Student Day, Bupati Magetan Dorong Mahasiswa FISIP Gemar Menulis

Sabtu, 05 Februari 2022 04:05 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Menulis itu memonopoli kebenaran. Kalimat tersebut diungkapkan oleh Bupati Magetan, Dr. Drs. Suprawoto, SH, M.Si dalam agenda kuliah tamu dan penandatangan MoU yang digelar FISIP hari ini (5/2) di Aula BAU UMM. Hari ini, dalam rangka gelaran student day fakultas, FISIP mengundang Kang Woto, sapaan akrab Bupati Magetan untuk memberi kuliah tamu dengan tajuk Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Bupati Magetan, Dr.Drs.Suprawoto, SH, M.Si memberikan buku hasil karyanya pada mahasiswa FISIP (foto:humas) Mahasiswa sebagai iron stock dan agent of change harus mampu menjadi garda terdepan dalam agenda perubahan. Ada tiga hal yang menurut Suprawoto bisa menyebabkan perubahan itu. Yang pertama adalah ide, yang kedua teknologi, dan ketiga adalah interaksi. “Ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan akan membuat perubahan. Menulis bisa memonopoli kebenaran, bahkan memonopoli sejarah. Coba bayangkan jika tidak ada yang menulis, maka sejarah tidak pernah ada. Betapa menderitanya sebuah bangsa jika kita tidak mau menulis,”ungkapnya. Lebih lanjut, Suprawoto juga memaparkan ada sembilan cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter diri yang kuat pada mahasiswa. Menghargai diri sendiri, mampu mengenal dan mengendalikan diri sendiri, sikap mau terus belajar, disiplin dan berkomitmen adalah beberapa hal yang bisa dilakukan. Idealisme mahasiswa akan semakin kuat jika membiasakan diri menulis. “Terutama menulis karya ilmiah ya. Dengan membiasakan menulis, 85% dari sembilan cara membentuk karakter diri ini dapat terpenuhi,”tutur Bupati yang sudah merelease tujuh judul buku ini. Antusias: Suasana kuliah tamu di Aula BAU, digelar dengan metode hybrid melalui live streaming YouTube FISIP UMM (foto: humas) Suprawoto juga menyampaikan sejumlah kiat bagaimana mengelola waktu sehingga bisa tetap produktif meski sibuk. Dia mengatakan jangan pernah menunggu mood untuk menulis. Menulis, menurutnya, harus dipaksa. Harus disempatkan di sela-sela aktivitas kita. Dia menceritakan, dalam perjalanan di kereta pun ia bisa menulis. Apalagi dengan dukungan teknologi yang kian canggih, sejatinya menulis bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dia juga berpesan agar mahasiswa tidak takut untuk memulai menulis. Menurutnya tidak ada tulisan yang sempurna. Jika ada yang menghina, itu artinya tulisan kita ada yang membaca. Untuk bisa mengumpulkan inspirasi untuk menulis, tentu ada hal yang harus dipenuhi, yaitu membaca buku. Suprawoto mengisahkan kegilaannya pada buku-buku. “Jika petani menemukan kenikmatan ketika mencangkul di sawah misalnya, kalau saya, hidup terasa nikmat ketika dikelilingi oleh buku-buku. Membaca adalah healing terbaik,”tuturnya. Ia memang mengalokasikan budget khusus untuk membeli buku. Dulu sebelum bekerja, ia berkomitmen untuk membiasakan membeli buku ketika sudah mendapatkan gaji. Pernah, saking cintanya pada buku, dalam sebulan ia bisa membeli 300 judul buku sekaligus. “Kesalahan tidak perlu dilakukan ketika kita banyak membaca buku. Dari buku kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari ilmu orang lain,”imbuhnya. Penandatanganan MoU oleh Rektor UMM dan Bupati Magetan, didampingi oleh Wakil Rektor 4 dan Dekan FISIP UMM (foto:him) Selain kuliah tamu, pada rangkaian agenda Student Day hari ini, juga berlangsung penandatanganan MoU antara Universitas Muhammadiyah Malang dan Pemerintah Kabupaten Magetan. Rektor UMM, Dr.Fauzan, M.Pd menandatangani MoU bersama Bupati Magetan. Rektor dalam sambutannya berharap kerjasama UMM melalui FISIP UMM dan Kabupaten Magetan bisa memberikan sebaik-baik manfaat untuk kedua belah pihak. (wnd)
Piawai Upgrade Skill dan Pengalaman, Alumni FISIP Sukses Kerja Sebelum Wisuda

Rabu, 02 Februari 2022 22:48 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bekerja sebelum dinyatakan lulus kuliah menjadi impian bagi sebagian besar mahasiswa. Namun jika ditilik dari hasil survey yang dilakukan oleh layanan pendidikan Prospects dan Jisc di Inggris, menemukan bahwa dari total tujuh ribu responden mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, sebanyak 45 persen dari mereka mengaku tidak siap bekerja. Data tersebut menyebut sekitar 64 persennya menganggap syarat pengalaman kerja adalah hambatan terbesar saat melamar. Namun ketidaksiapan ini tak berlaku bagi dua alumni FISIP UMM yang baru dikukuhkan sebagai sarjana beberapa waktu yang lalu. Bagi Tasya Adhila Amalia dan Lintang Mayang, diterima bekerja sebelum lulus kuliah adalah sebuah pencapaian tersendiri. Wujudkan UMM Pasti: Tasya Adhila dan Lintang Mayang, dua alumni FISIP yang lulus tepat waktu, bekerja dan mandiri sebelum wisuda (foto: humas) Tasya Adhila, alumni Prodi Hubungan Internasional ini mengaku bahwa bekerja sebelum menerima ijazah adalah salah satu pencapaiannya dalam mengelola waktu. Aktivis lingkungan yang punya segudang aktivitas semasa kuliah ini mengatakan bahwa bekerja sebelum lulus ini membuktikan bahwa seorang fresh graduate juga memiliki kompetensi unggul yang siap digunakan. “Pengalaman dan skill itu bisa didapat ketika proses perkuliahan, tidak harus menunggu lulus baru mencari pengalaman,”ujar lulusan terbaik kedua Prodi HI ini. Sebelum diwisuda, Tasya diterima bekerja sebagai digital marketing di Hexa Corp, sebuah perusahaan digital marketing terkemuka yang berdiri di Sidoarjo. Tugasnya sebagai seorang digital marketing adalah menjalin relasi dengan perusahaan-perusahaan yang ingin menaikkan engagement produk. Tak hanya itu ia juga harus piawai menggunakan media digital sebagai upaya dalam kegiatan pemasaran, periklanan, dan promosi klien perusahannya. “Dunia digital marketing tidak terlalu asing bagi saya karena ketika kuliah saya aktif terlibat dalam project digital activist selama setahun di WWF Indonesia. Sebagai digital activist saya bertanggung jawab membuat content, meriset isu, dan membuat desain. Pengalaman saya terlibat dalam project tersebut sangat membantu ketika diterima sebagai bagian dari perusahaan tempat bekerja sekarang,”ungkap Tasya. Prodi HI melalui kelas diplomasi dan kelas komunikasi internasional, Tasya akui memberi pondasi yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan skillnya di bidang yang ia tekuni sekarang. Pengalaman bekerja sebelum wisuda juga dirasakan oleh Lintang Mayang, alumni Prodi Ilmu Komunikasi. Lintang diterima di Fre Media Indonesia, sebuah multimedia agency, sejak Maret 2021. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa multimedia ini menerima Lintang sebagai karyawan tetap sejak Maret 2021. Sebelumnya Lintang mengawali petualangannya menyiapkan pengalaman dan skill ketika memutuskan memilih magang di Fre Media sejak November 2020. “Meski tidak ada kewajiban magang, tapi saya memilih apply sendiri ke Fre. Saya menemukan informasinya dari Instagram. Saya tertarik magang di Fre karena masih relate dengan minat saya di bidang komunikasi,”tutur Lintang. Selama empat bulan, Lintang mengikuti magang di Fre Media. “Biasanya alur intern di Fre itu setelah selesai magang empat bulan akan ditawari intern plus tiga bulan. Tapi waktu itu saya sempat tidak menerima tawarannya karena saya mau focus skripsi. Ternyata Fre malah langsung menawari saya sebagai karyawan tetap disana. Hal ini pun memicu saya untuk semakin semangat untuk segera menyelesaikan skrispi,”imbuh Lintang. Lintang mengaku, pengalaman dan skill yang diperoleh saat praktikum di Prodi Ilmu Komunikasi dan berorganisasi di KINE Klub mendidik ia menjadi pribadi yang piawai bekerja dalam tim, bertanggung jawab dan selalu mau belajar. Lintang pun tak segan belajar lintas peminatan ketika studi di Ikom. Meski mengambil konsentrasi PR, ia tetap mendapat bekal kemampuan di bidang audio visual berkait keterlibatannya di UKM KINE Klub dan pengalaman di bidang jurnalistik saat ia menjadi freelance reporter di JTV Malang. Skill dan pengalaman, seperti yang dikemukakan dua alumni FISIP tersebut, sangat bisa didapatkan ketika menjalani proses perkuliahan. Program UMM Pasti yang dicanangkan oleh UMM juga mendukung setiap mahasiswa UMM untuk pasti lulus, pasti bekerja dan pasti mandiri. Berbagai jalur peningkatan skill dan pengalaman telah disediakan kampus melalui berbagai platform salah satunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Dengan dukungan dari kampus, mahasiswa sangat memungkinkan untuk mengupgrade skill dan pengalamannya melalui berbagai kegiatan sehingga alumni siap ketika berhadapan dengan dunia pasca kuliah,”ungkap Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. (wnd)
Sukseskan Kebijakan KTW, FISIP Kuatkan Sinergi Laboratorium

Sabtu, 22 Januari 2022 03:53 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Perubahan-perubahan yang terjadi di sejumlah lini kebijakan pendidikan, mau tak mau membuat FISIP harus antisipatif terhadap berbagai tantangan. Hal ini disampaikan oleh dekan FISIP pada kegiatan serah terima jabatan kepala dan sekretaris laboratorium di lingkup FISIP UMM, Sabtu (22/1). Hari ini, bertempat di aula baru FISIP, dekan melantik lima kepala laboratorium dan satu sekretaris laboratorium. Para pejabat struktural baru ini diantaranya adalah Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW (Kepala Lab Kesos), Ali Roziqin, S.AP, M.AP (Kepala Lab Ilmu Pemerintahan), Mochamad Aan Sugiharto, M.Sosio (Kepala Lab Sosiologi), dan Hafid Adim Pradana,M.A sebagai Kepala Lab Hubungan Internasional. Sedangkan laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi dipimpin oleh Widiya Yutanti,M.A sebagai Kepala Lab Ilmu Komunikasi, didampingi oleh Arum Martikasari, M.Med.Kom sebagai Sekretaris Lab. Dekan FISIP menyerahkan SK kepada Kepala Lab Ilmu Komunikasi, Widiya Yutanti,M.A (foto: nas) Dekan FISIP, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, mengatakan perubahan-perubahan yang cepat dan tidak pasti ini memerlukan kesadaran dan kemampuan dari para pejabat untuk melakukan manajemen dan pengelolaan risiko. Terlebih dalam menghadapi international competitiveness. Para kepala laboratorium harus mampu bekerjasama dan berkreasi untuk mendukung prodi menyiapkan program-program terbaik. “Kita harus paham jika laboratorium berada di bawah dua koordinasi, yang pertama secara struktur dikendalikan oleh Lab Sentral di bawah DPPM dan secara fungsional berada di bawah prodi sehingga harus selalu berkoordinasi dengan prodi. Lab perlu menanyakan tiga hal yakni apa visi misi prodi, capaian pembelajaran lulusan, dan profil lulusannya. Inilah yg diramu untuk dikembangkan di Lab sehingga Lab merupakan bagian dari prodi yang melayani prodi sebagai pengelola mahasiswa,”jelas Muslimin. Dekan juga berpesan agar para kepala lab senantiasa berkoordinasi dengan para pejabat terkait. Jika berkaitan dengan kerjasama, para pimpinan lab bisa berkoordinasi dengan unit kerjasama dan wakil dekan 3, jika berkaitan dengan pendidikan dan penelitian bisa berkoordinasi langsung dengan wakil dekan 1. “Atau bisa juga ke wakil dekan 2 jika terkait pengembangan SDM Lab. Pada dasarnya sebagai structural, kita harus mendukung kebijakan-kebijakan universitas. Misalnya terkait program kelulusan tepat waktu (KTW) maka lab membantu prodi untuk menerjemahkan bagaimana mengantisipasi kelulusan mata kuliah dengan sistem yang telah dibangun. Untuk itu saya harapkan para pimpinan laboratorium selalu berkoordinasi dengan induknya, yakni prodi, agar tercapai target yang telah kita sepakati,”ungkap Dekan. Dekan bersama kepala lab dan sekretaris lab, ketua GPMI dan pengelola unit kerjasama (foto: nas) Kepala Lab Sosiologi, Mochamad Aan Sugiharto, M.Sosio, usai kegiatan sertijab mengatakan bahwa dirinya siap untuk melaksanakan amanat pimpinan. “Salah satu kebijakan terdekat di lab Sosiologi adalah mahasiswa harus punya karya nyata yang terpublikasikan. Kami akan mendorong para mahasiswa untuk giat menulis, salah satunya mempublikasikan gagasan-gagasan di bidang sosiologi di berbagai media. Selain juga ada sejumlah program lain yang sedang dikoordinasikan dengan prodi Sosiologi dan ada juga yang berkolaborasi dengan prodi lain,”ujar Aan. Dalam sertijab kali ini, dekan juga menyerahkan SK jabatan secara langsung kepada ketua Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI) FISIP, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si dan pengelola unit kerjasama FISIP, Dr. Achmad Habib. (wnd)
Suprawoto, Mantan Dosen FISIP yang Kini Jadi Bupati Magetan

Kamis, 13 Januari 2022 01:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Masih lekat di benak Frida, sosok dosen berpakaian safari yang mengajar di kampus putih pada tahun 1994 lalu. Kala itu, Frida, panggilan akrab Dr. Frida Kusumastuti,M.Si, masih berstatus dosen muda saat pria berpakaian safari itu, mengajar di FISIP UMM. Ya, dosen tersebut adalah Dr. Suprawoto, M.Si, Bupati Magetan. Dulu, Suprawoto adalah dosen praktisi di Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP UMM. Selama kurun waktu tak kurang dari tujuh tahun, Suprawoto mengampu mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia. Kepiawaiannya dalam bidang hukum dan media, membuat pria yang waktu itu menjabat sebagai Kabit Pers dan Penerbitan Kantor Wilayah Departemen Penerangan Jawa Timur, dipercaya mengampu mata kuliah tersebut. Bupati Magetan, Suprawoto (kiri), memberikan bukunya yang berjudul Menjahit Mimpi Rakyat kepada Dekan FISIP UMM (kanan) (foto:humas) Meski menjadi pejabat, di sela-sela jam mengajar, Suprawoto tak canggung untuk mengajak dosen-dosen muda berdiskusi. Salah satu dosen muda yang sering ia ajak diskusi adalah Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ilmu Komunikasi saat ini. “Pak Woto ini sering sekali mengajak diskusi atau ngobrol tentang banyak hal. Sering juga memberi akses kami untuk menjalin kerjasama misal dalam kegiatan riset atau program-program tertentu,” tutur Nasrullah. Ditemui di sela-sela rapat penandatangan MoA dan SPK kerjasama FISIP dan Pemkab Magetan (12/1) lalu, Suprawoto mengenang masa ia menjadi dosen di FISIP UMM. “FISIP adalah bagian dari entitas yang berperan membesarkan saya. Ini saya tulis juga di salah satu bagian buku otobiografi saya yang saya tulis dalam bahasa Jawa. Buku otobiografi itu menceritakan perjalanan hidup saya dari kecil hingga jadi Bupati, termasuk ketika menjadi dosen di UMM, ada ceritanya disitu,”ucapnya mengenang. Buku otobiografi berjudul “Dalane Uripku” itu bahkan di tahun 2018 mendapat penghargaan MURI sebagai buku otobiografi pertama yang ditulis dalam bahasa Jawa. Meski sudah jadi Bupati, namun naluri akademisi Kang Woto, sapaan akrab Suprawoto, seolah tak mati. Sebab, bupati Magetan itu memang sangat rajin menulis. Bahkan sudah melakukannya jauh sebelum dia memimpin kabupaten di bagian barat Jawa Timur tersebut. Saat ini Kang Woto rutin menulis tiap pekan dalam dua bahasa sekaligus. Mengisi kolom ’’Bupati Menulis’’ di Jawa Pos Radar Madiun sejak 17 Desember 2019. Serta jadi kolumnis di Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa, yang telah dia lakoni secara konsisten selama 13 tahun tak terputus. Suprawoto (baju putih), berfoto bersama sejumlah dosen FISIP UMM (foto: humas) “Saya sebenarnya juga rindu mengajar. Kerinduan saya di dunia akademisi ini saya tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Setiap minggu saya punya karya tulisan, saya tulis pikiran-pikiran saya di sela-sela mengerjakan pekerjaan kantor. Jika pada umumnya orang sedekah di masjid, saya melakukan hal berbeda. Saya sedekah pengetahuan dengan membagikan buku-buku yang saya tulis di berbagai perpusatakaan,”ujar Bupati yang sudah melahirkan tujuh judul buku. Salah satu bukunya, berjudul Government Public Relations, adalah buah pikirnya yang berisi pengalaman saat menjabat sebagai Sekjen di Kementrian Kominfo. Kegigihannya untuk tetap menulis ini, terilhami dari sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Seperti kata Pram, menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah. Menurut Kang Woto, orang boleh pintar setinggi langit, boleh kaya setinggi langit, tapi kalau tidak menulis dia akan hilang dari pusaran sejarah. Hal itu kemudian menginspirasi Kang Woto untuk terus menulis hingga kini. Bahkan ia mengaku, salah satu bentuk kampanyenya ketika akan menjadi Bupati, juga lewat buku dan tulisan yang ia buat. Ia pun menginspirasi banyak guru di Kabupaten Magetan untuk berani menulis. Ia sering berseloroh, “Bupati aja sempat menulis, masak guru tidak,”kelakarnya setiap memotivasi para guru. Tak heran berkat konsistensinya, ia berhasil membawa Magetan menjadi kabupaten literasi. Data terbaru di 2019, indeks minat baca Kabupaten Magetan mencapai angka 74,76. Bahkan Magetan menjadi kota pertama yang memiliki spot wisata literasi di Indonesia. (wnd)
FISIP Gandeng Pemkab Magetan Wujudkan Center of Excellent
Rabu, 12 Januari 2022 21:28 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebagai salah bentuk tindak lanjut dari gebrakan baru FISIP untuk mewujudkan Center of Excellence (COE) terintegrasi, FISIP UMM melakukan kerjasama dengan Kabupaten Magetan. Kerjasama diawali dengan melakukan kunjungan silaturahmi ke Bupati Magetan, Dr. Suprawoto, M.Si. Kunjungan tersebut sekaligus juga mempresentasikan apa saja bentuk kerjasama melalui CoE yang akan dilakukan FISIP dengan Pemkab Magetan. Kegiatan penandatangan MoA dan SPK antara FISIP UMM dan Pemkab Magetan ini diadakan di ruang rapat Pendopo Surya Graha Kantor Bupati Magetan (12/1). Penandatangan MoA antara FISIP UMM dan Pemkab Magetan di Ruang Rapat Pendopo Surya Graha, Kantor Bupati Magetan (12/1) (foto:humas) Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Integrated COE atau COE Terintegrasi merupakan pusat unggulan yang dikembangkan oleh prodi di lingkungan FISIP UMM. Pembentukan COE merupakan bentuk dari respon FISIP pada universitas yang hendak mewujudkan institusi perguruan tinggi yang memiliki pusat unggulan berbasis riset dan disiplin ilmu pada masing-masing program studi. Pusat unggulan ini nantinya akan memiliki kontribusi pada kepentingan para stakeholders. Diantaranya adalah kepentingan mahasiswa, alumni, sektor swasta, Non-Government Organization (NGO), Persyarikatan Muhammadiyah, dan lembaga pemerintahan. Pemkab Magetan dipilih FISIP sebagai mitra CoE karena Magetan dinilai memiliki potensi tersembunyi yang layak untuk dikembangkan. Dekan FISIP UMM, Prof.Dr.Muslimin Machmud, M.Si mengatakan bahwa FISIP selalu berkomitmen untuk tidak hanya berdiri di menara gading keilmuan, namun juga akan melibatkan civitas akademika dalam pemberdayaan di masyarakat secara langsung. “Apalagi dengan program kelulusan tepat waktu yang digagas universitas, FISIP selain mengupayakan agar mahasiswa lulus tepat waktu, juga memberi mahasiswa keterampilan dan kemampuan yang pasti. Melalui CoE yang salah satunya bermitra dengan Pemkab Magetan ini FISIP bersama pemerintah bisa saling bahu-membahu bekerjasama membangun pengembangan potensi wilayah di Magetan. Program MBKM juga memberi wadah kita untuk lebih leluasa melibatkan berbagai pihak untuk mendukung terwujudnya program ini,”ungkap Dekan. Kedatangan FISIP UMM disambut baik oleh Bupati Magetan, Dr.Suprawoto,M.Si, kepala dinas dan sejumlah lurah yang dihadirkan untuk menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). Menariknya, sebelum menjadi Bupati Magetan, Dr.Suprawoto adalah dosen praktisi di FISIP UMM, khususnya di Prodi Ilmu Komunikasi. Dulu, di tahun 1994, selama beberapa tahun Suprawoto pernah mengajar mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia di Prodi Ikom. “Saya berterimakasih atas perhatian kampus melalui kerjasama ini. Apalagi saya merasa FISIP UMM adalah bagian dari entitas yang juga membesarkan saya karena dulu saya pernah mengajar juga sejak tahun 1994. Kehadiran UMM hari ini adalah anugerah bagi Kabupaten Magetan, apalagi dengan adanya MBKM sinergi antara pemerintah dan kampus akan semakin terbuka,”ujar Suprawoto. “Saya meyakini dengan banyaknya orang pintar (cendekia,red) yang terlibat dalam pengembangan wilayah Kabupaten Magetan, maka akan semakin maju. Wilayah Kediri ke barat jauh dari kampus-kampus besar, sehingga saya menganggap ini adalah anugerah ketika FISIP UMM hadir di Magetan melalui program sekolah-sekolah unggulannya,”imbuhnya. Ada sejumlah sekolah unggulan yang ditawarkan FISIP. Sekolah unggulan ini nantinya bisa diadakan di FISIP atau civitas akademika FISIP yang diundang ke Magetan. Prodi Hubungan Internasional menawarkan sekolah paradiplomasi atau Paradiplomacy Institute yang akan membuka potensi sister city Magetan dengan kota-kota di negara lain. Selain itu akan dilakukan pemetaan pasar global dan mitra global untuk mengembangkan potensi sentra pertanian, pariwisata, peternakan dan sektor-sektor lain yang dimiliki Magetan. Nasrullah, M.Si, kaprodi Ilmu Komunikasi dalam pemaparannya juga menyampaikan empat sekolah/kelas unggulan yang diberi nama Creative Digital Communication Classes. Keempat sekolah unggulan itu diantaranya adalah Kelas Digital PR branding dan digital matketing, Kelas Digital Videografi dan Content Creator, Kelas Journalism dan Media Analysis serta Kelas Digital Entrepreneurship. Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ikom, saat memaparkan sekolah unggulan creative digital communication di hadapan para lurah (foto:dyah) “Di kelas digital entrepreneurship, nantinya UMKM di Magetan yang stagnan akan kami beri pendampingan di bidang digital entrepreneurship dan akan melibatkan alumni-alumni Ikom yang punya keahlian khusus di bidang ini. Untuk kelas digital PR branding dan marketing kami akan membantu mendesain branding hidden gems atau potensi wisata di Magetan seperti yang pernah kami lakukan bersama mahasiswa di kampung-kampung tematik sebelumnya,”ungkap Nasrullah. Prodi lainnya, Ilmu Pemerintahan, menawarkan sekolah unggulan pengelolaan pemerintah daerah dan desa yang akan mengenalkan teknologi IT dalam pengelolaan daerah dan desa. Prodi Kesos menawarkan sekolah unggulan pemberdayaan masyarakat, dan prodi Sosiologi menawarkan kelas professional manager. (wnd)
Pleno, Prodi-Prodi di FISIP Paparkan Rencana Program Andalan

Selasa, 11 Januari 2022 21:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Operasional (Renop) merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan perguruan tinggi. Tak terkecuali untuk pengelolaan program studi. Pada hari ini (11/1) FISIP mengadakan rapat pleno pembahasan penyusunan rencana operasional (renop) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) prodi di Hall Kintamani, Grand Hap Kintamani Hotel, Magetan. Kegiatan ini berbarengan dengan rencana FISIP untuk melakukan kerjasama dengan Pemkab Magetan keesokan harinya. Rapat Pleno Pembahasan Renop dan RAB Prodi di lingkungan FISIP UMM (foto:humas) Para kaprodi dan sekprodi di lingkup FISIP UMM secara bergilir memaparkan renop dan RAB prodi. Pemaparan renop dan RAB prodi ini merupakan hasil perencanaan yang disusun berdasarkan renstra dan renop fakultas. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan dalam menyusun renop prodi, disesuaikan dengan profil lulusan dan CPL prodi. Selain itu, dalam menyusun program kerja, dekan menyarankan agar prodi senantiasa melakukan kroscek dengan rancangan anggaran belanja tahun sebelumnya. “Sebaiknya membuat program yang tidak cenderung mengulang program tahun sebelumnya. Artinya program tahun ini harus merupakan tindak lanjut dari program yang sudah diadakan di tahun sebelumnya,”ungkap dekan. Dekan juga menekankan dalam mewujudkan program kerja di fakultas para pimpinan perlu menggunakan prinsip kerja-kerja dokumen, tidak sekedar memimpin dengan intuisi. Kerja berbasis dokumen ini penting agar capaian yang ingin dicapai terukur dan terdokumentasi dengan baik. “Dalam menyusun anggaran program, selain harus menyesuaikan dengan profil lulusan dan CPL prodi, program yang disusun juga perlu disesuaikan dengan agenda MBKM, KESI, dan program-program unggulan universitas,”imbuhnya. Suasana rapat pleno di Kintamani Hall, Grand Hap Kintamani Hotel, Magetan (11/1) (foto:humas) Sebagai bentuk dukungan atas implementasi renop, lanjut dekan, diperlukan komitmen semua unsur sivitas akademika dan konsistensi semua unsur pimpinan. Semua dosen di lingkungan FISIP UMM juga “dititipi” tiga hal ketika mengajar di kelas. Ketiga hal yang harus disampaikan oleh para dosen kepada mahasiswa terkait visi misi program studi, profil lulusan dan capaian pembelajaran lulusan (CPL) prodi. Ketiga hal ini akan bermuara pada tiap-tiap CPMK (capaian pembelajaran mata kuliah). Kelima prodi dalam kegiatan pembahasan mengusung sejumlah program kerja yang akan diajukan dalam RAB tahun 2022. Prodi Hubungan Internasional, contohnya. Prodi termuda di FISIP ini merencanakan program untuk membantu penyelesaian studi mahasiswa khususnya bagi mahasiswa yang mengalami mental illness. Mental illness adalah gangguan kesehatan mental yang dapat menghambat proses penyelesaian studi. “ Hal ini merupakan bentuk dukungan prodi HI untuk peningkatan mutu kemahasiswaan,”ujar M Syaprin Zahidi, M.A, Kaprodi Hubungan Internasional. (wnd)
Targetkan Minimal SINTA 2, FISIP Lakukan Pendampingan Pengelolaan Jurnal

Kamis, 06 Januari 2022 04:42 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Publikasi di jurnal ilmiah berperan penting sebagai salah satu indikator kemajuan suatu negara. Sebagai upaya meningkatkan kualitas jurnal di lingkup FISIP UMM, Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) sebagai sebuah lembaga di bawah fakultas, pada hari ini Kamis (6/1) menggelar Pendampingan Pengelolaan Jurnal Berbasis 3.0. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengelola jurnal di lingkup FISIP UMM. Dalam pelaksanaan pendampingan, kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk jurnal yang telah terakreditasi SINTA dan sesi dua untuk jurnal yang belum terakreditasi. FISIP memiliki Jurnal Local of Government Issues (LOGOS) yang telah terakreditasi SINTA 2, Jurnal Sospol (terakreditasi SINTA 3) dan Jurnal Partisipatoris (terakreditasi SINTA 4). Sedangkan dua jurnal lainnya, yaitu Medio, Global Local Interactions dan Intersos, belum terakreditasi. Para pengelola jurnal mengikuti kegiatan pendampingan (foto:ird) Dua pembicara dihadirkan dalam pendampingan kali ini. Kedua pemateri tersebut adalah Dr. Atok Miftachul Huda, M.Pd selaku Editor in Chief Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia (JPBI) dan Dana Marsetiya Utama, S.T.,MT selaku Managing Editor Jurnal Teknik Industri (JTI) UMM. Kedua jurnal yang dikelola kedua pemateri tersebut juga telah terakreditasi SINTA 2. Atok menekankan ada dua kunci menuju jurnal bereputasi tinggi dan baik yakni manajamen pengelolaan jurnal yang professional dan berbasis Open Journal Systems serta subtansi artikel. “Substansi artikel paling penting karena memiliki bobot penilaian paling tinggi dalam penilaian Jurnal karena itu harus betul-betul berkualitas. Naskah berkualitas salah satunya bisa dilihat dari kualitas judul yang informatif, abstract yang jelas, pendahuluan yang menegaskan tujuan penelitian dan memiliki novelty, metode yang jelas dan spesfifik,”jelasnya. Selain itu ia menambahkan bahwa hasil dan pembahasan dalam naskah harus mampu secara elaboratif menjawab tujuan penelitian dengan data yang kuat dan mendalam. “Dalam membuat kesimpulan penulis juga mampu menjawab pertanyaan serta menyebutkan keterbatasan dan rekomendasi untuk kajian selanjutnya. Selain itu juga daftar pustaka yang digunakan mayoritas berasal dari jurnal bereputasi dan terbaru maksimal tujuh tahun terakhir,” imbuh Atok. Para punggawa jurnal di lingkup FISIP UMM: Berfoto usai kegiatan pendampingan Ukuran bermutu dari sebuah jurnal juga dapat diukur dari pengakuan yang diberikan oleh pihak luar yang netral dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sangatlah wajar apabila sebuah karya ilmiah bermutu harus melewati proses penelaahan (review) yang ketat oleh mitra bestari (peer review) dan diterbitkan oleh penerbit ilmiah yang berwibawa. Akreditasi jurnal dikembangkan sebagai sarana untuk mengukur apakah suatu jurnal sudah memenuhi syarat minimum mutu penerbitan ilmiah. Dana Marsetiya, pemateri kedua, menekankan pentingnya pemahaman OJS 3 yang berbeda dengan OJS 2. Oleh karena itu pengelola perlu memahami khususnya terkait cara pengisian identitas jurnal di website dan alur proses review naskah. Wakil Dekan 1 FISIP UMM, Dr. Salahudin, S.IP, M.Si, M.PA berharap kegiatan pendampingan ini bisa meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal di lingkungan FISIP. Target akhirnya adalah semua jurnal di FISIP dapat bereputasi nasional minimal SINTA 2 atau bahkan bisa terindeks Scopus (wnd/ird)
Fastabiqul Khoirot Jadi Konsep Kunci dalam Merespon Keberagaman

Rabu, 05 Januari 2022 06:07 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ibarat pepatah ‘mencari jarum dalam tumpukan jerami’, tampaknya harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara, dewasa ini terasa utopis. Pasalnya, Indonesia yang terkenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam prakteknya berbanding terbalik, intoleransi terjadi di sana-sini. Islam pun menghadapi tantangan tersendiri dalam merespon keberagaman di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya akademisi untuk berkontribusi dalam merespon problema tersebut, hari ini FISIP UMM melalui Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) menggelar Kajian Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Kajian AIK hari ini (5/12) diadakan secara virtual dan mengusung tema Tantangan Islam dalam Multikulturalisme di Indonesia. Prof. Dr. Ahmad Nadjib Burhani, M.A saat menjadi pemateri dalam Kajian AIK PKSP FISIP (foto by: subhan) Hadir sebagai pembicara pada kajian AIK kali ini adalah Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). Ia mengatakan dalam konteks keberagaman, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah bagaimana bisa berdampingan dengan perbedaan. “Di Muhammadiyah, konsep fastabiqul khoirot yakni berlomba-lomba melakukan kebaikan adalah konsep ideal dalam merespon perbedaan dan keberagaman. Bukan dengan cara membenci atau memusuhi yang berbeda dengan kita, namun menjadikan sebagai sebuah pemantik untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan,”ujar peraih Muhammadiyah Award 2021 Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Lebih lanjut, Nadjib juga menyitir lima surat dalam Al Quran yang umumnya dijadikan landasan dalam berelasi antar umat beragama. Kelima surat itu adalah Al Ankabut 29:46, Al Kafirun 109: 1-6, Al Maidah 5:48, Al Anbiya 21:107, dan Al Baqarah 2:120. Dalam surat Al Ankabut ayat 46 disebutkan bahwa ‘Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah,Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri’. Ayat tersebut menurut Nadjib dimaknai sebagai himbauan agar dalam melihat perbedaan, tidak perlu saling memusuhi dengan yang berbeda. Tapi justru harus merayakan perbedaan itu sebagai bagian dari rahmat Allah. “Sesuai Al Maidah ayat 48, umat Islam diajarkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satu penggalan ayatnya menyatakan bahwa Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan,”jelas Nadjib. Ajaran untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan ini menjadi spirit Muhammadiyah untuk mendirikan amal usaha pendidikan agar umat Islam menjadi umat yang unggul. Muhammadiyah bergaul dan melihat yang berbeda dengan semangat berkompetisi dalam kebaikan. “Tidak bersumbu pendek. Melihat kelompok lain yang berbeda untuk meneladani semangat melakukan kebaikan, atau berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan,”tegas guru besar yang juga penulis buku Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism and Populism. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan Al Islam Kemuhammadiyahan merupakan bagian penting dalam penerapan catur dharma perguruan tinggi. AIK juga menjadi salah satu bagian dari misi universitas yaitu menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan terhadap sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai AIK. “Mengelola keberagaman adalah bagian dari upaya memasyarakatkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Semoga melalui kajian ini, semangat multikulturalisme bisa dibangun sebagai cerminan dalam membangun hubungan antar umat beragama yang harmonis,”tutur Muslimin. (wnd)
Dukung Percepatan Jabatan Fungsional, FISIP Latih Tendik Digitalisasi Dokumen

Kamis, 30 Desember 2021 10:09 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Tugas dosen di sebuah perguruan tinggi, tidak sekedar mengajar saja. Tanggung jawab menjalankan tridharma perguruan tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian wajib dilaksanakan oleh dosen di seluruh Indonesia. Selain itu, berdasar aturan pemerintah, setiap dosen yang telah memiliki pengalaman kerja sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, wajib memiliki jabatan akademik minimal Asisten Ahli. Tak hanya berhenti di asisten ahli, dosen juga harus senantiasa mengupgrade jabatan fungsionalnya hingga diharapkan mampu memperoleh jabatan fungsional tertinggi, yakni guru besar. Suasana pelatihan digitalisasi dokumen untuk tendik FISIP (foto by: humas) Sebagai langkah konkret mendukung perkembangan jabatan fungsional dosen, FISIP UMM memfasilitasi para dosen untuk melakukan digitalisasi dokumen. Digitalisasi dokumen ini penting agar dosen lebih mudah untuk mengurus jabatan fungsionalnya. Langkah konkret ini diambil pasca hearing dengan seluruh dosen FISIP yang memiliki jabatan fungsional asisten ahli pada hari Kamis, 29 Desember 2021 di ruang sidang FISIP UMM. Pimpinan fakultas mengadakan pertemuan untuk mengidentifikasi kesulitan atau permasalahan dosen saat mengurus jabatan fungsionalnya. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan dari hasil identifikasi diketahui bahwa dosen membutuhkan dukungan dalam melakukan digitalisasi dokumen. “Digitalisasi dokumen menjadi salah satu hambatan para dosen dalam pengurusan jabatan fungsional. Sehingga kami rasa perlu ada support fakultas untuk mengantisipasi hal tersebut. Tidak hanya untuk kepentingan jafung saja, namun digitalisasi dokumen ini penting untuk merecord portofolio dosen yang harus dilaporkan melalui aplikasi SISTER miliki Dikti,”jelas Muslimin. Serius berlatih, para tendik pada pelatihan digitalisasi dokumen hari ini (30/12) (photo by: humas) Oleh karena itulah, pada hari ini, pimpinan fakultas mendelegasikan para tenaga kependidikan (tendik) untuk mengikuti pelatihan digitalisasi dokumen. Kegiatan ini merupakan program fakultas untuk optimalisasi kriteria dosen tetap prodi secara kuantitas maupun kualitasnya. Sukam, ST, Kepala Urusan Administrasi Registrasi Kepegawaian Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian dan Umum (BAKKU) UMM diundang untuk menjadi pemateri dalam pelatihan yang diadakan di ruang sidang FISIP UMM. “Aktivitas dosen dan pegawai harus dilaporkan melalui SISTER. Dosen memiliki tanggung jawab melaporkan Beban Kerja Dosen (BKD) dan Lembar Kerja Dosen (LKD). BKD dilaporkan setiap awal bulan November dan LKD dilaporkan setiap bulan November-Februari. Jika tidak dilaporkan maka dosen dianggap tidak aktif. Rencana ke depan ada wacana pengurusan jafung melalui SISTER. Jika selama ini pengurusan jafung melalui aplikasi manual melalui LLDIKTI, ke depan rencananya sudah terintegrasi melalui SISTER,”tutur Sukam. Lebih lanjut Sukam menjelaskan bahwa aplikasi SISTER ini menggunakan basis data portofolio dengan satu basis untuk semua keperluan yang memuat kinerja Tri Dharma Dosen. Portofolio tersebut dapat dipakai untuk proses-proses pengembangan karir dosen. Integrasi antara SISTER dengan Pangkalan Data Dikti akan mengurangi beban dosen dalam pengisian portofolio. Pada pelatihan digitalisasi dokumen hari ini, seluruh tenaga kependidikan FISIP mulai dari pegawai tata usaha prodi, fakultas dan laboran dilibatkan langsung dalam pelatihan teknis tersebut. Melalui pelatihan ini, pimpinan fakultas berharap para tendik di FISIP UMM menjadi support system bagi para dosen dalam melakukan pengisian portofolio tersebut. Wakil Dekan II Bidang Keuangan, Kepegawaian, SDM dan Umum, Dr.Dyah Estu Kurniawati, M.Si mengatakan upaya FISIP ini juga ditujukan mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU). “FISIP juga sedang mengembangkan sebuah sistem yang dinamakan SIM-FISIP. Kewajiban dosen untuk membuat laporan BKD-LKD ini relate dengan sistem yang sedang dibangun FISIP. Semoga upaya digitalisasi dokumen ini akan memudahkan dosen kita untuk meningkatkan performa terbaiknya,”ujar Dyah. (wnd)
FISIP Borong Prestasi di Student Awards UMM 2021

Kamis, 16 Desember 2021 03:09 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kejutan menggembirakan dirasakan civitas akademika FISIP UMM. Semalam, di event penganugerahan gelar untuk prestasi insan UMM di bidang kemahasiswaan, Student Awards UMM 2021, FISIP memborong dua penghargaan sekaligus. Prodi Ilmu Komunikasi FISIP diganjar sebagai peringkat kedua prodi dengan capaian prestasi terbaik di bidang kemahasiswaan. Dosen Ilmu Komunikasi, Zen Amirudin, M.Med.Kom, juga meraih predikat sebagai dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi. Wadek 3 FISIP, Himawan Sutanto, Dekan FISIP Muslimin Machmud dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Nasrullah usai menerima penghargaan prodi dengan capaian prestasi di bidang kemahasiswaan (foto: nas) Penghargaan untuk prodi dengan capaian prestasi terbaik di bidang kemahasiswaan diterima langsung oleh Kaprodi Ilmu Komunikasi, Nasrullah, S.Sos, M.Si. “Ini penghargaan untuk mahasiswa. Terima kasih kepada pengelola prodi terdahulu yang sudah menyertai prestasi ini, terutama kepada pak Himawan dan bu Widiya,”ungkap Nasrullah. Prodi Ilmu Komunikasi memang layak memperoleh predikat tersebut. Prodi Ikom telah mencatatatkan banyak prestasi baik prestasi mahasiswa yang berada di bawah Belmawa maupun capaian prestasi mandiri. Berdasarkan data di biro kemahasiswaan, setidaknya ada puluhan jenis prestasi membanggakan di bidang penalaran, seni, olahraga dan agama yang ditorehkan mahasiswa Ikom pada tahun 2020. Beberapa diantaranya adalah PKM Pendanaan Belmawa, juara pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres), Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM), Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional dan Lomba Video kreatif. Kejuaraan tersebut, diselenggarakan oleh Belmawa dan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemdikbud RI. Tidak hanya itu, sejumlah penghargaan juga diperoleh Prodi Ikom dalam kejuaraan mandiri. “Kejuaraan di Belmawa dan Puspresnas mendapatkan skor yang tinggi di pemeringkatan Simkatmawa. Selamat untuk Prodi Ilmu Komunikasi, semoga menginspirasi untuk menambah capaian prestasi berikutnya,”tutur Dr. Nur Subeki, ST, MT, Wakil Rektor 3 UMM, usai ditemui pasca gelaran Student Awards. Zen Amirudin, M.Med.Kom, dinobatkan sebagai dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi berkat kiprahnya dalam bidang kemahasiswaan. Frendy Aru Fantiro, M.Pd, Kaur Minat Bakat Kemahasiswaan mengatakan bahwa Zen berhasil mendampingi dan memotivasi mahasiswa untuk berprestasi. “Selain dinilai sukses mendorong mahasiswa sukses lolos PIMNAS, beliau juga memiliki kontribusi yang cukup besar di kemahasiswaan. Tidak hanya untuk mahasiswa FISIP namun levelnya juga di lingkup universitas,”ungkapnya. Di FISIP, Zen ketika menjabat sebagai wakil dekan 3, juga berhasil mengantarkan FISIP kembali mempertahankan juara Rector Cup. Yaitu Rektor Cup 2018 dan Rektor Cup 2020. Di tahun 2020, sebanyak tujuh mahasiswa FISIP dari total sebelas mahasiswa se UMM, lolos seleksi dalam program beasiswa internasional IISMA kemenristekdikti. Zen menunjukkan piala dan sertifikat penghargaan usai penganugerahan gelar dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi (foto:humas) Dekan FISIP UMM, Dr. Muslimin Machmud, M.Si menyambut bangga prestasi yang diraih oleh dosen dan Prodi Ikom ini. Ia berharap prestasi tersebut bisa memotivasi untuk terus berprestasi, baik untuk Prodi Ikom maupun prodi-prodi lain. Dia berpesan agar dosen dan seluruh prodi di FISIP berlomba-lomba menorehkan prestasi. “Semoga seluruh civitas akademika FISIP tetap semangat untuk terus berkarya dan berprestasi, sekecil apapun itu. Semua itu kita lakukan sebagai bagian dari dharma bakti kita untuk almamater yang kita cintai ini,”pesan Muslimin. (wnd)