Keren! 20 Paper Kolaborasi Mahasiswa Kesos FISIP UMM dan Prodi Social Work UKM Malaysia Siap Jadi Book-Chapter

Kamis, 18 November 2021 08:33 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Gelaran konferensi mahasiswa internasional yang bertajuk International Student Conference on Social Work (ISCSW) 2021 telah memasuki tahun ketiga. Konferensi ini adalah hasil kerjasama internasional antara Laboratorium Kesejahteraan Sosial FISIP UMM dengan Program Kerja Sosial Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan Universitas Kebangsaan Malaysia (FSSK-UKM). Mengangkat tema “The Role of Social Workers in Child and Family Services”, konferensi ini mempertemukan 20 presenter yang berasal dari mahasiswa dua kampus beda negara. Lebih detail, sebelas penyaji paper berasal dari UMM, dan sembilan sisanya dari UKM Malaysia. Hasil praktikum yang dipresentasikan ini nantinya akan dikolaborasikan menjadi sebuah book-chapter tematik. Konferensi mahasiswa internasional ISCSW 2021 digelar secara daring, menghadirkan presenter dari kedua negara (foto:eko) Kepala Lab Kesos, Hutri Agustino, M.Si mengatakan kerjasama UMM-UKM ini telah dilakukan sejak 2018. “Dulu awalnya namanya bukan ISCSW. Pada tahun pertama kita adakan student conference di UMM. Tahun berikutnya, gantian diadakan di kampus UKM Kuala Lumpur. Kesos UMM memberangkatkan sedikitnya 12 Mahasiswa untuk mempresentasikan hasil praktikumnya. Pada tahun 2020, kegiatan dilaksanakan dalam bentuk kolaborasi supervisi praktikum, dimana kegiatan praktikum mahasiswa Kesos UMM mendapat supervisi dari dosen Social Work UKM, sedangkan kegiatan Industrial Training mahasiswa Social Work UKM mendapat supervisi dari dosen Kesos UMM,”ungkap Hutri. Konferensi mahasiswa internasional yang digelar hari ini diikuti oleh 100 mahasiswa Kesos UMM semester 7 yang sedang menempuh mata kuliah Praktikum Mikro-Meso (Intervensi Individu, Kelompok dan Lembaga) dan 50 mahasiswa Kerja Sosial UKM tahun ketiga. Selain mempresentasikan hasil praktikum dari kedua negara, para peserta juga mendapatkan tambahan ilmu dari stadium generale yang menghadirkan Drs. Widodo Suhartoyo, MSc, ketua umum Dewan Pimpinan Pusat Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (DPP IPSPI). Dalam stadium generale tersebut Widodo membahas sejarah Convention on The Right of The Child dan perspektif praktik pekerjaan sosial dengan anak. “Saat iniprofesi pekerja sosial memang belum banyak dikenal secara luas dalam masyarakat. Oleh karena itu beberapa hal yang harus dilakukan adalah be the best, be different, and be yourself. Maka lambat laun eksistensi pekerja sosial akan semakin membaik,”tuturnya. Kegiatan ISCSW ini juga di hadiri oleh Prof. Madya Khadijah Alavi selaku koordinator Student Mobility jurusan Social Work FSSK-UKM. Khadijah memaparkan review capaian berbagai program yang telah dilaksanakan dan harapan keberlanjutan kerjasama dengan UMM mendatang. Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, M.Si, Ph.D saat membuka gelaran ISCSW 2021 menyampaikan harapannya terkait kerjasama internasional ini. “Saya berharap kegiatan seperti ini tidak sekedar menjadi agenda tahunan, namun juga menghasilkan luaran yang konkret. Tadi saya mendapat informasi kalau hasil konferensi ini akan dikolaborasikan menjadi book-chapter. Saya rasa hal itu baik sekali, dan sangat bermanfaat baik bagi UMM maupun untuk UKM sebagai saudara serantau,”ungkap Muslimin. Kaprodi Kesos, Dr. Oman Sukmana, M.Si juga menyampaikan harapan agar kegiatan kolaboratif antara UMM dan UKM ini dapat dijadikan media belajar bagi dosen maupun mahasiswa. Mereka bisa saling sharing khususnya yang berkaitan dengan desain kurikulum pendidikan social work, metode pengajaran sampai pada aktivitas praktis seperti praktikum dan berbagai program lain yang bersifat akademik. (hut/wnd)
Pakar Komunikasi FISIP UMM: Demokrasi Digital Harus Disikapi dengan New Literacy

Rabu, 17 November 2021 09:12 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ruang demokrasi di masa pandemi Covid-19 menjadi terbatas bagi adanya pertemuan masyarakat secara fisik. Tidak hanya itu, urusan ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, sosial, dan lainnya diatur dan dibatasi demi mencegah menyebarnya virus covid-19. Sejak itu, kebutuhan masyarakat akan ruang publik berpindah ke ruang digital. Internet memampukan ruang-ruang digital untuk saling terhubung dan menghubungkan warga menjadi warganet. Di titik ini, demokrasi juga berpindah ke ruang digital dalam bentuk kebebasan berpendapat dan berekspresi. Namun, ekses negatif juga melintasi ruang digital bagi demokrasi dalam bentuk ujaran kebencian dan kabar bohong. Demokrasi digital dipandang sebagai bentuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses politik dan pemerintahan. Dalam kondisi ideal, Internet mendorong aspirasi masyarakat tersampaikan melalui berbagai saluran komunikasi pemerintahan sehingga tercipta kebijakan dan regulasi publik. Dalam menyikapi era demokrasi digital ini, pakar komunikasi FISIP UMM, Muslimin Machmud, M.Si, Ph.D, memaparkan sejumlah pemikirannya dalam program Forum Kita yang digagas oleh stasiun TV Lokal, Malang TV, hari ini (17/11). Muslimin Machmud, M.Si, Ph.D, ketika memaparkan gagasan terkait demokrasi digital (foto:sw) Muslimin mengatakan pada prinsipnya kesiapan masyarakat dalam demokrasi digital, dalam penggunaan teknologi sudah siap. Namun sayangnya dalam kedewasaan bermedia masih belum siap. Khususnya dalam memahami mana data dan informasi yang benar. Masyarakat perlu ada semacam pembelajaran baru yang sering disebut dengan istilah new literacy. “New literacy ada tiga. Yang pertama adalah literasi data. Masyarakat harus bisa membaca data, menganalisis data dan menyimpulkan data tersebut. Masyarakat juga harus memiliki literasi teknologi, terkait dengan penguasaan penggunaan teknologi dan bisa mengetahui dampak teknologi. Berikutnya adalah literasi sumber daya manusia meliputi kemampuan komunikasi, kolaborasi dan kemampuan kritikal,” ungkap Muslimin. Dalam menyikapi era demokrasi digital ini, penyelenggara pemilu dan Kemenpora harus memberi perhatian dengan menciptakan konten-konten yang sesuai dengan generasi Z. Hal ini perlu dilakukan untuk memfasilitasi ruang public untuk generasi Z. Sebab ruang public bagi generasi Z juga sudah mengalami transformasi. Untuk generasi Z, karakteristiknya mudah bosan dengan pesan-pesan politik. Namun di satu sisi mereka juga mudah dipengaruhi ketika kontennya menarik dan kreatif. Durasi pesannya juga harus disesuaikan dengan karakter generasi gen Z. “Durasi konten menurut saya harus didesain yang singkat, padat, menarik serta tepat sasaran, tidak lebih dari delapan menit. Sebab karakter generasi Z ini memang mudah bosan dengan pesan yang panjang-panjang,”jelas Muslimin. Menurut Muslimin, kampus memiliki tugas besar untuk menggiatkan literasi terkait demokrasi digital ini. Generasi Z dimana sebagian besar ada di kampus adalah generasi yang harus disentuh khususnya yang berkaitan dengan literasi politik dan demokrasi di Indonesia. (wnd)
Dua Pakar FISIP Soroti Kebijakan Punishment Bagi Pelanggar Prokes di Kota Malang

Rabu, 17 November 2021 08:59 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Protokol kesehatan masih menjadi salah satu strategi ampuh untuk mengendalikan laju pandemi. Sosiolog FISIP UMM, M.Aan Sugiharto, M.Sosio dan pakar komunikasi FISIP UMM, Jamroji, M.Comms hari ini (17/11) memaparkan sejumlah idenya pada program Idjen Talk yang digagas oleh Radio City Guide 911 FM. Program yang bekerjasama dengan kepolisian ini hari ini membahas penertiban prokes dalam operasi Zebra Semeru. Menurut kedua pakar dari FISIP UMM, dalam kacamata sosial, pengendalian pandemi tidak hanya dilakukan dari sisi medis saja, namun pengendalian masyarakat juga menjadi strategi yang efektif. Menurut Aan, program Operasi Zebra Semeru untuk penertiban berkendara masyarakat sekaligus penertiban prokes di kalangan masyarakat adalah program yang sangat baik. Namun dalam melakukan operasi Zebra ini, pihak berwenang perlu mengedepankan sisi humanis dalam melakukan operasi tersebut. “Mengutip Skinner, tentang reward dan punishment, saya tidak setuju dengan efek jera missal tilang atau denda. Itu kan bentuk punishment. Padahal ketika kita ingin membuat seseorang itu bisa tertib, tidak selalu harus pakai punishment, bisa menggunakan mekanisme reward,”ungkap sosiolog FISIP ini. Jamroji, M.Comms, pakar komunikasi FISIP juga mengungkapkan perlu ada konsistensi dalam melakukan antisipasi munculnya gelombang ketika khususnya menjelang libur Nataru (Natal dan Tahun Baru). “Menurut saya, semua pihak harus menahan diri untuk konsisten dalam mencegah laju pandemi. Aparatur negara harus bisa memberikan contoh yang baik. Dalam konteks komunikasi, kredibilitas sumber atau penyampai pesan sangat penting. Jika pesan yang disampaikan ingin dilakukan oleh penerima pesannya maka komunikator harus bisa dipercaya,”ujar Jamroji. Jamroji juga menekankan, untuk ketertiban prokes, di situasi pandemi kita tidak boleh lengah, harus tetap menjaga untuk menegakkan prokes. Ia sepakat dengan mekanisme reward, tak harus selalu dengan punishment. “Kepolisian bisa menggandeng sponsor untuk memberi reward sederhana bagi mereka yang taat prokes misalnya,”imbuhnya. Dalam konteks fungsi program, sosiolog FISIP, M.Aan Sugiharto, M.Sosio juga menekankan adanya fungsi manifest dan fungsi latent dari operasi Zebra ini. Fungsi manifest operasi Zebra adalah untuk menertibkan masyarakat untuk tertib dalam berkendara namun juga harus memperhatikan fungsi latent dalam operasi Zebra yang digagas oleh kepolisian. Menurut Aan dari sisi fungsi latennya, mumpung masa pandemi, maka bisa dimanfaatkan untuk melakukan tindakan humanis, dan ketika ada yang melanggar prokes, dalam operasi Zebra tidak perlu ditilang tapi harus diingatkan misalnya langsung diberi masker dan dilakukan edukasi. (wnd)
Era Baru PKSP, FISIP Siapkan Pusat Studi Unggul dan Berdaya Saing

Sabtu, 13 November 2021 08:01 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Keberadaan pusat studi sebagai center of excellent menjadi sebuah kebutuhan yang niscaya. Begitu pula urgensi eksistensi Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) FISIP UMM. Sebagai pusat studi kebanggaan fakultas, hari ini (13/11) FISIP mengukuhkan kepengurusan PKSP periode 2021-2025. PKSP era baru ini kini diketuai oleh Muhammad Subhan Setowara, S.HI, M.A, menggantikan Nurudin, M.Si yang telah menyelesaikan masa bakti pengabdian sebagai ketua PKSP periode sebelumnya. Dekan FISIP, Muslimin Machmud, Ph.D, menyerahkan SK secara simbolis kepada ketua PKSP periode 2021-2025, M.Subhan Setowara,S.HI, M.A (foto:ist) Bertempat di ruang sidang 611, sebanyak 22 anggota PKSP dilantik oleh Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, M.Si, Ph.D. Mendampingi Subhan Setowara, Hamdan Nafiatur Rosida, M.A, dosen Hubungan Internasional, juga dilantik sebagai sekretaris PKSP. PKSP periode baru ini terdiri dari 22 dosen yang keseluruhannya merupakan dosen muda. Dekan FISIP mengungkapkan harapan besarnya pada para pengurus PKSP yang baru dilantik ini. Dalam sambutannya, Muslimin mengungkapkan sejumlah strategi yang perlu dieksekusi oleh para pengelola PKSP. “Ada tiga strategi yang perlu dilaksanakan oleh teman-teman pengelola PKSP. Yang pertama adalah strategi yang berkaitan dengan penguatan kelembagaan yang diharapkan berujung pada rekognisi baik level nasional maupun internasional. Saya harapkan teman-teman pengelola bisa membuat luaran program PKSP yang kreatif dan inovatif. Semua kegiatan harus terukur dan memiliki luaran, tidak sekedar formalitas saja. Misal jika melakukan pengabdian ya bisa mengeluarkan buku, jika penelitian bisa didorong untuk menghasilkan jurnal,”ungkap Muslimin. Selain rekognisi, strategi yang tak kalah penting berikutnya adalah PKSP perlu memikirkan aktivitas caturdharma sebagai penciri yang sejalan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) Universitas. Misalnya dengan menawarkan payung penelitian terkait isu-isu terkini. Strategi yang ketiga adalah PKSP juga perlu untuk berperan penting dalam pendataan alumni. Oleh karena itu di kepengurusan PKSP periode kali ini ada divisi analisis data dan informasi yang salah satu tugasnya adalah melakukan pendataan alumni dan membantu fakultas menganalisis upaya reskilling bagi para alumni.Hal ini ditujukan agar para alumni memiliki daya saing yang unggul, sesuai dengan visi misi fakultas. “UMM memiliki komitmen mencapai visi 2030 secara sungguh-sungguh oleh karena itu kita harus melakukan penyesuaian. Kebersamaan menjadi hal yang sangat penting, kita jadikan fakultas sebagai rumah kedua untuk mewujudkan harapan bersama,”harap dekan FISIP. Akrab: Para pengurus PKSP periode 2021-2025 berfoto bersama pimpinan fakultas dan pengurus PKSP periode sebelumnya (foto: ist) Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Penelitian dan AIK, Dr.Salahudin,M.Si,M.PA menyampaikan bahwa PKSP era baru ini memiliki lima divisi yakni divisi penelitian dan publikasi ilmiah, divisi pengembangan forum ilmiah, divisi pengembangan jurnal ilmiah, divisi analisis data dan informasi dan divisi kajian AIK. Keseluruhan divisi ini penting dan diharapkan mampu melahirkan forum-forum yang menghidupkan atmosfir akademik. “Dalam menyusun program nanti PKSP harus mengacu pada dokumen renstra, renop dan blueprint PKSP. Tidak boleh ada kegiatan yang sporadis, semua harus terintegrasi. Fakultas akan selalu mendukung kegiatan PKSP untuk mencapai outcome yang riil,”ujar Salahudin. Subhan Setowara, ketua PKSP periode 2021-2025 dalam prosesi pelantikan tersebut menyatakan kesiapannya untuk mewujudkan PKSP sebagai center of excellent baik di level domestik maupun internasional. “Ini menjadi ujian leadership dan manajemen bagi kami karena di UMM dosen memang dituntut untuk mengembangkan skill leadership dan kemampuan manajerial. Harapan besar pada PKSP menjadi tantangan bagi kami untuk menjalankan amanah dengan baik,”ungkap Subhan. Nurudin, M.Si, ketua PKSP periode sebelumnya menitipkan sejumlah pesan kepada para pengurus baru PKSP. Menurutnya ada sejumlah poin yang harus dilanjutkan estafetnya oleh pengurus baru. Salah satunya adalah terkait aktivitas PKSP yang harus berorientasi pada publikasi dan PKSP harus segera mengelola bank data yang dibutuhkan fakultas. Posisi PKSP menurut Nurudin sangat krusial untuk mengembangkan atmosfer akademik bahkan bisa menjadi penciri penting bagi standing akademik fakultas. (wnd)
Perkuat Sinergi, Dekanat Kunjungi Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Komisariat FISIP UMM

Sabtu, 13 November 2021 06:30 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Layaknya orang tua dan anak, begitulah hubungan yang terjalin antara FISIP UMM dan organisasi mahasiswa ekstra kampus komisariat FISIP UMM. Sebagai bagian dari keluarga besar FISIP UMM, hari ini (13/11), Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, M.Si, Ph.D beserta para wakil dekan melakukan silaturahmi ke markas HMI Komisariat FISIP UMM dan IMM Komisariat FISIP UMM. Silaturahmi ini berlangsung secara informal dan hangat. Para pimpinan fakultas dan para aktivis mahasiswa berbincang santai di markas masing-masing organisasi. Silaturahmi pimpinan fakultas ke markas IMM Renaissance (foto:ist) Pada kunjungan yang pertama, dekan yang didampingi oleh wakil dekan 1, 2 dan 3 berkunjung ke IMM Komisariat FISIP. Rombongan dekanat mengunjungi IMM Renaissance di markasnya yang berlokasi di Jetis, Mulyoagung, Dau. Jajaran dekanat ini diterima langsung oleh ketua IMM Renaissance Iqbal Darmawan. Dalam kunjungannya ini, dekan menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mendekatkan hubungan dekanat dengan organisasi mahasiswa. “Bagaimanapun organisasi mahasiswa adalah bagian dari keluarga besar FISIP. Ibaratnya FISIP ini adalah rumah tangga, dekan sebagai kepala rumah tangga, sedangkan IMM adalah anaknya. Dalam rumah tangga itu ada tuan rumah dan tamu. Sebagai tuan rumah, saya berharap IMM tahu akan kewajiban dan haknya dan bagaimana cara memperlakukan tamu (organisasi mahasiswa lainnya). Saya akan memberikan kesempatan mahasiswa baik tuan rumah atau tamu untuk berkompetisi secara bebas dan sportif,”jelas Muslimin. Dekan juga menyampaikan harapannya akan suasana kompetisi di antara mahasiswa yang sehat. Basis kegiatan mahasiswa harus menghasilkan luaran yang konkret, bukan sekedar aksi-aksi semata. “Misalnya program kerja yang dibuat harus menghasilkan database mahasiswa yang bisa dimanfaatkan fakultas untuk pengambilan kebijakan. Silakan kirim kader-kader terbaik anda, baik dari IMM maupun HMI, maupun dari organisasi mahasiswa apapun di bawah FISIP sebagai partner kerja fakultas. Berikan kritik dan saran-saran yang konstruktif,”ungkap dekan. Kunjungan kedua, dekan beserta jajarannya mengunjungi markas HMI Komisariat FISIP. Jajaran dekanat diterima oleh para punggawa HMI FISIP. Hal serupa pun disampaikan kepada kawan-kawan HMI ini. Pimpinan juga menekankan bahwa pejabat struktural di FISIP akan menanggalkan status latar belakang organisasinya dan akan memberi ruang yang sama untuk semua agar berkompetisi secara sehat dan tangguh. “Saya sebagai wakil dekan 3 akan membuatkan platform agar mahasiswa bisa mengirimkan kader terbaiknya untuk menduduki posisi apa saja, baik di BEM, SEFA atau LSO. Kita perlu untuk bersinergi karena organisasi mahasiswa merupakan sub sistem fakultas untuk mewujudkan visi misi fakultas,”papar M.Himawan Sutanto,M.Si, Wakil Dekan 3 FISIP yang membidangi kemahasiswaan, alumni, pengabdian mayarakat dan kerjasama. Pimpinan fakultas saat berkunjung ke markas HMI Komisariat FISIP UMM (foto:ist) Kunjungan dekanat ke HMI dan IMM ini disambut baik oleh kader-kader aktivis. Iqbal Darmawan, ketua IMM Renaissance mengungkapkan kebahagiaannya atas kunjungan para pimpinan FISIP. “Kami senang dengan sebagai anak dikunjungi oleh pimpinan FISIP sebagai orang tua kami. Kami bersama teman-teman organisasi mahasiswa di FISIP siap menjadi partner FISIP dan mengirimkan kader terbaik. Selama ini dinamika di FISIP komposisi organisasinya masih relatif seimbang. Terimakasih banyak atas kunjungan para pimpinan, semoga komunikasi ini bisa berlanjut dalam berbagai forum di fakultas, tentu dalam rangka memberikan kontribusi yang konstruktif,”ujar Iqbal. Ketua Umum HMI ISIP UMM, Virel Zikrullah Dwi Ananta juga menyampaikan apresiasinya atas kunjungan pimpinan FISIP ini. “Kami bersama kawan-kawan HMI ISIP UMM siap memberikan kontribusi terbaik untuk fakultas. Terimakasih kami telah diberi ruang yang sama untuk mengeksplorasi potensi bersama kawan-kawan aktivis yang lain,”ucap Virel. Kegiatan silaturahmi pimpinan fakultas ini akan dilakukan secara berkelanjutan. Setelah melakukan silaturahmi ke IMM dan HMI, fakultas juga berencana akan mengadakan pertemuan dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus lainnya yang melibatkan mahasiswa FISIP UMM. (wnd)
Program Mobiliti, Dosen FISIP UMM Dipercaya Mengajar Mahasiswa Luar Negeri

Kamis, 04 November 2021 07:38 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebanyak 21 mahasiswa semester akhir Jabatan Siasah Syar`iyyah Department of Islamic Political Science Universiti Malaya, Malaysia, mengikuti joint class atau yang disebut sebagai Program Mobiliti. Dua dosen UMM, salah satunya dosen FISIP UMM, Gonda Yumitro, Ph.D dipercaya untuk mengelola program tersebut. Gonda Yumitro, pakar politik Islam FISIP UMM ini akan mengajar mahasiswa University Malaya ini dalam waktu dua pekan secara daring. Tepatnya dalam kurun waktu 2-13 November 2021. Gonda Yumitro, Ph.D, dalam Program Mobiliti, mengajar mahasiswa Jabatan Siasah Syariyyah Universiti Malaya, Malaysia. (foto:ist) Program mobiliti ini merupakan sebuah program joint class yang juga disebut dengan istilah program outbond mahasiswa. FISIP UMM sebagai fakultas yang mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) terbuka untuk menjadi tempat belajar bagi mahasiswa manapun, termasuk mahasiswa asing. “Awalnya saya dikontak oleh head of department jurusan Siasah Syariyyah Universiti Malaya, Prof.Madya Dr Sharifah Hayaati Syed Ismail al-Qudsy J.M.W, K.M.N. Beliau awalnya meminta saya untuk mengampu program khusus, namun karena kesulitan mengatur waktunya saya minta para mahasiswa Universiti Malaya ini untuk ikut di dua mata kuliah saya. Di mata kuliah Gerakan Islam Transnasional, dan Hubungan Internasional dalam Perspektif Islam. Lalu ada satu matakuliah Pemikiran Politik Islam di Pasca Magister Sosiologi yang saya ampu bersama Prof Ishomudin,”jelas Gonda. Jadi, dalam sepekan, ke-21 mahasiswa Siasah Syariyyah tersebut mengikuti empat kelas sekaligus. “Saya juga menambahkan satu subject tentang pengkongsian penulisan untuk mahasiswa Universiti Malaya ini,”imbuhnya. Gonda mengaku, keterlibatan mahasiswa tamu dari Universiti Malaya ini sukses memotivasi mahasiswa di kelas yang ia ampu. Kelas menjadi lebih aktif dan interaktif. Di tiap-tiap kelas, Gonda sudah menyiapkan record penjelasan materi yang ia share melalui kanal YouTube sehingga ketika sesi tatap muka di kelas virtual, lebih banyak terjadi diskusi. Keterlibatan dosen FISIP UMM dalam Program Mobiliti ini diapresiasi oleh Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, Ph.D. “Program mobiliti ini tidak hanya menjadi bukti rekognisi akademik FISIP di luar negeri namun juga mendukung academic atmosphere yang positif untuk mahasiswa kita. Dengan adanya mahasiswa asing, mahasiswa kita akan terpacu untuk berkompetisi secara sportif dan memperluas cakrawala pandangnya dengan bertambahnya pengalaman relasi,”ungkap Muslimin. Gonda juga berharap program serupa bisa terus berlanjut. “Semoga program serupa bisa berkelanjutan. Hal ini memberi kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk membangun jejaring yang lebih luas. Ke depan, optimalisasi peluang joint research dan joint publication semoga juga bisa diwujudkan,”harapnya. (wnd)
Pakar Pemerintahan FISIP UMM: “Pemekaran Wilayah Perlu Kajian Mendalam”

Kamis, 04 November 2021 07:28 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Isu pemekaran wilayah atau kelurahan adalah sesuatu hal yang lazim terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Sesuai Permendagri Nomor 31/2006 tentang pembentukan, penghapusan dan penggabungan kelurahan, ada sejumlah aturan yang harus dipenuhi jika pemerintah ingin melakukan pemekaran kelurahan. Yang terbaru di DKI Jakarta, kelurahan Kapuk yang merupakan salah satu dari kelurahan terpadat di DKI Jakarta sedang dilakukan proses untuk pemekaran kelurahan. Namun sebelum melakukan pemekaran tersebut, Biro Pemerintahan Sekdaprov DKI Jakarta mengundang sejumlah pejabat eksekutif dan akademisi dalam kegiatan hearing. Pakar pemerintahan FISIP UMM, Dr.Salahudin, M.Si, M.PA, didaulat menjadi salah satu tim pengkaji kebijakan ini. Hari ini, Salahudin bersama birokrat Sekdaprov DKI Jakarta menghadiri hearing atau paparan akademik kebijakan pemekaran kelurahan DKI Jakarta. Paparan akademik yang diadakan secara hybrid tersebut, diikuti oleh sekitar 20 pejabat birokrat, di antaranya ada Bappeda Prov DKI Jakarta, Kepala Bagian Pemerintahan Kota Jakarta Barat, Dinas Kesehatan Prov DKI, camat Cengkareng, lurah Kapuk, dan sejumlah akademisi dari IPDN/staf ahli Kemendagri. Dr. Salahudin, M.Si, M.PA didaulat sebagai salah satu tim pengkaji kebijakan pemekaran kelurahan di Prov.DKI Jakarta (foto:ist) Salahudin dalam hearing tersebut mengatakan bahwa sesuai permendagri, pembentukan atau pemekaran kelurahan sekurang-kurangnya harus memenuhi beberapa syarat. “Diantara syarat itu adalah berkaitan dengan jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja serta sarana dan prasarana. Selain itu pemekaran wilayah perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspirasi politik publik,”ungkap doktor ilmu politik ini. Pada paparan itu, Salahudin juga menyampaikan bahwa pemekaran wilayah merupakan salah satu agenda penting pemerintah. Hal tersebut penting sebab berkaitan dengan upaya percepatan pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan publik. “ Wacana Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan pemekaran Kelurahan Kapuk yang merupakan salah satu kelurahan padat penduduk ini harus dikaji dan dianalisis secara mendalam. Jangan sampai pemekaran malah menimbulkan potensi konflik,”tuturnya. Menurutnya, akademisi bisa memberikan kontribusi berupa kerja intelektual melalui analisis dan kajian ilmiah. (wnd)
Gebrakan Baru FISIP UMM, Siap Lahirkan Lima Pusat Unggulan Prodi

Sabtu, 30 Oktober 2021 07:52 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP UMM membuat gebrakan baru. Dalam waktu dekat, salah satu fakultas tertua di UMM ini akan mewujudkan Center of Excellence (COE) terintegrasi. Integrated COE atau COE Terintegrasi ini merupakan pusat unggulan yang dikembangkan oleh prodi di lingkungan FISIP UMM. Pembentukan COE merupakan bentuk dari respon FISIP pada universitas yang hendak mewujudkan institusi perguruan tinggi yang memiliki pusat unggulan berbasis riset dan disiplin ilmu pada masing-masing program studi. Pusat unggulan ini nantinya akan memiliki kontribusi pada kepentingan para stakeholders. Diantaranya adalah kepentingan mahasiswa, alumni, sektor swasta, Non-Government Organization (NGO), Persyarikatan Muhammadiyah,dan lembaga pemerintahan. Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, Ph.D mengatakan COE Terintegrasi ini akan membantu universitas untuk menunjukkan diri sebagai institusi pendidikan yang mampu menjalankan fungsi catur dharma perguruan tinggi. COE Terintegrasi ini tidak hanya berkontribusi pada kepentingan internal perguruan tinggi tetapi juga berkontribusi terhadap kepentingan yang lebih luas di luar perguruan tinggi. “Melalui COE yang dikembangkan, diharapkan UMM khususnya FISIP tidak hanya mendapatkan pengakuan sebagai perguruan tinggi unggul secara formal dari lembaga pemerintahan dan lembaga akreditasi internasional tetapi juga mendapatkan pengakuan secara real dari semua stakeholders,”ungkap dekan FISIP periode 2021-2025 ini. Dekan FISIP UMM, Muslimin Machmud, Ph.D siap kawal program COE Terintegrasi (foto:ist) Muslimin mengungkapkan perubahan orientasi tata kelola perguruan tinggi yang menekankan pada kemampuan perguruan tinggi memenuhi kebutuhan stakeholders menjadi salah satu pertimbangan FISIP mewujudkan Integrated COE ini. “Ada tuntutan desain kurikulum perguruan tinggi yang mengharuskan terjadi link and match antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Perubahan kebijakan kurikulum perguruan tinggi yang mewajibkan proses pembelajaran dilakukan berdasarkan konsep MBKM dan OBE juga menjadi dasar mengapa COE Terintegrasi ini sangat penting,”imbuhnya. Perwujudan dari COE Terintegrasi ini adalah lahirnya pusat unggulan pada masing-masing prodi. Pusat unggulan ini nantinya akan diintegrasikan dengan program strategis lain yang mendukung terlaksananya program pendidikan, penelitian, pengabdian, kemahasiswaan, dan program lainnya yang mengarah pada ketersediaan layanan unggulan bagi stakeholders. Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Penelitian dan AIK FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, M.PA mengatakan ada lima bentuk pusat unggulan yang akan lahir di FISIP. “Kelima pusat unggulan tersebut diantaranya adalah Sekolah Gerakan Kesejahteraan Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, UMM-Trans Media Academy di Program Studi Ilmu Komunikasi, Sekolah Konsultan Politik dan Pemerintahan untuk Program Studi Ilmu Pemerintahan. Selain itu juga ada Paradiplomacy Institute yang diwujudkan oleh Program Studi Ilmu Hubungan Internasional dan Sekolah Hubungan Industrial Kompetensi Manager di Program Studi Sosiologi,”ujar Salahudin. COE yang dikembangkan ini akan diarahkan pada pengembangan pusat unggulan berbasis disiplin ilmu di masing-masing prodi. Selain itu, desain COE terintegrasi juga akan memperhatikan program strategis lain pada tingkat universitas dan fakultas, di antaranya program UMM Pasti, Kelulusan Tepat Waktu (KTW), One Student One Product (OSOP), One Lecturer One Book (OnBok), Program MBKM, Promosi Universitas, Branding Kepakaran Dosen, dan program lainnya. Ia berharap perkembangan lebih lanjut dari desain COE terintegrasi, yaitu COE pada masing-masing prodi dapat menjadi pusat income bagi program studi, fakultas, universitas, dan alumni. “COE Terintegrasi ini juga akan melibatkan mitra-mitra FISIP seperti instansi pemerintahan dan kolega-kolega di dunia industri agar terjadi link and match antara perguruan tinggi sebagai center of knowledge dan dunia kerja,”tegasnya. Go ahead, FISIP UMM! (wnd)
Melebur Perbedaan Demi Persatuan, FISIP Wujudkan PESMABA Luritas

Kamis, 23 September 2021 16:04 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi masih menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru atau yang biasa disingkat dengan istilah Pesmaba. Begitu juga yang dialami oleh FISIP UMM. Seiring dengan turunnya level PPKM di kawasan Malang Raya, FISIP UMM tahun ini mengadakan Pesmaba dengan format luritas (luring terbatas) untuk menyambut para generasi baru Angkatan 2021. Sebagai konsekuensinya, kegiatan ini pun digelar melalui penerapan standar prokes yang ketat. Pesmaba luritas hari ini (23/9) diikuti oleh seluruh maba FISIP 2021 melalui dua cara. Sebagian mengikuti kegiatan offline di lokasi acara, yaitu di Dome UMM, dan sisanya bisa mengikuti secara daring melalui zoom. Penampilan tari Mangastuti persembahan UKM Sangsekerta UMM pada pembukaan Pesmaba FISIP 2021 (foto: humas) Wiebi Winarto, ketua panitia Pesmaba FISIP 2021 mengatakan meski diadakan secara luring terbatas namun semangat para maba tidak berkurang. “Sebab semangat kami sama, FISIP Satu Asa, kami satu tujuan. Kita memang berasal dari kondisi dan asal yang berbeda-beda, namun melalui kegiatan ini, kita semua melebur perbedaan itu menjadi semangat bersatu. Meski kita tidak bisa menjadi satu di lokasi secara bersama-sama namun semangat kita sama, FISIP Satu Asa,”jelas mahasiswa yang juga Wakil Gubernur Mahasiswa FISIP UMM ini. Round Table: suasana Pesmaba luritas ala FISIP UMM (foto:humas) Semangat bersatu dan merasa memiliki sebagai sebuah kesatuan di FISIP juga ditekankan oleh Dekan FISIP UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si. Rinikso mengatakan mahasiswa baru FISIP harus merasa bangga karena menjadi keluarga besar FISIP UMM. “FISIP memiliki kasta tertinggi dibandingkan fakultas sospol di kampus-kampus lain di Malang Raya. Mengapa saya sebut memiliki kasta tertinggai, sebab kita memiliki dua prodi yang berstatus akreditasi Unggul yaitu Prodi Ilmu Pemerintahan dan Sosiologi. Di Malang Raya, hanya FISIP UMM yang memilikinya. Bahkan Prodi Sosiologi juga hanya satu di UMM saja yang terakreditasi Unggul. Prodi-prodi FISIP UMM yang lain seperti Komunikasi, HI dan Kesos juga sudah terakreditasi A. Prodi Ilmu Komunikasi juga baru saja memperoleh pengakuan internasional AUNQA, yang juga akan segera menyusul proses untuk sertifikasi internasional FIIBA,”ungkap Rinikso yang disambut gemuruh tepukan tangan maba. Dekan FISIP saat memberikan sambutan bersama dengan jajaran dekanat dan kaprodi di lingkup FISIP UMM (foto: humas) Menurut doktor lulusan UI ini, mahasiswa baru dituntut harus lebih aktif dan kreatif, karena zamannya sudah berbeda dengan masa sebelumnya. “Harus punya tanggung jawab tinggi. Orang tua anda sudah berjuang susah payah, ada yang ketika berangkat (daftar kuliah,red) sudah punya uang, ada yang menabung bertahun-tahun demi anaknya bisa kuliah. Anda harus ingat-ingat ini sampai kapanpun,”pesannya. Credibility of moral juga menjadi satu kata kunci yang sangat penting ketika menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. “Jangan sampai kena narkoba, jangan sampai melakukan tindakan kriminalitas. Ingatlah perjuangan orang tua anda, setidaknya jangan membuat malu orang tua. Semoga pilihan anda bergabung di FISIP UMM menjadi perjalanan spiritual yang mendukung kesuksesan anda kelak, selamat bergabung di FISIP UMM,”imbuhnya. Dalam kegiatan Pesmaba yang akan digelar hingga Sabtu, 25 September nanti, maba FISIP 2021 akan mengikuti sejumlah kegiatan yang menarik. Pada hari pertama Pesmaba FISIP hari ini setelah pembukaan resmi, mahasiswa mendapatkan materi terkait pengenalan kultur akademik, pengenalan keuangan perkuliahan dan pengenalan kegiatan kemahasiswaan. Pada agenda esok hari akan ada sejumlah materi leadership dan pengenalan UKM. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, M.IP juga dijadwalkan akan menjadi special guest dalam kegiatan Pesmaba FISIP di hari kedua. (wnd)
Pakar Politik Pemerintahan FISIP Soroti Gurita Praktik Korupsi Di Malang Raya

Selasa, 31 Agustus 2021 11:12 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Praktik korupsi di Malang Raya yang menyeret sejumlah pejabat pemerintah ke jeruji besi menjadi topik orasi ilmiah pada Yudisium FISIP Periode III Tahun 2021. Pada gelaran yudisium yang diadakan pada hari ini (31/8) di Taman Rekreasi Sengkaling UMM, Dr. Salahudin, M.Si, M.PA, pakar politik pemerintahan FISIP UMM memaparkan jejaring praktik korupsi yang ditelitinya di depan 296 peserta yudisium secara virtual. Salahudin menyebut aktor politik yang terlibat dalam praktik korupsi di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, umumnya dilakukan kepala daerah, pejabat eselon I-III dan didukung oleh aktor politisi parlemen. Dr. Salahudin, M.Si, M.PA ketika menyampaikan orasi ilmiah (foto:humas) Menurut hasil riset doktor bidang Ilmu Politik tersebut, ada kepentingan kelompok, pribadi, bisnis yang terlibat sehingga akhirnya kebijakan APBD yang dirumuskan bersama tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Lalu bagaimana jejaring yang dilakukan oleh para aktor korupsi tersebut? Salahudin mengatakan jika praktik korupsi ini didukung okeh jejaring politik yang melibatkan politik pengaruh dan politik dominasi. “Dua dominasi ini mendorong para aktor politik mendorong melakukan korupsi. Politik pengaruh menggunakan kekuatan politik memengaruhi aktor-aktor lain, baik di struktur politik, struktur parlemen atau di luar itu. Politik dominasi juga mendorong elit politik yang berkuasa di dalam mengambil dominasi dalam pengambilan keputusan. Mereka juga memengaruhi dominasi aktor-aktor politik lain sehingga mendominasi pengambilan kebijakan,”jelas Salahudin. Ada perbedaan karakteristik yang terjadi di beberapa daerah di Malang Raya terkait praktik korupsi. Praktik korupsi di Kota Malang terkait dengan praktik suap pejabat birokrasi pada politik parlemen. Anggaran suap sebanyak 900 juta berhasil dikumpulkan dari sejumlah pengusaha, mengalir sebanyak 700 juta ke politisi parlemen dan 200 juta kepada sekda. Sedangkan di Kabupaten Malang, jenis praktik korupsi yang dilakukan berbeda dengan Kota Malang. Di Kabupaten Malang, praktik korupsi dilakukan dengan pemberianfee proyek yang mengalir pada dua aktor besar. Dua aktor besar ini adalah perusahaan yang dipinjam broker, dan kepada para pejabat yang bermain dengan broker. “Broker yang terlibat adalah broker yang terlibat dalam pemenangan Pilkada atau tim sukses. Tim sukses inilah yang diberi tugas secara informal mengendalikan, dan mengorganisir praktik proyek di Kabupaten Malang. Korupsi sudah sangat mewarnai proses birokrasi, proses pengambilan keputusan, dan proses pengambilan kebijakan strategis di pemerintahan,”tuturnya. Berbeda dengan kota Malang dan Kabupaten Malang, di Kota Batu, jenis korupsi yang dilakukan adalah jenis gratifikasi dan fee proyek yang lagi-lagi melibatkan pengusaha. Proses gratifikasi yang terbukti di persidangan, dilakukan dengan pemberian mobil senilai satu milyar lebih ke walikota Batu. Pengusaha juga memberikan nilai fee proyek (sekitar 10%) mengalir ke pejabat birokarasi yang berperan dalam pengadaan barang dan jasa di Kota batu. Menariknya, fee proyek ternyata juga mengalir pada pejabat birokrasi kelas bawah yang memiliki posisi strategis. Dari praktik korupsi di tiga daerah tersebut, jejaring korupsi ternyata sudah sangat kuat dan dibentuk melalui desain yang diatur secara politik. Desain politik ini didalamnya tentu ada kepentingan bisnis, yang akhirnya mengendalikan kebijakan anggaran, itulah yang disebut korupsi anggaran. “Praktik korupsi memberikan gambaran pada kita sebagai akademisi, sebagai masyarakat intelektual, bebannya akan jauh lebih berat. Perlu ada gerakan bersama, yang disebut sebagai gerakan sosial kolektif agar kita semua sebagai aktor-aktor intelektual memiliki kesadaran bersama untuk mengubah struktur pemerintahan, melakukan aksi nyata, agar bisa meminimalisir praktik korupsi sesuai dengan daerah masing-masing,”ungkapnya. Peraih tiga terbaik fakultas, (ki-ka) Ani Nuraini, Cindy Rezma, Syaqila Febriani (foto:humas) Pelaksanaan yudisium FISIP Periode III Tahun 2021 kali ini digelar dengan konsep berbeda. Dengan tetap mematuhi standar protokol kesehatan yang ketat, yudisium digelar dengan blended system, gabungan antara luring dan daring. FISIP memilih venue Taman Rekreasi Sengkaling UMM sebagai lokasi yudisium. Sedangkan untuk para peserta yudisium bisa mengikuti melalui platform zoom. Acara ini juga bisa disimak secara langsung melalui tayangan live streaming Youtube FISIP UMM. Ketua panitia yudisium FISIP periode III, Zaenal Abidin, M.Si mengatakan pemilihan venue outdoor ini bertujuan agar memberikanvibes yang berbeda pada pelaksanaan yudisium. “Kami ingin memberikan kesan berbeda untuk para calon wisudawan, oleh karena itu jika biasanya yudisium dilakukan di dalam ruangan, kali ini kami adakan di luar ruangan,”jelas Zaenal. Penyerahan penghargaan pada gelar terbaik fakultas (foto;humas) Yudisium periode III ini berhasil meluluskan sebanyak 296 calon wisudawan. Terbaik pertama tingkat fakultas diperoleh oleh Ani Nuraini dari Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan IPK 3,96, terbaik kedua diraih oleh calon wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional yang bernama Cindy Rezma Fanny dengan perolehan IPK 3,90. Sedangkan terbaik ketiga berhasil diraih oleh Syaqila Febriani Noor Muthia dari Prodi Kesejahteraan Sosial dengan IPK 3,87. Gelar terbaik fakultas diberikan berdasarkan perolehan akumulasi IPK tertinggi dan masa studi (wnd).