Dekan: Kurikulum Komunikasi Harus Siapkan Penguasaan Akses dan Data

Minggu, 12 Juni 2022 21:47 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muslimin Machmud mendorong agar kurikulum terus di-upgrade. Perubahan aturan maupun pasar kerja, menurutnya, menuntut penyesuaian kurikulum yang responsif. Hal itu disampaikan Dekan FISIP ketika membuka Focus Group Discussion (FGD) dalam menyiapkan lokakarya Kurikulum Program Studi Ilmu Komunikasi, Sabtu (11/06/2022). Selama bulan Juni ini Komunikasi UMM tengah melakukan berbagai kegiatan menjelang lokakarya yang rencananya dilangsungkan akhir bulan ini. Dekan FISIP (tengah) bersama Kaprodi (kiri) dan pemantik diskusi Dr. Catur Suratnoaji saat membuka kegiatan Sharing dan FGD dalam rangka persiapan lokakarya kurikulum Prodi Ilmu Komunikasi (foto:ist) Dekan menekankan, kurikulum Komunikasi harus mampu menyiapkan manusia unggul di era informasi, terutama dalam penguasaan akses dan data. Untuk itu rancangan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) harus tepat. CPL, katanya, harus memperhatikan empat bidang. Yakni, sikap dan tata nilai; kemampuan kerja; penguasaan pengetahuan, dan tanggung jawab. “Yang penting Prodi harus memiliki kekhasan yang dapat membedakan Komunikasi UMM dengan Prodi yang sama di kampus lain,” tegas Dekan. Ketua Program Studi Komunikasi UMM, Nasrullah menerangkan kurikulum kali ini disiapkan untuk mengadopsi Outcome Based Education (OBE). “Selain itu juga merespon program pemerintah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan mempersiapkan keberadaan Center of Excellent (CoE) School of Digital Creative Communication (CDCC),” katanya. Dituturkannya, penyesuaian kurikulum merupakan suatu keniscayaan. Ilmu dan profesi komunikasi berkembang sangat dinamis sehingga memerlukan respon yang cepat dan tepat. Untuk itu diperlukan kajian mendalam dan komprehensif dengan melibatkan semua unsur yang mewakili stakeholder Komunikasi UMM. “Keunggulan Komunikasi UMM selama ini terletak pada kekuatan kreativitas dan kemampuan kolaboratifnya. Ini akan menjadi perhatian ke depan supaya diakomodasi dalam kurikulum yang juga perlu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi,” lanjut Nasrullah. Dalam FGD Komunikasi UMM menghadirkan dua pakar yang mewakili akademisi dan praktisi. Dari akademisi, pakar komunikasi digital dan bigdata dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Jawa Timur, Dr Catur Suratnoaji, M.Si. Sedangkan dari praktisi dipilih Dr. Muhammad Faisal. Selain juga akademisi, Faisal adalah konsultan digital branding dan peneliti etnografi digital dan milenial. Senada dengan Dekan, Catur menekankan pentingnya positioning Prodi melalui kurikulum. Dia menyarankan agar kekhasan itu disesuaikan dengan lingkungan internal dan eksternal. “Misalnya dengan trend media digital, tentu memerlukan penyesuaian mata kuliah yang dapat diampu oleh anak-anak muda. Tetapi jangan khawatir karena dosen-dosen senior juga tetap memiliki tempat karena keilmuan komunikasi sangat memerlukan penguatan teori dan ilmu-ilmu lainnya,” sarannya. Catur juga sepakat dengan penguasaan literasi baru, yakni literasi data. Hal ini perlu dikembangkan karena akan menjadi bekal bagi keahlian di dunia industri maupun akademik. Disamping itu mata kuliah entrepreneurship dan internship agar diwajibkan bagi mahasiswa. Di sisi lain, Faisal mengingatkan agar tidak terjebak pada orientasi teknologi informasi semata-mata. Meski diperkirakan pada tahun 2030 dunia akan totally terdigitalisasi, kemampuan manusia dalam mengendalikan teknologi juga sangat penting. Isu-isu seperti krisis air, perubahan iklim dan konflik sosial, harus menjadi perhatian keilmuan komunikasi. “Basis ilmu komunikasi akan fundamental dan kembali ke kemampuan manusia, teknologi juga penting namun kembali ke manusianya. Meski kita harus menguasai teknologi digital, kita harus ingat bahwa inti komunikasi adalah talk to human. Sisi manusia tetap menjadi perhatian utama,” tukasnya. Foto bersama usai kegiatan Sharing dan FGD di R. Sidang Senat UMM (foto: ist) Dua dosen senior, Budi Suprapto dan Farid Rusman, ikut mendukung gagasan Faisal. Budi mengingatkan agar komunikasi tidak menyerupai informatika karena terlalu dekat dengan kajian teknologi informasi. “Akar filsafat dan keilmuan komunikasi harus terus dipertahankan dengan berbasis kepada nilai-nilai humanisme,” kata Budi yang diamini Farid. Berbagai masukan diberikan oleh para stakeholder pengguna lulusan serta alumni. Sebagian besar alumni menyarankan agar lulusan dibekali dengan whole package atau paket lengkap yang siap kerja. Selain ilmu dan keterampilan komunikasi, juga perlu persiapan bahasa, penguasaan teknologi komunikasi, serta akses ke dunia global. “Kalau bisa penyampaian perkuliahan minimal 50% menggunakan Bahasa Inggris agar mahasiswa terbiasa menggunakannya. Di samping itu, aspek attitude dan etiket berkomunikasi juga menjadi aspek sangat penting dalam memasuki dunia kerja di perusahaan beskala global maupun multinasional,” kata alumni yang bekerja di Saudia Airline, Nuraini Rohmawati. Hal yang sama juga dibenarkan alumni lainnya, seperti Viki Arif (Paradise Entertainment), Heru Nasrudin (Blibli.com), Maratun Sholihah (Kompas TV) dan Tris Sulis (Kontan.com). Mereka mengikuti FGD secara virtual. Nasrullah menambahkan, Komunikasi UMM memperoleh amanah dari Universitas untuk menjadi salah satu Prodi yang didorong memperoleh akreditasi internasional. Menyusul diperolehnya sertifikat AUN-QA, Komunikasi UMM kini menyiapkan site visit untuk akreditasi FIBAA dari Jerman. “Konsekuensinya kami harus menyiapkan banyak aspek. Tidak hanya kurikulum, tapi juga upgrading sumberdaya manusia pengajar, fasilitas laboratorium, dan tata kelola Prodi,” tambahnya. Lokakarya akan berlanjut dengan sidang-sidang komisi untuk membahas draft kurikulum. Pada puncaknya, pleno akan dilangsungkan guna membahas kurikulum baru untuk diserahkan kepada universitas untuk disahkan. Ketua Panitia Lokakarya, Radityo Widiatmojo, M.Si merinci kegiatan ini berlangsung selama sebulan. Sebelumnya FGD dengan perwakilan mahasiswa berhasil mendapatkan masukan mengenai kritik pada kurikulum lama dan keinginan muatan pada kurikulum baru mendatang. (nas)
Kegiatan Pra Kuliah untuk Maba FISIP, Cara FISIP Sambut Energi Baru

Rabu, 08 Juni 2022 23:58 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ratusan calon mahasiswa baru FISIP UMM yang diterima sebagai mahasiswa baru (maba) FISIP UMM mengikuti kegiatan Pra Kuliah yang diadakan oleh FISIP UMM. Kegiatan pra kuliah ini merupakan sarana pengenalan fakultas pada mahasiswa baru. Maba FISIP yang bergabung dalam kegiatan ini adalah mereka yang telah lolos melalui jalur prestasi pada seleksi penerimaan mahasiswa baru UMM 2022. Digelar secara daring pada 8 Juni 2022, ini adalah kegiatan pertama dari tujuh kegiatan pra perkuliahan yang diikuti oleh mahasiswa baru. Pembukaan kegiatan pra kuliah FISIP UMM digelar secara daring pada 8 Juni lalu (foto: ist) Dekan FISIP UMM, Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si ketika membuka rangkaian kegiatan pra kuliah ini menyampaikan bahwa kegiatan pra kuliah ini bertujuan untuk mengenalkan dunia akademik kepada mahasiswa baru. Peralihan masa putih abu-abu ke dunia mahasiswa tentu membutuhkan adaptasi. Salah satunya ranah akademis yang tentunya berbeda dari sistem pengajarannya, dari pedagogi di masa pendidikan dasar menjadi sistem andragogi (pembelajaran untuk orang dewasa). Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si saat membuka kegiatan pra kuliah (foto: ist) “Cara belajar di perkuliahan tentu berbeda dengan masa-masa di SMA. Semoga dengan kegiatan pra kuliah ini dapat membantu mahasiswa baru untuk mulai mengenal dunia kampus sebelum mengikuti perkuliahan. Sebagai energi baru di FISIP, maba harus memiliki amunisi untuk menyesuaikan dengan dunia perkuliahan. Tentu dengan kegiatan yang berbobot namun tetap menyenangkan,”ungkap guru besar bidang Ilmu Komunikasi ini. Ada tujuh kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pra kuliah maba 2022. Selain pembukaan hari ini, para maba juga akan dibagi dalam beberapa kelompok. Setelah itu pada kegiatan berikutnya maba akan mengikuti kelas literasi baru pada 15 Juni 2022. Pada 4 Juli mereka juga bisa mengikuti kelas analisis big data dan artificial intelligence, dilanjutkan dengan kelas penulisan artikel ilmiah dan kelas koding big data dengan R-Studion software. Mahasiswa baru dalam kelas pra kuliah ini juga akan dikenalkan dengan kelas koding data media sosial dan diakhiri dengan kegiatan penutupan dan informasi tentang kegiatan CoE FISIP yang direncanakan pada tanggal 10 September 2022 nanti. Wakil Dekan 1 FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, M.PA mengatakan ada banyak benefit yang akan diperoleh mahasiswa baru melalui program pra kuliah ini. Diantaranya mereka akan memperoleh keterampilan digital yang sangat mendukung kelancaran dan keberhasilan perkuliahan. “Maba akan mendapatkan pengalaman akademik yang berharga untuk persiapan masuk ke dunia perkuliahan. Maba yang mengikuti kelas-kelas pra kuliah ini juga berkesempatan untuk menjadi bagian dari tim dosen dalam bidang riset dan pengabdian,”tutur Salahudin. Selain itu, maba yang lulus kegiatan pra kuliah ini akan mendapat sertifikat kelulusan yang dapat digunakan untuk melengkapi Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). (wnd)
FISIP UMM Bekali Mahasiswa dengan Penguatan Karir

Senin, 30 Mei 2022 22:26 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Tantangan karir di jaman sekarang makin tinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia yang semakin bertambah, maka FISIP UMM menyambut baik program yang diusung oleh Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Kemahasiswaan UMM yang bekerjasama dengan PLN Peduli. Dua prodi di FISIP yakni Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) dan Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) mengadakan pelatihan penguatan karir mahasiswa pada tanggal 24 Mei 2022 untuk Prodi Ikom dan pada 28 Mei 2022 untuk Prodi Kesos. Karir di bidang komunikasi yang semakin menantang disikapi oleh prodi Ikom dengan mengadakan pelatihan karir tentang digital creative communication. Tema ini dipilih karena di masa kini, hampir tidak ada aspek yang terhindar dari sentuhan komunikasi digital kreatif. Kegiatan yang diadakan di Aula BAU ini mengangkat tema “Creative Communication Works in Digital Wave”. Tiga kelas dibuka dalam workshop kali ini, yakni Social Media Optimization, Digital Journalism for Social Media dan Videography for Social Media. Para pemateri bersama Wakil Rektor 3, Wakil Dekan 2 FISIP dan Kaprodi Ikom usai pembukaan kegiatan workshop (foto: ist) Kegiatan pelatihan menghadirkan pemateri yakni CEO PT Internusa Sosialoka Indonesia Miftah Farid Oktofani. Ia memberikan general lecture tentang etika dasar dan aturan main komunikasi digital kreatif. Pada kelas Social Media Optimization ada dua instruktur dari Sosialoka Indonesia, Rizka Alya Putri dan Muhammad Bahrul Ulum, yang juga merupakan alumni Komunikasi UMM. Sedangkan dua kelas lainnya diampu mantan ketua AJI Malang dan wartawan Tempo, Eko Widianto, dan dosen Komunikasi UMM, Nasrullah, untuk Kelas Digital Journalism for Social Media. Sementara instruktur kelas Videography for Social Media adalah Kepala Divisi Cipta Visual Biro Komunikasi dan Informasi UMM, Rino Anugrawan dan dosen Komunikasi UMM, Novin Farid Styo Wibowo. Tidak hanya kelas teori, workshop juga dilanjutkan dengan simulasi dan praktek. Laboratorium Komunikasi UMM sebagai backbone workshop ini merancang skema praktikum dengan instruktur pendamping masing-masing kelompok. “Tiga kelas yang dibuka merupakan trailer menjelang dibukanya kelas Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) milik Komunikasi UMM. Dalam waktu dekat kelas-kelas sekolah CoE ini akan ditawarkan kepada mahasiswa dan publik luas,”ujar Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ilmu Komunikasi yang juga menjadi pemateri di kelas digital journalism. Sedangkan pada 28 Mei 2022, Prodi Kesos juga mengadakan pelatihan karir mahasiswa untuk para mahasiswa Kesos. Makin kompleksnya permasalahan sosial di masyarakat menyebabkan kehadiran para social worker atau pekerja sosial menjadi kebutuhan mutlak. Oleh karena itu lah bertempat di Aula FISIP GKB 1 lantai 6, Kesos juga mengadakan pelatihan penguatan dan pengembangan karir sebagai pekerja social pendamping anak dan keluarga. Berfoto bersama usai pelatihan karir mahasiswa yang diadakan oleh Prodi Kesos (foto: ist) Menurut Kaprodi Kesos, Dr. Oman Sukmana, M.Si pelatihan ini penting karena dalam dunia kesejahteraan sosial terdapat tiga setting praktik pekerjaan social, yakni seting praktik mikro, meso, dan makro. Target dari intervensi mikro pekerjaan social adalah upaya mengatasi problem social pada level individu dan keluarga. Problem social pada level mikro (individu dan keluarga) cukup kompleks, antara lain seperti anak dan perempuan korban kekerasan, stunting, anak berhadapan dengan hukum, disharmoni keluarga, perceraian, dan sebagainya. “Seiring dengan dinamika peningkatan kualitas dan kuantitas problem social pada level indvidu dan keluarga, maka kebutuhan akan sumberdaya professional sangat urgent. Salah satu bidang keahlian (karir) profesi pekerja social adalah pekerja sosial pendamping anak dan keluarga,”tutur Oman. Untuk itulah Kesos kemudian dalam pelatihan tersebut Prodi Kesos mengusung tema Pekerja Sosial Pendamping Anak dan Keluarga. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri dari Save The Children Indonesia, sebuah organisasi non pemerintah yang fokus melayani dan mempromosikan hak-hak anak, menyediakan bantuan dan membantu mendukung anak-anak di negara-negara berkembang. Hadir dalam pelatihan tersebut Tata Sudrajat, Andri Yoga Utami, Yanti Kusumawardhani dan Rendiansyah Putra Dinata. Ada tiga materi penting yang diberikan untuk membekali para calon pekerja sosial ini. Tata Sudrajat, Deputy Chief of Program Impact and Creation at Save the Children Indonesia, menyampaikan materi tentang Dunia Kerja Human Service Organization (HSO) bidang kesejahteraan dan perlindungan Anak: Peluang dan Tantangan. “Profesi pekerja sosial adalah profesi universal, ada di di hampir semua setting HSO. Peksos juga ada di semua posisi, bisa sebagai social workers, supervisor, managerial, technical adviser, specialist. Untuk itu alumni Kesos harus menguatkan conceptual framework yakni berpikir makro dan jangka panjang serta menempatkan project-project di dalamnya. Dan harus mampu bertindak sebagai subjek atas projek/program, yang dijalankan. Bukan berada di bawah tempurung project. Lalu juga harus professional, dan focus pada setting atau keahlian. Dengan demikian karir dan reputasi akan mudah diperoleh,”papar Tata Sudrajat. (wnd)
Guru Besar FISIP UMM Optimis Bahasa Melayu Indonesia bisa Menjadi Bahasa Internasional

Minggu, 22 Mei 2022 22:55 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bahasa adalah identitas suatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan bangsa lain. Setiap bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda dengan ciri khas dan asal-usul masing-masing. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Sejarah Bahasa Indonesia sangat erat kaitannya dengan Bahasa Melayu. Dari dulu bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di Indonesia. Bahasa Melayu memiliki sistem yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dipelajari. Suku-suku di Indonesia pun mengakui dan menerima Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia. Oleh karena itu Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, optimis bahasa Melayu yang merupakan akar dari bahasa nasional Indonesia mampu menjadi bahasa resmi ASEAN sekaligus bahasa internasional. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (tiga dari kiri) sedang menyampaikan gagasannya pada Forum Dunia Melayu Dunia Islam (foto: ist) Gagasan tersebut ia sampaikan saat hadir sebagai salah satu panelis dalam Forum Dunia Melayu Dunia Islam yang diadakan di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Mei 2022 kemarin. Forum ini merupakan bagian dari Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu yang diinisiasi oleh Perdana Menteri Malaysia dan menghadirkan lebih dari 70 tokoh intelektual dari berbagai negara yang terbagi dalam 15 sesi. Prof. Muslimin Machmud, M.Si menjadi salah satu pembicara yang menyampaikan ide dan gagasan pada topik Memuliakan Bahasa Melayu di Kawasan ASEAN. Duduk bersama dalam forum tersebut, sejumlah tokoh intelektual dari berbagai negara yakni dari Singapura, Thailand, dan Kamboja dan Malaysia. Menurut Muslimin, sejarah bahasa Indonesia sendiri tidak lepas dari bahasa Melayu. Sebab sejak dulu, bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa perantara atau pergaulan. Sehingga dasar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dalam berkomunikasi, bahasa Melayu digunakan dimana-mana dan semakin berkembang di Nusantara. Bahasa Melayu Indonesia ini kemudian dipengaruhi oleh corak budaya setiap daerah. Sehingga bahasa ini tumbuh dengan pengaruh bahasa lain seperti bahasa Sansekerta, Persia, Arab dan bahasa Eropa. Dengan demikian, dalam perkembangannya, bahasa ini memiliki dialek yang berbeda-beda antar daerah. Ia menilai penggunaan bahasa Melayu yang kian mengglobal, tak terkecuali bahasa Melayu versi Indonesia yang menjadi bahasa nasional, adalah peluang bagi bahasa Melayu untuk menjadi bahasa internasional. Ada syarat yang sudah terpenuhi untuk menjadi bahasa antar bangsa. “Ketika bahasa itu digunakan oleh banyak orang, maka jika kita menggunakan terminologi umum maka syarat ini sudah terpenuhi. Jadi ini peluang sekaligus landasan kuat mengapa seharusnya Bahasa Melayu ini bisa digunakan sebagai bahasa internasional, setidaknya di level Asia Tenggara. Bahkan jika ini digunakan sebagai bahasa resmi internasional juga sangat mungkin. Ada 50 negara di dunia yang secara spesifik sudah mempelajari Bahasa Melayu,”tutur guru besar yang juga Dekan FISIP UMM ini. Bahkan untuk mendukung internasionalisasi Bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu, Indonesia sudah melakukan berbagai strategi untuk memasyarakatkan bahasa melayu atau Bahasa Indonesia. Salah satunya dengan mengirim guru-guru untuk mengajar Bahasa di sejumlah negara. “Kampus kami, UMM, bahkan menyediakan 200 beasiswa untuk mahasiswa Thailand, Filipina Selatan dan negara-negata untuk datang ke UMM belajar Bahasa Indonesia, dengan syarat mahasiswa asing tersebut harus menulis dan mengikuti perkuliahan dengan menggunakan Bahasa Indonesia,”imbuhnya. Sebagai sebuah suku, Melayu di Indonesia jumlahnya memang tidak banyak. Pengguna bahasa Melayu murni jika dilihat berdasar suku hanya sebanyak 17 juta orang namun ini bukan menjadi halangan. Sebab dalam banyak terminologi umum, bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia memiliki kesamaan karena memiliki akar yang sama. Hanya dalam beberapa terminologi khusus saja yang sedikit berbeda. Tak hanya pada penggunaan bahasa Melayu di Indonesia, masing-masing negara di Asia Tenggara juga memiliki perbedaan dalam pemahaman istilah dalam rumpun bahasa Melayu yang digunakan. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (berbatik merah) saat menghadiri pembukaan simposium bersama Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob, LL.B (foto: ist) Oleh karena itu, dalam forum tersebut, Muslimin menyajikan sejumlah solusi kepada semua pihak jika berkeinginan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional. Ia menyebutkan harus ada tim taskforce perwakilan masing-masing negara untuk menyamakan persepsi bahwa perbedaan istilah atau terminologi dalam bahasa Melayu masing-masing negara bukanlah sebuah permasalahan. “Sehingga jika ada forum antarbangsa, biarkan saja masing-masing kepala negara menggunakan bahasa Melayu sesuai dengan dialek, intonasi atau kebiasaan yang dilakukan. Ini akan memudahkan penyamaan persepsi. Selain itu generasi muda dianjurkan untuk tidak membuat polemik di sosmed terkait perbedaan terminologi dalam bahasa Melayu, apalagi memasukkan ego politik dalam polemik tersebut. Bahasa Melayu bisa menjadi bahasa antarbangsa jika kita semua bisa menerima dan memaklumi perbedaan yang ada,”ungkapnya. (wnd)
Dosen dan Karyawan Adalah Ujung Tombak Dakwah Muhammadiyah

Selasa, 05 April 2022 05:22 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ramadhan adalah bulan mulia bagi umat Islam. Untuk memberikan penguatan semangat bagi dosen dan karyawan, FISIP UMM menggelar buka bersama keluarga dosen dan karyawan. Buka puasa ini adalah yang perdana selama masa pandemi. Antusiasme dosen dan karyawan FISIP UMM beserta keluarga terlihat saat menghadiri kegiatan yang diadakan di ruang aula FISIP UMM pada Senin, 4 April 2022. Tak sekedar buka bersama biasa, kegiatan ini juga menghadirkan salah satu founding father FISIP UMM Prof. Imam Suprayogo dan Sekretaris BPH UMM Drs. H. Wakidi. Suasana pengajian jelang buka bersama keluarga besar FISIP UMM (foto: dyh) Digelar dalam protokol kesehatan yang ketat, para dosen dan karyawan hadir bersama keluarga masing-masing. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan sebagai sebuah keluarga besar, keterlibatan keluarga sebagai supporting system dosen dan karyawan adalah hal yang penting untuk bersama-sama membesarkan FISIP UMM. “Dalam beberapa kegiatan kita selalu melibatkan keluarga dosen maupun tenaga pendidikan. Karena keluarga merupakan dukungan yang tidak bisa kita abaikan, khususnya dalam mendukung kinerja para dosen karyawan di bulan suci Ramadhan ini,”ungkap dekan yang juga guru besar Ilmu Komunikasi tersebut. Dalam kegiatan buka bersama kali ini, FISIP juga menghadirkan salah satu founding father FISIP yang juga pernah menjadi dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Imam Suprayogo dan juga Sekretaris BPH, Drs. H. Wakidi. Prof. Imam Suprayogo mengulas bagaimana perjuangan FISIP UMM hingga menjadi seperti saat ini. “Sesuatu yang harus senantiasa kita syukuri adalah bagaimana FISIP ini kini mampu menjadi seperti sekarang. Rasa syukur ini yang bisa menjadi amunisi untuk terus memberikan yang terbaik pada institusi dan UMM,”ungkap Prof Imam. Drs. H. Wakidi juga menyampaikan tausyiah berkaitan tentang penerapan nilai AIK dalam tugas dan tanggung jawab sebagai dosen dan karyawan UMM. Wakidi menyebut dosen dan karyawan UMM adalah jabatan yang strategis bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. Sekaligus juga merupakan kader bagi persyarikatan Muhammadiyah. “Mengapa strategis, karena dosen dan karyawan adalah ujung tombak dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi. Oleh karena itu, sebagai ujung tombak dakwah, dosen dan karyawan UMM harus memiliki ideologi Muhammadiyah yang kuat dan memiliki wawasan AIK yang memadai,”tuturnya. Untuk mewujudkan hal itu, dosen dan karyawan harus memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada AUM-UMM dan Persyarikatan Muhammadiyah. Memahami ideologi Muhammadiyah adalah memahami bagaimana Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, da’wah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid dan bersumber pada Al Quran dan As-Sunah. Dalam menerapkan nilai utama AIK dalam pengabdian di AUM, dosen karyawan harus memahami nilai utama AIK-UMM. Nilai utama itu disingkat dengan IIIMAN, yang terdiri dari Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah dan Nazanah. (wnd)
Luring Bertahap, FISIP UMM Terapkan Prokes Ketat

Selasa, 22 Maret 2022 07:47 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dua tahun lebih Indonesia mengalami pandemi Covid-19. Tak sendiri, fenomena wabah ini juga terjadi di seluruh negara di dunia. Kondisi pandemi ini juga berimbas pada perkuliahan di FISIP UMM digelar secara daring dalam dua tahun terakhir. Seiring dengan menurunnya kasus akibat covid dan kebijakan pemerintah yang mengizinkan perkuliahan luring, FISIP pun mulai semester genap tahun ajaran 2021/2022 memberlakukan perkuliahan luring bertahap. Kebijakan ini pun disambut gembira oleh civitas akademika FISIP UMM. Happy menyambut kuliah luring : dosen dan mahasiswa Ikom FISIP berfoto bersama usai perkuliahan berakhir (foto: nas) Perkuliahan dengan format tatap muka di FISIP UMM digelar secara bertahap. Wakil Dekan 1 Bidang Akademik FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, MPA, mengatakan kebijakan perkuliahan tatap muka ini digelar dengan system hybrid di dua atau tiga pertemuan pertama. Kemudian di pertemuan berikutnya diupayakan secara tatap muka penuh. “Kami berharap bapak ibu dosen juga memfasilitasi perkuliahan kombinasi daring dan luring mungkin di pertemuan pertama, kedua dan ketiga. Selanjutnya bisa diupayakan untuk full luring,” jelas doktor bidang ilmu politik ini. Kebijakan luring bertahap juga dimaksudkan untuk memudahkan mahasiswa yang mungkin masih berada di kampung halaman di luar pulau dan belum memungkinkan kembali ke kampus dalam waktu cepat. Dengan membuat kebijakan luring bertahap, mahasiswa yang bersangkutan masih bsia mengikuti perkuliahan dalam format daring. Dalam perkuliahan luring ini, protokol kesehatan diterapkan dengan sangat ketat. Sebelum masuk ke area kampus, mahasiswa harus menunjukkan aplikasi peduli lindungi dan SIMK untuk memastikan bahwa mereka aman untuk mengikuti perkuliahan. Mereka juga diwajibkan untuk memakai masker selama perkuliahan berlangsung dan ketika beraktivitas dimana pun. Sebelum dan setelah perkuliahan dimulai, petugas kebersihan fakultas secara rutin melakukan sterilisasi ruangan. Tetap hybrid: Dosen menyediakan dua platform daring-luring pada awal penerapan luring bertahap di FISIP UMM (foto:ist) Nur Aulia, mahasiswa Prodi Ikom Angkatan 2021 mengaku senang dengan kebijakan kuliah luring ini. Sebab bagi Angkatan 2021 dan 2020, ini adalah saat pertama mereka masuk kampus dan menikmati kuliah luring. “Saya senang akhirnya bisa ikut kuliah tatap muka. Excited banget bisa merasakan kembali belajar langsung di kampus,”ujar mahasiswi asal Kendari ini. Kegembiraan dan antusiasme terlihat dari wajah para mahasiswa yang mengikuti kuliah luring. Laporan dari sejumlah dosen FISIP yang telah menggelar perkuliahan luring menyebutkan, rata-rata kelas luring sudah dihadiri sekitar separuh dari total jumlah mahasiswa per kelas. “Mudah-mudahan di pertemuan selanjutnya mahasiswa sudah bisa mengikuti tatap muka, sehingga perkuliahan bisa lebih fokus dengan luring. Jangan lupa tetap jaga prokes ya,”harap M Aan Sugiharto, M.Sosio, salah satu dosen di Prodi Sosiologi. (wnd)
Launching Lima CoE, FISIP Siapkan “Sumur Sosial” Bagi Civitas dan Masyarakat Umum

Sabtu, 12 Maret 2022 01:20 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik “Sumur Sosial” tercatat dalam peradaban sebagai sumber distribusi mata air sekaligus teknologi sederhana untuk memberikan saluran (akses) kelangsungan hidup setiap kelompok sosial. Dalam konteks ini, sumur sosial sebagai metafora sumberdaya manusia (insani) maupun sumber material bagi kelangsungan komunitas masyarakat. Materi itu yang dipaparkan oleh Ahmad Arrozy, M.Sos dalam orasi Ilmiah Yudisium FISIP UMM periode 1 tahun 2022 yang digelar Jum’at (12/3) di Basement dome UMM. Ozy, sapaan akrab Ahmad Arrozy, menyebut literatur sosiologi memotret sumur sosial dengan sumber pembangunan yang diimplementasikan melalui eksekusi korporasi (sektor swasta), firma, perbankan, dan grup investor yang selalu berkepentingan dengan izin negara. Sumur social ini merupakan akses kepada ketersediaan teknologi, akses kepada modal, akses kepada arena distribusi atau pasar, akses kepada pengetahuan dan akses kepada kewenangan (otoritas resmi) yang terpadu. Para pimpinan fakultas bersama lulusan terbaik tingkat fakultas (foto: humas) Dalam yudisium yang bertajuk pelepasan wisudawan ini, FISIP juga melaunching Center of Excellence (CoE). CoE ini juga merupakan perwujudan “sumur social” yang memberikan masyarakat umum maupun civitas akademika akses pada pengetahuan yang lebih komprehensif. Kelima CoE yang dilauching FISIP diantaranya adalah Sekolah Pemberdayaan Masyarakat (Prodi Kesejahteraan Sosial), School of Creative Digital Communication (Prodi Ilmu Komunikasi), Sekolah Analisis Pemerintahan dan Politik (Prodi Ilmu Pemerintahan), Kelas Profesional Manager (Prodi Sosiologi), dan Paradiplomasi Institute (Prodi Hubungan Internasional). Ada yang berbeda dalam pelaksanaan pelepasan wisudawan FISIP UMM periode ini. Setelah selama dua tahun menggelar yudisium secara hybrid, hari ini FISIP UMM menggelar Pelepasan Wisudawan Periode 1/2022 secara full luring. Sebanyak 304 calon wisudawan wisudawati FISIP UMM dikukuhkan dalam seremonial yang tetap digelar dalam standar protokol kesehatan yang ketat. Selain berhasil meluluskan 304 calon wisudawan dan wisudawati yang akan diwisuda pada bulan Maret, yudisium kali ini juga mengukuhkan tiga terbaik fakultas yang semuanya berasal dari Prodi Ilmu Pemerintahan. Terbaik pertama fakultas disandang oleh Zainul Rahman yang memperoleh IPK 3,95. Terbaik kedua diraih oleh Laily Nur Rahmah dengan perolehan IPK 3,93 dan terbaik ketiga diraih oleh Puji Susilo Asih dengan meraih IPK 3,86. Ketiganya lulus dengan sangat tepat waktu yakni 3, 4 bulan untuk Zainul dan Puji serta 3,6 bulan untuk Laily. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, Ph.D dalam sambutannya mengatakan bahwa sarjana dari FISIP UMM harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi dalam menghadapi kompetisi dunia kerja. Prodi-prodi di FISIP telah memiliki banyak rekognisi nasional dan internasional sebab itu lulusan yang dihasilkan harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. UMM Malang adalah kampus yang sangat diperhitungkan dari segala aspek, mutu akademik dan lulusan yang dihasilkan sudah teruji. Jadi itu harusnya menjadi modal sosial bagi lulusan agar bisa sukses di dunia kerja,” terang Muslimin. Dekan juga menitipkan pesan penting bagi wisudawan bahwa kunci utama kesuksesan adalah ridho orang tua. “Bahagiakanlah masa tua orang tua anda dengan kesuksesan, “tutup Muslimin. (ird/wnd)
Pelantikan Pengurus Forum Dekan FISIP PTMA Se Indonesia, Jawab Tantangan Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Selasa, 08 Maret 2022 12:15 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kolaborasi adalah kata kunci. Bagi kampus swasta, program Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah adalah peluang dan tantangan yang harus dijawab di masa kini. Untuk itulah para dekan FISIP di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) se Indonesia membentuk forum dekan yang hari ini (8/3) dilantik di UMM. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, terpilih sebagai ketua forum dekan FISIP PTMA se-Indonesia masa jabatan 2021-2023. Kemudahan untuk belajar lintas sektor untuk dosen dan mahasiswa, kebebasan belajar tiga semester di luar program studi, adalah sebagian tantangan dan peluang yang memberikan harapan besar bagi kampus swasta, tak terkecuali FISIP PTMA. Pelantikan pengurus Forum Dekan FISIP PTMA seluruh Indonesia di Ruang Sidang Senat UMM (8/3) (foto: humas) Anggota Pimpinan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Tobroni, M.Si hadir untuk melantik para pengurus baru fordek FISIP PTMA. Di depan para pengurus fordek, Tobroni mengungkapkan harapannya pada fordek FISIP PTMA ini. “Forum dekan harus mampu membawa kemajuan khususnya di bidang sosial politik di Indonesia. Tidak hanya berkolaborasi dengan sesama pimpinan FISIP di PTMA, tapi juga bisa berkolaborasi dengan forum dekan fakultas lainnya. Sehingga terwujud sinergi yang kolaboratif yang membawa kemanfaatan sebanyak-banyaknya,”ungkap Tobroni. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd ketika hadir dalam prosesi pelantikan juga berpesan agar para pengurus fordek FISIP PTMA menjaga semangat pengabdian sebagai pengurus fordek dengan melandaskan pada nilai-nilai yang menjadi pedoman pergerakan Muhammadiyah. “Energi kita jangan hanya dihabiskan untuk mengejar rekognisi formal, meski itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah seberapa baik, seberapa kuat kita melayani mahasiswa. Dan mahasiswa serta alumni, percaya diri pada keilmuan yang dimiliki. Dengan adanya program Merdeka Belajar, kita harus menjadikan program itu sebagai media ijtihad untuk lebih merdeka dalam belajar. Kalau masih berkutat pada pedomannya mana, panduannya mana, itu namanya ndak merdeka. Merdeka Belajar itu kita harus kreatif dan melampaui target yang diberikan oleh pemerintah,” tutur Fauzan. Suasana rapat kerja Fordek FISIP PTMA (foto: humas) Selain melakukan prosesi pelantikan, dalam kegiatan hari ini, dekan FISIP UMM juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan para dekan FISIP PTMA. MoA ini merupakan nota kesepahaman tentang kerjasama bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Setelah penandatanganan MoA ini, para dekan yang telah menandatangani nota kesepahaman bisa menindaklanjuti dengan membuat Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) di level program studi. Nota kesepahaman ini diharapkan bisa mengeratkan kerjasama antara fakultas sehingga mendukung pencapaian visi misi kampus, khususnya dalam mewujudkan fakultas yang unggul dan berdaya saing. Salah satunya dengan menyelenggarakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun jaringan kelembagaan berwawasan keilmuan dan keahlian sosial politik dan ini nantinya juga akan mendukung perwujudan Merdeka belajar di FISIP UMM. Salah satu prosesi penandatangan MoA antara FISIP UMM dengan Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (foto: humas) Rangkaian acara pelantikan pengurus fordek ini ditutup dengan sharing session dan diskusi panel antara pimpinan FISIP UMM level fakultas dan prodi bersama para pengurus fordek. Wakil Dekan 1 FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, M.PA yang memimpin sharing session menyampaikan beberapa kunci yang dilakukan oleh FISIP UMM untuk mewujudkan kampus unggul, salah satunya adalah memahami tata kelola kelembagaan yang baik. Pelaksanaan tridharma perguruan tinggi juga harus mengedepankan luaran. Luaran ini merupakan bukti karya yang akan menjadi portofolio baik bagi dosen maupun mahasiswa. Para pimpinan lima prodi di FISIP juga sharing tentang program-program unggulan yang dilakukan di FISIP UMM. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Nasrullah, menceritakan praktikum-praktikum di Ikom adalah praktikum real yang kreatif dan berbasis klien. Praktikum ini menjadi salah satu andalan FISIP yang banyak menghasilkan luaran-luaran yang mendukung portofolio mahasiswa dan kampus. “Program praktikum real Ikom adalah perwujudan merdeka belajar yang sebenarnya sudah dilakukan UMM sejak 2016, jauh sebelum program Merdeka Belajar dirilis oleh kementrian,”ungkapnya. (wnd)
Dosen FISIP Soroti Layangan Putus Hingga Fenomena Sosmed di Era Transformasi Digital

Sabtu, 19 Februari 2022 19:55 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Literasi digital menjadi salah satu isu popular seiring dengan semakin majunya transformasi digital. Teknologi informasi kini tak lagi jadi sekedar alat, namun teknologi juga turut andil dalam pergeseran realitas social di masyarakat. Untuk mendiskusikan isu ini, FISIP UMM menggelar webinar bertajuk ‘Digital Literation Through Film and Social Media’ yang merupakan rangkaian acara dari agenda Student Day FISIP 2022 (19/2). Webinar ini menghadirkan Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si, pakar film UMM dan Moch. Fuad Nasvian, seorang social media enthusiast. Keduanya merupakan dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Webinar ini mendiskusikan bagaimana film dan social media di era modern telah bertranformasi dari sebuah entitas hiburan dan media komunikasi massa, menjadi sebuah realita yang merepresentasikan kehidupan sosial masyarakat. Novin Farid Setyo Wibowo, pakar film UMM dalam webinar Student Day (foto:ist) Tak bisa dipungkiri, serial web TV Series Layangan Putus berhasil memporak-porandakan jagat realita masyarakat Indonesia. Aksi dramatisasi yang dikemas dalam sebuah tayangan audio visual, berhasil mengkonstruksi realita di masyarakat tentang isu true story domestic yang di angkat ke ranah public. “Ini menjadi sebuah bukti bahwa film atau tayangan audio visual dalam kapasitasnya tak hanya sekedar mampu mempengaruhi sikap tapi juga mengubah pola pikir masyarakat. Dimana-mana it’s my dream not hers menjadi booming. Jadi jika menonton atau membuat film, jangan hanya berpikir kamera pakai apa, edit pakai apa. Karena film sejatinya adalah salah satu media yang memiliki kuasa untuk mengkonstruksi realita di masyarakat,” tutur Novin. Menurutnya, film dapat bersifat merepresentasikan maupun merefleksikan kehidupan sosial. Di samping itu, pesan yang disampaikan dalam film mampu mempengaruhi perilaku seseorang yang pada akhirnya akan menciptakan realitas baru. “Film merupakan realitas lain dari realitas yang sesungguhnya. Menariknya dalam teori kultivasi disebutkan bahwa manusia yang selalu menonton tayangan tertentu dengan waktu yang lama maka akan memiliki sebuah pemahaman bahwa dunia di sekelilingnya seperti yang ditayangkan di televisi atau tontonan yang dilihat tersebut ,” tutur Novin. Novin juga menyampaikan bahwa film juga dapat berfungsi sebagai media propaganda dan penyebaran ideologi. Dengan fungsinya yang semakin berkembang ini, selain memberikan dampak kognitif dan afektif, film juga berdampak secara konatif yang merujuk pada perilaku nyata, atau memberikan perubahan sikap terhadap penontonnya. “Film itu tidak hanya sebagai medium, tapi film ini punya peran yang luar biasa karena efeknya yang kemungkinan besar bisa merubah nilai-nilai tatanan yang ada di dunia,” tutup Novin. Di ranah social media, tranformasi digital yang makin canggih juga memberikan pengaruh pada generasi penikmatnya. Fuad Nasvian, mengulas bagaimana masyarakat, khususnya Generasi Z atau zilenial menghadapi era liberasi digital melalui social media. M Fuad Nasvian, M.Ikom (kanan), saat memaparkan fenomena sosmed, dimoderatori oleh Awan Setiawan (foto: ist) Ia menyebut di revolusi industri ketika masyarakat belum memiliki akses yang baik terhadap pendidikan, dan sebaliknya justru berkerja seolah mesin di dalam suatu pusat industri. “Sehingga, di masa itu, orang tidak terpikir untuk belajar, untuk apa belajar. Yang penting kita punya skill untuk bekerja,” tutur Fuad. Kehadiran revolusi industri 4.0 dan perkembangan teknologi mengubah kondisi tersebut. Generasi zaman now punya akses untuk belajar apapun hanya melalui gawai yang dimiliki. Namun ia mengingatkan, kemajuan tersebut juga tidak selalu berarti baik bagi masyarakat. Terdapat banyak juga hal-hal negatif yang sama mudahnya bisa kita akses dengan gawai tersebut. “Kita berkarya dan menghasilkan karya yang besar, atau pada akhirnya kita yang dihancurkan oleh teknologi. Pilihan itu ada di tangan kita sendiri,” tegas Fuad. (ind/wnd)
Sociopreneurship, Solusi Bisnis Berbasis Kepekaan Sosial

Sabtu, 12 Februari 2022 23:00 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi menampilkan fakta positif yang menarik. Pandemi covid -19 ini membuat masyarakat berinovasi dalam menciptakan lapangan kerja baru. Hutri Agustino, M.Si, inisiator Pondok Sinau Lentera Nusantara, menyebut angka wirausaha di Indonesia naik dari angka 13 % pada Februari 2020, menjadi 25 % pada Oktober 2020. Dalam webinar Sociopreneur Series yang diadakan oleh FISIP UMM, Hutri dan Jamroji, M.Comms, inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan mengupas tuntas peluang entrepreneur di bidang sosial. Kegiatan webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Student Day FISIP UMM yang diikuti oleh mahasiswa FISIP Angkatan 2021. Hutri Agustino, saat memaparkan sociopreneur business model secara virtual pada gelaran Student Day (12/2) (foto:humas) Dalam paparannya, Hutri mengatakan, kenaikan jumlah minat wirausaha ini tentu menjadi peluang tersendiri. Di sisi lain, munculnya aneka permasalahan sosial akibat pandemi, juga tak bisa dipungkiri. Bagi pegiat ilmu sosial, sociopreneur bisa menjadi solusi, tak hanya memberikan benefit dari sisi nominal namun juga menjadi bagian dari pemecahan isu sosial. Ditilik dari asal katanya sociopreneurship merupakan irisan dari social institution (nirlaba) dan corporate (profit oriented). “Sociopreneurship menjadi cara baru atau new way yang tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial namun juga keuntungan sosial. Sekaligus menjadi bagian dari pemecah permasalahan di tengah masyarakat,”ujar Hutri. Hutri di depan Pondok Sinau, unit pemberdayaan masyarakat berbasis sociopreneur yang ia dirikan (foto: ist) Ada banyak jenis bentuk sociopreneur yang bisa dikembangkan. Mengacu dari pernyataan Wolfgang Grassi, Hutri menyebut ada sembilan jenis model bisnis sosial yang sangat memungkinkan dilakukan di masa sekarang. Ada jenis entrepreneur support model, market intermediary model, employment model, fee for service model dan beberapa jenis model bisnis sosial lainnya. “Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya, sudah ada usaha namanya Kopi Tuli. Yaitu unit usaha yang melibatkan teman-teman tuli. Ini adalah bentuk socioentrepreneur yang tidak hanya sekedar mencari profit melalui usaha bisnis jualan kopi tapi juga memberikan lapangan pekerjaan untuk teman-teman tuli,”jelas Hutri. Di Indonesia, kopi tuli sudah berdiri di beberapa wilayah seperti di Depok (KopTul), Jember, Tulungagung, Makasar, Riau dan beberapa wilayah lain. Di Koptul, Depok, para pengunjung akan menerima nuansa berbeda dalam menikmati kopi. Pengunjung akan belajar dua hal sekaligus, yaitu bagaimana memperlakukan orang lain yang berkebutuhan khusus dengan setara sekaligus belajar bahasa isyarat. Hal itu juga sebagai salah satu alasan mengapa di kedai Koptul tidak disediakan wifi. Tujuannya, agar pengunjung dapat saling bercengkerama, baik dengan teman dengar, maupun teman tuli. Bahkan, pengunjung dapat berkomunikasi dengan para barista di Koptul. Membangun sociopreneurship, membutuhkan daya kritis yang tinggi. Kepekaan terhadap masalah sosial atau keluhan di masyarakat perlu dilatih sejak dini. Menariknya, menurut Jamroji, M.Comms, inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan, sebuah bidang usaha pada dasarnya bisa dibangun berbasis pada keluhan. “Para pembuat aplikasi itu sebenarnya membuat lapangan usaha berbasis keluhan masyarakat. Misalnya saja, Gojek, banyaknya masyarakat yang mengeluh sulit mencari ojek pangkalan, harus repot dulu ke pangkalan untuk bisa memesan ojek, melahirkan aplikasi yang kemudian memudahkan customer seperti Gojek dan aplikasi lainnya. Nah keluhan-keluahan teman anda itu jika kita cerdas dan kritis bisa menjadi sumber ide untuk membangun sebuah unit usaha mandiri. Bahkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan sosial melalui bentuk socioenterpreneurship,”tutur Jamroji. Jamroji, M.Comms, menjelaskan tentang bagaimana membangun daya kritis sejak dini (foto: humas) Untuk itu, perlu sekali mengembangkan sikap kritis ini sejak dini. Sikap kritis ini merupakan sikap peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tak terkecuali peka terhadap keluhan. Dan sociopreneur merupakan upaya untuk mengkonversi permasalahan sosial menjadi sebuah peluang usaha. Menurut Jamroji, sociopreneur memungkinkan kita untuk membangun bisnis yang berangkat dari keluhan orang atau masyarakat. “Tujuannya tentu membantu masyarakat adalah yang utama, dan pendapatan adalah bonus yang kita peroleh. Ada dua modal penting yang harus dimiliki dalam membangun sociopreneur ini, yang pertama adalah kepekaan sosial dan yang kedua adalah kemampuan kritik sosial,”ungkapnya. Jamroji di depan Kampung Warna-Warni Jodipan (foto: ist) Wakil Dekan III FISIP UMM, M. Himawan Sutanto, M.Si, berharap kegiatan webinar sociopreneur series ini mampu memantik daya kritis mahasiswa, khususnya peserta Student Day, agar berani berinisiatif dalam membangun sebuah kemandirian. Pandemi yang menyebabkan banyak pergeseran di berbagai bidang bisa ditangkap sebagai sebuah peluang kritis bagi tumbuhnya jenis-jenis sociopreneur yang berkemajuan. (wnd)