bahan oleh para politikus dalam memperoleh suara.Hal ini semetinya tidak terjadi dan perlu dieliminir,”ujarnya. Timlomba ini dibimbing oleh Dosen IP,  Ivan Taufikurrahman, M.H.      Satu prestasi non akademik berhasil diraih oleh atlet paralayang yang merupakan mahasiswa baru IP FISIP. Mahasiswi atas nama Nara Winda Agusningtyas berhasil mendapatkan juara kedua pada Liga Paralayang Jawa Timur. Mahasiswi yang menekuni paralayang sejak SMA ini berhasil menjadi juara setelah mengalahkan beberapa peserta dari daerah lain. Nara berharap prestasi ini bisa terus meningkat dan bangga bisa memberikan konstribusi ke universitas dan program Studi. Kejuaraan Paralayang Liga Akurasi Jatim Seri-2 Tahun 2020 yang Nara ikuti itu diadakan  di Bukit Waung-Pantai Modangan Desa Sumberroto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jumat-Minggu (6-8/11). Nara Winda (tengah) saat memenangkan kejuaraan Paralayang di Bukit Waung beberapa waktu lalu (foto: ist) Apresiasi tinggi pun disampaikan oleh Kaprodi IP. “Kami akan terus mendorong semua mahasiswa IP untuk terus berprestasi, baik dalam hal akademik maupun non akademik. Prestasi tersebut akan membantu mereka untuk semakin meningkatkan rasa percaya diri di masa depan,”ungkap Kaprodi IP, Muhammad Kamil, M.A (wnd)

The International Webinar held by Social Welfare Department Discusses the Challenges of Disability

Thursday, November 05, 2020 09:49 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      The Social Welfare Study Program of the Faculty of Social and Political Sciences, University of Muhammadiyah Malang (UMM) again held a webinar inviting various speakers from several countries in ASEAN through the Zoom Meeting. This activity raised the topic of social work practices, especially the fulfillment of social services for people with disabilities during the COVID-19 pandemic in ASEAN countries. About 300 participants were involved in the activity which was held on November 4, 2020.      Even though in the midst of a pandemic that did not allow meetings between countries, the UMM Social Welfare Study Program was able to collaborate with other countries to continue carrying out a common agenda. This activity presented a number of speakers from the Philippines, Thailand, Malaysia and Indonesia. Among them are Jowima Ang-Reyes (Ph.D. from the Department of Social Work, University of The Philippines), Somchai Rungsilp (Asia-Pacific Development Center on Disability, Thailand), Dr. Aizan Sofia Amin (Department Of Social Work, Universiti Kebangsaan Malaysia) and Rini Hartini Rinda Andayani Ph.D. (Polytechnic of Social Welfare Bandung).      One of the highlights of this seminar is the presence of Dr. Aizan Sofia Amin from University Kebangsaan Malaysia. This Doctoral graduate of Glassgow University is a person with a disability since he was 14 years old. Despite having a disability, however, Dr. Aizan is able to be a motivation for many people in his country. In his presentation, Dr. Aizan Sofia Amin also explained that the challenges faced by persons with disabilities in Malaysia are related to accessibility, from obtaining information, health services, education, employment, economic to social. “Similar to other countries, Malaysia’s challenges in dealing with people with disabilities, one of which is in terms of work. People with disabilities are a group who have a high risk of being ignored and find it difficult to get work outside the home, “said the senior lecturer at UKM.      Jowima Ang-Reyes from the Philippines discussed social services for people with disabilities in the Philippines. Not much different from Jowima, Somchai Rungsilp from the Asia-Pacific Development Center (APDC) also explained about social services during the COVID-19 period in Thailand and the challenges faced by people with disabilities today.      In Indonesia, people with disabilities also need more attention from the government. Rini Hartini Rinda Andayani Ph.D, a speaker from the Bandung Social Welfare Polytechnic explained that the situation of people with disabilities in Indonesia during the COVID-19 pandemic also experienced feelings of isolation, lack of information for persons with disabilities related to COVID-19, and a lack of teaching to prevent COVID-19 from becoming challenges that must be considered by the speaker.      The material presentation session by the speakers in this webinar lasted for approximately 100 minutes. The Head of the Social Welfare Study Program, Dr.Oman Sukmana, M.Si said that this webinar was the result of collaboration between the Social Welfare Department and a number of well-known campuses both in Indonesia and abroad. “We hope that in the future there will be more collaborations that can be established, so that knowledge sharing like this can be more varied,” he said. (eko / wnd)

Melihat Kerjasama Inggris-Indonesia bersama Dubes Rizal Sukma

 Senin, 02 November 2020 15:28 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pada Senin, 2 November 2020 dilangsungkan Kuliah Perdana Virtual oleh Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang bertajuk ‘Hubungan Bilateral Indonesia – Inggris Pasca Forum Kemitraan 2010 dan Brexit 2020’. Hadir sebagai pemateri utama adalah Dr. Rizal Sukma, M.Sc., Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya merangkap Republik Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional 2016-2020.      Dr. Rizal Sukma mengungkapkan kepentingan Kerjasama antara Indonesia dan Inggris. Dikutip dari Prodi HI, Dr Rizal Sukma mengungkapkan, “Kondisi geografis sebagai negara kepulauan ini menjadikan laut sebagai prioritas kepentingan nasional bagi kedua negara. Laut merupakan aset ekonomi dan perdagangan. Sekaligus pula, keamanan dan keselamatan di laut menjadi perhatian bersama bagi kedua negara,” kata pria yang mendapatkan penghargaan One of 100 Global Thinkers oleh Foreign Policy Magazine tersebut. Selengkapnya Kuliah Perdana Prodi HI pada: https://youtu.be/Pti0n5gGJ9g      Ia menambahkan bahwa posisi Inggris sebagai mitra strategis Indonesia sangat penting. Inggris adalah salah satu negara anggota Dewan Keamanan PBB. Kemudian Inggris merupakan negara dengan posisi ekonomi yang besar dan potensial. Selain itu juga Inggris memiliki jaringan media yang luas seperti BBC dan Reuters. Banyak pula Lembaga Pendidikan bergengsi dan organisasi internasional besar bermarkas di Inggris. Di hadapan 400 mahasiswa baru Prodi Hubungan Internasional, Dr. Rizal Sukma memberi wejangan pada calon diplomat Indonesia, bahwa menjadi diplomat tidak hanya saat bekerja pada Kementerian Luar Negeri. Potensi profesi lulusan HI sangat luas di berbagai bidang seperti pada organisasi internasional, perusahaan multinasional, atau bahkan membuka usaha sendiri. (smd)

Ingin Kembangkan Laboratorium Pemerintahan, IPDN Jakarta Kunjungi FISIP UMM

 Selasa, 20 Oktober 2020 12:30 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Dalam rangka benchmarking pengembangan laboratorium pemerintahan, hari ini IPDN Kampus Jakarta mengunjungi FISIP UMM. Rombongan yang dipimpin oleh Direktur IPDN Jakarta, Dr.Prio Teguh, SH,M.Si ini disambut baik oleh Dekan FISIP, para  wakil dekan, kaprodi  dan kepala laboratorium Ilmu Pemerintahan FISIP UMM. Rombongan dari IPDN tersebut terdiri dari dosen yang mengelola unit lab, para komisioner gugus kendali mutu, tim IT dan tata usaha. Kegiatan benchmarking ini diawali dengan diskusi di outdoor meeting space lantai 6 FISIP UMM dan kemudian dilanjutkan dengan laboratorium tour ke lab IP. Kunjungan IPDN Kampus Jakarta, diketuai oleh Direktur IPDN Jakarta Dr.Prio Teguh, S.H, M.Si (kanan-memegang mic/photo by Humas FISIP)      Ada tiga agenda yang menjadi maksud dan tujuan IPDN Kampus Jakarta berkunjung ke FISIP UMM. Direktur IPDN Jakarta, Dr.Prio Teguh mengatakan ia dan tim ingin menjajaki bagaimana sistem informasi terpadu, gugus kendali mutu dan pengembangan laboratorium pemerintahan di FISIP UMM. “Kami selama ini masih berfokus pada bagaimana kajian good governance. Melalui benchmarking ini kami juga mempelajari berbagai perspektif termasuk bagaimana seharusnya laboratorium bisa menjadi roh dari sebuah program studi dan saya menilai perkembangan laboratorium prodi IP di FISIP cukup maju pesat,”ungkap Dr.Prio Teguh. Kegiatan-kegiatan lab Ilmu Pemerintahan seperti praktikum dan entrepreneurship menurutnya merupakan hal yang bisa diadopsi idenya oleh IPDN Jakarta. “Meski lulusan IPDN itu lapangan kerjanya sudah pasti ke pemerintahan karena di bawah negara,tetapi perkembangan zaman yang berubah-ubah harus kita siapkan, termasuk membekali praja kami dengan praktikum dan entrepreneurship seperti di Ilmu Pemerintahan FISIP UMM,”imbuhnya. Suasana pertemuan di outdoor meeting space lantai 6 GKB 1      Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si, mengatakan setiap laboratorium di bawah FISIP ini tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Masing-masing laboratorium tiap prodi di bawah FISIP UMM, bisa saling berkolaborasi.  Misalnya saja dalam membuat karya produk akademik. Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan FISIP UMM, Yana S.Hijri,M.A juga memaparkan sejumlah program unggulan laboratorium IP diantaranya dengan mengintegrasikan teori selama perkuliahan dengan praktek-praktek yang komprehensif. “Misalnya praktek legislasi, magang riset pemerintahan, GIS, dan praktek teknologi informasi pemerintahan. Dengan pembekalan praktek nyata tersebut, mahasiswa kami selain bisa menjalin relasi dengan pihak luar kampus juga bisa menambah portofolio mereka,”tutur Yana. Usai diskusi di outdoor meeting space, rombongan dari IPDN Jakarta ini kemudian mengikuti laboratorium tour, salah satunya juga mengintip lokasi Ngupination, program podcast andalan IP UMM.  (wnd)