Guru Besar FISIP UMM Optimis Bahasa Melayu Indonesia bisa Menjadi Bahasa Internasional

Minggu, 22 Mei 2022 22:55 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Bahasa adalah identitas suatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan bangsa lain. Setiap bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda dengan ciri khas dan asal-usul masing-masing. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Sejarah Bahasa Indonesia sangat erat kaitannya dengan Bahasa Melayu. Dari dulu bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di Indonesia. Bahasa Melayu memiliki sistem yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dipelajari. Suku-suku di Indonesia pun mengakui dan menerima Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia.      Oleh karena itu Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, optimis bahasa Melayu yang merupakan akar dari bahasa nasional Indonesia mampu menjadi bahasa resmi ASEAN sekaligus bahasa internasional. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (tiga dari kiri) sedang menyampaikan gagasannya pada Forum Dunia Melayu Dunia Islam (foto: ist)     Gagasan tersebut ia sampaikan saat hadir sebagai salah satu panelis dalam Forum Dunia Melayu Dunia Islam yang diadakan di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Mei 2022 kemarin. Forum ini merupakan bagian dari Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu yang diinisiasi oleh Perdana Menteri Malaysia dan menghadirkan lebih dari 70 tokoh intelektual dari berbagai negara yang terbagi dalam 15 sesi. Prof. Muslimin Machmud, M.Si menjadi salah satu pembicara yang menyampaikan ide dan gagasan pada topik Memuliakan Bahasa Melayu di Kawasan ASEAN. Duduk bersama dalam forum tersebut, sejumlah tokoh intelektual dari berbagai negara yakni dari Singapura, Thailand, dan Kamboja dan Malaysia.     Menurut Muslimin, sejarah bahasa Indonesia sendiri tidak lepas dari bahasa Melayu. Sebab sejak dulu, bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa perantara atau pergaulan. Sehingga dasar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dalam berkomunikasi, bahasa Melayu digunakan dimana-mana dan semakin berkembang di Nusantara. Bahasa Melayu Indonesia ini kemudian dipengaruhi oleh corak budaya setiap daerah. Sehingga bahasa ini tumbuh dengan pengaruh bahasa lain seperti bahasa Sansekerta, Persia, Arab dan bahasa Eropa. Dengan demikian, dalam perkembangannya, bahasa ini memiliki dialek yang berbeda-beda antar daerah.      Ia menilai penggunaan bahasa Melayu yang kian mengglobal, tak terkecuali bahasa Melayu versi Indonesia yang menjadi bahasa nasional, adalah peluang bagi bahasa Melayu untuk menjadi bahasa internasional. Ada syarat yang sudah terpenuhi untuk menjadi bahasa antar bangsa. “Ketika bahasa itu digunakan oleh banyak orang, maka jika kita menggunakan terminologi umum maka syarat ini sudah terpenuhi. Jadi ini peluang sekaligus landasan kuat mengapa seharusnya Bahasa Melayu ini bisa digunakan sebagai bahasa internasional, setidaknya di level Asia Tenggara. Bahkan jika ini digunakan sebagai bahasa resmi internasional juga sangat mungkin. Ada 50 negara di dunia yang secara spesifik sudah mempelajari Bahasa Melayu,”tutur guru besar yang juga Dekan FISIP UMM ini. Bahkan untuk mendukung internasionalisasi Bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu, Indonesia sudah melakukan berbagai strategi untuk memasyarakatkan bahasa melayu atau Bahasa Indonesia. Salah satunya dengan mengirim guru-guru untuk mengajar Bahasa di sejumlah negara. “Kampus kami, UMM, bahkan menyediakan 200 beasiswa untuk mahasiswa Thailand, Filipina Selatan dan negara-negata untuk datang ke UMM belajar Bahasa Indonesia, dengan syarat mahasiswa asing tersebut harus menulis dan mengikuti perkuliahan dengan menggunakan Bahasa Indonesia,”imbuhnya.      Sebagai sebuah suku, Melayu di Indonesia jumlahnya memang tidak banyak. Pengguna bahasa Melayu murni jika dilihat berdasar suku hanya sebanyak 17 juta orang namun ini bukan menjadi halangan. Sebab dalam banyak terminologi umum, bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia memiliki kesamaan karena memiliki akar yang sama. Hanya dalam beberapa terminologi khusus saja yang sedikit berbeda. Tak hanya pada penggunaan bahasa Melayu di Indonesia, masing-masing negara di Asia Tenggara juga memiliki perbedaan dalam pemahaman istilah dalam rumpun bahasa Melayu yang digunakan. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si (berbatik merah) saat menghadiri pembukaan simposium bersama Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob, LL.B (foto: ist)      Oleh karena itu, dalam forum tersebut, Muslimin menyajikan sejumlah solusi kepada semua pihak jika berkeinginan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional. Ia menyebutkan harus ada tim taskforce perwakilan masing-masing negara untuk menyamakan persepsi bahwa perbedaan istilah atau terminologi dalam bahasa Melayu masing-masing negara bukanlah sebuah permasalahan. “Sehingga jika ada forum antarbangsa, biarkan saja masing-masing kepala negara menggunakan bahasa Melayu sesuai dengan dialek, intonasi atau kebiasaan yang dilakukan. Ini akan memudahkan penyamaan persepsi. Selain itu generasi muda dianjurkan untuk tidak membuat polemik di sosmed terkait perbedaan terminologi dalam bahasa Melayu, apalagi memasukkan ego politik dalam polemik tersebut. Bahasa Melayu bisa menjadi bahasa antarbangsa jika kita semua bisa menerima dan memaklumi perbedaan yang ada,”ungkapnya. (wnd)

Dosen dan Karyawan Adalah Ujung Tombak Dakwah Muhammadiyah

 Selasa, 05 April 2022 05:22 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Ramadhan adalah bulan mulia bagi umat Islam. Untuk memberikan penguatan semangat bagi dosen dan karyawan, FISIP UMM menggelar buka bersama keluarga dosen dan karyawan. Buka puasa ini adalah yang perdana selama masa pandemi. Antusiasme dosen dan karyawan FISIP UMM beserta keluarga terlihat saat menghadiri kegiatan yang diadakan di ruang aula FISIP UMM pada Senin, 4 April 2022. Tak sekedar buka bersama biasa, kegiatan ini juga menghadirkan salah satu founding father FISIP UMM Prof. Imam Suprayogo dan Sekretaris BPH UMM Drs. H. Wakidi. Suasana pengajian jelang buka bersama keluarga besar FISIP UMM (foto: dyh)     Digelar dalam protokol kesehatan yang ketat, para dosen dan karyawan hadir bersama keluarga masing-masing. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan sebagai sebuah keluarga besar, keterlibatan keluarga sebagai supporting system dosen dan karyawan adalah hal yang penting untuk bersama-sama membesarkan FISIP UMM. “Dalam beberapa kegiatan kita selalu melibatkan keluarga dosen maupun tenaga pendidikan. Karena keluarga merupakan dukungan yang tidak bisa kita abaikan, khususnya dalam mendukung kinerja para dosen karyawan di bulan suci Ramadhan ini,”ungkap dekan yang juga guru besar Ilmu Komunikasi tersebut.      Dalam kegiatan buka bersama kali ini, FISIP juga menghadirkan salah satu founding father FISIP yang juga pernah menjadi dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Imam Suprayogo dan juga Sekretaris BPH, Drs. H. Wakidi. Prof. Imam Suprayogo mengulas bagaimana perjuangan FISIP UMM hingga menjadi seperti saat ini. “Sesuatu yang harus senantiasa kita syukuri adalah bagaimana FISIP ini kini mampu menjadi seperti sekarang. Rasa syukur ini yang bisa menjadi amunisi untuk terus memberikan yang terbaik pada institusi dan UMM,”ungkap Prof Imam.      Drs. H. Wakidi juga menyampaikan tausyiah berkaitan tentang penerapan nilai AIK dalam tugas dan tanggung jawab sebagai dosen dan karyawan UMM. Wakidi menyebut dosen dan karyawan UMM adalah jabatan yang strategis bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. Sekaligus juga merupakan kader bagi persyarikatan Muhammadiyah. “Mengapa strategis, karena dosen dan karyawan adalah ujung tombak dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi. Oleh karena itu, sebagai ujung tombak dakwah, dosen dan karyawan UMM harus memiliki ideologi Muhammadiyah yang kuat dan memiliki wawasan AIK yang memadai,”tuturnya. Untuk mewujudkan hal itu, dosen dan karyawan harus memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada AUM-UMM dan Persyarikatan Muhammadiyah. Memahami ideologi Muhammadiyah adalah memahami bagaimana Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, da’wah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid dan bersumber pada Al Quran dan As-Sunah. Dalam menerapkan nilai utama AIK dalam pengabdian di AUM, dosen karyawan harus memahami nilai utama AIK-UMM. Nilai utama itu disingkat dengan IIIMAN, yang terdiri dari Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah dan Nazanah. (wnd)

Luring Bertahap, FISIP UMM Terapkan Prokes Ketat

Selasa, 22 Maret 2022 07:47 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik     Dua tahun lebih Indonesia mengalami pandemi Covid-19. Tak sendiri, fenomena wabah ini juga terjadi di seluruh negara di dunia. Kondisi pandemi ini juga berimbas pada perkuliahan di FISIP UMM digelar secara daring dalam dua tahun terakhir. Seiring dengan menurunnya kasus akibat covid dan kebijakan pemerintah yang mengizinkan perkuliahan luring, FISIP pun mulai semester genap tahun ajaran 2021/2022 memberlakukan perkuliahan luring bertahap. Kebijakan ini pun disambut gembira oleh civitas akademika FISIP UMM. Happy menyambut kuliah luring : dosen dan mahasiswa Ikom FISIP berfoto bersama usai perkuliahan berakhir (foto: nas)       Perkuliahan dengan format tatap muka di FISIP UMM digelar secara bertahap. Wakil Dekan 1 Bidang Akademik FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, MPA, mengatakan kebijakan perkuliahan tatap muka ini digelar dengan system hybrid di dua atau tiga pertemuan pertama. Kemudian di pertemuan berikutnya diupayakan secara tatap muka penuh. “Kami berharap bapak ibu dosen juga memfasilitasi perkuliahan kombinasi daring dan luring mungkin di pertemuan pertama, kedua dan ketiga. Selanjutnya bisa diupayakan untuk full luring,” jelas doktor bidang ilmu politik ini.      Kebijakan luring bertahap juga dimaksudkan untuk memudahkan mahasiswa yang mungkin masih berada di kampung halaman di luar pulau dan belum memungkinkan kembali ke kampus dalam waktu cepat. Dengan membuat kebijakan luring bertahap, mahasiswa yang bersangkutan masih bsia mengikuti perkuliahan dalam format daring.      Dalam perkuliahan luring ini, protokol kesehatan diterapkan dengan sangat ketat. Sebelum masuk ke area kampus, mahasiswa harus menunjukkan aplikasi peduli lindungi dan SIMK untuk memastikan bahwa mereka aman untuk mengikuti perkuliahan. Mereka juga diwajibkan untuk memakai masker selama perkuliahan berlangsung dan ketika beraktivitas dimana pun. Sebelum dan setelah perkuliahan dimulai, petugas kebersihan fakultas secara rutin melakukan sterilisasi ruangan. Tetap hybrid: Dosen menyediakan dua platform daring-luring pada awal penerapan luring bertahap di FISIP UMM (foto:ist)      Nur Aulia, mahasiswa Prodi Ikom Angkatan 2021 mengaku senang dengan kebijakan kuliah luring ini. Sebab bagi Angkatan 2021 dan 2020, ini adalah saat pertama mereka masuk kampus dan menikmati kuliah luring. “Saya senang akhirnya bisa ikut kuliah tatap muka. Excited banget bisa merasakan kembali belajar langsung di kampus,”ujar mahasiswi asal Kendari ini. Kegembiraan dan antusiasme terlihat dari wajah para mahasiswa yang mengikuti kuliah luring. Laporan dari sejumlah dosen FISIP yang telah menggelar perkuliahan luring menyebutkan, rata-rata kelas luring sudah dihadiri sekitar separuh dari total jumlah mahasiswa per kelas. “Mudah-mudahan di pertemuan selanjutnya mahasiswa sudah bisa mengikuti tatap muka, sehingga perkuliahan bisa lebih fokus dengan luring. Jangan lupa tetap jaga prokes ya,”harap M Aan Sugiharto, M.Sosio, salah satu dosen di Prodi Sosiologi. (wnd)

Launching Lima CoE, FISIP Siapkan “Sumur Sosial” Bagi Civitas dan Masyarakat Umum

 Sabtu, 12 Maret 2022 01:20 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      “Sumur Sosial” tercatat dalam peradaban sebagai sumber distribusi mata air sekaligus teknologi sederhana untuk memberikan saluran (akses) kelangsungan hidup setiap kelompok sosial. Dalam konteks ini, sumur sosial sebagai metafora sumberdaya manusia (insani) maupun sumber material bagi kelangsungan komunitas masyarakat. Materi itu yang dipaparkan oleh Ahmad Arrozy, M.Sos dalam orasi Ilmiah Yudisium FISIP UMM periode 1 tahun 2022 yang digelar Jum’at (12/3) di Basement dome UMM. Ozy, sapaan akrab Ahmad Arrozy, menyebut literatur sosiologi memotret sumur sosial dengan sumber pembangunan yang diimplementasikan melalui eksekusi korporasi (sektor swasta), firma, perbankan, dan grup investor yang selalu berkepentingan dengan izin negara. Sumur social ini merupakan akses kepada ketersediaan teknologi, akses kepada modal, akses kepada arena distribusi atau pasar, akses kepada pengetahuan dan akses kepada kewenangan (otoritas resmi) yang terpadu. Para pimpinan fakultas bersama lulusan terbaik tingkat fakultas (foto: humas)         Dalam yudisium yang bertajuk pelepasan wisudawan ini, FISIP juga melaunching Center of Excellence (CoE). CoE ini juga merupakan perwujudan “sumur social” yang memberikan masyarakat umum maupun civitas akademika akses pada pengetahuan yang lebih komprehensif. Kelima CoE yang dilauching FISIP diantaranya adalah Sekolah Pemberdayaan Masyarakat (Prodi Kesejahteraan Sosial), School of Creative Digital Communication (Prodi Ilmu Komunikasi), Sekolah Analisis Pemerintahan dan Politik (Prodi Ilmu Pemerintahan), Kelas Profesional Manager (Prodi Sosiologi), dan Paradiplomasi Institute (Prodi Hubungan Internasional).       Ada yang berbeda dalam pelaksanaan pelepasan wisudawan FISIP UMM periode ini. Setelah selama dua tahun menggelar yudisium secara hybrid, hari ini FISIP UMM menggelar Pelepasan Wisudawan Periode 1/2022 secara full luring. Sebanyak 304 calon wisudawan wisudawati FISIP UMM dikukuhkan dalam seremonial yang tetap digelar dalam standar protokol kesehatan yang ketat.       Selain berhasil meluluskan 304 calon wisudawan dan wisudawati yang akan diwisuda pada bulan Maret, yudisium kali ini juga mengukuhkan tiga terbaik fakultas yang semuanya berasal dari Prodi Ilmu Pemerintahan. Terbaik pertama fakultas disandang oleh Zainul Rahman yang memperoleh IPK 3,95. Terbaik kedua diraih oleh Laily Nur Rahmah dengan perolehan IPK 3,93 dan terbaik ketiga diraih oleh Puji Susilo Asih dengan meraih IPK 3,86. Ketiganya lulus dengan sangat tepat waktu yakni 3, 4 bulan untuk Zainul dan Puji serta 3,6 bulan untuk Laily.      Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, Ph.D dalam sambutannya mengatakan bahwa sarjana dari FISIP UMM harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi dalam menghadapi kompetisi dunia kerja. Prodi-prodi di FISIP telah memiliki banyak rekognisi nasional dan internasional sebab itu lulusan yang dihasilkan harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. UMM Malang adalah kampus yang sangat diperhitungkan dari segala aspek, mutu akademik dan lulusan yang dihasilkan sudah teruji. Jadi itu harusnya menjadi modal sosial bagi lulusan agar bisa sukses di dunia kerja,” terang Muslimin. Dekan juga menitipkan pesan penting bagi wisudawan bahwa kunci utama kesuksesan adalah ridho orang tua. “Bahagiakanlah masa tua orang tua anda dengan kesuksesan, “tutup Muslimin.  (ird/wnd)

Pelantikan Pengurus Forum Dekan FISIP PTMA Se Indonesia, Jawab Tantangan Merdeka Belajar Kampus Merdeka

 Selasa, 08 Maret 2022 12:15 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Kolaborasi adalah kata kunci. Bagi kampus swasta, program Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah adalah peluang dan tantangan yang harus dijawab di masa kini. Untuk itulah para dekan FISIP di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) se Indonesia membentuk forum dekan yang hari ini (8/3) dilantik di UMM. Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, terpilih sebagai ketua forum dekan FISIP PTMA se-Indonesia masa jabatan 2021-2023. Kemudahan untuk belajar lintas sektor untuk dosen dan mahasiswa, kebebasan belajar tiga semester di luar program studi, adalah sebagian tantangan dan peluang yang memberikan harapan besar bagi kampus swasta, tak terkecuali FISIP PTMA. Pelantikan pengurus Forum Dekan FISIP PTMA seluruh Indonesia di Ruang Sidang Senat UMM (8/3) (foto: humas)      Anggota Pimpinan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Tobroni, M.Si hadir untuk melantik para pengurus baru fordek FISIP PTMA. Di depan para pengurus fordek, Tobroni mengungkapkan harapannya pada fordek FISIP PTMA ini. “Forum dekan harus mampu membawa kemajuan khususnya di bidang sosial politik di Indonesia. Tidak hanya berkolaborasi dengan sesama pimpinan FISIP di PTMA, tapi juga bisa berkolaborasi dengan forum dekan fakultas lainnya. Sehingga terwujud sinergi yang kolaboratif yang membawa kemanfaatan sebanyak-banyaknya,”ungkap Tobroni.     Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd ketika hadir dalam prosesi pelantikan juga berpesan agar para pengurus fordek FISIP PTMA menjaga semangat pengabdian sebagai pengurus fordek dengan melandaskan pada nilai-nilai yang menjadi pedoman pergerakan Muhammadiyah. “Energi kita jangan hanya dihabiskan untuk mengejar rekognisi formal, meski itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah seberapa baik, seberapa kuat kita melayani mahasiswa. Dan mahasiswa serta alumni, percaya diri pada keilmuan yang dimiliki. Dengan adanya program Merdeka Belajar, kita harus menjadikan program itu sebagai media ijtihad untuk lebih merdeka dalam belajar. Kalau masih berkutat pada pedomannya mana, panduannya mana, itu namanya ndak merdeka. Merdeka Belajar itu kita harus kreatif dan melampaui target yang diberikan oleh pemerintah,” tutur Fauzan. Suasana rapat kerja Fordek FISIP PTMA (foto: humas)      Selain melakukan prosesi pelantikan, dalam kegiatan hari ini, dekan FISIP UMM juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan para dekan FISIP PTMA. MoA ini merupakan nota kesepahaman tentang kerjasama bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Setelah penandatanganan MoA ini, para dekan yang telah menandatangani nota kesepahaman bisa menindaklanjuti dengan membuat Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) di level program studi. Nota kesepahaman ini diharapkan bisa mengeratkan kerjasama antara fakultas sehingga mendukung pencapaian visi misi kampus, khususnya dalam mewujudkan fakultas yang unggul dan berdaya saing.   Salah satunya dengan menyelenggarakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun jaringan kelembagaan berwawasan keilmuan dan keahlian sosial politik dan ini nantinya juga akan mendukung perwujudan Merdeka belajar di FISIP UMM. Salah satu prosesi penandatangan MoA antara FISIP UMM dengan Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (foto: humas)      Rangkaian acara pelantikan pengurus fordek ini ditutup dengan sharing session dan diskusi panel antara pimpinan FISIP UMM level fakultas dan prodi bersama para pengurus fordek. Wakil Dekan 1 FISIP UMM, Dr. Salahudin, M.Si, M.PA yang memimpin sharing session menyampaikan beberapa kunci yang dilakukan oleh FISIP UMM untuk mewujudkan kampus unggul, salah satunya adalah memahami tata kelola kelembagaan yang baik. Pelaksanaan tridharma perguruan tinggi juga harus mengedepankan luaran. Luaran ini merupakan bukti karya yang akan menjadi portofolio baik bagi dosen maupun mahasiswa. Para pimpinan lima prodi di FISIP juga sharing tentang program-program unggulan yang dilakukan di FISIP UMM. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Nasrullah, menceritakan praktikum-praktikum di Ikom adalah praktikum real yang kreatif dan berbasis klien. Praktikum ini menjadi salah satu andalan FISIP yang banyak menghasilkan luaran-luaran yang mendukung portofolio mahasiswa dan kampus. “Program praktikum real Ikom adalah perwujudan merdeka belajar yang sebenarnya sudah dilakukan UMM sejak 2016, jauh sebelum program Merdeka Belajar dirilis oleh kementrian,”ungkapnya.   (wnd)

Dosen FISIP Soroti Layangan Putus Hingga Fenomena Sosmed di Era Transformasi Digital

 Sabtu, 19 Februari 2022 19:55 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Literasi digital menjadi salah satu isu popular seiring dengan semakin majunya transformasi digital. Teknologi informasi kini tak lagi jadi sekedar alat, namun teknologi juga turut andil dalam pergeseran realitas social di masyarakat. Untuk mendiskusikan isu ini, FISIP UMM menggelar webinar bertajuk ‘Digital Literation Through Film and Social Media’ yang merupakan rangkaian acara dari agenda Student Day FISIP 2022 (19/2). Webinar ini menghadirkan Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si, pakar film UMM dan Moch. Fuad Nasvian, seorang social media enthusiast. Keduanya merupakan dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Webinar ini mendiskusikan bagaimana film dan social media di era modern telah bertranformasi dari sebuah entitas hiburan dan media komunikasi massa, menjadi sebuah realita yang merepresentasikan kehidupan sosial masyarakat. Novin Farid Setyo Wibowo, pakar film UMM dalam webinar Student Day (foto:ist)      Tak bisa dipungkiri, serial web TV Series Layangan Putus berhasil memporak-porandakan jagat realita masyarakat Indonesia. Aksi dramatisasi yang dikemas dalam sebuah tayangan audio visual, berhasil mengkonstruksi realita di masyarakat tentang isu true story domestic yang di angkat ke ranah public. “Ini menjadi sebuah bukti bahwa film atau tayangan audio visual dalam kapasitasnya tak hanya sekedar mampu mempengaruhi sikap tapi juga mengubah pola pikir masyarakat. Dimana-mana it’s my dream not hers menjadi booming. Jadi jika menonton atau membuat film, jangan hanya berpikir kamera pakai apa, edit pakai apa. Karena film  sejatinya adalah salah satu media yang memiliki kuasa untuk mengkonstruksi realita di masyarakat,” tutur Novin.      Menurutnya, film dapat bersifat merepresentasikan maupun merefleksikan kehidupan sosial. Di samping itu, pesan yang disampaikan dalam film mampu mempengaruhi perilaku seseorang yang pada akhirnya akan menciptakan realitas baru. “Film merupakan realitas lain dari realitas yang sesungguhnya. Menariknya dalam teori kultivasi disebutkan bahwa manusia yang selalu menonton tayangan tertentu dengan waktu yang lama maka akan memiliki sebuah pemahaman bahwa dunia di sekelilingnya seperti yang ditayangkan di televisi atau tontonan yang dilihat tersebut ,” tutur Novin.     Novin juga menyampaikan bahwa film juga dapat berfungsi sebagai media propaganda dan penyebaran ideologi. Dengan fungsinya yang semakin berkembang ini, selain memberikan dampak kognitif dan afektif, film juga berdampak secara konatif yang merujuk pada perilaku nyata, atau memberikan perubahan sikap terhadap penontonnya. “Film itu tidak hanya sebagai medium, tapi film ini punya peran yang luar biasa karena efeknya yang kemungkinan besar bisa merubah nilai-nilai tatanan yang ada di dunia,” tutup Novin.     Di ranah social media, tranformasi digital yang makin canggih juga memberikan pengaruh pada generasi penikmatnya. Fuad Nasvian, mengulas bagaimana masyarakat, khususnya Generasi Z atau zilenial menghadapi era liberasi digital melalui social media. M Fuad Nasvian, M.Ikom (kanan), saat memaparkan fenomena sosmed, dimoderatori oleh Awan Setiawan (foto: ist)      Ia menyebut di revolusi industri ketika masyarakat belum memiliki akses yang baik terhadap pendidikan, dan sebaliknya justru berkerja seolah mesin di dalam suatu pusat industri. “Sehingga, di masa itu, orang tidak terpikir untuk belajar, untuk apa belajar. Yang penting kita punya skill untuk bekerja,” tutur Fuad.     Kehadiran revolusi industri 4.0 dan perkembangan teknologi mengubah kondisi tersebut. Generasi zaman now punya akses untuk belajar apapun hanya melalui gawai yang dimiliki. Namun ia mengingatkan, kemajuan tersebut juga tidak selalu berarti baik bagi masyarakat. Terdapat banyak juga hal-hal negatif yang sama mudahnya bisa kita akses dengan gawai tersebut. “Kita berkarya dan menghasilkan karya yang besar, atau pada akhirnya kita yang dihancurkan oleh teknologi. Pilihan itu ada di tangan kita sendiri,” tegas Fuad. (ind/wnd)

Sociopreneurship, Solusi Bisnis Berbasis Kepekaan Sosial

Sabtu, 12 Februari 2022 23:00 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Pandemi menampilkan fakta positif yang menarik. Pandemi covid -19 ini membuat masyarakat berinovasi dalam menciptakan lapangan kerja baru. Hutri Agustino, M.Si, inisiator Pondok Sinau Lentera Nusantara, menyebut angka wirausaha di Indonesia naik dari angka 13 % pada Februari 2020, menjadi 25 % pada Oktober 2020. Dalam webinar Sociopreneur Series yang diadakan oleh FISIP UMM, Hutri dan Jamroji, M.Comms, inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan mengupas tuntas peluang entrepreneur di bidang sosial. Kegiatan webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Student Day FISIP UMM yang diikuti oleh mahasiswa FISIP Angkatan 2021. Hutri Agustino, saat memaparkan sociopreneur business model secara virtual pada gelaran Student Day (12/2) (foto:humas)     Dalam paparannya, Hutri mengatakan, kenaikan jumlah minat wirausaha ini tentu menjadi peluang tersendiri. Di sisi lain, munculnya aneka permasalahan sosial akibat pandemi, juga tak bisa dipungkiri. Bagi pegiat ilmu sosial, sociopreneur bisa menjadi solusi, tak hanya memberikan benefit dari sisi nominal namun juga menjadi bagian dari pemecahan isu sosial.     Ditilik dari asal katanya sociopreneurship merupakan irisan dari social institution (nirlaba) dan corporate (profit oriented). “Sociopreneurship menjadi cara baru atau new way yang tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial namun juga keuntungan sosial. Sekaligus menjadi bagian dari pemecah permasalahan di tengah masyarakat,”ujar Hutri. Hutri di depan Pondok Sinau, unit pemberdayaan masyarakat berbasis sociopreneur yang ia dirikan (foto: ist)     Ada banyak jenis bentuk sociopreneur yang bisa dikembangkan. Mengacu dari pernyataan Wolfgang Grassi, Hutri menyebut ada sembilan jenis model bisnis sosial yang sangat memungkinkan dilakukan di masa sekarang. Ada jenis entrepreneur support model, market intermediary model, employment model, fee for service model dan beberapa jenis model bisnis sosial lainnya. “Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya, sudah ada usaha namanya Kopi Tuli. Yaitu unit usaha yang melibatkan teman-teman tuli. Ini adalah bentuk socioentrepreneur yang tidak hanya sekedar mencari profit melalui usaha bisnis jualan kopi tapi juga memberikan lapangan pekerjaan untuk teman-teman tuli,”jelas Hutri.    Di Indonesia, kopi tuli sudah berdiri di beberapa wilayah seperti di Depok (KopTul), Jember, Tulungagung, Makasar, Riau dan beberapa wilayah lain. Di Koptul, Depok, para pengunjung akan menerima nuansa berbeda dalam menikmati kopi. Pengunjung akan belajar dua hal sekaligus, yaitu bagaimana memperlakukan orang lain yang berkebutuhan khusus dengan setara sekaligus belajar bahasa isyarat. Hal itu juga sebagai salah satu alasan mengapa di kedai Koptul tidak disediakan wifi. Tujuannya, agar pengunjung dapat saling bercengkerama, baik dengan teman dengar, maupun teman tuli. Bahkan, pengunjung dapat berkomunikasi dengan para barista di Koptul.    Membangun sociopreneurship, membutuhkan daya kritis yang tinggi. Kepekaan terhadap masalah sosial atau keluhan di masyarakat perlu dilatih sejak dini. Menariknya, menurut Jamroji, M.Comms, inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan, sebuah bidang usaha pada dasarnya bisa dibangun berbasis pada keluhan. “Para pembuat aplikasi itu sebenarnya membuat lapangan usaha berbasis keluhan masyarakat. Misalnya saja, Gojek, banyaknya masyarakat yang mengeluh sulit mencari ojek pangkalan, harus repot dulu ke pangkalan untuk bisa memesan ojek, melahirkan aplikasi yang kemudian memudahkan customer seperti Gojek dan aplikasi lainnya. Nah keluhan-keluahan teman anda itu jika kita cerdas dan kritis bisa menjadi sumber ide untuk membangun sebuah unit usaha mandiri. Bahkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan sosial melalui bentuk socioenterpreneurship,”tutur Jamroji. Jamroji, M.Comms, menjelaskan tentang bagaimana membangun daya kritis sejak dini (foto: humas)    Untuk itu, perlu sekali mengembangkan sikap kritis ini sejak dini. Sikap kritis ini merupakan sikap peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tak terkecuali peka terhadap keluhan. Dan sociopreneur merupakan upaya untuk mengkonversi permasalahan sosial menjadi sebuah peluang usaha. Menurut Jamroji, sociopreneur memungkinkan kita untuk membangun bisnis yang berangkat dari keluhan orang atau masyarakat.   “Tujuannya tentu membantu masyarakat adalah yang utama, dan pendapatan adalah bonus yang kita peroleh. Ada dua modal penting yang harus dimiliki dalam membangun sociopreneur ini, yang pertama adalah kepekaan sosial dan yang kedua adalah kemampuan kritik sosial,”ungkapnya. Jamroji di depan Kampung Warna-Warni Jodipan (foto: ist)     Wakil Dekan III FISIP UMM,  M. Himawan Sutanto, M.Si, berharap kegiatan webinar sociopreneur series ini mampu memantik daya kritis mahasiswa, khususnya peserta Student Day, agar berani berinisiatif dalam membangun sebuah kemandirian. Pandemi yang menyebabkan banyak pergeseran di berbagai bidang bisa ditangkap sebagai sebuah peluang kritis bagi tumbuhnya jenis-jenis sociopreneur yang berkemajuan. (wnd)

Student Day, Bupati Magetan Dorong Mahasiswa FISIP Gemar Menulis

 Sabtu, 05 Februari 2022 04:05 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Menulis itu memonopoli kebenaran. Kalimat tersebut diungkapkan oleh Bupati Magetan, Dr. Drs. Suprawoto, SH, M.Si dalam agenda kuliah tamu dan penandatangan MoU yang digelar FISIP hari ini (5/2) di Aula BAU UMM. Hari ini, dalam rangka gelaran student day fakultas, FISIP mengundang Kang Woto, sapaan akrab Bupati Magetan untuk memberi kuliah tamu dengan tajuk Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Bupati Magetan, Dr.Drs.Suprawoto, SH, M.Si memberikan buku hasil karyanya pada mahasiswa FISIP (foto:humas)      Mahasiswa sebagai iron stock dan agent of change harus mampu menjadi garda terdepan dalam agenda perubahan. Ada tiga hal yang menurut Suprawoto bisa menyebabkan perubahan itu. Yang pertama adalah ide, yang kedua teknologi, dan ketiga adalah interaksi. “Ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan akan membuat perubahan. Menulis bisa memonopoli kebenaran, bahkan memonopoli sejarah. Coba bayangkan jika tidak ada yang menulis, maka sejarah tidak pernah ada. Betapa menderitanya sebuah bangsa jika kita tidak mau menulis,”ungkapnya.      Lebih lanjut, Suprawoto juga memaparkan ada sembilan cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter diri yang kuat pada mahasiswa. Menghargai diri sendiri, mampu mengenal dan mengendalikan diri sendiri, sikap mau terus belajar, disiplin dan berkomitmen adalah beberapa hal yang bisa dilakukan. Idealisme mahasiswa akan semakin kuat jika membiasakan diri menulis. “Terutama menulis karya ilmiah ya. Dengan membiasakan menulis, 85% dari sembilan cara membentuk karakter diri ini dapat terpenuhi,”tutur Bupati yang sudah merelease tujuh judul buku ini. Antusias: Suasana kuliah tamu di Aula BAU, digelar dengan metode hybrid melalui live streaming YouTube FISIP UMM (foto: humas)      Suprawoto juga menyampaikan sejumlah kiat bagaimana mengelola waktu sehingga bisa tetap produktif meski sibuk. Dia mengatakan jangan pernah menunggu mood untuk menulis. Menulis, menurutnya, harus dipaksa. Harus disempatkan di sela-sela aktivitas kita. Dia menceritakan, dalam perjalanan di kereta pun ia bisa menulis. Apalagi dengan dukungan teknologi yang kian canggih, sejatinya menulis bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dia juga berpesan agar mahasiswa tidak takut untuk memulai menulis. Menurutnya tidak ada tulisan yang sempurna. Jika ada yang menghina, itu artinya tulisan kita ada yang membaca.     Untuk bisa mengumpulkan inspirasi untuk menulis, tentu ada hal yang harus dipenuhi, yaitu membaca buku. Suprawoto mengisahkan kegilaannya pada buku-buku. “Jika petani menemukan kenikmatan ketika mencangkul di sawah misalnya, kalau saya, hidup terasa nikmat ketika dikelilingi oleh buku-buku. Membaca adalah healing terbaik,”tuturnya. Ia memang mengalokasikan budget khusus untuk membeli buku. Dulu sebelum bekerja, ia berkomitmen untuk membiasakan membeli buku ketika sudah mendapatkan gaji. Pernah, saking cintanya pada buku, dalam sebulan ia bisa membeli 300 judul buku sekaligus. “Kesalahan tidak perlu dilakukan ketika kita banyak membaca buku. Dari buku kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari ilmu orang lain,”imbuhnya. Penandatanganan MoU oleh Rektor UMM dan Bupati Magetan, didampingi oleh Wakil Rektor 4 dan Dekan FISIP UMM (foto:him)      Selain kuliah tamu, pada rangkaian agenda Student Day hari ini, juga berlangsung penandatanganan MoU antara Universitas Muhammadiyah Malang dan Pemerintah Kabupaten Magetan. Rektor UMM, Dr.Fauzan, M.Pd menandatangani MoU bersama Bupati Magetan. Rektor dalam sambutannya berharap kerjasama UMM melalui FISIP UMM dan Kabupaten Magetan bisa memberikan sebaik-baik manfaat untuk kedua belah pihak. (wnd)

Piawai Upgrade Skill dan Pengalaman, Alumni FISIP Sukses Kerja Sebelum Wisuda

 Rabu, 02 Februari 2022 22:48 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Bekerja sebelum dinyatakan lulus kuliah menjadi impian bagi sebagian besar mahasiswa. Namun jika ditilik dari hasil survey yang dilakukan oleh layanan pendidikan Prospects dan Jisc di Inggris, menemukan bahwa dari total tujuh ribu responden mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, sebanyak 45 persen dari mereka mengaku tidak siap bekerja. Data tersebut menyebut sekitar 64 persennya menganggap syarat pengalaman kerja adalah hambatan terbesar saat melamar. Namun ketidaksiapan ini tak berlaku bagi dua alumni FISIP UMM yang baru dikukuhkan sebagai sarjana beberapa waktu yang lalu. Bagi Tasya Adhila Amalia dan Lintang Mayang, diterima bekerja sebelum lulus kuliah adalah sebuah pencapaian tersendiri. Wujudkan UMM Pasti: Tasya Adhila dan Lintang Mayang, dua alumni FISIP yang lulus tepat waktu, bekerja dan mandiri sebelum wisuda (foto: humas)     Tasya Adhila, alumni Prodi Hubungan Internasional ini mengaku bahwa bekerja sebelum menerima ijazah adalah salah satu pencapaiannya dalam mengelola waktu. Aktivis lingkungan yang punya segudang aktivitas semasa kuliah ini mengatakan bahwa bekerja sebelum lulus ini membuktikan bahwa seorang fresh graduate juga memiliki kompetensi unggul yang siap digunakan. “Pengalaman dan skill itu bisa didapat ketika proses perkuliahan, tidak harus menunggu lulus baru mencari pengalaman,”ujar lulusan terbaik kedua Prodi HI ini.    Sebelum diwisuda, Tasya diterima bekerja sebagai digital marketing di Hexa Corp, sebuah perusahaan digital marketing terkemuka yang berdiri di Sidoarjo. Tugasnya sebagai seorang digital marketing adalah menjalin relasi dengan perusahaan-perusahaan yang ingin menaikkan engagement produk. Tak hanya itu ia juga harus piawai menggunakan media digital sebagai upaya dalam kegiatan pemasaran, periklanan, dan promosi klien perusahannya.   “Dunia digital marketing tidak terlalu asing bagi saya karena ketika kuliah saya aktif terlibat dalam project digital activist selama setahun di WWF Indonesia. Sebagai digital activist saya bertanggung jawab membuat content, meriset isu, dan membuat desain. Pengalaman saya terlibat dalam project tersebut sangat membantu ketika diterima sebagai bagian dari perusahaan tempat bekerja sekarang,”ungkap Tasya. Prodi HI melalui kelas diplomasi dan kelas komunikasi internasional, Tasya akui memberi pondasi yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan skillnya di bidang yang ia tekuni sekarang.    Pengalaman bekerja sebelum wisuda juga dirasakan oleh Lintang Mayang, alumni Prodi Ilmu Komunikasi. Lintang diterima di Fre Media Indonesia, sebuah multimedia agency, sejak Maret 2021. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa multimedia ini menerima Lintang sebagai karyawan tetap sejak Maret 2021. Sebelumnya Lintang mengawali petualangannya menyiapkan pengalaman dan skill ketika memutuskan memilih magang di Fre Media sejak November 2020.   “Meski tidak ada kewajiban magang, tapi saya memilih apply sendiri ke Fre. Saya menemukan informasinya dari Instagram. Saya tertarik magang di Fre karena masih relate dengan minat saya di bidang komunikasi,”tutur Lintang. Selama empat bulan, Lintang mengikuti magang di Fre Media. “Biasanya alur intern di Fre itu setelah selesai magang empat bulan akan ditawari intern plus tiga bulan. Tapi waktu itu saya sempat tidak menerima tawarannya karena saya mau focus skripsi. Ternyata Fre malah langsung menawari saya sebagai karyawan tetap disana. Hal ini pun memicu saya untuk semakin semangat untuk segera menyelesaikan skrispi,”imbuh Lintang.    Lintang mengaku, pengalaman dan skill yang diperoleh saat praktikum di Prodi Ilmu Komunikasi dan berorganisasi di KINE Klub mendidik ia menjadi pribadi yang piawai bekerja dalam tim, bertanggung jawab dan selalu mau belajar. Lintang pun tak segan belajar lintas peminatan ketika studi di Ikom. Meski mengambil konsentrasi PR, ia tetap mendapat bekal kemampuan di bidang audio visual berkait keterlibatannya di UKM KINE Klub dan pengalaman di bidang jurnalistik saat ia menjadi freelance reporter di JTV Malang.   Skill dan pengalaman, seperti yang dikemukakan dua alumni FISIP tersebut, sangat bisa didapatkan ketika menjalani proses perkuliahan. Program UMM Pasti yang dicanangkan oleh UMM juga mendukung setiap mahasiswa UMM untuk pasti lulus, pasti bekerja dan pasti mandiri. Berbagai jalur peningkatan skill dan pengalaman telah disediakan kampus melalui berbagai platform salah satunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Dengan dukungan dari kampus, mahasiswa sangat memungkinkan untuk mengupgrade skill dan pengalamannya melalui berbagai kegiatan sehingga alumni siap ketika berhadapan dengan dunia pasca kuliah,”ungkap Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. (wnd)

Sukseskan Kebijakan KTW, FISIP Kuatkan Sinergi Laboratorium

Sabtu, 22 Januari 2022 03:53 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Perubahan-perubahan yang terjadi di sejumlah lini kebijakan pendidikan, mau tak mau membuat FISIP harus antisipatif terhadap berbagai tantangan. Hal ini disampaikan oleh dekan FISIP pada kegiatan serah terima jabatan kepala dan sekretaris laboratorium di lingkup FISIP UMM, Sabtu (22/1). Hari ini, bertempat di aula baru FISIP, dekan melantik lima kepala laboratorium dan satu sekretaris laboratorium. Para pejabat struktural baru ini diantaranya adalah Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW (Kepala Lab Kesos), Ali Roziqin, S.AP, M.AP (Kepala Lab Ilmu Pemerintahan), Mochamad Aan Sugiharto, M.Sosio (Kepala Lab Sosiologi), dan Hafid Adim Pradana,M.A sebagai Kepala Lab Hubungan Internasional. Sedangkan laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi dipimpin oleh Widiya Yutanti,M.A sebagai Kepala Lab Ilmu Komunikasi, didampingi oleh Arum Martikasari, M.Med.Kom sebagai Sekretaris Lab. Dekan FISIP menyerahkan SK kepada Kepala Lab Ilmu Komunikasi, Widiya Yutanti,M.A (foto: nas)      Dekan FISIP, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si, mengatakan perubahan-perubahan yang cepat dan tidak pasti ini memerlukan kesadaran dan kemampuan dari para pejabat untuk melakukan manajemen dan pengelolaan risiko. Terlebih dalam menghadapi international competitiveness. Para kepala laboratorium harus mampu bekerjasama dan berkreasi untuk mendukung prodi menyiapkan program-program terbaik. “Kita harus paham jika laboratorium berada di bawah dua koordinasi, yang pertama secara struktur dikendalikan oleh Lab Sentral di bawah DPPM dan secara fungsional berada di bawah prodi sehingga harus selalu berkoordinasi dengan prodi. Lab perlu menanyakan tiga hal yakni apa visi misi prodi, capaian pembelajaran lulusan, dan profil lulusannya. Inilah yg diramu untuk dikembangkan di Lab sehingga Lab merupakan bagian dari prodi yang melayani prodi sebagai pengelola mahasiswa,”jelas Muslimin.     Dekan juga berpesan agar para kepala lab senantiasa berkoordinasi dengan para pejabat terkait. Jika berkaitan dengan kerjasama, para pimpinan lab bisa berkoordinasi dengan unit kerjasama dan wakil dekan 3, jika berkaitan dengan pendidikan dan penelitian bisa berkoordinasi langsung dengan wakil dekan 1. “Atau bisa juga ke wakil dekan 2 jika terkait pengembangan SDM Lab. Pada dasarnya sebagai structural, kita harus mendukung kebijakan-kebijakan universitas. Misalnya terkait program kelulusan tepat waktu (KTW) maka lab membantu prodi untuk menerjemahkan bagaimana mengantisipasi kelulusan mata kuliah dengan sistem yang telah dibangun. Untuk itu saya harapkan para pimpinan laboratorium selalu berkoordinasi dengan induknya, yakni prodi, agar tercapai target yang telah kita sepakati,”ungkap Dekan. Dekan bersama kepala lab dan sekretaris lab, ketua GPMI dan pengelola unit kerjasama (foto: nas)      Kepala Lab Sosiologi, Mochamad Aan Sugiharto, M.Sosio, usai kegiatan sertijab mengatakan bahwa dirinya siap untuk melaksanakan amanat pimpinan. “Salah satu kebijakan terdekat di lab Sosiologi adalah mahasiswa harus punya karya nyata yang terpublikasikan. Kami akan mendorong para mahasiswa untuk giat menulis, salah satunya mempublikasikan gagasan-gagasan di bidang sosiologi di berbagai media. Selain juga ada sejumlah program lain yang sedang dikoordinasikan dengan prodi Sosiologi dan ada juga yang berkolaborasi dengan prodi lain,”ujar Aan.     Dalam sertijab kali ini, dekan juga menyerahkan SK jabatan secara langsung kepada ketua Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI) FISIP, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si dan pengelola unit kerjasama FISIP, Dr. Achmad Habib. (wnd)