FISIP Kumpulkan Pakar Keilmuan, Kaji Prospek Sospol di Era Jokowi

Rabu, 18 Desember 2019 17:00 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik         Seminar Nasional bertema ‘Prospek Pembangunan Sosial Politik Indonesia Di Era Jokowi Jilid II’ diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Seminar ini mengajak mahasiswa untuk berdiskusi terkait pembangunan sosial politik saat ini, Selasa (18/12). Menghadirkan Prof. Dr. Muhadjir Effendi sebagai Keynote Speaker, serta sembilan narasumber dari sejumlah tokoh nasional dan pakar di bidangnya. Salah satunya Dr. Vina Salviana DS, M.Si yang hadir dengan tema menarik mengenai kesejahteraan sosial bagi perempuan.         Pada tahun 2018 kemiskinan di perkotaan mencapai 6,89%, di pedesaan 13,10% dimana kemiskinan di era Jokowi telah mengalami penurunan. Hal ini disampaikan Vina ketika membuka materi mengenai kesejahteraan sosial perempuan. Ia juga mengatakan bahwa jumlah keluarga miskin saat ini mencapai sekitar 25 juta, dengan rata-rata pendapat yaitu 1.990.170,00 rupiah.           Dilihat dari per rumah tangga, rata-rata keluarga miskin dengan pendapat di bawah 2 juta ini merupakan keluarga yang dipimpin oleh perempuan (single parent). Dengan jumlah keluarga (anak) rata-rata 4-5 anggota. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa kesejahteraan sosial bagi perempuan belum sepenuhnya terpenuhi. Lalu, apa sebenarnya faktor yang membuat sebuah keluarga yang dipimpim perempuan belum mendapat kesejahteraan sosial yang layak.       Posisi perempuan sebagai orangtua tunggal merupakan faktor utama, dimana beban tanggungjawab keluarga hanya dipikul oleh satu orang. Dr. Vina dalam materinya menyampaikan, dari data tahun 2016 keluarga miskin yang dipimpin perempuan mencapai 1,2 juta dengan persentase 11,03%. Jika diproyeksi per tahun 2019 maka terdapat 4.520.568 juta keluarga.     “Ini suatu gambaran bagaimana suatu yang miskin itu lebih banyak perempuan. Karena perempuan itu sudah dengan anak-anaknya single parent dan punya anak 4 sampai 5 rata-rata tadi,” ungkap Dr. Vina dalam pembahasannya.             Buta aksara menjadi faktor kedua yang mempengaruhi tingkat kemiskinan keluarga dengan pemimpin perempuan. Persentase buta aksara tertinggi yaitu diwilayah Papua dengan 22,8%. Buta aksara yang dialami perempuan dengan usia diatas 45 tahun keatas ini memengaruhi dalam proses pendidikan anak dan administrasi tertentu.       Faktor ketiga yaitu gizi buruk yang dialami balita dalam keluarga yang dipimpin perempuan dengan persentase 17,7%. Faktor keempat adalah kekerasan rumah tangga. Kekerasan ini mencakup kekerasan fisik, psikologis, seksual dan ekonomi. Kekerasan rumah tangga merupakan faktor terbentuknya keluarga single parent.  Pertanyaan berikutnya, dimanakah para politisi perempuan yang duduk di kursi parlement?      “Pertanyaannya politisi-politisi perempuan yang duduk di parlement, mereka kan punya konstituen. Mereka juga berada di parlement karena partai,”ungkap Dr. Vina    Dalam pembahasannya Dr. Vina juga menyampaikan, apakah penting pendidikan politik dalam partai politik. Nyatanya partai politik saat ini hanya memberikan pendidikan kaderisasi, bukan mengenenai pendidikan politik yang terutama berbasis sensitifitas gender. Pendidikan.     Pendidikan politik berbasis sensitifitas gender merupakan langkah awal yang harusnya diterapkan partai politik. Langkah berikutnya dengan menguatkan konstituen melalui program yang berpihak kepada kepentingan perempuan. Dimana pendidikan dan penguatan konstituen ini dapat membentuk pola pikir dan fokus mengenai perempuan dalam meningkatkan kesejahteraannya.      “Mudah-mudahan politisi kita, yang perempuan maksud saya, mau turun gunung ya, memperhatikan kaum perempuan yang sebetulnya banyak mengalami masalah di Indonesia,” harapan Dr. Vina saat mengakhiri materi yang disampaikan.      Selain Vina, delapan pakar turut mengkritisi melalui analisa secara praktis dan teoritis. Diantaranya yaitu; Prof. J. Krishadi (Peneliti Semkar CSIS), Dr. Mohamad Sobary (Budayawan), Dr. Oman Sukmana, M.Si (Pakar Gerakan Kesejahteraan Sosial), Dr. Wahyudi, M.Si (Pakar Implantasi Budaya Nusantara), Muslimin Machmud, Ph.D (Pakar Komunikasi Tradisional FISIP UMM), Budi Suprapto, Ph.D (Pakar Komunikasi Politik FISIP UMM), Dr. Fauzik Lendryono (Manajemen Organisasi Pelayanan Sosial FISIP UMM)      Pakar komunikasi politik FISIP UMM, Budi Suprapto, Ph.D., mengkritik permasalahan oligarki. “Oligarki tidak lepas dari kehidupan kita, saat ini media juga menjadi alat bagi oligarki dalam merengkuh kekuasaan. Lantas, Indonesia ini milik siapa? Ada kemungkinan terpilihnya Jokowi atas keinginan oligopoli media Indonesia. Media menduduki posisi strategis di infrastruktur politik, namun akhirnya disetir politik secara paksa sehingga terjadi agenda publik sehingga tidak sesuai dgn keinginan publik. Seperti yang terjadi pada penolakan UU-KPK dan RUU-PKS,”imbuhnya. Hal tersebut didukung dengan penelitiannya yang ditampilkan melalui slide di Dome UMM, disaksikan para peserta seminar nasional Prospek Pembangunan Sosial Politik Indonesia di Era Jokowi Jilid 2. (Sandra/Lely)

Kuliah Pemilu Bareng Eks Jurnalis TV One

Rabu, 13 November 2019 15:04 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik            Kedua kalinya perkuliahan Marketing Politik di Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Muhammadiyah Malang mengundang pembicara dari luar kampus. Jika sebelumnya mengundang ketua KPUD Kota Malang, hari ini (13/11) mengundang Presiden Jurnalis Berhijab Indonesia, dan mantan Reporter News TV One, Nikmatus Shilolikhah, S.Ikom.           Nikmah yang juga alumni Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2010 ini diminta berbagi pengalaman saat meliput berita-berita di masa kampanye pemilu. Juga pengalamannya di Newsroom, sebelum liputannya ditayangkan di layar kaca.          “Saya akui, banyak isu-isu di media massa saat pemilu itu akhirnya menguap sebab media harus menghormati nara sumber yg tidak ingin diberitakan,” papar Nikmah sambil memberikan beberapa contoh.       Sebuah fakta yang mengejutkan disampaikan oleh Nikmah. Ternyata di Jakarta, media radio masih memiliki power untuk informasi produk politik. Begitu juga di desa pelosok, masyarakat masih menjadikan televisi sebagai salah satu rujukan informasi utama.           Di akhir kuliah, Nikmah mengingatkan agar mahasiswa berhati-hati dengan hoax. Ia mengungkapkan tips agar terhindar dari berita hoax dan tidak menjadi penyebar berita hoax. “Minimal cek atau bandingkan dengan tiga media untuk memastikan keakuratan berita,”ungkap gadis yang saat ini menempuh studi S2 di salah satu kampus di Malang.         Pengalaman nyata ini penting dibagikan kepada mahasiswa kuliah Marketing Politik untuk memberi literasi bagaimana proses media massa sebagai channel dalam komunikasi pemasaran. “Dalam bauran promosi itu salah satunya adalah publisitas yaitu melalui pemberitaan seputar produk politik. Oleh karena itu mahasiswa perlu tahu bagaimana fakta dalam proses pemberitaan seputar produk politik,” jelas Dr. Frida Kusumastuti, M.Si ,dosen pengampu kuliah Marketing Politik. (wnd/frd)

Komunikasi Sabet Prestasi Gold Medal Lomba Ideation Program

Jum’at, 01 November 2019 17:53 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik        Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Kali ini juara pertama nasional dalam Ideation Program,sebuah kompetisi creative ide mahasiswa antar Perguruan Tinggi, akhirnya disabet  oleh tim Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP. Dua mahasiswa tersebut, Almira Yuniar Kalyca dan Dizar Cahya Afriana berhasil membawa pulang gold medal dalam perlombaan tahunan yang diadakan di Universitas Padjajaran.           Almira dan Dizar berhasilmenyisihkan 48 proposal dari perguruan tinggi se-Indonesia. Mereka lolos lima besar, bersanding dengan tim-tm dari kampus ternama seperti Unisoela Semarang, Unpad, dan UGM. Ideation Program sendiri diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran setiap tahun.“Kami sangat terharu bisa mendapatkan ini. Pertama kali ikut ajang kompetisi, Alhamdulillah,” kata Almira dan Dizar, mahasiswa IKOM UMM angkatan 2018 . Berdua mereka membawakan ide dengan judul “Healing Through Art“.         Almira dan Dizar patut berbangga karena mereka dinilai olehjuri profesional, yaitu Arya Kumbara (Brand Planning Manager at Iris Worldwide Indonesia), Harry Deje (Managing Director Content Influence at Wunderman Thompson), Lady Noor Chita Mawardi (CEO @ibunda.id layanan konseling psikologi online terbesar di Indonesia),dan Subekti Wirabhuana Priyadharma, M. A. (Dosen dan Peneliti dari Jurusan Manajemen Komunikasi). Tim yang menamai kelompoknya sebagai Tim Wolulas ini akhirnya berhasil meraih juara pertama setelah melewati proses seleksi, dan presentasi dengan brief baru. Almira menceritakan tahun ini Ideation Program mengusung tema “The Truth About Self-Harm”. Prosesnya, mula-mula para peserta diminta untuk membuat sebuah digital campaign. Tujuannya untuk meningkatkan awareness masyarakat mengenai self-harm, dan mengurangi stigma negatif mengenai self-harm. Kedua, pada final brief, peserta diminta membuat sebuah rencana event untuk para pelaku self-harm yang bertujuan agar mereka dapat berhenti melakukan self-harm.          Untuk merealisasikan brief tersebut, tim Wolulas memanfaatkan media sosial Instagram dan Facebook dengan membentuk group discussion bertajuk #IAmWithYou. Almira dan Dizar juga membuat sebuah film pendek agar penonton ikut merasakan apa yang ada di pikiran self-harm, mengedukasi melalui infografis, menambah relawan melalui infografis, menambah relawan melalui discussion group dan layanan konsultasi gratis terkait self-harm.            Atas prestasinya ini, Almira dan Dizar berhak membawa pulang gold medal, sertifikat dan uang pembinaan sejumlah lima juta rupiah. Dr. Frida Kusumastuti, M.Si, pembimbing tim Wolulas mengatakan prestasi Almira dan Dizar ini adalah sebuah start yang sangat baik.”Ini adalah pengalaman pertama mereka mengikuti lomba PR, bagi saya ini adalah sebuah awalan yang sangat baik. Semoga berikutnya mereka bisa semakin menambah panjang deret prestasi yang mengharumkan nama prodi, fakultas dan universitas tentunya,” harapnya.  (wnd)

FISIP ‘Bangun’ DISKOTIK di Kampus

 Sabtu, 12 Oktober 2019 10:40 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik        The pursuit of knowledge is never ending, the day you stop seeking knowledge is the day you stop growing. Quotes populer dari Brandon Travis Ciaccio ini menjadi semangat Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) FISIP UMM untuk membumikan DISKOTIK. DISKOTIK ini adalah singkatan dari Diskusi Tematik yang diadakan secara rutin setiap dua bulan sekali. Hari ini (12/10), DISKOTIK digelar di R.611 GKB 1 UMM. Menghadirkan dua pembicara, ilmuwan muda FISIP, Achmad Apriyanto,M.Si dan Peggy Puspa Haffsari, M.Sc, M.Si. Dua intelektual ini menyajikan tema Pemikiran Islam Sebagai Struktur Pengaruh Politik Internasional dan Domestik. Achmad Apriyanto (kiri) dan Peggy Puspa (tengah) sedang menyampaikan hasil risetnya           Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini dihadiri sekitar 20 dosen FISIP lintas prodi. Achmad, dosen Ilmu Pemerintahan yang menjadi penyaji pertama menyampaikan tentang  tipologi sistem politik di Indonesia. Ia mengatakan awal mula tipologi sistem politik di Indonesia, diawali oleh muslim santri yang memiliki proyeksi politik. Terdapat tiga model sistem politik yang berjalan di Indonesia. Diawali oleh model negara demokrasi  Islam yang dipelopori oleh M Natsir, kemudian model negara demokrasi liberal (1980-1990) yang digawangi oleh Nurcholis Madjid. Baru kemudian disusul oleh model negara demokrasi agama yang dipelopori oleh Buya Safi’’i Maarif dan Amien Rais. Kekuatan masyarakat Islam di Indonesia diakui Achmad memiliki power yang cukup besar. “Namun sayangnya, dalam sistem pemilu, yang paling kasat mata, partai politik islam di Indonesia tidak memberi pengaruh signifikan, tak lebih dari 30 persen, meskipun umat Islam jumlahnya mayoritas di Indonesia,” ungkap dosen asli Madura ini        Peggy Puspa, penyaji kedua menyoroti hal identitas Islam dalam kancah politik luar negeri. Sesuai background studinya di Ilmu Hubungan Internasional, Peggy menyampaikan hasil riset yang ia lakukan. Ia menyampaikan sebuah temuan bahwa bagi pemerintah, identitas Islam tidak cukup penting dalam politik luar negeri. “Identitas islam tidak penting dalam politik LN. Indonesia yang  punya mayoritas muslim cukup besar memang membawa dampak pada kedekatan dengan negara-negara muslim, terutama di Timur Tengah yang sedang berkonflik. Namun outputnya pemerintah mengemas dorongan masyarakat muslim tersebut dalam bungkus isu kemanusiaan, dengan tujuan agar Indonesia lebih netral,” jelas Peggy.  Hal ini dilakukan karena Islam di masa saat ini merupakan isu yang cukup challenging saat ini. Isu Islam berada dalam dua posisi, yaitu isu Islamic Phobia dan power masyarakat muslim yang cukup besar.  Namun di sisi lain, wajah Islam yang moderat sebenarnya mulai mendapat momentum saat Obama menjadi presiden Amerika Serikat. Menurut Peggy, terpilihnya Obama menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengenalkan islam model baru yang moderat dan mengikis Islamic Phobia. Hal ini didasari oleh latar belakang Obama yang pernah tinggal di Indonesia, dan pernah bersinggungan dengan masyarakat muslim.               Nurudin, M.Si, Ketua Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) UMM, mengatakan DISKOTIK ini adalah sebuah program untuk mewadahi pemikiran dosen yang dihasilkan dari riset-riset mereka. “Semacam diseminasi riset ala FISIP begitu. Budaya diskusi memang harus digalakkan untuk mengukuhkan marwah akademik kita. Insya Allah DISKOTIK ini akan mengkaji semua bidang kajian sosial politik, tidak menutup kemungkinan juga bisa melibatkan bidang ilmu di luar sospol,” ujarnya. Peluang untuk menggandeng bidang ilmu di luar FISIP ini juga disambut positif oleh Dr.Sulardi, M.H, dosen Fakultas Hukum yang juga pakar hukum tata negara. Melalui Whatsapp Group Info Warta UMM, Sulardi menawarkan bagaimana jika DISKOTIK ini nantinya dikembangkan lintas fakultas. Politik, hukum, filsafat bisa dijadikan dalam satu topik. Respon positif serupa juga dilontarkan oleh M. Khoirul Fuddin, M.E dari Pusat Pengkajian Ekonomi Publik (PPEKP) FEB. Ia mengatakan PPEKP juga siap jika DISKOTIK PKSP akan berkolaborasi topik dengan PPEKP FEB.  (wnd)

Kuliah Marketing Politik Seru, Dosen Undang KPU

 Kamis, 19 September 2019 16:36 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik               Selalu ada hal baru. Layaknya tagline sebuah koran ternama di Indonesia, suasana kelas perkuliahan di FISIP UMM juga punya sejumlah inovasi bermutu. Salah satunya adalah mengundang praktisi untuk langsung berbagi ilmu. Seperti yang dilakukan di kelas Marketing Politik. Kelas yang diperuntukkan untuk mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM, pagi ini (19/9) mengundang Ketua KPUD Kota Malang, Aminah Asminingtyas untuk mengisi kuliah Perubahan Sistem Pemilu dari Pemilu 2014 ke Pemilu 2019.Membuka kuliah, Aas – panggilan Aminah Asminingtyas melakukan “scanning” partisipasi mahasiswa dalam Pemilu 2019. Beberapa mahasiswa mengungkap tidak menggunakan hak pilihnya karena sebagai mahasiswa rantau, hanya diperkenankan memilih wapres saja pada pilihan serentak. Sementara mengurus administrasinya mesti jauh ke Kepanjen.”Jadi sebenarnya ini soal semangat ya. Padahal jika mau dolan (main) atau nemui si dia, meskipun jauuuuuh tetap semangat ya,” seloroh Aas. Aminah Asminingtyas, Ketua KPUD Kota Malang, saat memberikan kuliah            Mengondisikan masyarakat untuk memahami pentingnya pemilu karena suara sah rakyat akan menentukan jumlah kursi di legislatif adalah tugas KPUD yang cukup berat. Aas juga menjelaskan tujuh perbedaan Pemilu 2014 dan Pemilu 2019. Mahasiswa tampak antusias merespon. Ada yang bertanya secara teknis ada pula yang menyampaikan respon evaluatif. “Harapan saya, adik adik ini bisa berkonstribusi minimal di daerahnya. Mencerahkan masyarakat,”ungkap Aas.         Dr. Frida Kusumastuti, M.Si pengampu mata kuliah Marketing Politik mengungkapkan sengaja mengundang pihak KPUD untuk memberi semangat pada mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga akan mendapat informasi akurat dari orang yang tepat. “Harapannya, dengan memahami sistem pemilu, mahasiswa akan bisa menganalisis kedudukan marketing politik dalam sistem demokrasi di Indonesia,” jelas Frida. (frd/wnd)

Dipercaya, DPR RI Lakukan Uji Konsep RUU di FISIP UMM

 Senin, 09 September 2019 15:57 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik           Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sedang menggodok rancangan undang-undang baru yaitu Undang-Undang Tentang Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan ( RUU SPLP). Badan Keahlian DPR RI hari ini melakukan kunjungan ke FISIP UMM untuk melakukan uji konsep RUU SPLP. Uji konsep ini merupakan wujud kepercayaan pimpinan DPR RI pada FISIP UMM. Dalam kegiatan ini, mereka memerlukan masukan dan saran dari akademisi terkait naskah akademik RUU tersebut. Hadir dalam pertemuan di R. 611 FISIP hari ini (9/9/2019), Khopiatuziadah, S.AG, LL.M, selaku ketua tim Pusat Perancangan UU Badan Keahlian DPR RI. Ia didampingi oleh empat tenaga ahli yang tergabung dalam tim tersebut. Suasana uji konsep RUU SPLP         Opi, sapaan akrab Khopiatuziadah mengatakan bahwa tuntutan terhadap DPR RI sebagai lembaga perwakilan agar bergerak dan fokus melakukan reformasi internal untuk menguatkan fungsi legislasi dan fungsi-fungsi lainnya secara optimal memang cukup tinggi. Kekuatan parlemen bukan hanya terletak pada anggota dewan saja. Anggota dewan memerlukan sistem dukungan untuk mengoptimalkan pelaksanaan tiga fungsi dewan, yakni legislasi, pengawasan dan anggaran. Misalnya untuk fungsi legislasi, yakni pembentukan peraturan perundang-undangan, diperlukan perancang undang-undang, perancang peraturan perundang-undangan, dan penelitian, sehingga dibutuhkan peneliti untuk terlibat dalam menjalankan fungsi legislasi. Semua rancangan sistem pendukung itu tersusun dalam naskah akademik RUU SPLP. Khopiatuziadah, S.Ag, LL.M, ketua tim uji konsep sedang memaparkan RUU SPLP          Uji konsep RUU dihadiri sejumlah dosen pakar FISIP UMM dari berbagai bidang keahlian. Pakar ilmu pemerintahan FISIP UMM, Dr.Tri Sulistyaningsih, M.Si berpendapat bahwa RUU SPLB ini memang diperlukan, namun perlu dibuat sekurus mungkin agar tidak overfat  untuk pemerintahan. Ia juga menyarankan agar perekrutan SDM dalam SPLB diterapkan standar seleksi atau standardisasi. “Dewan itu kan organisasi politik, bukan organisasi karir. Oleh karena itu dari sisi perekrutan SDM ini perlu dilakukan standardisasi,”ungkap doktor yang juga asesor BAN-PT ini. Pendapat Tri Sulis melengkapi usulan pakar komunikasi FISIP UMM, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si. Frida juga mengungkapkan betapa pentingnya sertifikasi bagi tenaga ahli yang nantinya menjadi SDM SPLB. Dari sisi konten naskah akademik, pakar sosiologi FISIP UMM, Dr. Wahyudi, M.Si mengkritisi konten naskah akademik yang belum mengakomodasi area komunikasi publik. “Lima area yang diusung dalam RUU SPLB sudah baik, namun ada satu hal yang saya rasa harus ditambahkan yakni area komunikasi publik. Legislatif harus memiliki wadah yang komprehensif untuk menjalankan fungsi ruang-ruang publik di masyarakat. Ada banyak kesalahpahaman di masyarakat tentang image DPR yang belum terselesaikan. Dengan adanya SPLP ini saya harap fungsi komunikasi publik itu semakin kuat,”jelasnya. (wnd)

Tiga Lulusan Terbaik Raih IPK Nyaris Sempurna

 Kamis, 29 Agustus 2019 10:37 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dekan FISIP Dr.Rinikso Kartono,M.Si usai memberikan penghargaan kepada ketiga lulusan terbaik (ki-ka : Latifah, Dekan FISIP, Diah Astriani, Siti Malikatul)         Salah satu indikator menilai kualitas akademik mahasiswa adalah melalui nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Tentu menjadi kebanggan tersediri jika seorang sarjana tak hanya lulus tepat waktu namun juga memiliki nilai IPK memukau. Seperti yang terjadi di gelaran yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) hari ini. Ketiga lulusan terbaik fakultas, memiliki nilai IPK fantastik yaitu 3,95 ; 3,96 dan yang terbaik pertama 3,98.           Ketiga lulusan terbaik diperoleh oleh tiga mahasiswa dari Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Dua mahasiswa dari Prodi Hubungan Internasional yakni Latifah dengan IPK 3,95 meraih predikat terbaik ketiga dan Siti Malikatul Mushowwiroh dengan raihan IPK 3,98 menempati terbaik pertama. Sedangkan satu mahasiswa dari Prodi Sosiologi, Diah Astriani Putri, menyandang gelar terbaik fakultas kedua dengan perolehan IPK 3,96.            Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, wakil dekan II FISIP UMM menyampaikan bahwa ketiga lulusan terbaik di fakultas ini memang layak menandang gelar lulusan terbaik. “Pemberian gelar terbaik sesuai aturan di universitas memang didasarkan pada perolehan IPK dan indeks studi atau masa studi. Namun Alhamdulillah, ketiga lulusan terbaik ini bukan sekedar mahasiswa yang pintar karena cerdas akademis saja namun juga aktif di organisasi,” tutur doktor kelahiran Blitar ini. Kecerdasan akademik yang dilengkapi dengan kecerdasan emosi dan sosial bisa diperoleh melalui berbagai pengalaman, salah satunya pengalaman organisasi. Seorang jurnalis sains, Daniel Goleman, pernah menuliskan kecerdasan emosi adalah salah satu kecerdasan manusia yang menjadi faktor penting mempengaruhi prestasi seseorang.                 Pada hari ini, Kamis (29/8), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik resmi meluluskan 286 calon wisudawan. Selain mengadakan sejumlah prosesi akademik, orasi ilmiah juga disampaikan oleh salah satu dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Hutri Agustino, M.Si. Dosen yang juga insiator Sekolah Literasi di Malang Raya ini menyampaikan orasi yang berjudul Gerakan Pemberdayaan Masyarakat berbasis Komunitas di Era Globalisasi. Ia mengatakan bahwa di era sekarang, masyarakat harus jeli mengamati sejumlah perubahan sosial, apakah akan terjebak di fase gombalisasi (doing nothing) atau mampu mengasah diri menuju tahapan globalisasi yang meliputi integrasi, interkoneksi dan kemandirian. (wnd)

FISIP Gelar Pengajian dan Pelepasan Haji

 Kamis, 11 Juli 2019 11:16 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik GAYENG: Ahmad Fatoni, Lc.,M.Ag memberikan tausyiah pada pengajian rutin FISIP      Haji adalah sebuah ibadah yang harus disegerakan. Seperti yang ternukil dalam QS Al Imran ayat 97, dikatakan bahwa  mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dalam hadist riwayat Ahmad juga dipertegas oleh Rasulullah SAW yang bersabda, “Bersegeralah berhaji -yakni haji yang wajib-, sebab sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apa yang akan menimpa kepadanya” [Hadits Riwayat Ahmad dan lainnya]. Hari ini Kamis (11//7) FISIP menggelar pengajian rutin yang menghadirkan Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag, dosen Fakultas Agama Islam UMM. Pengajian rutin ini berbarengan dengan moment pelepasan haji Dr. Rinikso Kartono, M.Si, Dekan FISIP UMM. “Sudah lama anggota keluarga FISIP belum mendapat panggilan haji ke Baitullah. Alhamdulillah tahun ini ada keluarga FISIP UMM yang mendapat panggilan ke Baitullah, dan kebetulan dekan kita sendiri. Semoga tahun-tahun berikutnya semakin banyak anggota keluarga FISIP yang berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji,” ujar Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, Wakil Dekan II FISIP UMM.         Ahmad Fatoni mengatakan siapa yang haji karena Allah, ikhlas, tanpa berbuat keji dan kefasiqan, tanpa riya’, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya dan balasannya adalah surga. Haji juga akan menghapuskan kesalahan dan dosa-dosa, untuk itulah ibadah haji adalah upaya yang harus diupayakan, “Kita harus berusaha keras untuk mampu, selain mengeraskan niat juga menabung. Jangan nunggu tua, sebab kalau sudah tua akan banyak yang ikut, ya penyakitnya, ya keluhan-keluhan lainnya. Sebaiknya haji di usia muda, sebab jika sudah selesai berhaji ia bisa melakukan perubahan-perubahan sosial,”ungkapnya lugas. PENUH : Civitas akademika FISIP UMM antusias mengikuti pengajian             Ada banyak keutamaan dalam ibadah haji. Salah satunya adalah ganjaran pahala yang diperoleh ketika sholat di Masjidil Haram. Ustadz Fatoni menyitir hadist nabi yang menyebutkan bahawa sholat di Masjidil Haram 100 ribu kali dibandingkan sholat di masjid-masjid lain.  Seperti sabda Rasulullah dalam HR Ahmad dan Ibnu Majah yang menyebutkan bahwa shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya. Pahala sholat  yang diperoleh bahkan bisa melampaui batas usia  jika dibandingkan dengan pahala sholat yang dijalankan diluar kedua masjid tersebut.               Banyaknya keutamaan ibadah haji ini tentu logis jika dijadikan motivasi mengapa ibadah ini harus diperjuangkan dengan keras. “ Sebenarnya panggilan haji itu sudah diberikan secara resmi pada diri setiap manusia sejak di alam arwah, jauh sebelum dilahirkan. Tinggal kita serius apa tidak menjawab panggilan haji itu dengan proses yang diusahakan dengan keras,”tutur ustadz Fatoni. (wnd)

FISIP LULUSKAN 120 CALON WISUDAWAN

Jum’at, 15 Februari 2019 12:33 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik       Gelaran yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) periode I 2018/2019 sukses diadakan pada 12 Februari 2019 lalu, di Aula BAU. Kali ini FISIP berhasil meluluskan 120 lulusan yang berasal dari lima prodi, yakni prodi Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Sosiologi, Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Yudisium ini adalah gelaran yudisium periode pertama di tahun 2019 ini.          Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono, dalam sambutannya di depan para peserta yudisium mengatakan bahwa tantangan lulusan perguruan tinggi saat ini adalah menghadapi revolusi 5.0. “Tantangan alumni adalah bagaimana menghadapi revolusi industri yang kini memasuki era 5.0. Tidak hanya harus peka terhadap perkembangan teknologi, namun juga harus menguatkan relasi sosial dan spiritual,” ungkap doktor peraih IPK sempurna ini. Doktor alumni Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa saat ini para lulusan ditantang untuk menjadi manusia yang peka terhadap perkembangan zaman. Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono,M.Si bersama para lulusan terbaik fakultas           Ada yang menarik dari gelaran yudisium kali ini. Yesinia Fitria Oktavianasari, calon wisudawan dar Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial berhasil menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,32. Meski IPK nya tidak cumlaude, namun lulusan IKS ini adalah lulusan tercepat di fakultas sebab memiliki indeks yang lebih tinggi dibanding lulusan terbaik dari prodi lain. Yesinia adalah mahasiswa angkatan 2015, yang artinya ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya tak lebih dari 3 tahun 4 bulan. Yesinia berhasil menggeser posisi Julia Christiana Anggraini dari prodi HI, meski IPK Julia mencapai 3,92. Posisi ketiga lulusan terbaik diperoleh oleh Maharadis Juanda, dari prodi HI, dengan perolehan IPK 3,89. Julia dan Maharadis adalah calon wisudawan dari angkatan 2014.          Calon wisudawan sejumlah 120 orang tersebut terdiri dari 6 lulusan dari prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, 51 lulusan dari rodi Ilmu Komunikasi, 25 lulusan dari Ilmu Pemerintahan, 36 lulusan dari prodi Hubungan Internasional dan 2 orang lulusan dari prodi Sosiologi. Para calon wisudawan ini nantinya akan mengikuti wisuda yang akan diadakan 24 Februari mendatang. (wnd)

Gelar Kuliah KWU, FISIP Motivasi Mahasiswa Kuatkan Mental Wirausaha

Selasa, 29 Januari 2019 16:08 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono,M.Si memotivasi mahasiswa melalui materi Entrepreneur Overview pada Kuliah KWU (photo by:zen)      Sebagai upaya mendukung program universitas untuk menguatkan skill mahasiswa berkaitan dengan pencapaian karir dan kewirausahaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM gelar Kuliah Umum Karir dan Kewirausahaan (KWU). Sekitar 300 calon wisudawan dan mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi mengikuti kuliah umum yang digelar pada hari Selasa, 29-31 Januari 2019 di aula BAU. Kuliah umum yang bertema Creative Mindset For Innovative Young Entrepreneur ini menghadirkan sejumlah pembicara dari dosen-dosen FISIP dan mahasiswa pelaku usaha. Beberapa dosen yang memiliki pengalaman wirausaha, juga berkesempatan untuk sharing pengalaman bisnis melalui materi business plan.         Wakil Dekan III FISIP, Zen Amirudin, M.MedKom selaku penanggungjawab kuliah KWU mengatakan selain wajib mengikuti kuliah umum, para peserta juga wajib mengikuti perkuliahan klasikal, alias kuliah KWU di kelas dengan didampingi oleh dua orang dosen pendamping. “Di perkuliahan di kelas itu, peserta dikelompokkan dalam tim-tim kecil, mereka akan memperoleh sharing knowledge yang lebih detail terkait KWU. Dalam tim-tim kecil tersebut mereka juga wajib untuk menyusun proposal business plan dengan didampingi oleh dosen pendamping,”ungkap dosen yang mengajar di Prodi Ilmu Komunikasi ini.        Sejumlah materi yang diberikan pada peserta kuliah KWU meliputi dua bidang yaitu bidang karir dan bidang kewirausahaan. Materi entrepreneur, manajemen diri, manajemen karir, business plan dan yang berkaitan dengan job application adalah beberapa materi yang diterima oleh para peserta. M. Syaprin Zahidi, MA, salah satu pemateri business plan berbagi pengalaman berkaitan dengan pendirian usaha. Kebetulan ketua prodi Hubungan Internasional tersebut memiliki bisnis Sysgoodstore, online store pakaian bayi yang ia kelola bersama istrinya.     Produk akhir dari kuliah KWU ini nantinya fakultas akan menggelar entrepreneur day dan business summit yang rencananya akan digelar pada saat gelar wisuda, akhir Februari nanti. Sejumlah produk KWU dari kelompok-kelompok terbaik akan dipamerkan saat gelar wisuda. Selain menjadi penghargaan tersendiri bagi peserta terpilih, entrepreneur day dan business summit ini diharapkan juga mampu meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa untuk serius membangun wirausaha. (wnd)