Suprawoto, Mantan Dosen FISIP yang Kini Jadi Bupati Magetan

 Kamis, 13 Januari 2022 01:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Masih lekat di benak Frida, sosok dosen berpakaian safari yang mengajar di kampus putih pada tahun 1994 lalu. Kala itu, Frida, panggilan akrab Dr. Frida Kusumastuti,M.Si, masih berstatus dosen muda saat pria berpakaian safari itu, mengajar di FISIP UMM. Ya, dosen tersebut adalah Dr. Suprawoto, M.Si, Bupati Magetan. Dulu, Suprawoto adalah dosen praktisi di Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP UMM.  Selama kurun waktu tak kurang dari tujuh tahun, Suprawoto mengampu mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia. Kepiawaiannya dalam bidang hukum dan media, membuat pria yang waktu itu menjabat sebagai Kabit Pers dan Penerbitan Kantor Wilayah Departemen Penerangan Jawa Timur, dipercaya mengampu mata kuliah tersebut. Bupati Magetan, Suprawoto (kiri), memberikan bukunya yang berjudul Menjahit Mimpi Rakyat kepada Dekan FISIP UMM (kanan) (foto:humas)      Meski menjadi pejabat, di sela-sela jam mengajar, Suprawoto tak canggung untuk mengajak dosen-dosen muda berdiskusi. Salah satu dosen muda yang sering ia ajak diskusi adalah Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ilmu Komunikasi saat ini. “Pak Woto ini sering sekali mengajak diskusi atau ngobrol tentang banyak hal. Sering juga memberi akses kami untuk menjalin kerjasama misal dalam kegiatan riset atau program-program tertentu,” tutur Nasrullah.     Ditemui di sela-sela rapat penandatangan MoA dan SPK kerjasama FISIP dan Pemkab Magetan (12/1) lalu, Suprawoto mengenang masa ia menjadi dosen di FISIP UMM. “FISIP adalah bagian dari entitas yang berperan membesarkan saya. Ini saya tulis juga di salah satu bagian buku otobiografi saya yang saya tulis dalam bahasa Jawa. Buku otobiografi itu menceritakan perjalanan hidup saya dari kecil hingga jadi Bupati, termasuk ketika menjadi dosen di UMM, ada ceritanya disitu,”ucapnya mengenang. Buku otobiografi berjudul “Dalane Uripku” itu bahkan di tahun 2018 mendapat penghargaan MURI sebagai buku otobiografi pertama yang ditulis dalam bahasa Jawa.    Meski sudah jadi Bupati, namun naluri akademisi Kang Woto, sapaan akrab Suprawoto, seolah tak mati. Sebab, bupati Magetan itu memang sangat rajin menulis. Bahkan sudah melakukannya jauh sebelum dia memimpin kabupaten di bagian barat Jawa Timur tersebut. Saat ini Kang Woto rutin menulis tiap pekan dalam dua bahasa sekaligus. Mengisi kolom ’’Bupati Menulis’’ di Jawa Pos Radar Madiun sejak 17 Desember 2019. Serta jadi kolumnis di Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa, yang telah dia lakoni secara konsisten selama 13 tahun tak terputus. Suprawoto (baju putih), berfoto bersama sejumlah dosen FISIP UMM (foto: humas)       “Saya sebenarnya juga rindu mengajar. Kerinduan saya di dunia akademisi ini saya tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Setiap minggu saya punya karya tulisan, saya tulis pikiran-pikiran saya di sela-sela mengerjakan pekerjaan kantor. Jika pada umumnya orang sedekah di masjid, saya melakukan hal berbeda. Saya sedekah pengetahuan dengan membagikan buku-buku yang saya tulis di berbagai perpusatakaan,”ujar Bupati yang sudah melahirkan tujuh judul buku. Salah satu bukunya, berjudul Government Public Relations, adalah buah pikirnya yang berisi pengalaman saat menjabat sebagai Sekjen di Kementrian Kominfo.       Kegigihannya untuk tetap menulis ini, terilhami dari sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Seperti kata Pram, menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah. Menurut Kang Woto, orang boleh pintar setinggi langit, boleh kaya setinggi langit, tapi kalau tidak menulis dia akan hilang dari pusaran sejarah. Hal itu kemudian menginspirasi Kang Woto untuk terus menulis hingga kini.      Bahkan ia mengaku, salah satu bentuk kampanyenya ketika akan menjadi Bupati, juga lewat buku dan tulisan yang ia buat. Ia pun menginspirasi banyak guru di Kabupaten Magetan untuk berani menulis. Ia sering berseloroh, “Bupati aja sempat menulis, masak guru tidak,”kelakarnya setiap memotivasi para guru. Tak heran berkat konsistensinya, ia berhasil membawa Magetan menjadi kabupaten literasi. Data terbaru di 2019, indeks minat baca Kabupaten Magetan mencapai angka 74,76. Bahkan Magetan menjadi kota pertama yang memiliki spot wisata literasi di Indonesia. (wnd)

FISIP Gandeng Pemkab Magetan Wujudkan Center of Excellent

Rabu, 12 Januari 2022 21:28 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Sebagai salah bentuk tindak lanjut dari gebrakan baru FISIP untuk mewujudkan Center of Excellence (COE) terintegrasi, FISIP UMM melakukan kerjasama dengan Kabupaten Magetan.  Kerjasama diawali dengan melakukan kunjungan silaturahmi ke Bupati Magetan, Dr. Suprawoto, M.Si. Kunjungan tersebut sekaligus juga mempresentasikan apa saja bentuk kerjasama melalui CoE yang akan dilakukan FISIP dengan Pemkab Magetan. Kegiatan penandatangan MoA dan SPK antara FISIP UMM dan Pemkab Magetan ini diadakan di ruang rapat Pendopo Surya Graha Kantor Bupati Magetan (12/1). Penandatangan MoA antara FISIP UMM dan Pemkab Magetan di Ruang Rapat Pendopo Surya Graha, Kantor Bupati Magetan (12/1) (foto:humas)      Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Integrated COE atau COE Terintegrasi merupakan pusat unggulan yang dikembangkan oleh prodi di lingkungan FISIP UMM. Pembentukan COE merupakan bentuk dari respon FISIP pada universitas yang hendak mewujudkan institusi perguruan tinggi yang memiliki pusat unggulan berbasis riset dan disiplin ilmu pada masing-masing program studi. Pusat unggulan ini nantinya akan memiliki kontribusi pada kepentingan para stakeholders. Diantaranya adalah kepentingan mahasiswa, alumni, sektor swasta, Non-Government Organization (NGO), Persyarikatan Muhammadiyah, dan lembaga pemerintahan.      Pemkab Magetan dipilih FISIP sebagai mitra CoE karena Magetan dinilai memiliki potensi tersembunyi yang layak untuk dikembangkan. Dekan FISIP UMM, Prof.Dr.Muslimin Machmud, M.Si mengatakan bahwa FISIP selalu berkomitmen untuk tidak hanya berdiri di menara gading keilmuan, namun juga akan melibatkan civitas akademika dalam pemberdayaan di masyarakat secara langsung. “Apalagi dengan program kelulusan tepat waktu yang digagas universitas, FISIP selain mengupayakan agar mahasiswa lulus tepat waktu, juga memberi mahasiswa keterampilan dan kemampuan yang pasti. Melalui CoE yang salah satunya bermitra dengan Pemkab Magetan ini FISIP bersama pemerintah bisa saling bahu-membahu bekerjasama membangun pengembangan potensi wilayah di Magetan. Program MBKM juga memberi wadah kita untuk lebih leluasa melibatkan berbagai pihak untuk mendukung terwujudnya program ini,”ungkap Dekan.     Kedatangan FISIP UMM disambut baik oleh Bupati Magetan, Dr.Suprawoto,M.Si, kepala dinas dan sejumlah lurah yang dihadirkan untuk menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). Menariknya, sebelum menjadi Bupati Magetan, Dr.Suprawoto adalah dosen praktisi di FISIP UMM, khususnya di Prodi Ilmu Komunikasi. Dulu, di tahun 1994, selama beberapa tahun Suprawoto pernah mengajar mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia di Prodi Ikom.    “Saya berterimakasih atas perhatian kampus melalui kerjasama ini. Apalagi saya merasa FISIP UMM adalah bagian dari entitas yang juga membesarkan saya karena dulu saya pernah mengajar juga sejak tahun 1994. Kehadiran UMM hari ini adalah anugerah bagi Kabupaten Magetan, apalagi dengan adanya MBKM sinergi antara pemerintah dan kampus akan semakin terbuka,”ujar Suprawoto. “Saya meyakini dengan banyaknya orang pintar (cendekia,red) yang terlibat dalam pengembangan wilayah Kabupaten Magetan, maka akan semakin maju. Wilayah Kediri ke barat jauh dari kampus-kampus besar, sehingga saya menganggap ini adalah anugerah ketika FISIP UMM hadir di Magetan melalui program sekolah-sekolah unggulannya,”imbuhnya.    Ada sejumlah sekolah unggulan yang ditawarkan FISIP. Sekolah unggulan ini nantinya bisa diadakan di FISIP atau civitas akademika FISIP yang diundang ke Magetan. Prodi Hubungan Internasional menawarkan sekolah paradiplomasi atau Paradiplomacy Institute yang akan membuka potensi sister city Magetan dengan kota-kota di negara lain. Selain itu akan dilakukan pemetaan pasar global dan mitra global untuk mengembangkan potensi sentra pertanian, pariwisata, peternakan dan sektor-sektor lain yang dimiliki Magetan.   Nasrullah, M.Si, kaprodi Ilmu Komunikasi dalam pemaparannya juga menyampaikan empat sekolah/kelas unggulan yang diberi nama Creative Digital Communication Classes. Keempat sekolah unggulan itu diantaranya adalah Kelas Digital PR branding dan digital matketing, Kelas Digital Videografi dan Content Creator, Kelas Journalism dan Media Analysis serta Kelas Digital Entrepreneurship. Nasrullah, M.Si, Kaprodi Ikom, saat memaparkan sekolah unggulan creative digital communication di hadapan para lurah (foto:dyah)      “Di kelas digital entrepreneurship, nantinya UMKM di Magetan yang stagnan akan kami beri pendampingan di bidang digital entrepreneurship dan akan melibatkan alumni-alumni Ikom yang punya keahlian khusus di bidang ini. Untuk kelas digital PR branding dan marketing kami akan membantu mendesain branding hidden gems atau potensi wisata di Magetan seperti yang pernah kami lakukan bersama mahasiswa di kampung-kampung tematik sebelumnya,”ungkap Nasrullah.     Prodi lainnya, Ilmu Pemerintahan, menawarkan sekolah unggulan pengelolaan pemerintah daerah dan desa yang akan mengenalkan teknologi IT dalam pengelolaan daerah dan desa. Prodi Kesos menawarkan sekolah unggulan pemberdayaan masyarakat, dan prodi Sosiologi menawarkan kelas professional manager. (wnd)

Pleno, Prodi-Prodi di FISIP Paparkan Rencana Program Andalan

Selasa, 11 Januari 2022 21:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Operasional (Renop) merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan perguruan tinggi. Tak terkecuali untuk pengelolaan program studi. Pada hari ini (11/1) FISIP mengadakan rapat pleno pembahasan penyusunan rencana operasional (renop) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) prodi di Hall Kintamani, Grand Hap Kintamani Hotel, Magetan. Kegiatan ini berbarengan dengan rencana FISIP untuk melakukan kerjasama dengan Pemkab Magetan keesokan harinya. Rapat Pleno Pembahasan Renop dan RAB Prodi di lingkungan FISIP UMM  (foto:humas)      Para kaprodi dan sekprodi di lingkup FISIP UMM secara bergilir memaparkan renop dan RAB prodi. Pemaparan renop dan RAB prodi ini merupakan hasil perencanaan yang disusun berdasarkan renstra dan renop fakultas. Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan dalam menyusun renop prodi, disesuaikan dengan profil lulusan dan CPL prodi. Selain itu, dalam menyusun program kerja, dekan menyarankan agar prodi senantiasa melakukan kroscek dengan rancangan anggaran belanja tahun sebelumnya. “Sebaiknya membuat program yang tidak cenderung mengulang program tahun sebelumnya. Artinya program tahun ini harus merupakan tindak lanjut dari program yang sudah diadakan di tahun sebelumnya,”ungkap dekan.     Dekan juga menekankan dalam mewujudkan program kerja di fakultas para pimpinan perlu menggunakan prinsip kerja-kerja dokumen, tidak sekedar memimpin dengan intuisi. Kerja berbasis dokumen ini penting agar capaian yang ingin dicapai terukur dan terdokumentasi dengan baik. “Dalam menyusun anggaran program, selain harus menyesuaikan dengan profil lulusan dan CPL prodi, program yang disusun juga perlu disesuaikan dengan agenda MBKM, KESI, dan program-program unggulan universitas,”imbuhnya. Suasana rapat pleno di Kintamani Hall, Grand Hap Kintamani Hotel, Magetan (11/1) (foto:humas)      Sebagai bentuk dukungan atas implementasi renop, lanjut dekan, diperlukan komitmen semua unsur sivitas akademika dan konsistensi semua unsur pimpinan. Semua dosen di lingkungan FISIP UMM juga “dititipi” tiga hal ketika mengajar di kelas. Ketiga hal yang harus disampaikan oleh para dosen kepada mahasiswa terkait visi misi program studi, profil lulusan dan capaian pembelajaran lulusan (CPL) prodi. Ketiga hal ini akan bermuara pada tiap-tiap CPMK (capaian pembelajaran mata kuliah).      Kelima prodi dalam kegiatan pembahasan mengusung sejumlah program kerja yang akan diajukan dalam RAB tahun 2022. Prodi Hubungan Internasional, contohnya. Prodi termuda di FISIP ini merencanakan program untuk membantu penyelesaian studi mahasiswa khususnya bagi mahasiswa yang mengalami mental illness. Mental illness adalah gangguan kesehatan mental yang dapat menghambat proses penyelesaian studi. “ Hal ini merupakan bentuk dukungan prodi HI untuk peningkatan mutu kemahasiswaan,”ujar M Syaprin Zahidi, M.A, Kaprodi Hubungan Internasional. (wnd)

Targetkan Minimal SINTA 2, FISIP Lakukan Pendampingan Pengelolaan Jurnal

Kamis, 06 Januari 2022 04:42 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Publikasi di jurnal ilmiah berperan penting sebagai salah satu indikator kemajuan suatu negara. Sebagai upaya meningkatkan kualitas jurnal di lingkup FISIP UMM, Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) sebagai sebuah lembaga di bawah fakultas, pada hari ini Kamis (6/1) menggelar Pendampingan Pengelolaan Jurnal Berbasis 3.0. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengelola jurnal di lingkup FISIP UMM. Dalam pelaksanaan pendampingan, kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk jurnal yang telah terakreditasi SINTA dan sesi dua untuk jurnal yang belum terakreditasi. FISIP memiliki Jurnal Local of Government Issues (LOGOS) yang telah terakreditasi SINTA 2, Jurnal Sospol (terakreditasi SINTA 3) dan Jurnal Partisipatoris (terakreditasi SINTA 4). Sedangkan dua jurnal lainnya, yaitu Medio, Global Local Interactions dan Intersos, belum terakreditasi. Para pengelola jurnal mengikuti kegiatan pendampingan (foto:ird)      Dua pembicara dihadirkan dalam pendampingan kali ini. Kedua pemateri tersebut adalah Dr. Atok Miftachul Huda, M.Pd selaku Editor in Chief Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia (JPBI) dan Dana Marsetiya Utama, S.T.,MT selaku Managing Editor Jurnal Teknik Industri (JTI) UMM. Kedua jurnal yang dikelola kedua pemateri tersebut juga telah terakreditasi SINTA 2. Atok menekankan ada dua kunci menuju jurnal bereputasi tinggi dan baik yakni manajamen pengelolaan jurnal yang professional dan berbasis Open Journal Systems serta subtansi artikel.      “Substansi artikel paling penting karena memiliki bobot penilaian paling tinggi dalam penilaian Jurnal karena itu harus betul-betul berkualitas. Naskah berkualitas salah satunya bisa dilihat dari kualitas judul yang informatif, abstract yang jelas, pendahuluan yang menegaskan tujuan penelitian dan memiliki novelty, metode yang jelas dan spesfifik,”jelasnya. Selain itu ia menambahkan bahwa hasil dan pembahasan dalam naskah harus mampu secara elaboratif menjawab tujuan penelitian dengan data yang kuat dan mendalam. “Dalam membuat kesimpulan penulis juga mampu menjawab pertanyaan serta menyebutkan keterbatasan dan rekomendasi untuk kajian selanjutnya. Selain itu juga daftar pustaka yang digunakan mayoritas berasal dari jurnal bereputasi dan terbaru maksimal tujuh tahun terakhir,” imbuh Atok. Para punggawa jurnal di lingkup FISIP UMM: Berfoto usai kegiatan pendampingan       Ukuran bermutu dari sebuah jurnal juga dapat diukur dari pengakuan yang diberikan oleh pihak luar yang netral dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sangatlah wajar apabila sebuah karya ilmiah bermutu harus melewati proses penelaahan (review) yang ketat oleh mitra bestari (peer review) dan diterbitkan oleh penerbit ilmiah yang berwibawa. Akreditasi jurnal dikembangkan sebagai sarana untuk mengukur apakah suatu jurnal sudah memenuhi syarat minimum mutu penerbitan ilmiah.      Dana Marsetiya, pemateri kedua, menekankan pentingnya pemahaman OJS 3 yang berbeda dengan OJS 2. Oleh karena itu pengelola perlu memahami khususnya terkait cara pengisian identitas jurnal di website dan alur proses review naskah.      Wakil Dekan 1 FISIP UMM, Dr. Salahudin, S.IP, M.Si, M.PA berharap kegiatan pendampingan ini bisa meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal di lingkungan FISIP. Target akhirnya adalah semua jurnal di FISIP dapat bereputasi nasional minimal SINTA 2 atau bahkan bisa terindeks Scopus (wnd/ird)

Fastabiqul Khoirot Jadi Konsep Kunci dalam Merespon Keberagaman

Rabu, 05 Januari 2022 06:07 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Ibarat pepatah ‘mencari jarum dalam tumpukan jerami’, tampaknya harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara, dewasa ini terasa utopis. Pasalnya, Indonesia yang terkenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam prakteknya berbanding terbalik, intoleransi terjadi di sana-sini. Islam pun menghadapi tantangan tersendiri dalam merespon keberagaman di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya akademisi untuk berkontribusi dalam merespon problema tersebut, hari ini FISIP UMM melalui Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) menggelar Kajian Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Kajian AIK hari ini (5/12) diadakan secara virtual dan mengusung tema Tantangan Islam dalam Multikulturalisme di Indonesia. Prof. Dr. Ahmad Nadjib Burhani, M.A saat menjadi pemateri dalam Kajian AIK PKSP FISIP (foto by: subhan)      Hadir sebagai pembicara pada kajian AIK kali ini adalah Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). Ia mengatakan dalam konteks keberagaman, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah bagaimana bisa berdampingan dengan perbedaan. “Di Muhammadiyah, konsep fastabiqul khoirot yakni berlomba-lomba melakukan kebaikan adalah konsep ideal dalam merespon perbedaan dan keberagaman. Bukan dengan cara membenci atau memusuhi yang berbeda dengan kita, namun menjadikan sebagai sebuah pemantik untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan,”ujar peraih Muhammadiyah Award 2021 Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.      Lebih lanjut, Nadjib juga menyitir lima surat dalam Al Quran yang umumnya dijadikan landasan dalam berelasi antar umat beragama. Kelima surat itu adalah Al Ankabut 29:46, Al Kafirun 109: 1-6, Al Maidah 5:48, Al Anbiya 21:107, dan Al Baqarah 2:120. Dalam surat Al Ankabut ayat 46 disebutkan bahwa ‘Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah,Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri’.      Ayat tersebut menurut Nadjib dimaknai sebagai himbauan agar dalam melihat perbedaan, tidak perlu saling memusuhi dengan yang berbeda. Tapi justru harus merayakan perbedaan itu sebagai bagian dari rahmat Allah.  “Sesuai Al Maidah ayat 48, umat Islam diajarkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satu penggalan ayatnya menyatakan bahwa Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan,”jelas Nadjib.      Ajaran untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan ini menjadi spirit Muhammadiyah untuk mendirikan amal usaha pendidikan agar umat Islam menjadi umat yang unggul. Muhammadiyah bergaul dan melihat yang berbeda dengan semangat berkompetisi dalam kebaikan. “Tidak bersumbu pendek. Melihat kelompok lain yang berbeda untuk meneladani semangat melakukan kebaikan, atau berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan,”tegas guru besar yang juga penulis buku Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism and Populism.     Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan Al Islam Kemuhammadiyahan merupakan bagian penting dalam penerapan catur dharma perguruan tinggi. AIK juga menjadi salah satu bagian dari misi universitas yaitu menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan terhadap sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai AIK. “Mengelola keberagaman adalah bagian dari upaya memasyarakatkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Semoga melalui kajian ini, semangat multikulturalisme bisa dibangun sebagai cerminan dalam membangun hubungan antar umat beragama yang harmonis,”tutur Muslimin. (wnd)

Dukung Percepatan Jabatan Fungsional, FISIP Latih Tendik Digitalisasi Dokumen

Kamis, 30 Desember 2021 10:09 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Tugas dosen di sebuah perguruan tinggi, tidak sekedar mengajar saja. Tanggung jawab menjalankan tridharma perguruan tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian wajib dilaksanakan oleh dosen di seluruh Indonesia. Selain itu, berdasar aturan pemerintah, setiap dosen yang telah memiliki pengalaman kerja sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, wajib memiliki jabatan akademik minimal Asisten Ahli. Tak hanya berhenti di asisten ahli, dosen juga harus senantiasa mengupgrade jabatan fungsionalnya hingga diharapkan mampu memperoleh jabatan fungsional tertinggi, yakni guru besar. Suasana pelatihan digitalisasi dokumen untuk tendik FISIP  (foto by: humas)      Sebagai langkah konkret mendukung perkembangan jabatan fungsional dosen, FISIP UMM memfasilitasi para dosen untuk melakukan digitalisasi dokumen. Digitalisasi dokumen ini penting agar dosen lebih mudah untuk mengurus jabatan fungsionalnya. Langkah konkret ini diambil pasca hearing dengan seluruh dosen FISIP yang memiliki jabatan fungsional asisten ahli pada hari Kamis, 29 Desember 2021 di ruang sidang FISIP UMM. Pimpinan fakultas mengadakan pertemuan untuk mengidentifikasi kesulitan atau permasalahan dosen saat mengurus jabatan fungsionalnya.      Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengatakan dari hasil identifikasi diketahui bahwa dosen membutuhkan dukungan dalam melakukan digitalisasi dokumen. “Digitalisasi dokumen menjadi salah satu hambatan para dosen dalam pengurusan jabatan fungsional. Sehingga kami rasa perlu ada support fakultas untuk mengantisipasi hal tersebut. Tidak hanya untuk kepentingan jafung saja, namun digitalisasi dokumen ini penting untuk merecord portofolio dosen yang harus dilaporkan melalui aplikasi SISTER miliki Dikti,”jelas Muslimin. Serius berlatih, para tendik pada pelatihan digitalisasi dokumen hari ini (30/12) (photo by: humas)       Oleh karena itulah, pada hari ini, pimpinan fakultas mendelegasikan para tenaga kependidikan (tendik) untuk mengikuti pelatihan digitalisasi dokumen. Kegiatan ini merupakan program fakultas untuk optimalisasi kriteria dosen tetap prodi secara kuantitas maupun kualitasnya. Sukam, ST, Kepala Urusan Administrasi Registrasi Kepegawaian Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian dan Umum (BAKKU) UMM diundang untuk menjadi pemateri dalam pelatihan yang diadakan di ruang sidang FISIP UMM. “Aktivitas dosen dan pegawai harus dilaporkan melalui SISTER. Dosen memiliki tanggung jawab melaporkan Beban Kerja Dosen (BKD) dan Lembar Kerja Dosen (LKD). BKD dilaporkan setiap awal bulan November dan LKD dilaporkan setiap bulan November-Februari. Jika tidak dilaporkan maka dosen dianggap tidak aktif. Rencana ke depan ada wacana pengurusan jafung melalui SISTER. Jika selama ini pengurusan jafung melalui aplikasi manual melalui LLDIKTI, ke depan rencananya sudah terintegrasi melalui SISTER,”tutur Sukam.      Lebih lanjut Sukam menjelaskan bahwa aplikasi SISTER ini menggunakan basis data portofolio  dengan satu basis untuk semua keperluan yang memuat kinerja Tri Dharma Dosen. Portofolio tersebut dapat dipakai untuk proses-proses pengembangan karir dosen. Integrasi antara SISTER dengan Pangkalan Data Dikti akan mengurangi beban dosen dalam pengisian portofolio. Pada pelatihan digitalisasi dokumen hari ini, seluruh tenaga kependidikan FISIP mulai dari pegawai tata usaha prodi, fakultas dan laboran dilibatkan langsung dalam pelatihan teknis tersebut.     Melalui pelatihan ini, pimpinan fakultas berharap para tendik di FISIP UMM menjadi support system bagi para dosen dalam melakukan pengisian portofolio tersebut. Wakil Dekan II Bidang Keuangan, Kepegawaian, SDM dan Umum, Dr.Dyah Estu Kurniawati, M.Si mengatakan upaya FISIP ini juga ditujukan mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU). “FISIP juga sedang mengembangkan sebuah sistem yang dinamakan SIM-FISIP. Kewajiban dosen untuk membuat laporan BKD-LKD ini relate dengan sistem yang sedang dibangun FISIP. Semoga upaya digitalisasi dokumen ini akan memudahkan dosen kita untuk meningkatkan performa terbaiknya,”ujar Dyah. (wnd)

FISIP Borong Prestasi di Student Awards UMM 2021

Kamis, 16 Desember 2021 03:09 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Kejutan menggembirakan dirasakan civitas akademika FISIP UMM. Semalam, di event penganugerahan gelar untuk prestasi insan UMM di bidang kemahasiswaan, Student Awards UMM 2021, FISIP memborong dua penghargaan sekaligus. Prodi Ilmu Komunikasi FISIP diganjar sebagai peringkat kedua prodi dengan capaian prestasi terbaik di bidang kemahasiswaan. Dosen Ilmu Komunikasi, Zen Amirudin, M.Med.Kom, juga meraih predikat sebagai dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi. Wadek 3 FISIP, Himawan Sutanto, Dekan FISIP Muslimin Machmud dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Nasrullah usai menerima penghargaan prodi dengan capaian prestasi di bidang kemahasiswaan (foto: nas)      Penghargaan untuk prodi dengan capaian prestasi terbaik di bidang kemahasiswaan diterima langsung oleh Kaprodi Ilmu Komunikasi, Nasrullah, S.Sos, M.Si. “Ini penghargaan untuk mahasiswa. Terima kasih kepada pengelola prodi terdahulu yang sudah menyertai prestasi ini, terutama kepada pak Himawan dan bu Widiya,”ungkap Nasrullah. Prodi Ilmu Komunikasi memang layak memperoleh predikat tersebut. Prodi Ikom telah mencatatatkan banyak prestasi baik prestasi mahasiswa yang berada di bawah Belmawa maupun capaian prestasi mandiri.      Berdasarkan data di biro kemahasiswaan, setidaknya ada puluhan jenis prestasi membanggakan di bidang penalaran, seni, olahraga dan agama yang ditorehkan mahasiswa Ikom pada tahun 2020. Beberapa diantaranya adalah PKM Pendanaan Belmawa, juara pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres), Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM), Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional dan Lomba Video kreatif. Kejuaraan tersebut, diselenggarakan oleh Belmawa dan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemdikbud RI. Tidak hanya itu, sejumlah penghargaan juga diperoleh Prodi Ikom dalam kejuaraan mandiri. “Kejuaraan di Belmawa dan Puspresnas mendapatkan skor yang tinggi di pemeringkatan Simkatmawa. Selamat untuk Prodi Ilmu Komunikasi, semoga menginspirasi untuk menambah capaian prestasi berikutnya,”tutur Dr. Nur Subeki, ST, MT, Wakil Rektor 3 UMM, usai ditemui pasca gelaran Student Awards.     Zen Amirudin, M.Med.Kom, dinobatkan sebagai  dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi berkat kiprahnya dalam bidang kemahasiswaan. Frendy Aru Fantiro, M.Pd, Kaur Minat Bakat Kemahasiswaan mengatakan bahwa Zen berhasil mendampingi dan memotivasi mahasiswa untuk berprestasi. “Selain dinilai sukses mendorong mahasiswa sukses lolos PIMNAS, beliau juga memiliki kontribusi yang cukup besar di kemahasiswaan. Tidak hanya untuk mahasiswa FISIP namun levelnya juga di lingkup universitas,”ungkapnya. Di FISIP, Zen ketika menjabat sebagai wakil dekan 3, juga berhasil mengantarkan FISIP kembali mempertahankan juara Rector Cup. Yaitu Rektor Cup 2018 dan Rektor Cup 2020. Di tahun 2020, sebanyak tujuh mahasiswa FISIP dari total sebelas mahasiswa se UMM, lolos seleksi dalam program beasiswa internasional IISMA kemenristekdikti. Zen menunjukkan piala dan sertifikat penghargaan usai penganugerahan gelar dosen pembina kemahasiswaan dan inisiator capaian prestasi (foto:humas)      Dekan FISIP UMM, Dr. Muslimin Machmud, M.Si menyambut bangga prestasi yang diraih oleh dosen dan Prodi Ikom ini. Ia berharap prestasi tersebut bisa memotivasi untuk terus berprestasi, baik untuk Prodi Ikom maupun prodi-prodi lain. Dia berpesan agar dosen dan seluruh prodi di FISIP berlomba-lomba menorehkan prestasi. “Semoga seluruh civitas akademika FISIP tetap semangat untuk terus berkarya dan berprestasi, sekecil apapun itu. Semua itu kita lakukan sebagai bagian dari dharma bakti kita untuk almamater yang kita cintai ini,”pesan Muslimin. (wnd)

Raih Predikat Disertasi Terbaik, Dosen FISIP Lulus Doktor Dalam Dua Tahun

Kamis, 09 Desember 2021 05:15 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik     Meraih gelar doktor di usia muda, mungkin menjadi impian sebagian besar akademisi. Dr.Salahudin, S.IP, M.Si, M.PA adalah salah satu dosen FISIP yang berhasil meraih gelar doktor di usia 36 tahun. Tak hanya itu, dosen Prodi Ilmu Pemerintahan ini juga diganjar predikat cumlaude dalam Wisuda Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, (8/12) lalu. Disertasinya juga mendapat penghargaan khusus sebagai disertasi terbaik. Ia juga berhasil menyelesaikan program doktornya relatif cepat, hanya dua tahun saja. Usai Wisuda: Dr. Salahudin bersama promotornya, Prof. Dr. Nurmandi (foto: ist)      Nothing worth having comes essay. Deretan keberhasilannya tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. Perjuangan memperoleh predikat tersebut diakui Salahudin butuh kerja keras dan konsistensi. “Kerja keras adalah salah satu hal yang harus kita lakukan. Selain itu support system baik dari promotor, keluarga dan kampus saya UMM menjadi hal yang sangat berharga bagi studi saya,”ungkapnya. Disertasinya yang berjudul Analisis Jejaring Politik dalam Praktik Korupsi di Kota Malang dan Kabupaten Malang, dinilai terbaik oleh UMY karena memiliki kebaruan metode. Ia berhasil melakukan inovasi dengan menggabungkan analisis data kualitatif dengan software analisis. Salahudin menunjukkan sertifikat penghargaan disertasi terbaik di depan gedung JKSG (foto: ist)      Riset disertasinya menemukan bahwa ada kepentingan kelompok, pribadi, bisnis yang terlibat sehingga akhirnya kebijakan APBD yang dirumuskan bersama tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Lalu bagaimana jejaring yang dilakukan oleh para aktor korupsi tersebut? Salahudin mengatakan jika praktik korupsi ini didukung okeh jejaring politik yang melibatkan politik pengaruh dan politik dominasi. “Dua dominasi ini mendorong para aktor politik mendorong melakukan korupsi. Politik pengaruh menggunakan kekuatan politik memengaruhi aktor-aktor lain, baik di struktur politik, struktur parlemen atau di luar itu. Politik dominasi juga mendorong elit politik yang berkuasa di dalam mengambil dominasi dalam pengambilan keputusan. Mereka juga memengaruhi dominasi aktor-aktor politik lain sehingga mendominasi pengambilan kebijakan,”jelas dosen yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan 1 FISIP bidang akademik. Melalui inovasi metode riset yang ia lakukan, ia berhasil menemukan siapa saja aktor yang berperan dalam arus jejaringnya.      Setelah menyelesaikan program doktoralnya ini, Salahudin mengaku ia akan terus melakukan riset dan publikasi. “Alhamdulillah saya sudah mencatatkan 46 publikasi Scopus dan insya Allah masih ada beberapa draft lagi yang akan dipublikasikan. Untuk bisa berhasil kuncinya memang harus focus, disiplin dan bekerja dengan target. Jangan takut juga untuk belajar hal-hal baru, khususnya inovasi dalam metode penelitian,”ujarnya.  (wnd)

Tumpas Berita Hoax, Pakar Komunikasi FISIP UMM Ingatkan Peran Pemerintah dan Media Massa

Kamis, 09 Desember 2021 04:43 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Semeru baru saja meletus. Namun info berita terkait bencana ini pun tak lepas dari hoax. Tak jarang munculnya video-video lama tentang bencana alam, disinyalir justru menambah kepanikan. Hal ini disampaikan oleh Sugeng Winarno, M.A, pakar komunikasi FISIP UMM pada program Idjen Talk  di Ameg TV (9/12) lalu . “Apapun bisa jadi hoax saat ini, hal ini disebabkan penetrasi teknologi komunikasi di masyarakat sudah sangat kuat. Di daerah-daerah pedesaan juga sudah tersentuh oleh smartphone. Ada semacam keinginan, kebanggaan, jika konten viral. Selain itu juga ada latar belakang ekonomi, ya seperti sengaja mencari keuntungan gitu lah,”ungkap Sugeng.      Lebih lanjut, Sugeng  yang juga dosen di Prodi Ilmu Komunikasi ini menjelaskan maraknya pembuat hoax di media sosial juga termotivasi oleh sistem algoritma internet. Ia menyebut,  jika sebuah kata itu dicari banyak orang, algoritma kata tertentu naik sehingga memotivasi orang untuk membuat konten yang menyesuaikan dengan tren algoritma tersebut. Selain itu media sosial memiliki karakter user generated content yang memungkinkan setiap pihak bisa membuat berita. Efeknya adalah medsos memungkinkan munculnya penulis anonim, setiap orang bisa melemparkan isu dengan tujuan mengacaukan situasi.      Sebenarnya masalah berita hoax ini bisa diatasi jika literasi media di masyarakat kita cukup baik. “Tapi masalahnya literasi media atau melek media di masyarakat kita tidak sejalan dengan makin masifnya perkembangan teknologi komunikasi. Melek media ini dalam artian kemampuan teknis dan kemampuan kritis dalam mengkonsumsi konten,”jelas Sugeng Winarno. Ia menyebut pendidikan literasi media di Indonesia belum mendapatkan porsi khusus di kurikulum. Di banyak negara maju, pendidikan literasi media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum pendidikan. Inggris, Jerman, Kanada, Perancis, dan Australia merupakan beberapa contoh negara yang telah melaksanakan pendidikan literasi media di sekolah. Padahal berdasarkan hasil riset, dalam sehari orang rata-rata menggunakan smartphone lebih dari 3,5 jam. “Inilah menurut saya penting sekali kita memasukkan literasi media ini dalam pendidikan di sekolah. Faktanya saat ini pendidikan literasi media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, roadshow, dan kampanye-kampanye mengenai literasi media. Literasi media tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye selama seminggu,”ungkapnya.      Perkembangan teknologi komunikasi memang menimbulkan wajah ganda. Di satu sisi teknologi komunikasi penting bagi kehidupan manusia, tapi di sisi lain teknologi juga bisa membuat orang berbicara nir etika. Orang juga dengan gampang membuat narasi yang tidak karuan sehingga muncul fenomena banjir informasi. Banjir informasi ini juga sebabkan fenomena matinya kepakaran. “Artinya orang bisa ngomong tentang apa saja, misalnya saja bukan ahli bencana ngomong bencana, ini kan berbahaya sekali. Sebagai contoh informasi kesehatan. Riset mengatakan 90% informasi kesehatran di WA itu hoax, kan ini berbahaya. Begitu juga tentang berita tentang bencana, saya rasa masyarakat perlu hati-hati dalam menyikapi informasi,”imbuhnya.      Sugeng menyebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal ini. Pemerintah melalui Kominfo harus menjadi benteng bagi membanjirnya fenomena hoax dengan kuasa kebijakan yang dimilikinya. Media mainstream pun harus ikut hadir sebagai media penjernih informasi. Ia menyebut jangan sampai media mainstream justru malah ikut-ikutan media sosial menyuburkan berita hoax. (wnd)

Monev Blockgrand, Dosen FISIP Paparkan Progress Report Riset dan Pengabdian

Selasa, 07 Desember 2021 10:50 WIB    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik      Sebanyak 46 judul penelitian dan 18 judul pengabdian dipresentasikan oleh para peneliti dan pengabdi dalam proses monitoring dan evaluasi (monev) laporan kemajuan. Hari ini (7/12) para dosen FISIP yang sudah mengajukan proposal penelitian dan pengabdian diminta untuk memaparkan progress reportnya di hadapan para reviewer. Seluruh peneliti dan pengabdi menyajikan presentasinya secara daring melalui platform zoom. Pembukaan monev laporan kemajuan blockgrant riset dan pengabdian FISIP UMM (photo by: humas)      Dalam pembukaan monev hari ini Dekan FISIP UMM, Dr. Muslimin Machmud, M.Si menyampaikan bahwa monev adalah bagian dari tanggung jawab peneliti dan pengabdi. ”Aktivitas tridharma harus dilakukan secara sungguh-sungguh maka perlu dipertanggungjawabkan melalui mekanisme monev. Laporan kemajuan ini adalah titik awal laporan akhir, semoga menjadi penguat bagi kegiatan tridharma,”ujar Dekan FISIP.      Hasil penelitian dan pengabdian para dosen FISIP ini selain diselesaikan dalam bentuk laporan akhir juga dipublikasikan. Tujuan publikasi ini adalah agar kebermanfaatan dari hasil karya riset dan pengabdian pada masyarakat tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat. Selain itu melalui publikasi ilmiah dosen dapat memberikan informasi kepada pembaca, khususnya dari kalangan akademisi atau para ahli di bidangnya.“Hasil penelitian dan pengabdian harus dipublikasikan di jurnal terakreditasi nasional maupun internasional. Jangan sampai hanya berhenti disimpan dan dibaca-baca sendiri. Dosen harus mempublikasikan hasil karya penelitian dan pengabdiannya,”ungkap Muslimin . Presentasi salah satu periset dalam breakout room (photo by: frida)      Wakil Dekan 1 bidang akademik, penelitian dan AIK, Dr.Salahudin, M.Si, M.PA mengatakan bahwa dalam membuat publikasi ilmiah ini para peneliti dan pengabdi harus memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Penyusunan publikasi ilmiah dilakukan berdasarkan hasil koreksi beberapa ahli sesuai bidang keilmuannya (peer review) untuk mencapai objektivitas yang tinggi. “Oleh karena itu sebelum dibuat laporan akhir dan disubmit ke jurnal, para peneliti dan pengabdi harus menyampaikan laporan kemajuannya di hadapan reviewer terpilih. Tujuannya selain mempertanggungjawabkan progress report juga untuk mendengarkan masukan dari reviewer dan para peneliti lainnya,”ujar doktor ilmu politik tersebut.      Zen Amirudin, M.Med. Kom, salah satu peneliti menyampaikan bahwa penelitiannya sudah memasuki tahap pengkomunikasian ke pihak jurnal terakreditasi Sinta 2 yang menjadi tujuan publikasinya. Dosen yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Airlangga ini menyusun penelitian yang berjudul Model Komunikasi Politik Transformatif dalam Pilkada Kabupaten Malang. Riset tersebut merupakan bagian dari fishbone riset disertasinya. “Saya sudah mengkomunikasikan ke pihak pengelola jurnalnya, semoga bisa dimuat di Jurnal Komunikasi UIN Jogja. Sudah Sinta 2, sih,”tuturnya. (wnd)