Ilmu Pemerintahan UMM Resmi membuka kelas Unggulan CoE

Selasa, 07 Maret 2023 22:43 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Pemerintahan secara resmi (Selasa, 7 Maret 2023) membuka kelas unggulan Analis Pemerintahan Politik dan Kelas Pemerintahan Desa. Dua kelas ini resmi merupakan implementasi dari program Unggulan Center of Excelenece (CoE). CoE merupakan bagian dari pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang salah satu tujuanya membekali mahasiswa kemampuan analisa dan praktek lapangan yang nyata sehingga lebih mudah terserap di dunia kerja. Program ini rencananya akan dilaksanakan semester ini dan diikuti oleh angkatan 2020. Masing-masing kelas ini diikuti oleh 24 mahasiswa. Kegiatan Soft Opening ini melibatkan perwakilan mahasiswa dan DUDI yang terdiri dari jajaran Pemerintah Desa Tulungrejo, Kota Batu, dan perwakilan PT. Sinergi Visi Utama (Yogyakarta). Selain itu, pembukaan ini dihadiri oleh Dekanat FISIP UMM, Dekan FISIP UMM Prof. Muslimin Machmud, M.Si, dan Wakil Dekan 1 Najamuddin K. Rijal, M.Hub.Int, serta beberapa dosen IP UMM. Ali Roziqin, S.AP.MPA selaku penanggungjawab program ini melaporkan bahwa program ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan. Dosen yang juga merangkap sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMM ini menambahkan bahwa tujuan utama program ini adalah memberikan penguatan praktik dan skill teknis soal Pemerintahan Politik dan pemerintahan desa. Dua kelas ini ditujukan agar mahasiswa bisa lebih menguasai fenomena pemerintahan politik dan pemerintahan desa yang itu akan sangat bermanfaat sebagai modal ketika terjun di dunia kerja. Kelas ini nantinya akan mendatangkan para praktisi misalnya dari lembaga konsultan politik dan pemerintahan untuk kelas Analis pemerintahan dan politik serta kepala Desa dan perangkat desa untuk kelas Analis pemerintahan desa. “sejuah ini program ini telah bekerjasama dengan berbagai macam konsultan seperti PT. Sinergy Yogyakarta dan 4 Desa di Kota Batu dan 9 desa di Magetan, “terang Ali. Foto bersama stakeholder terkait CoE IP UMM. (Sumber: Hendra) Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si selaku Dekan FISIP UMM dalam sambutanya sangat mengapresiasi positif program ini dan sangat opitmis akan sukses. “adanya perubahan teknologi, dan literasi telah berdampak pada mekanisme pasar kerja. Oleh karena itu, hadirnya kelas unggulan ini diharapkan mampu menjembatani antara dunia kampus dengan kebutuhan kerja saat ini. “mahasiswa harus memanfaatkan kelas ini untuk memperoleh skill secara praktis, sehingga mahasiswa itu akan menjadi generasi pemenang dan unggul, “tegas Muslimin. Dukungan juga ditunjukan oleh mitra dalam program ini. Suliono selaku Kepala Desa Tulungrejo menyatakan bahwa sinergi seperti ini sangat baik karena dapat saling mengungtungkan. Mahasiswa bisa mendapatkan ilmu praktis tentang pengelolaan desa sedangkan desa bisa mendapatkan bantuan dari mahasiswa melalui kematangan teori untuk membantu pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi di desa. (*/its)
Prodi Ilmu Komunikasi UMM Gelar Pelepasan Magang Mahasiswa SCDC

Jum’at, 03 Maret 2023 20:55 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ilmu Komunikasi (IKOM) FISIP UMM secara resmi melepas keberangkatan mahasiswa dalam Program School of Creative Digital Communication (SCDC) pada Jum’at, 3 Maret 2023. SCDC merupakan implementasi dari program Center of Excelence (CoE) yang dalam hal ini dinamakan kelas Social Media For Branding Class. Kegiatan ini dihadiri oleh Jajaran Dekanat FISIP, Ka. Prodi, Sekretaris Prodi, Kepala Lab dan Dosen-dosen Ilmu Komunikasi. Tercatat 28 mahasiswa menjadi peserta program ini yang tersebar di 9 mitra yakni PT. CMLABS Indonesia Digital, Disdukcapil Kab. Sidoarjo, LPP RRI Ternate, Diskominfo Kab. Pasuruan, Thursina, Satoria Aneka Industri, Kominfo Kab. Malang, Sosialoka, dan Lembaga Sensor Film. Widiya Yutanti, M.A. (Hons) selaku penanggungjawab program SDCD ini melaporkan bahwa program ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 4 bulan. Dosen yang juga merangkap sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM ini menambahkan tujuan utama program ini adalah memberikan pengalaman kerja melatih dan mengasah skill mahasiswa. “Program ini adalah cara IKOM mengenalkan secara langsung dunia kerja dimana mahasiswa dapat memperoleh pengalaman kerja sebanyak-banyaknya. Dengan magang selama 4 bulan waktu tersebut cukup untuk memperkuat mental dan skill kerja mahasiswa, “ungkap Widiya. Kegembiraan dalam proses pelepasan SDCD IKOM. ( Foto: Lab) Nasrullah, S.Sos, M.Si selaku Kaprodi IKOM menyatakan bahwa program ini adalah respon prodi terhadap kebijakan CoE Universitas. “Kelas ini bermaksud menghasilkan mahasiswa yang bukan hanya saja memiliki keterampilan teknis namun juga analisis karena itu bantuan dan dukungan bapak/ibu mitra sangat dibutuhkan untuk membimbing secara langsung mahasiswa. Nasrullah menambahkan bahwa mahasiswa harus betul-betul komitmen mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, menjadi problem solver. “kalian misalnya bisa mengambil peran sebagai duta kampanye program-program mitra atau menjadi Humas, “terang Nasrullah. Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si selaku Dekan FISIP UMM dalam sambutanya menyatakan bahwa dunia pendidikan terjadi banyak perubahan sehingga dibutuhkan berbagai macam penyesusian. Jika dulu perkuliahan banyak di kelas saat ini juga harus diimbangi dengan di luar kelas karena itu magang menjadi sangat penting. Kampus dituntut untuk membangun sinergi dan kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Kerja (DUDI) dalam skema magang intensif misalnya seperti SDCD ini. “program ini tentu sangat bagus dan wajib didukung sepenuhnya karena membekali mahasiswa pada skill nyata bukan hanya teori di kelas. Saat ini dunia kerja sangat membutuhkan keterampilan tersebut sehingga pengalaman magang menjadi modal yang berharga untuk mengahadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Ini adalah pengalaman nyata tentang dunia kerja yang sangat baik untuk membentuk karakter, menambah wawasan dan skill mahasiswa, “terang Muslimin. Muslimin juga menyampaikan optimisnya tentang kesuksesan program ini. “UMM merupakan kampus dengan akreditasi unggul sehingga kualitas mahasiswanya sudah cuku teruji. Jadi mahasiswa tunjukan kemampuan dan kualitas yang terbaik. Karena itu juga dibutuhkan dukungan dari semua pihak khususnya mitra untuk membimbing proses adaptasi dan magang mahasiswa. Terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan semua mitra untuk bersama-sama dengan kami mempersiapkan generasi emas Indonesia melalui program ini, “tutup Muslimin.
Gelar Yudisium, 334 Sarjana FISIP Siap Berkontribusi untuk Indonesia

Jum’at, 10 Februari 2023 06:48 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dunia kerja memang memiliki iklim kompetisi yang ketat. Ada begitu banyak lulusan dari berbagai macam latar belakang kampus yang memperebutkan pekerjaan sehingga kompetensi menjadi syarat mutlak. Apalagi Indonesia akan segera memasuki bonus demografi dimana struktur penduduk didominasi oleh angkatan kerja sehingga semakin mempertegas kebutuhan SDM manusia yang berkualitas dan adaptif dengan dunia kerja. Rangkuman di atas disampaikan oleh Noval Dhwinuari Antony S.IKom dalam dalam orasi ilmiah pada Yudisium FISIP Periode IV yang digelar Kamis (10/2/2023) di Aula GKB IV Lantai 9 UMM. Dengan mengambil topik “Berpetualang Setelah Kuliah” Noval yang didaulat sebagai alumni sukses menceritakan bahwa jumlah penduduk usia produktif di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri menyebutkan bahwa di tahun 2022 terdapat190,83 juta jiwa (69,3%) penduduk Indonesia yang masuk kategori usia produktif (15-64 tahun). Ini artinya bahwa kompetisi dunia kerja sangat ketat dan salah satu kunci sukses tentu saja kompetensi dan integritas. Alumni Ilmu Komunikasi UMM tahun 2015 ini menyebut bahwa alumni FISIP UMM disegani di dunia kerja karena memiliki kapasitas yang memadai. “ini adalah buah dari ilmu, jaringan dan pengalaman yang diberikan kampus pada mahasiswa saat kuliah, “terang Noval. Modal tersebut sangat berguna saat memasuki dunia kerja karena dibutuhkan oleh perusahaan maupun ketika membuka usaha sendiri. “reputas FISIP UMM dan semua ilmu dan pengalaman saat saya mahasiswa sangat membantu kesuksesan saya di dunia kerja. Noval saat ini tercatat sebagai salah satu redaksi di Detiksulsel. Proses pelaksanaan Yudisium FISIP UMM Periode I tahun 2023. (Foto:Istimewa) Yudisium FISIP periode I tahun 2023 kali ini dilakukan full luring dan diikuti oleh 334 mahasiswa. Yudisium kali ini juga mengukuhkan tiga terbaik Fakultas yakni Amanda Luthfi Indrasari dari Ilmu Komunikasi dengan IPK 3,85 (Terbaik I), Yeni Puspitasari dari Prodi Ilmu Pemerintahan dengan IPK 3,81 (Terbaik II) dan Shellya Kusuma Ningrum dari Prodi Ilmu Komunikasi dengan IPK 3,80 (Terbaik III). Yang juga tidak kalah luar biasanya ketiganya berhasil lulus dalam waktu singkat yakni 3 tahun 4 bulan. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, Ph.D dalam sambutannya mengapresiasi keberhasilan mahasiswa dalam melewati semua tantangan saat kuliah. “selamat kepada semua lulusan FISIP UMM, berhasil mengatasi semua kendala dan tantangan saat kuliah dengan baik” ujar Muslimin. Muslimin menambahkan proses meraih gelar sarjana tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras dan semangat pantang menyerah sehingga pencapaian tersebut sangat perlu disyukuri. Profesor Ilmu Komunikasi UMM Malang ini ini juga tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pada orang tua lulusan yang telah mempercayakan proses pendidikan anaknya pada Universitas Muhammadiyah Malang khususnya FISIP UMM. “Pilihan tersebut sangat tepat karena reputasi UMM Malang yang sangat luar biasa dengan berbagai pengakuan. UMM Malang memiliki status akreditasi unggul yang berarti tingkat tertinggi, selain itu 4 Program Studi di FISIP UMM telah memiliki predikat unggul yakni Ilmu Komunikasi, Ilmu Hubungan Internasional, Sosiologi, dan Ilmu Pemerintahan serta akreditasi internasional AUN-QA untuk Ilmu Komunikasi. Khusus Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan di tahun 2023 akan mengikuti akreditasi internasional FIBAA. Semua prestasi tersebut adalah bahwa mutu akademiknya FISIP sangat baik. Muslimin menambahkan bahwa hal tersebut adalah modal sosial bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja, bahwa mereka memiliki kompetensi yang mumpuni. Ini juga ditunjang banyak alumni FISIP UMM yang telah sukses didunia kerja. Diakhir sambutanya Muslimin menitipkan 3 pesan yang harus dikuasai oleh lulusan FISIP UMM agar berkontribusi untuk bangsa. Pertama, kemampuan analisis big data, skill tersebut dibutuhkan meningat 5 Miliar orang dan juga barang telag terintegrasi dengan data internet sehingga sangat diperlukan dalam pekerjaan. Kedua, literasi teknologi yakni kemampuan mengoperasikan teknologi untuk menemukan pekerjaan baru. Saat ini banyak sekali pekerjaan baru seperti konten kreator hanya dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam handphone. Ketiga, literasi kritis dan inovatif mengingat saat ini manusia mengalami banjir informasi sehingga diperlukan kemampuan memilah informasi yang tepat dimana hal tersebut dapat melahirkan inovasi-inovasi produktif untuk kemajuan bangsa. (*/its)
Dekan FISIP Soroti Pemilu 2024 di Forum PTMA

Rabu, 21 Juni 2023 22:27 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pemilu 2024 yang direncanakan dilaksanakan pada 14 Februari 2024 sudah semakin dekat. Begitu banyak fenomena politik yang telah terjadi. Hal ini tentu saja butuh kontribusi melalui partisipasi dan pengawasan dari berbagai macam elemen kelompok penekan salah satunya dari Forum Dekan FISIP Perguruan Tinggi Muhammadiyah (Fordek FISIP PTMA). Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si selaku Ketua Fordek PTMA dalam seminar Seminar Nasional Forum Dekan FISIP PTMA di Auditorium Kasman Singodimedjo FISIP UMJ, Rabu (21/06/2023) dengan tema “Muhammadiyah di Tengah Kontestasi Politik 2024”. Muslimin menekankan pentingnya partisipasi kader-kader Muhammadiyah dalam politik, namun bukan dalam konteks politik praktis. Ia menginginkan agar kader-kader Muhammadiyah memahami politik sebagai sarana untuk mencapai perubahan substansial dalam masyarakat, bukan sekadar ambisi kekuasaan atau kepentingan pribadi.Dalam pandangan Muslimin, pemilu merupakan momen penting di mana transformasi demokrasi dapat terjadi. Transformasi tersebut merujuk pada perubahan sistem politik yang lebih bermoral dan berprinsip, serta melibatkan seluruh masyarakat dalam proses politik. Dekan FISIP UMM Prof. Muslimin Machmud, M.Si bersama peserta lain dalam Forum Fordek PTMA UMJ Jakarta. (Foto:UMJ Jakarta) Meskipun tidak semua anggota Muhammadiyah menerima politik praktis, Muslimin tetap menganggap politik sebagai sesuatu yang penting. Menurutnya, pemahaman tentang politik diperlukan agar kader-kader Muhammadiyah dapat berkontribusi secara efektif dalam membangun kembali cita-cita bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa Muslimin ingin melihat kader-kader Muhammadiyah berperan aktif dalam proses politik dengan memiliki pemahaman yang baik tentang politik dan tujuan nasional. Dorongan Muslimin tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk menghadirkan nilai-nilai moral dan prinsip keagamaan dalam arena politik, serta mengingatkan bahwa partisipasi politik adalah tanggung jawab dan kesempatan untuk mempengaruhi perubahan positif dalam masyarakat. Selain itu Muslimin mengharapkan bahwa Muhammadiyah dapat memainkan peran penting sebagai penengah dan jembatan antara kekuasaan politik dan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Hal ini mengindikasikan pentingnya adanya keterlibatan Muhammadiyah dalam mengawasi dan mengkritisi kekuasaan politik secara independen. Muslimin menekankan bahwa dalam membangun peradaban bangsa, Muhammadiyah harus memiliki kemandirian dalam melakukan survei. Survei tersebut harus didasarkan pada metodologi keilmuan yang objektif, bebas dari pengaruh atau pesanan pihak lain. Dengan demikian, Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan data dan informasi yang akurat serta dapat dipercaya kepada masyarakat dan kekuasaan politik. Pernyataan Muslimin ini menunjukkan pentingnya integritas dan independensi Muhammadiyah dalam menjalankan perannya sebagai lembaga yang berperan dalam memperkuat demokrasi dan membangun peradaban bangsa. Dengan mengedepankan metode ilmiah dan kebebasan dari pengaruh eksternal, Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya dan menjadi mitra yang konstruktif dalam proses pembangunan nasional. (*/its)
Hebat, 2 Prodi FISIP UMM Raih Peringkat Terbaik Publikasi UMM

Jum’at, 23 Desember 2022 21:54 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kabar gembira dan membanggakan kembali diraih oleh seluruh keluarga besar FISIP UMM diakhir tahun 2022. Dua Prodi yakni Hubungan Internasional dan Ilmu Pemerintahan dinobatkan sebagai Prodi dengan publikasi ilmiah tertinggi pertama dan ke dua di UMM. Predikat tersebut dihitung berdasarkan jumlah publikasi dosen dan mahasiswa selama Periode November 2021-September 2022. HI memperoleh peringkat pertama dengan 52 Publikasi dan Ilmu Pemerintahan di peringkat kedua dengan 48 publikasi. Presentasi artikel publikasi dosen-mahasiswa UMM November 2021-September 2022. (Foto: Istimewa) Ini tentu saja sangat disyukuri oleh prodi HI dan IP UMM. Raihan ini merupakan buah dari kerja keras dan kolaboratif dosen dan mahasiswa. Ungkapan ini disampaikan oleh Syahnaz Mutiara, S.IP.,MA selaku Sekretaris Prodi HI. ”alhamdulillah ini prestasi berkat usaha serius kami untuk meningkatkan jumlah publikasi. Dosen dan mahasiswa kami dorong agar menghasilkan publikasi. Khusus mahasiswa publikasi di SINTA dapat dikonversikan sebagai pengganti skripsi. Karena itu mahasiswa termotivasi untuk menulis jurnal dan telah dibuktikan banyak mahasiswa yang telah lulus dengan skema jurnal, “ujar Syahnaz. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Muhammad Kamil, S.IP,MA selaku Kaprodi IP UMM. “Alhamdulillah sudah lebih dari 130 artikel jurnal mahasiswa yang telah dikonversikan sebagai pengganti skripsi. Itu tersebar di jurnal nasional terakreditasi SINTA 2 dan 3, prosiding terindeks scopus, jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi. ‘itulah salah satu pemacu mahasiswa sehinga sangat antusias dalam mengerjakan artikel ilmiah, ”tambah Kamil. Kamil juga menambahkan bahwa mahasiswa dilatih dan didampingi langsung oleh dosen-dosen Prodi dalam mengerjakan Jurnal. “mahasiswa dilatih secara serius misalnya bagaimana menggunakan tools seperti VOSViewer dan NVIVO agar memiliki kebaruan dalam metode dan analisis data sehingga memiliki peluang tinggi untuk diterima di Jurnal, “Tutup Kamil. Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si selaku Dekan FISP UMM. “Selamat atas pencapaian sangat luar biasa dan membanggakan dari HI dan IP. Ini berkat kerja keras untuk mencapai Kelulusan Tepat Waktu (KTW) salah satunya. Semoga ini menginspirasi prodi-prodi lain di FISIP UMM untuk mengikuti pencapaian membanggakan ini, kami Fakultas akan mensupport sepenuhnya ”tutup Muslimin. (*/its)
Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM Soroti Bahaya Politik Identitas di Indonesia

Kamis, 22 Desember 2022 02:39 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Politik identitas merupakan salah satu ancaman serius dalam demorasi indonesia. Hal tersebut dibahas secara mendalam dalam Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM dengan tema “Politik Identitas Dalam Pemilu 2024: Tantangan Masa Depan Demokrasi Indonesia” Adapun yang menjadi pembicara adalah Dr. Asep Nurjaman, M.Si (Ilmu Pemerintahan UMM), Vidiayandika Djati Perkasa (Peneliti Senior CSIS) dan Dr. Farid Rusman, M.Si (Ilmu Komunikasi UMM). Kegiatan yang dImoderatori oleh Widiya Yutanti, M.A. (Hons) menampilkan Vidiayandika Djati Perkasa sebagai pembicara pertama. Vidiayandika mengambil judul “Dekonstruksi Politik Identitas, Konflik dan Perlindungan Warga Sipil”. Secara komprehensif ia menganalisis politik identitas di Papua. Di awal penjelasnya Vidiandika mengatakan bahwa politik identitas cenderung marak di masa pilkada/pemilu dan mereda setelah itu karena batas antara politik identitas dan politik transaksional sangatlah tipis. Politik identitas cenderung hanya dipahami sebagai bentuk ‘power struggle’ melalui penonjolan atribut tertentu dab bersifat cair (fluid). Motivasi utama adalah memperebutkan pengaruh dan kekuasaan penguasaan sumber daya ekonomi, politik dan sosio-kultural (relasi kuasa) (attach vs detachment) (2). Dalam konteks papua memahai format-format politik identitas sangat menarik mengingat semangat pemisahan yang tinggi (ingin merdeka) dari masyarakat Papua merupakan bagian dari politik identitas. Para pembicara bersama moderator saat pelaksanaan Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM. (Foto:Udin) “kekerasan dan pelanggaran HAM dipapua yang masiv dan dilakukan oleh negara secara bertahun-tahun menimbulkan kebangkitan perjuangan politik identitas di papua. Melakukan perlawanan terhadap xenophobic termasuk didalamnya rasisme yang dilakukan masyarakat papua adalah upaya untuk membela identitas kepapuan mereka. Bagi mereka nasionalisme papua sebagai bentuk perjuangan berbasiskan identitas politik salah satunya dengan meminta kemerdakaan, “ungkap Vidiayandika. Untuk menyelesaikan hal tersebut dalam pandangan Vidiayandika negara perlu melakukan beberapa hal. Pertama, Negara perlu mengatasi kurangnya pemahaman aparat keamanan tentang hak asasi manusia. Kedua, negara perlu menangani impunitas de facto petugas keamanan yang kesalahannya menyebabkan kematian warga sipil dan/atau pelanggaran massal hak-hak warga sipil. Ketiga, negara perlu meningkatkan SDM terampil dan alokasi anggaran untuk unit-unit yang langsung menangani pencegahan konflik. Keempat, Organisasi masyarakat sipil perlu memberdayakan strategi lokal yang ada yang telah dirancang oleh komunitas rentan untuk melindungi diri mereka sendiri selama konflik Sebagai pembicara kedua Farid Rusman menyoroti olitik Identitas dalam erspektif komunikasi. Dengan mengambil judul “Politik Identitas, Arti dan Implikasi”, Farid meliat penggunaan politik identitas sebagai strategi politik yang fokus pada pembedaan dan pemanfaatan ikatan primordial sebagai kategori utama. Politik identitas mengacu pada subset politik di mana kelompok dengan identitas ras, agama, etnis atau subkultur yang sama mempromosikan kepentingan khusus mereka. Politik identitas bisa memunculkan toleransi dan kebebasan, namun sebaliknya bisa memicu pola-pola intoleransi, kekerasan dan konflik antar etnik, agama dan aliran (agama) dalam masyarakat.Politik identitas bisa dipakai untuk promosikan kelompoknya, bisa untuk serang kelompok lain. Lebih Jauh Farid mengaitkan Politik Identitas dalam Perspektif Komunikasi. Bagi Farid politik identitas adalah upaya mempromosikan kelompoknya, maupun dalam menyerang kelompok lain (lawan), dilaksanakan melalui komunikasi untuk memenangkan pertarungan. Dalam mempromosikan kelompoknya, konten pesan identitasnya dalam komunikasi dibingkai, dibikin secara konotatif bersifat positif. Dalam menyerang kelompok lawan, konten pesan identitas kelompok lawan dalam komunikasi dibingkai, dibikin secara konotatif bersifat negatif. “dan media yang paling efektif sebagai saluran komunikasi tersebut adalah media sosial”,”tutup Farid. Asep Nurjaman sebagai pembicara terakhir menyoroti secara khusus ada apa dengan politik identitas. Asep memprediksi dimasa yang akan datang saat era metaverse datang politik identitas akan melemah karena manusia sudah terkikis identitasnya. Doktor lulusan UGM Yogyakarta ini melihat politik identitas di Indonesia dalam dua sisi. Pertama, positif ketika politik identitas melahirkan semangat patriotism seperti terjadi saat era kemerdekaan. Kedua, negatif saat politik identitas melahirkan ketegangan politik karena polarisasi yang ekstrem di masyarakat khususnya pasca pemilu dilaksanakan pasca reformasi politik 1998. “saat ini politik identitas di Indonesia cenderung merusak demokrasi karena dipaksanakan untuk menekan kelompok lain. Politik identitas itu orientasi akhirnya adalah sharing power sehingga wajar digunakan oleh elit politik meskipun itu kontraproduktif untuk masa depan demokrasi. Di pemilu 2024 politik identitas akan melemah jika kandidat presidenya minimal 3 pasangan. “kita juga tetap optimis politik identitas tidak berdampak luas karena NU dan Muhammadiyah tidak ikut-ikut dalam strategi politik buruk seperti itu, “tutup Asep.
Pakar Politik Islam UMM Bongkar Populisme di Indonesia

Rabu, 21 Desember 2022 08:35 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Populisme merupakan konsep yang disematkan pada gerakan Islam di Indonesia belakangan ini mengiringi beberapa rangkaian politik elektoral baik di level lokal maupun nasional. Ihwal penyematan ini dilatarbelakangi oleh penggunaan identitas keagamaan yang mengesankan gerakan yang dirancang oleh beberapa elite dari kalangan Islam merupakan gerakan eksklusif. Gerakan ini untuk sementara waktu membuahkan hasil yang ditunjukkan dengan kemenangan salah satu pasangan dalam Pilkada di DKI Jakarta pada 2017. Prof. Syamsul Arifin, M.Si saat menyampaikan Keynote Speech di Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM. (foto/Udin). Benang merah tersebut disampaikan secara ringkas dan jelas oleh Prof. Syamsul Arifin, M.Si selaku Pakar politik Islam UMM yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor 1 UMM Malang dalam Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM. Bertindak sebagai keynote speech dalam kegiatan yang bertemakan “Politik Identitas Dalam Pemilu 2024: Tantangan Masa Depan Demokrasi Indonesia” Syamsul meletakkan populisme sebagai suatu gerakan yang seharusnya memberi manfaat positif terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia mengingat pandangan Muslim mainstream menerima demokrasi baik sebagai suatu fakta sejarah maupun karena dari sisi teologis, islam dan demokrasi tidak perlu diletakkan dalam posisi yang saling berhadapan. Lebih lanjut Syamsul mengungkapkan bahwa sukses dalam politik elektoral, gerakan populisme Islam terus dirawat yang nantinya menjadi suatu strategi permanen dalam kontestasi politik elektoral di tingkat nasional. Populisme Islam bagi sebagian kalangan dikhawatirkan dapat menghalangi perkembangan demokrasi di Indonesia yang sejatinya masih dalam proses transisi menuju konsolidasi demokrasi. Salah satu ancaman populisme islam melalui kehadiran politik identitas. Berkaca dari kasus Pilkada DKI Jakarta dan Pilpres 2019 menunjukan bahwa populisme berwajah politik identitas begitu terasa dengan kuat sebagai strategi politik memobilisasi suara. Dampaknya pembilahan sosial dimasyarakat begitu terasa sehingga mengakibatkan runtuhnya kohesi sosial di Indonesia. Syamsul menambahkan bahwa agar populisme islam memberikan manfaat bukan justru menghasilkan politik identitas yang justru mengakibatkan polarisasi yang dalam ditengah masyarakat diperlukan reorientasi. “diskursus populis yang diusung oleh elite harus terarah dalam upaya memberikan kesadaran kepada publik bahwa agenda-agenda utama reformasi seperti penegakan hukum, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi, pemberdayaan ekonomi rakyat. Sejauh ini diskursus populis beserta aksi turunanya masih terperangkap pada isu-isu primordialistik yang acapkali muncul dalam kontestasi politik elektoral. Jika masih terperangkap dengan isu-isu demikian, maka wajar jikamuncul kekhawatiran populisme Islam akan menjadi ancaman bagi demokrasi, “tutup Syamsul.(*/its)
Refleksikan Politik Identitas di Indonesia, FISIP UMM Gelar Diskusi Akhir Tahun

Rabu, 21 Desember 2022 07:32 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malang, 21 Desember 2022 FISIP UMM menutup rangkaian kegiatan pengembangan forum ilmiah dengan melaksanakan Diskusi Akhir Tahun. Dengan mengambil Tema “Politik Identitas Dalam Pemilu 2024: Tantangan Masa Depan Demokrasi Indonesia” ini merupakan kontribusi FISIP UMM dalam membuat politik Indonesia bisa lebih bermartabat dengan mengupas salah satu problem utama dalam pemilu Indonesia yakni hadirnya politik Identitas. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula GKB 4 Lantai 9 UMM Malang menghadirkan Prof. Syamsul Arifin, M.Si (Wakil Rektor I UMM) sebagai Keynote Speech dan 3 pembicara utama yakni Dr. Asep Nurjaman, M.Si (Ilmu Pemerintahan UMM), Vidiayandika Djati Perkasa (Peneliti Senior CSIS) dan Dr. Farid Rusman, M.Si (Ilmu Komunikasi UMM). Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (Dekan FISIP UMM) dalam pembukaan kegiatan Diskusi Akhir Tahun. (foto:Udin) Dihadapan kurang lebih 150 peserta yang berasal dari mahasiswa dan dosen-dosen FISIP UMM, Prof.Muslimin Machmud, M.Si selaku Dekan FISIP UMM dalam sambutan sekaligus membuka acara menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya merefleksikan kondisi politik nasional yang salah satunya terancam oleh politik identitas. “tema politik identitas menjadi salah satu isu utama menjelang pemilu 2024 sehingga sangat perlu didiskusikan lebih jauh. Politik identitas adalah hal yang sangat wajar dalam negara demokrasi karena ada ruang bagi ekspresi primordial (ras, suku, agama, ideologi politik) diperjuangkan oleh masing-masing individu atau kelompok. Politik identitas itu terbukti jadi strategi politik yang efektif dan efisien sehingga wajar sering digunakan dalam pemilu, “terang Muslimin. Muslimin menambahkan bahwa politik identitas itu perlu dijelaskan secara jernih dan objektif apakah boleh digunakan atau tidak dalam pemilu. Ini mendesak mengingat ada masyarakat yang pro dan kontra terkait penggunaan politik identitas dalam pemilu. Perlu pendefinisian lebih rasional batas-batas sejauhmana politik identitas dapat digunakan agar tidak kontraproduktif dengan semangat pemilu untuk menghasilkan kepemimpinan politik yang representatif melalui proses politik yang menyatukan bukan justru memecah belah kohesi sosial bangsa Indonesia. “Karena itu kegiatan ini penting untuk mendudukan secara jernih bagaimana idealnya politik identitas bekerja dalam situasi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk, “tutup Muslimin. (*/its)
Kolokium Doktoral FISIP Rekomendasikan Solusi Buat Masalah Sosial dan Politik Indonesia

Minggu, 11 Desember 2022 21:43 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fenomena sosial dan politik Indonesia memang selalu menarik diperbincangkan karena lekat dengan masalah yang perlu dicarikan solusinya. Semangat itu terekam dengan jelas saat FISIP UMM mengadakan Kolokium Doktoral yang salah satu tujuanya merespon berbagai macam wacana sosial dan politik yang sedang perkembang. Di sesi kedua, kegiatan tersebut fokus membahas hal tersebut dengan menghadirkan 3 pembicara yakni Dr. Frida Kusumastuti,M.Si (Ilmu Komunikasi), Dr.Fauzik Lendriyono, M.Si (Kesejahteraan Sosial) dan Gonda Yumitro, Ph.D (Hubungan Internasional) dengan Dimoderatori oleh Isnani Dzuhrina, M.Adv. Sosial media memberi peluang warga internet (netizen) ikut serta menjalankan perannya bersama peran media massa dan pemerintah dalam partisipasi politik, misalnya tentang kebijakan. Suara netizen menjadi penting dalam demokrasi. Terkait dengan informasi kebijakan, netizen aktif merupakan penyeimbang bagi gate keeper pada media massa atau pers dan juga website pemerintah. Hal tersebut dielaborasi lebih dalam oleh Dr. Frida Kusumastuti,M.Si dalam analisanya berjudul “Peran Netizen dalam Pembicaraan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Twitter”. Frida menyampaikan bahwa media sosial dimanfaatkan oleh netizen untuk berperan sebagai kurator, influencer (pengaruh pembicaraan) dan buzzer (mempromosikan) narasi besar UU PDP. “Berdasarkan riset saya, netizen di twitter lebih menjalankan peran sebagai influencer dan buzzer, belum menggunakan perannya sebagai kurator terhadap narasi besar UU PDP.” Ungkap Frida. Para pembicara Kolokium Doktoral FISIP UMM Sesi Kedua. (Foto:Udin) Sebagai pembicara kedua, Dr.Fauzik Lendriyono, M.Si menyoroti problematika pengasuhan orang tua lanjut usia dalam keluarga modern. Dalam pandangan Fauzik modernisasi telah menggeser pelayanan berbasis keluarga menjadi berbasis lembaga. Akibatnya terjadi dilemma serius dalam keluarga modern dalam pelayanan pada orang tua lansia. Dengan mengambil fokus jumlah Lansia di Malang Raya yang cukup tinggi sehingga kerap menghasilkan konflik antara anak dan orang tua, Fauzik menunjukan bahwa salah satu solusi utamanya adalah membentuk lembaga layanan sosial untuk layanan lansia berorientasi profit. Gonda Yumitro, Ph.D sebagai pembicara terakhir membahas perkembangan politik islam selama reformasi politik di Indonesia (1998-2019). Gonda menyoroti kegagalan politik islam sebagai bagian dari upaya formalisasi agama dalam politik Indonsia pada Pilpres 2019. Salah satu alasanya karena tidak adanya blue print dan road map gerakan yang jelas sehingga gagal meraih simpati masyarakat. Gonda menyarankan agar gerakan islam mulai merubah orientasi gerakanya agar memperoleh dukungan publik dan lebih bermanfaat. “Islam harusnya mulai difokuskan pada pemberdayaan sosial, ekonomi dan pendidikan dengan memanfaatkan khotbah dan media, “tutup Gonda. (*/its)
Promosikan Pemikiran Doktor, FISIP UMM Gelar Kolokium Doktoral

Jum’at, 09 Desember 2022 22:29 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malang, 10 Desember 2022 untuk pertama kalinya FISIP UMM di era kepemimpinan Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si melaksanakan Kolokium Doktoral dengan tema “Hilirisasi Hasil Penelitian dan Kajian Sosial Politik untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaya saing”. Keiatan yang dilaksanakan secara full luring di Aula BAU UMM Malang menghadirkan 1 pembicara sebagai Keynote Spekaer yakni Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si selaku Dosen Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Hasanuddin dan 6 pembicara utama yakni Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si ( Kesejahteraan Sosial), Dr. Budi Suprapto, M.Si (Ilmu Komunikasi), Dr. Frida Kusumastuti, M.Si (Ilmu Komunikasi), Dr. Salahudin, M.Si., M.PA (Ilmu Pemerintahan), Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si ( Ilmu Komunikasi) dan Gonda Yumitro, MA., Ph.D (Hubungan Internasional). Dekan FISIP UMM bersama Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si saat pemberian cinderamata. (foto:Udin) Kolokium Doktoral ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan FISIP UMM untuk membudayakan iklim akademik di Fakultas dan salah satu bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi yakni Penelitian. Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si selaku Dekan FISIP UMM dalam pengantarnya dihadapan 100 peserta menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberi keesempatan kepada doktor untuk memberikan pandangan akademik terhadap bergagai fenomena yang sedang terjadi di masyarakat. “Kegiatan ini adalah wadah bagi Doktor dari FISIP UMM untuk menyampaikan gagasan-gagasan akademik untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan diri, “ujar Muslimin. Lebih jauh Muslmin menyampaikan bahwa setiap gelar baik S1, S2, dan S3 memiliki 2 tanggungjawab moral yakni terhadap individu dan sosial kelimuan. Kolokium ini adalah bagian dari ikhtiar tersebut karena memfasilitasi pengemabangan diri dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan. “riset-riset ilmiah yang dihasilkan oleh doctor tidak boleh disimpan sendiri namun wajib disebarluaskan kepada masyarakat agar lebih bermanfaat, “ tegas Muslimin. Muslimin berpesan agar riset-riset yang dihasilkan dapat menghasilkan teknologi yang dapat bermanfaat untuk kepentingan publik. Semua Doktor dan calon Doktor khususnya di FISIP UMM harus terus berinovasi melahirkan riset-riset yang aplikatif dan sesuai dengan tuntutan masyarakat. “Karena itu Kolokium Doktoral akan terus dilanjutkan setiap tahun di FISIP UMM agar atmofsir akademik tetap terjaga dan menghasilkan kebermanfaatan untuk kepentingan public, “tutup Muslimin. (*/its)