Pilihan Kata Jadi Problem Pemberitaan Perempuan dan Anak

Selasa, 08 Desember 2020 21:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pemberitaan kasus prostitusi online yang menimpa sejumlah artis, ternyata cenderung tidak ramah perempuan. Hal ini memantik keprihatinan dua dosen FISIP UMM. Tak hanya pemberitaan kasus prostitusi online, berita-berita kasus perkosaan juga acapkali menyudutkan perempuan. Selain itu berita tentang kaum difabel juga masih belum proporsional. Pelabelan dan gambaran tentang difabel perlu dikoreksi. Oleh karena itulah, pada Minggu (6/12), dua dosen FISIP, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si dan Winda Hardyanti, S.Sos, M.Si, mengadakan pelatihan produksi karya jurnalistik yang bertajuk Jurnalisme Ramah Perempuan dan Anak Berkebutuhan Khusus bagi reporter kampus melalui platform zoom meeting. Sebanyak 15 reporter kampus dari berbagai media berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Acara tersebut dilaksanakan sebagai bentuk edukasi dalam membangun perspektif yang tepat, khususnya dalam memberitakan perempuan dan kaum difabilitas. Frida Kusumastuti (kiri) dan WInda Hardyanti saat memaparkan materi pada pelatihan untuk para reporter kampus (foto: wnd) Frida Kusumastuti, doktor yang meneliti difabilitas dari perspektif sosial ini, memaparkan cara pandang pada kaum difabel perlu diubah, “Misalnya, penggunaan istilah disabilitas. Padahal disabilitas berasal dari kata disable, yang artinya tidak mampu. Berbeda jika menggunakan istilah difable, different abilities, yang artinya berbeda kemampuan. Dengan demikian, difabel itu ya punya kemampuan, bukan tidak punya kemampuan,”jelas Frida. Sebagai jurnalis milenial, para reporter kampus diharapkan bisa memperjuangkan hak-hak kaum difabel. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni dengan mengganti istilah disabilitas menjadi difabilitas. “Harapannya, hal itu bisa membiasakan atau membangun masyarakat yang inklusif. Masyarakat yang menghargai perbedaan. Disamping itu juga membangun rasa percaya diri kaum difabel.” ujar dosen Ilmu Komunikasi UMM itu. Di bagian yang lain Frida mengenalkan model sosial dan model medis dalam melihat wacana difabilitas. Pelatihan jurnalistik ramah perempuan dan anak untuk para reporter kampus (foto: wnd) Winda Hardyanti, pemateri kedua menuturkan, permasalahan istilah dan pemilihan diksi juga menjadi problem dalam pemberitaan terkait perempuan. Ia mengatakan pentingnya jurnalis memahami komunikasi gender. Bentuk kekerasan gender di media yang masih sering terjadi diantaranya adalah stereotype, marginalisasi, dan subordinasi. Salah satu solusi untuk menggalakkan jurnalisme berperspektif gender dengan melakukan jurnalisme advokasi. Cara untuk memulainya dengan menanamkan tiga hal. Pertama, berpegang teguh pada prinsip kesetaran gender. Kedua, berpihak pada kebenaran. Ketiga, tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik. Pilihan diksi yang dipilih juga harus tepat agar pemberitaan yang dibuat tidak malah menggiring pembaca pada stereotype yang justru merugikan perempuan. Contohnya, hindari istilah korban, dan diganti dengan penyintas. “Dalam menulis berita, pentingnya cover both side. Ketika menulis tentang sisi korban, maka harus diimbangi dengan sisi pelaku dan hindari mengekspos kehidupan pribadi korban perkosaan secara berlebihan. Fokus pada kasus dan penanganannya,” ujar dosen Ilmu Komunikasi yang juga mantan jurnalis itu. Ika, salah satu peserta menanyakan bagaimana cara untuk menyeimbangkan antara pasar media dengan value berita. Sebab, sudah jamak diketahui, bahwa pasar lebih senang berita yang click bait. Winda mengatakan kondisi tersebut memang cukup sulit karena berhadapan dengan kepentingan politik ekonomi media. Namun sebagai jurnalis, prinsip utama yang harus dipegang adalah cover both sides dalam memberitakan kasus-kasus yang berkaitan dengan gender. Kemudian, yang perlu menjadi catatan, berita yang disajikan juga harus menghindari atribusi fisik dan pembahasan di luar isi berita. “Selain itu dalam menulis berita, kita perlu mendudukkan narasumber sesuai dengan porsinya. Semisal ketika perempuan sebagai penyintas perkosaan ya ditempatkan sebagai korban tanpa harus menyalahkan bajunya yang ketat atau karena pulang malam. Sebab dalam perspektif komunikasi gender, perkosaan terjadi karena niat pelaku, bukan semata karena stimulus pakaian perempuan,”ujarnya. (des/wnd/frd)
Tim Pengabdian FISIP Latih Anak Panti Menulis Esai

Senin, 07 Desember 2020 00:42 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Tim Pengabdian FISIP UMM pada melakukan serah terima buku kompilasi esai kepada para penulis yang dilaksanakan pada Jumat 26 November 2020 diselenggarakan di LKSA Aisyiyah DAU. Buku ini merupakan hasil pelatihan menulis yang diadakan oleh tim pengabdian FISIP UMM yang diketuai oleh Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. Amir Rifa’i, M.Pd.i. – Pengasuh LKSA Aisyiyah DAU yang sekaligus dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan UMM, turut hadir dalam penyerahan buku hasil pelatihan tersebut. Buku yang dicetak oleh Ismaya Publishing setebal 67 halaman ini terdiri dari 21 judul esai yang ditulis oleh perseorangan maupun tim. Para peserta memamerkan buku hasil kompilasi dari pelatihan menulis (foto:ist) Karena merupakan buku kompilasi, komposisi latar belakang pendidikan para penulis pun sangat variatif. Empat orang masih duduk di tingkat SMP, 12 orang berstatus pelajar SMA, dan lima lainnya sedang menempuh jenjang perguruan tinggi. Hebatnya, sebanyak 19 orang penulis adalah perempuan dan satu diantaranya masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Pelatihan menulis esai kreatif untuk anak asuh LKSA Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Malang Raya bertujuan untuk meningkatan potensi dan kreativitas anak asuh pada bidang sastra. Tim pengusul yang terdiri dari Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Demeiati Nur Kusumaningrum, M.A. dan Dion Maulana Prasetya, M.Hub.Int. berupaya mensinergikan visi misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait gerakan literasi di Indonesia. Hal ini menjadi amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi dimana para akademisi berkontribusi kepada masyarakat melalui kapasitas keilmuan yang dimiliki. Kegiatan menulis esai ini diawali dengan pelatihan dan pendampingan selama satu tahun lebih untuk mengasah bakat dan meningkatkan kemampuan menulis. Para peserta secara intensif diberikan kesempatan untuk mengembangkan gagasan, ide, wawasan, dan kepercayaan diri melalui karya tulis sederhana. Selain itu, “Buku kompilasi esai yang menjadi proyek bersama ini diharapkan memberikan kebanggaan, motivasi berkelanjutan, dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kompetensi di masa yang akan datang,” kata Demeiati Nur Kusumaningrum, M.A, perwakilan tim yang hadir pada penyerahan buku tersebut. Demeiati NK, M.A, perwakilan tim menyerahkan buku secara simbolis (foto:ist) Total ada 23 penulis yang lolos hasil seleksi yaitu tiga orang dari PPAM Al Amin Kepanjen, dua orang dari LKSA Aisyiyah Riverside DAU, empat orang dari LKSA Putra Ulil Absar dan yang terbanyak dari LKSA Aisyiyah DAU sebanyak 14 orang. Genre yang dipilih oleh para penulis sangat beragam, mulai dari kehidupan remaja, kritik sosial, maupun pengetahuan umum. Didukung oleh anggota tim teknis, tim pelaksana membagikan buku dan bingkisan kepada para penulis yang diakhiri dengan sesi foto bersama. Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pertama kali pada Jumat 19 April 2019 bertempat di Lab. Kesejahteraan Sosial, Masjid AR. Fachrudin lt. 1 UMM ini mengundang seluruh Panti Muhammadiyah-Aisyiyah di Malang Raya. Sugeng WInarno, kolumnis yang juga dosen Prodi Ilmu Komunikasi didapuk menjadi pelatih pada pelatihan menulis tersebut. Dari poster yang disosialisasikan kepada 12 LKSA di Malang Raya, akhirnya ada lima panti asuhan yang mendaftar mengikuti pelatihan ini. Sayangnya, dari pendaftaran awal delegasi LKSA, terdapat lima orang perwakilan berhalangan hadir ketika hari pelaksanaan pelatihan. Dari hasil praktik penulisan, keempat kelompok memilih menulis esai. Tiga kelompok yang berasal dari LKSA Al Amin, Riverside, dan Al Falah sudah mampu mengembangkan kerangka karangan menjadi bentuk artikel opini sederhana. Sedangkan tim yang berasal dari LKSA Ulil Absor, masih berproses sampai membuat kerangka karangan. Meski memiliki progress yang berbeda-beda, namun semua peserta mampu menyelesaikan tulisannya dengan baik. Sebagai contoh naskah milik Siti Rofiqoh, Anggun Ria Maghfiroh, dan Winda Setyawati dari PPAM Al-Amin ketika pelatihan tertarik menulis tentang esai “Tangan Kiri itu Juga Baik”. Siti dkk masih belum mampu merangkai sebuah paragraf yang utuh. Sebuah paragraf setidaknya terdapat gagasan utama dan beberapa kalimat pendukung, namun pada naskah Siti dkk paragraf kedua hanya terdiri dari satu kalimat. Paragraf ketiga pun terdiri dari poin-poin yang belum menunjukkan gagasan yang utuh. Menjadi hal yang patut diapresiasi, melalui pendampingan justru Siti Rofiqoh mampu menambah satu judul esai baru yaitu “Stop Kekerasan Anak Dalam Bingkai Islami”. Dalam naskah hasil goresannya, tampak bahwa Siti dapat membangun jalan cerita yang lebih naratif dan menyusun paragraf yang menggambarkan keterkaitan gagasan utama dan kalimat-kalimat pendukungnya. Berdasarkan hasil pelatihan dan pendampingan, tim mengevaluasi perkembangan kemampuan menulis para peserta. Sejumlah sepuluh peserta menuliskan judul baru untuk karangannya. Topik esai pada saat pelatihan cenderung ditinggalkan. Sebanyak 50% peserta lebih memilih untuk menyusun format baru berbentuk puisi, 40% berbentuk cerpen, dan 10% berupa artikel opini. Berdasarkan analisis konten karya, sebesar 50% mampu menyelesaikan tulisannya dan 50% sisanya masih perlu perbaikan dan penyempurnaan. Meskipun demikian, proses pelatihan yang berjalan dalam tiga kali kegiatan ini mampu menghasilkan karya yang menginspirasi dan memotivasi semangat para anak panti. (DNK/wnd).
Dosen FISIP Latih Guru Muhammadiyah Terbitkan Buku Gratis

Minggu, 06 Desember 2020 08:48 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi sebuah keniscayaan kehadirannya. Ia tidak bisa dilawan tetapi hanya bisa disiasati. Salah satu yang terkena dampak tidak ringan adalah Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah. Perubahan drastis akhirnya dipilih karena pandemi covid-19. Pembelajaran daring yang dipilih ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan dan sesuai target kurikulum. Melihat kenyataan tersebut, 3 (tiga) dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Widiya Yutanti, Nurudin dan Muhammad Kamil, terpanggil untuk memberikan pelatihan menulis buku bagi guru sekolah Muhammadiyah di Malang Raya. Pelatihan atas kerjasama UMM dengan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabuaten Malang ini diadakan secara daring (5/12). Hasil pelatihan menulis ini adalah membuat artikel pengalaman guru mengajar era pandemi dan akan dibukukan. Sekitar 31 guru dari 9 sekolah Muhammadiyah di Malang Raya yang tergabung dalam program ini. Suasana pelatihan daring membuat buku pengalaman selama pandemi Untuk memotivasi peserta, didatangkan pembibara dari dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi. Fajar dikenal sebagai dosen yang berpengalaman dalam mengawal dan memotivasi guru sekolah dalam menulis buku. Dalam kesempatan pelatihan daring itu, Fajar menekankan bahwa menulis menjadi pilihan penting bagi guru era pandemi ini. Tiadanya waktu dihabiskan di kelas membuat mereka tertantang untuk kreatif. “Kita tidak usah serius-serius menulis. Menulis pengalaman saja saat pembelajaran daring. Semua guru tentu punya pengalaman. Pengalaman itu tentu berguna bagi orang lain, “tegas dosen teladan UMY dan penyuka sepak bola tersebut. Widiya Yutanti, ketua tim pengabdian saat memberikan pemaparan Fajar juga memberikan kiat menulis sampai diterbitkan dengan memberikan modul bagaimana menulis yang bisa menjadi sebuah buku. Menulis sebuah tradisi yang harus diberikan teladan oleh para guru. Menurutnya, karena setiap hari guru bergelut di bidang ilmu dan tulisan. Ia akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. “Sekolah sebagai amal usaha Muhammadiyah layak memberikan contoh kongkrit. Kita tak lagi hanya mengandalkan omongan. Tetapi saatnya menulis. Ini tradisi yang harus dilestarikan, “pungkasnya. Dalam kesempatan itu diberikan pula penjelasan teknis dari tim pengabdian masyarakat UMM. Pengabdian dengan tema “Pelatihan dan Penulisan Buku Bagi Guru Sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya” mengambil langkah kongkrit dengan melatih guru-guru menulis karena menyadari betapa pentingnya dunia literasi. Semua guru dilatih dengan gratis, mendapat sertifikat dan mendapat buku gratis serta semua naskah layak terbit. “Sudah banyak kegiatan pengabdian yang cenderung memberikan bantuan dana, tetapi memberikan pelatihan ketrampilan yang berguna bagi masyarakat dengan menulis jarang dilakukan. Untuk itu kami terpanggil melakukannya. Hasil buku tidak saja membanggakan para guru tetapi juga sekolah Muhammadiyah tempat para guru mengajar. Ini akan menjadi branding penting pula bagi sekolah,“ujar Widiya Yutanti, koordinator pengabdian dan Sekretaris ProdI Ilmu Komunikasi UMM ini dengan bangga.
FISIP UMM Luluskan 123 Calon Wisudawan di Periode IV

Rabu, 02 Desember 2020 12:10 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP UMM hari ini menggelar yudisium periode IV yang digelar secara daring melalui akun zoom. Selain melalui zoom, kegiatan yudisium hari ini juga bisa disimak tayangan live streamingnya melalui official account Youtube FISIP UMM. Di periode terakhir tahun 2020 ini, FISIP meluluskan 123 calon wisudawan. Rinciannya terdiri dari 18 calon wisudawan dari Prodi Kesos, dari Prodi Ikom sebanyak 41 calon wisudawan, 20 calon wisudawan prodi Ilmu Pemerintahan, 28 calon wisudawan dari Prodi Sosiologi dan sebanyak 16 calon wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional. Dekanat dan jajarannya menghadiri pelaksanaa yudisium periode IV yang digelar secara online (foto: PIC humas) Meskipun digelar secara daring, namun semua peserta yudisium tetap antusias mengikuti jalannya pelaksanaan yudisium hingga akhir. Tidak sendirian, sejumlah peserta juga tampak didampingi oleh orang tuanya saat mengikuti prosesi yudisium kali ini. Raut bangga dan lega tergambar jelas dari wajah para orang tua. Salah satunya adalah Bagus Nugroho, peserta yudisium yang berkesempatan didampingi langsung oleh kedua orang tuanya. “Saya senang dan lega sudah menyelesaikan proses studi di FISIP UMM. Alhamdulillah, orang tua juga bangga dan bersyukur sekali,”ungkap calon wisudawan dari Prodi Ilmu Pemerintahan ini. Ekspresi bahagia: para orangtua terlihat mendampingi prosesi yudisium putra-putrinya (foto: PIC humas) Dekan FISIP UMM, Dr Rinikso Kartono, M.Si dalam sambutannya juga mengatakan agar semua calon wisudawan tetap semangat dan berbakti pada orang tua. “Saya doakan semoga seluruh calon wisudawan dapat meniti karir yang berkah. Pesan saya jangan sampai masa sulit ini menghalangi optimisme di masa depan. Lakukan apa yang bisa dilakukan setelah lulus, kita semua harus berkreasi tidak boleh diam. Tetap hormati kedua orang tua karena berkat doa-doa mereka, kalian bisa meraih gelar yang anda cita-citakan hari ini,”ungkap dekan FISIP. “Terimakasih atas kepercayaan bapak ibu karena sudah menitipkan putra-putri bapak ibu kepada kami, FISIP UMM. Hari ini saya kembalikan putra-putri bapak ibu dengan harapan semoga ilmu yang sudah diterima bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Meskipun demikian, sampai kapan pun, bapak ibu dan alumni tetap menjadi keluarga besar FISIP UMM,”imbuhnya. Dalam gelaran yudisium kali ini, lulusan terbaik tingkat fakultas diraih oleh dua mahasiswa prodi Kesejahteraan Sosial dan satu mahasiswa prodi Hubungan Internasional. Terbaik pertama diraih oleh Tri Utami Patminingtyas dengan perolehan IPK 3,90. Terbaik kedua disandang oleh Eva Ermylina dengan IPK 3,89 dan terbaik ketiga diraih oleh Revitha Ayu Andini dengan IPK 3,86. Tri Utami dan Revitha adalah calon wisudawan dari Prodi Kesejahteraan Sosial, sedangkan Eva Ermylina dari Prodi Hubungan Internasional. Selamat untuk para lulusan terbaik fakultas (ki-ka: terbaik ketiga Revitha, terbaik kedua Eva, Dekan FISIP, dan terbaik pertama Tri Utami) (foto :PIC Humas) Eva Ermylina, lulusan terbaik kedua, dalam kesan pesan calon wisudawan mengatakan bahwa ia bangga bisa menyelesaikan pendidikannya di FISIP UMM. Ia merasa tidak sia-sia jauh-jauh terbang dari pedalaman Kalimantan Timur, karena berkuliah di FISIP UMM telah memberinya banyak kesempatan. “Salah satunya adalah kesempatan untuk mewakili kegiatan interculutural friendship di Malaysia 2018 dan internship program di konsulat Jedah Saudi Arabia. Tentu semua ini berkat dukungan dari FISIP UMM. Terimakasih banyak FISIP. Untuk teman-temanku, meskipun kali ini kondisi wabah masih memprihatinkan, tapi setidaknya hari ini kita telah memenangkan pertarungan dalam studi kali ini. Selamat untuk kita semua,”ucapnya.(wnd)
Hasil Survey FISIP pada Pra Pilkada Kabupaten Malang, Paslon Nomor Satu Unggul di Semua Faktor

Selasa, 01 Desember 2020 14:31 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dalam demokrasi, Pemiihan Kepala Daerah atau Pilkada merupakan salah satu bentuk demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi serta diprediksi baik dalam proses maupun hasilnya. Proses mengukur, mengkalkuasi serta memprediksi proses tersebut bisa dilakukan melalui metode survey. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dan kontribusi akademisi pada demokrasi yang transparan di Kabupaten Malang, FISIP UMM mengadakan survey opini publik pra pilkada. Survey ini melibatkan 600 responden yang berasal dari sejumlah sebaran kriteria. Survey dilakukan selama lima hari yaitu pada 15-20 November 2020. Ruli Inayah Romadhoan, M.SI, ketua Lembaga Survey FISIP UMM (foto: ist) Ruli Inayah Romadhoan, M.Si, ketua tim FISIP dalam Survey Opini Publik Pra Pilkada ini mengatakan ada sejumlah temuan menarik yang didapatkan dari hasil pra survey ini. Penilaian publik terhadap kinerja Bupati Malang menunjukkan trend positif, yakni sebesar 77,5% responden memberikan respon positif. Hal ini tentu menjadi keunggulan dan kekuatan politik bagi paslon incumbent Sanusi- Didik. “Temuan survey ini memperlihatkan bahwa kinerja bupati dalam membangun kerukunan umat beragama, peningkatan layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas layanan publik diakui keberhasilannya dan diapresiasi oleh publik. Namun di sisi lain, ada PR sekaligus catatan evaluasi untuk pemkab Malang dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat, menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, juga dalam hal penyediaan bantuan modal dan kredit usaha rakyat,”ungkap Ruli. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pasangan calon dalam Pilkada. Faktor tersebut diantaranya adalah tingkat popularitas, kapabiltas, akseptabilitas dan elektabilitas. Survey menyebutkan dari keempat faktor tersebut, pasangan calon no 1 Sanusi-Didik Gatot memiliki keunggulan yang cukup signifikan dibandingkan dua pasangan calon lainnya. Data riset menyebut tingkat popularitas paling tinggi diraih oleh pasangan calon nomer 1 (84,5%), bersaing tipis di bawahnya paslon nomor 2 (72,2%) dan paslon independen di posisi terakhir dengan perolehan data sebanyak 40%. Tingkat penerimaan publik juga didominasi oleh paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 2. Calon Bupati Malang Drs. H Sanusi dan Dra.Hj Lathifah Shohib (foto:timesindonesia.com) Sedangkan dilihat dari tingkat elektabilitas calon bupati pilihan publik berdasarkan pertanyaan terbuka (top of mind) dan pertanyaan simulasi, ada dua nama yang muncul dengan urutan teratas, yakni Drs. H Sanusi, MM sebanyak 46,33% dan Dra. Hj. Latifah Shohib sebanyak 29,17%. Untuk wakil bupati, elektabilitas tertinggi diperoleh oleh Didik Gatot dengan perolehan angka sebesar 42,5%. Dalam butir pertanyaan pilihan terkait pasangan bupati dan wakil bupati pilihan publik juga menunjukkan bahwa paslon Sanusi-Didik Gatot menempati posisi tertinggi dengan prosentase 52,43%, disusul oleh paslon Latifah-Didik Budi sebesar 33,67%. Paslon independen masih menempati posisi di bawah 10%. Namun ada satu hal yang menarik dalam temuan penelitian ini. Meskipun aspirasi publik menunjukkan kecenderungan pada paslon nomor satu, isu kepemimpinan berbasis gender ternyata menjadi satu poin yang perlu menjadi catatan penting bagi para pasangan calon. Sebanyak 53,17 % responden ternyata setuju jika Kabupaten Malang dipimpin oleh perempuan. “Oleh sebab itu saya rasa penting untuk diperhatikan terkait isu-isu perempuan dan pelibatan perempuan dalam kampanye maupun program kerja. Mengingat isu kemimpinan berbasis gender masih menjadi poin penting yang diperhatikan oleh masyarakat Kabupaten Malang,”ungkap Zen Amirudin, M.Med.Kom, pakar komunikasi politik FISIP UMM. Hasil survey yang menunjukkan tingkat partisipasi politik masyarakat di Malang terbilang tinggi juga menjadi angin segar bagi perkembangan dunia politik lokal di Kabupaten Malang. Sebanyak 92 % dari total responden memastikan akan memberikan suaranya pada hari pemilihan. Sebanyak 80,9% responden juga telah mengetahui akan ada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa tingkat politic literacy di masyarakat Kabupaten Malang cukup baik. (wnd)
Tim FISIP Juarai Lomba Digital Campain Tingkat Nasional

Rabu, 25 November 2020 07:37 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi tak menghalangi mahasiswa untuk kreatif berprestasi.Satu lagi prestasi diraih oleh mahasiswa FISIP UMM. Tim mahasiswa dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM yang menamai diri sebagai Jamet Group ini berhasil menjuarai Creative Advertising Competition untuk cabang lomba Digital Campaign dalam rangka Advertising Week Festival 2020. Lomba Digital Campaiagn tersebut digelar oleh Prodi Periklanan Kreatif Vokasi Universitas Indonesia pada 1-14 November 2020 lalu. Menariknya lomba periklanan ini digelar secara daring. Para peserta cukup mengirimkan hasil karyanya sesuai brief yang sudah ditentukan. Cuplikan video iklan yang dibuat oleh Jamet Group, tim mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih juara 2 dalam lomba digital campign di UI Tim Jamet Group yang digawangi oleh Dizar, Ramadhan, Almira dan Rosihan Anwar ini berhasil membawa pulang juara kedua dalam kompetisi tersebut. Menyelesaikan brief dalam waktu dua minggu saja, tim berhasil membuat pitch deck dan postingan instagram yang mereka kemas ke dalam bentuk video iklan, video tiktok, creative design, dan sejumlah desain fun fact. “Sebenarnya ada dua brief yang ditawarkan, yang pertama adalah brief untuk meningkatkan awareness usee tv dan yang kedua meningkatkan brand loyalty indihome. Akhirnya kami memilih mengeksekusi brief usee tv,”ujar Ramadhan. Hasil eksekusi brief lomba digital campaign yang dibuat oleh tim mahasiswa Ikom Ada sejumlah pengalaman menarik ketika mengikuti lomba ini. Ramadhan mengisahkan timnya tidak memiliki basic skill audio visual. Sehingga ketika proses syuting berlangsung mereka harus meminta bantuan teman sejurusan yang menekuni konsentrasi audio visual untuk membantu proses syutingnya. “Pada syuting itu, sesuai desain ide yang kami buat, saya harus rela disemprot air sambil ngangkat jemuran dan menari-nari ala India untuk menimbulkan kesan yang lucu. Kami tidak punya basic skill audio visual sama sekali, kecuali dulu pernah belajar sedikit di mata kuliah dasar-dasar audio visual dan dasar syuting. Kami pun minta tolong teman yang mengambil konsentrasi audio visual untuk membantu teknis syuting video iklannya,”jelas Ramadhan. Pengumuman pemenang lomba secara daring Selain itu menurut Ramadhan, tantangan mengikuti lomba ini diakuinya cukup besar. Sebab kompetitornya adalah dari sejumlah kampus yang memiliki prodi periklanan secara spesifik. Namun berkat bimbingan dari dosen Ilmu Komunikasi, M.Fuad Nasvian, M.Ikom yang mendampingi tim mereka, Ramadhan dkk melenggang cukup percaya diri. “Memperoleh juara dua ini benar-benar di luar prediksi kami, kompetitornya keren-keren. Jadi menang lomba ini sangat terasa pengalaman dan dapat insight ilmunya. Kami tidak terlalu fokus sama juara dan hadiahnya, dapat pengalaman dan ilmunya itu sangat berharga,”imbuhnya. Atas keberhasilan meraih juara kedua, Ramadhan dkk memperoleh hadiah uang tunai senilai 1, 5 juta rupiah. Selamat! (wnd)
Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan

Selasa, 24 November 2020 17:24 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prestasi membanggakan juga diraih oleh dosen FISIP yang satu ini. Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor. Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. . Arfan Adhi Pradana, dosen Ikom FISIP saat berakting sebagai Pak Guru Ahmad di film pendek Bumi. Ia diganjar sebagai Best Actor di ISFF 2020 (foto: ist) Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Baca juga : Kaya Portofolio, Dosen FISIP Ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual. “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Proses syuting film Bumi oleh Tim Meraki Visual (foto: ist) Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Berhasil meraih gelar Best Director dan Most Views Movie (foto: ist) Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,”ungkapnya sambil tertawa. Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual. Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. ‘’Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,”tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. Selamat untuk Pak Ahmad alias Pak Arfan Adhi dan Tim Meraki Visual! (wnd)
Kaya Portofolio, Dosen FISIP ini Raih Beasiswa Sertifikasi Praktisi Film Dokumenter

Selasa, 24 November 2020 17:16 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rangkaian prestasi demi prestasi tak hanya ditorehkan oleh mahasiswa, namun dosen-dosen di FISIP UMM pun ternyata memiliki segudang prestasi. Salah satu prestasi membanggakan baru saja diraih oleh dosen FISIP Novin Farid Styo Wibowo, M.Si. Novin yang merupakan dosen Prodi llmu Komunikasi FISIP UMM ini berhasil memperoleh beasiswa sertifikasi film khusus praktisi film documenter dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI . Beasiswa ini bukan sembarang beasiswa, karena untuk mendapatkan beasiswa sertifikasi ini calon peserta harus memiliki sejumlah karya film documenter. Novin Farid Styo Wibowo, M.Si (berkalung kuning) saat mengikuti sertifikasi praktisi film dokumenter di The Sunan Hotel, Solo (foto: ist) Novin Farid, kepala laboratorium Ilmu Komunikasi ini merupakan salah satu orang yang beruntung mendapatkan beasiswa khusus praktisi film documenter. Beasiswa senilai lebih dari lima juta ini berhasil ia raih berkat portofolionya dalam sepak terjangnya di dunia film documenter selama ini. Salah satu syarat seleksi beasiswa sertifikasi ini memang minimal harus memiliki lima karya film documenter dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun terakhir. Baca juga : Akting Natural, Tiga Penghargaan Diborong oleh Tim Meraki Visual Bimbingan Arfan Sertifikasi ini menguji kompetensi documentary yang harus menguasai A sampai Z proses produksi film documenter, mulai dari proses riset, menulis script, manajemen produksi, pengambilan gambar, sampai tataran editing hingga proses publikasinya. “Sertifikasi yang saya ikuti kemarin adalah sertifikasi jalur portofolio, bukan jalur observasi. Salah satu syarat mutlak agar bisa lolos beasiswa sertifikasi ini adalah harus punya karya film documenter, minimal lima karya ,”ujar dosen yang juga ketua program di Asosiasi Documentaries Nusantara Kota Malang ini. Total ada 64 orang dari seluruh Indonesia yang lolos beasiswa ini. Kegiatan sertifikasi ini diadakan 9-11 November 2020 lalu di The Sunan Hotel Solo. Proses kegiatan sertifikasi praktisi film dokumenter yang diikuti oleh dosen Ikom, Novin Farid Styo Wibowo (foto: ist) Proses sertifikasi diawali dengan pelatihan selama dua hari, yang berisi tentang bagaimana menyiapkan interview, merapikan dokumen, dan bagaimana mempresentasikan karya film yang pernah dibuat. Para asesornya adalah para praktisi film handal di bidang film documenter. Setelah mengikuti pelatihan, ia pun mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan kompeten. “Saat ini masih menunggu sertifikat kompetensinya saja. Sertifikasi ini prosesnya tidak mudah, karena untuk bisa mengikutinya saya harus unjuk karya portofolio agar bisa lolos seleksi,” ungkap Novin. Lima judul dari karya documenter yang pernah Novin hasilkan diantaranya adalah Presiden Singkong, Aketajawelolobata, W-Brige, Female Poverty Aveliation, dan Ekonomi Desa Jatim Bangkit. Hingga saat ini total ada 11 film fiksi, 15 film documenter, dan 24 karya iklan dan profil yang telah ia hasilkan. Luar biasa kan? Congratulation Pak Novin! (wnd)
Kunjungi FISIP UMM, UIN Raden Fatah Palembang Jajaki Kerjasama

Senin, 23 November 2020 17:23 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Hari ini (23/11) rombongan dari UIN Raden Fatah Palembang melakukan benchmarking ke FISIP UMM. Jauh-jauh dari Sumatera Selatan, rombongan dosen dan pimpinan dari FISIP UIN Raden Fatah Palembang disambut oleh dekanat FISIP UMM beserta jajaran pimpinan prodi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan. Bertempat di outdoor meeting space lantai 6 GKB 1, pertemuan antara dua kampus beda pulau ini berlangsung hangat. Wakil Dekan III FISIP UIN Raden Fatah, Dr. Kun Budiarto, M.Si, memimpin tim benchmarking yang berjumlah sepuluh dosen tersebut. Suasana lawatan FISIP UIN Raden Fatah Palembang di FISIP UMM, berlangsung di outdoor meeting space GKB 1 lantai 6 (photo by: dyahestu) Berdasarkan penuturan Dr.Kun Budiarto, FISIP UIN Raden Fatah adalah fakultas yang baru berdiri tiga tahun lalu. Sebagai fakultas yang masih baru dan baru memiliki dua prodi yaitu Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik, membuat pihaknya perlu menjajaki kerjasama dengan kampus yang dianggap sudah berhasil mengelola prodi-prodinya, salah satunya adalah FISIP UMM. “Kami kesini ingin belajar khususnya tentang sistem laboratorium sebagai inti keilmuan di FISIP dalam rangka mewujudkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. FISIP UMM adalah salah satu kampus yang kami nilai memiliki prodi berkualitas yang kebetulan kami pun punya prodi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik. Oleh karena itu hari ini kami ingin belajar model pengelolaan laboratorium demi kemajuan pembelajaran mahasiswa,”ujar Kun. Selama ini jejaring yang dibangun biasanya dengan kampus wilayah barat yaitu Bandung, kali ini setelah rapat dekanat tim UIN Raden Fatah memutuskan untuk membuka jejaring dengan Jawa Timur khususnya Malang dan UMM. Selain mempelajari sistem pengelolaan laboratorium di Prodi Ikom dan IP, tim benchmarking UIN Raden Fatah ini juga menyampaikan keinginan untuk melaksanakan staff exchange. Harapannya dosen bisa sharing pengalaman mengajar dan melakukan kolaborasi publikasi. “Kami siap lakukan MoU dan MoA dengan FISIP UMM, insya Allah rektor kami nanti juga akan mengunjungi UMM. Kita bisa lakukan kerjasama penelitian juga,”imbuhnya. Menyimak pemaparan sistem pengelolaan Lab Ikom yang disampaikan oleh Kaprodi Ikom, M Himawan Sutanto, M.Si (photo by: rahadi) Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si menyambut baik kunjungan tersebut karena pada hakikatnya antar universitas harus saling bersilaturahmi untuk menguatkan jaringan dan hal ini juga penting untuk menguatkan akreditasi. Selain itu penjajakan kerjasama ini juga merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan dukungan FISIP UMM pada semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka. “Jika semua bisa berkolaborasi itu akan semakin bagus. Teman-teman dari tim FISIP UIN Raden Fatah nanti bisa langsung mengunjungi dua laboratorium IP dan Ikom yang merupakan lab yang terintegrasi dengan lab prodi-prodi lain di bawah naungan FISIP,”jelas Rinikso. Sharing session di lab Ilmu Pemerintahan bersama Kaprodi IP dan Kepala Lab IP (photo by: kamil) Acara kunjungan ini pun akhirnya ditutup dengan melakukan tour de lab ke Lab IP dan Lab Ikom. Di kedua lab tersebut, rombongan belajar langsung bagaimana sistem pengelolaan laboratorium yang mendukung kegiatan akademik dan non akademik mahasiswa. (wnd)
Belajar Menjadi Intelektual Ala Cak Tarno

Jumat siang (20/11), outdoor meeting space FISIP di GKB 1 lantai 6 tampak semarak. Sejumlah dosen muda menghadiri diskusi inspirasi yang digelar oleh fakultas. Cak Tarno, pendiri Cak Tarno Institute, seorang pedagang buku di dekat Stasiun UI diundang untuk memberi motivasi pada para dosen muda. Ia bukan sekedar pedagang buku biasa. Meskipun hanya lulusan SMP, Cak Tarno adalah sosok yang membuka diri pada ilmu pengetahuan, khususnya kajian berbasis sosial humaniora. Suasana Diskusi Inspirasi di GKB 1 lantai 6 FISIP UMM (foto;humas) Lahir dari keluarga buruh tani di Jatirejo, Mojokerto, Jawa Timur, tidak pernah membuat Cak Tarno minder. Meskipun hanya lulus SMP, ia tidak pernah merasa terbatas untuk mengenal luasnya dunia ilmu pengetahuan. Melalui buku yang ia jual dan baca, ia fasih menjelaskan teori-teori kritis dari Mazhab Frankfurt; konsep public sphere Jurgen Habermas, fenomenologi dari Comte, Filsafat Proses dari Alfred North Whitehead, sejarah umat manusia dari Arnold Toynbee, hingga teori tindakan komunikatif dari Habermas. “Tidak semua buku saya baca sampai habis. Sebagaian saya kenali dari indeks dan pengantar, karena saya memang menjual buku-buku itu,”ungkap Cak Tarno. Salah satu trik yang ia lakukan agar mengetahui apa isi buku yang ia jual adalah dengan mengoleksi rubrik resensi salah satu media ternama di Indonesia. “Saya sampai punya koleksi Pustakaloka nya Tempo sebanyak tiga kardus,”imbuhnya. Motivasi Cak Tarno untuk menggeluti ilmu berawal dari pergumulannya dengan buku-buku yang ia jual dan ia baca, salah satunya adalah buku-buku filsuf Italia, Antonio Gramsci. “Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua menjalankan fungsinya sebagai intelektual,”ujarnya menyitir pernyataan Gramsci. Bagaimana intelektualitas seseorang bisa membuat gerakan atau menggerakkan lingkungan di sekitarnya, itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Gramsci. Cak Tarno juga mendirikan Cak Tarno Institute(CTI). Institut ini tentu bukanlah institut dalam arti sebenarnya. CTI berawal dari meja di kios Cak Tarno yang selalu dipenuhi orang-orang yang ingin berdiskusi. Kios buku Cak Tarno menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa untuk berdiskusi, bahkan menjadi arena uji coba presentasi mahasiswa sebelum mempresentasikan tugasnya. Cak Tarno ada dalam lingkaran diskusi itu. Ia larut di dalamnya. Komunikasi yang terbuka itu pula yang membuat kios Cak Tarno menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi. Itulah awal lahirnya kelompok diskusi yang oleh beberapa orang disebut sebagai Cak Tarno Institute (CTI). Nama Cak Tarno dan Cak Tarno Institute makin berkibar pasca ia diprofilkan di Kompas. Ada satu hal yang menarik ia alami pasca ia diprofilkan, pernyataannya tentang konsep ruang kosong memantik perdebatan. Banyak orang menanyakan makna kalimat memaknai masa depan adalah ruang kosong terserah nanti mau diisi apa, yang ia ungkapkan saat diwawancara Kompas. Ucapan Cak Tarno itu bahkan memantik perdebatan di antara para guru besar filsafat Universitas Indonesia. “Saya disuruh untuk menghadap ke fakultas filsafat untuk menemui para guru besar itu untuk menanyakan apa maksud masa depan adalah ruang kosong. Menurut saya masa depan itu adalah sebuah ruang kosong, ruang kosong adalah ruang waktu,”jelasnya. Sedangkan ruang lampau adalah masa yang sudah diisi oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ruang lampau itu adalah kala dia menjadi petani, kuli batu, dan pedagang buku eceran. Baginya masa depan adalah ruang kosong berisi ruang waktu yang harus diisi dengan kebermanfaatan. Ruang kosong itu semakin diisi maka semakin kosong, karena semakin banyak membaca sejatinya kita akan merasa diri kita ternyata tidak tahu apa-apa. Filosofi menarik ini yang kemudian ia jelaskan di hadapan para guru besar filsafat yang “menyidangnya” kala itu. Dekan FISIP, Dr.Rinikso Kartono, M.Si, mengatakan kehadiran Cak Tarno dalam diskusi inspirasi ini bukan bermaksud untuk menggurui para dosen muda. “Melalui diskusi inspirasi ini, saya ingin memotivasi apakah dosen sudah memiliki kecintaan dalam membaca buku dan menguatkan literasi,”ujar dekan FISIP. Sebagai insan akademik, dosen sejatinya memiliki tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan literasi. (wnd)