Raih Predikat Disertasi Terbaik, Dosen FISIP Lulus Doktor Dalam Dua Tahun

Kamis, 09 Desember 2021 05:15 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Meraih gelar doktor di usia muda, mungkin menjadi impian sebagian besar akademisi. Dr.Salahudin, S.IP, M.Si, M.PA adalah salah satu dosen FISIP yang berhasil meraih gelar doktor di usia 36 tahun. Tak hanya itu, dosen Prodi Ilmu Pemerintahan ini juga diganjar predikat cumlaude dalam Wisuda Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, (8/12) lalu. Disertasinya juga mendapat penghargaan khusus sebagai disertasi terbaik. Ia juga berhasil menyelesaikan program doktornya relatif cepat, hanya dua tahun saja. Usai Wisuda: Dr. Salahudin bersama promotornya, Prof. Dr. Nurmandi (foto: ist) Nothing worth having comes essay. Deretan keberhasilannya tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. Perjuangan memperoleh predikat tersebut diakui Salahudin butuh kerja keras dan konsistensi. “Kerja keras adalah salah satu hal yang harus kita lakukan. Selain itu support system baik dari promotor, keluarga dan kampus saya UMM menjadi hal yang sangat berharga bagi studi saya,”ungkapnya. Disertasinya yang berjudul Analisis Jejaring Politik dalam Praktik Korupsi di Kota Malang dan Kabupaten Malang, dinilai terbaik oleh UMY karena memiliki kebaruan metode. Ia berhasil melakukan inovasi dengan menggabungkan analisis data kualitatif dengan software analisis. Salahudin menunjukkan sertifikat penghargaan disertasi terbaik di depan gedung JKSG (foto: ist) Riset disertasinya menemukan bahwa ada kepentingan kelompok, pribadi, bisnis yang terlibat sehingga akhirnya kebijakan APBD yang dirumuskan bersama tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Lalu bagaimana jejaring yang dilakukan oleh para aktor korupsi tersebut? Salahudin mengatakan jika praktik korupsi ini didukung okeh jejaring politik yang melibatkan politik pengaruh dan politik dominasi. “Dua dominasi ini mendorong para aktor politik mendorong melakukan korupsi. Politik pengaruh menggunakan kekuatan politik memengaruhi aktor-aktor lain, baik di struktur politik, struktur parlemen atau di luar itu. Politik dominasi juga mendorong elit politik yang berkuasa di dalam mengambil dominasi dalam pengambilan keputusan. Mereka juga memengaruhi dominasi aktor-aktor politik lain sehingga mendominasi pengambilan kebijakan,”jelas dosen yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan 1 FISIP bidang akademik. Melalui inovasi metode riset yang ia lakukan, ia berhasil menemukan siapa saja aktor yang berperan dalam arus jejaringnya. Setelah menyelesaikan program doktoralnya ini, Salahudin mengaku ia akan terus melakukan riset dan publikasi. “Alhamdulillah saya sudah mencatatkan 46 publikasi Scopus dan insya Allah masih ada beberapa draft lagi yang akan dipublikasikan. Untuk bisa berhasil kuncinya memang harus focus, disiplin dan bekerja dengan target. Jangan takut juga untuk belajar hal-hal baru, khususnya inovasi dalam metode penelitian,”ujarnya. (wnd)
Tumpas Berita Hoax, Pakar Komunikasi FISIP UMM Ingatkan Peran Pemerintah dan Media Massa

Kamis, 09 Desember 2021 04:43 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Semeru baru saja meletus. Namun info berita terkait bencana ini pun tak lepas dari hoax. Tak jarang munculnya video-video lama tentang bencana alam, disinyalir justru menambah kepanikan. Hal ini disampaikan oleh Sugeng Winarno, M.A, pakar komunikasi FISIP UMM pada program Idjen Talk di Ameg TV (9/12) lalu . “Apapun bisa jadi hoax saat ini, hal ini disebabkan penetrasi teknologi komunikasi di masyarakat sudah sangat kuat. Di daerah-daerah pedesaan juga sudah tersentuh oleh smartphone. Ada semacam keinginan, kebanggaan, jika konten viral. Selain itu juga ada latar belakang ekonomi, ya seperti sengaja mencari keuntungan gitu lah,”ungkap Sugeng. Lebih lanjut, Sugeng yang juga dosen di Prodi Ilmu Komunikasi ini menjelaskan maraknya pembuat hoax di media sosial juga termotivasi oleh sistem algoritma internet. Ia menyebut, jika sebuah kata itu dicari banyak orang, algoritma kata tertentu naik sehingga memotivasi orang untuk membuat konten yang menyesuaikan dengan tren algoritma tersebut. Selain itu media sosial memiliki karakter user generated content yang memungkinkan setiap pihak bisa membuat berita. Efeknya adalah medsos memungkinkan munculnya penulis anonim, setiap orang bisa melemparkan isu dengan tujuan mengacaukan situasi. Sebenarnya masalah berita hoax ini bisa diatasi jika literasi media di masyarakat kita cukup baik. “Tapi masalahnya literasi media atau melek media di masyarakat kita tidak sejalan dengan makin masifnya perkembangan teknologi komunikasi. Melek media ini dalam artian kemampuan teknis dan kemampuan kritis dalam mengkonsumsi konten,”jelas Sugeng Winarno. Ia menyebut pendidikan literasi media di Indonesia belum mendapatkan porsi khusus di kurikulum. Di banyak negara maju, pendidikan literasi media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum pendidikan. Inggris, Jerman, Kanada, Perancis, dan Australia merupakan beberapa contoh negara yang telah melaksanakan pendidikan literasi media di sekolah. Padahal berdasarkan hasil riset, dalam sehari orang rata-rata menggunakan smartphone lebih dari 3,5 jam. “Inilah menurut saya penting sekali kita memasukkan literasi media ini dalam pendidikan di sekolah. Faktanya saat ini pendidikan literasi media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, roadshow, dan kampanye-kampanye mengenai literasi media. Literasi media tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye selama seminggu,”ungkapnya. Perkembangan teknologi komunikasi memang menimbulkan wajah ganda. Di satu sisi teknologi komunikasi penting bagi kehidupan manusia, tapi di sisi lain teknologi juga bisa membuat orang berbicara nir etika. Orang juga dengan gampang membuat narasi yang tidak karuan sehingga muncul fenomena banjir informasi. Banjir informasi ini juga sebabkan fenomena matinya kepakaran. “Artinya orang bisa ngomong tentang apa saja, misalnya saja bukan ahli bencana ngomong bencana, ini kan berbahaya sekali. Sebagai contoh informasi kesehatan. Riset mengatakan 90% informasi kesehatran di WA itu hoax, kan ini berbahaya. Begitu juga tentang berita tentang bencana, saya rasa masyarakat perlu hati-hati dalam menyikapi informasi,”imbuhnya. Sugeng menyebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal ini. Pemerintah melalui Kominfo harus menjadi benteng bagi membanjirnya fenomena hoax dengan kuasa kebijakan yang dimilikinya. Media mainstream pun harus ikut hadir sebagai media penjernih informasi. Ia menyebut jangan sampai media mainstream justru malah ikut-ikutan media sosial menyuburkan berita hoax. (wnd)
Monev Blockgrand, Dosen FISIP Paparkan Progress Report Riset dan Pengabdian

Selasa, 07 Desember 2021 10:50 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebanyak 46 judul penelitian dan 18 judul pengabdian dipresentasikan oleh para peneliti dan pengabdi dalam proses monitoring dan evaluasi (monev) laporan kemajuan. Hari ini (7/12) para dosen FISIP yang sudah mengajukan proposal penelitian dan pengabdian diminta untuk memaparkan progress reportnya di hadapan para reviewer. Seluruh peneliti dan pengabdi menyajikan presentasinya secara daring melalui platform zoom. Pembukaan monev laporan kemajuan blockgrant riset dan pengabdian FISIP UMM (photo by: humas) Dalam pembukaan monev hari ini Dekan FISIP UMM, Dr. Muslimin Machmud, M.Si menyampaikan bahwa monev adalah bagian dari tanggung jawab peneliti dan pengabdi. ”Aktivitas tridharma harus dilakukan secara sungguh-sungguh maka perlu dipertanggungjawabkan melalui mekanisme monev. Laporan kemajuan ini adalah titik awal laporan akhir, semoga menjadi penguat bagi kegiatan tridharma,”ujar Dekan FISIP. Hasil penelitian dan pengabdian para dosen FISIP ini selain diselesaikan dalam bentuk laporan akhir juga dipublikasikan. Tujuan publikasi ini adalah agar kebermanfaatan dari hasil karya riset dan pengabdian pada masyarakat tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat. Selain itu melalui publikasi ilmiah dosen dapat memberikan informasi kepada pembaca, khususnya dari kalangan akademisi atau para ahli di bidangnya.“Hasil penelitian dan pengabdian harus dipublikasikan di jurnal terakreditasi nasional maupun internasional. Jangan sampai hanya berhenti disimpan dan dibaca-baca sendiri. Dosen harus mempublikasikan hasil karya penelitian dan pengabdiannya,”ungkap Muslimin . Presentasi salah satu periset dalam breakout room (photo by: frida) Wakil Dekan 1 bidang akademik, penelitian dan AIK, Dr.Salahudin, M.Si, M.PA mengatakan bahwa dalam membuat publikasi ilmiah ini para peneliti dan pengabdi harus memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Penyusunan publikasi ilmiah dilakukan berdasarkan hasil koreksi beberapa ahli sesuai bidang keilmuannya (peer review) untuk mencapai objektivitas yang tinggi. “Oleh karena itu sebelum dibuat laporan akhir dan disubmit ke jurnal, para peneliti dan pengabdi harus menyampaikan laporan kemajuannya di hadapan reviewer terpilih. Tujuannya selain mempertanggungjawabkan progress report juga untuk mendengarkan masukan dari reviewer dan para peneliti lainnya,”ujar doktor ilmu politik tersebut. Zen Amirudin, M.Med. Kom, salah satu peneliti menyampaikan bahwa penelitiannya sudah memasuki tahap pengkomunikasian ke pihak jurnal terakreditasi Sinta 2 yang menjadi tujuan publikasinya. Dosen yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Airlangga ini menyusun penelitian yang berjudul Model Komunikasi Politik Transformatif dalam Pilkada Kabupaten Malang. Riset tersebut merupakan bagian dari fishbone riset disertasinya. “Saya sudah mengkomunikasikan ke pihak pengelola jurnalnya, semoga bisa dimuat di Jurnal Komunikasi UIN Jogja. Sudah Sinta 2, sih,”tuturnya. (wnd)
Sisihkan 400 Karya, Dosen FISIP Juarai Kompetisi Ide Cerita Film Nasional

Senin, 06 Desember 2021 22:15 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP UMM memang gudangnya para filmmaker handal. Baru-baru ini salah satu dosen FISIP bersama mahasiswa dan alumni berhasil membawa pulang juara ketiga kategori Ide Cerita Terbaik dalam Anti Corruption Film Festival 2021 (ACFFEST) yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dosen FISIP tersebut adalah Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi yang juga sudah tersertifikasi sebagai seorang filmmaker. Lewat film pendek berjudul Persen-an, Novin berhasil menyisihkan tidak kurang dari 400 karya proposal film lainnya. Novin Farid Styo Wibowo, M.Si, dosen Ikom juarai kompetisi Ide Cerita Film ACFFEST 2021 (photo: ist) Dalam pembuatan film ini, Novin berperan sebagai produser dan penulis skenario. Ide cerita yang ia tulis dalam film Persen-an berhasil mengalahkan 424 proposal yang masuk di panitia ACFFEST. “Awalnya dipilih 40 besar kemudian dipilih lagi 20 besar. Dari 20 besar itu lalu dipertemukan dengan para juri diantaranya Kamila Andini, seorang sutradara ternama di Indonesia. Dari 20 proposal itu terpilih 10 karya. Kemudian kesepuluh karya tersebut didanai 30 juta per karya. Alhamdulillah Persen-an lolos didananai dan dimentori untuk kemudian diwujudkan dalam sebuah produksi,”ungkap Novin. Di balik layar pembuatan Film Persen-an (photo: ist) Melalui bendera Raya Media Creative, Novin menggandeng dosen, alumni dan mahasiswa Ikom UMM. Salah satu dosen yang digandeng Novin adalah Rahadi, M.Si yang berperan sebagai pak Bowo, seorang pejabat desa yang culas dan suka minta persenan. Beberapa nama dosen dan alumni Komunikasi juga tergabung dalam film ini. Diantaranya adalah Lukman Hakim sebagai sutradara, Bhekti Setyowibowo sebagai Pak Karyo, makelar proyek dan alumni Ikom, Grise Febrianto yang memerankan Jon, si film maker. Dosen Ikom Rahadi, berperan apik sebagai Pak Bowo, pejabat culas yang suka persenan (photo: ist) Film Persen-an bercerita tentang dua orang filmmaker, yaitu Ocir dan Jon, yang terjebak dalam lingkaran korupsi gara-gara mendapatkan proyek dari pemerintah lokal. Dalam film itu dikisahkan bahwa di pemerintah lokal tersebut, setiap ada pengadaan proyek selalu ada potongan yang disebut dengan istilah persenan. Korupsi berupa persenan atau potongan yang dilakukan oleh para pejabat lokal dalam cerita ini dikisahkan sangat mengganggu proses produksi. Sebab hal itu menyebabkan hasil karya film yang dihasilkan menjadi turun kualitasnya, akibat banyaknya pengurangan dana di banyak sisi akibat pejabat yang minta komisi. “Persenan ini dalam KBBI artinya hadiah atau pemberian. Jadi film ini mengangkat fenomena di pemerintahan yang menerapkan potongan sejumlah beberapa persen dana sehingga mengurangi jumlah uang proyek yang diterimakan. Film yang dihasilkan dalam ACFFEST nantinya akan dijadikan sebagai media untuk sosialisasi KPK,”ujarnya. All crew yang terdiri dari dosen, alumni dan mahasiswa Ikom FISIP UMM berpose usai proses produksi (photo: ist) Novin menyebut hambatan dalam pelaksanaan adalah cuaca. Hujan di daerah Ketapanrame Trawas, yang menjadi lokasi pengambilan gambar film, sempat mengganggu proses produksi. Namun hal itu bisa diatasi oleh timnya, sehingga proses produksi yang memakan waktu tiga hari tersebut bisa berjalan dengan lancara. Menariknya, film ini rencananya juga akan diikutkan dalam beberapa festival baik nasional maupun internasional. “Jadi film Persen-an tidak akan berhenti sama disini saja, kami akan mengikutkannya dalam beberapa festival baik nasional maupun internasional,”ujar Novin. Selamat! (wnd)
Dosen FISIP Latih Napi Perempuan Menulis Buku

Narapidana yang keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) umumnya tidak meninggalkan kenang-kenangan yang unik. Tetapi para penghuni Lapas Perempuan II A, Malang punya semangat untuk meninggalkan jejak cerita dalam wujud buku. Antusiasme mereka terlihat saat mengikuti pelatihan dan pendampingan menulis. Mereka ingin menggelorakan semangat literasi meskipun menjadi penghuni penjara. Acara yang bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Kepenulisan Sebagai Bagian dari Melek Media Pada Warga Binaan Lapas” ini diselenggarakan oleh empat dosen Prodi Ilmu Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Lapas Perempuan II A Malang (6/12/21). Program ini merupakan program pengabdian masyarakat yang didanai oleh mekanisme blockgrant fakultas. Widiya Yutanti, saat memberikan materi tentang kepenulisan di depan para napi perempuan (foto: ist) Warga binaan ini tidak sembarangan. Mereka dipilih dengan ketat untuk mengikuti acara itu. “Kita seleksi dengan ketat. Sebenarnya kita ingin bebaskan semua mengikuti. Yang antusias banyak. Tetapi karena melihat efektifitas pelaksanaan maka kita pilih 40 warga binaan. Pelatihan ini penting dilakukan agar tak ada kesan mereka disini hanya dipenjara, tetap benar-benar dibina,“ tegas Hamlana Rizka AE Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Kasubsi Bimkemaswat) Lapas Perempuan Kelas II A Malang yang berdiri 1969 tersebut. Saat memberikan sambutannya, M. Himawan Sutanto, salah satu tim pengabdi mengungkapkan bahwa itu tanggung jawab kita sebagai kampus untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Kebetulan saja yang dipilh saat ini di Lapas Perempuan Kelas II A Malang. “Saya berharap nanti endingnya para peserta membuat tulisan. Lalu dikumpulkan menjadi satu jadi sebuah buku. Kita akan carikan sponsor. Minimal mereka saat keluar punya kenang-kenangan punya buku, “ tegas dosen yang juga Wakil Dekan III FISIP UMM itu. Acara yang diikuti oleh 36 warga binaan ini dilakukan dalam dua cara. Pertama pelatihan dan penjelasan terkait dengan masalah teknis menulis. Kemudian mereka didampingi untuk menulis. Kemudian peserta diberikan kesempatan menulis bebas tentang pengalaman dan pengamatan mereka selama ini. Lalu dilakukan pemantauan ke Lapas lagi, kemudian setelah tulisan terkumpul bisa diterbitkan menjadi buku. Saat diminta penjelasannya mengapa acara pelatihan dilakukan dengan menulis. Widiya Yutanti, pembicara dan pendamping mengatakan, “Menulis ini bisa mengasah kreativitas. Saya menganggap bahwa semua penghuni Lapas itu punya potensi menulis. Mereka hanya tidak tahu apa yang akan ditulis. Bagaimana cara menulis. Lalu bagaimana mempublikasikannya. Nah, kita mencoba memfasilitasinya,”ungkapnya. Pelatihan menulis ini berkesan bagi Anisa (27) narapidana asal Malang. “Bagi saya ini bisa meluapkan rasa jenuh dan membunuh waktu. Apalagi buku yang akan kita tulis berdasarkan pengalaman kita sehari-hari. Berarti kita kan punya bahan menulis, “ tegasnya. Pelatihan dan pendampingan menulis dilakukan oleh Widiya Yutanti, Nurudin, M. Himawan Sutanto, dan Rahadi sebagai salah satu bentuk pengabdian masyarakat. Pemilihan Lapas yang dihuni oleh 500 narapidana, 24 tahanan dan dua bayi karena tempat tersebut menjadi rujukan nasional binaan bagi warga. (nrd/wnd)
Kaprodi Sekprodi Baru FISIP UMM Harus Kembangkan International Competitiveness

Hari ini (4/12) FISIP melakukan serah terima jabatan untuk para kaprodi sekprodi di lingkungan FISIP UMM. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pimpinan universitas menurunkan SK bagi para kaprodi sekprodi baru untuk masa khidmat 2021-2025. Ada beberapa formasi yang berubah ada juga formasi kaprodi sekprodi yang tetap. Prodi Ilmu Pemerintahan dan Prodi Kesejahteraan Sosial, masih di formasi yang lama. Kaprodi Ilmu Pemerintahan tetap dijabat oleh MKamil, S.IP, M.A dan Sekprodi Ilmu Pemerintahan dijabat oleh Achmad Apriyanto Romadhan, S.IP, M.Si. Prodi Kesos pun demikian. Dr. Oman Sukmana, M.Si dan Dra. Juli Astutik, M.Si masih melanjutkan periode berikutnya sebagai Kaprodi dan Sekprodi. Sedang Prodi Sosiologi, kaprodi baru dijabat oleh Luluk Dwi Kumalasari, M.Si dan sekprodi Awan Setiawan Dharmawan, M.Si sebagai sekprodi. Dilantik: (ki-ka) Kaprodi HI, Kaprodi Ikom, Kaprodi Kesos, Dekan, Kaprodi Sosiologi dan Kaprodi Ilmu Pemerintahan (photo by: humas) Prodi Hubungan Internasional dan Prodi Ilmu Komunikasi karena memiliki student body yang cukup besar, akhirnya memiliki kaprodi yang masing-masing didampingi oleh dua orang sekpprodi. Kaprodi HI dijabat oleh M. Syaprin Zahidi, M.A, didampingi oleh Najamuddin Khairur Rijal, M.Hub Int sebagai sekprodi I dan Shannaz Mutiara Deniar sebagai sekprodi II. Prodi Ilmu Komunikasi juga mengalami perubahan formatur pimpinan. Nasrullah, M.Si menjabat sebagai kaprodi Ilmu Komunikasi didampingi oleh Jamroji, M.Comms sebagai sekprodi I dan Isnani Dzuhrina, M.Adv sebagai sekprodi II. Dekan FISIP Muslimin Machmud, Ph.D berfoto bersama para sekprodi (photo by: Humas) Selama empat tahun ke depan, kaprodi dan sekprodi ini akan menghadapi tantangan milestone baru yakni menyongsong akreditasi internasional di 2023-2026. Akan terjadi perubahan milestone UMM dari yang semula national competitiveness menjadi international competitiveness. “Untuk itu kita akan menyusun Renstra dengan KPI baru dengan penekanan terhadap internasionalisasi fakultas, dan Prodi. Untuk itu silahkan mulai membaca dokumen, dari Statuta-RIP-Renstra-Renop. Kewajiban prodi menyusun rencana operasional, sedangkan UPPS atau fakultas yang akan menyusun renstra dan renop. Untuk itu dimohon segera merapatkan barisan agar rencana operasional prodi segera terwujud dengan menyesuaikan renstra dan renop UPPS. Dalam memimpin, improvisasi dan intuisi penting tetapi kita harus tetap bekerja berbasis dokumen,”ungkap Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, Ph.D dalam sambutan sertijab. Suasana sertijab kaprodi sekprodi di ruang 611 Setelah dilantik oleh dekan, pekerjaan para kaprodi dan sekprodi sudah menanti. Salah satunya adalah mengawal kebijakan universitas melalui UMM Pasti. Para punggawa prodi yang sedang studi S3 pun diwanti-wanti agar tetap berkomitmen untuk menyelesaikan studinya. Program Center of Excellent (CoE) yang digagas oleh FISIP UMM juga perlu untuk segera di wujudkan di level prodi. Dekan menyampaikan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengeksekusi COE ini. “ Untuk mewujudkan CoE melalui wujud yang kita operasionalkan sebagai sekolah unggulan maka langkahnya adalah prodi harus segera menentukan timeline dan menentukan subyek CoE berdasarkan solusi pada masalah yang terjadi di masyarakat dan pasar. Kemudian kita perlu mencari mitra baik ke dalam maupun keluar dan membuat komitmen bersama dengan mitra, membentuk MoU, MoA, ataupun SPK. Sekolah unggulan ini nantinya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa kita atau utusan dari mitra atau yang memang dibidik sebagai sasaran CoE. Baru kemudian kita menyelenggarakan lokakarya kurikulum dengan melibatkan mitra,”jelas dekan. Kaprodi dan sekprodi masa khidmat 2021-2025 juga perlu melanjutkan perjuangan para pimpinan sebelumnya, khususnya dalam hal pengelolaan laboratorium. “Bapak Ibu disilahkan mengontrol lab dan bersinergi agar menunjang skill mahasiswa. Lab harus membawa visi prodi, profil lulusan prodi, dan CPL prodi. Karena lab adalah sub system dari kita bersama,”imbuhnya. (wnd)
Yudisium FISIP, Dukung Diplomasi Digital Melalui Positive Vibes

Tantangan dunia digital menjadi isu menarik yang dibahas di kalangan ilmuwan di dunia. Dalam bidang ilmu sosial, diplomasi digital menjadi tugas para akademisi, tak terkecuali lulusan FISIP untuk berkontribusi. M. Subhan Setowara, M.A, pakar hubungan internasional FISIP UMM memaparkan pemaparannya dalam orasi ilmiah pada Yudisium FISIP Periode IV yang digelar hari ini (2/12) di GKB !V UMM. Subhan menyebut diplomasi digital bisa dijadikan sebagai cara untuk mengenalkan Indonesia sebagai negara yang damai. Hal ini bisa dilakukan melalui diplomasi melalui media sosial. M. Subhan Setowara, MA, saat memberikan orasi ilmiah pada Yudisium FISIP Periode IV Tahun 2021 (photo by: humas) Bukti bahwa diplomasi digital telah dilirik oleh banyak negara adalah salah satu contohnya negara yang tengah mengalami konflik, seperti Afghanistan, telah mulai membuka diri akan pentingnya publikasi massa. “Taliban di era sekarang juga telah berani melakukan rebranding untuk membangun pencitraan di media sosial pasca pendudukan Kabul. Dua dekade lalu, jangankan konferensi pers, Taliban selalu melakukan penolakan pada media massa,”ungkap dosen peraih gelar M.A dari University Nottingham. Media sosial bisa menjadi sarana strategis media propaganda, termasuk menjadi sarana konsolidasi strategis ekstremisme-kekerasan. Digdayanya peran media ini, menurut Subhan adalah peluang bagi Indonesia untuk membangun image sebagai negara damai. Namun nyatanya, data menarik dari Global Peace Index 2021 menyebutkan negara paling damai adalah Iceland. Indonesia menempati posisi nomor 42. Atau menduduki posisi keempat negara terdamai yang memiliki mayoritas pemeluk Islam. Posisi pertama negara dengan penduduk mayoritas Islam, menurut survey tersebut adalah Malaysia (posisi 23), Qatar (posisi 29), Kuwait (posisi no 36) dan Indonesia di peringkat 42. “Dari data ini sebenarnya dapat kita lihat bahwa jika ingin melihat Islam yang damai, bisa dilihat jika di Asia Tenggara adalah di Malaysia dan di Indonesia. Ini adalah peluang untuk melakukan diplomasi. Diplomasi di masa kini bisa dilakukan melalui diplomasi digital dengan cara menampilkan Indonesia sebagai negara yang ramah dan damai. Khususnya di negeri kita, Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam mayoritas di dunia. Sangat penting untuk menampilkan positive vibes the smiling face of Indonesian Islam ,”ungkap Subhan. Ada yang berbeda dalam pelaksanaan yudisium FISIP UMM periode ini. Setelah selama dua tahun menggelar yudisium secara hybrid, hari ini FISIP UMM menggelar Yudisium Periode IV tahun 2021 secara luring terbatas (luritas). Sebanyak 152 calon wisudawan wisudawati FISIP UMM dikukuhkan dalam seremonial yang digelar dalam standar protokol kesehatan yang ketat. Peserta yudisium menaati standar operating procedure protokol kesehatan dengan memakai masker, hand sanitizer, pemeriksaan suhu dan pemeriksaan saturasi oksigen Selain berhasil meluluskan 152 calon wisudawan dan wisudawati yang akan diwisuda pada Januari nanti, yudisium kali ini juga mengukuhkan tiga terbaik fakultas. Terbaik pertama fakultas disandang oleh Silmi Afiani Alfua dari Prodi Kesejahteraan Sosial yang memperoleh IPK 3,92. Terbaik kedua diraih oleh Ayu Rahmawaty dari Prodi Hubungan Internasional dengan perolehan IPK 3,91 dan terbaik ketiga diraih oleh Nawang Wulansari dari Prodi Kesejahteraan Sosial. Nawang berhasil meraih IPK 3,89. Penyerahan penghargaan pada terbaik fakultas oleh Dekan FISIP UMM Dekan FISIP UMM, Dr. Muslimin Machmud, Ph.D dalam sambutannya mengatakan bahwa tanggung jawab sarjana tentu berbeda dengan sebelum menjadi sarjana. Ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan dibalik gelar yang telah diraih. “Setelah ini, para wisudawan akan meniti karir lebih jauh. Kami harap para wisudawan-wisudawati tidak melupakan orang tua dan almamater. Secara harfiah, almamater artinya rahim. Itu artinya anda tidak hanya dilahirkan oleh orang tua anda, namun juga dilahirkan secara sosial oleh kampus tempat anda mencari ilmu,”jelas Muslimin. Dekan juga mengucapkan selamat atas kelulusan para calon wisudawan, orang tua, dan para dosen yang telah bekerja keras mengantarkan mahasiswa menuju keberhasilannya hari ini. (wnd)
Gelar International Webinar, Lab Kesos FISIP UMM Respon Kasus Kekerasan Anak

Minggu, 28 November 2021 09:16 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Setelah sukses menggelar konferensi mahasiswa internasional yang bertajuk International Student Conference on Social Work (ISCSW) beberapa hari lalu, Sabtu (27/11) kemarin Laboratorium Kesejahteraan Sosial FISIP UMM berkolaborasi dengan Program Kerja Sosial Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan Universitas Kebangsaan Malaysia (FSSK-UKM) menggelar International Webinar dengan mengangkat tema The Role of Social Workers in Child Protection: Comparing Indonesia and Malaysia. Webinar ini merupakan wujud kepedulian karena pandemic telah menyebabkan perubahan ekstrem dalam kehidupan sosial. Sebut saja fenomena bergesernya berbagai jenis pekerjaan konvensional hingga hilangnya kehangatan hubungan personal disebabkan oleh protocol kesehatan yang ketat di masa pandemic. Suasana international webinar, kolaborasi antara FISIP UMM dan Universiti Kebangsaan Malaysia Salah satu pembicara di international webinar tersebut, Hutri Agustino, M.Si, dosen Kesos FISIP UMM mengatakan rentetan perubahan ekstrem dalam waktu yang relatif cepat tersebut telah meningkatkan terjadinya berbagai persoalan sosial sampai pada level keluarga. “Salah satu diantaranya adalah persoalan kekerasan terhadap anak (child abuse). Merujuk pada data yang rilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bahwa sejak 1 Januari sampai 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak dengan rincian sebanyak 852 anak mengalami kekerasan fisik, 768 anak mengalami kekerasan psikis dan 1.848 anak mengalami kekerasan seksual,”ungkapnya. Pekerja sosial menurut Hutri sejatinya memiliki peran yang signifikan. Sebagai salah satu profesi terkemuka dalam berbagai aktivitas pelayanan sosial termasuk dengan sasaran klien anak-anak, peksos harus mengambil bagian dalam mengurai centang perenang perubahan social ini. Pada seminar yang digelar secara virtual tersebut, ada empat pembicara yang hadir memaparkan pandangannya. Dari pihak UKM, diwakili oleh Prof. Madya Dr. Khadijah Alavi selaku senior lecturer dan Tengku Syuhada Elissa selaku ketua Student Association Program Kerja Sosial—sedangkan dari UMM di wakili oleh Hutri Agustino,M.Si selaku Kepala Lab Kesos dan Anggraito Wisnu Aji selaku perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (HIMAKS). Dari webinar tersebut, secara umum, ke empat panelis sepakat bahwa persoalan kekerasan terhadap anak merupakan pekerjaan rumah bagi semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan negara. Termasuk berbagai profesi yang concern dalam aktivitas pelayanan sosial profesional seperti Peksos. Apalagi, saat ini eksistensi profesi Peksos di Indonesia telah memiliki payung hukum berupa Undang-undang No 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial. Khadijah Alavi dan Syuhada, pembicara dari Universitas Kebangsaan Malaysia memaparkan bahwa konteks historis lahirnya Geneva Declaration of the Rights of the Child (1924) sampai pada momentum Pengesahan Konvensi Hak Anak pada pertemuan Majelis Umum PBB tanggal 20 Nopember 1989 yang terdiri dari hak bermain, hak pendidikan, hak perlindungan, hak identitas, hak status kebangsaan, hak mendapat makanan, hak kesehatan, hak rekreasi, hak kesamaan dan hak dalam peran pembangunan—harus dijadikan dasar dalam pengambilan setiap kebijakan dan aksi kegiatan dengan sasaran anak-anak. Terkait dengan peran peksos dalam penanganan anak korban kekerasan, Hutri Agustino yang juga pegiat literasi tersebut mengatakan bahwa berdasarkan UU SPPA terdapat minimal tiga peran utama, “Peksos bisa mengambil peran sebagai pendampingdalam kegiatan rehabilitasi sosial, dukungan psikososial, bantuan sosial, perlindungan dan pendampingan dalam proses peradilan. Selain itu juga berperan dalam Restorative Justice artinya penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku atau korban. Juga melakukan peran diversi yaitu melakukan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana,”ungkap Hutri. (wnd/hut)
Pakar Komunikasi FISIP UMM Prihatin Terpaan Iklan Rokok Picu Naiknya Jumlah Perokok Anak

Minggu, 28 November 2021 08:51 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rokok masih menjadi ancaman bagi negeri ini. Khususnya bagi perokok usia anak. Sudah jamak diketahui bahwa anak yang merokok memiliki resiko mengalami gangguan kesehatan di hampir seluruh organ tubuh. Mulai dari resiko kanker paru, kerusakan gigi, pneumonia hingga penurunan kesehatan tulang dan otot. Ironisnya, data Atlas Tembakau Indonesia tahun 2020 menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun angka perokok usia anak mengalami peningkatan. Di tahun 2018, perokok anak usia 10-19 tahun mencapai angka 9.1% dari keseluruhan perokok di Indonesia atau sebanyak 7.6 juta. Dari rentang tahun 2013 hingga ke 2018, anak usia 10-19 tahun yang merokok jumlahnya meningkat 2.1%. Data ini diproyeksikan pada tahun 2045 akan mengalami kenaikan semakin membesar. Bahkan bisa mencapai angka lebih dari delapan juta. Pakar komunikasi FISIP UMM, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si saat menjadi salah satu pembicara pada Virtual Talkshow MTCN Sabtu lalu Dr. Frida Kusumastuti, M.Si dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM saat menjadi pembicara di Virtual Talkshow Muhammadiyah Tobacco Control Network, Sabtu (27/11) lalu mengatakan bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia di tahun 2045, akan sia-sia jika jumlah perokok anak tidak dikendalikan. Dari data Atlas Tembakau Indonesia itu bisa terlihat bahwa lima dari anak Indonesia, dua diantaranya merokok. “Jika dianalogikan, sebanyak 7,6 juta anak itu jika dikumpulkan di Dome yang berkapasitas 6000 orang, membutuhkan 1266 Dome UMM. Bayangkan betapa besar jumlah tersebut. Jumlah ini bisa terus naik jika tidak ada upaya penanganan atau penanganannya masih seperti saat ini,”ungkapnya. Frida menyoroti terpaan iklan rokok yang memapar anak-anak menjadi pemicu anak-anak tertarik untuk merokok di usia dini, selain juga ada faktor-faktor lainnya. Ia menyebutkan pengaruh iklan pada anak-anak dari hasil survey Global Youth Tobacco tahun 2019, menunjukkan bahwa 62,5% penyebab anak merokok disebabkan karena terpapar iklan televisi, 60,9% disebabkan karena terpapar iklan media luar ruang dan 30% lebih terpapar iklan di medsos. Faktor lainnya karena ada anggota keluarga yang merokok, melihat orang merokok di ruang publik, adanya display rokok di toko, dan lain sebagainya. Terpaan iklan menjadi penyebab anak merokok Iklan dan promosi rokok itu tidak hanya di media massa. Namun juga di media-media iklan luar ruang seperti baliho, flyer, neon box, balon udara, dinding-dinding area publik, maupun billboard. “Tak hanya media iklan luar ruang, karena anak-anak juga mengkonsumsi media digital setiap hari, kita juga mesti waspada dengan konten-konten digital. Disana bertebaran iklan maupun promosi rokok dan vape. Saya malah menemukan akun sosial media yang terang-terangan isinya adalah khusus aksi anak-anak merokok,”jelas Frida. Hal ini tentu menjadi PR besar bagi bangsa karena anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin umat. Frida mengatakan perlu segera ada regulasi, semacam undang-undang atau peraturan daerah yang mengatur pembatasan iklan dan promosi rokok pada media yang populer di kalangan anak-anak. Agar Indonesia di 2045 benar-benar menikmati bonus demografi dengan kondisi sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas. (wnd)
Terbaru! Jadwal UTS FISIP Semester Ganjil Tahun Akademik 2021/2022

Sabtu, 20 November 2021 10:58 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Terlampir adalah jadwal terbaru UTS FISIP Semester Ganjil. Silahkan unduh jadwal pada link berikut: https://drive.google.com/file/d/1R8gEbUvKuOCGPsnm3qeukqlKZDwkuNjI/view?usp=sharing Selamat menempuh Ujian Tengah Semester!