Membanggakan, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM Sukses Raih Akreditasi Unggul

Kamis, 19 Agustus 2021 05:07 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kabar gembira bagi civitas akademika FISIP UMM. Tahun ini, FISIP UMM berhasil mengantarkan Program Studi Ilmu Pemerintah meraih akreditasi Unggul. Keputusan tersebut berdasarkan hasil visitasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang tertuang dalam SK BAN-PT No. 10202/SK/BAN-PT/AK-ISK/S/VIII/2021. Sertifikat akreditasi prodi Ilmu Pemerintahan berlaku mulai dari 18 Agustus 2021 sampai dengan 25 Juli 2022. Berhasil: Prodi Ilmu Pemerintahan raih akreditasi unggul Kaprodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM, M. Kamil, M.A mengatakan dirinya sangat bersyukur atas keberhasilan Prodi IP meraih akreditasi Unggul. Hal ini tentu tidak lepas dari dukungan serta kerja keras berbagai pihak khususnya civitas akademika FISIP UMM. “Pencapaian ini sangat berarti bagi kami sebagai upaya meningkatkan standar pelayanan akademik prodi. Terimakasih atas dukungan pimpinan universitas, stakeholders, kerja kolaboratif tim task force dan seluruh tim prodi atas kerja keras, kerja ikhlas dan kerja cerdasnya,”ujar M.Kamil. M. Kamil, M.A, Kaprodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMM (foto:ist) Di sisi lain, Dekan FISIP UMM, Dr.Rinikso Kartono, M.Si mengungkapkan, secara tidak langsung keberhasilan meraih akreditasi unggul ini turut menaikan reputasi FISIP UMM di mata masyarakat, sehingga bisa semakin menarik minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikannya di fakultas ini. “Dengan akreditasi Unggul, tentu kepercayaan masyarakat terhadap prodi Ilmu Pemerintahan semakin baik. Ini penting untuk memberikan jaminan kualitas pendidikan untuk masyarakat,” ungkapnya. Ketika sebuah institusi memiliki akreditasi unggul maka hal itu merupakan jaminan mutu dalam bidang akademik maupun non akademik. Dengan mengetahui jaminan mutu melalui akreditasi, calon mahasiswa akan mengerti kualitas di dalam universitas dan program studi yang akan dipilih. Meskipun demikian capaian keberhasilan Prodi Ilmu Pemerintahan ini tidak boleh membuat FISIP UMM berpuas diri, karena tantangan di dunia pendidikan semakin tinggi. “Kami juga mendorong seluruh prodi di FISIP agar terakreditasi unggul semua. Tentu tidak mudah, namun hal itu perlu diupayakan secara maksimal dan optimal,”imbuhnya. Masa berlaku akreditasi Unggul ini adalah satu tahun. Sebelum masa setahun itu berakhir asessor BAN-PT akan melakukan assessment berkala. Secara institusi akreditasi unggul ini sangat penting karena merupakan salah satu parameter penting pada Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi yang ditetapkan oleh Kementerian. Akreditasi unggul merupakan sebuah peringkat yang diperoleh universitas atau perguruan tinggi yang memenuhi aturan BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional perguruan tinggi). Akreditasi ini ditetapkan oleh peraturan BAN-PT pada tahun 2020 nomor 1 mengenai “mekanisme akreditasi”. Ketika perguruan tinggi berhasil mendapatkan akreditasi unggul, dapat dikatakan bahwa universitas tersebut sangat baik mengenai prestasi yang ada di dalamnya. Untuk meraih akreditasi unggul tersebut setidaknya sebuah institusi harus memenuhi beberapa syarat yang ditentukan oleh BAN-PT. Prodi harus melakukan sinergi kolaboratif dengan fakultas, universitas, dan stake holder lainnya. Persyaratan tersebut diantaranya adalah prodi harus menyusun dokumen secara komprehensif (mengisi borang ISK) serta memperhatikan standar akreditasi. Tujuan dari standar akreditasi ini adalah untuk mengukur dan juga menetapkan mutu pada kelayakan institusi. Syarat akreditasi ini terdiri dari beberapa penilaian elemen dasar yakni memenuhi penilaian elemen dasar yang berupa parameter dan juga indikator kunci yang digunakan sebagai dasar dalam menetapkan mutu perguruan tinggi yang bersangkutan. Selain itu fakultas dan universitras juga harus melakukan pengelolaan kontrol mutu dengan SPMI didasarkan pada standar mutu dan kualitas program studi. (wnd)
Perkuat Teori dan Konsep, FISIP Gelar Workshop untuk Para Pembimbing Skripsi

Sabtu, 07 Agustus 2021 15:15 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebagai bagian upaya untuk menguatkan kompetensi pembimbing skripsi, FISIP UMM mengadakan sharing session #2. Sharing session hari ini (7/8) merupakan kelanjutan dari sharing session metodologi penelitian yang diadakan (4/8) lalu. Pada sharing session kedua ini, tiga doktor FISIP didaulat sebagai pembicara dalam diskusi yang bertajuk Strategi Penguasaan Teori dan Konsep dalam Bimbingan Skripsi. Ketiga doktor tersebut adalah Dr. Muslimin Machmud, M.Si dari Prodi Ilmu Komunikasi, Dr. Vina Salviana DS, M.Si, dosen Prodi Sosiologi dan Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si yang merupakan dosen Ilmu Pemerintahan. Suasana sharing session#2 yang digelar melalui aplikasi zoom Dr. Muslimin mengatakan bahwa tidak jarang ditemukan dalam proses bimbingan skripsi untuk program Sarjana Stara 1, mahasiswa bimbingan “menelan mentah-mentah” masukan lisan dari dosen pembimbingnya. Mahasiswa juga cenderung malas menggali (membaca) sendiri dari sumber-sumber tertulis yang direkomendasikan padanya. “Kemudahan sistem copy-paste dari berbagai sumber yang tersebar di internet, sebelum dibaca, dipelajari, dipilah-pilah, ditimbang-timbang serta dievaluasi sendiri, menjadi salah satu kontribusi miskinnya orisinalitas temuan atau komparasi gagasan yang kreatif dalam suatu karya tulis ilmiah. Akhirnya ya kering sekali bacaannya,”jelas Muslimin. Doktor alumni dari University of Malaya Malaysia ini menyarankan para pembimbing skripsi agar konsisten melakukan penelitian agar terbiasa dengan pemahaman konsep dan teori. Pembicara berikutnya, Dr. Vina Salviana DS, M.Si, dalam konteks teori sosial, para pembimbing harus memahami betul realitas atau fenomena yang diteliti, baik realitas yang tampak maupun yang tidak tampak. Cara memahamkan mahasiswa untuk memilih teori adalah yang pertama memetakan realitasnya terlebih dahulu. Termasuk dalam makro, meso atau mikro subjektif, hal ini dilakukan agar tidak salah memilihkan teorinya. “Misal seharusnya teori kritis tapi pakai teori struktural fungsional, bukan jodohnya tapi dijodoh-jodohkan. Tentu tidak tepat,” ungkap Vina. Menurut Vina, dalam memilih realitas yang dipilih tentu harus dipilih realitas yang menarik dan unik. Realitas yang menarik adalah realitas yang menjadi masalah dan unik. Masalah didefinisikan sebagai selisih antara das sollen dan das sein sedangkan yang unik adalah yang jarang diteliti. Langkah berikutnya adalah mahasiswa harus memilih dengan tepat paradigma yang dipilih dan berikutnya baru memilih teori dan metode risetnya. “Salah satu yang perlu dikritisi adalah mahasiswa cenderung menggunakan teknik Miles dan Huberman untuk penelitian kualitatif. Padahal metode-metode fenomenologi, etnometodologi, etnografi, tidak bisa hantam kromo pakai teknik analisis data Miles and Huberman,”imbuh Vina. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si, doktor dari Prodi Ilmu Pemerintahan memaparkan tentang penerapan mixed method. Mixed Method merupakan metode yang masih sangat jarang digunakan karena beberapa sebab, salah satunya adalah perbedaan pandangan terhadap metode ini. Sebab antara kualitatif dan kuantitatif memiliki perbedaan perspektif yang tajam. Namun sejatinya, menurut Creswell, mixed method dianggap memberikan pemahaman yang jauh lebih lengkap tentang persoalan atau isu yang diangkat. “Awalnya saya termasuk yang tidak sepakat dengan mixed method ini, namun setelah saya pelajari dari berbagai pihak, sebenarnya mixed method ini lebih dekat ke integratif atau keberlanjutan, bukan semata-mata dicampur. Jadi setelah menggunakan metode kualitatif kemudian dilanjutkan dengan kuantitatif,”jelas Tri Sulis. Tri Sulistyaningsih menyarankan jika ingin menggunakan mixed method ini, peneliti harus memahami bahwa teori dalam penelitian metode campuran dapat diterapkan secara deduktif atau menerapkan pola secara induktif dengan pemunculan teori. Setelah sharing session kedua ini, pada 18 Agustus 2021 dan 21 Agustus 2021 nanti akan ada dua seri workshop tentang penulisan artikel jurnal internasional bereputasi. Kedua sesi tersebut salah satunya akan diisi oleh Dr.Salahudin, M.Si, M.PA, salah satu doktor termuda di FISIP yang banyak menghasilkan publikasi di sejumlah jurnal terindeks Scopus. (wnd)
FISIP UMM Upgrade Keilmuan Sebelum Sambut Semester Baru

Rabu, 04 Agustus 2021 12:52 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pandemi tidak menghalangi para dosen FISIP UMM untuk belajar dan mengupgrade keilmuan. Dilaksanakan secara daring, FISIP menggelar Sharing Session Refreshing Penerapan Metodologi Penelitian dalam Pembimbingan Skripsi pada hari ini (4/8) melalui platform zoom. Di sela-sela melaksanakan aktivitas akademiknya, sebanyak 45 dosen se-FISIP menyempatkan untuk mengikuti sharing session yang menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Rinikso Kartono, M.Si dan Dr.Oman Sukmana, M.Si. Sharing session ini rencanaya akan diadakan dalam beberapa seri. Kegiatan yang digelar pada hari ini adalah seri pertama dari Refreshing Metode Pembelajaran, Pembimbingan, Penelitian, dan Publikasi. Total ada enam seri yang akan diadakan hingga September nanti. Refreshing metodologi penelitian ini merupakan ijtihad untuk lebih bertanggungjawab pada tindakan ilmiah. Pembicara pertama, Dr.Rinikso Kartono, M.Si mengatakan dengan menguasai teori, konsep dan metodologi maka dosen akan lebih percaya diri dalam melakukan pembimbingan skripsi. Ada tiga masalah dalam penguasaan teori dan metodologi dalam proses pembimbingan yang sering terjadi. Ketiga hal tersebut adalah problem intensitas dan kapasitas mahasiswa dalam bimbingan, kedua adalah masalah intensitas dosen dalam proses bimbingan dan yang ketiga adalah penguasaan teori dan metodologi dalam proses bimbingan. Permasalahan inilah yang mendasari mengapa perlu melakukan sharing session metodologi dalam pembimbingan skripsi. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai oleh dosen pembimbing dalam melakukan pembimbingan skripsi. “Relevansi masalah dalam penelitian, penentuan pendekatan kualitatif versus kuantitatif dan keselarasan antara metodologi dan teknik harus menjadi concern bagi seorang pembimbing. Jangan sampai seorang dosen pembimbing tidak menguasai hal-hal tersebut,”jelas Rinikso. Selain itu penguatan deskripsi latar belakang dalam skripsi dan pemahaman tentang sitasi sumber primer dan sekunder juga perlu diperhatikan oleh seorang dosen pembimbing. “Penting juga kita pastikan ketika mahasiswa mengambil judul skripsi, harus diklarifikasi mahasiswa ingin menjadi apa dengan judul skripsi yang dipilih itu. Sebaiknya judul skripsi relevan dengan keahlian yang ingin dituju oleh mahasiswa tersebut,”tutur Rinikso. Sesi kedua dalam sharing session ini menghadirkan doktor gerakan sosial, Dr. Oman Sukmana, M.Si. Oman menjelaskan tentang pentingnya memahami paradigma, pendekatan dan jeni-jenis penelitian. Menurutnya, membuat penelitian sebaiknya tidak berangkat dari judul, namun dari deskripsi fenomena yang ingin diteliti. “Menurut saya deskripsi fenomena yang ingin diteliti ini lebih penting, jangan mikir judul dulu. Terlebih dalam penelitian kualitatif, misalnya, judul bahkan bisa berubah di detik-detik akhir,”ungkap Oman. Wakil Dekan 1 Bidang Akademik FISIP UMM, Dr.Dyah Estu Kurniawati, M.Si mengatakan refreshing metode pembelajaran, pembimbingan, penelitian dan publikasi ini merupakan sebuah upaya agar para dosen bisa merefresh keilmuan. “Karena bentuknya adalah sharing session jadi formatnya diskusi, bapak ibu dosen bisa menyampaikan update keilmuan baik dalam hal metodologi ataupun dalam kajian lain. Kegiatan ini semoga bisa menjadi semacam suntikan motivasi sebelum memasuki semester baru,”ujar Dyah. Sabtu depan, seri berikutnya akan dilanjutkan dengan sharing session tentang strategi penguasaan teori dan konsep dalam penelitian. (wnd)
FISIP Beri Bantuan Makanan Sehat Untuk Mahasiswa Isoman

Sabtu, 17 Juli 2021 05:16 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebagai bentuk kepedulian pada sejumlah mahasiswa FISIP yang menjalani isolasi mandiri akibat covid-19, FISIP UMM memberikan dukungan makanan sehat siap saji. Catering khusus isoman ini diperuntukkan bagi mahasiswa FISIP perantauan yang menjalani isoman di kost. Tim Satgas Covid-19 FISIP UMM melalui program FISIP Peduli Covid-19 menyalurkan bantuan catering isoman sebanyak dua kali sehari selama lima hari untuk mahasiswa isoman. FISIP menggandeng pihak eksternal sebagai penyedia makanan sehat tersebut. FISIP Peduli Covid-19, program kepedulian FISIP UMM untuk mahasiswa terdampak covid-19 (foto:humas) Tim Satgas menggalang donasi dari para dosen sejak 11 Juli 2011. Donasi yang dikemas dalam program FISIP Peduli Covid-19 tersebut berhasil menghimpun dana sebanyak Rp 13.875.000 hanya dalam waktu tak lebih dari dua hari. Tim satgas yang dikomandani oleh Jamroji,M.Comms ini kemudian mendata mahasiswa isoman yang membutuhkan support makanan siap konsumsi. Dukungan berupa catering melengkapi support yang telah diberikan oleh universitas yang juga membagikan suplemen vitamin dan obat. “Kita lakukan pendataan kebutuhan mereka dan coba kita bantu semampu kita. Awalnya mau kita beri top up ovo atau gopay saja agar mahasiswa bisa pesan makan online, namun dengan pertimbangan memastikan mahasiswa isoman mendapat asupan makanan bergizi, maka tim memutuskan untuk memesankan makanan sehat melalui catering khusus isoman,”ujar Jamroji. Dalam paket catering sehat tersebut, mahasiswa isoman mendapatkan nasi, lauk, sayur, buah, telur rebus, kue basah dan susu. Wakil Dekan III FISIP UMM yang membidangi kemahasiswaan, Zen Amirudin, M.Med.Kom mengatakan, terbentuknya tim satgas ini cukup cepat dan berkoordinasi dalam waktu yang singkat. “Minggu siang itu lewat diskusi WA grup fakultas kami langsung membentuk tim satgas ini. Dari diskusi itu kita lanjutkan dengan koordinasi zoom-meeting, langsung membuka program donasi. Antusiasme para dosen FISIP cukup tinggi, keesokan harinya dengan dana donasi yang terkumpul langsung kita wujudkan dalam bentuk catering isoman dan juga supply vitamin,”jelas Zen. Lekas sembuh: catering sehat untuk para mahasiswa yang sedang isoman (foto: ist) Inisiatif FISIP UMM mewujudkan kepedulian dengan memberikan bantuan berupa makanan sehat siap santap dan vitamin ini diapresiasi oleh Majid Rahim, salah satu mahasiswa yang bergejala ringan dan memutuskan untuk isoman di kost. “Saya sangat terbantu dengan dukungan makanan catering isoman ini. Jadi selama isoman ini saya tidak perlu lagi keluar kost atau meminta tolong teman untuk membelikan makanan. Semoga amal baik para donator mendapat balasan dari Allah, dan senantiasa diberikan kesehatan,”tutur Majid. Tidak hanya memberikan catering isoman, FISIP UMM juga mengidentifikasi mahasiswa yang sakit akibat covid-19 yang tidak bisa menjalani isoman di kostnya. “Cukup miris, ada pemilik kost yang ‘mengusir’ mahasiswa yang sedang isoman. Mengetahui hal itu, kami segera pindahkan mahasiswa tersebut di shelter isolasi yang aman milik kampus,”tutur Jamroji. Ketua Tim Satgas Covid-19 FISIP UMM, Jamroji, M.Comms saat menyerahkan bantuan vitamin pada mahasiswa isoman (foto:rhd) Tidak hanya fakultas saja, prodi-prodi di FISIP juga turut pro aktif melakukan tracing mahasiswa yang terkena covid-19. Melalui telusur dosen wali dan dosen penanggungjawab mata kuliah, pihak prodi kemudian melaporkan ke fakultas jika ada mahasiswa yang positif. Prodi Ilmu Komunikasi bahkan secara pro aktif juga memberikan bantuan berupa vitamin, suplemen, buah, susu dan kue kering untuk mahasiswa isoman. (wnd)
Kritik Politik Islam di Indonesia: Sekedar Politik Identitas

Rabu, 23 Juni 2021 15:56 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Perkembangan politik Islam di Indonesia mengalami fluktuasi sejak era orde baru hingga era reformasi saat ini. Politik Islam di Indonesia acapkali dijadikan alat politik semata saat pemilu. Tak hanya itu, politik Islam di Indonesia juga cenderung mengarah pada politik identitas. Doktor bidang politik FISIP UMM, Gonda Yumitro, MA, Ph.D, memaparkan hasil temuan risetnya ini dalam orasi ilmiah Yudisium FISIP Periode II/2021 pada Rabu (23/6). Doktor lulusan International Islamic University Malaysia ini memaparkan temuan terbaru dari disertasinya secara virtual di depan 136 calon wisudawan FISIP yang dikukuhkan pada hari ini. Gonda Yumitro, M.A, Ph.D, menyampaikan orasi ilmiah secara virtual pada Yudisium FISIP Periode II/2021 pada Rabu (23/6). Menurut Gonda, Islam sebenarnya memiliki posisi yang sangat strategis karena mempunyai sejarah panjang dalam politik Indonesia, dan muslim merupakan penduduk mayoritas Indonesia. Hanya saja, Islam sering dijadikan sebagai alat politik. Ketika membutuhkan dukungan politik, para tokoh sering menggunakan identitas Islam sebagai alat untuk mencari dukungan. Namun uniknya, di era reformasi, meski budaya Islam berkembang, partai-partai Islam justru tidak memenangkan pemilu, “Dari hasil penelitian, saya melihat bahwa partai Islam belum berhasil menawarkan solusi alternatif dengan perspektif Islam dalam penyelesaian berbagai persoalan kebangsaan, seperti isu korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Posisinya di orde baru mengalami penurunan luar biasa. Ketika era reformasi datang, dukungan pada politik Islam mulai bermunculan,”ungkap Gonda. Bentuk dukungan yang muncul seperti halnya mulai tumbuhnya institusi syariah, dan tumbuhnya kelompok-kelompok budaya Islam. Di era reformasi, dukungan pada politik Islam lebih tinggi daripada tantangannya. Gonda menyebutkan ada beberapa aspek legal formal, aspek politik, dan sejumlah aspek lain yang mempengaruhi naik turunnya politik Islam di Indonesia. Berdasarkan hasil risetnya, pada masa orde baru, dukungan pada politik Islam lebih fokus pada bidang birokrasi dan ekonomi. “Pada era reformasi dukungan menguat pada unsur legal formal, dan legalisasi politik islam. Tantangan sebelum reformasi sangat tinggi, namun dukungan rendah. Sedangkan pada era reformasi, dukungan pada politik Islam secara umum mengalami kenaikan, sedang tantangan rendah. Dukungan paling tinggi terhadap politik Islam terjadi pada zaman Habibie, tapi dukungan pada politik Islam pelan-pelan mengalami penurunan hingga sekarang,”ungkap dosen Prodi Hubungan Internasional tersebut. Gonda menyebut faktor yang mempengaruhi penurunan diantaranya adalah konflik serta rendahnya pemahaman terhadap politik Islam. “Partai dianggap Islami jika ada salam atau membuka dengan basmallah, padahal secara substansialnya tidak ada. Disertasi saya menyimpulkan bahwa politik Islam di Indonesia bisa dikatakan mengalami kegagalan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut,”ujar Gonda. Ia menyebut, ketiadaan blue print dan fenomena politik identitas menjadi sebab kegagalan tersebut. Kegagalan politik Islam di Indonesia menyebabkan politik Islam mengalami pergeseran. “Ada kecenderungan upaya Islamisasi Indonesia tetapi di luar jalur politik, melalui berbagai penguatan kemasyarakatan pada bidang sosial, pendidikan, budaya, dan penguasaan media sosial,”tambahnya. Lulusan terbaik kedua dan ketiga berfoto bersama dekanat usai menerima penghargaan secara langsung (foto:wnd) Yudisium FISIP periode II /2021 kali ini masih dilaksanakan secara daring karena kondisi pandemi yang belum berakhir. Pada periode kali ini, prodi Sosiologi memborong tiga predikat lulusan tingkat fakultas. Terbaik pertama diperoleh oleh Rizky Mutiara Yanti, terbaik kedua Zulfa Indah Permata dan terbaik ketiga Marina Alfi Nurmala. Dekan FISIP UMM Dr.Rinikso Kartono, M.Si dalam sambutannya mengungkapkan kebanggaan dan ucapan terimakasih atas kepercayaan orang tua mahasiswa kepada FISIP UMM untuk mendidik putra-putri tercinta hingga usai pendidikannya. Ia juga berpesan agar seluruh civitas akademika tetap mawas diri di masa pandemi. (wnd)
Kolaborasi FISIP dan FEB Hadirkan Solusi Pasca Pandemi

Sabtu, 19 Juni 2021 08:26 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP UMM berkolaborasi dengan FEB UMM sukses menggelar International Conference on Humanities and Social Science 2021 (ICHSoS 2021) pada 18-19 Juni 2021 di Aula GKB 4 UMM. Helatan konferensi internasional cluster kedua yang diadakan di UMM tahun ini melibatkan 80 authors dari berbagai negara. Diadakan dengan blended method, ICHSoS digelar dengan format luring terbatas dan daring melalui aplikasi zoom meeting. Konferensi ini merupakan upaya kritis para akademisi dalam menangani kondisi pasca pandemi. Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr.Syamsul Arifin, M.Si saat membuka ICHSoS 2021 Mengusung tema Social and Political Issues on Sustainable Development in Post Covid-19 Crisis, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyebut bahwa selain untuk menjadi bagian solusi pasca krisis akibat pandemi, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluas khasanah penelitian. “Melalui ICHSoS saya berharap bisa semakin memperluas khasanah riset kita,”ungkap guru besar UMM tersebut. Pada agenda hari pertama, yakni opening and plenary session ICHSoS, ICHSoS menghadirkan para pakar ilmu sosial dari Polandia, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Diantaranya adalah Dr.Vina Salviana DS, M.Si (Indonesia), Dr. Peerasit Kamnuansilpa (Thailand), Dr. Yash Chawla (Polandia), Dr. Khadijah Alavi (Malaysia) dan Dr. Eko Handayanto,MM (Indonesia). Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr Muhajir Efendy diwakili oleh staf khusus Prof. Ravik Karsidi memberikan keynote speech pada kegiatan ini. “Ilmu sosial memiliki banyak peluang dalam penanganan pasca pandemi. Jika ilmu medis menilai covid ini sebagai virus mematikan, dalam perspektif sosiologis pandemi covid-19 ini melahirkan pengetahuan baru karena mutasi perubahan alam. Covid dikonstruksikan sebagai peluang untuk membangun kebijakan endogen yang berpihak pada inovasi sosial berbasis potensi lokal,” ujar Prof. Ravik Karsidi. Para pembicara dalam plenary session ICHSoS 2021 Dr. Vina Salviana DS, M.Si, salah satu speaker dalam plenary session membahas tentang bagaimana perempuan bisa mengambil peran dalam menangani kondisi pasca pandemi. Berdasarkan hasil riset dosen FISIP UMM ini, perempuan memiliki kemampuan berpikir dan bertindak lebih cepat dengan potensi yang mereka miliki. Perempuan dinilai bisa survive secara alami. Kelebihan perempuan dalam hal intuisi dan kepekaan, adalah hal yang cukup baik karena bisa lebih sensitif dan peka sehingga bisa beradaptasi pada perubahan. Perempuan, dengan segala kompleksitasnya, mampu segera menjalani peran-peran ganda. Menjadi pekerja sektor kedua ketika pasangan mereka terhempas oleh dampak covid, bahkan berperan menjadi guru di rumah ketika anak harus sekolah dengan metode daring. Peerasit Kamnuansilpa dari Khon Kaen University Thailand sharing pengalaman Thailand menangani Covid-19, begitu pula dengan Dr. Khadijah Alavi yang mengulas tentang kolaborasi strategis dalam penanganan pandemi di Malaysia. Khadijah Alavi juga memaparkan bagaimana potensi dari social worker dalam masa pandemi ini. Pembicara dari Worclaw University Polandia, Dr. Yash Chawla, pandemi membuat orang menjadi lebih kreatif. Pemilik lima gelar akademik tersebut menyarankan agar orang perlu untuk melakukan berbagai upaya untuk mendukung sustainable consumption. “We have to do recycle, donate and consume what’s required,”ungkapnya. Dr. Eko Handayanto, pembicara dari FEB UMM memaparkan tentang fenomena consumer panic buying di kala pandemi dan bagaimana cara merespon hal tersebut. Suasana panel session ICHSoS hari kedua di salah satu room zoom Pada agenda panel session hari kedua, sebanyak 80 authors dari berbagai negara, mempresentasikan hasil riset mereka secara daring. Dibagi ke dalam 12 breakout room zoom, dari 80 peneliti, Cosmas Gatot Haryono terpilih sebagai Best Speaker dengan papernya yang berjudul Covid-19 Murals: Autocritic Messages From Society in The Public Sphere. Sedangkan Salina Nen, Fauziah Ibrahim dan Norulhuda berhasil meraih predikat Best Paper. Riset mereka berjudul Depression, Anxiety and Fear During the Covid-19 Pandemic Movement Control Order (MCO) in Malaysia mendapat ganjaran sebagai paper terbaik. (wnd/dil)
Borong IISMA 2021, FISIP Raih Awardee Terbanyak se-UMM

Rabu, 16 Juni 2021 10:27 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebanyak tujuh mahasiswa dari sebelas mahasiswa UMM yang lolos dalam Indonesia International Studet Mobility Award 2021 (IISMA 2021) adalah mahasiswa FISIP. Prestasi membanggakan ini dikabarkan oleh Tim Satgas Internasionalisasi FISIP UMM, Shannaz Mutiara Deniar, MA. Kata Shannaz, ketujuh mahasiswa FISIP terpilih menjadi awardee setelah mengikuti seleksi cukup ketat bersama para calon kandidat dari berbagai kampus di Indonesia. IISMA 2021 adalah program mobilitas internasional mahasiswa Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi bereputasi manapun di dunia untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan serta kompetensi mahasiswa. Program ini akan diikuti awardee selama satu semester. Ketujuh mahasiswa FISIP yang menjadi awardee IISMA 2021 (foto: IG FISIP) Ketujuh mahasiswa yang berhasil menjadi awardee IISMA 2021 ini terdiri dari enam mahasiswa Prodi Hubungan Internasional dan satu mahasiswa dari Prodi Ilmu Pemerintahan. Mahasiswa dari Prodi Hubungan Internasional diantaranya adalah M. Solahudin Al Ayubi( University of Glasgow), Indrawati (University of Sussex), Farah Isnaini Mikli (University of Granada), Lucke Karimah PS (Sapienza University of Rome), Vivi Ariesta N (University of Warsaw), dan Geralda Grevi Nanda N (University of Pecs). Sedangkan Rizky Juda Putra Hidayat, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2018, akan belajar selama satu semester di Middle East Technical University. Dalam program IISMA ini mahasiswa terpilih akan belajar di kampus-kampus tujuan dan berlangsung satu semester yang akan dimulai pada sekitar bulan Agustus-September nanti. “Melalui program IISMA mahasiswa diajak untuk mengenal kultur pendidikan yang berbeda, menambah pengalaman budaya mahasiswa serta mengasah kemampuan skill mahasiswa melalui project-project,”ujar Shannaz. Dosen FISIP yang juga alumni Yeungnam University, Korea Selatan ini mengatakan masa studi awardee yang mengikuti program IISMA akan dikonversi sebanyak 20 SKS, atau menyesuaikan dengan aturan prodi masing-masing. “Saya harap program ini dapat memberi cambuk bagi mahasiswa lain untuk mengikuti program serupa dan meraih prestasi level internasional. Mahasiswa FISIP sangat terbuka peluangnya untuk mendapat pengalaman beasiswa di luar negeri karena memang FISIP sedang fokus dalam internasionalisasi. Hal ini juga sejalan dengan visi misi universitas,”imbuhnya. Shannaz Mutiara Deniar, MA, tim Satgas Internasionalisasi FISIP UMM (foto:ist) Seleksi IISMA 2021 telah dimulai sejak bulan Mei lalu. Selain mensyaratkan perolehan IPK minimum 3.00, para pelamar juga harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat TOEFL iBT dengan minimal score 80, TOEFL ITP 550, IELTS 6.0 atau Duolingo dengan score 100. Mereka juga harus melewati seleksi wawancara cukup ketat. Rizky Juda Putra Hidayat, salah satu awardee mengatakan, mereka diberi pertanyaan tentang kontribusi yang ingin diberikan jika lolos program, lalu mengapa memilih universitas tertentu sebagai tujuan IISMA. “Kita juga ditanya tentang kontribusi kita pada program IISMA dan juga universitas tempat tujuan, dan tentunya kesiapan kami untuk menjadi semacam ambassador untuk program ini di masing-masing university,”ungkap Juda, sapaan akrab Rizky Juda Putra Hidayat. Prestasi ketujuh mahasiswa FISIP ini disambut gembira oleh Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Dr. Dyah Estu Kurniawati, M.Si. Dyah berharap keberhasilan mahasiswa-mahasiswa FISIP ini bisa menjadi motivasi untuk semakin berkembang dan mampu beradaptasi pada perubahan global. (wnd)
Webinar FISIP: Serangan Balik Koruptor Pada KPK

Kamis, 10 Juni 2021 17:41 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Gonjang-ganjing isu yang menggoyang KPK beberapa waktu terakhir memantik keprihatinan civitas akademika FISIP UMM. Hari ini (10/6) FISIP UMM menggelar Diskusi Publik yang bertajuk Gonjang-Ganjing KPK: Analisis Kritis KPK dari Perspektif Politik dan Hukum. FISIP menghadirkan sejumlah pembicara di bidang hukum dan politik. Tokoh hukum Indonesia yang juga mantan wakil ketua KPK, Dr Busyiro Muqoddas, menjadi salah satu dari empat pembicara dalam webinar kali ini. Selain Dr.Busyiro Muqoddas, FISIP juga menghadirkan Prof. Azyumardi Azra, M.A, cendekiawan muslim Indonesia dan Feri Amsari, S.H,M.H.LLM, aktivis hukum Indonesia yang juga merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas. Dari FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si berkesempatan untuk menjadi pembicara sekaligus keynote speaker pada diskusi public ini. Hasil tangkapan layar Webinar FISIP yang menghadirkan sejumlah tokoh anti korupsi nasional Dr. Rinikso Kartono, Dekan FISIP UMM ketika memberi pengantar pada diskusi public terkait KPK hari ini mengatakan tindakan labelling pada calon anggota KPK yang tidak lolos TWK adalah perilaku yang tidak adil. Terjadi labelling terhadap pemberantas korupsi sebagai orang-orang tidak Pancasilais namun para koruptor tidak diberi labelling negative. “Serangan balik dari koruptor yang terjadi juga mempengaruhi semua elemen di masyarakat, instrument kebaikan menjadi pudar, instrument yang kuat saat ini adalah uang. Kita tidak usah heran jika lebih 300 orang termasuk kepala daerah masuk dalam bursa kepemimpinan,” ujar Rinikso. Ia mengatakan ada permasalahan yang sangat substansi pada korupsi. Ada yang mengatakan iman, pendidikan, namun juga banyak orang yang terlihat religious dan berpendidikan tinggi namun juga korupsi. Menurut Rinikso, birokrasi menjadi kata kunci dalam penanggulangan korupsi di Indonesia. Sistem politik kita sadar tidak sadar adalah demokrasi capital, yaitu demokrasi yang berbasis pada uang, jika tak ada uang biasanya akan berkolaborasi dengan bossism. Dr Busyro Muqoddas, mantan wakil ketua KPK, mengatakan ada hubungan timbal balik antara demokrasi dan korupsi. Di era presiden Jokowi, ada factor determinan oligarki politik dan oligarki taipan terhadap produk politik. Turunnya indeks persepsi demokrasi parallel dengan turunnya tiga digit indeks prestasi korupsi di era Jokowi dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menjadi indikasi pembusukan demokrasi ini selaras dengan makin tingginya korupsi. Demokrasi yang terjadi di Indonesia juga merupakan transaksi nasional. Demokrasi transaksional ini memerlukan prasyarat. Yang pertama adalah floating mass, masyarakat diambangkan, dibuat terombang-ambing dalam ketidakjelasan terkait isu-isu korupsi, bisnis narkoba dan isu lainnya. Pembunuhan KPK dan SDM menuju Pemilu 2024 adalah prasyarat berikutnya bagi demokrasi transaksional ini. Dan hal itu terjadi saat ini. Selain itu intensitas represivitas keamanan seperti terror, hoax radicalism, isu intoleran dan gerilya buzzer adalah indikasi demokrasi transaksional berikutnya. Feri Amsari, SH, MH.LLM, dalam upaya konteks pemberantasan korupsi serangan balik para koruptor ini adalah sebuah keniscayaan. “Setiap tahun KPK diserang oleh koruptor, hal ini menurut saya adalah indikasi sederhana yang positif karena berarti KPK masih di jalurnya. Tapi besok jika KPK yang akan datang ini menambah anggaran, ini agak mencurigakan karena kok tiba-tiba akrab dengan DPR dan pemerintah,”ungkap Feri. Feri juga mengulas ketidakjelasan posisi KPK. “KPK itu sebenarnya jenis lembaganya apa, karena di Indonesia hanya tiga jenis Lembaga eksekutif, yudikatif dan legislative. KPK ini masuk dalam Lembaga apa? KPK di Indonesia “dipaksa” menjadi eksekutif,”imbuhnya Menurut Feri Amsari, agar KPK tidak mudah diserang balik oleh koruptor maka harus diletakkan dalam konstitusi. Jika tidak dimasukkan dalam konstitusi maka setiap tahun KPK akan diganggu dengan perubahan-perubahan melalui legislatif. Hanya di era Jokowi yang ada upaya untuk melakukan pengubahan pada undang-undang KPK. “Dalam perspektif Hukum tata Negara, ketika ada perubahan undang-undang KPK berlangsung dengan cepat maka bisa dipastikan bahwa keterlibatan presiden dalam perubahan undang-undang KPK secara serius,”tambahnya. Feri mengatakan ada banyak langkah krusial jika presiden Jokowi ingin menguatkan KPK. Salah satunya adalah pemberian kewenangan yang memadai adalah salah satu cara untuk menguatkan KPK. KPK berhadapan dengan mafia namun KPK tidak dibekali senjata, sehingga jika ingin melindungi KPK beri kekuatan untuk melindungi diri. Ini lebih rasional. Namun penambahan kewenangan justru tidak terjadi pada undang-undang KPK namun yang terjadi adalah pengurangan kewenangan KPK. Alih status pegawai KPK menjadi ASN adalah salah satu upaya pelemahan KPK. Kasus tokoh-tokoh yang tidak lolos TWK akan dianggap tidak pancasilais, sehingga akan menimbulkan stigma negative pada mereka. Harus ada gerakan untuk menolong orang-orang baik yang terkena labelling negative tersebut. Kita ini sedang dalam ancaman korupsi yang nyata, semua harus bergerak untuk menyelamatkan KPK. Prof Azumardi Azra mengungkapkan bahwa gonjang-ganjing KPK ini adalah salah satu pertanda jelek yaitu negative legacy dalam sebuah pemerintahan, dalam hal ini pemerintahan Jokowi. Kasus KPK sekarang ini menyempurnakan negative legacy pemerintahan Jokowi. Seharusnya di periode kedua ini Jokowi habis-habisan untuk meninggalkan positive legacy (warisan positif). Apa yang terjadi akhir-akhir ini terkait KPK ini menjadi puncak dari negative legacy, ini sudah menjadi kemorosotan. “Saat ini kebebasan berekspresi semakin hilang, gawai nya diganggu, ada penangkapan tokoh-tokoh yang vocal. Jika presiden Jokowi ingin menguatkan demokrasi ya bebaskan ornag-orang yang mengkiritik itu. Karena negara ini harus dibangun oleh kebebasan berekspresi, bebas menyampaikan kritik, bukan saja oleh orang-orang yang selalu setuju dengan pemerintah,”ungkap Azyumardi Azra. Menurut guru besar peraih gelar commander of The Order of British Empire kondisi saat ini adalah oligarki dinasti. Koalisi politik yang saat ini yang mengorbankan demokrasi, adalah koalisi besar yang terjadi antara yudikatif, eksekutif dan legislative. POlitik saat ini mengarah ke trading atau tukar menukar. Negative legacy berikutnya adalah semakin melemahnya civil society. Orang-orang yang aktif dalam civil society kemudian masuk ke kekuasaan menjadi bergeser integrasinya. Menurunnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah adalah indikasi negative legacy berikutnya, ini menjadi indeks kerentanan social. Yang meningkat hanya kohesi social, kepedulian pada sesama pasca covid. Semua produk juga saat ini juga akan dikenakan pajak. “Yang bisa kita lakukan adalah menyalakan harapan, walaupun saya melihat tidak ada perubahan atau perbaikan pada KPK ini. Presiden Jokowi juga tidak merespon suara dari 75 guru besar yang mengkritisi kasus KPK ini. Saya tidak melihat KPK ini akan dipulihkan kekuatannya. Walaupun kondisinya pahit, ya biarkan saja KPK seperti itu, meski kerjanya tidak memuaskan, sambil menunggu harapan baru 2024,”ungkap Prof. Azra.(wnd)
Membanggakan, Prodi Ilmu Komunikasi Raih Rekognisi Internasional

Sabtu, 29 Mei 2021 18:29 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pengakuan internasional diperoleh oleh Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Kerja panjang prodi yang berdiri sejak 1986 ini berbuah manis. Prodi Ilmu Komunikasi berhasil mendapatkan rekognisi dari ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) pada Selasa (25/5) lalu. Bahkan Prodi Ilmu Komunikasi UMM adalah prodi Komunikasi PTS Pertama di Indonesia yang mendapat rekognisi internasionl AUN-QA. Tim SAR prodi dan para pimpinan prodi dan fakultas berfoto usai ikuti visitasi virtual dengan para asesor (foto:ist) Proses penilaian kualifikasi internasional dimulai dengan proses penilaian berkas berupa Self Assesment Report (SAR). SAR setebal 87 halaman ini kemudian dikirim ke kantor pusat AUNQA di Thailand. AUNQA adalah lembaga penjaminan mutu ASEAN di perguruan tinggi yang memiliki tanggung jawab mempromosikan penjaminan mutu di lembaga pendidikan tinggi, meningkatkan mutu pendidikan tinggi, dan bekerja sama dengan badan regional dan internasional untuk kepentingan komunitas ASEAN. Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Himawan Sutanto, M.Si mengatakan proses penilaiaian AUNQA ini cukup detail dan membutuhkan usaha dan kerja tim yang kuat. “Setelah penilaian berkas, kemudian dilakukan visitasi secara daring oleh dua asesor internasional. Kebetulan untuk Ikom asesor yang menilai kami dari Prof. Dr. Rosemary Seva dari De La Saile University Filipina dan Assistant Professor Supitcha Sheevapruk dari Mongkut’s University of Technology North Bangkok, Thailand,”ujar Himawan. Pada proses visitasi daring ini kedua asesor melakukan konfirmasi dan klarifikasi pada unsur pimpinan universitas, fakultas, prodi dan tim penyusun SAR. Selain itu juga ada proses visitasi virtual untuk memastikan bahwa fasilitas-fasilitas yang dilaporkan di berkas SAR adalah benar adanya. Asesor juga melakukan klarifikasi proses belajar-mengajar dengan para mahasiswa selaku stakeholder prodi. Kegiatan di laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi Pengakuan AUNQA ini menjadi sebuah titik balik bagi pengembangan prodi berikutnya. “Masukan dan rekomendasi dari para asesor akan kami jadikan sebagai langkah pengembangan prodi selanjutnya. Kedepannya kami akan membuka kelas internasional dan mengembangkan jaringan internasional dengan mitra-mitra strategis,”ungkap Himawan. Dekan FISIP UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si menyambut gembira pengakuan internasional yang diperoleh oleh Prodi Ilmu Komunikasi. “Semoga awalan baik yang dicapai oleh Prodi Ikom ini akan menginspirasi prodi-prodi lain khususnya di FISIP umumnya di UMM untuk memiliki rekognisi internasional yang tentunya akan bermanfaat untuk pengembangan lembaga,”ujar Rinikso. (wnd)
Raih Juara Nasional, Jamet Unggul dalam Kompetisi Creative Campaign

Senin, 10 Mei 2021 18:41 WIB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sebuah prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa FISIP. Kali ini, tim mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menamai diri sebagai Jamet, berhasil menjadi juara 1 dalam Ideation. Ideation adalah salah satu mata lomba dalam Epicentrum 2021, festival komunikasi yang diadakan oleh Universitas Padjajaran Bandung. Digelar pada tanggal 3-6 Mei 2021, Epicentrum merupakan sebuah ajang kompetisi bidang komunikasi terbesar di Indonesia. Tim Jamet yang digawangi oleh Ramadhan Permana Agung, Rosihan Anwar dan Dizar Cahya Afriana sukses mengalahkan dua pesaing berat yaitu Three Musketeer dan Tim Mean Girls yang berasal dari Universitas Indonesia. Keberhasilan mereka menjadi yang terbaik dari limabelas tim perwakilan kampus seluruh Indonesia, tak lepas dari support para dosen, khususnya dosen pembimbing lomba mereka, M.Fuad Nasvian, M.Ikom. Tim Jamet dari Prodi Ikom Lolos Juarai Kompetisi Nasional (foto: Dizar) Sukses besar tim Jamet Ikom UMM ini bukan kali ini saja. Sebelumnya mereka sudah dua kali mencatat prestasi. Tim Jamet adalah pemenang dalam Aduin Fest 2020 yang diadakan UIN Sunan Kalijaga dan Advertising Week Festival/AWF 2020 yang digelar oleh Vokasi Periklanan Universitas Indonesia. Nama Jamet yang unik, diakui memiliki “hoki” tersendiri. Rosihan Anwar, salah satu personel tim Jamet mengaku jika mereka sampai dihafal oleh juri dan dosen UNPAD karena memakai nama Jamet. “Nama Jamet sebenarnya iseng saja sih, tapi ada kepanjangannya yaitu Jawa Metal. Metal ini singkatan dari menang total, semoga kami selalu menang di setiap lomba,”ujarnya. Masing-masing lomba menurut Rosihan dkk, memiliki tantangan yang berbeda. Salah satunya berkaitan dengan pematangan ide kreatifnya. Tema dari mata lomba Ideation ini mengangkat tentang nasib UMKM perempuan yang di masa Pandemi Covid-19 yang tertinggal karena belum menjamah dunia digital. Tim Jamet terdiri dari tiga mahasiswa kreatif Tim Jamet mendapat inspirasi dari cerita founder dari UMKM Batik Briliant Desa Bocek Kabupaten Malang. Uswatun Hasanah, nama founder UMKM Batik Briliant, memiliki impian memajukan desanya lewat batik. Hal itu menjadi alasan tim Jamet mengembangkan ide-ide untuk program campaign. “ Untuk mewujudkan hal tersebut, kami mendesain tujuh program campaign. Kami membranding ulang Batik Brillian lewat program Discovery Parang Lombok. Motif Parang Lombok kan motif asli dari Desa Bocek ini, tapi belum terkenal. Salah satu strategi rebrandingnya adalah kami membuat campaign Women Empower, untuk ngajak perempuan di Indonesia agar mensupport sesama perempuan. Istilahnya women support women gitu ya. Goals dari positioning ini adalah agar motif ini dikenal oleh perempuan,”papar Dizar Cahya. Kendala waktu untuk mendiskusikan konsep campaign mereka juga menjadi tantangan tersendiri. “Lomba ini kan pas Ramadhan ya, jadi kadang kami baru bisa kumpul diatas jam 8 malam sampai begadang. Ya kami berusaha sebaik mungkin di tengah kesibukan kuliah dan tugas praktikum lainnya,”imbuh Rosihan. Tim Jamet berharap, ide campaign ini tidak berhenti disini saja. Mereka berharap bisa merealisasikan ketujuh ide tersebut dan mampu meningkatkan usaha UMKM Batik Briliant melalui program rebranding yang telah mereka susun. Go ahead Jamet! (wnd)